dia mengemis..


Warning: Illegal string offset 'single_featured_image' in /home/hardiviz/public_html/wp-content/themes/confidence/content-single.php on line 69

Sebelum membaca yang ini, ada baiknya baca dulu tulisan sebelumnya: “untuk dikenang”

Demi mengurangi trauma anak-anakku karena gempa, kuputuskan untuk mengungsi sementara ke Jakarta. Kupikir, dengan menjauh sementara dari lokasi kejadian itu, akan dapat menjadi semacam terapi buat mereka. Apalagi, sekolah diliburkan selama dua minggu ke depan. Tiga hari setelah gempa itu terjadi, kamipun berangkat ke Jakarta.

Di Jakarta, kami tinggal di rumah kakak sepupu. Kami dilayani dengan penuh kehangatan. Apalagi kakakku itu tinggal seorang diri. Suaminya sudah tiada, anak semata wayangnya pun sedang kuliah di kota Padang. Jadilah kehadiran kami membuat dirinya merasa terhibur sekali.

Tapi, liburan mendadak itu tidak membuat diriku nyaman. Hatiku gelisah. Pikiranku tidak tenang. Ada semacam rasa bersalah di diri ini.

Mataku hampir tidak lepas dari menyaksikan berita di televisi seputar gempa Jogja.  Berbagai visual yang ditampilkan membuatku bergidik, ditambah lagi dengan jumlah korban yang terus meningkat, hingga mencapai angka 6,000. Batinku seakan protes. Aku duduk enak-enakan di sini, sementara jauh di sana, orang-orang yang bernasib sama denganku, mengalami penderitaan.

Kusampaikan kegelisahanku itu kepada istriku. Aku bermaksud minta izin untuk kembali ke Jogja sendirian, karena aku merasa ada sesuatu yang bisa aku kerjakan, setidaknya membantu meringankan beban tetanggaku. Ternyata, istriku memiliki perasaan yang sama. Maka, dengan bulat kami sepakat untuk kembali ke Jogja, bersama. Kekhawatiranku akan anak-anak, ditepis istriku dengan kalimat: “anak itu harus imun, jangan biarkan mereka steril”. Aku lega, dan dengan penuh keyakinan, kuajak lagi mereka ke Jogja.

Sampai di Kweni, aku kaget luar biasa begitu melihat salah seorang tetanggaku mengulurkan sebuah kardus ke taksi yang kami tumpangi dari bandara. Dia mengemis! Oh Tuhan, tak kuasa ku bendung air mataku. Kuhentikan taksi itu, dan kujulurkan kepalaku keluar jendela.

31ebantul14“Kenapa mengemis Mas?”
“Eh, bapak.. sudah pulang?”
“Iya… tapi kenapa?”
“Habis, mau gimana lagi? Tak ada yang bisa kami kerjakan untuk mencari uang, bantuan logistikpun tidak kami dapatkan. Kami perlu makan, tapi tidak ada uang!”

Ya Allah… inikah kenyataan yang sesungguhnya? Aku hampir tak percaya. Mengapa kampungku yang terletak tidak jauh dari jalan raya tidak mendapatkan bantuan, sehingga memaksa warganya untuk mengemis di pinggir jalan? Separah itukah penanganan bencana di negeriku ini? Sungguh, aku tak percaya dengan penglihatanku sendiri.

Sampai di mulut gang, kami disambut beberapa tetangga. Mereka membantu menurunkan barang-barang dari taksi dan mengajak masuk ke tenda penampungan yang didirikan di lapangan persis depan rumahku. Hatiku tergetar, betapa hangatnya mereka.

30ebantul7-H9“Kok pulang pak?”, tanya mas Kiman
“Iya, abis gak tenang di Jakarta”
“Gak tenang gimana?”
“Setiap saat berita gempa ini kulihat di tipi, mengerikan”
“Wah, kami gak nonton sama sekali, soalnya listrik belum juga nyala”
“Belum nyala? Selama itu?”
“Iya, soalnya di depan sana ada tiang listrik yang roboh, jadi perlu waktu lama untuk memperbaikinya”
“Benar juga, saya kemarin sempat melihatnya. Oya, gimana keadaan di sini? Logistik cukup?”
“Nah, itulah yang kurang Pak. Kita sedikit sekali dapat bantuan”
“Lho, kenapa?”
“Gak ngerti”

Penasaran, kuboca menanyakan soal itu kepada Pak RT. Dari penuturan beliau kuperoleh informasi betapa semrawutnya penyaluran bantuan kepada masyarakat. Sering terjadi rebutan di kelurahan. Akhirnya, hukum rimba berlaku, siapa kuat dia dapat. Beberapa lelaki kampung kami berusaha mencari bantuan logistik kemana saja. Mereka berhasil mendapatkannya, tapi tidak cukup untuk mengisi perut seluruh warga. Perlu usaha yang lebih keras untuk bisa memperoleh yang lebih.

Setelah berbenah dan mendirikan “tenda darurat” di halaman, aku pun minta diantar keliling kampung sama mas Kiman. Aku ingin mengetahui bagaimana persisnya keadaan kampung itu, karena sebelumnya aku belum sempat berkeliling. Betapa terkejutnya diriku. Ternyata, hampir 80% rumah di kampungku itu rata dengan tanah. Aku bergidik!

kweni1kweni2kweni3kweni4

Malam hari, di tengah kegelapan, di tenda penampungan, aku merenung. Pikiranku sangat terganggu dengan kenyataan tetanggaku yang terpaksa mengemis. Aku tidak bisa terima keadaan itu. Aku sangat yakin, pasti ada jalan yang lebih terhormat untuk memperoleh bantuan. Lelah dengan fisik dan pikiran, akupun tertidur. Aku berdoa, semoga besok dapat melakukan sesuatu yang berguna bagi mereka…

bersambung…


Warning: Illegal string offset 'author_box' in /home/hardiviz/public_html/wp-content/themes/confidence/content-single.php on line 93

21 comments on “dia mengemis..

  1. Amankan posisi pertamax dulu nih.
    Sedih sekali baca postingan ini. Ternyata banyak kisah pilu pasca gempa tersebut. Bahkan banyak yang tak mendapat bantuan. Pada kemana larinya bantuan2 itu.

    Semoga Bumi Indonesia lebih disayangi oleh Allah, Tuhan YME, Elohim, Dewa Syiwa, Dewa Wisnu dan semua yang di atas lainnya bagi semua umat manusia sesuai kepercayaan masing-masing

  2. Ada yang selalu bisa diambil ibrah dari setiap bencana yang datang ya Uda….salam saya

  3. Wah..biarpun gak pertama aku juga selalu mengaharp anugerah terindah….halah ……mbales komen Uda di Jayus Om NH. Tadi aku baca sampai full dulu sampai habis sich jadi kalah cepat…………arggggggggh aku belajar dari kekalahan ini (yang ini lebay sangat uda………..maaf)

  4. Wah, Uda mengingatkan saya pada peristiwa mengerikan itu lagi. Saya baru mau keluar kamar, tiba-tiba rumah bergoncang hebat. Saya berteriak “Astaghfirullah, gempa, gempa!!”. Saya jatuh ke lantai (di lantai 2 goncangan terasa lebih keras), dan saya pikir rumah bakal roboh.

    Setelah gempa berhenti, saya keluar kamar, ternyata seluruh rumah sudah porak poranda. Semua barang jatuh, jungkir balik, pecah, hancur. Ketika turun ke halaman, tembok belakang setinggi 4 meter dan panjang 8 meter sudah roboh ke tanah. Rumah tetangga persis di sebelah saya hancur berantakan, atap rumah runtuh sampai ke tanah.

    Belum hilang rasa kaget dan bingung, orang berlarian di jalan depan rumah sambil teriak-teriak “Tsunami! Air sudah sampai di Bantul!”. Saya keluarkan mobil, ikut berbaur dengan orang-orang yang pergi ke arah utara (menjauhi laut). Tapi baru sekitar 1 km, nalar saya jalan. Nggak mungkinlah tsunami, wong laut selatan jaraknya sekitar 25 km. Lagipula ketinggian Yogya sekitar 17 meter dari muka laut. Akhirnya saya putar balik, menentang arus, dan pulang ke rumah.

    Ah … kenangan yang menyedihkan …
    (maaf Da, malah bikin cerita sendiri)

  5. Perasaan tadi udah komen deh, apakah kena moderasi lagi??
    Kalo belum, komen dari aku begini da,

    4JJI tidak akan memberikan beban yang tidak sanggup ditanggung oleh hambanya. Benar kan da?? Tapi sayang kebanyakan dari kita ketika beban tersebut terselesaikan, jarang kita bisa bersyukur… Koreksi jika salah da.

  6. salam kenal uda,

    bergidik saya membaca blog ini, memang memilukan.
    saya juga share sedikit pengalaman seputar pengalaman gempa jogja.

    kalo ada waktu, dan sudi, bolehlah berkunjung ke tempat saya

    salam,

  7. Wah, baru tahu ceritanya bro…Ente belum sempat cerita dulu ya…Lagian dulu ane belum gabung di milis. Terusin cerita ya…

  8. Saya ingat masa-masa itu, kami (saya dan teman2 mengumpulkan bantuan), namun baru saja masuk Yogya maka bantuan itu sudah dikerubuti…jadi terbayang jika wilayahnya di Bantul, pasti nggak kebagian, Itu di awal-awal setelah gempa, saat koordinasi belum berjalan…syukurlah akhirnya situasi berangsur-angsur terkoordinasi.

  9. Pingback: pintu itu terbuka.. « surauinyiak

  10. Negara kita memang rawan bencana, oleh karena itu pemerintah dan masyarakat harus siap menghadapi bencana. Yg sering menyedihkan adalah saat terjadi bencana lalu pemerintah daerah selalu bilang “belum ada bantuan dari pusat” …

  11. tersiar kabar kalo di barat bengkulu ditemukan gunung api raksasa, apa akibatnya bagi sumatera, wah…. itu juga masih ‘tersiar’ hanya allah swt yang tahu apa dampak dari gunung api raksasa tsb.

  12. Saya menangis…
    terlebih saya punya ikatan terhadap jogja krena tinggal di sana selama 10 tahun.

    Saya ingat ketika gempa itu terjadi saya langsungmembuat puisi dan dibacakan di gereja di depan anggota jemaat.
    banyak yang menangis…
    sayang puisinya hilang entah kemana..
    padahal saya pengen psting juga untuk memperingati hari itu.

    Kelu…
    Lidahku kelu…

  13. nah, sudah saya baca seluruh cerita maraton gempa jogja.
    kagum dengan keberanian dan semangat uda dan uni icha berbagi duka dengan sesama di jogja, dan mendidik anak-anak untuk tidak manja. sungguh kejadian yang patut dikenang namun bukan terus-menerus ditangisi, karena yang penting adalah mengambil hikmah dari peristiwa yang terjadi, bukan menyesalinya.

  14. wahhh uda…kok nulis ini siyyy jadi sedih saya….

    saya udah ketemu uni yeni, udah cerita dikit, saya udah lihat-lihat dari jauh pesantren dan Tk, dan sekarang saya tahu dan bisa paham ‘mengapa uda melakukan semua itu di jogaja’.

    saya berdoa untuk uda dan komitmen uda untuk kemanusiaan…senang bisa mengenal uda dan saya akan kembali ke PAYAKUMBUH karena udah janji dengan uni yeni untuk ‘sesuatu’ yang kami belum tau itu apa….

    trims da…salam buat uni di jogja juga…mudah-mudahan saya bisa bertandang ke sana…

  15. Aku inget dulu malah bingung mo nyalurin ke mana …
    Tiap ke sana, sepertinya banyak yang numpuk bantuan ..

    Sayang waktu itu gak terkoordinasi dengan baik, jadinya malah gak merata ..
    Maaf ya Uda,, sepertinya kampung Uda kelewatan :)

  16. Wah Uda, membaca kisahmu jadi kangen Jogja!
    Aku bisa melihat sendiri waktu itu banyak orang yg terpaksa mengemis yah… :(
    Kasian…

Komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jawab dulu ya pertanyaan di bawah ini sebelum kirim komentar, biar tidak dianggap spam.. :) *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>