senyum tulus
25
Posted by Vizon | Posted in bunga rampai | Posted on 05-12-2009
Tags: ibadah, keikhlasan, sedekah, senyum, tulus
Dalam salah satu hadisnya, Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa tersenyum adalah ibadah dan ianya sama dengan sedekah. Bahagia sekali rasanya bila dalam setiap kali bertemu dengan seseorang, ia memberi kita senyuman terindahnya. Dan tentunya kita juga merasa bahagia bila mampu memberi senyuman terbaik kita buat orang yang kita temui.
Senyum adalah ekspresi jiwa. Bila jiwa kita bahagia, akan keluar senyuman yang mengandung kebahagiaan di dalamnya. Karena ia adalah bahasa jiwa, maka yang merasakannya juga adalah jiwa orang yang diberi senyuman itu. Ketulusan atau keterpaksaan senyuman seseorang akan sangat terasa di jiwa kita.
Sebagai contoh, senyuman seorang Satpam di pintu sebuah bank atau senyuman seorang resepsionis akan sangat terasa oleh kita sebagai senyuman basa-basi. Sama sekali tidak menyejukkan jiwa, meski ditunjukkan dengan ekspresi yang paling manis.
Kenapa aku kok ujug-ujug membicarakan soal senyum? Apakah ini ada hubungannya dengan status facebook nyasarku tempo hari? Oh bukan… ini tidak ada hubungannya sama sekali. Ini adalah soal senyuman sok ramah yang kuterima beberapa hari ini dari seseorang yang membuatku jengah!
Adalah seorang guru baru di sekolah putriku Satira. Dia baru diangkat menjadi pegawai negeri dan ditempatkan di sekolah tersebut. Sebelumnya, ia cukup lama menjadi guru honorer di sebuah sekolah swasta. Ia resmi menjadi PNS sekitar 6 bulan yang lalu dan ditempatkan di sekolah putriku tersebut.
Selama 6 bulan sebelum ini, setiap kali ia bertemu denganku, tidak ada satupun senyuman manis tersungging di bibirnya. Ia hanya menganggukkan kepala sedikit, bila tanpa sengaja berpapasan denganku. Bahkan sangat sering ia pura-pura tidak melihatku bila setiap pagi aku mengantar putriku kesekolah dan Pak Guru tersebut sedang berdiri di depan gerbang menyambut kedatangan murid-muridnya.
Sebetulnya aku sama sekali tidak peduli dengan keadaan itu, sampai saat aku melihat perubahan sikapnya yang drastis kepadaku dua minggu belakangan. Secara mengejutkan, setiap kali bertemu, ia memberiku senyumannya paling lebar dan paling manis dalam versi dia. Bahkan setiap pagi, ketika aku mengantar putriku, dari kejauhan ia sudah mengalihkan pandangan padaku dan menunjukkan penghormatan yang lebay nian, tersenyum sambil membungkuk-bungkukkan kepala. Hatiku merasakan ketidaktulusannya.
Kejadian itu berawal ketika ia diminta Kepala Sekolah untuk menemuiku. Kebetulan ada sebuah dokumen penting yang harus aku tandatangani sebagai Ketua Komite. Memang sejak ia masuk ke sekolah tersebut, aku selalu berhalangan setiap kali ada acara seremonial. Sehingga sambutan Ketua Komite diwakilkan oleh wakil ketua. Makanya, si Pak Guru tadi sama sekali tidak mengetahui posisiku di sekolah tersebut. Ketika menyerahkan dokumen yang harus aku tandatangani itulah terlihat sikap salah tingkahnya.
“Oalah… ternyata njenengan ini Ketua Komite kita tho?”
“Emangnya kenapa Pak?”
“Maafkan saya Pak, soalnya selama ini saya kira njenengan wali murid biasa”
“Saya memang wali murid biasa kok Pak, gak ada yang luar biasa…”
Dan… persis sejak kejadian itu, sikapnya berubah drastis kepadaku seperti yang kuceritakan di atas. Sama sekali aku tidak bangga dihormati secara berlebihan begitu olehnya. Lebih baik dia bersikap “dingin” seperti semula, daripada harus sok hormat, tapi bersebab… huh!
Mengapa ia harus membedakan para wali murid? Bukankah sebagai guru ia harus mengormati semua wali murid tanpa pandang bulu? Seharusnya ia tersenyum selebar-lebarnya kepada semua wali murid yang ia temui, di manapun dan kapanpun. Tapi ini… setelah ia mengetahui “siapa” aku, barulah ia bersikap yang benar-benar membuatku jengah…!
So… tersenyum memang ibadah, ia bisa disamakan dengan sedekah. Tapi, tentunya senyuman yang dimaksud adalah senyuman penuh keikhlasan dan ketulusan, bukan senyuman yang bersebab. Jangan hormati orang lain karena sesuatu yang disandangnya, tapi hormatilah ia sebagai sesama manusia…




hahahah kena batunya deh tuh guru.
Tapi banyak kan yang begitu di Indonesia Uda?
Yang bekerja menjual jasa aja, tidak bekerja dari “hati”…mana ada senyum tulus pada pembeli sih?
Mana ada semboyan, “Pembeli adalah Raja”?
Intinya….tidak mengahayati pekerjaan dan tugasnya!
senyum yang tulus buat semua di Kweni
EM
ikkyu_san´s last blog ..Sedangkan Ubi Kuliah!
[Reply]
nh18 Reply:
December 7th, 2009 at 5:29 pm
Jiiiaaahhh …
Skeptis lagi si EM ini …
nh18´s last blog ..FESTIVAL VOKAL GROUP
[Reply]
nh18 Reply:
December 7th, 2009 at 5:30 pm
Jiiiaaahhh …

Skeptis lagi si EM ini …
nh18´s last blog ..FESTIVAL VOKAL GROUP
[Reply]
hehhhehh da vizon, kasian banget pak guru itu.. senyum kok ya milih-milih
ada kalimat bijak:
tersenyumlah pada seseorang, walaupun dia asing bagimu. karena bisa jadi senyumanmu adalah satu-satunya hal terindah yang bisa dia lihat sepanjang hari.
betapa tersenyum adalah sedekah, seperti yang diajarkan Rasulullah SAW
nakjaDimande´s last blog ..Ku Cium Wangi Rendang di Langit Bukittinggi
[Reply]
kenapa begitu
kenapa harus begitu
waktu kecil razaq diajarin untuk senyum kepada semua orang
udah smp masih tersenyum
sekarang udah sma hanya memnerikan senyum hangat kepada yang dikenal saja. kalau kepada orang lain hanya untuk basa basi
mungkinkah saat bekerja nanti razaq akan seperti pak guru diatas. penjilat kotor yang memandang bulu (maniak mungkin)
atau akankah razaq berubah ke arah yang lebih baik
hanya razaq dan Allah yang tau
[Reply]
jadi inget lagu nasyidnya reihan “senyuman dari hati, jatuh ke hati” dan tentunya, senyuman yang menjilat, juga membuat kita terasa terjilat uda….
[Reply]
Waduhh kasihan amat..padahal kalau kita senang dan tersenyum pada orang lain, maka orang lain tsb juga akan memberi senyuman pada kita…
Tapi memang banyak kok yang seperti itu Uda, padahal senyum itu kan hal paling mudah…dan hati lebih ringan dibanding cemberut kan?
edratna´s last blog ..Prospek Investasi dan Perbankan dalam Perekonomian Indonesia
[Reply]
senyum dulu ah
jangan salah sangka dulu, mungkin selama ini beliau lagi sakit gigi ato sariawan ato ada masalah dirumah, dipunggungin istri misalnya
kebetulan pada saat masalahnya diatas sembuh pas juga dengan minta ttd dokumen ke uda. jadi seolah-olah senyumnya bersebab padahal sakit giginya sudah sembuh pada waktu itu,

Wempi´s last blog ..JaMU-1 JUG Bukit Barisan
[Reply]
senyum, tapi kebanyakan senyum malah ntar dikira cengengesan, ndak ada wibawa. Mungkin pula sang guru terbiasa jarang senyum karena ingin punya wibawa di depan murid sebagai guru yang (terlihat) serius. Tapi sayangnya senyumnya pak guru ternyata juga senyum birokrasi…
mawi wijna´s last blog ..Semarak Kirab Budaya di Jogja
[Reply]
Saya paling sebel dengan orang2 seperti itu, Uda.
Orang yang memandang orang lain dari jabatannya… aku pernah ada di posisimu. Semula eneg rasanya tapi lama2 ku ‘main’ kan juga terutama kalau yang menyapa itu adalah cewek hahahaha..
Yang semula sok cuek lantas kubuat sampai terkinthil kinthil hahaha
)
DV´s last blog ..New Moon Bikin Manyun?
[Reply]
Tuti Nonka Reply:
December 9th, 2009 at 8:09 pm
What??!! Terkinthil-kinthil? Lha kok koyo wedus (inthil kuwi rak telek wedus to Don?
)
Tuti Nonka´s last blog ..Alamaaak … !
[Reply]
hehehehe seperti tulisanku yang judulnya “opsss” itu Uda, Intinya don’t judge book from it’s cover…kita gak akan tau sehebat apa dia sebelum kita kenal
maka dari itu kalau memang senyum adalah sesuatu yg bisa di bagikan sebagai tindakan ramah terhadap orang lain tanpa melihat apa yg di pakai atau siapa dia…why not? gak rugi kok 

Ria´s last blog ..Kecewa Karenamu
[Reply]
aurora Reply:
December 7th, 2009 at 8:50 pm
iiih… kak ria itu mulu… don’t judge the book by it’s cover… don’t judge the book by it’s cover… eh, tapi emang benar sih ya…
aurora´s last blog ..tukang ojek itu begitu cerewet
[Reply]
Ria Reply:
December 8th, 2009 at 11:20 am
lahhh memang bener kan
kamu nih protes aja

Ria´s last blog ..Hatiku
[Reply]
Senyum Sang Pak Guru ternyata hanya untuk orang-orang “luar biasa”. Terhadap orang biasa, senyumnya tak ia berikan. Saya menduga, kelak saat ia diberi amanat jabatan, ia berpotensi menjadi orang yang jumawa, akan merendahkan orang yang tidak “selevel” dengannya. Baru diangkat PNS saja, ia sudah pelit dengan senyum.
racheedus´s last blog ..Kerinduanku
[Reply]
Dalam pergaulan sehari-hari, banyak ditemui istilah: Senyum manis, senyum pahit, senyum getir, senyum miring, dll…
Semua itu cerminan apa yang mungkin sedang ia rasakan. Nah, kalau pekerjaannya mengharuskan untuk selalu tersenyum dan terlihat bahagia (contoh: teller bank, artis atau pelawak), apakah bisa ia menutupi suara hatinya yang memaksa untuk diejawantahkan dalam sebentuk senyum? Berat, namun sepertinya banyak yang bisa melakukannya.
Apapun, mendapatkan senyum yang manis, dari hati yang ikhlas akan terasa sangat membahagiakan ya, Da?
anderson´s last blog ..How Superstitious Are You?
[Reply]
Hah …
Kena batunya dia …
Dan yang perlu dicatat lagi uda …
Dia baru diangkat 6 bulan jadi PNS … (setelah honorer di sekolah swasta)
Baru 6 bulan diangkat sodara-sodara …
Bagaimana jika bertahun ?
But yang jelas …
Semoga ybs … bisa sadar …
Senyum … Atau apapun itu tindakan kita … seyogyanya harus didasari oleh perasaan ikhlas …
(tidak “tendensius” dan “pamrihius” seperti itu)
Semoga ya Uda …
Salam saya
nh18´s last blog ..FESTIVAL VOKAL GROUP
[Reply]
Saya juga punya pengalaman yg hampir serupa tapi dalam arah kebalikannya. Ada dosen jurusan lain yg anaknya jadi mahasiswa kami. Waktu anaknya masih berstatus mahasiswa dia ramahnya bukan main kepada saya dan mungkin juga teman dosen lainnya. Senyum, “say hai” dan basa-basi lainnya kalau ketemu di koridor atau di tangga. Tapi setelah anaknya lulus sikapnya berubah jadi biasa-biasa saja, bahkan terkesan “dingin” (paling tidak ini yg saya rasakan).
Oemar Bakrie´s last blog ..In memoriam, Albert Tarantola
[Reply]
Owww njenengan ketua komite to uda
*SENYUMMMMMM*
AFDHAL´s last blog ..Email Berantai
[Reply]
oooo….jadi kalau kasih senyum tuharus ada alasannya ya, kalau dia pejabat baru kita kasih senyum, kalau dia kaya baru kita kasih senyum, kalau dia ganteng baru kita kasih senyum….
Aih……..sebel betul sy dengan orang seperti itu…
Semoga saya tidak begitu….
yustha tt´s last blog ..ikutan parade puisi…
[Reply]
Da, ada juga lho yang enggan senyum, karena kalau senyum kelihatan gigi ompongnya, atau jadi sipit matanya …
)
Saya sendiri nggak begitu pede senyum, soalnya pipi jadi tembem … hehehe … (tapi teuteup senyum terus
Tuti Nonka´s last blog ..Alamaaak … !
[Reply]
Duh, pasti BT banget ya Uda kalau disenyumi karena embel2 tertentu. Anggap saja dia dulu waktu belum biasa tersenyum, sedang sakit gigi atau gigi palsu untuk menutupi ompongnya belum jadi. Tapi Uda tetep tersenyum tulus kan buat dia?

krismariana´s last blog ..Amplop Sumbangan
[Reply]
he…he….terlihat sekali ya Nyiak ketidak tulusan senyuman dr pak guru tsb.
kenapa tersenyum saja kok harus lihat2 dulu siapa orang hrs disenyumi, repot banget deh.
salam.
bundadontworry´s last blog ..Pengaruh Makanan pd Perilaku.
[Reply]
senyum yang tulus memang sangat menyejukkan Uda, senyum yang keluar dari hati.
Kadang aku justru iba sama orang orang yang “terpaksa” tersenyum karena “tuntutan” pekerjaan, padahal udah kelihatan kalo sebenarnya capek banget
Bro Neo´s last blog ..Bergelayut
[Reply]
hmmm, miris memang kalo melihat seeorang tersenyum karena sesuatu hal, yang bukan karena ketulusan dan ibadah. padahal, selain pahala itu ibadah dan menyenangkan utnuk orang lain, senyum juga sanagat baik untuk hal kesehatan. terutama kesehatan yang berhubungan dengan aspek mental psikologis
zulhaq´s last blog ..Lebih Baik Sinting Daripada BT
[Reply]