Posted by Vizon | Posted in review | Posted on 18-12-2009
Tags: andrea hirata, film, laskar pelangi, mira lesmana, novel, riri riza, sang pemimpi
Ayah mana yang takkan melambung jiwanya bila mendengar kalimat itu dari mulut anaknya? Ayah mana yang takkan bahagia melihat anaknya tumbuh menjadi pribadi yang bertanggungjawab? Ayah mana yang takkan terharu bila sang anak meminta maaf atas kesalahan yang dibuatnya? Dan ayah mana yang takkan terbang melayang bangga karena sang anak berhasil meraih cita-cita tertingginya?
Adegan-adegan mengharubiru yang mampu mengaduk-aduk emosi itu, dapat kita saksikan dalam film Sang Pemimpi, yang merupakan sekuel dari film Laskar Pelangi. Dalam film ini, terlihat nyata bagaimana seorang ayah dapat menjadi inspirasi bagi anaknya. Kehangatan, kelembutan sekaligus ketegasan sang ayah telah mampu membentangkan dunia luas bagi sang anak sehingga berhasil meraih mimpinya.
Aku berhasil menonton film ini pada tayangan perdananya, 17 Desember 2009 yang lalu bersama dua anakku, Afif dan Satira serta istriku. Karena film ini cukup banyak yang menantinya, maka perlu sedikit perjuangan untuk mendapatkan tiket. Beruntung, aku dapat memperolehnya pada tayangan perdana.
Adalah tiga orang remaja asal Belitong bernama Ikal, Arai dan Jimron yang terpaksa bersekolah di Manggar karena hanya itulah satu-satunya SMA Negeri di daerah mereka. Petualangan demi petualangan mereka jalani. Mulai dari bekerja di luar jam sekolah demi kehidupan mereka sampai menghadapi masalah hormonal yang mulai membara; menyukai perempuan dan ingin menonton film yang sedikit “panas”.
Perjalanan hidup mereka layaknya remaja, penuh dinamika yang disebabkan oleh kelabilan emosi. Namun, kekuatan doa dan ketegaran jiwa yang disebabkan oleh mimpi-mimpi besar yang mereka bangun telah mampu mengalahkan itu semua. Ya… mereka telah merajut mimpi untuk dapat melanjutkan kuliah di Universitas Indonesia untuk kemudian melanjutkan lagi ke Sorbonne Paris. Impian itu terus mereka pertahankan dan selalu menjadi sumber kekuatan tatkala kelelahan jiwa mulai merasuki.
Film ini juga menceritakan bagaimana peran seorang guru dalam kehidupan seorang remaja. Adalah Pak Balia, guru muda yang selalu memanggil murid-muridnya dengan sebutan “para pelopor”, mampu mencuri perhatian para remaja itu. Kelas Pak Balia adalah kelas yang sangat disukai murid-murid. Tampak kebahagiaan dan semangat membara setiap kali Pak Balia berada di kelas mereka. Pak guru itu telah mampu menunjukkan bagaimana cara menghadapi gejolak muda para remaja itu.
Di sisi lain, adalah Pak Mustar, sang kepala sekolah yang memiliki sikap bertolakbelakang dengan Pak Balia. Beliau terlihat begitu angker. Pelajaran disampaikan dengan sangat kaku dan penuh kemarahan. Dengan alasan disipllin, beliau tak segan-segan menghukum muridnya secara tidak wajar dan merendahkan harkat mereka. Akibatnya, segala aturan dan pengetahuan yang beliau berikan, sedikitpun tidak menyantol di benak anak-anak tersebut.
Film ini mampu mengetengahkan sosok ideal seorang guru di tengah kita.
Seperti yang kusebutkan di awal tulisan ini, sosok ayah yang tegar dan inspiratif dicoba disampaikan dalam film ini. Ayah Ikal yang sekaligus juga paman bagi Arai adalah seorang ayah yang luar biasa. Caranya memuliakan dan menghargai jerih payah sang anak patut ditiru. Demi menghadiri pengambilan raport sang anak, beliau rela bersepeda puluhan kilometer sambil tak lupa mengenakan pakaian terbaiknya, yakni safari empat saku. Safari itu beliau kenakan hanya pada momen-momen sangat penting, salah satunya momen pengambilan raport anaknya.
Sikap ayah Ikal ini menyentakkan diriku. Betapa sikapku selama ini sangat jauh dari sosok ayah Ikal. Untuk mengambil raport, aku hanya curi-curi waktu di tengah kesibukan. Tidak ku siapkan secara spesial, apalagi berpakaian istimewa. Terkadang, aku hadir ke sekolah sekedarnya saja. Tidak seperti ayah Ikal yang benar-benar menjadikan momen penerimaan raport sebagai momen paling spesial. Hal itu, telah mempengaruhi anaknya, sehingga sang anakpun bangga terhadap ayahnya.
Tidak hanya itu. Ayah Ikal juga bukanlah tipe penuntut dan cerewet. Tatapan matanya yang teduh telah mampu dimaknai oleh anak-anaknya bahwa beliau sangat bangga dengan mereka. Tidak ada makian apalagi kemarahan membara ketika beliau mendapatkan anaknya mengalami kemerosotan nilai gara-gara kenakalan khas remaja. Tatapan teduh, senyuman tulus dan usapan lembut di kepala sang anak justru mampu membuat hati sang anak tercabik-cabik dan menyadari kesalahannya.
Hal ini menjadi refleksi tersendiri bagiku. Betapa aku harus mengeluarkan kata-kata dengan nada tinggi ketika melihat perilaku buruk pada anakku. Sungguh, aku merasa tertampar dengan film ini.
Film ini sangat baik dan layak untuk ditonton. Beberapa kesalahan editing tidaklah mengurangi esensi film ini. Satu kritikan dariku adalah adegan ketika Arai mengucapkan kata “amin” yang cukup panjang ketika shalat berjamaah yang membuat shalat itu terganggu. Meski itu adalah sebuah fenomena di tengah masyarakat kita, namun ada baiknya adegan itu tidak ditampilkan di hadapan khalayak. Karena, bisa jadi anak-anak yang menontonnya akan terinspirasi untuk melakukan hal yang sama.
Tulisan ini, kupersembahkan untuk Papaku, ayah juara nomer satu sedunia…




menurut saya Uda, setiap orangtua punya caranya sendiri-sendiri dalam mendidik anaknya. Dan mereka yakin cara itulah yang terbaik.
mawi wijna´s last blog ..Malam Satu Suro
[Reply]
Vizon Reply:
December 19th, 2009 at 5:23 am
Benar Wij, setiap orangtua punya caranya…
yang tidak boleh beda adalah filosofinya, yakni mendidik dengan cinta…
[Reply]
meskipun ayahku tidak pernah mengambilkan raporku
meskipun ayahku hampir tidak berada di rumah untuk saat-saat penting
tapi dia tetap menjadi cermin bagiku, sehingga aku bisa jadi seperti sekarang…dengan segala kelebihan dan kekurangannya.
aku juga bangga pada ayahku… yang bukan sarjana, tapi selalu dianggap professor
EM
ikkyu_san´s last blog ..Akita-ken dan Shiba-ken
[Reply]
Vizon Reply:
December 19th, 2009 at 5:21 am
mengambil raport hanyalah sebuah analogi nechan…
intinya adalah perhatian dan ketulusan seorang ayah terhadap anaknya. itu yang penting
ketulusan itu akan terasa nyata di hati anak, sehingga kebanggaan itupun muncul tanpa diminta…
[Reply]
bundo tentu saja belum nonton filmnya
tapi saat baca bukunya, air mata selalu menetes setiap Andrea menggoreskan kata tentang ayah.
[Reply]
Vizon Reply:
December 19th, 2009 at 5:37 am
kalau nonton nanti, jangan lupa bawa tisu yang banyak bundo, soalnya bakal bersimbah air mata, hehehe…
[Reply]
ayah saya itu pendiamnya luar biasa, tp pekerja keras. kami anak2nya kalo ingin berkomunikasi dng ayah, ibu sbg penyambung lidah kami. ayah sangat perhatian kepada sekolah anak2nya, kadang pulang kerja mengajukan pertanyaan singkatnya : bgmn sekolahmu? dan ini cukup “menakutkan” untuk menjawab pertanyaannya.
herannya, dng cucu2nya ayah sbg pribadi yg sangat ceria, bisa bermain akrab dng anak2 kami.
[Reply]
Vizon Reply:
December 21st, 2009 at 9:31 pm
sepertinya ayah kita sama Gus… sama kami dulu kayaknya kaku banget, ngomongnya satu-satu, dan cukup membuat kami takut-takut kalau mau bicara. tapi, sekarang, sama cucu-cucunya benar-benar akrab dan mau bercanda dengan bebas… namun, walaupun begitu, beliau tetap ayahku juara nomor satu sedunia…
[Reply]
aaahh… di padang belum keluar nih da… kalau di internet, butuh beberapa bulan pula untuk menunggu link downloadnya keluar….
aurora´s last blog ..Cerpen: elegi sepucuk anggrek
[Reply]
Vizon Reply:
December 21st, 2009 at 9:33 pm
kasiaaaan deh Padang, hahaha…
eh boy, liburan kemana? main ke jogja aja
[Reply]
Padang menunggu film itu, apakah kami akan nonton bareng lagi bersama rombongan besar seperti waktu nonton LASKAR PELANGI ?
imoe´s last blog ..…bangkit…
[Reply]
Vizon Reply:
December 21st, 2009 at 9:34 pm
aha… betul itu Moe, kayaknya anak-anak itu perlu digembirakan dengan menonton film ini…
[Reply]
coool…. mengingatkan kembali pada kita untuk berterimakasih pada orangtua kita…jasa mereka…waduh tak terukur untuk membuat kita menjadi seperti sekarang ini.
great posting..
nice to read
Alfaro Lamablawa´s last blog ..Sendirian di Puncak G. Sindoro
[Reply]
Vizon Reply:
December 21st, 2009 at 9:38 pm
thanks alfaro… menjalankan hidup dengan cara yang baik dan menjadi manusia berguna, itu adalah salah satu cara untuk berterima kasih atas jasa orangtua kita alfaro…
[Reply]
aku yang pasti belom menontonnya
tapi dari uraian diatas, aku berniat sekali menontonnya
yangputri´s last blog ..Berakhirkah
[Reply]
Vizon Reply:
December 21st, 2009 at 9:40 pm
baiklah, bila ada kesempatan, segeralah menontonnya…
[Reply]
Waduh… uda.. bikin iri aja nih… mentang2 udah nonton..
nih film emang bagus… Tapi sayang di Padang belum juga.. muncul-muncul..
Padahal.. baca novelnya aja keren… apalagi nontonnya.. Pasti bakal lebih keren dan bakal lebih terinspirasi
[Reply]
Vizon Reply:
December 21st, 2009 at 9:42 pm
dila… komennya sama dengan buat yang si arif; kasiaaan deh padang, hahaha…
[Reply]
ayah saya adalah tipe ayah idaman semua anak, apalagi anak gadis seperti saya dan adik2, dimana kami dulu sering bersama2 melakukan berbagai macam permainan, sepertinya ayah tdk pernah lelah melayani kami bermain , entah petak umpet, tebak2an,lomba baca cerita dan lain sebagainya.
Salam.
bundadontworry´s last blog ..Bahasa Allah.
[Reply]
Vizon Reply:
December 21st, 2009 at 9:44 pm
Beruntunglah bunda memiliki ayah seperti itu. Semoga dapat ditiru oleh anak-anaknya…
[Reply]
hmm.. aku belum nonton tuh.. tapi ceritanya asyik juga kayaknya. I like this kind of movie, seperti laskar pelangi.. the original indonesian movie..
budiuy´s last blog ..myStoriousAsk: Berburu?
[Reply]
Vizon Reply:
December 20th, 2009 at 8:32 pm
ya, film ini memang sangat layak untuk ditonton…
[Reply]
ayah blue sangat penyayang pada kami sekeluarga……..meski tak istimewah namun blue bangga pada ayah blue
salam hangat selalu
dobleh yang malang´s last blog ..Analisa cinta yang tertinggal…………………..
[Reply]
Vizon Reply:
December 20th, 2009 at 8:30 pm
senang mendengar pengakuan Blue tentang kebanggan terhadap ayah. memang begitulah seharusnya, walau bagaimanapun keadaannya…
[Reply]
AAArrrrgghhhh …
Uda udah nonton yak …
Aaddduuuhhh saya belum tu pak ..
Segera nih ..
Mudah-mudahan dapat tiket …
Susah pasti …secara ini sedang libur …
penonton pasti membuncah
[Reply]
Vizon Reply:
December 20th, 2009 at 8:28 pm
Ayo Om… the three boys kudu nonton tuh…
[Reply]
Wah, dapat di hari pertama ya, Da? Huehehe. Mantap!
Soal kata “amin” yang cukup panjang itu rasanya sesuatu yang wajar, Da. Aku yakin, di setiap masa kanak selalu ada hal-hal konyol serta menggelikan seperti itu. Bahkan menurutku itu sangat real. Sangat nyata. Karena pada kenyataannya hal semacam itu memang betul kerap terjadi. Justru menjadi tidak wajar dan bias jika dibuat sempurna dan taat pakem. Namanya juga masa kanak.
Meski ya, betul, aku mengakui bahwa adegan itu bisa menjadi inspirasi bagi anak-anak yang menontonnya untuk melakukan hal yang sama.
DM´s last blog ..Adakah Hidup Semata Penungguan?
[Reply]
Vizon Reply:
December 20th, 2009 at 8:23 pm
Aku tidak menafikan kenakalan khas anak-anak itu Dan…
Tapi, seperti yang kukatakan, bahwa adegan itu bisa menginspirasi anak-anak untuk menirunya. Bukankah ada banyak keisengan anak-anak dalam bentuk lain yang bisa ditampilkan?
Btw, aku bahagia sekali dirimu mau mengunjungiku lagi di surau ini.
Terima kasih atas waktumu itu ya…
[Reply]
kapan posting lagi ni…ditunggu lho
Alfaro Lamablawa´s last blog ..Foto Pesanan Mba Tary…
[Reply]
Kesibukan wara wiri Jakarta-Bandung membuatku banyak ketinggalan menonton film, apalagi teman menonton (si sulung)sudah berada di luar pulau.
Bukunya memang menarik Uda….dan saya bisa membayangkan, seperti film laskar pelangi sebelumnya…film sang Pemimpi juga akan menarik.Dan bagus untuk ditonton segala umur.
edratna´s last blog ..Melihat dari dekat acara live TVRI: Bicara Buku Bicara
[Reply]
Vizon Reply:
December 20th, 2009 at 8:20 pm
Iya Bu… filmnya bagus, dan tidak kalah menarik dengan film pertamanya.
Semestinya anak-anak Indonesia harus menonton film ini
[Reply]
Sudah lama tak bersua di dunia maya ini uda.. Akh, adakah kau rindu dengan bilik Pincurantujuah? Berkunjunglah, hadirmu akan menimbulkan bintik kegembiraan..
[Reply]
Vizon Reply:
December 20th, 2009 at 8:19 pm
Benny… maafkan saya sudah lama tak berkunjung ke bilikmu. Baiklah, segera saya berangkat ke sana.
Jujur, kehadiranmu ke surau saya kali ini telah menggelorakan jiwa saya kembali…
[Reply]
Bro, mengenai amin yang over panjang itu, nanti ada sambungannya di Endensor, buku ketiga. Saat itu Arai dan Ikal sedang berpetualang keliling Eropa dan kebetulan sholat di sebuah mesjid di Swiss. Imamnya adalah seorang mujahidin Afghanistan. Saat Imam menyelesaikan surat Al Fatihah, secara refleks Arai berteriak Amin…….secara normal. Ternyata, jamaah pada diam semua karena mazhab mereka memang mengajarkan demikian. Maka, malulah Ikal karena seorang diri mengucap amin dengan keras. Di sini, Tuhan membalas kelakuan Arai waktu remaja yang mempermainkan amin waktu sholat. Tuhan harus menunggu belasan tahun untuk memberi pelajaran kepada Arai. Memang, bagi yang kurang mengerti konteksnya, apalagi anak2, perbuatan Arai tadi bisa menjadi pembenaran untuk ditiru. Di sini peran orangtua yang harus memberi penjelasan.
Hery Azwan´s last blog ..Membaca Ajip Rosidi
[Reply]
Vizon Reply:
December 21st, 2009 at 9:08 pm
Serba salah jadinya ya. Kalau memang begitu lanjutannya, bolehlah. Semoga ketakutan kecilku itu tidak terbukti.
Terus terang, aku belum baca Endensor, meski sudah punya keempat novel Andrea itu. Jadi malu sama anakku sendiri, dia sudah menamatkan keempat novel itu untuk kedua kalinya, hehehe…
[Reply]
Jarak dari belitung ke manggar itu sekitar 60km. Kalau naik mobil sekitar 2 jam. Jadi, kalau naik sepeda, apalagi sepeda ontel, itu memang mesti dari pagi berangkat, siang atau sore baru bisa nyampai sana.
[Reply]
Vizon Reply:
December 21st, 2009 at 9:05 pm
Dan ayahnya melakukan itu dengan semangat dan antusias. Maka, wajarlah bila sang anak merasa ayahnya adalah ayah juara nomor satu sedunia… Beruntung ente Bar, sudah pernah ke sana. Pengen euy, suatu saat ke Belitong
[Reply]
Grrhh….lagi-lagi aku terlambat. Padahal dah lama berniat mbaca novelnya dulu sebelum nonton filmnya..
Lihatlah sekarang, tak satupun dari niat itu yang udah terlaksana.
Pasti menarik sekali filmnyaya, Da… dan saya suka sekali novel Andrea Hirata (at least yang udah pernah saya baca…)
anderson´s last blog ..Kamu Adalah Marketer
[Reply]
Vizon Reply:
December 21st, 2009 at 8:58 pm
ya, menarik sekali. apalagi kita sudah menonton serial awalnya, pasti penasaran ingin menonton lanjutannya…
semoga yang berikutnya juga jauh lebih baik
[Reply]
Udaaaaa


i’m a daddy’s gal.
Kesayangannya bapak dan paling deket sama bapakku
Eka Situmorang-Sir´s last blog ..Peduli. Hanya itu Yang Dibutuhkan
[Reply]
Saya sudah membaca novelnya, dan sepanjang halaman saya tertawa sekaligus menangis haru. Wah, belum sempat nonton nih! Kapan ya ….
Tentang ayah saya, beliau sudah wafat sewaktu saya baru berumur 7 tahun. Yang saya ingat tentang beliau, ayah sangat rajin belajar dan membaca. Meskipun sudah menjadi guru, ayah tetap meneruskan pendidikannya sampai ke perguruan tinggi. Ketika beliau wafat, warisannya yang paling berharga adalah dua lemari penuh buku-buku …
Tuti Nonka´s last blog ..Bukan Hari Ibu
[Reply]
aku sdh nonton film-nya, senin siang kemarin… aku beberapa kali menitikkan air mata uda.. jadi inget alm. Bapak, apalagi pagi harinya sebelum menonton, aku sempat nyekar ke makam Bapak… He’s my real hero!!!
menurutku film sang pemimpi ini lebih bagus dari film laskar pelangi!! wajib tonton utk smuanya…. alangkah indah kalo ortu bisa nonton bareng anaknya…

Bro Neo´s last blog ..Merry Christmas
[Reply]
Cocok Uda…
Berbeda cara itu biasa, tapi tetep mendidik dengan cinta itu yang utama…
Ayahku juga ayah juara 1…
[Reply]