Posted by vizon | Posted in bunga rampai | Posted on 06-12-2008
Tags: daging, gontor, idul adha, masakan, minang, qurban, resep
Entah karena sugesti dari keyakinan beragama atau bukan, tapi dari beberapa pengalaman, aku semakin meyakini bahwa daging yang diperoleh dari hewan qurban pada hari raya Idul Adha memiliki keajaiban yang luar biasa.
Sekitar awal 1990, ketika itu aku duduk di kelas 6 (3 SMA) di Pondok Modern Gontor, orangtuaku mengirimkan paket rendang daging sapi yang didapat dari pembagian qurban beliau. Entah salah siapa, paket itu sampai ke tanganku setelah lebih dari 1 bulan, tepatnya 45 hari! Ketika ku terima, bungkus paket itu memang masih utuh, tapi minyak rendang itu sudah belepotan di mana-mana.
Ketika kubuka, ajaib sekali! Rendang itu sedikitpun tidak ada jamur, dan yang lebih membuatku nyaris melompat kesenangan adalah rasanya yang tetap utuh, tidak ada perubahan sedikitpun. Aku hampir tidak percaya. 45 hari, tidak ada jamur apalagi basi.
Aku mencoba melogikakan kejadian itu. Barangkali Ibuku memasaknya dengan sangat matang. Atau jangan-jangan lidahku yang sudah lama tidak bersentuhan dengan masakan Minang, maklum ketika itu aku tidak pulang kampung hampir 2 tahun dan selama itu lidahku hanya merasakan masakan ala pondok yang sangat sederhana. Bisa jadi itu semua adalah sugesti. Tapi tidak, aku merasakan aura keajaibannya di kala itu. Dari penampilannya, ku lihat masih fresh, dan semua teman-teman yang ku beri, merasakan hal yang sama. Aku yakin, itu adalah keajaiban daging qurban.
Kejadian yang lainnya, ketika kedua orangtuaku berangkat haji. Seperti biasa, rumah kami kebanjiran daging pembagian qurban dari masjid. Isi paket yang kami terima cukup lengkap, mulai dari jeroan sampai daging padat, sapi ataupun kambing. Celakanya, aku tidak tahu mesti diapakan daging-daging tersebut. Kami yang semuanya laki-laki (aku 8 bersaudara, 7 laki-laki 1 perempuan) tidak bisa mengolah makanan seperti itu. Paling-paling kami bisa hanya masak air, menanak nasi ataupun masak yang ringan-ringan. Mengolah daging, tidak bisa sama sekali.
Kami kebingungan. Mana ibuku lagi di tanah suci, dan adik perempuanku satu-satunya sedang nyantri di Pondok Modern Gontor Putri dan warung nasi kami juga tutup selama orangtua berangkat haji. Baru tersadar kami, kalau anak laki-laki itu juga harus bisa masak, tidak mengandalkan kepada kaum perempuan saja. Adik-adikku mengusulkan untuk memberikan saja ke tetangga. Tapi tetangga kami juga sedang kebanjiran daging di rumah mereka.
Aku pun mutar otak. Dan akhirnya dapatlah ide untuk menelepon kakak sepupuku yang tinggal di Bukittinggi. Aku diberi resep “asam padeh”. Menurut kakakku itu, resep itu cukup simpel dan pas untuk daging yang “buruk rupa” (maksudnya selain daging padat, sorry aku tidak tahu istilahnya
). Dengan segenap keberanian dan kerjasama tim yang baik antara aku dan adik-adik, jadilah masakan itu.
Hasilnya bagaimana? Luar biasa. Enak sekali. Kami makan dengan lahap, bahkan tambuah berkali-kali. Aku hampir tidak percaya. Untuk membuktikannya, akupun meminta beberapa orang ibu-ibu tetanggaku untuk mencicipinya. Semua mereka mengatakan yang sama; enak! Wah, melambung rasanya. Dalam hati aku bergumam, beginikah rasanya seorang istri bila dipuji masakannya oleh sang suami. Kejadian itu mengajarkanku untuk melakukannya terhadap setiap masakan istriku sampai sekarang
Kembali aku tertegun. Rasanya tidak mungkin kalau asam padeh yang kubuat tadi menjadi enak semata-mata karena resep yang kami olah. Secara masaknya hanya sekedar merebusnya dengan air yang diberi cabe dan beberapa bumbu serta sedikit asam kandis (sekali lagi, aku tidak tahu istilah baku asam kandis dalam bahasa Indonesia). Ditambah lagi dengan diriku yang baru pertama kami memasaknya, sangat mustahil bisa menghasilkan masakan seenak itu. Bukti dari ibu-ibu tadi juga membuatku tertegun. Malah, di kemudian hari, aku mencobanya kembali. Ternyata, hasilnya tidak seenak ini.
Barangkali benar bila ini sugesti. Tapi, aku tetap meyakini, bahwa daging yang dihasilkan dari qurban memiliki keajaiban yang tidak bisa dipungkiri. Ya, daging-daging itu dipersembahkan atas nama cinta kepada Sang Pemilik Hidup, Allah SWT dengan bumbu iman dan ikhlas. Bumbu-bumbu inilah yang membuat daging itu sangat empuk, gurih, dan tahan lama. Aku yakin itu.
Selamat Hari Raya Idul Adha, semoga pengorbanan kita menjadi sebuah bukti nyata kecintaan kita kepada Allah Maha Kuasa yang dilandasi dengan keimanan dan ketulusan…




Selamat Idul Adha juga, semoga kita bisa meneladani pengorbanan Ibrahim dan ketetapan hati Ismail, serta dapat mempraktekkannya dalam kehidupan seharihari.
Berkurban apa di sana pak?
[Reply]
jangan lupa kirimin wempi asam padeh qurban tahun ini
[Reply]
batua kecek uda mah da, mnrt ky tu dak sekedar sugesti se doh….bnr2 daging kurban tu beda dr yg lain…ky pun prnh mngalalmi kejadian yg serupa tp tak sama dgn pengalalaman uda….:)
____________________
[Reply]
Selamat Idul Adha
Daging kurbannya barokah karena ikhlasnya niat yang memberikan kurban…
Salam kenal….kalau berkenan sudilah kiranya berkunjung ke blog Bejo (benar – benar ajo) kami…
keturunan Sungai Limau asli, Padang Pariaman
Wassalam
____________________
[Reply]
Lepas dari sugesti atau tidak, Uda..
Lepas dari apakah ini masuk akal atau tidak..
Buat saya, cerita ini sungguh luar biasa!
Hidup kita ini sebenarnya penuh dengan keajaiban-keajaiban kok, hanya sayangnya kita selalu menganggapnya lumrah, wajar, dan normal.
Contohnya:
Ketika tangan terkena pisau, berdarah, lalu perlahan-lahan dengan seiring berjalannya waktu akhirnya luka itu menutup kembali.
Apakah itu bukan keajaiban namanya?
Ah, Uda..
Jadi komentar yang out of topic nih..
Selamat Idul Adha, Uda…
Kapan ya Lala diincipin rendang buatan Uda.. hehehe…
____________________
[Reply]
Uda …
Sugesti atau bukan …
Ini sudah menjadi misteri dari ALLAH YANG MAHA KUASA ya Uda …
Ini cerita yang menarik sekali Uda …
Terutama tentang rendang tadi …
Orang tua Uda pasti memasak Rendang tersebut dengan ditambahkan sejuta bumbu istimewa yang bernama Cinta Kasih dan Doa … itu sebabnya Rendang itu tetap enak seperti semula …
Sementara Asam Padeh itu …
Udak kakak beradiak … juga telah membumbui asam padeh itu selain asam kandiah … juga dengan sejuta Bumbu ketakwaan, keikhlasan … dan kecintaan kepada ALLAH …
Hanya ALLAH yang tahu Uda …
Mari kita mensyukuri saja …
Salam saya
____________________
[Reply]
ehehehe, bermodal nekat saja ternyata tercipta asam padeh yang bikin orang makan batambuah-tambuah. hehehe
apalagi kalau serius.
oh ya pak. Rendang emang bikin jamur keok pak, gak ada yang berani mampir mungkin sistem imun nya kuat. lho kok?
*ngasal*
____________________
[Reply]
jadi pengen buat rendang sendiri nih.
soalnya ada daging sisa kurban di mertua sekilo belum diapa-apain.
wah, pengalamannya luar biasa tuh bro.
masa 45 hari nggak basi.
benar2 luar biasa.
___________________
[Reply]
Selamat hari Raya Idul Adha, uda.
Ntar kalo masak asam padeh lagi, jangan lupa bagi-bagi, ya….
____________________
[Reply]
islam emang indah.
[Reply]
aku kangeen bgt liat pemotongan hewan kurban, entah kenapa di malaysia ini justru nuansa islam sama sekali gak terasa.. aku malah merasakan aura natal ketiimbang Idul Adhanya.
bahkan saking penasaran aku tungguin mesjidnya.. kali2 ajah ada hewan nya.. dan aku kecewa.. habis solat mereka bubar jalan.. huhu.. boro2 makan daging qurban.. liat qurbannya ajah gak ada.. duuh kangeeennya
___________________
[Reply]
pemotongan hewan secara islami sendiri sudah membuat daging awet, da vizon, karena seluruh darah tertumpah dari arteri yang terpotong. konon darah yang tertinggal di tubuh itu yang membuat daging lebih cepat membusuk, dan membiarkannya keluar melalui luka sembelih akan membantu mengawetkan. di banyak tempat potong hewan (contoh di Oz sendiri), pemotongan hewan lebih disukai secara islami. salah satu alasannya ya supaya daging lebih tahan lama itu.
@latqueire:
mungkin karena tinggal di kota besar, yan. tapi kalau pergi ke utara semisal kelantan atau trengganu, nuansa keislaman sangat kental di sana.
_____________________
[Reply]
Wah, ternyata abang dulu suka dikirimin rendang? Sama dengan ana bang. Karena orang tua ana dua-duanya Padang juga. Saat-saat nerima paket, antri di ADM, itu ga terlupakan deh. Hehe…
Keep posting ya bang… Insya Allah ana bakal sering-sering main kesini nih…
[Reply]