profesor yahanu

Salah satu sifat dalam diri manusia yang menjadi sumber kehancurannya adalah apa yang disebut sebagai kesombongan. Sombong adalah perasaan dalam diri manusia bahwa ia mempunya berbagai kelebihan tertentu dibandingkan orang lain, di mana kelebihan tersebut membuatnya merasa menjadi lebih mulia sehingga harus didahulukan pendapatnya, dihormati, dihargai, dan lain sebagainya.

Sikap dan sifat semacam ini menjadikan manusia cenderung hanya memikirkan bagaimana dirinya dihargai dan dihormati orang lain karena merasa dirinyalah yang “serba” dan “paling” –paling pintar, paling keren, paling kaya, dan berbagai “paling” lainnya. Kesombongan ini menimbulkan sikap angkuh dan congkak yang bisa menjadi awal malapetaka bagi dirinya.

Kesombongan ini nyaris telah merugikan seorang Profesor. Sebut saja namanya Profesor Yahanu.

Beberapa hari yang lalu, sahabatku Ivan minta tolong kepadaku untuk menemui Profesor Yahanu tersebut di kampus. Ivan telah beberapa kali berusaha menemui beliau, tapi tidak bertemu. Karena Ivan harus berangkat ke Jakarta, maka dia memintaku untuk menyampaikannya. Ada dua pucuk amplop yang harus disampaikan.

Sesungguhnya aku tidak kenal sama sekali dengan sang Profesor. Hanya, di fakultas tempat beliau mengajar ada teman baikku. Akupun menghubungi teman tersebut dan menanyakan apakah dia mempunyai nomor kontak sang Profesor. Ternyata dia punya. Maka, dimulailah cerita ini:

“Halo”, sebuah suara berat menyahut di seberang telpon.
“Dengan Profesor Yahanu, Pak?”, aku bertanya untuk memastikan.
“Kamu siapa?”, terasa ketus jawabannya.
“Saya Vizon, Prof”
“Vizon siapa?”, serasa menjawab dengan malas.
“Hardi Vizon”
“Dari mana?”, semakin ketus.
“Saya mahasiswa Pascasarjana, Prof”
“Mau apa!?”, ujarnya dengan sedikit kasar.
“Ada pesan yang mau saya sampaikan untuk Bapak”, masih sopan nada suaraku.
“Letakkan saja di meja saya di fakultas..!”, seolah buru-buru ingin mematikan telpon.
“Yakin, Anda mau saya meletakkan dua amplop ini di meja Anda?”, aku mulai sebal.
“Ya…!”, jawabnya singkat.
“Kalau hilang, apa Anda tidak menyesal?”
“Memangnya itu apa?”, dia mulai penasaran.
“Honor Anda sebagai pembicara dalam acara Annual Conference on Islamic Studies tempo hari di Solo”, aku merasa dapat angin.
“Oh… itu tho”, nada suaranya mulai turun.
“Ya…! Kalau gitu, tolong temui saya besok jam 9 di perpustakaan”, aku mulai pasang badan. Dalam hatiku, ini orang harus diberi pelajaran, meskipun dia seorang profesor.
“Jam 9, ya?”, suaranya semakin ramah.
“On time ya Pak, soalnya saya cuma sebentar di kampus, setelah itu saya ada acara lain”, ujarku dengan suara yang dibuat sok tegas.
“Baik Pak, besok saya temui Bapak di perpustakaan”, sang Profesor benar-benar sudah sopan dan memanggilku dengan sebutan “Bapak” lagi. Argh… benar-benar menyebalkan.
“Ok, terima kasih”, ujarku sambil mematikan telpon.

Huahaha…. akupun tertawa dalam hati. Sungguh rendah harga diri sang Profesor itu. Kesombongannya akan jabatan yang dimiliki ternyata dapat ditaklukkan dalam sekejap hanya dengan beberapa lembar rupiah. Benar-benar deh… :D

Kejadian ini sangat memberiku pembelajaran. Kesombongan tidak pernah memberi manfaat apapun bagi pemiliknya. Kerendahanhatilah yang justru akan menaikkan derajat kemuliaan seseorang. Rendah hati bagaikan permata yang senantiasa benderang, meski berada dalam kubangan sekalipun. So, untuk apa sombong? :)

.

*Yahanu = sombong (bahasa slank santri Gontor)

Sumber bacaan: buku Man Jadda Wajada, karya Akbar Zainudin

52 comments on “profesor yahanu

  1. Hehehe….

    Professor Yahanu itu mungkin lupa sama pepatah ‘masih ada langit di atas langit’ saking sibuknya bertingkah congkak, yang ternyata mampu dihapusnya begitu saja untuk ditukar dengan beberapa lembar rupiah…

    Kasian….

    Penanganan yang PAS, Uda ;)
    .-= Reva Liany Pane´s last blog ..‘Status’ Hari Ini =-.

  2. klopun sombong itu boleh, saya sama sekali ga punya modal untuk bersombong-sombong ria… heheh..

    *si prof lupa pepatah padi ya..

    *nanti klo Uda udah jadi profesor, pasti ga kayak dia kan…

    • tulisan ini bukan bermaksud memperolok sang profesor itu Kris, karena kemungkinan kecil beliau akan singgah ke sini. tulisan ini kumaksudkan sebagai cerminan buat kita, agar tidak melakukan hal yang sama, just it… :)

  3. Jiakakakaka, aku membayangkan mimik muka si profesor ketika beralih dari suara keras ke lemah itu ya….

    Tapi persoalannya Uda, brarti sebenarnya kan setiap manusia itu lemah di sisi uang hanya saja sejauh mana kita bisa menutupinya dengan keramahan.
    Bener nggak pendapatku?
    .-= DV´s last blog ..Produk easy to use, produk ramah lingkungan =-.

    • Betul Don… pada dasarnya manusia itu lemah bila berhadapan dengan uang. Hanya saja, keramahan itu tidaklah muncul sekonyong-konyong. Ia adalah cerminan hati. Dengan atau tanpa uang, bukankah kita harus tetap ramah dengan siapa saja? :)

  4. Mungkin si Prof lagi badmood aja Uda. Kalau saya sih Uda, pas lagi badmood saya nolak buat berinteraksi dengan orang-orang. Nutup diri gituh. Biarlah itu rejeki melayang, asalkan saya ndak bikin susah orang lain.
    .-= mawi wijna´s last blog ..Candi Pringapus =-.

    • Nah, tips mu ini bagus banget Wij. Menjaga perasaan orang lain itu jauh lebih penting. Kalau suasana hati lagi tidak bagus, memang sebaiknya kita menghindar dari keramaian. Bila sudah baik kembali, barulah berinteraksi dengan siapa saja. Sehingga, dengan demikian tidak ada yang tersakiti lantaran ketidaknyamanan hati kita :)

  5. Fren… emang hari ini banyak sifat yang seperti itu.
    Kadang kita hanya mampu melihat sesuatu dari luarnya saja. Atau barangkali kita hanya melihat sesuatu yang bisa mendatangkan keuntungan untuk kita. Apa lagi untuk money… banyak orang yang menjadi lunak hanya karena uang.
    Bahkan bisa2 merendahkan harga diri. Sering kok aqu ngalamin perlakuan seperti ini
    .-= Boyoz´s last blog ..Kematian =-.

  6. saya tertarik dng cerita amplop td.
    ketika era reformasi bergulir, bbrp prof mulai masuk ranah politik dan di antaranya jd birokrat. bisa jd prof itu kaget krn begitu mudahnya mendapatkan amplop tebal, sehingga tergelincir melakukan tindakan manipulasi dan kolusi, maka masuklah ia ke penjara.

    • Saya juga heran ketika seorang prof yang juga pemuka agama terpaksa harus mendekam di penjara karena tuduhan korupsi. Saya jadi bertanya, mengapa tidak ada korelasi antara ilmu yang dimilikinya dengan perbuatannya di pemerintahan? Seorang prof saja bisa tergoda untuk melakukan perbuatan itu, apalagi kita yang ilmunya masih cetek ini ya? duh… na’udzubillah…

  7. Makanya kalau ngga mau bete, dari sejak awal langsung aja, “Hallo saya mau memberikan amplop berisi uang untuk prof, coba ya temui saya di perpustakaan besok.” hihihi…

    Pasti langsung ramah deh si Prof, bahkan malah jadi takut kalau amplopnya ngga dapet :D

    EM
    .-= ikkyu_san´s last blog ..Akhirnya dia datang! =-.

  8. Walah ada ya yg begitu…hehehehe cuman gara2 lembaran puluhan ribu :D

    gak ada gunanya lagian jadi orang sombong uda, gak akan tenang dunia akhirat, di dunia di musuhin, di akhirat di azab..tul ga?
    .-= Ria´s last blog ..Sebuah Permintaan =-.

    • betul sekali… orang sombong musuhnya banyak…
      gak enak hidup kita bila banyak yang memusuhi, kesana kemari tidak tenang. hidup ini terlalu berharga untuk disia-siakan tersebab oleh kesombongan kita… :D

  9. Sssst …. Da, kalau boleh tahu, isi amplopnya berapa? :D

    Coba besok Uda perhatikan, sesudah melihat jumlah di dalam amplop, bagaimana reaksi Pak Prof? Sekalian mengukur berapa harga keramahannya, gitu lho … :D
    .-= Tuti Nonka´s last blog ..24 Sauh =-.

    • ahahahahaaa… bener juga ide mbak tuti.
      memang kesombongan tidak akan memberikan apa-apa kepada manusia, karena itu hanyalah bentuk keinginan untuk sebuah pengakuan. orang menjadi sombong justru karena sebenarnya ia tidak diakui oleh dan eksis di lingkungannya.

      senang banget membaca uda sudah skak mat si profesor sombong. sama seperti waktu membaca bagaimana uda skak mat si pengawas ujian arogan. puwaaasss!!!
      .-= marshmallow´s last blog ..No Idea =-.

  10. kesombongan gak pernah membuat kita dihargai orang ya Inyiak.
    dulu ortu selalu wanti2, pada kami anak2nya, seberapapun cantik, kaya atau pintarnya kamu, tdk akan disukai orang kalau sombong, tdk santun dan kamu tdk akan pernah mampu utk hidup sendirian di dunia ini, pasti memerlukan orang lain.
    tolong sampaikan sama Prof.Yahanu ya Inyiak he he.
    salam.
    .-= bundadontworry´s last blog ..Kulitnya ikut dimakan. =-.

  11. Profesor juga manusia Uda …
    Punya hati …
    Juga punya … “kalkulasi”

    hahaha

    Yang jelas benar sekali …
    Kesombongan … Jaim atau apapun namanya itu …
    ditinjau dari sudut manapun tidak akan pernah baik …

    Salam saya Uda
    .-= nh18´s last blog ..ROOM MATE @ BALI =-.

  12. “Ada pesan yang mau saya sampaikan untuk Inyiak”, masih sopan nada suara bundo.
    “Letakkan saja di meja saya di fakultas..!”, seolah Inyiak surau buru-buru ingin mematikan telpon.
    “Yakin, Anda mau saya meletakkan dua amplop ini di meja Anda?”, Bundo mulai sebal.
    “Ya…!”, jawabnya singkat.
    “Kalau hilang, apa Anda tidak menyesal?”
    “Memangnya itu apa?”, Inyiak mulai penasaran.

    “Itiak Lado Ijau dari ngarai sianok sama Bilih kariang danau Singkarak..!”

    ” **glexx.** baiklah Bundo boleh temui ambo sekarang juga..”

  13. dan…masih banyak lagi
    tipikal orang2 seperti profesor itu…
    yang cilakanya mereka
    justru menduduki posisi
    posisi penting, yang berkaitan
    dengan kepentingan rakyat….
    alhasil…..,urusan kepentingan
    rkyt lebih didominasi mencari
    keuntungan di atas penderitaan umum
    .-= mikekono´s last blog ..Solusi, Haruskah Lewat Demo ? =-.

  14. Gw paling takut kalau sampai sombong..
    karena memang sombong adalah penyakit yang bisa membuat kebutaan fatal
    jadi gak tahu diri.. gak bisa melihat dirinya sendiri pada takarannya sebenarnya..
    kalo udah gitu.. kan malah menjadi jurang yang bia membunuh diri sendiri…
    ahh.. moga sombong itu menjauh dari diri kita…
    biar yg berhak saja yg menyandangnya

  15. Hahaha…uda….saya ngakak betulan..membayangkan wajah prof saat berubah nadanya…hehehe…
    Uda salah sih, cuma bilang dari awal mau nganterin uang, pasti udah sopan dari awalnya.

    Uda, disekeliling kita banyak orang hanya sopan jika tahu kita siapa…makanya sering kan para penipu yang pakai jas dan dasi itu mudah menipu mangsanya, karena kita terbiasa menghargainya dari gaya dan cara berpakaian. Dan jika lewat telepon, untuk meniadakan kasus itu, biasanya saya sms dulu (kalau itu hape)…memperkenalkan saya siapa, ada perlu apa, baru nelpon. Atau jika telepon, saya langsung memperkenalkan diri..maklum juga sekarang banyak penelpon yang ngacau juga, hanya manewarkan ini itu…jangan2 sang prof keseringan terima telepon seperti itu, jadi paranoid….
    .-= edratna´s last blog ..Mainan baru? =-.

  16. Sombong itu pakaian Allah,siapa manusia yg merasa pantas memakainya??

    Sombong itu dosa pertama yg menyebabkan iblis dibuang ,iblis berkata : Engkau ciptakan aku dari api,tapi Engkau ciptakan adam dari tanah.

    iblis merasa lebih baik dari adam,padahal Allah lebih tahu tentang siapa yg lebih baik,bahkan malaikat pun tidak berani kepada Allah.

    btw yg bener harus rendah hati kan da? bukan rendah diri? hehehe….

    kalo rendah diri mah pendek ya??:D
    .-= didot´s last blog ..Guru yang terhebat =-.

  17. Hmmm saya bisa mengerti kenapa jadi jengkel.
    SOmbongnya itu memang kelewatan. Mentang2 dia prof gayanya lgsg sok bos …

  18. prof sungguh T E R L A L U *rhoma mode on* :lol:

    disekitar kita juga banyak. kadang kita sendiri tanpa sengaja juga sudah bersikap sombong. karena yang nilai kan orang lain.

  19. Huekekekeke…
    Tos dulu, Udaaa!!! :D

    Cuman segitu doang rupanya kesombongan itu bisa dibeli… *masih ketawa2 nggak jelas gitu, deh.. hihihihi*

  20. dia sombong soalnya gelar prof-nya itu dapat beli mahal2…..

    jadi pas tahu dapet amplop, prof langsung sumringah soalnya buat bayar hutang beli gelar prof….

    hehehehehehehehehe

  21. Jabatan dan ilmu pengetahuan memang bisa membuat seseorang kelilipan sehingga bisa bersombong ria di depan orang lain. Padahal, hanya Ia Yang Maha Segala yang layak sombong.
    .-= racheedus´s last blog ..Memprotes Tuhan =-.

  22. Ada 3 hal, Uda..

    #1. hahahaha….aku ngakak baca tulisan ini….
    ampyun deh, ngebayangin wajah si profesor…hihi…

    #2. Ah, semoga kita tak pernah jadi sombong ya, rugi ntar disebelin dan dijutekin banyak orang..

    #3. Ada posting tentang pertemuan dengan sang profesor kan, Uda? :)
    .-= nanaharmanto´s last blog ..Sayur Nangka =-.

  23. Uda Vizon,
    Nulis jangan sombong itu gampang, tapi alamaak, menerapkannya itu kadang susah. Terbalik-balik antara sombong dan percaya diri. Karena itulah, kita selalu diminta berdoa agar kita dijauhi dari sifat dan sikap sombong ini…. hehehe…
    .-= Akbar Zainudin´s last blog ..Doa Adalah Proposal Hidup =-.

  24. Betul uda, untuk apa sombong. apa yang di sombongkan, toh banyak profesor di dunia ini. kalau di dunia cuma ada satu Prof, mungkin layak untuk sombong, ah..itupun tetap tidak boleh sombong. lemaran uang kadang menghilangkan jati diri seseorang hingga begitu….

    salam.

Komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>