hanya satu
26
Posted by Vizon | Posted in keluarga | Posted on 19-07-2009
Tags: anak, egoisme, film, hanya satu, king, mocca, orangtua, parenting
Aku sangat kesal dengan sikap sahabatku Iwan (bukan nama sebenarnya), terhadap anaknya. Tapi, kekesalanku itu baru bisa kutumpahkan kepadanya kemarin, beberapa minggu setelah kejadian itu.
Ketika itu kami janjian akan menonton bareng film “King“. Aku mengajak istri, the fantastic four dan adik bungsuku. Sementara, sahabatku itu mengajak istri dan anak sulungnya yang baru berumur 7 tahun. Kami menonton di Studio 21 Ambarrukmo Plaza, Yogyakarta.
Rencana nonton bareng itu sebetulnya muncul dari istrinya. Dia kasihan melihat putra sulungnya itu tidak ada kegiatan mengisi liburan. Sementara, mereka berdua sudah cukup sibuk dengan urusan pekerjaan masing-masing. Aku tentu saja menyambut baik usulan itu. Kami juga sudah merencanakan acara nonton itu bersama anak-anak jauh hari sebelumnya.
Singkat cerita, kami pun sudah berkumpul di depan studio pada waktu yang telah disepakati. Segala perlengkapan menontonpun tersedia dengan cukup di tangan kami masing-masing. Perlengkapan menonton? Apa pulak itu? Ya… popcorn, beberapa camilan lainnya, softdrink, dan tidak lupa minyak kayu putih… Maklumlah, kami kan udik, jadi kalau kena AC, gampang masuk angin…
Ketika kami akan memasuki ruang studio, tiba-tiba Iwan berbicara kepadaku:
“Ok, selamat menonton ya…”
“Lho kok…?”
“Aku gak ikutan, aku nunggu di sini aja sambil jalan-jalan di mall ini”
“Oalah… kok bisa gitu?”
“Aku gak suka dengan film semacam ini. Aku kepengen nonton itu nanti (sambil menunjuk ke poster Transformers)”
“Ah kau ni…”
Belum selesai kalimatku, diapun memotongnya, “Selamat bersenang-senang ya…!”
Aku menggerutu dalam hati. Perasaanku campur aduk, antara percaya dan tidak. Kok bisa-bisanya sahabatku itu seperti itu? “Hmmm…. awas kau Wan, nanti bakal ku maki-maki setelah keluar dari sini”, bisikku dalam hati.
Selesai menonton, ternyata aku tidak bisa menemukan Iwan lagi. Dia meninggalkan pesan pendek di telepon genggam istrinya dan menyuruhnya untuk pulang saja langsung dengan taksi karena dia sendiri mau pergi ke suatu tempat.
Semakin menjadi kesalku kepadanya. Tapi, aku tak dapat melampiaskannya. Aku pendam saja. Suatu saat, bila bertemu lagi, akan kutumpahkan semuanya…
Kemarin, saat yang kunanti-nanti itupun akhirnya datang. Kami bertemu kembali. Tanpa menunggu lebih lama, aku pun langsung menumpahkan isi hatiku kepadanya.
“Wan, aku tidak suka dengan caramu kemarin itu”
“Cara yang mana nih maksudmu?”
“Alah, jangan pura-pura lupa lah kau!”
“Serius, cara mana?”
“Itu, ketika kau tinggalkan kami waktu nonton King”
“Ouw itu, emangnya kenapa?”
“Kayaknya kau tidak merasa bersalah sedikitpun ya?”
“Bersalah? Lho, aku kan udah mengantar mereka menonton, trus apa lagi?”
“Ya, kenapa kau tak ikutĀ menonton?”
“Karena aku gak suka dengan film seperti itu!”
“Hanya itu?”
“Yes… just it! Lagian, bukankah aku sudah penuhi semua kebutuhan mereka, mau apa lagi?”
Aku menghela nafas cukup panjang. Aku tenangkan dulu diriku. Aku tidak ingin berbicara dengan emosi.
“Wan, mau kau dengarkan nasehatku?”
“Silahkan…”
“Coba kau dengarkan lagu ini”, sambil ku sodorkan telpon genggamku, “Hayati setiap baitnya”
Hanya Satu – Mocca
Hanya satu pintaku
Tuk memandang langit biru
Dalam dekap seorang Ibu
Hanya satu pintaku
Tuk bercanda dan tertawa
Di pangkuan seorang Ayah
Apabila ini hanya sebuah mimpi
Ku selalu berharap
Dan tak pernah terbangun
Hanya satu pintaku
Tuk memandang langit biru
Di pangkuan ayah dan ibu
“Kau tahu Wan… anakmu, tidak butuh hartamu yang berlimpah. Dia tidak butuh fasilitas mewah yang kau berikan. Dia hanya butuh kehadiranmu, setiap kali dia membutuhkannya. Untuk sekedar menemaninya, menggapai mimpi-mimpinya, cita-citanya, menatap langit biru. Just it…!”
Iwan terdiam…
“Kau terlalu egois sebagai orangtua. Kau boleh tidak suka dengan film seperti itu. Tapi, demi anakmu, kenapa tidak kau korbankan egomu itu untuk sesaat? Tidak lama! Hanya kurang dari 2 jam. Anakmu butuh kamu dan ibunya di sampingnya, menemaninya menikmati tontonan itu!”
Iwan tertunduk…
“Kau tahu Wan… sikap kita kepada anak, akan menjadi sikap mereka kepada kita, nanti di hari tua. Kalau kau sekarang lebih mementingkan egomu, jangan salahkan kalau ketika kau tua nanti, dan kau butuh dia, dia akan mendahulukan egonya, ketimbang menemanimu. Kalau kau berpikiran uang akan membahagiakannya, jangan salahkan juga bila nanti dia hanya kan memberimu uang, bukan perhatian, di masa tuamu!”
Iwan semakin tertunduk…
“Sebagai sahabat izinkan aku mengingatkanmu. Ubahlah cara pandangmu terhadap anak. Dia bukanlah orang lain. Dia adalah dirimu, dia adalah jiwamu. Perlakukan ia sebagaimana kau ingin diperlakukan…! Hanya satu pintanya padamu, UNTUK BERCANDA DAN TERTAWA, DI PANGKUANMU!”
Setelah beberapa lama ngobrol, kamipun berpisah dengan senyum dikulum. Aku tersenyum bahagia karena telah mengeluarkan semua kekesalanku kepadanya. Dan, secara pasti, aku tidak tahu apa arti senyum sahabatku itu…




nasehatnya sederhana tapi dalem banget mas, mangstab deh
[Reply]
hmmm mungkin perlu ditanya Uda
dulu Iwan juga tidak pernah dibegitukan oleh orangtuanya. Sehingga dia juga tidak merasa perlu, dan tidak mau belajar dari keinginannya waktu kecil sesungguhnya. Jika orangtua Iwan sudah memberikan yang terbaik buat Iwan, seharusnya Iwan memberikan lebih lagi pada anak-anaknya.
EM
[Reply]
BTW Uda, RSS nya ngga bisa ya…
loading juga lama sekali…hiks
[Reply]
wah, rupanya bang iwan sudah merasa cukup kalau memenuhi segala kebutuhan finansial putranya, padahal seperti yang diungkapkan bang vizon, anak tak hanya butuh hal2 yang bersifat materailistis, tapi jutsru yang lebih utama adalah bagaimana bang iwan bisa mencurahkan perhatian dan kasih sayangnya. hmm … sebuah kejadian keseharian yang acapkali tdk pernah terpikirkan oleh banyak orang, bang vizon. btw, ini rumah baru bang vizonkah? selamat kalau begitu, semoga dari rumah ini akan lahir anak2 postingan yang kreatif dan mencerahkan. salam hangat dan salam ngeblog!
[Reply]
yang penting sabar..
[Reply]
Uda, terima kasih sharing-nya
smoga aku bisa menjadi ortu yg baik pada saatnya kelak
amien
[Reply]
wah, ternyata masih ada orang tua yang egois seperti itu ya, da? benar sekali, da, kalau kita menyayangi anak dengan materi, maka kelak dia pun akan menyayangi kita dengan cara yang sama. padahal kehadiran dan kasih sayang orang tua melebihi nilai materi apa pun, ya?
[Reply]
Uda, jadi inget Papa saya yang suka ngajak nonton film di bioskop.. makanya mpe sekarang saya suka nonton kali yaa
[Reply]
lagu itu memang menyentuh banget. saya bersyukur orang tua saya tinggal di daerah, jadi dulu pukul 2 siang kami sudah bisa berkumpul lagi di rumah. bisa bercanda bareng, bisa makan siang bareng. senangnya. sampai skrg, hal itu masih teringat.
[Reply]
Yang tak perhatiin bukan lagunya, tapi posenya mas tuh loch
heheh natural banget
[Reply]
cerita ini mnegingatkan saya juga Uda, terimakasih.
Kadang saya kebablasan negblog, sampe anak tak cuekin nonton tv. Padahal cuma minta ditemenin.
Anyway, Rumah barunya cantik Uda.
[Reply]
Aku sepakat dengan caramu mengingatkan, Uda.
Dia memang terlampau egois dan kekanak-kanakan..
Tapi sebenarnya dari caranya memilih film pun kita sebenarnya sudah tahu betapa terlalu kekanak-kanakannya dia…
[Reply]
Menjadi orang tua yang baik memang tidak mudah. Kita tidak selalu bisa mendidik anak kita hanya dengan meniru cara orangtua kita dulu mendidik kita, kecuali kalau orangtua kita telah mendidik kita dengan baik. Apalagi zaman sudah berubah. Saya sering melihat cara orangtua mendidik anak yang keliru, tapi seringkali merasa tidak berhak untuk memberi tahu. Jadi dilematis ya?
[Reply]
Dah lama gak berkunjung kemari (soalnya gak pernah dikunjungi sih
)
Don’t take our children for granted.
Nice sharing Uda.
[Reply]
Aku kok jadi ikut nyolot ya sama sahabatmu Uda …
Maunya Berfikir Pragmatis dan Simple …
tapi agak kurang pas tempatnya …
Just Be There
Beside your family
Bahkan Tanpa melakukan apapun … anak istri kita pasti sudah senang alang kepalang …
Salam saya
[Reply]
Tadi pagi saat naik angkot ke kantor, ada seorang ibu-ibu usia menjelang 50 taun (setidaknya itu yang aku perkirakan) yang mendadak nangis saat melewati sebuah tempat. Saat aku tanya, ternyata dia melihat anaknya di situ… yang sudah 20 tahun tidak mau bertegur sapa dengan dirinya… padahal rumah mereka hanya berjarak tidak sampai seratus meter!
Saat itu aku bertanya, “Siapa yang salah? Kenapa sampai-sampai seorang Anak tidak mau menengok Ibunya bahkan tidak mau membalas teguran Ibunya? Apa yang dilakukan Ibunya saat itu? Atau, memang anaknya aja yang kurang ajar?”
Aku selalu percaya kalau seseorang akan menuai apa yang dia tabur. Tapi ketika melihat case tadi pagi, aku jadi kebingungan sendiri… ya, tentu saja karena aku juga nggak mau nanya-nanya hal yang terlalu pribadi.
Anyway, maksud komentarku yang ngelantur itu (hehe) adalah…
Bayangkan saja. Seorang Ibu yang mungkin sudah melakukan yang terbaik buat anaknya. Yang telah membesarkan anaknya dengan keringat, air mata, dan uang yang tak sedikit…. belasan tahun kemudian, malah tidak mau menerima kehadiran Ibunya.
Apalagi dengan seorang Ibu atau Ayah yang dari kecil sudah menciptakan trauma kepada anaknya? Ngeri aja ngebayanginnya…
Ya, seorang anak memang butuh kehadiran. Money is maybe important, but love and caring are far beyond important…
(huaaa.. panjang kali komentarkuuu… hihihihi)
[Reply]
kok commentku kemarin gak ada yahh
[Reply]
enak banget kalo gitu, wempi bisa dibilang gak pernah ditemani bapak apalagi nonton, wempi dari umur 2 tahun udah dibawa kakek dan nenek ke kampung, karena anak-anak nya pada merantau semua. wempi sebagai cucu pertama yang menemani mereka berdua di kampung, gak ada tv cuma bermain, sekolah dan ke sawah, hehehe…
sewaktu sakit selalu ngigau wempi, mo berpulang juga minta ditemani wempi… wah… jadi ingat nenek.
[Reply]
Betapa beruntungnya Iwan punya sahabat seperti Uda..
Betul, kadang kita nonton sambil terkantuk-kantuk, tapi kita harus ikut nonton agar jika anak-anak cerita kita bisa nyambung.
Hubungan antara ortu dan anak yang dekat sangat menyenangkan, dan suatu ketika, setelah anak besar, justru ortu banyak belajar dari anak (kayak posisiku saat ini)
[Reply]
Bagus da…ajarin tuh mas Iwan. biar dia ngak neglakuin di lain hari….siapa lagi kalo gak uda yang ngingatin dia….saya yakin mas iwan bisa berubah…
[Reply]
sahabat yang beruntung memiliki uda, dan memang semestinya seorang sahabat tidak hanya memuji tetapi mengingatkan ketika sahabatnya itu khilaf. Aku pernah dapat kata2 seperti ini uda “Jika kamu ingin mengenal sifat seorang lelaki maka lihatlah sahabat terdekatnya”
*entah bener atau tidak”
Beruntunglah diriku ya, ganguan apapun dalan keluarga besarku kasih sayang mama dan papa sangat cukup buat kami semua.
[Reply]
to love is to care.nothing else.
*masih terus berusaha jadi bapak yang baik,dan terus…dan terus…*
[Reply]
Maaf uda…
Baru mampir lagi….
Ah uda begitu baik, mau mengingatkan sahabatnya.
Semoga sahabat uda bisa mengambil hikmanya ya uda
and thank u sekali untuk artikel ini,
bisa jadi bahan pengingat….
[Reply]
na’udzu billah min iwan
[Reply]
Dunia emang begitu ya…
Ada aku yang pengen nonton film dengan anak2, eh nggak bisa. Akhirnya, dengan ponakan pun jadilah…
Ini si Iwan ada kesempatan nonton film dengan anak2 malah ditinggalin.
[Reply]
saya berkaca-kaca membaca tulisan ini, Uda…
terima kasih sudah mengingatkan…
salam kenal…
[Reply]