senyum tulus


Warning: Illegal string offset 'single_featured_image' in /home/hardiviz/public_html/wp-content/themes/confidence/content-single.php on line 69

Dalam salah satu hadisnya, Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa tersenyum adalah ibadah dan ianya sama dengan sedekah. Bahagia sekali rasanya bila dalam setiap kali bertemu dengan seseorang, ia memberi kita senyuman terindahnya. Dan tentunya kita juga merasa bahagia bila mampu memberi senyuman terbaik kita buat orang yang kita temui.

Senyum adalah ekspresi jiwa. Bila jiwa kita bahagia, akan keluar senyuman yang mengandung kebahagiaan di dalamnya. Karena ia adalah bahasa jiwa, maka yang merasakannya juga adalah jiwa orang yang diberi senyuman itu. Ketulusan atau keterpaksaan senyuman seseorang akan sangat terasa di jiwa kita.

Sebagai contoh, senyuman seorang Satpam di pintu sebuah bank atau senyuman seorang resepsionis akan sangat terasa oleh kita sebagai senyuman basa-basi. Sama sekali tidak menyejukkan jiwa, meski ditunjukkan dengan ekspresi yang paling manis.

Kenapa aku kok ujug-ujug membicarakan soal senyum? Apakah ini ada hubungannya dengan status facebook nyasarku tempo hari? Oh bukan… ini tidak ada hubungannya sama sekali. Ini adalah soal senyuman sok ramah yang kuterima beberapa hari ini dari seseorang yang membuatku jengah!

Adalah seorang guru baru di sekolah putriku Satira. Dia baru diangkat menjadi pegawai negeri dan ditempatkan di sekolah tersebut. Sebelumnya, ia cukup lama menjadi guru honorer di sebuah sekolah swasta. Ia resmi menjadi PNS sekitar 6 bulan yang lalu dan ditempatkan di sekolah putriku tersebut.

Selama 6 bulan sebelum ini, setiap kali ia bertemu denganku, tidak ada satupun senyuman manis tersungging di bibirnya. Ia hanya menganggukkan kepala sedikit, bila tanpa sengaja berpapasan denganku. Bahkan sangat sering ia pura-pura tidak melihatku bila setiap pagi aku mengantar putriku kesekolah dan Pak Guru tersebut sedang berdiri di depan gerbang menyambut kedatangan murid-muridnya.

Sebetulnya aku sama sekali tidak peduli dengan keadaan itu, sampai saat aku melihat perubahan sikapnya yang drastis kepadaku dua minggu belakangan. Secara mengejutkan, setiap kali bertemu, ia memberiku senyumannya paling lebar dan paling manis dalam versi dia. Bahkan setiap pagi, ketika aku mengantar putriku, dari kejauhan ia sudah mengalihkan pandangan padaku dan menunjukkan penghormatan yang lebay nian, tersenyum sambil membungkuk-bungkukkan kepala. Hatiku merasakan ketidaktulusannya.

Kejadian itu berawal ketika ia diminta Kepala Sekolah untuk menemuiku. Kebetulan ada sebuah dokumen penting yang harus aku tandatangani sebagai Ketua Komite. Memang sejak ia masuk ke sekolah tersebut, aku selalu berhalangan setiap kali ada acara seremonial. Sehingga sambutan Ketua Komite diwakilkan oleh wakil ketua. Makanya, si Pak Guru tadi sama sekali tidak mengetahui posisiku di sekolah tersebut. Ketika menyerahkan dokumen yang harus aku tandatangani itulah terlihat sikap salah tingkahnya.

Oalah… ternyata njenengan ini Ketua Komite kita tho?”
“Emangnya kenapa Pak?”
“Maafkan saya Pak, soalnya selama ini saya kira njenengan wali murid biasa”
“Saya memang wali murid biasa kok Pak, gak ada yang luar biasa…”

Dan… persis sejak kejadian itu, sikapnya berubah drastis kepadaku seperti yang kuceritakan di atas. Sama sekali aku tidak bangga dihormati secara berlebihan begitu olehnya. Lebih baik dia bersikap “dingin” seperti semula, daripada harus sok hormat, tapi bersebab… huh!

Mengapa ia harus membedakan para wali murid? Bukankah sebagai guru ia harus mengormati semua wali murid tanpa pandang bulu? Seharusnya ia tersenyum selebar-lebarnya kepada semua wali murid yang ia temui, di manapun dan kapanpun. Tapi ini… setelah ia mengetahui “siapa” aku, barulah ia bersikap yang benar-benar membuatku jengah…!

So… tersenyum memang ibadah, ia bisa disamakan dengan sedekah. Tapi, tentunya senyuman yang dimaksud adalah senyuman penuh keikhlasan dan ketulusan, bukan senyuman yang bersebab. Jangan hormati orang lain karena sesuatu yang disandangnya, tapi hormatilah ia sebagai sesama manusia… :) :) :)


Warning: Illegal string offset 'author_box' in /home/hardiviz/public_html/wp-content/themes/confidence/content-single.php on line 93

25 comments on “senyum tulus

  1. hahahah kena batunya deh tuh guru.
    Tapi banyak kan yang begitu di Indonesia Uda?
    Yang bekerja menjual jasa aja, tidak bekerja dari “hati”…mana ada senyum tulus pada pembeli sih?
    Mana ada semboyan, “Pembeli adalah Raja”?
    Intinya….tidak mengahayati pekerjaan dan tugasnya!

    senyum yang tulus buat semua di Kweni
    EM
    .-= ikkyu_san´s last blog ..Sedangkan Ubi Kuliah! =-.

  2. hehhhehh da vizon, kasian banget pak guru itu.. senyum kok ya milih-milih :D

    ada kalimat bijak:
    tersenyumlah pada seseorang, walaupun dia asing bagimu. karena bisa jadi senyumanmu adalah satu-satunya hal terindah yang bisa dia lihat sepanjang hari.

    betapa tersenyum adalah sedekah, seperti yang diajarkan Rasulullah SAW
    .-= nakjaDimande´s last blog ..Ku Cium Wangi Rendang di Langit Bukittinggi =-.

  3. kenapa begitu
    kenapa harus begitu

    waktu kecil razaq diajarin untuk senyum kepada semua orang
    udah smp masih tersenyum
    sekarang udah sma hanya memnerikan senyum hangat kepada yang dikenal saja. kalau kepada orang lain hanya untuk basa basi

    mungkinkah saat bekerja nanti razaq akan seperti pak guru diatas. penjilat kotor yang memandang bulu (maniak mungkin)
    atau akankah razaq berubah ke arah yang lebih baik
    hanya razaq dan Allah yang tau

  4. jadi inget lagu nasyidnya reihan “senyuman dari hati, jatuh ke hati” dan tentunya, senyuman yang menjilat, juga membuat kita terasa terjilat uda….

  5. senyum dulu ah :)

    jangan salah sangka dulu, mungkin selama ini beliau lagi sakit gigi ato sariawan ato ada masalah dirumah, dipunggungin istri misalnya :lol:

    kebetulan pada saat masalahnya diatas sembuh pas juga dengan minta ttd dokumen ke uda. jadi seolah-olah senyumnya bersebab padahal sakit giginya sudah sembuh pada waktu itu, :lol:
    .-= Wempi´s last blog ..JaMU-1 JUG Bukit Barisan =-.

  6. senyum, tapi kebanyakan senyum malah ntar dikira cengengesan, ndak ada wibawa. Mungkin pula sang guru terbiasa jarang senyum karena ingin punya wibawa di depan murid sebagai guru yang (terlihat) serius. Tapi sayangnya senyumnya pak guru ternyata juga senyum birokrasi…
    .-= mawi wijna´s last blog ..Semarak Kirab Budaya di Jogja =-.

  7. Saya paling sebel dengan orang2 seperti itu, Uda.
    Orang yang memandang orang lain dari jabatannya… aku pernah ada di posisimu. Semula eneg rasanya tapi lama2 ku ‘main’ kan juga terutama kalau yang menyapa itu adalah cewek hahahaha..

    Yang semula sok cuek lantas kubuat sampai terkinthil kinthil hahaha :))
    .-= DV´s last blog ..New Moon Bikin Manyun? =-.

  8. hehehehe seperti tulisanku yang judulnya “opsss” itu Uda, Intinya don’t judge book from it’s cover…kita gak akan tau sehebat apa dia sebelum kita kenal :D maka dari itu kalau memang senyum adalah sesuatu yg bisa di bagikan sebagai tindakan ramah terhadap orang lain tanpa melihat apa yg di pakai atau siapa dia…why not? gak rugi kok :)
    .-= Ria´s last blog ..Kecewa Karenamu =-.

  9. Senyum Sang Pak Guru ternyata hanya untuk orang-orang “luar biasa”. Terhadap orang biasa, senyumnya tak ia berikan. Saya menduga, kelak saat ia diberi amanat jabatan, ia berpotensi menjadi orang yang jumawa, akan merendahkan orang yang tidak “selevel” dengannya. Baru diangkat PNS saja, ia sudah pelit dengan senyum.
    .-= racheedus´s last blog ..Kerinduanku =-.

  10. Dalam pergaulan sehari-hari, banyak ditemui istilah: Senyum manis, senyum pahit, senyum getir, senyum miring, dll…
    Semua itu cerminan apa yang mungkin sedang ia rasakan. Nah, kalau pekerjaannya mengharuskan untuk selalu tersenyum dan terlihat bahagia (contoh: teller bank, artis atau pelawak), apakah bisa ia menutupi suara hatinya yang memaksa untuk diejawantahkan dalam sebentuk senyum? Berat, namun sepertinya banyak yang bisa melakukannya.

    Apapun, mendapatkan senyum yang manis, dari hati yang ikhlas akan terasa sangat membahagiakan ya, Da?
    .-= anderson´s last blog ..How Superstitious Are You? =-.

  11. Hah …
    Kena batunya dia …
    Dan yang perlu dicatat lagi uda …
    Dia baru diangkat 6 bulan jadi PNS … (setelah honorer di sekolah swasta)
    Baru 6 bulan diangkat sodara-sodara …
    Bagaimana jika bertahun ?

    But yang jelas …
    Semoga ybs … bisa sadar …
    Senyum … Atau apapun itu tindakan kita … seyogyanya harus didasari oleh perasaan ikhlas …
    (tidak “tendensius” dan “pamrihius” seperti itu)
    Semoga ya Uda …

    Salam saya
    .-= nh18´s last blog ..FESTIVAL VOKAL GROUP =-.

  12. Saya juga punya pengalaman yg hampir serupa tapi dalam arah kebalikannya. Ada dosen jurusan lain yg anaknya jadi mahasiswa kami. Waktu anaknya masih berstatus mahasiswa dia ramahnya bukan main kepada saya dan mungkin juga teman dosen lainnya. Senyum, “say hai” dan basa-basi lainnya kalau ketemu di koridor atau di tangga. Tapi setelah anaknya lulus sikapnya berubah jadi biasa-biasa saja, bahkan terkesan “dingin” (paling tidak ini yg saya rasakan).
    .-= Oemar Bakrie´s last blog ..In memoriam, Albert Tarantola =-.

  13. oooo….jadi kalau kasih senyum tuharus ada alasannya ya, kalau dia pejabat baru kita kasih senyum, kalau dia kaya baru kita kasih senyum, kalau dia ganteng baru kita kasih senyum….
    Aih……..sebel betul sy dengan orang seperti itu…
    Semoga saya tidak begitu….
    .-= yustha tt´s last blog ..ikutan parade puisi… =-.

  14. Da, ada juga lho yang enggan senyum, karena kalau senyum kelihatan gigi ompongnya, atau jadi sipit matanya …
    Saya sendiri nggak begitu pede senyum, soalnya pipi jadi tembem … hehehe … (tapi teuteup senyum terus :) )
    .-= Tuti Nonka´s last blog ..Alamaaak … ! =-.

  15. Duh, pasti BT banget ya Uda kalau disenyumi karena embel2 tertentu. Anggap saja dia dulu waktu belum biasa tersenyum, sedang sakit gigi atau gigi palsu untuk menutupi ompongnya belum jadi. Tapi Uda tetep tersenyum tulus kan buat dia? :)
    .-= krismariana´s last blog ..Amplop Sumbangan =-.

  16. senyum yang tulus memang sangat menyejukkan Uda, senyum yang keluar dari hati.
    Kadang aku justru iba sama orang orang yang “terpaksa” tersenyum karena “tuntutan” pekerjaan, padahal udah kelihatan kalo sebenarnya capek banget
    .-= Bro Neo´s last blog ..Bergelayut =-.

  17. hmmm, miris memang kalo melihat seeorang tersenyum karena sesuatu hal, yang bukan karena ketulusan dan ibadah. padahal, selain pahala itu ibadah dan menyenangkan utnuk orang lain, senyum juga sanagat baik untuk hal kesehatan. terutama kesehatan yang berhubungan dengan aspek mental psikologis
    .-= zulhaq´s last blog ..Lebih Baik Sinting Daripada BT =-.

Komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jawab dulu ya pertanyaan di bawah ini sebelum kirim komentar, biar tidak dianggap spam.. :) *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>