Pak Ponijo terkesiap ketika kusodorkan selembar limapuluhribuan ke tangannya. Matanya seperti tidak mempercayai apa yang dilihatnya.
“Wah, ndak ada yang kecil Pak? Saya ndak ada kembalian”
“Ndak perlu dikembalikan Pak. Ini untuk Bapak”
“Kebanyakan Pak”
“Ndak kok, sudah pas dengan kerjaan Bapak”
“Jangan Pak, separonya saja”
“Ndak, terima aja ini, udah rejeki Bapak”
Dengan sedikit memaksa, kumasukan lembaran itu ke saku bajunya. Pak Pon berusaha menolak. Tapi, aku tetap memaksa. Dengan penuh takzim dia haturkan terima kasih. Kulihat rona bahagia terpancar dari wajahnya yang gelap terbakar matahari.
“Terima kasih Pak”
“Sama-sama Pak Pon, besok kalau saya perlu antar barang lagi tak panggil ya”
“Iya, saya siap kapan saja, maturnuwun njih”
Pak Pon pun berlalu dari hadapanku dengan becaknya. Kulepas ia hingga masuk ke rumahnya yang terletak di depan rumahku.
Pak Pon adalah satu dari jutaan ayah di muka bumi ini yang bekerja dengan keras dan tulus demi menghidupi anak dan istrinya. Tak pernah sedikitpun keluhan keluar dari mulutnya. Setiap hari becak dikayuhnya, tanpa peduli panas maupun hujan. Yang diinginkannya adalah, anak dan istrinya dapat makan dengan enak dan hidup dengan layak. Tidak hanya becak yang dikayuhnya, tapi juga cangkul diayunkannya setiap hari di sepetak sawahnya yang tidak seberapa.
Ada banyak ayah yang seperti Pak Pon. Bekerja siang malam, tanpa mengenal lelah. Bahkan pekerjaan yang dilakoni menantang maut. Semua dijalani dengan satu dorongan; tanggungjawab! Setiap tetes keringat yang mengucur, seolah menjadi pertanda kehidupan bagi keluarganya.
Namun, kerja keras ayah yang seperti itu, pada kebanyakan keluarga di bangsa kita tidak mendapat apresiasi yang tinggi, tidak setinggi apresiasi kita kepada ibu. Dalam banyak hal, kita lebih mengutamakan ibu ketimbang ayah. Entah apa penyebabnya. Bahkan, kitapun meletakkan “surga di telapak kaki ibu”.
Kesenjangan itu mengakibatkan banyak para ayah yang merasa bahwa segala yang dilakukannya untuk keluarga hanyalah pemenuhan kewajiban. Dan anakpun seolah merasa bahwa ayah hanya berperan sebagai pemenuh kebutuhan hidupnya. Relasi ayah-anak hampir mirip seperti relasi pembeli dan penjual. Penjual hanya butuh uang pembeli, tidak lebih!
Agak kasar memang, tapi itulah kenyataan yang banyak terjadi di tengah masyarakat kita. Hal ini, secara perlahan tapi pasti, telah menanamkan paradigma dalam diri para lelaki, bahwa ia tidak punya urusan apapun dengan pertumbuhan sang anak. Yang penting kebutuhan hidupnya tercukupi, ya sudah. Sisanya, itu urusan ibu.
Aku sepenuhnya tidak setuju dengan paradigma ini. Karena, sesungguhnya, keluarga adalah sebuah bangunan yang berdiri atas dua tiang kokoh bernama ayah dan ibu. Keduanya sama pentingnya dan tidak bisa dipisahkan antara satu dengan yang lain. Keduanya memiliki tugas yang sama; memenuhi kebutuhan hidup dan mendidik.
Lantas, mengapa budaya kita menjadikan ibu lebih terhormat daripada ayah?
Barangkali, karena secara kasat mata terlihat oleh kita ibu berjuang keras sejak mulai mengandung, kemudian melahirkan dan membesarkan. Kesusahan ibu tersebut sangat terasa oleh kita.
Tapi, bukankah itu sudah menjadi takdirnya perempuan? Tuhan telah meletakkan rahim di perutnya, tanpa ia dapat menolaknya. Kalaulah dapat meminta kepada Tuhan, aku yakin akan sangat banyak perempuan yang meminta agar rahimnya dipindahkan ke perut lelaki.
Peran ayah terhadap anak memang tidak kasat mata. Tapi, justru itulah yang paling banyak menentukan karakter sang anak. Kejiwaan sang ayah sangat besar pengaruhnya. Sebagai contoh, rejeki yang diperoleh sang ayah juga turut mempengaruhi karakter anaknya, apakah berasal dari jalan halal atau haram.
Dalam Islam, ada perintah yang menyuruh sang ayah untuk membisikkan adzan di telinga kanan anaknya ketika baru lahir. Apa hikmah dari itu?
Seperti kita ketahui, bahwa indera pertama yang berfungsi pada seorang bayi adalah pendengaran. Maka, bisikan adzan di telinga bayi bermakna bahwa sang bayi untuk pertama kali hadir di muka bumi hendaklah mendengarkan kalimat-kalimat yang baik, dan itu disuarakan oleh ayahnya sendiri. Itu bermakna bahwa suara sang ayah telah menjalari seluruh tubuh bayi, ketika pertama ia lahir di dunia. Aliran itu, sama pentingnya dengan aliran air susu ibu ke tubuhnya. Bisikan adzan memang remeh, tapi percayalah, dampaknya sangat besar, apalagi dibisikan oleh ayah dengan penuh ikhlas.
Ada banyak penelitian tentang peran ayah dalam kehidupan anak, yang kesemuanya bermuara pada sebuah kesimpulan bahwa ayah sama pentingnya dengan ibu.
Ketulusan yang diberikan Pak Ponijo kepada keluarganya mengingatkanku kepada ketulusan Papaku. Betapa setiap hembusan nafasnya, terucap doa untuk kehidupanku dan adik-adikku. Setiap langkahnya, membayangkan masa depan kami. Tidak ada kebahagiaan baginya, kecuali dapat membahagiakan kami.
Meski di negara kita tidak ada tradisi peringatan hari ayah, tapi aku ingin mulai melestarikannya. Minggu ini, minggu ketiga bulan Juni adalah Hari Ayah internasional. Dari lubuk hatiku yang paling dalam, aku ingin ucapkan terima kasih untuk Papaku, atas segala jasanya.
Bagiku, surga tidak hanya di telapak kaki ibu, tapi juga di pundak ayahku.
Teringat masa kecilku
Kau peluk dan kau manja
Indahnya saat itu
Buatku melambung
Disisimu terngiang
Hangat nafas segar harum tubuhmu
Kau tuturkan segala mimpi-mimpi
Serta harapanmuKau ingin ku menjadi
Yang terbaik bagimu
Patuhi perintahmu
Jauhkan godaan
Yang mungkin kulakukan
Dalam waktuku beranjak dewasa
Jangan sampai membuatku
Terbelenggu jatuh dan terinjakTuhan tolonglah sampaikan
Sejuta sayangku untuknya
Ku terus berjanji
Tak kan khianati pintanya
Ayah dengarlah betapa sesungguhnya
Ku mencintaimu
Kan ku buktikan ku mampu penuhi maumuAndaikan detik itu
Kan bergulir kembali
Kurindukan suasana
Basuh jiwaku
Membahagiakan aku
Yang haus akan kasih dan sayangmu
Tuk wujudkan segala sesuatu
Yang pernah terlewati(Yang Terbaik Bagimu, Ada Band)
foto diambil dari sini




Udaaaaaa… bagus Uda
Hari Ayah aku setuju sekali!!!!
dan kenapa musti beda dengan negara-negara lain
dengan mencari-cari unsur sejarah
atau seorang “Bapak” panutan Indonesia segala.
Ikuti saja hari Ayah Internasional. Kan yang penting adalah keinginan untuk menghargai ayah-ayah kita.
Selamat hari ayah untuk Uda dan semua ayah-ayah Indonesia.
(Jika seorang wanita karir masih belum mengerti beratnya pekerjaan seorang ayah, maka ia buta. Karena aku bekerja di luar juga maka aku tahu betapa beratnya tugas seorang laki-laki. Dia tidak bisa lari dari kenyataan bahwa ia yang harus memberi nafkah… tidak seperti wanita karir yang bisa berhenti sewaktu-waktu. Mari menghargai tugas dan kodrat masing-masing pada tempatnya.)
EM
[Reply]
(ah maap tadi alamatnya salah …)
Ini aku tulis lagi deh …
Setuju Uda …
Memang selama ini … peran ayah selalu dikesampingkan …
dan ini memang bisa dimengerti karena banyak ayah yang merasa bahwa urusan anak adalah urusan Istri …
Aku sependapat Uda …
Sudah saatnya peran Ayah itu dilihat juga di keluarga …
bukan sekedar sebagai “bread winner” saja …
Aku menulis hal serupa …
Aku kasih judul … Emansipasi Pria … (hehehe)
http://theordinarytrainer.wordpress.com/2008/03/11/emansipasi-pria-%e2%80%a6/
(hah komennya ndak sama nih … dengan yang pertama …)(maap ya Uda)
(yg salah tadi sudah saya hapus pak, jangan khawatir, hehehe….)
[Reply]
Saya selalu memandang dengan respek pada seorang pria yang dikaruniai peran sebagai seorang ayah. Ibu adalah yang melahirkan tapi ayah adalah pengukir jiwa dan raga. Sosoknya dalam keluarga adalah tonggak, role model, pengayom, pejuang, pemimpin. Dengan kerja kerasnya kebutuhan keluarga terpenuhi, bukan semata materi tapi juga rohani dan kedamaian hati seluruh anggota keluarga.
Saya bertambah menyadari betapa besar kasih sayang antara ayah dan anak setelah ayah saya tiada. http://tantikris.wordpress.com/2008/11/10/untuk-ayah-tercinta/
Selamat Hari Ayah,
Kiranya Tuhan memberkati semua ayah di dunia,
diberi hikmat dan kekuatan untuk memimpin keluarga…
[Reply]
Mengingatkan saya akan ayah saya. Alhamdulillah beliau masih menemani saya hingga saat ini …
[Reply]
Ijin mengutip :
Kalaulah dapat meminta kepada Tuhan, aku yakin akan sangat banyak perempuan yang meminta agar rahimnya dipindahkan ke perut lelaki.
Aku pernah mendengar, katanya ada cara supaya saat melahirkan, si Ayah lah yang merasakan sakitnya, sementara Ibu yang melahirkan tak merasakan sakit apa-apa ..
Wallahualam.
*Sambil mencet nomor telepon Ayah*
[Reply]
Selamat hari Ayah, uda!!
Bagi saya Papa dan Mama memberi arti dan warna masing2 dalam kehidupan dan diri saya.. Peran beliau berdua sama dan seimbang..
syukurlah kalau uni dede mengalami hal seperti itu…
semoga dapat menirunya ya uni
[Reply]
Asem, aku jadi berkaca-kaca Uda!
Sungguh, aku merasa juga tak pernah terlalu seimbang untuk mencintai Ibu ketimbang Ayah meski ya benar juga katamu, di Pundak Ayah terdapat surga…
Terimakasih untuk tulisan yang mengingatkan di pagi ini, aku rindu Ayahku dan berterimakasih pada Tuhan sebab masih diberikan usia padanya hingga saat ini…
[Reply]
Iya, aku setuju…surga bukan hanya di telapak kaki ibu, tapi juga di pundak Ayah.
Selamat hari Ayah..
[Reply]
comment: sama dengan DV. Alhamdulillah bisa tau dan membaca coretan surauinyiak, ini belum terlambat utk menyadarinya.. Miss U Pa..
[Reply]
Makasih neh uda ceria inspiratifnya. ini menjadi pandangan bagi kita Sebagai calon ayah Nantinya
[Reply]
Salam kenal dari Yogya ya…(eh, pdhl Uda lg di Yogya ya…?)
Pernah denger pengasuhan anak model Androgini (dilakukan bersama-sama oleh ayah dan ibu), secara psikologis bagus banget buat anak). Tp kadang bnyk laki-laki yg menyerahkan pengasuhan anak sepenuhnya pd perempuan (ibu), sdngkn dia tahunya nyari duit buat keluarga aja.
Kayaknya perlu lbh disosialisasikan lg tuh Hari Ayahnya, kmrn ada program Super Dad di tipi itu bagus juga.
Hmm…lagunya bikin termehek-mehek, jd inget bapakku yg single parent sejak 20 tahun lalu (dan kalo ditanya kenapa tdk menikah lagi, katanya demi anak-anak, hiks hiks…)
[Reply]
ah, saya pribadi tidak pernah membedakan cinta terhadap kedua orang tua. sebagai anak perempuan, saya justru lebih dekat dengan ayah (alm.) dalam hal-hal tertentu karena kami memiliki banyak kesamaan dan ketertarikan. figur saya pun lebih banyak menyalin beliau daripada ibu. tentunya setelah dewasa ibu menjadi role model dalam banyak hal sebagai perempuan.
uda vizon, percayalah bahwa anak secara umum (yang dibesarkan dalam keluarga yang harmonis) juga tak kan dapat membedakan cinta terhadap kedua orang tua mereka. tidak ada diskrepansi antara mencintai ayah atau ibu. saya yakin keduanya setara.
selamat hari ayah!
[Reply]
kalo wempi lebih sayang sama nenek
[Reply]
Secara biologis, kedekatan seorang anak dengan ibu tak bisa disangkal, karena bayi selama 9 bulan tumbuh dan menyatu dalam rahim ibu, mendengar detak jantung ibu, dan menerima makanan dari ibu. Sesudah lahir, kontak fisik dan batin itu berlanjut dalam proses menyusui.
Dalam masa-masa ini, ikatan batin antara anak dengan ayah tergantung pada sikap yang diambil sang ayah : apakah ia hanya sekedar membuahi sel telur ibu lalu lepas tak ada kontak lagi, ataukah ia terus menjalin hubungan dengan anak sejak masih dalam kandungan hingga setelah dilahirkan.
Secara budaya, pada budaya patrilineal, peran ayah sangat dominan. Ayahlah penentu segalanya, dan pemimpin keluarga. Ayah dihormati, ditakuti, dan karena saking tinggi posisinya kadang-kadang jadi kurang dekat dengan anak. Ditambah tugas ayah mencari nafkah di luar rumah, membuat interaksi dengan anak ada kalanya menjadi kurang terbangun.
Tapi itu yang terjadi pada masa-masa lalu. Sekarang, hubungan ayah-anak lebih cair. Banyak suami mulai terjun dan ikut terlibat aktif dalam pendidikan anak. Anak pun menjadi lebih dekat dengan ayahnya. Jadi sebenarnya, semua tergantung bagaimana seorang ayah memerankan dirinya dalam hubungan dengan isteri dan anak-anaknya.
[Reply]
Aduhhh tulisan uda vizon…ini bikin sedih niy hehehe. Jadi teringat bokap n nyokap di kampung….
Pertanyaan saya…menuju KWENI gimana caranya dari stasiun tugu ?
[Reply]
kesimpulan bahwa ayah sama pentingnya dengan ibu, saya setuju. Bukannya membela kaum laki-laki, atau karena saya seorang ayah.
Untuk hari ayah, ok. Tapi untuk Indonesia, apa perlu dibuat hari khusus? Ah, nggak usahlah, karena semua hari, adalah hari ayah. he he.
[Reply]
dalam pikiran dan perasaan dikeseharian saya tidak ada perbedaan antara ayah dan ibu Uda, meski begitu … buat saya Ibu tetaplah yang utama … . Ibu .. Ibu .. Ibu .. baru Bapak …
[Reply]
Tulisan yang inspiratif sekali Uda… Saya ngga tau, apakah secara alamiah atau memang karena diarahkan begitu, saya lebih dekat kepada Ibu. Kalau ada masalah, selalu membela Ibu. Tapi lama-lama, setelah tumbuh dewasa saya mulai sadar, betapa keberpihakan yang ngga saya sadari itu telah membuat bapak sedih. Selamat hari ayah.
Well written, Uda…
[Reply]
dalemm banget uda…
jadi benar2 inget ayah…
bukan maksud meremehkan peran ibu, tapi saya sepaham dengan uda…
AYAH….
(segera telpon ayah)
[Reply]
amba alah baco email uda vizon mengenai tata cara menuju kweni, ada rencana ambo ka jog, tapi lamo lai…nabuang ciek lu hehehehe
[Reply]
Tulisannya sangat menyentuh..
Jadi inget anak2 di panti yg dari kecil hidup tanpa ayah dan ibu..
Bersyukur punya tumbuh dengan ortu lengkap..
[Reply]
Loh, Uda tinggal di Kweni yg Jl. Bantul itu? Satu kelurahan dong sm aku, aku di Jl. Paris (belakang Perum Alam Citra). Wah, boleh tuh kpn2 maen ke sana…!
[Reply]
Di sini hari ayah dirayakan tiap tahun
dan perayaannya lumyan meriah…. Walaupun aq ga terlalu deket dengan ayah qu,, tapi aq tahu dan merasakan bahwa beliau sangat menyayangi qu… Selalu qu berharap suatu saat nanti ayah qu membelai tubuh qu seperti waktu qu bayi yg selalu dibelai oleh beliau
[Reply]
setuju! karena biar bagaimanapun orang tua adalah lengkap jika ada Ayah dan Ibu
[Reply]