keterpaksaan berbuah keberkahan


Warning: Illegal string offset 'single_featured_image' in /home/hardiviz/public_html/wp-content/themes/confidence/content-single.php on line 69

Pernahkan anda dipaksa memilih sesuatu yang tidak anda inginkan? Pernahkan anda tidak bisa memilih apapun, selain menjalankannya dengan penuh keterpaksaan? Jika pernah, apa yang anda lakukan? Jawaban yang jamak mungkin akan kita lontarkan adalah bahwa kita akan berontak lalu keluar dari keterpaksaan itu atau menjalankannya dengan tidak sungguh-sungguh, tanpa rasa nikmat sedikitpun.

Adalah seorang putra Minangkabau asal desa Bayur di pinggir danau Maninjau, Bukittinggi, bernama Alif yang terjebak dalam situasi sulit itu. Ia dipaksa memilih jalur sekolah agama oleh ibunya. Beliau menginginkannya menjadi Buya Hamka, sementara ia sendiri sangat bercita-cita menjadi Habibie. Keterpaksaannya ternyata berbuah keberkahan. Pilihan yang dijalankannya atas dasar bakti kepada Bunda, telah membalikkan pandangannya terhadap pendidikan agama, terutama pesantren. Novel Negeri 5 Menara yang dikarang oleh Ahmad Fuadi yang baru saja kubaca, menunjukkan bahwa tidak selamanya keterpaksaan itu buruk. Sebaliknya, keterpaksaannya itu dapat berubah menjadi sebuah keberkahan luar biasa bila disikapi dengan penuh keikhlasan dan kesabaran.

Novel ini bercerita tentang petualangan Alif, 15 tahun, yang harus merantau dengan setengah hati ke Jawa Timur untuk belajar di Pondok Madani. Di Pondok Madani (PM) dia berteman dengan Raja dari Medan, Said dari Surabaya, Dulmajid dari Sumenep, Atang dari Bandung dan Baso dari Gowa. Setiap orang datang ke PM dengan perangai, alasan dan mimpi berbeda. Dari setengah hati mulai jatuh hati, Alif menemukan berbagai prinsip hidup yang terang dan sangat kuat. Antara lain adalah: siapa yang bersungguh-sungguh pasti sukses (man jadda wa jada). Di PM juga dia mengecap kemajemukan Indonesia dan keindahan pengetahuan.  Semua ini diajarkan oleh Kiai Rais, Ustad Salman dan guru lain yang ikhlas mengajarkan ilmu dunia dan akhirat.

Di pokok menara masjid PM yang menjulang, mereka berenam kerap menunggu maghrib sambil menatap awan lembayung yang berarak pulang ke ufuk. Di mata belia mereka, awan-awan itu menjelma menjadi negara dan benua impian, sesuai dengan imajinasi masing-masing.

Kehidupan PM yang disiplin seperti kuil Shaolin membuat mereka harus saling mendukung agar kerasan menyelesaikan 4 tahun sekolah.  Bukannya patah dan mengkerut, tekanan hidup ini malah membuat mereka semakin kuat mental dan tahan banting. Hasilnya adalah kepribadian muda yang tegar, optimistis, percaya diri, dan fasih berbahasa Arab dan Inggris. Tapi di lain pihak, mereka juga tetap sosok yang khawatir dengan masa depan setelah lulus PM. Alif tetap ingin jadi Habibie dan dia tidak tahu bagaimana cara masuk ITB setelah lulus pondok.

Kiai Rais pernah berpetuah: bahasa asing adalah anak kunci jendela-jendela dunia. Lima belas tahun kemudian, dengan anak kunci ini, 6 sekawan menemukan bahwa nasib secara ajaib mendaratkan mereka di 3 benua yang berbeda. Ini adalah realisasi mimpi-mimpi dan obrolan santai mereka ketika duduk-duduk di kaki menara PM. Baso, Atang, Raja dan Alif terdampar jauh di hiruk-pikuk kemodernan Jepang, Mesir, Inggris, dan Amerika. Sebaliknya Dulmajid dan Said memutuskan pulang kampung ke Madura dan Mojokerto. Menempuh jalan sunyi mengajar mengaji di surau dan madrasah. Tangan Tuhan, melalui mimpi, tekad bulat, kerja keras dan doa menuntun mereka ke “menara” hidup mereka  masing-masing.

Novel ini terinsipirasi dari kisah nyata perjalanan pendidikan penulisnya sendiri selama nyantri di Pondok Modern Gontor. Karena latarbelakang yang sama, maka ketika membaca halaman demi halaman novel ini, seolah aku sedang membaca halaman demi halaman kehidupanku sendiri. Aku benar-benar larut di dalamnya. Bayangan masa lalu kembali menyeruak di otakku. Seakan berada di mesin waktu, aku serasa ditarik kembali ke masa 20-25 tahun yang lalu.

Novel ini sangat layak untuk dibaca. Di samping karena di dalamnya terdapat banyak sekali hikmah, sekaligus juga menunjukkan bagaimana kehidupan damai di sebuah pesantren yang akan menggugurkan pandangan sebagian orang tentang citra negatifnya. Dan satu yang terpenting adalah bahwa untuk meraih mimpi, berliku jalan yang harus ditempuh, keikhlasan dan kesabaran adalah kunci untuk berhasil meraihnya

Untuk Fuadi, aku ucapkan selamat dan salut atas upayanya ini. Terima kasih atas inspirasinya. Terima kasih telah mengajarkan kepadaku bahwa keterpaksaan itu akan dapat berubah menjadi keberkahan bila kita arif menghadapinya… :D

Simak juga review lainnya:


Warning: Illegal string offset 'author_box' in /home/hardiviz/public_html/wp-content/themes/confidence/content-single.php on line 93

48 comments on “keterpaksaan berbuah keberkahan

  1. Pas ke Gramedia akhir minggu kemarin aku sebenarnya sudah pengen beli buku itu. Tapi masih ragu, takutnya mengecewakan. Tapi rupanya bagus, ya? Nanti aku coba cari lagi deh kalau pas jalan2 ke toko buku.

    kayaknya pandangan kritis dari seorang kris perlu juga deh bagi pengarang buku itu. kalau aku sendiri kan relatif subjektif. lha wong pengarangnya teman sendiri jhe, apalagi latarbelakang kisahnya adalah pesantren yang aku juga pernah di sana. tapi, yang nulis endorsement-nya lumayan banyak, ada Pak Habibie, Andy F Noya, dll… :D

  2. Sayang waktu aku ke Gramedia baru ada 3Gnya pak Grandis hihihi, jadi cuma beli itu. Negeri 5 Menara belum sempat aku cari, sudah keburu pulang.

    EM

    Hmmm… sepertinya pak pos musti terbang ke jepang nih… hehehe… :D

  3. rupanya ini buku yang dikirimkan ke si tukan anyam ya, da?
    *mupeng*
    salah satu sms saya yang nggak nyampe itu sebenarnya isinya ini, proposal permohonan kiriman buku juga. haha!

    menjalani sesuatu yang bukan pilihan? pernah, da, dan sangat memengaruhi hidup saya ke depannya, yakni masuk fakultas kedokteran. itu adalah pilihan ayah saya, saya sendiri lebih tertarik menjadi arsitek. yet my father won the tag-of-war, and i am a doctor eventually. tapi dengan restu orang tua ternyata memang pendidikan saya mulus saja adanya, walaupun setengah hati yang menjadi jatuh hati seperti alif. :mrgreen:

    aih, ternyata si tukang anyam itu juga berprofesi sebagai tukang provokasi, hehehe… :D

    tapi saya yakin, dengan keterpaksaan yang telah berubah menjadi kesyukuran yang uni jalani sekarang, akan memberi banyak manfaat bagi orang lain. dan kami, para blogger, sudah merasakan itu… :D

    eh, bukankah uni sekarang sudah jadi arsitek? ya, arsitek buat para membangun moral para calon dokter negara ini? ;)

  4. di minang rasanya banyak demikian, paling tidak pernah merasakan, kalo wempi lebih suka stm bapak lebih suka sma, terpaksa deh ikut keinginan bapak sekolah di sma.

    karena tau kemampuan bapak kek gimana, pernah juga ada niat untuk tidak melanjutkan kuliah. bapak tetap ngotot wempi harus kuliah!

    lagi-lagi terpaksa deh ngikut keinginan bapak kuliah, hehehe…

    tapi, dari paksaan bapak tadi, wempi bisa jadi seperti sekarang bukan?
    syukurilah wem… :D

  5. Wah, kudu punya novelnya nih, buat inspirasi sekalian ngedapetin nuansa pesantren gontor. Mungkin saya ndak pernah ke sana, tapi siapa tau dengan membaca novel ini (plus tulisan2 Uda di Surau Inyiak) bisa memenuhi keingintahuan masa kecil saya itu…

    Pengarang novelnya temen Uda ya? Hmm… u know what, kalau aja Uda dan Ahmad Fuadi ini bisa dijadikan sampel yang merepresentasikan santri asal pesantren Gontor, kesimpulannya alumni Gontor pada jago nulis ya?

    Oh iya… ditambah fakta bahwa nama Alif-ku jadi tokoh utama dalam novel ini, jadi semakin kudu harus beli novel-nya :-D

    Ya… suasana belajar di Gontor nyaris terekspos dengan baik di novel itu. Silahkan dibaca, semoga menambah pengetahuan.

    Fuadi adalah teman saya, satu kampung lagi, hehe… Kebetulan dia memberi saya kehormatan untuk membaca naskah awalnya dan meminta saya untuk memberi masukan.

    Kebetulan saja dirimu bertemu dengan saya dan Fuadi, sehingga kesannya alumni gontor itu bisa menulis (emang saya bisa menulis? oh no!). Tidaklah begitu Son, ada juga kok alumni Gontor yang tidak bisa menulis sama sekali. Itu kan masalah bakat dan kesempatan saja… :D

    Eh iya, rupaya nama Alif itu cukup komersil ya… hehehe… :D

  6. Betul Uda, banyak jalan ke Roma, banyak jalan pula menuju sukses … Sukses-pun banyak definisinya tinggal kita pengen yg mana … It’s a matter of choice …

    Benar sekali pak…
    Duh, suka kali saya dengan kata-katanya… Boleh dipasang di status FB gak ya? :D

  7. Wah , referensi buku yang bagus sekali Uda. Mungkin ada gunanya untuk seorang temanya reza yang saat ini sedang di paksa orangtuanya masuk pesantren 2 tahun guna bekal kuliah di arab. Dia gak mau tuh…sampe pasang status di FB..pesantren meneh..pesantren meneh…hehehehe.

    Ada bagusnya juga buat ortu temannya Reza itu Yess…
    Agar beliau juga dapat membaca kembali niatnya, untuk apa memaksa anaknya ke pesantren. Bila sudah ada di pesantren, sikap apa yang harus mereka lakukan, sehingga anaknya bisa benar- benar meresapi makna terdalam dari pendidikan yang “dipaksakan” itu. Kedua orangtua Alif dalam novel itu, memiliki sikap yang sangat perlu diteladani…

  8. Aku pernah baca review buku ini di Ndorokakung dan smangkin tertarik untuk memiliki.. Berburu nanti saat mudik yang masih lama :(

    Ya, aku juga sudah baca review si ndorokakung itu. Aku juga sudah link-kan di atas…
    Emang dirimu kapan mudik?

  9. Uda.. Satu hal yang saya yakini, segala kondisi itu akan menghancurkan atau membawa keberhasilan tergantung bagaimana kita menyikapinya :)

    Jadi penasaran sama buku ini… ingin belajar budayanya juga…

    Benar sekali Ka… seperti kata Anderson (soyjoy), tergantung man behind the gun
    Ya, ada baiknya dirimu baca buku ini, karena ada banyak nilai-nilai universal yang dibicarakan, dan tentunya bagaimana budaya pesantren itu sendiri… :D

  10. Ah Uda …
    Ini sepertinya novel yang keren …
    Cari aaahhh … Week end besok …
    Pas bener buat Ramadhan

    Salam saya

    Insya Allah Pak,
    mudah-mudahan memberi kesan baik… :D

  11. Hmm… di milis R@antau Net sang pengarang waktu novel baru terbit sudah menghalo-halo kan, bahkan karena ada yang minta khusus, akhirnya mau dikasih yang ada tanda tangannya.

    Mantap, berarti bertambah lagi nih calon penulis minang favorit saya, setelah Es. Ito, trus Om yang nulis novel ini, trus nanti ada lagi [calon]penulis baru yang sedang rajin nulis di blog *sambil lirik-lirik uda Ardhi* :wink:

    Mau beli ah ….

    Dan, saya termasuk salah seorang yang beruntung dapat kiriman langsund dari pengarangnya, ya tentu dengan tandatangan itu dong, hehehe… (KKN mode: on)

    Insya Allah sahabat-sahabat blogger saya semua adalah penulis-penulis handal. Bahkan, sudah banyak yang terkenal dari dulu. Mau tau siapa saja mereka? sering-sering aja kongkow di sini, ntar ketemu, hehe… :D
    pantas dari tadi jantung saya kok berdebar-debar, perasaan ada yang memperhatikan dari tadi, ternyata dirimu tho? ;)

  12. belum ada di Padang da…hehehe

    sabar jo… di jogja juga baru ada kemarin. saya bisa dapat, karena dikirim langsung oleh pengarangnya, hehehe… :D

  13. kalo dah gini, kerasa banget suasana hutan
    susah nyari buku, pinjem apalagi he he he…

    segala perjalanan yang berwujud perjuangan, selalu membuahkan hasil yang indah. karena pada sesungguhnya, kebahagiaan itu lebih pada pertahanan dan perjuangan.

    kadang suatu hal butuh dipaksakan, tanpa ada paksaan, gak akan ada keberhasilan yang berkesan *bener gak yah* he2

    duh, kasian amat orang utan, eh, orang yang lagi kerja di hutan maksudnya, hehe…. :D

    benar, terkadang sesuatu harus dipaksakan, asal kita tahu bahwa yang dipaksakan itu adalah sesuatu yang baik…

  14. novel N5M punya saya masih dalam plastik, baru hari minggu lalu saya beli. thanks uda sdh membuat resensinya.
    saya tertarik buku ini krn novel ini menyertakan komentar2 dari org2 terkenal macam andy f noya, bj habibie, riri reza, syafii maarif, dll.
    ini buku pertama dari trilogi kan da? :)

    itulah kehebatan fuadi, mampu mencapai orang-orang tersebut. kebulatan tekadnya, dengan prinsip man jadda wajada, maka ia pun berhasil memperolehnya. di dalam bukunya juga diceritakan bagaimana ia berhasil membuat liputan langsung untuk presiden..
    yups, benar, ini adalah buku pertama dari triloginya. :D

  15. Pertama kali dengar tentang buku ini dari Bang Hery, terus kemudian dikenalin langsung sama penulisnya. Harapannya sih biar dapet buku gratis, tapi taunya nggak dapet juga.. hihihi.. Iya, deh, ntar beli sendiri… :)

    Sepertinya, komentarku bakal sama seperti yang lain, Uda.. Tapi satu hal, aku suka sekali dengan review Uda. Tidak bertele-tele, tidak panjang lebar, tapi straight forward dengan bahasa yang enak dibaca. Wonderful! *dengan harapan, mbok ya aku dikirimin juga kayak si Tukang Anyam itu.. hihihi*

  16. oh jadi buku ini buatan anak gontor ya uda? pas nih pingin ke gramed, ga perlu lama lama scaning rak rak buku deh. thanks infonya

  17. Uda, itu karena sudah 10-15 tahun saya sering harus “menasehati” mahasiswa yg merasa salah jurusan, karena waktu itu jurusan saya termasuk kurang populer dibanding jurusan yg sudah banyak dikenal masyarakat umum …

  18. Wah, pengen baca. Teringat masa-masa tinggal di pesantren dulu. Hm, jika hidup bisa diputar balik, pilihan pertama saya ingin sekali kembali ke masa di pesantren. Memang penuh kenangan, dan suatu masa saat kita benar-benar diraut menjadi seperti.

  19. Ulasannya mantab, bro…
    Keterpaksaan seringkali menjadi berkah. Sebaliknya, pilihan bebas terkadang menjadi bencana. Tergantung kitalah sebagai subyek yang berkehendak untuk menjadikan apapun sebagai berkah atau musibah….Dalam kondisi seburuk apapun, selalu bisa ditemukan aspek positif.

  20. Hmm… saya masih belum menemukan hikmah dari judul posting ini. Sepertinya harus menunggu hingga usia khirij marhalah Classics 91. :)

  21. Membaca resensi uda, saya jadi terharu biru…ingat anakku yang saat ini sedang nyantri di pesantren Ulujami Jakarta. Pesantren adalah pilihannya sendiri, dan saya sebagai ibunya hanya mendukung dan mendoakan..
    Dari kacamata saya sendiri, rasanya kehidupan pesantren penuh prihatin dan jauh dari kenyamanan,tapi saya yakin…justru disitu letak pembentukan mental anak2 santri. Di sisi lain, saya juga khawatir apakah anakku kelak bisa bersaing masuk ke perguruan tinggi negeri..
    Mudah2an dengan membaca buku N5M, hati saya bisa semakin mantap mendukung putri saya melanjutkan tingkat alliyahnya di pesantren..

  22. haddiirrrr….
    siang siang mengunjungi sahabat, tuk memohon maaf dan mengharap kemurahan hati sahabat tuk sekedar memaafkan segala kesalahan yang telah aku perbuat.
    Mari kita luruskan niat, sucikan hati, semoga Ramadhan dapat mengantar kita kembali fitri
    cu….
    note: sorry.., komenx-nya ntar aja ya…..

  23. memang terkadang keterpaksaan bisa menjadi berkah tapi tak jarang keterpaksaan yang berujung kematian…..he3x. entah mati rasa, hati, jiwa maupun raga. hal yang paling menyakitkan adalah manakala kita melakukan sesuatu dengan terpaksa. apalagi sesuatu tersebut adalah yang paling kita benci……..

  24. Uda Vizon …

    Dengan segala kerendahan hati …
    Trainer ingin memohon maaf lahir bathin …

    Mari kita sambut bulan penuh berkah ini dengan Gembira …

    Salam saya

  25. Saya pernah mendengar tentang buku ini, tapi baru tahu isinya sesudah membaca review Uda Vizon.

    Btw, menurut saya memang ada ‘keterpaksaan’ yang berbuah kebaikan, tetapi ada juga keterpaksaan yang benar-benar menghancurkan orang yang harus menjalaninya.

  26. Ada yg mengatakan, “terpaksa berbuat baik itu lebih baik daripada ikhlash berbuat buruk”, hehehehe…

    Aq kok jadi kangen sama almamater yg udah lama tdk aq kunjungin ya? Moga syawwal kali ini aq bisa berkunjung

  27. heheh.. jadi teringat pesen pak Hasan, terpaksa ke mesjid, terpaksa baca Quran, akhirnya terpaksa juga masuk surga.. xixixi…

    geli juga waktu ingat dulu pas masi di pondok, hahahaha…

    wiw.. ternyata para alumni uda pada bikin komunitas blogger yak, hehe… ikut nimbrung deh… :D

    oiya, salam kenal dari ana, uridu an uarifa nafsiy..
    ismi: nailunniam
    marhalah blitza 2005
    ji’tu min pekalongan.. :D

  28. Tolong bantu kirimkan buku Negeri 5 Menara, di Langsa ga ada jual buku tsb, please teman2. Thanks…

  29. Uda, bisa dikirim ke filipin ga??? Soalnya kemaren buku yang dibawa ga tau hilang dimana, ketinggalan di hotel atau ketinggalan di taxi.. Baru sadarnya setelah 2 minggu.. :((

    Mana disini masih lama lagi..

  30. Uda, bisa dikirim ke filipin ga??? Soalnya kemaren buku yang dibawa ga tau hilang dimana, ketinggalan di hotel atau ketinggalan di taxi.. Baru sadarnya setelah 2 minggu.. :((

    Mana disini masih lama lagi.. Oh ya da, Mohon maaf lahir dan bathin sekali lagi…

    bisa, sangat bisa son… kirim alamatnya ke email saya ya…
    maaf lahir batin juga, selamat berpuasa :D

  31. dr maren2 dah pergi ke Gramed, belom ada di Malang [tpi ga tau hari ini]
    kata mas Fuadi emang agak telat di sini -dari Jabodetabek- :(

  32. ambo juga sudah baca, uda. dan sudah direview di blog.

    btw, apakah ini era kebangkitan pujangga sumatra? sudah ada Andrea, E.S. Ito, dan belakangan A. Fuadi..

  33. Uda, sepertinya ini bakal jadi buku best seller ya? Semoga nanti pas beli belum ada label best sellernya :D
    Wah, kalo nggak salah sudah tiga kali ini saya baca resensi novel ini. Di sini, terus diblognya morishige itu, terus satu lagi lupa di mana. Oh, ya, diblognya ndoro kakung.
    Saya penasaran neh da, tentang suasana yang digambarkan tentang nuansa Gontor. Biasanya, hanya alumni saja yang bisa merasakan dan menjiwai nuansa itu. Mangkanya nanti pas turun gunung, keknya bakalan kebeli juga neh buku ini.

  34. walahhh…aku beli ah nanti ke gramedia…
    *kapan ya aku ke gramedianya…hehehehehe*

    perjalanan hidup memang memiliki hikmahnya masing2 ya da’ tidak terkecuali juga pengalaman hidup yg di tuangkan di buku itu pasti…mupeng…mupeng…

    boleh minjem??? :D

  35. Pingback: TRAINER DIRACUNI « The Ordinary Trainer writes …

  36. Pingback: Hiatus Sehiatus-hiatusnya « Blog Kanggo GaweAnu

  37. walaupun ada beberapa hal yang saya tidak sepakat dalam novel itu, tapi memang patut diacungi jempol. teruama setengah halaman pertama. tapi setengahnya lagi, aq kira isinya hanya sekedar mengejar tebal halaman. :)

  38. Alangkah bahagianya Ibunya A.Fuadi. ini sesuatu yang luar biasa mas. banyak orang memahami, ngaji ilmu agama itu sebuah pilihan. padahal sebuah kewajiban mas. kita di perintahkan untuk giat mencari rizqi dunia, namun yang nomer satu tetap ‘bekal’ di akherat nanti. begitu juga dengan ilmu2 dunia, adalah nomer dua setelah ilmu akherat. paling tidak, ya imbang lah dalam mencari keduanya.
    salam.
    .-= Badruz´s last blog ..Hadiah Dari Guskar =-.

  39. Pingback: SURAU INYIAK » Blog Archive » passion

  40. Pingback: SURAU INYIAK » Blog Archive » ranah3warna: buah kesabaran

  41. Pingback: negeri 5 menara, the movie | SURAU INYIAK

Komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jawab dulu ya pertanyaan di bawah ini sebelum kirim komentar, biar tidak dianggap spam.. :) *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>