contreng!
30
Posted by vizon | Posted in pendidikan | Posted on 03-04-2009
Tags: contreng, lembar jawaban, lembar soal, pendidikan, sekolah, silang, ulangan
Ini bukan soal Pemilu, karena aku tidak pernah suka membicarakannya. Ini soal kesalahan kecil yang dilakukan guru di sekolah, tapi berdampak besar bagi perkembangan kejiwaan seorang anak.
Kemarin sore, putriku pulang sekolah dengan ekspresi yang tidak biasa. Gusar sekali dia sepertinya. Setelah kubujuk, dia pun menjelaskan apa penyebabnya. Ternyata, dia kecewa dengan hasil ulangannya. Dari 30 soal, dia salah 5. Akupun membesarkan hatinya.
“Uni tidak perlu kecewa seperti itu. Toh yang salah cuma lima, dikit kali kan? Coba bandingkan dengan jawaban yang benar, ada 25, jauh lebih banyak dari yang salah. Itu berarti Uni sudah bagus, dan Papa bangga sekali. Insya Allah lain kali Uni pasti lebih baik…”
Upayaku itu membuahkan hasil. Senyumnya kembali mengembang dan sepertinya rasa percaya dirinya kembali dia miliki. Syukurlah!
Putrikupun berlalu dan tinggal aku yang masih termangu memperhatikan lembar soal ulangan anakku itu. Kulihat lembar soal yang sekaligus jadi lembar jawabannya itu. Setelah ku perhatikan dengan seksama, kutemukan sesuatu yang menarik di situ. Dan aku yakin, inilah penyebab mengapa putriku menjadi sangat tertekan.
Cara gurunya memberi tanda terhadap jawaban yang benar atau yang salah-lah yang menjadi penyebabnya menurutku. Untuk jawaban benar, guru hanya memberi tanda contreng kecil di atas nomor urut soal, sementara untuk jawaban salah, sang guru memberi tanda silang yang sangat besar dengan spidol merah pada badan soal.
Aku tidak tahu maksud guru itu memberi tanda yang begitu mencoloknya terhadap jawaban salah. Barangkali beliau
menginginkan agar sang murid memberi perhatian lebih kepada jawabannya yang salah. Tapi, menurutku, tindakannya itu tidak mendidik. Dengan tanda-tanda silang yang sangat mencolok itu telah melukai mental muridnya. Contohnya apa yang terjadi pada putriku. Kesalahannya yang hanya lima, seolah dibuat besar dan membuat dia merasa terhukum berat dengan itu semua. Padahal, jawaban benarnya sangatlah banyak, 25 dari 30 soal! Dan celakanya, ini justru tidak diapresiasi dengan tanda yang juga mencolok. Seolah-olah, jawaban benar yang 25 itu tidaklah penting.
Seharusnya sang guru memberi tanda contreng dan silang dengan ukuran dan bentuk yang sama. Sehingga sang murid dapat dihargai usahanya sekaligus dapat mengetahui kesalahannya dengan lebih adil. Menurutku, ada baiknya guru memberi “penghargaan” terlebih dahulu terhadap jawaban benar muridnya, meski jumlahnya sedikit, dengan maksud membesarkan hatinya, baru kemudian membahas jawaban salahnya. Dengan demikian, tentu tidak akan membuat anak merasa “terdakwa” atas kesalahannya itu.
Seperti yang dikatakan Dorothy Law Nolte:
Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai.
JIka anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri
maka, untuk menumbuhkan rasa percaya diri kepada anak kita, ada baiknya kita dahulukan memberi penghargaan atas capaiannya, kemudian memberi kritikan atas kesalahannya dengan cara bijak tanpa perlu melukai perasaannya.
Jadi, mencontreng ataupun menyilang, meski kecil, dampaknya bisa besar. So, berhati-hatilah dalam mencontreng…




uda
saya heran juga kenapa guru itu pakai tanda contreng untuk yang benar. karena dulu untuk jawaban benar pakai tanda seperti huruf R itu loh…
Di Jepang tanda benar itu dengan bulat, kalau bagus bulatnya dihias menjadi bunga, kalau kurang tanda segitiga. Kalau salah memang pakai tanda X.
Hmmm jadi ada ide nulis posting ginian heheheh
BUT sampaikan ke uni nilainya kan 83, udah bagus banget dapat nilai di atas 80
gambatte.
EM
____________________
[Reply]
Sepakat. Yang paling penting di Sekolah Dasar adalah pendidikan, pengajaran no dua. Kenapa uda tidak bicarakan ini di forum Orangtua siswa nanti. Anak-Indonesia harus dididik untuk punya percaya diri. Hal-hal kecil yang bisa merusak itu…Kalau soal prestasi, kemampuan berfikir, saya tidak percaya anak Indonesia tertinggal. Keprihatinan kehidupan kita, adalah mata air yang membuat kemampuan befikir itu memiliki percepatan yang berlipat. Tapi soal percaya diri, kita memang harus banyak berbenah…
____________________
[Reply]
Maaf, lupa…dan maaf juga, memberi komen yang gak konteks dngan postingan. Kondisi pasia laweh, alhamdulillah semakin membaik. Hanya tertinggal PR buat pengambil kebijakan, untuk serius menangani Daerah aliran Sungai di sekitar marapi. Pemukiman penduduk harus ditata, untuk terlalu dekat dengan batang ayia. dan itu mensyaratkan ketersediaan air bersih, untuk menggantikan sungai yang selama ini mereka gunakan….
Salam kenal da
____________________
[Reply]
aku mencontrreng yang benar sana uda, tapi harus yakin benar bahwa jawaban itu benar
Si uni mungkin sedih ya di tanda silang besar2, padahal nih nilainya pasti masih besar 25/3 = 8 koma sekian…masih bagus banget tuh.
salam sayang buat uni ya…:)
____________________
[Reply]
Kalau saya memberi poin bintang untuk anak saya yang kelas 2 SD di rumah untuk range nilainya dari 7 sampai 10. Dan setiap minggu dilakukan akumulasi total pencapaian nilainya, dan akan ada reward.
Dan setiap akhir semester akan ada reward lebih besar lagi.
Tetapi untuk nilai di bawah 7 tidak diberi poin.
Kira-kira ini mendidik nggak Da?
Soalnya dengan cara begini terbuki bisa menaikkan prestasinya…
____________________
[Reply]
[ Jadi, mencontreng ataupun menyilang, meski kecil, dampaknya bisa besar. So, berhati-hatilah dalam mencontreng…
]
saya pasti akan hati2, Uda.
a-m-a-t-s-a-n-g-a-t-h-a-t-i-2 !
bisa jadi malah nggak nyontreng nih, hihihi…
buat Uni nantinya, asal Uda membekalinya dengan pengertian2 yg berhubungan dengan itu, walaupun ada contreng segede gajah, pasti nggak akan berpengaruh buatnya. salam buat Kampung Kweni, Uda.
____________________
[Reply]
benar sekali da, saya juga pernah komplai ke guru ponakan dengan cara-cara itu. seolah-olah kalo anak berhasil mengerjakan tugas dengan baik itu hal biasa yang tidak perlu diapresiasi, karena sudah menjadi kewajiban, sebalik jika banyak yang salah, malah dikomnetari sebagai sebuah ‘kebodohan’, dan segala macam caci maki. PENGHARGAAN kata kuncinya ya da…
Coba lihat, jika anak dapat nilai 4 suatu kali kemdian dia belajar dan dapat 5, bukankah itu sebuah kemajuan. Lagian sebuah kemajuan itu tidak harus dinilai dengan anga-angka, seharusnya di nilai dari sejauh mana prosesnya bergerak kearah kemajuan.
Lebih gawat jika hari ini anak dapat 10 lalu kemdian dapat 8 lalu kemudian dapat 6, itu harus jadi perhatian…..
Anak semata mata tidak bisa disalahkan. Kegagalan seorang anak adalah bukti kegagalan orang dewasa sekitarnya…
___________________
[Reply]
Wah, 5 silang besar menghapus 25 contreng yang benar…ciloko… bikin down itu… Wise papa nih si Uda. Thumbs up!!!
OOT dikit Da… aku janji mo bikinin karikatur Uda, tapi msh belum kelar…maafkan aku ya. Aku janji untuk segera menyelesaikannya, sebisa mungkin sesuai kriteria Uda, dan FREE OF CHARGE karena uda adalah order pertama via website ku
Apalagi kalo benar Uda berkenan menjadikannya header Surau Inyiak… (what an honour..)
___________________
[Reply]
Sepertinya si guru ingin memudahkan cara kerjanya (semata). Dengan menyilangkan tanda besar pada yang salah, ia dapat dengan mudah menghitung: berapa yang salah dan tinggal berapa yang benar.
Rupanya ia hanya fokus pada dirinya semata, demi memudahkan teknis kerja memeriksa hasil ulangan. Ia lupa, hal demikian kecil bisa berefek negatif secara psikologis saat diterima anak didik. Si guru tak pernah anak-anak mungkin. Bisa jadi punya masalah dengan anak-anak. Yang lebih memungkinkan: masa kecilnya bermasalah (rasanya ini analisa dodol banget! :p ).
Tulisan ini menarik. Jika ditarik lebih luas lagi akan menyoal psikologi anak serta pemilu itu sendiri. Contreng!
(suka sekali dengan kalimat Uda saat berusaha membesarkan hatinya. Terdengar sweet!)
____________________
[Reply]
kasihan si uni. untung sang ayah tanggap dengan perubahan emosi putrinya. bayangkan kalau seorang anak dibiarkan dengan kekecewaannya tanpa ada hiburan dan penguatan dari lingkungan sekitar, atau malah dipojokkan karena kegagalannya, akan bagaimana perkembangan psikisnya kelak.
____________________
[Reply]
Kirain mau ngebahas pemilu..gak tahunya contrengan uni.
Diluar mungkin uni tertekan, tapi di rumah ada penghiburan buatnya.
____________________
[Reply]
Buat uni, semangat ya… Tak apalah salah lima kok. Bisa jadi pembelajaran di esok harinya. Mungkin maksud gurunya baik tapi tidak pada tempatnya, mosok jawaban betul di contreng kecil tapi salah di silang besar-besar. hehehe.
Semangay ya uni, uni pasti bisa, besok pasti betul ke tiga puluh nya
___________________
[Reply]
Ketipu euy dengan judulnya, kirain content yang akan diceritakan mengenai pemilu, eh rupanya mengenai tanda dalam menyatakan betul dan salah dalam lembar jawaban uni. Untuk uni “jangan sedih ya!!!” Salutlah untuk uda Vizon..
just sugestion
BTW kalo betulnya 25 dari 30 soal maka nilai yang didapatkan 8.3333, kalo dibulatkan maka jadi 8 (D E L A P A N). Angka yang sangat cantik sekali untuk diingat pada tanggal 9 nanti.. heheheheh
____________________
[Reply]
eh g-nya satu lagi ketinggalan (just suggestion)
[Reply]
betul sekali, apapun
yang dilakukan anak2
perlu diapresiasi dan
dikritisi dengan arif bijaksana
btw, semoga nanti tak
salah contreng….,
mari mencontreng yang benar
dan menghukum yang salah
____________________
[Reply]
Sudah banyak yang berkomentar soal “inti” tulisan ini, tapi biarlah saya komentar soal “contreng” itu sendiri.
Kenapa istilah yang dipake bukan “centhang” ataupun “checked” tapi malah “contreng” ya?
Entah kenapa ketika dengar istilah “contreng” asosiasi pikiran langsung ke arah “Coreng” temannya “Bobo”
Uda nanti nyontreng apa?
Saya ndak nyontreng apa-apa.:)
____________________
[Reply]
HHmmm …
Silang besar … merah pula …
Ah ini memang sangat mengganggu …
seberapa banyak contreng biru /hitam yang kita punya …
INi menarik Uda …
Salam saya
___________________
[Reply]
tul tuh da,………..hati2 dlm mencontreng……hahaha
btw, baa kaba kini da? lai sehat2 ko?
____________________
[Reply]
betul, gemas sekali dengan beberapa guru anakku maupun anak-anak temanku. kalau melihat bagaimana mereka membesarkan anak kita dengan cara yang tidak kita inginkan, rasanya ingin mendidik sendiri anak di rumah.
*gemas sekali*
mungkin inilah perlunya dialog guru-orang tua.
tapi pak, tenang… sekarang juga banyak guru yang sudah punya visi ke depan bagus kok.
semoga semakin banyak yang serupa ini.
salam
____________________
[Reply]
Ngomong-ngomong tentang guru, saya ingat waktu masih SD.. Saya pernah dilempar pake kapur …
Gara-garanya …
Saya terus-terusan menanyakan tentang pelajaran yang jawabannya tak ada di buku ..
Ditimpuklah saya, dibilang berisik …
Hufff …
Saya malu,, sekaligus pengen marah ..
Sampai di rumah, Ayah bilang .. “tak apa-apa, kalaupun Guru, Ayah, atau Mama tak bisa jawab, di buku lain pasti ada jawabannya.. makanya,, rajin-rajinlah kau membaca…”
Saya bersyukur sekali tak punya Ibu seperti guru saya itu…
____________________
[Reply]
Kita selalu diingetin terus dengan kesalahan-kesalahan, bukan kebaikan yang kita lakukan..
sebel juga sih..
Eniwei,
efek psikologis di lembar kertas ujian itu memang benar adanya. Dulu, saat usia sembilan tahun aku ikut les bahasa Inggris, guru lesku baik banget dengan memberikan penilaian berupa gambar-gambar yang lucu. Kalau jawabannya benar, tandanya icon dengan mulut tertawa, sedangkan kalau salah, iconnya sedih.
Oh ya.. tentunya icon mulut tertawa itu ukurannya jauh lebih besar!
____________________
[Reply]
Ah, ternyata tidak mudah jadi guru. Begini salah, begitu salah. Untung saya sudah berhenti jadi guru. Ya, gitu deh. Diprotes murid mulu. Apalagi kalau orang tua muridnya seperti Uda Vizon semua, wah, bisa-bisa mati berdiri saya sebagai guru.
___________________
[Reply]
menurut saya, sebaiknya anak diberi pengertian juga, bahwa cara orang memberi penilaian itu bermacam-macam, misalnya dengan memberi tanda silang yang besar.
Saya pikir yang dilakukan gurunya wajar saja….dan bukan berarti di guru tdk mengapresiasi muridnya
[Reply]
Sampeyan yang pantas jadi guru yang baik. Salute
[Reply]
Hmmm…iya juga ya Uda..
kita gak pernah berpikir…kenapa centang.. yang diajarkan pak guru dan bu guru .sekarang namanya jadi contreng…
Tandai dengan centang pada jawaban yang benar….tandai dengan CONTRENG pada partai atau caleg yang cocok di hati…he..he…
[Reply]
Uda, semua komentar sudah serius….jadi yessy komen yang gak seriusnya aja ya…hehee
Jadi uda contreng apa hari ini
heheheh
[Reply]
Jadi, mencontreng ataupun menyilang, meski kecil, dampaknya bisa besar. So, berhati-hatilah dalam mencontreng…
[Reply]
Sudah ke bilik suara da?
menconteng atau menyilang di bilik suara swmua dianggap betul eh sah
[Reply]
Belum ada postingan baru sejak nyontreng, Da?
Hehe.
____________________
[Reply]
wah uni…anak yang pintar yah. Dulu zaman saya kecil saya ga peduli tuh mau dpt nilai bagus kek atau ga (tp untungnya selalu bagus hehehe, narsis
n)
Tp trnyata salah 5 membuat hati uni sedih. Salam sayang yah buat uni
[Reply]