jangan punya anak!


Warning: Illegal string offset 'single_featured_image' in /home/hardiviz/public_html/wp-content/themes/confidence/content-single.php on line 69

Seperti hari-hari sebelumnya, pagi itu kunyalakan sepeda motor kesayanganku untuk sekedar memanaskan mesinnya. Sambil menunggu mesin panas, kuseka setiap bagian tubuhnya dengan kain halus bekas singlet anakku. Aku asyik dengan kegiatan itu, sampai sebuah suara datang dari arah belakang dan mengagetkanku…

“Papah, papah…!”

Aku menoleh

“Hai, nak… wah, sudah rapi nih… sini gendong dulu!

Seketika bocah kecil 1 tahunan itu menghambur ke pangkuanku. Kami bergurau sambil sesekali kutuntun ia untuk membaca doa di pagi hari. Keceriaan itu sesekali ditimpali suara seorang perempuan tua yang berdiri tidak jauh dari kami.

“Wis tho Le… Papah mau antar abang sama uni sekolah. Ayo turun. Nanti pada terlambat lho…”

Seolah tak mempedulikan kalimat itu, bocah tersebut terus menggelayut di gendonganku, sampai akhirnya dengan sedikit paksaan dari perempuan tua tadi membuat si bocah berpindah dari gendonganku ke gendongannya.

“Dadah sayang… pergi dulu ya. Nanti sore kita main lagi, insya Allah…”
“Dadah, dadah…!”, mengalir dengan lancarnya dari mulut mungil itu.

Setelah merapikan segala sesuatunya, akupun berangkat mengantar kedua anakku ke sekolah untuk selanjutnya akupun berangkat menuju kampusku. Terasa dengan jelas di belakang punggungku sepasang mata kecil menatapku tajam hingga akhirnya akhirnya akupun menghilang di mulut gang.

*****

“Saya sebetulnya sudah tak kuat Pak”
“Kenapa Bu? Sepertinya saya lihat setiap hari Ibu senang saja bermain dengan Endro?”
“Iya, saya sangat senang, dan sangat menyayangi bocah itu. Setiap kali bersamanya, semua penat ini terasa hilang”
“Lantas, apa yang membuat Ibu merasa tidak kuat?”
“Sikap Papa dan Mama Endro yang tak mau peduli dengan anaknya”
“Lho, bukankah mereka rutin mengirimkan uang belanja buat Endro setiap bulan?”
“Ya, dulu, di bulan-bulan pertama Endro bersama saya. Tapi sekarang, tidak lancar. Sering mereka mencicil uang belanja Endro, 2-3 kali dalam sebulan”
“Apa Ibu tidak berusaha untuk menegurnya?”
“Sudah… Malah saya dicurigai menantu saya, Mamanya Endro, menghambur-hamburkan uang jatah belanja Endro. Sedih sekali rasanya Pak. Tapi, sebetulnya bukan itu masalah utamanya. Toh, kakeknya ataupun tantenya Endro masih bisa mencarikan uang untuk keperluan Endro”
“Lantas apa Bu?”
“Papa dan Mamanya Endro seakan sudah tidak peduli lagi dengan Endro. Mereka tidak pernah menanyakan keadaan Endro. Mereka hanya mengirim pesan lewat sms, dan isinya cuma mengatakan kalau uang sudah dikirim. Apa tidak keterlaluan mereka itu Pak? Punya anak kok tidak diperhatikan. Bukannya bersyukur anak mereka saya rawat, ini malah saya yang disalah-salahkan. Kalau begini caranya, mending mereka tidak usah punya anak!

*****

Bu Surahman begitu berbahagia ketika mendengar bahwa menantunya akan segera melahirkan. Dengan segala bekal yang ada, dia pun berangkat ke Jakarta bersama suaminya. Mereka ingin menunggu kehadiran cucu pertama mereka. Terbayang, betapa bahagianya menimang cucu sendiri.

Masa itupun datang. Cucu tercinta hadir ke muka bumi. Seorang anak manusia berjenis kelamin laki-laki, sehat dan terlihat gurat-gurat wajah nan tampan. Terasa kebahagiaan yang luar biasa menyelimuti hati kedua orang tua nan sudah mulai renta itu. Penantian panjang selama ini akhirnya terlunasi sudah. Endro lahir dengan selamat.

Satu bulan di Jakarta, menemani sang anak dan menantu dalam merawat bayi mereka, hari-hari Bu Surahman terasa menyenangkan. Namun, masalah mulai muncul ketika sang menantu akan mulai masuk kerja kembali. Pengasuh yang sudah lama dipesankan ke yayasan, tak kunjung didapatkan. Berbagai usaha sudah ditempuh, namun yang diharapkan tak kunjung datang. Walhasil, akhirnya Bu Surahman menyediakan diri untuk merawat Endro dengan syarat si bayi dibawa ke kampung halaman mereka di Jogja. Karena, Bu Surahman tak mungkin meninggalkan Pak Surahman sendirian di kampung.

Kesepakatanpun diambil, Endro akan di Jogja sampai keduaorangtuanya mendapatkan pengasuh di Jakarta, dan setiap dua minggu sekali mereka secara bergantian akan mengunjungi Endro. Sebuah kesepakatan yang baik.

Namun, kesepakatan tinggal kesepakatan. Pengasuh yang dijanjikan tak kunjung didapatkan. Kedua orang tua Endro pun tidak pernah menunaikan janjinya untuk mengunjungi Endro dua minggu sekali. Mereka seolah tenggelam dalam hiruk pikuk kehidupan Jakarta. Dan kondisi itu terus berjalan hingga Endro menginjak usia satu tahun lebih.

*****

Kisah Endro ini, yang merupakan tetanggaku sendiri, patut dijadikan perenungan bagi kita semua, terutama pasangan yang sedang berencana memiliki anak. Bila tidak siap dengan segala konsekwensi yang harus ditanggung karena memiliki anak, lebih baik jangan punya anak. Egoisme kita demi karir duniawi, hanya akan menyisakan kesakitan pada orang lain. Dan bila yang disakiti itu adalah anak kita sendiri, darah daging kita, terlaknatlah kita…

Seberapapun besarnya kasih sayang yang diterima Endro dari kakek, nenek dan tantenya, tidaklah lebih baik daripada ia hidup bersama kedua orangtuanya, meski dalam keadaan berkekurangan. Semoga kita tidak menjadikan anak kita sebagai “Endro”…


Warning: Illegal string offset 'author_box' in /home/hardiviz/public_html/wp-content/themes/confidence/content-single.php on line 93

18 comments on “jangan punya anak!

  1. Uda…. masih banyak pasangan yang begitu uda.
    Terus terang saya pernah gemes dengan seorang teman, yang sudah mempunyai anak 3. Dia di phk dan minta sumbangan sana sini untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Dan membuat saya marah adalah dia berkata dengan gembira bahwa istrinya hamil lagi. Seakan-akan dia berkata, “Aku adalah laki-laki produktif yang bisa membuat istri hamil setiap kumau”. Tapi dia tidak memikirkan kondisi istri (yang sakit syaraf di kepala sehingga persalinan tanpa caesar sangat bahaya) dan tidak memikirkan bahwa membesarkan 3 anak yang lain juga butuh uang. Perlu diingat kondisi dia itu jobless loh Uda…. gemes ngga tuh?

    Karena kesal dengan sifatnya yang menganggap perempuan adalah “pabrik anak”, saya malas berhubungan lagi. Kabarnya sih sesudah itu dia mendapat pekerjaan. Saya memanjat syukur untuk 4 anaknya. Benar apa yang Uda katakan … JANGAN PUNYA ANAK, kalau itu hanya untuk memuaskan nafsu dan status belaka.

    sorry jadi curcol hihihi
    EM
    .-= ikkyu_san´s last blog ..Samudra dan Dermaga =-.

  2. assalammuaikum wr wb
    salam kenal dari ambo nyiak,
    ambo pendatang baru di dunia maya ko nyiak,
    kalau inyiak ndak keberatan, tolonh lah d bantu ambo dalam memuat sebuah karya

  3. Saya tidak tau persis latar belakang cerita ini seperti apa …

    Namun yang saya komentari adalah …
    “Karena hanya alasan belum dapat Pengasuh ?”
    Rasanya kok ini agak tidak masuk akal …
    Kok tega-teganya sih …

    Dan saya sependapat dengan Uda Vizon …
    Sepertinya mereka belum siap punya anak …
    Atau mungkin … mohon maaf … mereka belum siap untuk berkeluarga … (trainer.sok.tau.com)

    Namun demikian saya berdoa semoga Endro (juga keluarganya) sehat-sehat dan bahagia selalu
    dan selalu diberi jalan oleh Yang Maha Kuasa

    Salam saya Uda …
    .-= nh18´s last blog ..TRAINER NGABUR (#1) =-.

  4. uda, aku berkaca-kaca membaca tulisan ini… sungguh!!

    *kembali merenung.. sdh siapkah saya punya momongan??*
    -kalo kepingin punya momongan sih iya.. tp siap???-
    -smoga saya bener-bener telah siap andai segera dipercaya momong anak-

    (curcol dot com)
    .-= Bro Neo´s last blog ..Abrakadabra!! =-.

  5. Kasihan si anak….kalau ana sering ketemu orang yang sangat ingin punya anak tapi tidak punya anak….bahkan ana dan kawan2 pernah singgah 6 hari di rumah sepasang suami istri yang sudah tua dan tidak mungkin lagi punya anak dgn rumah yang besar jumlah kamar kalau tidak salah ada 6………(mungkin mereka persiapkan untuk anak-anak yang mereka impikan)………..mata ana jadi berkaca2 ketika menulis ini……..semoga kita semua siap untuk punya anak

  6. kasihan sekali si Endro itu…

    di Jakarta, aku melihat kecenderungan orang tua utk menitipkan anaknya kepada nenek/kakeknya sangat besar. si orang tua bekerja sepanjang hari, dan kondisi rumah mungkin kurang memungkinkan untuk mengasuh anak. biasanya sih yg aku lihat, mereka itu hanya kos di kamar yang sempit. sepertinya mereka mau tak mau harus begitu, karena penghasilan mereka tidak terlalu banyak–meskipun suami istri bekerja. repot memang. tapi ya bagaimana ya? aku sendiri sedih kalau melihat keadaan seperti itu. dan sekali lagi, yg mengalami hal seperti ini banyak sekali (di Jakarta).

    aku pikir jika orang (pasangan suami istri) memutuskan untuk memiliki anak, sebenarnya itu keputusan besar. sebab akan banyak konsekwensinya. kalau sekadar menuruti senang, ya senang. tapi bagaimanapun banyak konsekwensi yang mungkin tidak semua orang siap untuk menjalaninya.
    .-= krismariana´s last blog ..Kenangan di Hari Hujan =-.

  7. Begitulah ironi dunia, Da. Banyak orang yang dikaruniai anak, menyia-nyiakan anaknya. Sementara ada orang yang pengin punya anak, tapi tidak dikaruniai anak.

    Lebih sedih lagi kalau kita melihat di Yayasan Sayap Ibu. Anak-anak itu bukan hanya dititipkan kepada kakek-neneknya, tapi dibuang di pinggir jalan, bahkan di tong sampah … Kepedihan semakin menyayat jika kondisi anak itu cacat fisik maupun psikis …

    Sungguh cermin kehidupan yang patut kita jadikan renungan.
    .-= Tuti Nonka´s last blog ..Passionate & Companionate Love =-.

  8. wah, sedih baca kisah yang begini. mereka yang mudah punya anak justru menyia-nyiakan anaknya..
    Tapi yang udah kepengen punya anak, nggak segera dikasih anak.

    Aku heran, tetanggaku di sini, ada yang punya anak 9 orang dan 11 orang…byuh…byuh…kasihan si ibu deh..
    .-= nanaharmanto´s last blog ..Penghuni Kolam Kenangan =-.

  9. Sedih :(
    SOal kesiapan itu jugalah uda yang m,embuat saya dan suami sepakat menunda sementara memiliki momongan. Karena sungguh kita ingin menjaga amanah tititpan Tuhan dengan sepenuh hati bukan dengan ada rasa terpaksa walaupun seidkit…

    Perenungan yang bagus uda….
    .-= Eka Situmorang-Sir´s last blog ..Metamorfosa =-.

  10. duh, kasihan sekali Endro ini, kalau saja boleh dan bisa memilih, tentunya Endro tdk akan mau punya ortu yg tdk bertanggung jawab ini.
    Mereka benar2 tdk mensyukuri nikmat dan berkah dr Allah swt.
    duniawi dicari tdk akan pernah selesai, malah semaikn menuntut dan menjerat.
    semoga Endro menjadi anak yg sholeh, agar bisa mendoakan ortunya.
    salam.
    .-= bundadontworry´s last blog ..Haji Mabrur (2). =-.

  11. kisahnya persis sekalu Gus Vizon seperti kakakku. kedua orang tuanya di jakarta bekerja, anaknya di rawat oleh neneknya di Bandung. mereka pulang ya kalau masing2 ada waktu kadang satu mingu, kadang satu bulan sekali. kasihan si bayi….
    .-= Badruz´s last blog ..Kudung =-.

  12. MasyaAllah… awalnya sempat terpikir olehku Uda Vizon sedang menulis cerpen, ternyata kisah nyata… *berkaca-kaca*

    Sebenarnya saya ngga heran dengan kisah seperti ini, karena sudah terlalu sering mendengarnya di Jakarta. Tapi tak urung hati ini jadi sedih setiap membayangkan betapa egoisme kerapkali berbenturan dengan hakikat mereka yang sudah menjadi orang tua, lengkap dengan segala hak dan tanggung jawabnya. Masih untung punya kakek dan nenek. Kalo enggak, entah di tempat macam apa pula Endro akan dititipkan..

    Jadi, kalau belum siap punya anak, jangan bikin anak dulu ya, Da? :-D
    .-= anderson´s last blog ..Soyjoy Anniversary =-.

  13. MasyaAllah… awalnya sempat terpikir olehku Uda Vizon sedang menulis cerpen, ternyata kisah nyata… *berkaca-kaca*

    Sebenarnya saya ngga heran dengan kisah seperti ini, karena sudah terlalu sering mendengarnya di Jakarta. Tapi tak urung hati ini jadi sedih setiap membayangkan betapa egoisme kerapkali berbenturan dengan hakikat mereka yang sudah menjadi orang tua, lengkap dengan segala hak dan tanggung jawabnya. Masih untung punya kakek dan nenek. Kalo enggak, entah di tempat macam apa pula Endro akan dititipkan..

    Jadi, kalau belum siap punya anak, jangan bikin anak dulu ya, Da? :-D

  14. Sedih sekali membaca cerita di atas dan membayangkan nasibnya Endro. Seorang anak tak ingin dilahirkan, dan tak cukup hanya diberikan limpahan materi. Anak membutuhkan kasih sayang, kebanggaan orangtua.
    Saya heran Uda, karir sering menjadi sebuah alasan, namun saya percaya masih banyak perempuan yang bangga menjadi ibu sekaligus sebagai wanita karir. Karena lingkungan kerjaku banyak yang masih baik, ibu tetap berkarir dan anak-anaknya terurus dengan baik, dan rata2 diterima di universitas negeri. Tinggal kepada kita masing-masing, prioritas nya kemana. Jika terjadi masalah, pada umumnya seorang perempuan akan meletakkan keluarga di atas karirnya.

    Saya bersyukur mempunyai suami, dan atasan yang baik, yang selalu mendukungku jika pada saat-saat tertentu ada masalah, mis. si mbak pulang kampung tak kembali lagi.
    .-= edratna´s last blog ..Menikmati perjalanan Jakarta-Bandung =-.

  15. haduhhh ceritanya sedih :(
    kok mereka tidak bertanggung jawab begitu ya uda?
    setidaknya bertelp kan gak susah setiap hari…masak iya mereka gak kangen sama anak sendiri..

    semoga nanti ketika sudah diberi kepercayaan memiliki anak sendiri diriku tidak seperti mereka…
    .-= Ria´s last blog ..Koala Baruku =-.

Komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jawab dulu ya pertanyaan di bawah ini sebelum kirim komentar, biar tidak dianggap spam.. :) *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>