milikku seperenam


Warning: Illegal string offset 'single_featured_image' in /home/hardiviz/public_html/wp-content/themes/confidence/content-single.php on line 69

Ketika kau telah memutuskan untuk menikah, maka saat itulah dirimu sudah tidak lagi jadi milikmu sepenuhnya. Bagilah jiwa dan ragamu sebanyak anggota keluargamu.

Kita perlu memiliki kontrol akan diri kita, sehingga tidak mudah terperosok dalam liang kenistaan. Salah satu alat kontrol yang efektif menurutku adalah kesadaran akan adanya jiwa-jiwa lain selain jiwa kita yang menggelayut dengan diri kita, yakni keluarga.

Aku, setelah memiliki istri, bertekad dalam hati untuk membagi jiwa dan ragaku menjadi dua. Setengah untuk istriku dan setengah lagi untuk diriku sendiri. Namun, begitu punya anak, maka pembagian itupun berubah. Dengan empat orang anak yang kami miliki, maka itu berarti dalam rumah kami ada 6 jiwa; aku, istriku dan keempat anakku. Dengan demikian, maka aku bagi jiwa dan raga ini menjadi enam bagian. Lima perenam kuberikan dan kucurahkan bagi istri dan anak-anakku, sementara yang seperenam lagi barulah milikku sepenuhnya.

Oleh karenanya, sebagian besar dalam diriku ini adalah hak keluargaku, dan hanya sedikit yang menjadi milikku sendiri. Kesadaran ini sengaja kubangun sebagai benteng dan pengingat diriku ketika ada godaan mendekati. Sebagai contoh, ketika ada godaan untuk melakukan tindakan yang akan merusak kesucian diri, lima perenam diriku segera mengingatkanku untuk tidak melakukannya. Ada banyak suara di benakku yang melarang untuk itu. Seolah mereka berkata: “Ingat, ada lima jiwa yang akan terancam dan rusak karena perbuatanmu ini”. Dan alhamdulillah, godaan itupun dapat kutepis.

Pemikiran ini bukan muncul begitu saja. Ada yang menginspirasiku, yaitu Ibuku tercinta.

Ibuku adalah seorang perempuan kuat dan tegar yang pernah kukenal. Seluruh hidupnya diberikan untuk kami, anak-anaknya. Bahkan, di senja usianya pun, beliau masih memberikan waktunya untuk sang cucu.

Seperti yang pernah kuceritakan dalam postinganku berjudul “Adikku”, aku 8 bersaudara, 7 di antaranya adalah laki-laki. Terbayang kan betapa hebohnya rumah kami ketika masa kanak-kanak? Tidak ada satupun ruang di rumah kami yang bebas dari tangan jail kami. Di mana-mana ada saja yang berantakan. Belum lagi pertengkaran-pertengkaran antara kami yang tentu saja dapat menyulut emosi orangtua kami.

Ibuku, menjalankan itu semua sendirian. Mengurus kami dan rumah tanpa bantuan asisten rumah tangga sama sekali. Paling hanya urusan mencuci pakaian dan menyetrika yang beliau perbantukan kepada orang lain. Belum lagi beliau harus membantu ayahku di rumah makan kami, mengontrol juru masak atau hal lainnya yang berkaitan dengan kualitas masakan.

Namun, tak pernah kudengar keluhan dari mulut beliau. Suatu ketika, kucoba tanyakan kepada beliau mengapa beliau bekerja begitu keras dan nyaris tanpa istirahat. Beliau menjawab: “Jiwa dan raga Mama ini sepenuhnya untuk kalian”.

Kalimat itu terus terngiang di benakku, sampai saat ini. Dan kalimat itupun yang menginspirasiku untuk melakukan hal yang sama terhadap keluargaku.

Ibuku memang kuat dan tegar. Aku selalu merindukan berada di dekatnya. Duduk bersama di teras depan rumah kami ketika sore menjelang, menikmati secangkir kopi atau teh dengan panganan ringan yang selalu beliau sediakan adalah sebuah momen yang selalu memanggilku untuk pulang. Aih… semoga masih banyak waktuku untuk dapat menikmati cinta suci dari Ibuku…

“Mama, terima kasih atas petuah dahsyatmu. Terima kasih atas kehangatan cintamu. Terima kasih atas segalanya….”


(Tulisan ini dipersembahkan untuk memenuhi undangan Guskar)


Warning: Illegal string offset 'author_box' in /home/hardiviz/public_html/wp-content/themes/confidence/content-single.php on line 93

54 comments on “milikku seperenam

  1. huhuhuhu Uda….
    sukses membuat aku menangis….ingat Mama deh
    Ya IBU adalah perempuan yang tangguh dan hebat!

    (tulisannya dalam rangka Hari Ibu ya? eh itu linknya Guskar salah deh uda…)

    EM
    .-= ikkyu_san´s last blog ..It’s Christmas Time =-.

    • Iya nechan, tulisan ini dalam rangka hari Ibu.
      he-eh link-nya guskar salah, udah ku perbaiki tuh, thanks ya…

      Btw, nechan juga salah seorang Ibu yang kuat dan tegar yang pernah kukenal… selamat hari ibu juga buat nechan… :D

  2. Ah postingan ini Uda …
    Postingan ini sungguh sederhana namun sangat menyentuh …

    (saya tak mau dikatakan cengeng … tapi kenyataannya mata saya berkaca-kaca ketika membaca postingan uda ini … mengingat ibu saya dirumah … yang kini juga hanya tinggal berdua saja dengan bapak … )

    Ah Uda …
    Semoga Mama Uda sehat-sehat selalu …

    Salam saya Uda
    .-= nh18´s last blog ..NOTES KECIL =-.

    • untuk urusan ingat dengan ibunda kita, tidak ada kata cengeng. kesedihan kita bukan karena ketidaktegaran, tapi keharuan yang mendalam akibat cinta ibu yang begitu tulus dan terus mengalir dalam diri kita. maka, biarkan saja bila ada air mata mengalir karena mengingat ibunda…

      saya juga berdoa semoga ibu Om NH sehat-sehat selalu…

  3. sungguh indah da vizon..

    Allah swt pasti akan selalu menyayangi semua ibu yang luar biasa dalam memberikan cintanya untuk kita, anak-anaknya.

    titip cinta juga untuk mama da vizon.

    • karena jasa ibunda yang luar biasa itulah, maka Rasulullah memberikan ibarat bahwa surga itu di telapak kaki ibu, bundo…

      bagi saya, ibu yang memiliki surga di kakinya tidak hanya ibu yang mengandung dan melahirkan kita, tapi juga perempuan-perempuan yang telah banyak memberikan pengaruh baik dalam diri kita, termasuk guru-guru kita… kayaknya bundo juga deh, hehehe… :D

  4. Tulisan dan renungan yg sangat menyentuh kalbu. Terbayang bagaimana ibu saya harus mengurus kami 7 bersaudara dan 6 diantaranya laki-laki … Sampai sekarang kalau sedang kumpul bersama keluarga kami sering mengingat masa-masa kecil dulu, meski secara bercanda tapi pada intinya kami ingin mengungkapkan betapa terima kasih kami atas perjuangan orang-tua khususnya ibu …
    .-= Oemar Bakrie´s last blog ..In memoriam, Albert Tarantola =-.

    • wah… kita ada kesamaan ya pak… saya 8 bersaudara, 7 laki-laki, sementara bapak 7 bersaudara, 6 laki-laki… selisih satu, hehehe… :D

      jasa ibu memang luar biasa pak, tapi ayah juga lho ;)

  5. huhuhuhuhu…aku jadi kangen emak nih dirumah :(

    by the way uda…aku kan lebih dulu ketemu mamanya uda ketimbang uda :)) hihihihihi…mamanya uda cantik di usia senjanya dan sangat penyayang, buktinya aku mau diterima padahal blom kenal…hihihihihi
    .-= Ria´s last blog ..Hatiku =-.

    • rasa kangen itu pertanda kalau dirimu mencintai dan menyayangi emakmu Ri… bentar lagi mau pulang kan? ketemu emak deh… :D

      mamaku juga cerita kalau beliau sangat senang bertemu dengan dirimu Ri…

  6. Hehe…., baca postingan Uda yang ini rasanya seperti dijitak. Setelah dua tahun menikah, saya baru melakukan ‘membagi jiwa’ itu baru-baru ini, mungkin dalam kurun waktu kurang dr dua bulan!! But, tiada kata terlambat utk hal-hal spt ini bukan? *ngeles*

    Dari sekian kunjungan ke tempat Uda ini, baru kali ini saya gak speechless dan mampu berkomentar :D Thanks Uda, very inspiring ;)

    • weetss… dijitak? tapi gak benjol kan Va…? :D

      syukurlah bila tulisan saya kali ini bisa menginspirasi, semoga yang berikutnya juga ya… ;)

  7. hmmm…1/6 ya? tapi bukannya kalau ada keluarga asal; saudara (7 orang) + bunda (1 orang) jadinya malah 1/14 ya? Apa bisa jadi 1/6 itu karena Uda ndak memikirkan saudara dan bunda lagi?

    Lha ya repot juga misalnya kalau orangnya itu berprofesi sebagai abdi negara yang mesti ngopeni rakyat. Bisa-bisa 1/dua ratus juta orang…weleh…
    .-= mawi wijna´s last blog ..Dari Atas Tanggul Lumpur =-.

    • yang 1/6 itulah bagian untuk diri saya, yang mana di dalamnya juga ada bagian untuk keluarga asal. sepertinya tidak adil ya? menurutku itu cukup adil, karena saya bertanggungjawab kepada Tuhan atas keselamatan istri dan anak-anak saya. adapun terhadap orangtua, itu porsinya adalah pengabdian, bukan tanggungjawab.

      pemimpin negara seharusnya memiliki pemikiran seperti ini. dan benar bahwa ia hanya memiliki 1/200juta bagian dari dirinya untuk dirinya sendiri. sehingga dengan demikian, kepentingan rakyatlah yang harus ia dahulukan, bukan kepentingan pribadinya… :)

  8. Hmm… Uda, saya senang sekaligus terharu membayangkan eratnya tali cinta kasih Ibu kepada anak-anaknya, seperti yang Uda kisahkan. Pure love…

    Cuma saya juga mempersoalkan ‘pembagian diri’ ala Uda, sama kyk komentator mawi wijna diatas.. Apakah ini pembagiannya selalu kesamping (istri) dan kebawah (anak) ya? Apakah ini artinya dari sepersekian untuk diri kita (katakanlah 1/6 kalau dlm contoh Uda) itulah yang kita bagi keatas (ibu/bapak/saudara kandung) kita? hehehe… maaf ya, Da… malah mempersoalkan hal teknis kayak gini.. just curious :-)
    .-= anderson´s last blog ..How Superstitious Are You? =-.

    • hehehe… dasar banker, paradigmanya selalu soal bagi-bagi porsi, haha… :D

      ya benar, yang 1/6 itulah porsi untuk diri sendiri dan ibu/bapak/saudara kandung. kenapa? karena keluarga inti kita (istri dan anak) adalah tanggungjawab kita sepenuhnya…

    • ya, hanya ibu sejati yang menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya… ada juga lho orang yang tak mensyukuri “keibuannya”. masih ingat kan postinganku soal “jangan punya anak?” :D

  9. uda vizon,
    terima kasih atas partisipasinya untuk karnaval blog.
    saya sangat terharu membaca artikel ini, komentar sy simpan sampai saatnya karnaval digelar nanti…

  10. Uda, sebetulnya kaum perempuan mendapat kekuatan dari Allah swt. Itulah mengapa walau udah lelah mengurus rumah, kenakalan anak, kerewelan suami, namun seorang ibu/isteri tak pernah mengeluh. Jika ada hal-hal yang sulit diatasi, doalah yang membuat ibu kuat.

    Seperti dikatakan suami, bahwa sebetulnya kekuatan rumah tangga adalah karena isteri yang kuat dan tabah. Bersyukurlah Uda, mempunyai ibu yang baik…karena tak semua beruntung seperti itu. Saya teringat alm ibu, yang wafat saat usianya belum terlalu tua, sehingga yang saya sesalkan, saya belum banyak berbakti pada beliau.

    Jika setiap suami atau isteri punya pemahaman seperti uda Vizon, betapa tenteramnya rumah tangga keluarga di Indonesia dan anak-anak yang bahagia karena mendapatkan kasih sayang penuh.
    .-= edratna´s last blog ..Bau kompos vs obat gosok? =-.

  11. Saya setuju dengan Mbak Enny untuk kalimat ini :
    Jika setiap suami atau isteri punya pemahaman seperti uda Vizon, betapa tenteramnya rumah tangga keluarga di Indonesia dan anak-anak yang bahagia karena mendapatkan kasih sayang penuh.

    Kenyataannya, cukup banyak suami/istri yang masih merasa memiliki dirinya sepenuhnya, sehingga lupa menjaga perasaan pasangan hidupnya.

    Bagian saya sendiri agak besar Da, setengah, lha wong cuma dibagi dua dengan suami saya … :)
    .-= Tuti Nonka´s last blog ..Alamaaak … ! =-.

  12. Kalo gak salah rasullullah ngucapkan ibu 3x baru selanjutnya orang lain jadi sepertinya untuk ibu bagiannya agak banyak. CMIIW.

  13. Terima kasih, Uda. Tulisan ini kembali mengingatkan saya agar tidak terjatuh dalam godaan. Saat-saat ini, saya sedang bersusah payah berjuang untuk menaklukkan godaan itu. Benar sekali. Jiwa ragaku, tak kumiliki sendiri. Saat jiwa ragaku kurusak sendiri, mereka yang ikut memilikinya akan menanggung pula akibatnya. Istriku dan kedua anakku. Berarti saya hanya memiliki seperempat jiwa ragaku. Ya, kan, Uda?
    .-= racheedus´s last blog ..Kerinduanku =-.

  14. Uda, aku merinding membaca tulisan ini
    Jadi inget ibu dirumah!! She’s so amazing!!

    saya juga salut dengan prinsip Uda, membagi enam jiwa uda.. kayaknya “simple” tp merupakan penjaga yang sangat ampuh

    terima kasih sdh sharing uda
    .-= Bro Neo´s last blog ..Bergelayut =-.

  15. Ibu…betapa mulianya ketulusanmu
    tak mampu lidah ini mengungkapkan rasa terimakasih hanya dengan sekdar kata kata. karena terlalu banyak hal hal yang engkau beri tanpa ada sedikitpun rasa berat…

    Ibu…tak dapat kulukiskan dengan tinta apapun, segala kasih sayang yang engkau berikan.

    *kangen emak di rumah* hikzszz….
    .-= zulhaq´s last blog ..Lebih Baik Sinting Daripada BT =-.

  16. Catatan Menjelang Karnaval Blog MTBI
    Pertama, saya wajib mengucapkan terima kasih kepada teman-teman narablog yang telah mengirimkan artikel untuk meramaikan acara Karnaval Blog : Minum Teh Bersama Ibu. Artikel yang masuk cukup banyak, yaitu 50 naskah. Artikel yang dikirimkan ada yang berupa, Esai, Fiksi, Puisi, atau Ringan Interesan. Semua bagus, dan itu telah membuat saya kesulitan mana yang akan ditampilkan dalam karnaval nanti.
    http://guskar.com/2009/12/13/catatan-menjelang-karnaval-blog-mtbi/

  17. aq baru aja pulang cuti tiap 4 bulan sekali… pas baca tulisan uda jadi pengen balik lagi nie…tulisan uda bagus…penuh makna yang benar2 menyentuh. Kita masih patut bersyukur masih merasakan kasih sayang seorang ibu, bagaimana dengan anak2 yang telah lahir dan belum sempat mengenal ibunya…???… semoga Allah Swt mengampuni segala dosa kita…amiin… thanx mom…
    .-= helmi´s last blog ..PG & TK Al Isra =-.

  18. Melihat foto Mamanya Inyiak, terbayang begitu lembut,hebat dan penuh kasih sayang beliau pd anak2 dan keluarganya.
    Salam hormat utk Mama ya Inyiak.
    Semoga Mama selalu diberikan rejeki kesehatan olehNYA, amin.
    Salam.
    .-= bundadontworry´s last blog ..Hijrahkan diri kita =-.

  19. Pingback: 71 Tahun Sudah Usia Ibu « Batavusqu

  20. Pingback: mereka itu, para ibu!

Komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jawab dulu ya pertanyaan di bawah ini sebelum kirim komentar, biar tidak dianggap spam.. :) *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>