miskin harta atau jiwa?

Dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rizki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar,”
(Al-Quran surat Al-Israa': 31).

Sebuah berita mengenai penelantaran anak kembali menggetarkan kita. Adalah seorang ibu bernama Diana di Tangerang, karena alasan mencari uang untuk makan anak-anaknya, tega meninggalkan mereka di rumah yang terkunci. Tiga orang anaknya yang masing-masing berumur 3 tahun, 2 tahun dan 9 bulan ditinggalkannya begitu saja di rumah kontrakan di bilangan Cipondoh Tangerang selama empat hari tanpa makan dan minum.

Sulit membayangkan, betapa berat “siksaan” kelaparan dan ketakutan yang dialami ketiga balita tersebut. Alasan sang ibu mencari uang untuk makan sang anak patut dihargai. Tapi, mestikah dia meninggalkan mereka selama empat hari? Sebuah perilaku yang aneh menurutku.

Dan yang lebih aneh lagi adalah, mengapa warga sekitar tidak ada yang mengetahuinya? Mengapa baru pada hari kelima, ketiga bocah itu ditemukan? Bukankah kebiasaan seorang anak bila merasakan ketidaknyamanan pada dirinya akan menangis? Bahkan bukan sekedar isakan, kemungkinan besar mereka akan berteriak sekencang-kencangnya. Dapat dipastikan suara mereka akan sangat gaduh. Lantas, mengapa para tetangga tidak mendengar sama sekali teriakan anak-anak itu? Argh… sulit menalarkan kejadian ini.

Kejadian ini, setidaknya, memberikan dua peringatan kepada kita:

Pertama, kemiskinan sesungguhnya tidaklah perlu dikhawatirkan. Ia sangat bisa diatasi. Kuncinya adalah ketenangan yang muncul dari kesabaran dan keikhlasan hati. Kekalutan pikiran akan menghilangkan kebeningan hati sehingga pelakunya tak mampu lagi untuk menalarkan perbuatannya.

Kedua, fungsi-fungsi sosial dalam masyarakat perkotaan telah semakin tergerus. Ketidakpedulian dan individualistik semakin mendominasi. Hal tersebut terjadi karena kesibukan duniawi dalam rangka pemenuhan materi telah meraja dalam diri kita. Akibatnya, silaturrahmi antar tetanggapun sudah tak terjalin lagi dengan baik. Hal ini, patut untuk dicemasi.

Kemiskinan harta sesungguhnya tidaklah perlu ditakutkan. Tuhan telah menjanjikan rejeki bagi kita. Tinggal bagaimana kita menjemputnya. Sekeras usaha kita, sebesar itulah hasil yang akan diperoleh.

Yang patut diwaspadai adalah kemiskinan jiwa. Jiwa yang miskin karena menjauh dari Tuhan, hanya akan menghasilkan manusia-manusia tak bernalar.

Semoga kita terhindar dari ini semua…

65 comments on “miskin harta atau jiwa?

  1. Bagaimana kalau yang dibunuh adalah “Keinginan Untuk Memiliki Anak”? Sebab menurut saya, memiliki anak adalah sebuah tanggung-jawab yang besar. Barangkali si Ibu tak siap untuk memenuhi tanggung-jawab tersebut.
    .-= mawi wijna´s last blog ..Candi Pringapus =-.

    • Untuk memiliki anak memang harus punya persiapan yang matang; jiwa dan raga. Seperti yang pernah saya kisahkan di sini: http://hardivizon.com/2009/11/24/jangan-punya-anak/

      Sesungguhnya, keinginan memiliki anak itu adalah fitrah setiap manusia. Akal kita saja yang mencari-cari pembenaran atas alasan tidak siap itu. Nurani kita pasti mengatakan “iya”. Sayangnya, nurani sering ditutupi dengan egoisme duniawi…

      Tapi, dirimu tak berpikiran untuk tidak punya anak kan Wij? hehehe… :D

    • Kemiskinan sering dijadikan alasan pembenaran atas sebuah perbuatan naif Ri. Makanya, Nabi mengingatkan untuk berhati-hati dengan kemiskinan dalam salah satu hadis beliau…

    • Menurut pengakuan si ibu dalam wawancara tv, dia sedang kalut. Makanya aku bilang di atas bahwa alasannya untuk mencarikan uang buat makan anaknya itu patut dihargai. Hanya saja, meninggalkan sampai empat hari itu, sangat susah untuk dinalarkan. Ya, sama saja dengan kisah yang Nechan tulis itu, masa sih anak bisa ketinggalan ketika pindah rumah? Duhhh teganya…! :)

    • Menurut berita yang saya baca, suaminya ada di rumah yang lain. Barangkali keduanya sudah berpisah, saya kurang tahu persis. Tapi, terus terang, ada banyak keanehan dalam kasus ini

  2. sekarang kita sudah tidak tahu lagi apa yang terjadi di rumah sebelah, apakah mereka makan atau tidak.. bahkan wajah penghuninya pun mungkin kita tidak kenal.

  3. ahh.. ibu yang gila sepertinya !!!!

    Iya Uda… kadang kemiskinan itu ada karena manuasianya malas, tidak berusaha, tidak mau kerja keras dan tidak punya keinginan untuk merubah nasibnya… dan bersamaan dengan itu, rasa kepedulian sesama semakin menipis… semoga kejadian di atas tidak terjadi lagi di belahan negeri ini..di manapun.. saya merinding membayangkan tiga bocah itu..

    • kemiskinan dan kemalasan selalu menjadi sahabat sejati Ceu. saya sangat yakin, orang yang senantiasa bekerja keras takkan mudah miskin jiwanya.

      kita sebagai rakyat biasa, hanya bisa bilang miris. tapi, mestinya ini menjadi perhatian besar bagi pemerintah untuk semakin peduli dengan rakyatnya

    • Duh… maaf cekgu, saya tak bermaksud membuat cekgu esmosi…
      *segera menyelamatkan murid kelas lima, khawatir jadi pelampiasan esmosi cekgu* ;)

    • ya, semua kita ingin kesempurnaan seperti itu. tapi, bila tidak bisa sesempurna itu, setidaknya jangan sampai kita miskin hati… :)

  4. Masya Allah… +- sebesar anak2 saya uda…tidak terbayangkan.. Nauzubillahi minzalik….
    Mudah2 an anak2 yang tidak berdosa selalu dilindungi Allah.. dan kita dijauhakan dari ini semua, amin..

  5. Kadang yg perlu kita prihatin adalah bagaimana kehidupan bertetangga saat ini,… kepedulian yg semakin terkikis,… semoga kejadian ini memberikan waktu kepada kita untuk intropeksi diri,.. makasih uda atas sharing-nya
    .-= avartara´s last blog ..GEMPA (LAGI………) =-.

    • melakukan kegiatan bersama antar tetangga seperti arisan ataupun pengajian itu barangkali bisa mengurangi individualistis itu bang avartara. pengurus rt seharusnya bisa lebih kreatif mengurus warganya…

  6. Waktu aku nonton berita ini, aku speechless….kasihan betul anak-anak itu, Uda. kita aja yang dewasa kalau lapar merasa sangat tak nyaman, perut juga melilit nggak karuan… gimana dengan anak-anak sekecil itu ya?
    .-= nanaharmanto´s last blog ..Sayur Nangka =-.

  7. jama sekarang memang serba susah, jangankan membantu, tahu tetangganya lagi kesusahan saja sudah untung, yang tahu banyak yang tidak membantu…

  8. naudzubillahimin dzalik…
    memang banyak sekali faktor yang menyebabkan seseorang menjadi begitu nekat dan pendek berpikir. dan penyebab yang paling sering memang adalah kemiskinan.

    kalau soal si ibu yang tega meninggalkan anak-anaknya, sudahlah. tapi soal tetangga-tetangga yang tidak ambil peduli itu memang sungguh ironis. padahal nabi saja sudah menyebutkan bahwa tetanggamu adalah saudaramu yang terdekat, kalau saya tidak keliru mengulang. dan tidak akan selamat seseorang bila ia kenyang namun tetangganya kelaparan. nah, di mana rasa kasih sayang dan persaudaraan yang diharapkan dalam bertetangga itu ya, da?

    mudah-mudahan kita terhindar dari sifat demikian. *introspeksi diri*
    .-= marshmallow´s last blog ..No Idea =-.

    • Dalam membayarkan zakat, kita sangat dianjurkan untuk memberikan kepada orang yang ada di dekat kita, yakni tetangga, setelah itu baru membaginya kepada orang yang jauh dari kita. Ajaran ini menunjukkan betapa pentingnya kita peduli terhadap tetangga. Ada banyak hadis nabi yang mengajarkan soal hidup bertetangga ini yang kesemuanya bermuara kepada kepedulian dan perhatian.

      Yah… semoga kita bisa berkaca dari kejadian ini

  9. 9 Bulan … ?
    Ditinggal Empat Hari ?
    Untuk mencari makan ? (sampai empat hari …)
    Saya mencoba untuk mengerti … tetapi tetap tidak bisa mengerti …
    dan berusaha untuk tidak menjudge dengan mengatakan … “kemana nurani ?”

    Alasan Kalut ? … hhmmm

    Mengenai Tetangga yang tidak mendengar anak menangis … ???
    Budaya elu-elu gua-gua rupanya tidak berlaku disini …
    Namun kalau Gosip … wwwooouuu seolah semua berlomba mengupas sampai ke pojok rumah yang terdalam …

    Eniwei …
    Saya tidak tau ujung pangkalnya …
    Yang jelas ini miris !

    Salam saya

    • Begitulah Om, ini sangat sulit untuk dinalarkan.
      Ada banyak kontradiksi di kehidupan kita.
      Ada banyak ironi di sekeliling kita.
      Dan itu hendaknya menjadi pembelajaran paling berharga bagi kita semua

      Salam juga Om

  10. Rasa takut akan miskin harta, tumbuh dari jiwa2 yang tidak yakin akan ketentuanNYA…dua poin peringatan diatas…betul2 mengena sekali uda, dengan reaitas yang ada dalam masyarakat kita sekarang…
    terimaksih Uda…kita sama2 saling mengingatkan yah… :)
    .-= atmakusumah´s last blog ..Mengingat Allah Setiap Saat… =-.

  11. memang kalo dipikirkan tak masuk akal ada ibu yang seperti itu
    tapi aku mengenal seorang ibu yang meninggalkan dua anaknya
    satu ditinggalkan bersama ayahnya
    satu ditinggalkan di panti asuhan
    dan dia bersenang2 bersama kehidupan barunya di bali
    aneh
    .-= julie´s last blog ..aku cinta padamu, dan kau pun tau =-.

  12. Tidak ada daya upaya lagi.

    saat ini hanya ada satu jalan iaitu mensosialisasikan kembali kepada orang yang serba berkecukupan untuk gemar berzakat.

    Kalo dulu orang yang gak berzakat diperangi, hartanya diambil paksa untuk bayar zakat.

    bukan begitu CMIIW :lol:

  13. tidak ada orang yg ingin miskin, semua orang ingin kaya.
    namun kaya saja tdk cukup, kalau tdk kaya hati.
    kesenjangan sosial yg makin menjadi, sudah seperti pemandangan yg biasa , benar2 elu-elu gue-gue sudah mendarah daging di negeri ini.
    lalu, apa yg salah pada diri kita sekarang?
    cobalah kita sering2 merenung utk diri sendiri,lalu mulai bertindak.
    salam.
    .-= bundadontworry´s last blog ..Kulitnya ikut dimakan. =-.

  14. barangkali kejadian spt ini ada banyak terjadi di sekeliling kita.
    hanya saja karena ketidakpedulian kita dng lingkungan sekitar maka begitu terendus oleh media, dan terekspos kita baru ngeh.
    kegiatan2 yg bersifat interaksi dng para tetangga banyak yg hilang, seperti ronda atau gotong royong membersihkan lingkungan.

    • Saya setuju dengan anda Guskar. Pastikanlah bahwa kita peduli sama lingkungan masing-masing terlebih dahulu, sebelum menghujat rame-rame.

  15. semoga Uda.
    Betapa vitalnya pondasi keimanan. iya saya heran sekali kok mereka bertiga bisa bertahan selama 4 hari ya…., padahal lihat di tipi..jarak rumah penduduka tidak berjauhan…

  16. Uda,
    Yang menyedihkan…setiap kali kita mengasihani orang miskin, tapi kenapa mereka punya anaknya berturutan dan banyak ya? Saya sependapat dengan Mawi Wijna….soalnya untuk mau punya anak orang harus mempersiapkan diri, apakah mampu nanti melindungi anak-anaknya?

    Jadi, mungkin juga diperlukan KB secara alami, serta rasa tanggung jawab bahwa punya anak itu suatu kewajiban, tak sekedar melahirkan saja, namun bertanggung jawab memberi makan, perhatian dsb nya. Memang diperlukan koordinasi, dengan pemimpin, para ulama dsb nya.

    Sedih jika sertiap kali membaca seorang ibu harus meninggalkan anak2nya…tapi lingkungan tak bisa disalahkan karena mereka juga harus jungkir balik untuk memenuhi kehidupannya sendiri….jadi tak bisa setiap kali mengharapkan bantuan. Pekerja kantorpun ada batasan berapa anak yang dibiayai oleh kantor…..
    .-= edratna´s last blog ..Kutunggu engkau di stasiun =-.

  17. Miskin harta ikut menggerus kejiwaan seseorg sehingga ikut2an miskin jiwa.
    Saya juga sering ‘ngudumel’ dalam hati kalau melihat orangtua-orangtua yang bisanya cuma bikin anak, dan setelah anak jadi ditelantarkan begitu saja.

    Semoga kelak saya menjadi orangtua yang baik buat anak-anak saya, Amien.

  18. Aduuuh kenapa kita malah rame-rame menghakimi. Coba baca muka kita sendiri masing-masing, sudahkah kita melakukan sesuatu terhadap orang lain selain di Blog!!??.
    Tentu semua ada sebabnya dan kita tidak tahu dengan pasti apa yang ada dipikiran si Ibu. Bagi orang miskin, berhubungan sex adalah hiburan termurah yang bisa didapatkan, hingga akhirnya punya anak dan terus punya anak. Kalau ada yang bilang kenapa tidak pakai kontrasepsi? Maka jawabannya, kemungkinan pengetahuan mereka tidak sampai segitu dan seandainya sampai maka mending buat beli nasi uangnya.
    Kalau memang anda semua orang pintar, JANGAN MENGHUJAT!. Tapi do something. Tuliskanlah dengan bijak apa yang anda ketahui hanya lewat media itu. Kalau perlu lakukan assesment untuk memastikannya.
    Pertanyaan saya, sudahkah anda bersosial dengan lebih baik?. Pastikanlah diri kita menyapa tetangga apapun keadaannya, meski tetangga sedang marah sekalipun, yang penting anda sudah memastikan bahwa tetangga kita baik-baik saja.
    Mari kita lakukan hal hal kecil untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya kembali hal seperti di atas. Dari hal kecil yang ada disekitar kita.
    Buat ibu-ibu, sepatutnya anda melakukan sesuatu bukan hanya marah-marah.

  19. semua pendapat uda bener,tapi saya mau tambahin sisi lainnya aja dari cerita diatas ,kebalikan dari orang tua yg pesimis,justru ada juga orang tua yg angkuh,misalnya dengan mengatakan “anak2 kan masih kecil2,kalo gue meninggal ,nanti siapa yg mau ngasih makan??”

    biasanya kata2 ini muncul dari orang tua yg rada sombong alias angkuh,merasa dirinya yg bisa ngasih rejeki. padahal banyak juga di dunia ini yg sedari lahir udah yatim piatu tapi kemudian jadi orang sukses,jadi orang besar. nah,kita juga harus sadar betul,bahwa Allah yg ngasih rejeki itu anak,bukan kita,jadi kita gak perlu kuatir seandainya kita meninggal dan anak masih kecil2,rejeki itu urusan Allah.

    kalo kata ustad saya nih “kecoak aja yg gak ada kantornya bisa hidup,apalagi manusia??”:D
    .-= didot´s last blog ..Sifat ikhlas =-.

  20. Kebetulan saya nggak sempat nonton berita itu di teve. Tapi dari membaca ulasan Uda, memang benar-benar sulit dinalar. Empat hari anak-anak dikunci dalam rumah? Tapi mereka masih (ma’af) hidup?

    Saya tak bisa membayangkan bagaimana kondisinya setelah empat hari anak-anak itu tak diurusi ….
    .-= Tuti Nonka´s last blog ..No Refund, No Exchange =-.

  21. “Kemiskinan harta sesungguhnya tidaklah perlu ditakutkan. Tuhan telah menjanjikan rejeki bagi kita. Tinggal bagaimana kita menjemputnya. Sekeras usaha kita, sebesar itulah hasil yang akan diperoleh.

    Yang patut diwaspadai adalah kemiskinan jiwa. Jiwa yang miskin karena menjauh dari Tuhan, hanya akan menghasilkan manusia-manusia tak bernalar”

    SETUJU sekali Uda Vison..
    .-= Nug´s last blog ..Si Manis Penggoda =-.

  22. Kalau kemiskinan hanya kita pandang dari sisi moralitas saja, saya rasa besar kemungkinan kita untuk “blame the victim”. Karena kita hanya berorientasi pada akibat, apakah kita pernah mempertanyakan bagaimana kemiskinan yang terjadi di indonesia sebenarnya dilaksanakan secara sistematis oleh negara misalnya?

  23. ntah kenapa, dari dulu saya lebih suka tinggal di kota yang sepi, bukan metropolitan atau kota besar lainnya, walau fasilitasnya cukup, namun peduli sosial antar tetangganya masih ada.

  24. Saya juga barusan menulis tentang kemiskinan. Memang dahsyat sekali akibatnya jika kemiskinan harta ditambah dengan kemiskinan jiwa. Dan, seringkali kemiskinan jiwa ini sudah saat terbentuk sejak kecil saat keluarga dan lingkungan sekitar tidak mengajarkannya.
    .-= racheedus´s last blog ..Si Miskin =-.

Komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>