kematian


Warning: Illegal string offset 'single_featured_image' in /home/hardiviz/public_html/wp-content/themes/confidence/content-single.php on line 69

Beberapa hari belakangan ini, kita dihadapkan dengan berita kematian yang beruntun. Pertama, kematian 9 orang tak berdosa akibat teror bom di Hotel Ritz Carlton-JW Marriot pada tanggal 17 Juli 2009, kedua, kematian 15 penumpang pesawat Merpati jenis Twin Otter yang hilang di Papua pada 2 Agustus 2009, ketiga, wafatnya Mbah Surip pada 4 Agustus 2009 dan keempat, wafatnya sastrawan besar Indonesia WS Rendra, 6 Agustus 2009.

Bila diperhatikan, keempat kejadian ini menunjukkan empat pola/model kematian manusia.

Pertama, terbunuh. Korban bom Rtiz-Marriot adalah orang-orang tidak bersalah yang harus menemui ajal mereka karena perbuatan orang lain. Kejadian ini biasanya menyulut emosi yang luar biasa; sedih terhadap para korban dan marah terhadap pelakunya.

Kedua, musibah/bencana. Kejadian yang menimpa para penumpang dan awak pesawat Merpati di atas adalah sebuah bencana yang menyebabkan hilangnya nyawa mereka. Peristiwa yang sama juga bisa terjadi karena faktor alam lainnya, seperti banjir, gempa, dll. Emosi yang ditimbulkan dengan kejadian ini lebih didominasi oleh kesedihan dan sedikit kemarahan terhadap penyebabnya.

Ketiga, tidak terduga. Wafatnya Mbah Surip sangat mengejutkan. Baru saja beliau dielu-elukan dan meraih ketenaran, tapi secara mengejutkan semuanya sirna, karena ajal yang datang menjemput tanpa pernah disangka. Semua orang terhenyak dan larut dalam emosi kesedihan yang luar biasa.

Keempat, usia/kesehatan. Meski cukup membuat sebagian besar orang merasa sedih akan kematiannya, namun karena secara manusiawi WS Rendra sudah cukup tua dan sakit yang lumayan lama, membuat kematiannya dianggap sebagai sebuah kewajaran.

Salah satu dari keempat pola di atas, suatu saat pasti akan menemui kita. Mau tidak mau, kita pasti akan dijemput. Persoalannya adalah, apakah kita sudah siap dijemput kapan saja?

Menurut Quraish Shihab, secara umum dapat dikatakan bahwa pembicaraan tentang kematian bukan sesuatu yang menyenangkan. Namun manusia bahkan ingin hidup seribu tahun lagi. Ini, tentu saja bukan hanya ucapan Chairil Anwar, tetapi Al-Quran pun melukiskan keinginan sekelompok manusia untuk hidup selama itu (baca surat Al-Baqarah [2]: 96). Iblis berhasil merayu Adam dan Hawa melalui “pintu” keinginan untuk hidup kekal selama-lamanya: “Maukah engkau kutunjukkan pohon kekekalan (hidup) dan kekuasaan yang tidak akan lapuk? (QS Thaha [20]: 120).

Banyak faktor yang membuat seseorang enggan mati. Ada orang yang enggan mati karena ia tidak mengetahui apa yang akan dihadapinya setelah kematian; mungkin juga karena menduga bahwa yang dimiliki sekarang lebih baik dari yang akan didapati nanti. Atau mungkin juga karena membayangkan betapa sulit dan pedih pengalaman mati dan sesudah mati. Atau mungkin karena khawatir memikirkan dan prihatin terhadap keluarga yang ditinggalkan, atau karena tidak mengetahui makna hidup dan mati, dan lain sebagainya, sehingga semuanya merasa cemas dan takut menghadapi kematian.

Agama, khususnya agama-agama samawi, mengajarkan bahwa ada kehidupan sesudah kematian. Kematian adalah awal dari satu perjalanan panjang dalam evolusi manusia, di mana selanjutnya ia akan memperoleh kehidupan dengan segala macam kenikmatan atau berbagai ragam siksa dan kenistaan.

Kematian dalam agama-agama samawi mempunyai peranan yang sangat besar dalam memantapkan akidah serta menumbuhkembangkan semangat pengabdian. Tanpa kematian, manusia tidak akan berpikir tentang apa sesudah mati, dan tidak akan mempersiapkan diri menghadapinya. Karena itu, agama-agama menganjurkan manusia untuk berpikir tentang kematian. Nabi Muhammad, misalnya bersabda, “Perbanyaklah mengingat pemutus segala kenikmatan duniawi (kematian).”

Dapat dikatakan bahwa inti ajakan para Nabi dan Rasul setelah kewajiban percaya kepada Tuhan, adalah kewajiban percaya akan adanya hidup setelah kematian.

Oleh karenanya, mengapa kita harus takut menghadapi kematian? Bukankah itu sebuah kepastian yang akan kita hadapi? Barangkali yang perlu kita khawatirkan adalah apakah kita sudah punya bekal yang cukup ketika ia menjemput kita, kapanpun?

Mari kita renungkan…. :)


Warning: Illegal string offset 'author_box' in /home/hardiviz/public_html/wp-content/themes/confidence/content-single.php on line 93

22 comments on “kematian

  1. Bagi sebagian orang, kematian barangkali merupakan sesuatu yang enggan untuk dibicarakan. Orang cenderung emoh menguak soal kematian terutama yang menyangkut dirinya sendiri.

    Namun, bagi orang yang kerap kali bertemu dengan kejadian-kejadian yang berhubungan dengan kematian, bisa jadi kematian merupakan hal yang biasa. Bahkan menyadari betul makna bahwa ‘semua yang hidup bakal mati’ adalah sesuatu yang tidak mengerikan.

    Kalau bukan soal amal serta merasa belum berbuat apa-apa, aku tak takut mati. Kematian bagiku seperti halnya tertawa, tersenyum, atau menyapa. Ia bisa tiba-tiba mengetuk pintu kalbuku dan membawa serta nyawaku kapan saja.

    Dalam setiap ranah pemikiran, gagasan terbagi ke dalam tiga wilayah:
    yang terpikirkan (the thought),
    yang tak terpikirkan (the unthought),
    yang tak boleh dipikirkan (the unthinkable).
    Tema ‘kematian’ barangkali termasuk dalam wilayah ‘yang tak terpikirkan’, sehingga tugas kita menjadikannya sesuatu yang ‘terpikirkan’, dengan maksud agar ia bisa menjadi sesuatu yang menggetarkan jiwa… :D

  2. Uda, seperti status FB Yessy pagi ini..

    Kematian telah ditentukan waktunya, tidak dapat ditunda atau dipercepat…

    Kematian adalah sesuatu yang pasti, suka tidak suka, mau tidak mau…ketika sudah tiba waktu dan gilirannya. Kita harus datang menghadapNya…

    Yang Entah kapan itu, tanpa kita tau apakah kita sudah siap atau tidak…..

    Pagi Uda…

    Benar Yess… tugas kita adalah untuk selalu siap menghadapinya, kapanpun itu terjadi… :D
    Pagi juga Yess…

  3. Ada satu lagi pola kematian Uda: Bunuh Diri :-(
    Ini merupakan salah satu cara kematian yang unik karena ada yang menganggapnya hina (karena lari dari beban hidup), ada yang menganggapnya keniscayaan (karena gagal mengemban amanah, mis: harakiri di Jepang), ada yang menganggapnya jihad (yang ini tergantung konteks-nya walopun sering salah dimanfaatkan oleh gerombolannya Noordin M Top…)

    Aniway,kalau bisa memilih saya ingin meninggal dengan cara yang keempat, Uda… asal ngga tua-tua amat dan ngerepotin anak cucu lah…

    Nice post Uda..sebagai renungan menjelang Jumata, hehehe

    Ya, bunuh diri bisa menjadi baik dan juga buruk, tergantung dari persfektif apa kita memandangnya. Tapi, tetap saja, secara logika, tindakan seperti itu tidak pernah bisa diterima; apapun alasannya…

    Semua orang pastilah menginginkan cara yang wajar, tapi, apakah kita bisa memilih? :D

  4. title blognya blon di set, di google reader wempi tertulis title unknown ternyata ke blog uda lagi ngomongin soal kematian.

    ada pertanyaan di kepala wempi, katanya ‘yessi’ kematian tidak bisa ditunda dan dipercepat tapi ‘anderson’ ada kematian karena bunuh diri, berarti bisa dipercepat dong kalo diizinkan Allah SWT.

    bener gak?

    terima kasih wempi sudah diingatkan soal title itu, nanti coba diperbaiki lagi… :D

    bunuh diri juga termasuk cara kematian. itu adalah bentuk pilihan kita. Tuhan bisa saja tidak mencabut nyawa kita, meski sudah minum racun bergalon-galon, tapi karena Dia Maha Penyayang kepada manusia, maka Dia izinkan itu terjadi, karena akal manusia tidak bisa menerima manusia yang tidak mati karena minum racun…

  5. Serem juga ya kalau ngeliat runtutan seperti itu tapi tadi pagi waktu mandi aku berpikir, sebenernya bisa jadi media turut membesarkan kejadian demi kejadian. Maksudku, kalau mau jujur, ndak usah liat infotaintment atau tv, bukalah koran Kedaulatan Rakyat tiap hari, di kolom iklan dukacita, hampir tiap hari selaluu saja ada yang meninggal :)

    memang setiap hari pasti ada yang meninggal don, itu sebuah kewajaran saja…
    hanya peristiwa2 yang menasional ini kan terjadinya tidak setiap saat, jadi perlu diwartakan kepada khalayak. urusan kita sekarang adalah, bagaimana mengambil ibarat dari kejadian yang menasional ini… :D

  6. yup setiap hari ada saja yang meninggal
    tapi
    mereka orang biasa don….
    yang dilirik orang kan orang yang luar biasa

    kalau aku matipun ….tidak akan dilirik beritanya
    biasa saja.

    duh… ini komen ditulis di “replay” ke DV ya…? kok gak bisa ya? *segera memanggil Ria* ;)

    tenang nechan… dunia blog akan melirik berita soal dirimu, bila itu benar-benar terjadi… :D

  7. Uda… waktu aku kecil (13 tahun) dan waktu aku melahirkan aku menghadapi maut. dia sangat dekat….

    waktu kecil aku pasrah, karena aku belum tahu apa-apa. waktu melahirkan…aku berpikir…siapa yang akan merawat riku dan calon bayiku. Dan karena waktu cuma sedikit, aku hanya sempat menuliskan pesan singkat di balik kertas pada Gen, paling tidak sebagai kenangan seandainya aku mati.
    Tapi untung saja saat itu aku tidak panik, dan berusaha berkonsentrasi dengan berdoa.

    Kalau bisa, aku ingin mati tanpa tahu apa-apa, tanpa sempat berpikir apa-apa. Tapi…aku tidak takut mati, dan semoga begitu terus.

    EM

    Nechan… dalam Islam, seorang Ibu yang meninggal karena melahirkan dijamin masuk surga, karena begitu mulianya tugas itu…

    Ya, kita tidak boleh takut mati, karena ia pasti datang… :D

  8. jadikan ini sebagai PENGINGAT…
    siapapun, kapanpun, dalam keadaan apapun harus siap bertemu dengan Kematian..
    tinggal apa yang kita persiapkan untuk bertemu kematian sudah cukup??

    *ceilah bosoku rodo agamis iki*

    setuju om…. :D
    bahasamu agamis terus kok Dhal… lha wong setiap hari dirimu kan bawa-bawa Alquran kecil di tas, heheh… ;)

  9. Saya sering kali berfikir, jika suatu saat mati, apakah nanti akan ada kehidupan setelah kematian tersebut, kalau ada berapa lama kita harus menunggu, ataukah kita langsung hidup lagi dalam versi yang berbeda di bagian dunia yang lain ?

    Kematian sesuatu yang pasti dan masih misteri, bagaimana dia dan kapan dia akan menjemputnya tidak ada yang tahu. Yang harus kita lakukan adalah bagaimana membuat diri siap untuk menghadapinya…

    Jika saya mati, saya ingin dikenang orang dengan yangbaik-baik saja, dan yang terpenting gak ninggalin hutang…

    Kapan kita mati ?

    Soal kehidupan setelah mati; seperti apa dan berapa lama, kita tidak pernah tahu, karena belum pernah ada yang pergi kesana dan kembali lagi kedunia untuk menceritakannya… hehehe… :D

    Urusan kita adalah membekali diri dengan sebanyak kebaikan, agar ketika saatnya tiba, kita punya bekal yang cukup.
    Kata para tetua kita dulu: “Harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama“. :D

  10. salam kenal, Uda…
    ini kali pertama saya berkunjung kesini, dan disuguhi tulisan tentang kematian..

    Saya jadi berpikir tentang Mbah Surip yang konon mendapat royalti 4.6M..duuhhh…kok menurut saya, segitulah “harga untuk nyawanya” *maaf ya Mbah..*
    buntutnya…royalti itu yang kini diperebutkan keluarganya.

    kaya atau miskin……
    jutawan atau gembel…
    dolar atau rupiah miliknya….
    rumah atau gubug
    mobil atau becak
    takkan pernah di bawa ke liang kubur…

    lahir tanpa membawa apa-apa, mati pun tak usah bawa apa-apa.
    tapi sayang, yang masih hiduplah yang ribut soal harta…

    salam,
    nana

    Salam kenal juga Nana…
    Maafkan jika kunjungan pertamanya sudah ketemu yang rada “horor”, hehe… :D
    Urusan dunia bagi yang mati, sudah selesai…
    Saatnya “ujian” bagi yang ditinggal; tetap mewarisi jasanya atau sekedar mewarisi harta benda, semua tergantung bagaimana cara pandang mereka terhadap kehidupan itu sendiri…

    Tenkyu ya sudah mampir, sering-sering ya…. :D

  11. ya, semua sudah punya kaplingnya di dunia ini ya, da.
    dan contoh-contoh kematian di atas masih ditambah satu jenis lagi, yakni mati bunuh diri yang dialami oleh para pelaku bom jakarta.

    kematian memang bukan untuk ditakuti, karena ia pasti akan datang, entah kapan. tapi sebagai manusia yang masih jauh dari kesempurnaan iman dan amal, sudah pasti saya sangat takut membayangkan bila waktu saya tiba. :(

  12. Uda, saya percaya kehidupan setelah kematian.
    Benar kata uda, itu suatu kepastian walaupun kita tak tahu kapan itu akan datang.
    jadi sebaik2nya, mari kita terus mawas diri untuk senantiasa didapati setia ketika malaikat maut menjemput..

    thank u udh mengingatkan ya uda…

  13. Ah, jujur saya takut, Uda. Takut sakit dan takut amal masih jauh dari cukup. Tapi kematian memang sebuah keniscayaan, mau ga mau harus ikhlas menghadapinya. Memang hanya kepada-Nya lah kita kembali..
    Semoga kita selalu dituntun untuk berada di dalam jalan-Nya, sehingga bisa menghadapi saat itu dan setelahnya dengan baik. Aminn..

  14. ada lagi satu yang terbaru Uda, kematian “noordin m top?”, masuk klasifikasi apa kira-kira, terbunuh / dibunuh?
    saya harus belajar banyak tentang makna hidup dan mati Uda.
    Terimakasih telah berbagi. menjadi bahan perenungan menjelang rutinitas kerja besok pagi

  15. Uda…
    Makin mantap nih blognya calon doktor..
    Kalau semua orang tahu jadual yang pasti,kapan dia akan mati…kira kira apa yang akan dilakukan oleh mereka ya uda ?
    Kok Bunda sering merasa polah tingkah mereka,lupa kalau nanti sebentar lagi atau kapan akan mati.

  16. kenapa mesti takut mati ya? :D *mungkin mereka banyak dosa tuh da’*
    klo aku sih pengennya…
    muda senang2, tua kaya raya, dan mati masuk surga ^_^

  17. iya, kematian itu adalah sesuaut yang pasti akan di temui
    kita nggak pernah tau, kapan dia datang. jadi, harus dipersiapkan mulai saat ini, sekarang juga…

    selamat pagi om ^_^

  18. yang saya takutkan dari kematian sampai saat ini baru 2, da:
    pertama takut “kehilangan” ayah ibu.
    yang kedua takut dengan keabadiannya.

  19. Kita semua tahu bahwa kita suatu ketika akan meninggalkan dunia fana ini. Namun kita tak tahu kapan dan dengan cara apa.
    Selagi masih diberi kesempatan, semoga kita berbuat amal kebaikan, dan membuat dunia yang kita tinggali ini dalam kedamaian.

  20. Mengapa kita takut mati? Jawaban saya mirip Narpen : takut bahwa kematian itu datang disertai rasa sakit yang hebat, dan takut menghadap Tuhan karena merasa amalan kita belum cukup.
    Tetapi merasa takut saja, tanpa kemudian memperbanyak amal, tanpa hidup sesuai jalan Allah, tidak ada artinya.

    Kita memang aneh. Kita percaya bahwa kematian pasti akan tiba, dan kita yang beragama percaya bahwa ada hidup sesudah mati, tetapi mengapa kita masih saja sering tergoda untuk melakukan hal-hal yang akan menjadi beban bagi hidup kita di akhirat kelak?

Komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jawab dulu ya pertanyaan di bawah ini sebelum kirim komentar, biar tidak dianggap spam.. :) *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>