alif kecil


Warning: Illegal string offset 'single_featured_image' in /home/hardiviz/public_html/wp-content/themes/confidence/content-single.php on line 69

Anak kecil umur tiga tahunan itu masih ada di situ; di perempatan lampu merah KFC komplek kampus Universitas Gadja Mada (UGM). Masih seperti yang kulihat beberapa bulan lalu; berjalan di antara kendaraan yang berhenti, tanpa sedikitpun rasa takut, menengadahkan tangan ke setiap kendaraan yang berhenti. Ya, dia masih mengemis.

Ketika kami beradu pandang, aku masih melihat sorot mata yang tajam, masih seperti yang kulihat beberapa bulan lalu itu. Sorot tajam matanya itu menunjukkan ketegarannya menjalani hidup seperti itu. Dan masih seperti beberapa bulan yang lalu itu juga, aku tetap tidak melakukan apa-apa. Aku hanya menatap iba kepadanya. Aku hanya bisa berontak di dalam hati melihat ketidakadilan itu. Aku hanya bisa diam, diam dan diam…

Alif, sebut saja begitu namanya, adalah salah satu dari jutaan anak Indonesia yang tidak beruntung. Terlahir dari keluarga yang berekonomi lemah sekaligus berpikiran lemah. Berpikiran lemah yang kumaksud adalah ketidakmampuan orangtuanya mencari solusi yang lebih manusiawi demi pemenuhan kebutuhan hidup mereka. Karena sesungguhnya, ada juga banyak orang yang berekonomi lemah tapi tidak melakukan tindakan bodoh, menyuruh anaknya mengemis.

Aku tidak ingin mencari-cari ruang penyalahan atas keadaan itu. Karena, banyak pihak yang terkait dengan persoalan itu. Hanya saja, aku ingin menyuarakan kekecewaanku terhadap para calon presiden di negaraku, yang saat ini sedang berusaha meraih simpati. Dari banyak paparan program mereka, secara konkrit tidak kutemukan program yang menyinggung persoalan anak.

Bisa jadi, mereka beralasan bahwa persoalan anak sudah tercakup dalam program-program besar mereka, terutama masalah ekonomi dan pendidikan. Tapi, benarkan demikian? Sepenuhnya aku tidak setuju. Persoalan anak, bukanlah persoalan sempilan. Ia adalah persoalan tersendiri, dan harus ditangani secara khusus dan serius. Karena, persoalan anak adalah persoalan generasi; generasi penerus kehidupan bangsa.

Sebetulnya, sudah banyak regulasi yang ditetapkan dalam urusan anak. Sebut saja Undang-undang Nomor 23 tahun 1979 dan UU No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Hanya saja, regulasi yang banyak itu, seolah tidak mendapat perhatian optimal dalam pelaksanaannya. Buktinya, ada banyak alif-alif kecil yang menghabiskan masa kecil mereka di jalanan, tanpa perlindungan, tanpa kasih sayang dan tanpa masa depan.

Meski pesimis, tapi aku tetap menaruh harapan kepada presiden terpilih di negaraku nanti, agar persoalan anak menjadi perhatian khusus. Bahkan kalau perlu, dibuatkan kementrian khusus perlindungan anak, sebagaimana urusan wanita juga dibuatkan kementriannya, yang bernama mentri peranan wanita. Perhatian terhadap anak, janganlah hanya sebatas seremoni pada peringatan hari anak, setiap 23 Juli, semata. Tapi, perhatian yang utuh, tanpa tersekat ruang dan waktu.

Semoga!

Alif Kecil – Snada

Ketika malam datang mencekam
kulihat si Alif kecil yang malang
duduk tengadah kelangit yang kelam
meratapi nasib diri

Kilat menyambar hujanpun turun
semakin basah hatinya yang resah
kapankah semua kini kan berakhir
dijalanan penuh duri

Ya Allah tunjukkan jalan-Mu
pada si Alif kecil
Agar dia dapat menahan cobaan dan rintangan
yang datang menghadang


Warning: Illegal string offset 'author_box' in /home/hardiviz/public_html/wp-content/themes/confidence/content-single.php on line 93

11 comments on “alif kecil

  1. wah, lagu alif kecil.. jadi ingat masa SMA dulu..
    terima kasih mas, tulisan ini menggelitik saya karena semasa SMA dulu banyak kejadian lucu..
    jadi ingin dengar lagu itu lagi..

    hmmm…. jadi pengen tahu, seperti apa kejadian lucu dulu itu… ceritakanlah :D

  2. Kasihan anak-anak
    dia lahir tanpa dia inginkan
    tapi setelah dia lahir apa yang dia dapat?
    miris

    yups…
    anak bagaikan kertas putih, orang tuanya lah yang akan menorehkan tinta di atasnya, dengan berbagai warna… bersyukurlah bila kita telah mampu menorehkan tinta emas di atas kertas putih mereka…

  3. Setuju dengan komentarnya Imel, anak kecil tak bisa memilih untuk lahir menjadi kaya atau miskin…
    Sebenarnya capres manapun akan mudah untuk mencuri simpati rakyat jika ia memasukkan agenda yang sebenarnya telah menjadi tugas negara sejak negara ini dibentuk.

    KFC UGM itu kan perempatan Jakal ya, Uda?

    Hmmm jadi smakin rindu Jogja :)

    barangkali para capres itu beranggapan bahwa karena calon pemilih mereka adalah para dewasa, maka anak2 tidak perlu diambil simpatinya, toh mereka gak bakal milih. sehingga, program-program yang mereka tawarkan seluruhnya berkaitan dengan kepentingan orang-orang dewasa…

    ya benar, perempatan itu di jakal, di mirota kampus… remember?

  4. Masalah anjal (anak jalanan) ini memang cukup rumit. Beberapa waktu yang lalu saya membaca di koran Yogya, bahwa Pemkot menghimbau agar masyarakat jangan memberi uang kepada anjal, karena itu tidak mendidik. Jika ingin berderma kepada mereka, salurkanlah uang kita ke lembaga-lembaga yang sudah ada, yang memang bergerak untuk mendidik anak jalanan.

    Memang kita sering iba melihat anak-anak kecil mengemis di jalanan. Tapi, sering kali anak-anak itu cuma dipekerjakan oleh orangtua mereka, atau ‘organisasi’ tertentu di belakang mereka. Akhirnya uang yang mereka peroleh itu bukan untuk mereka sendiri, tetapi untuk pihak lain yang kita tidak tahu, apakah benar-benar pantas menerimanya …

    Solusinya ada pada pemerintah Bu, menurut saya.
    Dengan dasar hukum yang sudah ditetapkan, mereka sebetulnya bisa lebih konsern terhadap perlindungan anak. Sehingga, jaringan sindikat itu dapat ditumpas tuntas. Kalau bukan penguasa, siapa lagi? kita sebagai rakyat tidak mampu melakukan apa-apa…

  5. alif kecil, jadi ingat iya kecil. suka kemesjid karena namanya sering disebut imam.
    iya kana’ budu wa iya kanas ta’in.

  6. Mereka mungkin merasa tidak punya pilihan …
    sehingga anak-anaklah yang jadi korban …

    padahal sebetulnya … mungkin … masih ada pilihan yang lebih baik … celah kecil … yang memerlukan perjuangan keras …

    Yang jelas …
    Siapapun yang terpilih nanti …
    Bisa lebih memperhatikan hal-hal seperti ini …

    “Hidup itu harus diperjuangkan !!!”
    “Rejeki tidak datang dari langit …”
    “Ikhtiar itu harus !!!”

    (lha kenapa aku jadi teriak-teriak begene …)(maap uda )

    benar…! mereka harus memperhatikan ini…
    hidup perjuangan…!!
    gpp pak, sekarang semuanya kudu diteriakin, soalnya sudah banyak yang budeg… ;)

  7. Aku juga miris bila melihat anak2 apalagi masih sangat bayi sudah berkeliaran dijalanan. Tidak cukup satu hati saja yang peduli. Negara nya lah yang dipertanyakan?.. akan sampai kapan?

    yups… harus ada jutaan hati, terutama hatinya para penguasa… :)

  8. Negara harus bertanggung jawab terhadap itu, karena Konvensi Hak Anak dan UU Perlindungan Anak telah menempatkan tanggung jawab negara sebagai to fulfill, to promote, to protect hak-hak anak. Kegagalan kehidupan anak hari ini akan berdampak terhadap kehidupan masa datang. Kegagalan anak hari ini cerminan kegagalan orang dewasa dan pemerintah juga. Semoga alif-alif kecil mendapatkan dunia yang layak bagi mereka untuk tumbuh dan berkembang.

    sepenuhnya ini adalah tanggungjawab negara… tapi, tangan-tangan tulus dari aktivis dunia anak, cukup mampu mengurangi beban negara. salut deh buat para aktivis tersebut… :)

  9. masalah yang tidak pernah diselesaikan (dan mudah2an terselesaikan dengan CEPAT)
    *bukan kampanye lebih cepat lebih baik lho*

    harapan dan doa selalu dipanjatkan agar pemimpin yang baru bisa mencari solusi terbaik buat masalah ini
    *berasa udah kayak pengamat sosial nih*

    perempatan kcf-mirota kampus :
    *mumpung minggu ini mudik jogja*

    eh, mau mudik jogja? ada hal mustahak kah? hehehe…
    kalau lama di jogja, siapa tahu kita bisa ketemu. sabtu-minggu ini saya ada di rembang.

  10. Saya berharap agar Capres terpilih memberi perhatian pada anak yang kurang beruntung ini.
    Bagi masyarakat menjadi serba salah, jika ingin memberi ternyata anak-anak hanya dimanfaatkan oleh orang yang lebih tua…namun jika tidak…nurani kita tak bisa menerima, sehingga tetap mengulurkan tangan untuk membantu

    itulah dilema yang kita rasakan; pertentangan antara nurani dan logika…

  11. Uda, saya sampai di postingan ini, dari komen Uda di tulisan Om NH. memang masalahnya cukup rumit ya Da. Susah untuk mengurainya…

Komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jawab dulu ya pertanyaan di bawah ini sebelum kirim komentar, biar tidak dianggap spam.. :) *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>