UN? siapa takut…!


Warning: Illegal string offset 'single_featured_image' in /home/hardiviz/public_html/wp-content/themes/confidence/content-single.php on line 69

Tulisan ini awalnya adalah komentar yang kutulis di blognya Imoe yang membahas tentang “Makelar kunci jawaban Ujian Nasional“. Tapi karena kepanjangan, komentar itu kubatalkan dan jadikan postingan saja. Lumayan kan…? hehehe.. :D

Ketika Afif menghadapi Ujian Nasional tingkat Sekolah Dasar dua tahun yang lalu (ini adalah UN pertama untuk tingkat SD), kepanikan dan ketegangan sudah sangat terasa mulai awal tahun dia duduk di kelas enam. Berbagai program telah disusun sekolah, mulai dari les tambahan sampai dengan menginap di sekolah setiap malam Minggu.

Hampir setiap hari Afif pulang sekolah pukul 4 sore. Rona keletihan sangat tampak di wajahnya. Sering kudapati ia terkapar di tempat tidur tanpa sempat mengganti seragam. Tak tega hati ini untuk membangunkannya, sekedar menyuruhnya untuk mengganti seragam. Kami biarkan saja dia begitu, hingga nanti terbangun sendiri. Malam harinya, ia akan kembali belajar, menjawab aneka soal yang diberikan gurunya. Nyaris tak sempat ia bermain bersama teman-teman di rumah.

Melihat keadaannya itu, membuatku berpikir keras. Berbagai pertanyaan timbul di benak ini; “Apakah UN memang diciptakan untuk membuat para pelajar tertekan sedemikian rupa?” Tekanan itu tidak hanya muncul dari dalam diri mereka, tapi lebih banyak dari luar diri mereka; sekolah dengan ambisi untuk memiliki prestise hebat dan orangtua dengan ambisi agar kelak anaknya diterima di SMP Negeri. Argh… jujur dari dalam hati, aku tidak setuju dengan perlakuan semacam itu.

Setelah satu bulan keadaan itu berlalu, aku punya inisiatif untuk menemui wali kelas. Dari obrolan panjang dengan beliau, kamipun punya pemikiran yang sama, yakni anak-anak harus dipersiapkan sebaik mungkin untuk menghadapi UN, tapi harus diciptakan suasana yang menyenangkan buat mereka. Maka, para wali murid kelas 6, wali kelas dan guru-guru yang terlibat akhirnya berkumpul dan merumuskan beberapa kesepakatan yang intinya adalah bagaimana caranya agar anak-anak tidak merasa tertekan menghadapi UN tersebut kelak.

Di antara yang kami sepakati adalah, tidak menjejali anak-anak dengan bayangan mengerikan soal UN. Ungkapan-ungkapan yang bernada menekan, baik di rumah maupun sekolah, harus ditiadakan. Anak-anak harus ditanamkan bahwa UN hanyalah sebuah fase yang harus mereka lewati untuk naik ke jenjang berikutnya. Nilai bukan tujuan utama, tapi menjadi pintar dan berilmu adalah segalanya. Belajar bukan untuk mengejar nilai, tapi belajar adalah untuk membuat diri kita bernilai.

Hal kongkrit yang kami lakukan sebagai orangtua adalah terlibat aktif dalam persiapan anak-anak menghadapi UN. Seperti yang kusebutkan di atas, bahwa setiap malam Minggu anak-anak menginap di sekolah. Kegiatan utamanya adalah persiapan UN dan juga memberi bekal pengetahuan tentang dunia keremajaan yang akan mereka masuki. Biasanya, yang menyediakan konsumsi pihak sekolah. Maka, kali ini kami para orangtua bersedia mengambil alih urusan konsumsi itu. Kami secara bergantian bertanggungjawab untuk menyediakan makan malam, snack dan sarapan pagi.

Menurut pengakuan anak-anak, semenjak konsumsi diambil alih orangtua, rasanya jauh lebih nikmat dibanding dengan yang disediakan sekolah. Ya, tentu saja bisa seperti itu. Karena, kami para orangtua tak berpatokan pada anggaran. yang disediakan sekolah. Yang terpikir oleh kami adalah bagaimana anak-anak dapat mengkonsumsi makanan yang enak sekaligus menyehatkan. Sudah pasti, setiap orangtua yang kena giliran akan nombok banyak. Tapi kami tak peduli, lha wong untuk anak sendiri, masa perhitungan… :D Dan yang pasti, makanan yang kami sediakan itu berbumbukan doa dan cinta, dijamin makanan itu pasti lezat… ;)

Melihat aktifitas kami yang begitu besar, pihak sekolahpun terbawa-bawa semangatnya, terutama sang wali kelas. Beliaupun membuat program rekreasi setiap akhir bulan. Rekreasi yang murah meriah, namun mampu mengurangi ketegangan pada diri anak-anak. Membuat mereka santai sejenak dan melupakan beban pelajaran, merupakan terapi yang sangat efektik di saat itu.

Dua bulan jelang UN, sang wali kelas melakukan sebuah tindangan yang sangat menyentuh. Beliau begitu rajin mengirimkan SMS kepada anak-anak di tengah malam, kurang lebih isinya begini: “Nak, bangun… mari kita shalat tahajjud, meminta kepada Allah agar dimudahkan segalanya“. Alhamdulillah, tindakan itu berdampak baik buat anak-anak, setidaknya aku melihat Afif mau bangun dan melaksanakan apa yang disarankan wali kelasnya tersebut.

Akhirnya, semua yang kami lakukan itu, alhamdulillah membuahkan hasil yang menggembirakan. Anak-anak mendapatkan nilai yang sangat baik. Nilai tertinggi adalah 29 dan terendah 22, untuk tiga mata pelajaran yang diujikan. Ketika pengumuman itu, kami sangat terharu melihat anak-anak bersorak gembira. Mereka berpelukan dan saling bertangisan, terutama ketika mereka memeluk sang wali kelas. Terbayar lunas usaha keras mereka selama ini. Sungguh, itu pemandangan yang takkan terlupakan bagiku seumur hidup.

Dari pengalaman itu, aku dapat mengatakan bahwa ujian nasional tidak perlu dijadikan momok. Sikap orangtua dan guru adalah penentu segalanya. Suasana tegang yang tercipta harus dieliminir. Anak-anak harus dibuat senyaman mungkin. Aku selalu ingat dengan pesan almarhun KH. Imam Badri, salah satu guruku di pondok dulu. Beliau bilang: “Jangan takut dengan ujian. Karena, orang hebat tak pernah takut bila diuji“.

So… mari katakan: “Ujian Nasional…? siapa takut…!”


Warning: Illegal string offset 'author_box' in /home/hardiviz/public_html/wp-content/themes/confidence/content-single.php on line 93

24 comments on “UN? siapa takut…!

  1. Ada Tiga Hal uda …
    1. Ini tulisan sangat menarik … saya mempunyai pemikiran yang senada dengan Uda …
    Kenapa kok kita semua takut sekali menghadapi Ujian Nasional ini … belum lagi pemberitaan sana-sini .. plus pembicaraan lebay talk show kelas televisi – kelas milis maupun kelas warung kopi … turut membuat UN ini menjadi sedemikian menakutkan …

    2. Persiapan awal … ini adalah kuncinya … (bukan sistim 2 bulan mau ujian baru di geber !)
    Jujur saat si Sulung masuk kelas 3 SMP dulu … persiapan Ujian Nasional harus sudah dimulai saat bulan pertama dia masuk kelas 3 …
    Langkah yang kami ambil waktu itu adalah … mendaftarkannya ke salah satu bimbingan belajar …
    Dan alhamdulillah … hasilnya pun sangat menggembirakan .. Nilai si Sulung sangat memenuhi syarat untuk bersaing masuk SMA negeri unggulan … namun kami (juga si sulung ) lebih memilih untuk meneruskan ke Madrasah Aliyah tempat dia bersekolah sekarang …

    3. Saya sangat prihatin dengan langkah yang diambil oleh sementara oknum guru / sekolah … memberikan kunci jawaban … sms … cari bocoran soal dan sebagainya … hanya demi gengsi sekolah – kredibilitas sekolah dan sebagainya …
    Memang nilainya bisa bagus … namun … apakah kita tidak sadar bahwa hal itu menanamkan sejak dini perbuatan curang di benak anak didik kita …
    kredibilitas cap apa ini namanya ???
    (maaf uda … saya kadang suka “geram” jika membaca berita seperti ini …)(kok bisa gitu ya …)

    Last …
    Semoga Pendidikan kita menjadi lebih baik di Masa Yang Akan datang …
    Dan kita sebagai orang tua … Turut berperan penting didalamnya … (bukan hanya pihak sekolah …)

    Salam saya Uda …
    (maap … panjang juga nih jadinya …)
    :) :) :)

  2. Wow!

    Jarang banget saya menemukan orang tua murid yg mengambil inisiatif spt Uda, biasanya sibuk sendiri dan bertaruh dengan nasib :( Afif beruntung sekali memiliki Uda sebagai ayahnya (jangan dibilang l.e.b.a.y, ya. Ini Reva jujur loh)

    Semoga berhasil buat Afif di UN berikutnya…!! Ujian Nasional…? siapa takut…!
    .-= Reva Liany Pane´s last blog ..fiksi : Saya Lelaki Romantis =-.

  3. Yang membuat UN memiliki citra sakral, menurut saya adalah persiapan menjelang UN tersebut. Ada kalanya kita berlatih terus-menerus, tak kenal puas. Namun segala apa yang kita latih tidak serta-merta menentukan hasil pada saat pelaksanaan bukan? Sebab kondisi saat ujian jelas jauh berbeda pada saat latihan.

    Hingga detik ini, saya percaya kalau latihan itu efek terbesarnya hanya untuk meningkatkan kepercayaan diri.
    .-= mawi wijna´s last blog ..Greenmap Sahabat Sepeda =-.

  4. ternyata banyak akibat buruk yang ditimbulkan oleh UN ini, adalah cara dari murid dan linkungan mereka menyikapinya…
    saya baru sadar ternyata masih ada kalangan yang bisa menyikapi UN dengan secerdas ini, jujur da, aku belum pernah liat guru yang berhenti mencerca anak-anak untuk memaksakan dirinya untuk belajar menjelang UN….
    setelah baca tulisan ini, aku jadi ingin cepat kelas 3… mudah2an ada program serupa… hihihi

  5. sama seperti Imoe, bundo ikut terharu melihat usaha gigi kerja sama antar orang tua dan guru.

    untuk semua anak-anak generasi penerus bangsa, jangan pernah takut..!

    **demikian juga buat orang tua dan guru.. jangan sampai malah melemahkan semangat juang anak dengan usaha2 buruk yg bersangkutan dengan bocoran soal, bila kita pengecut bagimana dengan anak-anak kita?

  6. wah, memang peran serta aktif orang tua penting banget ya..
    seperti uda ini.. :)

    karena banyak lho uda, yang menyerahkan pendidikan anak ke sekolah 100%. tanpa mencoba melihat atau mengevaluasi. tinggal terima jadi.

    seperti kata reva, beruntung sekali afif punya ayah seperti uda. beruntung sekali sekolahnya afif punya wali murid kreatif.

    semoga ketika masa seperti ini datang pada saya.. bisa seperti uda.. :)
    .-= anna´s last blog ..Coto atau Rawon? =-.

  7. Sangat setuju, Uda. Saya sendiri, dulu tak terlalu khawatir dengan UN meski namanya masih EBTANAS. Entah mengapa sekarang UN menjadi momok yang menakutkan? Asal persiapannya jauh2 hari dan didukung oleh para guru dan orangtua, insya Allah memang tidak terlalu menegangkan. Bahkan, saya masih ingat ketika mau UMPTN hanya menggunakan celana training sebagai ungkapan bahwa saya memang siap! ^_^
    .-= Bang Aswi´s last blog ..Pelatihan Menulis untuk Para Ibu =-.

  8. UN gak beda jauh halnya dengan masalah yang timbul dalam kehidupan. semakin dipersiapkan, semakin mampu menghadapinya. semakin santia melakoninya. semkain bulat pula tekad untuk melewatinya.

    usaha yang sangat bagus itu om *salut*

    dan alhamduillah banget cepat membuahkan hasil
    .-= zulhaq´s last blog ..Jika Sinting Menjadi… =-.

  9. >>makanan yang kami sediakan itu berbumbukan doa dan cinta, dijamin makanan itu pasti lezat…

    Setuju banget Uda, tak perlu lagi itu vitamin dan suplemen yang mahal-mahal.

    Saya jadi ikut terharu membaca bahwa wali kelas kirim sms untuk sembahyang… Benar-benar wali kelas yang perhatian ya. Kalau saja semua ortu, guru menyikapi UN seperti yang Uda dan wali kelas sekolah Afif….

    Di Jepang tidak ada UN, tapi ada persaingan untuk masuk sekolah favorit yang kadang membuat satu keluarga tertekan. Terutama masuk SMA, karena bukan wajib belajar, tidak ada jatah kursi di rayon/wilayah. Semua harus mengikuti ujian masuk.

    EM
    .-= ikkyu_san´s last blog ..Si Biru dan si Kuning =-.

  10. Saya punya pengalaman yang mungkin bisa saya share…
    Karena saat mahasiswa, suami banyak membantu di bimbel, maka dia mengatakan, anakmu akan bosen jika disuruh belajar dengan cara begitu, caranya harus dibalik. Jadi saat awal kelas 6 SD, kami telah memfoto kopi soal, dijadikan dalam setiap map…jadi map merah untuk soal matematik, map hijau untuk bahasa Indonesia dst nya. Soal jawaban dipisah….

    Setiap hari, paling tidak anak-anak harus latihan ujian…yang menyelenggarakan si mbak, pakai bel weker…selesai ujian, diberi hadiah teh manis dan kue. Seminggu sekali (karena saya kerja), saya akan menilai hasil ujian, kemudian menjelaskan soal yang masih salah (dari panduan jawaban soal yang saya simpan). Saya akui, orangtua memang berperan membuat anak-anak semangat..dengan cara belajar seperti ini mereka tak terbebani …..malah temannya pada ikutan belajar…terpaksa deh kami memperbanyak fotocopy soal.

    Saat SMA, sejak kelas satu, saya dan suami berbagi tugas..saya belajar lagi kimia, sedang matematika dan fisika tugas suami….dengan cara pendampingan ini, anak-anak semangat dan setelah belajar kami jalan-jalan..nonton dll…sehingga saat ujian mereka tak takut lagi.

    Dan saat SMA, memang harus mulai belajar sejak kelas 1, karena jika dasarnya kurang baik, akan sulit di tingkat lanjutannya. Lulus gampang, namun tak bisa melanjutkan ke PTN favorit.
    Mudah2an sharing saya bermanfaat…anak ujian, ibu cuti…hehehe
    .-= edratna´s last blog ..Berpikir panjanglah, sebelum menilai =-.

  11. 1. Senada dengan beberapa komen di atas, Uda…
    aku terharu membaca posting ini…

    2. [...] Belajar bukan untuk mengejar nilai, tapi belajar adalah untuk membuat diri kita bernilai.
    hmmmm…aku suka kalimat ini Uda…

    3. Guru yang meng- SMS muridnya untuk sembahyang…wah, ademnyaa….
    .-= nanaharmanto´s last blog ..Hitung Kursi =-.

  12. Sampai kapanpun UN akan tetap menjadikan siswa dipaksa mengejar nilai ujian, dan bukan nilai diri. Harus ada sistem yang lebih pas, ini menurut kutu lho …

    Semoga makin banyak guru yang menyadari pentingnya hubungan yang dekat dengan siswa, jujur, masih jarang guru yang kayak gt
    .-= KutuBacaBuku´s last blog ..Kutu’s Library, a Dream Come True … =-.

  13. kemaren saya dengar ada yg melaporkan penjual kunci jawaban UN karena yg dijual palsu.

    memang sih menjual jawaban palsu salah,tapi yg membeli juga gak sama benarnya ya uda??

    intinya kalau sudah berusaha semaksimalnya gak ada yg perlu dikhawatirkan lagi kan? biar Allah yg menentukan hasil,manusia cukup berusaha :D
    .-= didot´s last blog ..Apapun cuacanya bersyukurlah jawabannya =-.

  14. malam maz, klo boleh mau iji bertukar link maz,
    link blog ini sudah terpsang di yosbeda.com dan
    infoaja.com dengan anchor “hardivizon”silahakan di cek mas, sekiranya kedua blog saya tersebut
    pantas untuk di blogroll, ditunggu link blzanya ya, terimakasih sebelumnya…

  15. “jangan takut dengan ujian. Karena, orang hebat tak pernah takut bila diujiJangan takut dengan ujian. Karena, orang hebat tak pernah takut bila diuji”

    kata² inspiratif bener pak :D memang sebaiknya UN jangan dijadikan momok, tp dijadikan semangat untuk melangkah lebih maju
    .-= tomi´s last blog ..Akankah Pagerank Diupdate ? =-.

  16. terharu dengan kiriman sms dari wali kelas afif kepada murid2nya…sudah lama sekali aku tidak mempunyai guru seperti itu uda. Dulu aku punya ibu guru waktu sd yg sangat amat dekat dengan murid2nya dan membantu kami untuk melalui susasana tegang saat2 ujian karena dia guru olah raha dia kadang mengajak kami berjalan kaki ke pantai pengganti jam pelajaran olahraga….

    UN memang momok jika orang tua dan guru tidak saling membantu…dan aku salut dengan para orang tua seperti uda dan ayah ibu temen2 afif….

    kalo diindonesia banyak yg menerapkan hal seperti ini gak akan heran kalo 10 thn lagi indonesia akan terdepan dalam pendidikan.

  17. Wow, UN….mengerikan ?…menakutkan ?….Menyebalkan…dll dech
    Hahaha…kalau boleh ngaku, sebenernya saya selaku ortu lebih deg-deg an uda, terutama menjelang semester or sejenisnya… (maklum anakku yg sulung baru thn depan UN, sekarang masih kls 5) Tapi kalau denger2 pengalaman temen2 yang anaknya udah diatas saya, hem jadi khawatir juga, malah khawatir banget ….

    Tapi mengingat pengalaman saya dulu (waktu sekolah…hahaha…pdhal beda zaman), yach kenapa juga meski takut, ngeri, khawatir segala yach….

    Khan yang terpenting gimana cara / metode yang akan kita ambil utk memudahkan langkah kita mengiring & membimbing anak2 kita agar berhasil.

    Semua ada trik dan tipnya. Dan yang terpenting juga tetap berdo’a jaga kesehatan juga. Kan nggak lucu kalau mrk jadi stress, Hahaha…

    Setuju banget dgn cara Uda lakukan. Sip dech, ntar aku terapkan juga buat si sulung mulai awal kls 6. Do’ain anakku juga bisa lulus UN dgn baik yach Uda :)

    Best regard,

    Bintang
    .-= elindasari´s last blog ..CINTA DALAM SKETSA =-.

  18. Memang terkadang guru juga kebingungan untuk menjaga suasana ujian nasional
    Kalau dibuat tenang, kebiasaan murid-murid malah santai, padahal resiko kegagalan ujian nasional itu sangat memberi pengaruh pada masa depan murid.
    Kalau dibuat serius, murid-murid malah menjadi seperti yang bapak katakan. Jadi terkadang susah juga untuk mempersiapkan murid menghadapi ujian nasional.

Komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jawab dulu ya pertanyaan di bawah ini sebelum kirim komentar, biar tidak dianggap spam.. :) *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>