tirakatan; merenungi kemerdekaan

logo-hut-ri-64Semenjak tinggal di Jogja, aku baru mengenal sebuah kegiatan unik dalam memperingati hari Kemerdekaan Indonesia, yaitu tirakatan. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 16 Agustus malam. Dalam acara tersebut, dilakukan beberapa kegiatan seperti pembacaan sambutan dari Gubernur DIY, tahlilan dan doa bersama. Yang agak spesial yang diadakan di kampung Kweni tadi malam adalah pembacaan mocopat.

Mocopat merupakan seni pembacaan syair yang ditembangkan tanpa diiringi oleh instrumen musik, menggunakan bahasa Jawa dan biasanya bercerita tentang sejarah dan kejayaan kerajaan di Jawa. Dalam kesempatan tirakatan kali ini, syair yang dibacakan sudah dimodifikasi sedemikian rupa dan disesuaikan dengan kegiatan peringatan hari Kemerdekaan Indonesia ke 64 ini. Di kampung Kweni, ada sekelompok para sepuh yang saban Kamis malam berkumpul di suatu tempat untuk latihan dan mengasah kemampuan mocopat mereka. Kesenian ini sudah cukup langka. Kawula muda hampir tidak ada yang mampu. Barangkali mereka menganggap, kesenian ini sama sekali tidak modern dan membuat penembangnya menjadi terlihat kuno. Sungguh disayangkan memang, tapi itulah kenyataannya… Aku sangat menikmati suguhan ini, meski tidak paham sama sekali apa yang dibaca.

Di kampung asalku, Sumatera Barat maupun Riau, sama sekali belum pernah kutemukan kegiatan tirakatan ini. Kalau renungan pada malam 17 Agustus memang ada yang melakukan. Tapi, itu hanya dilakukan oleh sebagian kelompok kecil. Sementara, di Jogja, kegiatan tirakatan ini adalah kegiatan yang dilakukan oleh seluruh kampung se-DIY. Sebuah kegiatan yang menurutku patut ditiru oleh seluruh kampung di Indonesia.

Lantas, apa sebenarnya tirakatan itu? Menurut antropolog PM Laksono seperti yang dikutip Agung Setyahadi, tirakatan merupakan gerakan kolektif di dalam masyarakat untuk menemukan jawaban atas kehidupan yang membingungkan. Tirakatan dilakukan dalam suasana tenang untuk melepaskan diri dari hiruk pikuk duniawi. Tirakat merupakan laku prihatin dan mulai menjalankan hati nurani untuk menjawab masalah hidup.

Tirakatan kemudian diadopsi pada perayaan 17 Agustus dan merupakan sebuah eksperimen sosial untuk mengapresiasi serta memahami apa itu kemerdekaan dan apa itu Indonesia. Bagi sebagian besar orang, kemerdekaan masih membingungkan karena Indonesia bukan proyek yang telah selesai. Kondisi pascakemerdekaan sangat sulit dipahami karena negara Indonesia merupakan dunia yang sama sekali baru. Dalam pemahaman masyarakat, merdeka adalah kemampuan untuk menentukan sendiri masa depan dan eksistensinya. Kenyataannya, selalu ada yang dikalahkan oleh struktur dan itu menyakitkan banyak orang.

Antropolog Lono Lastoro Simatupang memandang tirakatan bagi orang Jawa adalah sarana untuk mengingat peristiwa-peristiwa khusus. Dalam konteks 17 Agustus, tirakatan adalah usaha masyarakat memaknai keindonesiaan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Tujuan reflektif dalam tirakatan menjadi tidak tercapai kalau hanya digunakan untuk ajang hura-hura.

Tirakatan kemerdekaan, lanjut Lono, merupakan tradisi unik yang khas ditemui di Jawa dan Bali. Tradisi ini tidak ada kaitannya dengan suatu paham religiusitas tertentu karena diikuti oleh warga berbagai agama dan penganut kepercayaan apa pun. Dalam pengertian politik lokal, dia berpeluang untuk memberi positioning memasukkan negara dalam kehidupan atau komunitas yang lebih akrab. Ini sangat positif.

Di antara sambutan Sultan Hamengku Buwono X yang dibacakan Pak RT tadi malam, ada sebuah kalimat yang cukup menarik; “Dalam falsafah budaya Jawa sendiri, tirakatan sama halnya seperti menunaikan tugas dan fungsi sosial, melalui adeping tekad (tekad kuat), cloroting batin (batin yang bersih dan bercahaya), sura dira jayaningrat, lebur dening pangastuti (bersatu dan bekerja sama), sebagai laku yang ditempuh menuju pangajab sih kawilujengan langgeng (untuk keselamatan)”.

Aku setuju dengan pendapat Sultan ini, bahwa tujuan utama kita bernegara adalah untuk meraih keselamatan hidup. Dan itu semua hanya bisa dicapai dengan tekad yang kuat, batin yang bersih dan bercahaya serta dilakukan secara bersama-sama dalam sebuah kesatuan, kesatuan yang sesungguhnya, bukan kesatuan semu.

Semoga, melalui peringatan Kemerdekaan Indonesia yang ke 64 kali ini, semua perangkat bangsa ini dapat duduk sejenak, bertirakat, merenungkan apa yang terbaik yang dapat diberikan untuk bangsa ini, bukan menyusun strategi untuk mencari apa yang bisa diambil dari bangsa ini…

Dirgahayu Kemerdekaan Indonesiaku…
Aku selalu bangga menjadi Indonesia… :D

21 comments on “tirakatan; merenungi kemerdekaan

  1. setuju Uda, arti kemerdekaan perlu setiap kali kita renungkan kembali, supaya kita tidak salah arah.
    merefleksikan kembali apa yang telah, sedang, dan akan kita lakukan. apakah sudah selaras dengan kemerdekaan ini
    setelah itu kita perlu juga melihat apa yang harus di-stop, di-continue, dan di-start to do-nya

    MERDEKA!!

    Yups… kemerdekaan tidak berarti lepas kendali. kemerdekaan kita selalu terikat dengan kemerdekaan orang lain… :D

    MERDEKA JUGA!!

  2. mantap mas..salam kenal..tirakat, sebuah kata yang sangat sederhana tetapi mempunyai makna dan kesaktian tersendiri. tirakat merupakan implementasi rasa prihatin dan kesederhanaan..sebuah bukti syukur atas nikmat Tuhan yang telah diberikan..Tulisannya keren mas..oke..sukses and salam kenal dari saya

    adi dzikrulloh

    terima kasih mas adi… semoga kita semakin dapat memaknai setiap laku kehidupan dengan lebih baik…
    salam kenal juga :D

  3. Duh, tirakatan!
    Aku rindu tirakatan di malam 17-an.
    Tahun lalu aku masih ikut tirakatan di belakang rumah, memutar video-video perjuangan hingga lewat tengah malam.

    Merdeka, Uda!
    Aku akan mencoba memaknai kemerdekaan RI dengan menunjukkan bahwa (semoga) aku yang orang Indonesia pun bisa bercokol di tanah baru ini!

    oya, kemarin itu kami juga memutar video Panglima Sudirman… lumayan menggugah emosi nasionalisme kita… :D
    Merdeka juga Don!
    Aku yakin, kamu pasti bisa menunjukkan keindonesiaanmu! :D

  4. Wah, filosofinya ternyata tidak sederhana :)
    Sepertinya, model tirakatan seperti di Jogja ini, layak dimasyarakatkan ke seluruh indonesia, terutama untuk membangun semagat kerukunan dan keguyuban yang semakin menipis, terutama dikalangan kota. Sip Uda artikelnya :)

    ya… semoga bila saya pulang nanti, bisa memulainya dari kampung kecil saya
    tenkyu denmas… :D

  5. Betul Uda…tapi jangan sampai Tirakatan diartikan yang sebenarnya…berdiam diri merenung
    Sambutan Sultan HB X ,bagus…saat ini ,terutama dikota Jogja,masyarakat pun sudah cerdas dengan memperingati kemerdekaan menjadi sebuah tekad membangun bersama,,berkarya terus untuk Jogja.

    benar bunda… tirakatan yang kita ambil adalah spiritnya, bukan dalam arti yang sebenarnya…
    semoga Jogja semakin baik ke depannya ya Bun, dan warganya semakin lebih cerdas serta kreatif, hidup Jogja! lho…? ;)

  6. acaranya super seru deh kayaknya *jadi kangen tanah solo dan sekitarnya*…

    bener om, saya sangat amat setuju dengan ungkapan yang menyatakan “bernegara itu untuk keselamatan hidup”, sungguh makna yang sangat dalam sekali.

    oh ya, kalo acara tanggal 16 gitu ada lagunya om
    “16 Agustus tahun 45, besokanya hari kemerdekaan kita, hari merdeka nusa dan bangsa, hari lahirnya bangsa indonesia” MERDEKA!!!

    jadi, njenengan wong solo tho mas…? hehehe… :D

    salah satu keselamatan hidup itu adalah dengan memanfaatkan waktu lowong dengan sebaik-baiknya, seperti nulis puisi… gitu kan zul? :p

    ouw… ada juga ya lagu 16 agustus? baru tau neh… :)

  7. Merdeka Uda!!!
    Hayoh…dimasyarakatkan tirakatan di kampung halaman. Itung-itung pemberdayaan seniman saluang di Rakngkiang :-D
    Kemaren Uda ikut upacara bendera ngga di kampus?

    Merdeka juga Son…!!!
    Kayaknya bagus juga ya, tirakatan dengan saluang, ya ya… ide yang bagus… :D
    Kemarin aku upacara bendera di sekolah anak (baca: nganter), hehe…

  8. SO …
    Tirakatan itu bisa disebut juga sebagai proses evaluasi dan perencanaan kedepan ndak ya ?

    hhmmm …

    bisa juga sih kayaknya pak…
    hmmmm….

  9. Wah,
    aku malah baru tahu definisinya yang benar-benar dari tulisan ini, Uda.. hehehe…

    Makasih buat infonya, ya..

    MERDEKA!

    terima kasih kembali Lala…
    MERDEKA!

  10. memang bagus, kegiatan tujuhbelasan diisi dengan kegiatan positif nan membangun… selamat puasa juga da vizon…..

    akan bertambah bagus lagi bila dilakukan oleh para pemuda dengan penuh antusias…
    sudah siap untuk berpuasa aurora? :D

  11. hehe… batal ketemuan, membaca tulisannya saja pun sudah menjadi obat kecewa.
    benar, uda. bukankah kata john f. kennedy: ask not what your country can do for you – ask what you can do for your country?

    merdeka!

    gak apa-apa kok uni, batal ketemuan, baca komennya saja sudah menjadi obat kecewa… hehehe.. :D
    kira-kira saya sudah memberikan apa ya buat negara ini? hmm…. kayaknya baru sekedar pajak yang dipotong dari gaji deh, hehehe… :D

    merdeka juga uni!

  12. Setahun yang lalu, di kampung Cilandak, tempat tinggalku, yang hanya 5-10 menit dari Mal Cilandak Town Square (Citos), diadakan malam renungan menyambut tanggal 17 Agustus 2008, yang saya hadiri bersama si sulung. Dalam renungan tsb kita merenungkan bagaimana perjuangan para pahlawan kita, dan mengajak para hadirin untuk melajutkan perjuangan itu dalam berbuat nyata dalam kehidupan sehari-hari.

    Hal yang menurutku bagus sekali, di tengah kota Jakarta, yang ketua RT nya pilot, RW nya pejabat Departemen Pertanian, dan hampir semua warga RT/RW adalah para pekerja kantoran, tapi masih menyempatkan diri kumpul2 acara seperti itu.

    Uda, tirakatan seperti itu akan membuat kita bersatu padu, apalagi saat ini sangat penting untuk kembali membangkitkan semangat bangsa ini untuk bersatu dalam memerangi teror, kemiskinan serta bersatu untuk bekerja giat agar mencapai negara yang aman dan damai.

    Iya Bu Enny, memang diperlukan sebuah momen untuk anak bangsa ini duduk bersama, dalam suasana yang penuh damai, guna menyatukan sebuah rasa yang seharusnya memiliki kekuatan yang sama, yaitu rasa kebangsaan… :D

  13. Nice posting, Uda..
    aku cuma sekali ikut tirakatan 17-an…pas KKN..sederhana tapi berkesan.

    Waktu kecil pernah “ngintip” tirakatan bersama bapak-bapak dan para pemuda di kampung. Bapak-bapak tani sederhana itu menyanyi Indonesia Raya..waktu itu aku merinding tanpa sebab yang jelas…

    setelah besar, aku baru tau, perasaan merinding itu disebut TERHARU…

    nana

    kalau sudah tua nanti, kira-kira perasaan terharu itu berubah jadi apa ya? yang pasti bukan TERLENA kan…? hehehe… :D

  14. di jawa, malam tirakatan itu sudah menjadi bagian dari tradisi masyarakat pasda event2 tertentu, bang vizon. tak hanya sekadar sbg bahan refleksi dan bahan aduan kepada Sang Khalik, melainkan juga utk membangun komunikasi dan interaksi secara sosial di tengah2 masyarakat.

    benar sekali pak sawali…
    komunikasi dan interaksi itu sangat terlihat di kampung kweni kemarin, tua-muda, kaya-miskin, semua duduk bersama dalam sebuah semangat yang sama pula; kebangsaan… :D

  15. Saya baru tahu kalau acara semacam tirakatan ini hanya ada di Jawa dan Bali. Kalau malam peringatan kemerdekaan pada tanggal 16 Agustus, tentunya ada di seluruh Indonesia ya? atau jangan-jangan ada juga daerah yang tidak memperingatinya?

    Dulu, tirakatan itu dilaksanakan sampai lewat tengah malam, berisi renungan-renungan. Tapi sekarang, tirakatan disederhanakan, dipersingkat, sehingga di RW saya sudah selesai pada jam 10 malam. Memang, tidak semua orang sanggup tirakatan sampai lewat tengah malam. Kemarin saya datang agak terlambat, tapi masih sempat mendengarkan sambutan Pak Wali Kota Yogya yang diputar dari LCD. Tirakatan di RW saya canggih, sudah pakai kamera yang menyiarkan langsung jalannya acara melalui LCD … :)

Komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jawab dulu ya pertanyaan di bawah ini sebelum kirim komentar, biar tidak dianggap spam.. :) *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>