they did it..!


Warning: Illegal string offset 'single_featured_image' in /home/hardiviz/public_html/wp-content/themes/confidence/content-single.php on line 69

Hari ini, Senin 4 januari 2010, hari pertama dalam minggu pertama di tahun yang baru, aku disuguhi sebuah pengalaman yang tidak mengenakkan. Sebuah kejadian yang patut direnungi oleh kita semua, sebagai bangsa timur yang memiliki budaya ewuh pakewuh; tahu diri, malu, sopan santun.

Sebelum berangkat ke kampus, aku mampir dulu untuk sarapan lontong sayur Sumatera langgananku di pelataran parkir Pakualaman. Lontong sayur itu sebetulnya tidaklah begitu aduhai rasanya bila dibanding dengan lontong sayur Tek Yan di kampungku, tapi setidaknya keberadaannya cukup berhasil memenuhi rasa kangenku akan masakan khas Minang.

Di pelataran Pakualaman tersebut terdapat beberapa pedagang kuliner lainnya; ada bakso, soto, siomay, rujak es krim, dll. Beberapa waktu yang lalu, tempat itu telah direnofasi, sehingga lebih tertata rapi dan membuat suasana makan menjadi lebih nyaman.

Setelah memesan satu piring lontong tanpa telur plus karupuak lado, aku pun mengedarkan pandangan, mencari tempat duduk yang nyaman. Mataku pun tertumpu pada sebuah meja yang terletak agak di sudut.

Sejurus kemudian, pesananku pun datang. Dengan sedikit bersemangat, lontong itu sedikit demi sedikit kulahap. Persis pada sendokan kelima, aku mendengar suara tawa manusia yang cukup mengganggu. Kuperhatikan sekejap. Ternyata, sepasang remaja yang sedang bercanda mesra. Posisi dudukku yang ternyata berhadapan dengan mereka–meski beda meja–membuatku dapat melihat setiap gerakan mereka dengan jelas.

Awalnya aku tidak terlalu peduli. Tapi, lama kelamaan tingkah mereka mulai membuatku kesal. Kemesraan yang mereka pertontonkan sudah mulai di luar batas menurutku. Mulai dari cubit-cubitan, suap-suapan, menggelayut mesra, sampai akhirnya sebuah adegan yang tak layak mereka lakukan… Mereka berciuman bibir..!!

Astaghfirullah…! Aku tak dapat menyembunyikan keterkejutanku. Tak kusangka, di bumi Yogyakarta yang menjunjung tinggi nilai-nilai budaya ini, aku melihat tingkah remaja yang tak pantas. Aku akui kalau gaya berpacaran remaja saat ini sudah mewajarkan tindakan itu. Tapi, melakukannya di tempat umum dan terbuka, apakah juga sudah dianggap wajar?

Oh tidak, aku tetap tidak dapat menerima itu sebagai sebuah kewajaran. Tidak untuk hari ini dan juga tidak untuk hari-hari ke depan. Bukan karena aku sok moralis. Tapi, ini berkaitan dengan harga diri bangsaku, bangsa yang berbudaya dan beragama.

Lantas, apa yang kulakukan terhadap mereka? Tidak ada..! Kecuali segera kuberdiri dengan kasar, meninggalkan makananku yang masih tersisa banyak begitu saja, membayar di kasir, dan buru-buru meninggalkan tempat itu, karena aku mau muntah…!


Warning: Illegal string offset 'author_box' in /home/hardiviz/public_html/wp-content/themes/confidence/content-single.php on line 93

53 comments on “they did it..!

  1. lha, sayang amat lontongnya…

    tapi bener tuh, uda. walaupun semakin ke sini gaya pacaran sudah semakin permisif terhadap hal-hal intim, paling tidak mbok ya jangan dipertontonkan di muka umum. get a room!

    mustinya dibilangin gitu, da. jadi mereka tau bahwa masih ada orang yang tidak menganggap hal itu wajar. kalau dibiarkan mereka malah merasa mendapat tempat.

    tapi ngomong-ngomong, ini kan pagi ceritanya. uda nggak nanya apa mereka udah sikat gigi? hihi…
    .-= marshmallow´s last blog ..Tulisan Awal Tahun: Bukan Resolusi =-.

    • Gaya pacaran yang semakin “parah” itu tentu tidak terlepas dari gaya hidup yang semakin menjauh dari nilai-nilai luhur Uni…
      Maunya sih saya ngomong ke mereka, tapi entah kenapa, saya sudah terlanjur eneg duluan. jadi, ya… buru-buru pergi :)

  2. Saya juga pernah makan lontong sayur disana. Tapi ndak pernah lihat adegan seperti itu. Uda coba berdehem saja dengan suara yang agak keras. Siapa tau pasangan itu nengok dan menghentikan aksinya.
    .-= mawi wijna´s last blog ..Hidup di Tahun 2009 =-.

    • Berarti waktu itu saya dapat “bonus” Wij, hehehe… :)
      Lain kali, kalau saya ketemu yang begituan lagi, saya tidak akan berdehem, tapi batuk yang sekeras-kerasnya… :D

  3. memang tidak sesuai dengan kebudayaan Indonesia lah Uda. Meskipun banyak juga yang munafik, di depan-depan tidak ciuman, tapi langsung “ngamar” spt marshmallow bilang. Risi memang. (Tapi dosaan yang mana ya? hihihi)

    Kalau saya, mungkin saya liatin terus aja. Malu ngga ya mereka? Kalau tidak malu (urat malunya udah putus kali), dan marah sambil bilang, “Ngapain liat-liat”, saya akan bilang, “Situ yang bikin pertunjukan gratis kan?”

    EM
    .-= ikkyu_san´s last blog ..Makanan Tahun Baru =-.

    • Kedua-duanya memang dosa Nechan. Sebaiknya tidak dilakukan keduanya.
      Aku tidak bicara dosa di sini, yang menjadi fokusku adalah rasa malu yang sudah tidak dimiliki lagi. Apakah ini akibat dari akulturasi budaya yang berakibat kepada penggerusan nilai-nilai luhur budaya kita? Agaknya, kita harus sangat prihatin dengan ini… :)

  4. Hahaha….setuju sama Mbak Imelda…
    Kalau saya, pasti akan saya liatin terus… Kalo masih punya malu, pasti brenti berasyik masyuk… Kalo gak punya malu dan sedikit beringas, pasti bakalan ngomong: “Apa lo liat-liat??” hehehe…. Kalo di gituin, reaksi saya selanjutnya menakar dulu ukuran tubuh sang lawan (yang cowok tentunya… :-P ) Kalo kekar dan besar, saya lanjutin lagi makan lontongnya (asumsi saya juga lagi makan lontong kayak Uda Vizon). Kalo kerempeng kecil, baru saya ngomong kayak yang dibilang Mbak Imelda…
    .-= anderson´s last blog ..Malam Pergantian Tahun =-.

      • Gpp kalo gitu Son…
        Kalo memang merasa tidak enak hati, ya sudah, saya maapkan. Semoga kalo saya berbuat hal yang sama, dimaapkan juga… :D

    • Menakar tubuhnya? hahaha… tapi, apakah kalau dia kerempeng kecil sudah jaminan kita akan aman kalau menegurnya? siapa tahu, dia punya “bekal” yang tak boleh diremehkan? bisa gawat nanti urusannya… :)

  5. HHHmmmm …
    Saya tidak bisa berkomentar apa-apa uda …
    Namun jika …
    Jika saya yang berada disana …
    Apa yang akan saya lakukan ya ?

    mmm … yang jelas … jengah ? risih ? … itu pasti …

    Salam saya
    .-= nh18´s last blog ..SANG PEMIMPI =-.

    • Seperti biasa …
      Tak cukup sekali kalau ke Blog Uda ini …

      Uda …
      Gimana kalo kita rekam adegan tersebut …
      Lalu Sebar di You Tube …
      Gimana ?
      Ide yang patenkan … ?
      Efek merusaknya … sedikit demi sedikit …
      namun sangat efektif … untuk menimbulkan efek jera …
      (eh .. atau mereka malah kesenengan ya …??)

      Salam saya Uda
      .-= nh18´s last blog ..MIMPI SI TRAINER KECIL =-.

      • Seperti biasa…
        Tak boleh membiarkan komen Om Nh tidak dijawab… :)

        Ide yang brilian itu Om…
        Lain kali, saya akan siapkan peralatannya,
        paling tidak dengan kamera hape
        Wah… bisa terkenal mereka nantinya ya… hehehe… :D

    • Saya membayangkan…
      Kalau Om Trainer ada di sana,
      beliau akan mengambil gitar,
      menyanyikan lagu:
      “Tlah kutrima suratmu nan lalu…..” :D

  6. Haha…., rada miris bacanya, Uda.

    Jujur, banyak teman-teman saya yg melakukan hal serupa. Pertama kali itu terjadi di depan saya, saya bagaikan disuruh makan buah simalakama. Mau negur gak enak, tapi kalo gak negur gak mungkin karena berarti saya tidak menjadi diri saya. Saya bukan berpandangan sempit, tapi saya juga masih orang Timur yang berpegang pada prinsip ‘Dimana Bumi dipijak, disitu langit kujunjung’. Kita orang Timur bukan bangsa yang bisa menerima tindakan vulgar itu dilakukan di depan umum. Kalo saya sih Uda, saya bikin sama sekali tidak nyaman buat mereka ada di sana ;) (mantanpreman.com)
    .-= Reva Liany Pane´s last blog ..fiksi : Sandro =-.

    • Sepertinya, konsep ketimuran itu sudah pudar dari para remaja kita Reva..
      Dengan keterbukaan informasi sekarang ini, apa saja bisa kita pelajari dan tiru. Itu tidaklah salah, yang terpenting adalah mempersiapkan saringan yang benar-benar ketat, sehingga kita tidak kehilangan jati diri. Hal inilah yang perlu kita sadarkan kepada anak-anak kita, atau adik-adik remaja kita…

  7. Padahal masih pagi ya…apa mereka tak sekolah? Jika di depan umum saja bisa berbuat seperti itu, apalagi jika tak ada orang?
    Menurut saya memang sudah keterlaluan Uda, bagaimanapun itu merendahkan harga diri….kok ceweknya mau ya?

    Jika saya disana, tak tahu pula apa yang harus saya katakan..namun jika saya pemilik warung, saya akan tegur baik-baik….atau perlu dipakai tulisan dilarang makan disini jika pacaran yang melanggar batas….mungkin mbak Dyah Suminar bisa memberi jalan keluar?
    .-= edratna´s last blog ..Ketemu teman =-.

    • Sekarang kan lagi musim liburan Bu Enny, jadi gak ada anak sekolahan berseragam di sepanjang jalan. Tapi, dari perawakannya, sepertinya mereka anak kuliahan.

      Mengherankan memang, tapi begitulah adanya. Nafsu syahwat yang diperturutkan telah mematikan logika, sehingga batas-batas moral sudah tak dihiraukan lagi.

      Bunda Dyah bisa memberi jalan keluar? hehehe… kok baru tersadar saya kalau salah satu sahabat blogger saya adalah orang penting Jogja. Waktu menuliskan ini, saya hanya spontan saja, tidak terpikir sampai ke sana.. :D

  8. wah… kok sampai sgitunya yach?? -spechless-

    yg jelas, yg mereka lakukan tidak pada tempatnya … terlepas dari masalah moral di antara mereka, yang pasti aku risih kalu melihat spt itu….
    .-= Bro Neo´s last blog ..(New) Kuliner Jogja =-.

    • Itulah kenyataannya Bro… aku juga tidak menyangka mereka sampai bisa selarut itu.
      Risih dan memprihatinkan sekali dengan keadaan tersebut :(

  9. dulu pernah sih da… ketemu yang begituan di kafe… waktu itu aku sama temen2…
    ya kupelototin aja… terus…terus… terus mereka jengkel sendiri… pergi deh… kami cuma tertawa… ngga ada yang bisa kami lakukan sih, selain cuma itu…
    .-= aurora´s last blog ..Jejak-jejak yang tertata =-.

    • Bagus lah itu Rif… seharusnya saya memang seperti itu juga ya, tapi entahlah… saya tak sanggup melototin mereka terlalu lama, karena yang terbayang adalah bagaimana kalau itu adalah anak saya atau sahabat-sahabat muda saya seperti dirimu? saya geram sekali…

  10. Hehehe, separuhnya saya nggak heran dengan keadaan ini, Uda.
    Jogja yang kita kenal memang berbeda siang dan malamnya..:) Sayangnya mereka melakukannya selagi hari masih terlalu pagi :))

    Aku setuju denganmu, perilaku mereka kelewatan. Aku juga setuju denganmu untuk meninggalkan makanan (meski sayang karena mubazir). Tapi aku meninggalkan makanan bukan karena jijik melihat perilaku ‘amoral’ mereka, tapi lebih karena jijik membayangkan betapa mereka yang mungkin belum sikat gigi sudah saling menukar ludah hahahaha…

    Mari kita berdoa bagi mereka dan anak cucu kita :)
    .-= DV´s last blog ..Penemuan-penemuan revolusioner dekade 00 =-.

    • Aku juga sering mendengar kalau saat ini Jogja sudah mulai kehilangan jati dirinya. Peristiwa ini semakin menegaskan akan hal itu. Miris memang melihatnya Don. Sikap yang kuambil itu hanyalah spontan belaka, dan itulah yang jujur keluar dari diriku…

      Aku sangat mengamini doamu itu Don, semoga anak cucu kita terhindar dari perilaku semacam itu… :)

  11. begitulah anak muda jaman sekarang mas, perlu ketegasan dari orang2 ygy lebih dewasa terutama orang tua mereka. smoga anak2 kita gak kayak gt, aminnn ….
    .-= KutuBacaBuku´s last blog ..Patas AC 02 =-.

    • saya juga membayangkan bila yang melakukan itu adalah anak saya… benar-benar mengerikan. semoga mereka terhindar dari tindakan-tindakan bodoh semacam itu…

    • betul… kita harus khawatir dengan anak kita. tapi, kekhawatiran itu janganlah lantas membuat kita paranoid, tidak membolehkan anak kita untuk berkreasi sesuai kehendak mereka. tugas kita adalah memonitor mereka agar tidak salah jalan…

      lontong sayurnya yang itu biarlah gak jadi tambuah ciek, besok bisa dipesan lagi, dan tambuahnya bisa tigo…. hehehe…

  12. Uda, aku pernah mengalami hal kayak gitu. Aku liatin aja, dengan tajam. Bener, berusaha memberikan tatapan angker gitu. Eh, si cowok bilang gini sama saya:
    ‘Kenapa? Lo kepengen, ya?’
    Wadoohhhh!!!

    • wedew! bikin dag-dig-seerr tuh Al… lantas kira-kira jawabannya kayak gini gak? “iya, gw kepengen nonjok muke Lo” :D

  13. Besok-besok ada caranya da, tatap aja dengan tajam terus menerus sampai dia risih. Kalo dia marah dan bilang “ngapain liat-liat” uda tinggal jawab “terserah dong, mata mata gue”. Trik jitu tuh da pasti dia yang berdiri dan pergi dari sana…
    .-= imoe´s last blog ..…ceria di anai resort… =-.

  14. Kalau saya melihat langsung yang seperti itu, mungkin akan speechless juga Da. Mungkin saya akan pergi juga (atau malah lemes nggak bisa gerak?).

    Saya mendengar cerita dari sumber-sumber yang bisa dipercaya, pergaulan anak muda sekarang memang sudah sangat ‘mengerikan’. Kalau diukur dengan standar agama, wah ….. udah nggak ketulungan. Hancur. Terutama di tempat-tempat kost yang tidak diawasi oleh pemilik rumah. Wah, sudah!

    Ini tantangan berat bagi para orang tua, pendidik, dan ulama. Akan dibiarkankah moral anak-anak kita jebol?

    Saya sangat mengerti perasaan Uda, seorang santri yang besar di lingkungan agamis, dan selalu berada di jalan lurus …
    .-= Tuti Nonka´s last blog ..Masehi Dan Hijriyah =-.

    • jalan lurus? tol kali bu tuti, hehehe… :D

      Saya sekarang bersyukur menemukan kejadian itu Bu Tuti. Jadinya saya punya cerita kepada anak-anak saya, dan menjelaskan dengan mudah kepada mereka bagaimana buruknya perilaku seperti itu.

      Anak-anak memang harus diberi “imunisasi” yang cukup terhadap jiwa dan pikirannya, sehingga dapat kebal dari pengaruh negatif dalam pergaulan mereka…

  15. Wow, parah tuh pak. Sampai ciuman bibir di tempat umum. Sungguh terlalu.

    Kenapa uda tidak segera menegurnya? apakah karena sudah terlalu malu melihat tingkah polah mereka berdua?

    Di Bandung juga serem da, cewek-cewek sampai merokok segala, pakaian mereka juga banyak yang tidak senonoh
    .-= Catra´s last blog ..Celoteh Iseng =-.

    • itulah Cat… saya tak sanggup untuk menegurnya. barangkali keberanian saya tidak ada sama sekali untuk itu. iman saya terlalu lemah untuk berani menegur mereka secara langsung… :(

  16. aku gak akan komentar macem2 uda…tapi memang bener risih rasanya melihat yg seperti itu depan umum…dan seperti komentar uni, mereka udah sikat gigi blom ya?

    dan apapun bentuknya harusnya mereka merasa malu di depan umum begitu…doh dunia ini makin tua aja!

    • risih banget memang Ri…
      di Duri juga kabarnya sudah terbiasa anak-anak mudanya melakukan hal yang demikian..
      hah…. entahlah. yang pasti ini jadi renungan buat kita semua

    • benar sekali, ini semua barangkali akibat budaya pop yang sudah tak terbendung lagi di masyarakat kita. tugas kita untuk memberi filter yang lebh ketat buat orang-orang yang kita cintai…

  17. bunda tercekat membaca tulisan ini, sudah sedemikiankah kebebasan dr remaja2 kita sekarang ?
    kebablasan era modernisasi ?
    wah, sampai kliyeng2 jadinya……..astaghfirullah…..
    mungkin ini salah satu dampak globalisasi ya Inyiak yg negatif pd para remaja masa kini.
    salam.
    .-= bundadontworry´s last blog ..Yuk, Berhemat! =-.

  18. kalo saya ada disana, pastinya juga akan merasa risih tapi mungkin akan tetap melanjutkan acara makan pagi saya..apalagi lontong sayur adalah kesukaan saya… :)

    hmm… yang saya pikirkan selanjutnya adalah anak2 … kadang saya takut tidak mampu mendidiknya dengan baik, apalagi pengaruh lingkungan lebih dominan… hopefully GOD will help me …
    .-= ceuceusovi´s last blog ..Idealisme versus 2 hal ..! =-.

  19. Uda, lain kali bawa kamera aja ke mana-mana. Dan kalau ketemu pemandangan seperti itu, langsung difoto hihi.

    Saya sendiri akan berbuat apa kalau melihat hal serupa. Tapi sepertinya, saya akan bawa piring yang masih berisi lontong sayur itu ke pelayan, untuk minta dibungkuskan. Nggak mau rugi aja sih :))

    Tapi memang pasti risi melihat hal itu ya. Dan memang benar kata Donny, Jogja yg kita kenal berbeda siang dan malamnya.
    .-= krismariana´s last blog ..Pulang =-.

Komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jawab dulu ya pertanyaan di bawah ini sebelum kirim komentar, biar tidak dianggap spam.. :) *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>