Posted by Vizon | Posted in Ramadhan, bunga rampai | Posted on 10-09-2009
Tags: puasa, Ramadhan, sabar, sardjito, syukur
Karena lutut kiriku masih menyisakan nyeri akibat kecelakaan tempo hari, maka dokter menyarankanku untuk memeriksakan diri ke dokter spesialis bedah orthopedi. Setelah mendapatkan hari yang tepat, akhirnya kemarin akupun meneruskan surat rujukan itu ke RSUP Dr. Sardjito Jogjakarta.
Pukul 7 pagi aku sudah sampai di rumah sakit yang terletak di kawasan kampus UGM tersebut. Tujuanku datang lebih awal agar bisa cepat mendaftar dan mendapatkan pemeriksaan dengan segera. Sehingga, waktuku tidak banyak terbuang di rumah sakit besar tersebut. Namun, alangkah kagetnya diriku begitu memasuki ruang pendaftaran. Dalam ruangan itu kudapati sudah penuh sesak banyak manusia. Dari obrolan yang sempat terdengar olehku, mereka berdatangan dari berbagai daerah di Jogja dan sekitarnya. Bahkan, sudah ada yang datang sejak pukul 4 subuh tadi. Aih, rajin amat orang-orang itu ya, hehe…
Akupun mengikuti prosedur; meletakkan surat rujukan di box pendaftaran dan menunggu panggilan… Satu jam berlalu, aku belum juga terpanggil. Aku mulai sedikit gelisah. Ku langkahkan kaki menuju meja pendaftaran, ingin kupastikan bahwa surat rujukanku masih di tempatnya atau sudah diproses. Aku tidak menemukannya. Ah, barangkali sudah diproses pikirku. Akupun berjalan ke arah belakang dan bersender di dinding. Ketika itulah seorang bapak yang berdiri di sampingku menyapa.
“Dari mana Mas?”
“Kweni, Bapak dari mana?”
“Godean”
“Ouw… sakit apa Pak?”
“Asam urat, maklumlah Mas, sudah tua”
“Lama banget ya Pak, nunggunya”
“Yo, musti sabar tho Mas. Ini kan rumah sakit besar, jadi pasiennya banyak”
“Bapak sering ke sini?”
“Ya lumayan. Saya kan pensiunan pegawai negeri, jadi berobatnya ya ke sini. Kalau ke rumah sakit swasta, ya ndak kuat saya Mas”
“Aih, sama saja kita Pak… Oya, biasanya berapa lama proses pendaftaran ini Pak?”
“Paling cepat dua jam”
“Ha? dua jam?”
“Ndak apa-apa tho Mas, anggap aja lagi latihan kesabaran, apalagi ini bulan puasa”
“Iya sih, tapi apa ndak ada sistem yang bisa membuat proses ini lebih cepat”
“Ini sudah lumayan Mas, kalau dulu, bisa setengah hari”
“Dan Bapak mengikuti proses itu dengan sabar?”
“Lha iya, saya cuma bisa ke rumah sakit ini, maka ya saya jalani dengan sabar saja. Toh, kalau saya punya uang lebih, kok rasanya eman mau dibuang ke rumah sakit swasta yang mahal itu”
Plaaakk… aku seperti tertampar dengan ucapan Bapak tadi. Betapa dia begitu sabar menjalai hidupnya, tanpa mengeluh dan memperturutkan emosinya. Aku malu, benar-benar malu. Kesabaranku belum seujung kukunya. Tuhan telah menurunkan titahNya kepadaku hari itu melalui mulut si Bapak.
Tepat pukul 10.00 wib, akupun dipanggil. Setelah menerima beberapa berkas di loket pendaftaran itu, akupun diminta untuk meneruskan ke poli bedah orthopedi. Setelah melewati beberapa lorong, akupun menemukan poli tersebut. Berkas-berkas yang kubawa tadi kuserahkan ke bagian administrasi poli bedah, dan susterpun memintaku untuk menunggu panggilan di depan poli orthopedi.
Lagi-lagi kutemukan di depan ruangan itu sudah dipenuhi oleh orang-orang yang akan berobat. Kali ini, pemandangannya lebih dramatis. Ada lebih kurang 20 orang yang duduk menunggu giliran, dan rata-rata kaki atau tangan mereka digips. *Ya iyalah tangan dan kaki yang digips, ini kan poli orthopedi, kalau mata yang diperban, itu poli mata namanya*
Kuedarkan pandangan sekeliling untuk mencari tempat duduk. Mataku tertumpu pada kursi panjang di sudut ruangan yang hanya diisi oleh seorang pemuda. Dari perawakannya kuperkirakan dia baru berumur 20 tahun. Wajahnya lumayan tampan, tubuhnya juga padat berisi. Di tangannya tergenggam sebuah novel berjudul “Angels and Demons”. Dia duduk sambil bersandar ke dinding dan menyelongsorkan kedua kakinya di kursi panjang itu. Akupun terpana ketika melihat kakinya kanannya. Kaki itu sudah tidak ada, alias sudah terpotong hingga bagian paha. Darahku sedikit berdesir begitu melihat kondisinya.
Karena tidak ada tempat duduk lain yang kosong, akupun melangkahkan kaki ke arahnya.
“Permisi Mas, boleh duduk di sini?”
“Eh, silahkan Pak, tapi maaf saya tetap seperti ini ya”
“Ndak apa-apa, santai aja…”
“Bapak mau periksa juga? Sakit apa Pak?”
“Iya, cuma mau memastikan apakah ada masalah dengan lutut saya. Masih nyeri sampai sekarang akibat kecelakaan kecil tempo hari”
“Ouw…”
“Mas sendiri kenapa?”, aku bertanya dengan ragu-ragu.
“Saya ditabrak oleh sebuah mobil yang ugal-ugalan sekitar 6 bulan yang lalu Pak. Kaki kanan saya remuk dilindas oleh mobil tersebut. Karena tidak bisa diselamatkan lagi, maka dokter memutuskan untuk mengamputasinya”
“Wah, tragis juga ya”
“Iya. Awalnya saya sempat stres. Terbayang masa depan saya yang bakal suram karena saya akan menjadi cacat”
“…”
“Saya ingin menjadi polisi. Tapi, dengan kondisi seperti ini, mana mungkin saya dapat melanjutkan cita-cita. Tapi, saya bersyukur, karena memiliki orangtua yang mampu menyemangati saya. Saya juga bersyukur karena nyawa saya bisa diselamatkan. Saya sempat koma selama dua minggu Pak”
“Oya?”
“Ya, begitu terbangun dari koma, saya mendapati kaki kanan saya sudah tidak ada. Saya stres… Tapi, orangtua saya selalu mendampingi dan sedikit demi sedikit tekanan batin itupun bisa reda dari diri saya. Saya bertekad untuk meneruskan hidup ini, demi orangtua saya yang sudah memberi banyak cinta untuk saya. Saya yakin, ada rahasia Tuhan dibalik selamatnya nyawa saya. Ada sesuatu yang bisa saya lakukan untuk tetap bermanfaat. Saya harus mensyukurinya…”
Aku terdiam, tak percaya dengan apa yang kudengar dari mulut seorang pemuda di hadapanku. Betapa bijaknya dia mengahadapi hidup. Betapa lapangnya hati dan pikirannya. Ah, sekali lagi, aku malu, benar-benar malu…
Hari itu, Tuhan telah mengajarkan kepadaku bahwa menjadi bijak bukan persoalan umur, tapi persoalan hati dan pikiran. Dua orang yang kutemui tadi, berbeda usia, tapi sama-sama bijak. Keduanya telah mengajarkan kepadaku soal SABAR dan SYUKUR.
Terima kasih Ya Allah, tlah Kau pertemukan aku dengan mereka…




Cerita kedua sungguh menyentuh Uda …
Inilah sabar dan syukur yang sejati …
Kalau cerita yang pertama itu …
(mohon maaf ini) …
adalah Sabar yang celakanya dipergunakan untuk pembenaran pihak lain untuk berbuat sesukanya …
kalau ditempat lain bisa cepat … kenapa RS ini tidak bisa cepat ya ?? (heheheh)(maap … prasangka buruk inih …)
Salam saya Uda …
NH18
nh18´s last blog ..ATRIBUT
[Reply]
cerita yang menginspirasi sekali…
saya bersyukur dengan sgala kesehatan ini.
salam kenal pak!
noname´s last blog ..Tips dan Trik Hilangkan “Racun” dalam Mie Instant
[Reply]
Cerita tentang si pemuda yang menyentuh hati, Uda…
padahal masih muda ya?
Kadang aku juga tak sabaran. Kadang aku menggugat Tuhan yang sepertinya tak peduli pada doa dan pintaku. *curcol…*
Aku harus banyak-banyak bersyukur karena hidupku jauh lebih beruntung dari si pemuda tadi.
Aku juga harus latian lebih sabar, karena aku pun tak tahu aku ada di nomor urut berapa di hadapan Tuhan.
Pasti loket-Nya penuh antrian panjang manusia dari seluruh dunia…
[Reply]
aji selalu mencoba untuk terus berSEMANGAT dalam menjalani hidup ini
aji´s last blog ..mohon maaf
[Reply]
Soal menunggu lama di RS…. sepertinya di Jepang dan Indonesia sama! Lama! Padahal di Jepang sudah pasti kita mendapat janji jam 10 misalnya, kita harus datang 15 menit sebelumnya. Tapi tetap saja harus menunggu dan sampai selesai urusan bayar-bayaran(yang kadang lebih lama dari periksanya) kira-kira butuh waktu 2 jam.(di Indonesia mungkin 2 jam termasuk cepat ya? hihihi) Huh…. Tapi kalau pergi ke klinik spesialis, mantap deh! cepet dan tidak bertele-tele.
Kesabaran memang sulit sekali dipertahankan. Tapi dengan bertemu dua orang yang bijaksana begitu, saya rasa Uda bisa melewatkan waktu yang mestinya terasa lama, menjadi waktu yang bermanfaat ya…. kami yang membaca saja merasakan bersyukur atas kesehatan yang kami punyai.
Semoga lututnya Uda juga cepat sembuh ya… Jangan bawa berat dulu Uda…apalagi gendong Riku hihihi
EM
[Reply]
Ria Reply:
September 15th, 2009 at 11:59 pm
ngalahin emaknya????
huhahahahaha….
*mbak Imel…aku gak ikutan ya…itu kan yg bilang Uda Vizon bukan aku
hehehehehe*
Ria´s last blog ..Berbagi Cinta
[Reply]
inspiring bro
mencapai tahapan
syukur dan sabar
bukan hal yg mudah
semoga berkat Ramadhan
kita bisa meraihnya
mikekono´s last blog ..Bukan Suami Biasa…..!
[Reply]
duh maafkan bundo baru tahu klo vizon habis kecelakan.. semoga cepat pulih yaa..
dalam sakit, dan dalam segala ujianNYA.. hanyalah sabar hadiah terbesar agar kita kuat melalui semuanya.. semoga kita semua menjadi orang yang bersabar. amin
[Reply]
begitu banyak orang yang tertindas… tapi hanya segelintir dari mereka yang bisa menghadapi ketertindasan dan keterbatasan itu dengan sabar dan dengan sikap-sikap lain yang mungkin tak pernah kita bayangkan…. tulisan yang rancak uda….
aurora´s last blog ..mengais inspirasi di pasar tradisional
[Reply]
Iya, semoga lekas sembuh lututnya Da, dan jangan digunakan untuk kerja berat!
Hp´s last blog ..Tanpa Nama (4)
[Reply]
jelang berbuka puasa.
bang aku belajar banyak juga dari postingan abangku ini
mantab banget
salam hangat selalu
dobleh yang malang´s last blog ..Selamat tidur kekasih gelapku……
[Reply]
memang pelajaran bisa dipetik dari mana saja, bahkan dari pengalaman pahit sekalipun. beruntunglah orang-orang yang mampu bersyukur atas segala kondisi, paling tidak selalu berbaik sangka terhadap allah. bukankah allah sendiri sudah mengatakan, aku adalah sebagaimana sangka hambaku.
there’s a reason for everything kan, uda? dan alasan uda menunggu lama adalah untuk mendapatkan hikmah dari orang-orang yang sabar dan bersyukur itu.
marshmallow´s last blog ..Menelanjangi Jiwa Pemenang
[Reply]
MEMILIKI SIKAP SABAR sebenarnya adalah buah dari proses memahami orang lain. Semakin banyak kita memahami sesuatu dari sudut pandang orang lain, maka kesabaran itu akan tumbuh. Dan yang paling penting adalah bagaimana mempertahankannya dengan tetap menyiramnya dengan SYUKUR.
imoe´s last blog ..…akhirnya…
[Reply]
Saya setuju dengan Om Trainer. Kesabaran yang pertama, menunggu berjam-jam untuk pelayanan di rumah sakit, sebenarnya adalah kesabaran yang ‘tidak perlu’. Masak sih, hanya untuk mengurus berkas pendaftaran saja sampai berjam-jam? Di era komputerisasi gini? Itu mah manajemennya aja yang buruk … (lho, kok saya jadi marah, wong yang nunggu aja sabar je …
)
Nah, kesabaran pemuda yang kehilangan kaki itu menerima nasibnya, itu baru betul-betul kesabaran yang luar biasa. Saya sungguh salut pada ketabahan dan sikap optimisnya. Semoga ia akan menemukan cara yang terbaik untuk menjalani hidupnya yang masih panjang, sehingga menjadi insan yang bermanfaat bukan saja bagi dirinya sendiri tapi juga bagi orang lain.
Tuti Nonka´s last blog ..Tuhan, Kau Dimana?
[Reply]
sukses ya da…:)
[Reply]
terima kasih sharingnya uda, cerita kedua sungguh menyentuh.. bersyukur atas segala yg telah diberikanNya
meski itu berupa amputasi
luar biasa… jadi malu kadang masih aja terselip rasa iri, bersungut-sungut akan kehendakNya..
Bro Neo´s last blog ..Debar di Palopo – Soroako
[Reply]
Uda beruntung sekali, disegarkan denga pengalaman2 orang lain.
Sabar… ah kata itu lebih gampang diucapkan dari pada dipraktekkan.
Namun berkaca dari orang lain yang mempunyai hidup yang keras… somehow menguatkan kita juga…
Eka Situmorang – Sir´s last blog ..Pulau Samosir – Danau Toba
[Reply]
Saya sering berada dalam posisi sepertimu, Mas Uda.
Dan kalau sudah begitu aku hanya bisa berucap syukur bahwa keadaanku lebih baik dari mereka.
Aku yakin kejadian di Sardjito itu semakin mempertebal makna puasa tahun ini ya…
Sukses selalu!
DV´s last blog ..List 302 Gempa Susulan di Facebook
[Reply]
terima kasih untuk nasihat yang terselip di dua cerita tersebut tentu membiuat saya lebih mensyukuri nikmat yang Allah SWT berikan
kadang saya memang tak pernah menyadari tentang hal seperti ini kalau tak melihati makna untuk mensyukurimnya
genthokelir´s last blog ..Toto Rahardjo vs Toto Sugiharto
[Reply]
Kalau nunggu di rumah sakit, bukan hanya di negeri, bro. Rumah sakit swasta pun bisa lama kalo dokternya memang dianggap tokcer. Aku sering menunggu di dokter spesialis dari pukul 19, baru selesai pukul 23 malam.
Kalau anak muda yang kedua memang top deh.
Kemudaannya tidak bisa menutupi kebijaksanannya.
Hery Azwan´s last blog ..Tarawih
[Reply]
wah, semoga ndak terjadi apa2 dengan lututnya, bang. semoga cepat sembuh dan pulih kembali. btw, tentang kebajikan dan kearifan hidup, konon memang bukan persoalan umur, bang. jadi inget ungkapan: “jangan lihat siapa yang bicara, tapi dengarkan apa katanya!”
sawali tuhusetya´s last blog ..Web Sekolah dan Upaya Pencitraan Publik
[Reply]
cerita yg menyentuh, Uda. nggak kebayang kalau aku jadi pemuda itu, apa iya aku bisa sebijak itu…
krismariana´s last blog ..
[Reply]
contoh kesabaran yg pertama, akibat keteledoran admninistrasi RS. saya yakin rumah sakit bisa mempersingkat SOP-nya, sehingga kesabaran org yg menunggu/antri akan lebih bermakna.. bukan hanya sekedar membuang2 waktu..
[Reply]
pembelajaran dan hikmah selalu ada dimana mana. terimakasih juga om telah berbagi pembelajaran ini. semoga kakinya segera sembuh
Zulhaq´s last blog ..Sinting Spesial Ramadhan #6
[Reply]
Uda, salah satu tempat yang tidak saya sukai, adalah rumah sakit, karena saya paling tidak bisa melihat darah dan penderitaan. Lha, ndilalah, koq ya berhubungan dengan rumah sakit sepanjang tahun. Walah, kalau dulu lihat ambulan dibuka langsung kabur, sekarang harus membiasakan diri dan sabar melihat orang sakit dan menderita.
Den Mas´s last blog ..Dulu Iya, Sekarang …
[Reply]
Saya terharu membaca cerita kedua Uda, semoga Allah melindungi pemuda itu, dan dibukakan jalan hidupnya.
Kesabarannya patut diteladani.
Wahh uda, kalau ke RS Umum mesti sabar, walau sebetulnya saya tetap suka kesana, karena dokternya lebih menghargai kita…risikonya memang waktu banyak terbuang
edratna´s last blog ..Mengunjungi GWK Culture Park di Bali
[Reply]
cukup sering saya juga belajar hidup dan akhirnya malu hati dari pengalaman orang lain yang hanya diawali basa basi / ramah tamah sekenanya ..
terlebih lagi di saat merasa sedang di titik nadir kesusahan, tapi ternyata di depan kita ada yang lebih susah namun tetap bisa menerimanya dengan lapang dada .. maluuuu rasanya ..
di saat yang bersamaan juga bersyukur .. Tuhan masih sayang .. dengan memberikan contoh nyata sebagai pembelajaran dan pengingat ..
Mengembalikan Jati Diri Bangsa
Iklan Gratis´s last blog ..RENTAL MOBIL MAKASSAR
[Reply]
bulan Ramadhan emang kesabaran kita diuji bangettt
jadi tingkatkanlah kadar kesabaran kita
Rusa Bawean™´s last blog ..Facebook Lite | Lebih Sederhana dan Ringan, Saingi Twitter
[Reply]
Hari ini mampir ya, numpang baca!
Uugh… menyentuh bgt tulisan ini!… mmh!
henny´s last blog ..HaPeKu
[Reply]
habis baca tulisan uda ini rasanya aku kena tampar juga…
kadang aku juga masih emosian, tidak sabaran dan lebih parahnya suka marah2. disetiap sholat pasti aku berdoa untuk di jadikan golongan orang2 yg bersyukur dan bersabar, tapi ya gitu ya uda semakin banyak doa kita untuk dijadikan manusia penyabar makin banyak juga godaan untuk melatih kesabaran itu…huhehehehe…
Ria´s last blog ..Ali
[Reply]
semoga lekas pulih mas
suryaden´s last blog ..Epidemi bagi Kapitalis
[Reply]
siang
semangat lagi dong bang……..ok
salam hangat selalu
dobleh yang malang´s last blog ..sudah kamu makan tanah itu,nak?
[Reply]
mampir perdana nich bang
salam dalam 2 musim
kezedot´s last blog ..terimalah rangsanganku duhai ………..
[Reply]
wuihhh….merinding baca kisah yang kedua euy..
jadi ingat waktu kecelakaan patah tangan, kata dokter kalau telat dioperasi bisa diamputasi (krn saat itu ortu lebih memilih perawatan tradisional)
fuihh….SABAR dan SYUKUR (Singkat, Padat, Berisi dan Dalemmmm)
Afdhal´s last blog ..Sahur ke.6
[Reply]
Sebuah pelajaran tentang kesabaran yang indah. Tanpa sadar, kita seringkali mendapat pelajaran tentang hidup justru dari orang-orang di sekitar kita.
Mudahan, lututnya nggak masalah, ya, Uda.
[Reply]