kata-kata


Warning: Illegal string offset 'single_featured_image' in /home/hardiviz/public_html/wp-content/themes/confidence/content-single.php on line 69

“Ini gw cowoknya, emangnya lo sape…???”

Sontak kalimat itu membuat jantungku berdegup kencang dan darahku nyaris memenuhi ubun-ubun. Kalimat itu muncul di akun facebook keponakanku. Tadi malam, pukul 22.30, aku iseng melihat daftar chatting, dan kulihat ternyata keponakanku sedang berstatus online. Spontan kusapa dia, dan ternyata yang keluar jawabannya adalah seperti itu.

“Saya Om-nya, kenapa akun keponakan saya bisa kamu yang buka?”
“Eh Om, maaf saya tidak tahu”
“Ya sudah, sekarang kamu segera logout dari akunnya, kamu tidak punya hak untuk membukanya, meskipun kamu pacarnya. Hormati privasi orang!”
“Iya Om, maaf…”

Sejenak akupun terdiam dan terpaku dalam pikiranku sendiri. Berbagai pertanyaan berkecamuk di otak. Di antara yang kupikirkan adalah bagaimana anak tersebut memproduksi kata-kata tanpa dia pikirkan terlebih dahulu. Kata-kata yang justru menjatuhkannya dalam masalah. Bisa saja aku bertindak jahat, kutelpon keponakanku dan kuceritakan kejadian tersebut. Dapat dibayangkan, hubungan mereka tentu akan berantakan.

Memproduksi kata-kata adalah persoalan yang gampang bagi kita. Tuhan menganugerahi kita kemampuan itu. Hanya saja, memproduksi kata-kata yang mengandung makna, kebijaksanaan, manfaat dan mendatangkan berkah bagi penuturnya maupun audiens adalah persoalan yang tidak mudah.

Berkata baik erat kaitannya dengan keimanan. Nabi Muhammad bersabda: “Tidak akan lurus iman seorang hamba sehingga lurus hatinya. Dan tidak akan lurus hatinya, sehingga lurus lisannya. Seseorang tidak akan masuk surga apabila tetangganya tidak merasa aman dari kejahatan lisannya” (HR. Imam Ahmad).

Di sisi lain, dalam al-Quran surat al-Baqarah ayat 263, disebutkan bahwa ucapan yang baik itu jauh lebih baik daripada sedekah yang diikuti dengan ucapan buruk. Artinya, menolak memberi sedekah kepada seseorang dengan kata-kata yang tidak menyinggung perasaanya, jauh lebih baik daripada memberi sedekah tapi mengiringinya dengan kata-kata yang melukai hati.

Orang bijak mengatakan bahwa kebaikan hati seseorang dapat dilihat dari caranya mengeluarkan kata-kata. Semakin baik kata-katanya, semakin jernih hatinya. Sebab, kata-kata adalah cerminan hati. Hati merasakan, lisan mengatakan.

So, sebagai makhluk yang tak luput dari salah, maka ijinkanlah aku memohon maaf atas kata-kataku yang mungkin pernah menyakiti hati sahabat semua… :D


Warning: Illegal string offset 'author_box' in /home/hardiviz/public_html/wp-content/themes/confidence/content-single.php on line 93

30 comments on “kata-kata

  1. wah, pastinya uda kaget dong dibegitukan. oleh “calon” keponakan pula, kalau allah berkenan.

    kata-kata memang tajam bak senjata. kata-kata yang baik dan menentramkan konon bisa membengkokkan pedang yang terhunus ya, uda?

    jadi saya pun mohon dimaafkan lahir batin bila pernah mengeluarkan kata-kata yang menyinggung. :D

    lagi mikir nih apa “diizinkan” jadi kamanakan atau tidak, hehehe… gak lah, itu kan urusan mereka, saya tidak punya otoritas… tapi, kalau mamak di minang, berkuasa kan uni…? hihihi… :D

    yaps… lidah bisa setajam pedang, selembut sutra, tergantung siapa yang empunya…

    kalau gitu, mari kita saling memaafkan… lho? emang ini lebaran? :D

  2. tulisan juga om…
    terkadang cara kita menyampaikan via tulisan berbeda dengan yang tertangkap oleh pembaca. akhir nya kesalahpahaman yang terjadi.

    benar sekali…
    saat ini, ekspresi hati tidak hanya berbentuk verbal, tapi juga tulisan.
    ketika sebuah tulisan dipublikasi, author tidak bisa mengendalikan interpretasi dari pembaca, maka perlu sedikit cek dan ricek sebelum sebuah tulisan dilempar ke tengah khalayak

  3. (tadi saya udah komen tapi kayaknya nggak sampe)…
    Anak-anak sekarang emang begitu, Uda. Jangankan akun facebook, handphone aja bisa dibawa pacar.. menyebalkan…

    Saya dulu pernah punya pengalaman naksir cewek orang, eh lha kok ketika aku nyoba telp yang angkat pacarnya :))

    Btw, sapaan spiritual Uda itu menurutku selalu lembut dan aku sangat suka kutipan-kutipannya meski aku bukan seorang muslim.

    terus terang Don, aku cukup ragu untuk menuliskan kutipan-kutipan itu. khawatir kalau-kalau sahabatku yang bukan muslim merasa kurang nyaman membaca blogku. tapi, dengan komentarmu ini, ditambah dengan obrolan dengan nechan imelda di chating, aku jadi merasa lega sekarang…

    semoga saja kutipan-kutipan itu bagi sahabatku yang muslim dapat menambah wawasan keislamannya, dan bagi sahabatku yang bukan muslim menambah wawasan pengetahuan.

    thanks Don… :D

  4. sama dengan komentar Mbak Imel, apalagi kalo lagi M…wew ria tiba2 berubah jadi pendiam…kekekekekeke

    diam adalah emas untuk keadaan tertentu loh uda :D

    emang ya, perempuan itu kalau lagi M, suka gak karuan emosinya. makanya, kalau lagi dalam kondisi itu, lebih baik banyak diam ya Ri, biar gak ngoceh gak karuan melulu, hehe… :D

    yups setuju, tidak selamanya diam itu emas…
    dalam keadaan tertentu, diam itu justru menjadi bumerang

  5. aduuh pasti kaget banget ya uda..

    makanya saya klo nulis suka ditambahin embel2 emoticon, biar yang baca ga salah paham..

    ya, sangat kaget. abis gak nyangka sama sekali…
    yups setuju dengan emoticon, itu bisa jadi penutup kalimat yang menyenangkan… :) ;) :D :lol:

  6. wah, apes tuh bocah…nggalakin ‘mamak’ pacarnya…hehehe :-D Untungnya Uda cukup sabar dan bijak menghadapinya, jadi ngga perlu ada keributan lebih lanjut. Dan untungnya juga, Uda membagi kisah ini di blog Surau Inyiak, sehingga bisa menjadi peringatan (lagi) buat kita-kita yang mungkin kadang suka lupa menjaga lisan dan tulisan.

    Btw, hati-hati kalo punya calon kamanakan protektif ngga karuan kek gitu *berbisik*

    sebetulnya, dia itu bukan lagi apes, tapi lagi diberi petunjuk oleh Tuhan… terkadang manusia perlu diberi “kejutan” dulu untuk kemudian mendapatkan sebuah pembelajaran dari Tuhan. semoga dengan kejadian ini dia mendapatkan kebajikan…

    ssstt… dia itu masih “rencana bakal calon kemenakan”… hehehe… :lol:

  7. Kata-kata juga tanda. Dan ini tanda-tanda apa ya? :)

    itu sih tanda tanya sama emiticion… ;)
    tapi, kalau one line comment, sepertinya itu adalah tanda-tanda…… hmmm….. apa ya? :D

  8. Uda,
    “mulutmu harimaumu”
    “fitnah lebih kejam dari pembunuhan”
    adalah ungkapan yang menyatakan bahwa memang mulut dan tutur kata (sekarang meluas dg email, sms, etc) bisa mendatangkan kesejukan hati, namun juga bisa membakar amarah, bisa menentramkan, tapi juga bisa mengadu domba

    so… smoga kita semua (terutama aku..) bisa menjaga tutur, tingkah-polah, dan pikiran, agar tidak melukai orang lain…

    termasuk juga sebuah email bisa memporak-porandakan sebuah rumah sakit internasional… masih ingatkan? hehehe… :D

  9. ah nyerah uda…
    udah 5 kali bikin comment disini gak bisa terus..
    gimana nih….

    Sorry beribu-ribu sorry Dhal… aku gak ngerti apa masalahnya. Sudah ku adukan pada yang “berwenang”, Ria. Semoga setelah ini tidak membuat dirimu jengkel lagi ya… Tapi, gak kapok kan komen di sini? ;)

  10. Hmm..
    Itulah realita yg ada mas..
    Pacaran anak sekarang..
    Kebanyakan, tidak semuanya lho mas.. ;)
    Memang sperti milikmu adalah milikku..
    Dan orang lain tidak boleh..
    Sekalipun hanya menyapa dgn ramah..
    Posesif itu dasarnya..
    ..
    Semoga ortu2 bisa semakin dekat dgn anak..
    Jgn hanya jadi ortu belaka..
    Tapi jadilah sahabat..
    Bukan begitu mas..
    Hehehe..
    Met knal ya mas.. :D

    Memprihatinkan memang, bila melihat cara berpacaran anak jaman sekarang. Jadi kudu hati-hati bagi ortu yang punya anak remaja…
    Setuju soal ortu yang harus dekat dengan anaknya, sehingga semua dapat terkontrol dengan baik…
    Salam kenal juga :D

  11. Om, jangan-jangan emang diperbolehkan sama ponakan masuk facebooknya.
    Sebel juga ya tu anak tau-tau nyemprot begitu.
    Kalau saya senengnya nasihatin anak-anak saya soal berkata yang baik itu ambil QS Ibrahim: 24-26

    ‘Apakah engkau melihat bagaimana Allah membuat perumpamaan perkataan yang baik seperti pohon yang baik, akarnya kokoh dan ranting-rantingnya menuju langit. Dan munculah dari rantingnya buah-buahan setiap musim atas izin Tuhannya. Dan Allah membuat perumpamaan agar manusia menjadi ingat. Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk yang telah dicabut dari permukaan bumi apa-apa yang ada padanya yaitu akar-akarnya.’

    Atau malah jangan-jangan si cowok itu sendiri yang bikinkan akun facebook keponakan saya itu ya? hehe…
    tapi, sungguhpun demikian, tetap saja salah, iya kan?

    Terima kasih atas tambahan kutipan al-Quran-nya… :D

  12. Uda, yang berisiko, sebagai tanda bahwa seseorang udah jadian (udah menerima kalau pacaran), maka pasword juga diberikan pada pacarnya…padahal akhirnya banyak terjadi hal yang tak diinginkan. Belum nantinya, kalau pacarannya putus dan lupa tak mengganti paswordnya. Makanya saya lebih suka meghormati privacy masing-masing, bahwa walau pacar, tunangan, suami isteri, selayaknya pasword digunakan sendiri, tak boleh diberikan pada orang lain.

    benar sekali Bu… ada ranah privasi yang harus tetap dijaga, meski kita sudah terikat sebuah hubungan, bahkan suami istri sekalipun…

  13. Kita nggak akan pernah tahu seberapa hebat kata-kata yang keluar dari mulut kita ya, Uda… *sampai sekarang masih belajar untuk berhati-hati dalam menulis serta berkata-kata…*

    Apa kabar, Uda?
    Lala mampir sini… :)

    Kata-kata yang dirimu lahirkan selama ini dahsyat kok La… aku sangat terinspirasi…

    Alhamdulillah baik La…
    Silahkan dilanjut ke terminal yang lain, (emang lagi jalan2 ya?), hehehe…. :D

  14. Setuju Uda …
    Hati-hati menggunakan kata-kata …

    Namun demikian persoalannya untuk case ini menurut saya adalah …
    Masuk ke account orang lain …
    Ini yang aku rada nggak ngerti …
    Kok bisa begitu ya …
    Mungkin maksudnya agar supaya “tidak ada dusta diantara mereka” ???
    Anak muda memang selalu aneh-aneh saja …

    Salam saya

    biar tidak ada dusta antara mereka? jiakakak… benar, benar sekali…
    jadi ingat lagu jadul itu… :D

  15. Yahhh anak muda sekarang begitu, baru aja pacar udah main kasih password segala. Nah kalo ada cowok yang seenaknya tidak menghormati privasi seseorang, berarti bukan pacar yang baik…

    yang susahnya, kalau pin atm juga ikutan diberikan…
    kalau ini mah artinya bukan tidak mengormati privasi, tapi sudah kemaruk, hehehe… :D

  16. RIAAAAAAA….
    tolong diberesin segeraaaaa…
    jangan sampai silaturahmi yang terjalin ini rusak gara2 sistem

    *lanjut makan pisang goreng’nya uda*

    waduh, kasian si ria…
    udah beres kok, ini buktinya, komenmu sudah langsung masuk.

    *goreng pisang lagi, udah dihabisin afdhal soalnya*

  17. Uda..
    ponakan uda emang usianya berapa?
    Apa masih ABG da?
    Koq gitu bgt jawabnya….

    Mohon dimaafkan juga ya da.. kalo entah kapan mungkin khilaf kata ;)

    Ka…
    mereka memang masih abege sangat, kelas 3 sma…
    bisa dimaklumi bukan?
    apalagi anak abege jaman sekarang, bahasanya udah aneh dan mulai menjauh dari budaya timur, ditambah lagi dengan aksen yang dibuat-buat ala cincah lawrah… ;)

    Sama-sama Ka, mohon dimaafkan juga bila ada kata-kata yang salah… :D

  18. Itu karena perasaan memiliki yang berlebihan…memiliki seseorang bukan berarti semua privacynya dimiliki…saya udah merasakan itu juga mas…tapi dah selesai dengan keputusan yang berat untuk diambil…

    Pasti pengalaman yang sangat berharga itu ya Mas Helmi…
    Saya yakin, itu adalah keputusan terhebat yang pernah diambil :D

  19. Ass Uda, knok…knok…
    Mampir sebentar Uda….

    Mau ngasiy komen soal diatas
    berbagi akun dengan pasangan salah satunya adalah untuk meningkatkan rasa saling percaya….
    dan memang masiy tetap dalam koridor batasan yang jelas dan komitmen yang kuat tentang hal-hal mana saja yang bisa dilakukan dan mana yang tidak.. menyangkut privasi pasangan
    Dan disini pengendalian emosi harus sangat berperan
    dan usia2 SMA tentu susah untuk mengendalikan karena usia yang belum matang

    Wah Uda…”calon keponakan” Uda pasti juga sangat kaget malam itu…
    Semoga itu bisa jadi pembelajaran buat dia untuk berpikir jauh kedepan untuk menyelesaikan suatu masalah

    Wah….kok jadi kangen ngeblok jalan kesini….

    Wa’alaikumussalam… *buka pintu*
    mari masuk… kok sebentar? lama aja gak apa-apa, nginep juga boleh, hehehe… :D

    Soal privasi, masing-masing pasangan punya komitmennya sendiri-sendiri. Hanya, yang perlu digarisbawahi bahwa seterbuka apapun sebuah hubungan, tetap harus ada sisi pribadi yang dijaga dan dihargai.

    Emang kaget banget sih dia…
    Semoga jadi pembelajaran yang baik baginya..

    Iya nih, kangen juga baca tulisan Mbak Noenki di blog.. :D

  20. Uda, lapooor … saya berkali-kali nulis komen kok gak bisa masuk ya? Padahal nulisnya udah panjang-panjang … :(
    Ini uji coba lagi, bisa masuk nggak

    waduh… kena lagi… maaf ya bu tuti…
    *menatap dengan sendu kepada Ria*

  21. Alhamdulillah … ternyata sudah bisa masuk :D
    (waduh, malah jadi lupa, mau komen apa … :( )

    Memang betul Uda, kata-kata yang kita ucapkan tidak bisa ditarik kembali, maka kita harus hati-hati ketika berbicara ataupun menuliskan kalimat. Meskipun kita bisa minta maaf untuk kata-kata buruk yang terlanjur kita ucapkan, tetapi ingatan orang tidak mudah dihapus begitu saja dari mendengar atau membaca kata-kata itu.

    Saya minta maaf ya Da, kalau ada kata-kata buruk yang muncul dalam tulisan saya di blog, atau dalam menjawab komentar, atau dalam menulis komentar di blog Uda. Maksudnya bercanda, tapi siapa tahu tidak pas …

    Urusan kita adalah meminta maaf atas kekhilafan, perkara memaafkan, itu tergantung keluasan hati sang empunya…

    Gak perlu minta maaf tho Bu, lha wong kata-kata Ibu selalu menyejukan hati jhe, hehehe… :D

  22. waduuuh, disangka saingan tuh Da, ampe keluar “emang lo sape?”, hehehe.. ABG banget deh.
    Baiknya sih dikasih tau aja ke ponakan Uda. Ya gak maksud marah2 juga, kan ngasi taunya baik2 (Uda Vizon gtu lho..), bisi keulang ke orang lain. Biar si mbak sadar bahaya juga. Abisnya (menurut saya), amanahnya belum dijaga baik2 tuh..

  23. Sebagai ‘Penganyam Kata’, ehm, aku pun tak luput dari khilaf. Meski aku selalu menggunakan nama asli dalam menulis, tidak menggunakan nama pena atau alias, kutujukan agar aku tetap bertanggung jawab terhadap apa yang kutulis, dengan namaku sendiri.

    Tak kurang tulisan ini pun membuatku untuk terus berusaha introspeksi atas apa yang kuanyam. Namanya manusia, kadang tanpa terniatkan luput khilaf membuat orang tersinggung.

    Soal membuka password dari akun orang-orang terdekat kita, aku kurang begitu sreg. Karena aku pun tak suka jika akunku bisa dibuka oleh orang lain. Intinya soal kepercayaan aja. Tapi ironisnya, kok aku selalu tau caranya mbuka akun siapa pun yang kuinginkan ya… Hiks. Sedih. (Hahahaha. Sok sedih :p Becanda, Da :D )

    Tapi yang kulihat dari kejadian di atas bukan soal bisa membuka akun pacar sih, tapi dari cara dia bersapa. Soal dia bisa buka akun, oke lah, mungkin keponakanmu memang ada kesepakatan di sana, tapi ketika kau sapa jawabannya seperti itu, dia sudah sungguh tak sopan, kasar, dan menunjukkan kualitas tabiat aslinya. Minta dikepret tuh orang. Sini kukepret. Kasih tau saja di mana alamatnya, Da. Hihihi… :p *sok preman* :D

  24. halo Uda, saya mampir lagi..
    weh, saya kaget dan gregetan juga membaca bagian awal..kok segitunya sih?

    saya dan suami sama-sama nggak pernah saling membuka SMS atau mengutak-atik HP pasangan. seringnya, saya minjem HP-nya utk telp karena pulsa saya abis…hihi…matree…

    Membuka akun pasangan juga nggak pernah tanpa seijin saya atau dia. kami sama-sama tau password masing2 lho…secara, kami kadang menggunakan laptop yang sama, membuka ato update status bersama, dan mengetikkan ID untuk pasangan saat gantian on line…tetap saja, kami mempersilakan pasangan utk mengetik sendiri passwordnya…

    syukurlah, sampai sekarang msh terus menhormati privasi masing2..

    salam,
    nana

  25. aji sebagai keponakan oom, juga merasa kaget kalau diperlakukan seperti itu, lain kali tanya dulu jangan langsung marah-marah….

  26. Assalamu’alaikum

    Dengan koneksi yang sangat terbatas sehingga membuat tampilan blog uda tidak maksimal, akhirnya ane bisa meninggalkan jejak di blog Uda yang baru.. Da terima kasih atas jawaban uda yang kemarin.

    Membaca kalimat seperti itu, ga tau mau bilang apaan jadinya.

    Btw ponakan uda dima da? Masih sekolah atau alah kuliah??
    Ambo sangaik ibo hati kalo “anak” yang menggunakan akun facebook ponakan uda, urang sakampuang jo awak..

    Maaf kalo ado kato yang salah.. Semoga 4JJI memberikan kekuatan untuak mambimbiang generasi mudo da (termasuk ambo da)..

    Wassalam

Komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jawab dulu ya pertanyaan di bawah ini sebelum kirim komentar, biar tidak dianggap spam.. :) *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>