kebenaran itu pahit!


Warning: Illegal string offset 'single_featured_image' in /home/hardiviz/public_html/wp-content/themes/confidence/content-single.php on line 69

Andi terdiam sesaat, hatinya masih bimbang, apakah benar yang akan dilakukannya ini? Sejenak dilihatnya lagi amplop coklat di atas mejanya. Isinya masih utuh, 30 juta! Digenggamnya dengan erat amplop itu. Kembali diteguhkannya hatinya. “Aku harus melakukannya!“, begitu ia berbisik dalam hati.

Dengan yakin, dia melangkah keluar kamar kos, menenteng sebuah tas berisi pakaian dan menggendong sebuah ransel di pundak. Di mulut gang, ia panggil sebuah becak dan meminta untuk mengantarkannya ke sebuah alamat. Hanya butuh sekitar 20 menit, ia pun sampai di alamat yang dituju.

“Mau apa kamu kesini?”

“Mbak, izinkan aku untuk menjelaskannya dulu”

“Apa lagi yang mau dijelaskan?!”

“Setidaknya Mbak tahu mengapa aku melakukannya”

“Sudah jelas, kamu melakukannya karena memang itu maumu!”

“Tidak Mbak, aku terpaksa melakukannya. Dan lagi, itupun memang harus kulakukan, karena aku sayang padanya”

“Sayang? Sayang macam apa yang mau kau tunjukkan? Kamu lihat, betapa besar sakit yang kau tinggalkan akibat perbuatanmu itu!”

“Aku tahu Mbak, tapi… “

“Tapi apa…?!!”

Sejenak suasana hening, tak sepatahpun kata yang keluar dari mulut keduanya. Tiba-tiba Andi berdiri dari duduknya dan berkata:

“Mbak, sepertinya sulit bagi kita untuk berbicara dalam keadaan emosi seperti ini. Kalau begitu, izinkan aku pamit. Aku ingin pergi dari kota ini, mengubur masa lalu kita, memulai sesuatu yang baru. Bacalah surat yang ada di dalam amplop ini, sepeninggalku nanti”.

Tantri terpana, matanya bolak-balik melihat ke arah Andi yang mulai beranjak keluar dan amplop warna coklat yang tergeletak di atas meja. Dia tersadar dari lamunan dan keterkejutannya demi mendengar tangisan bayinya dari dalam kamar. Dengan cepat disambarnya amplop tadi dan segera menuju kamar.

Sambil menggendong bayinya, Tantri membuka amplop warna coklat tersebut. Dia terkejut alang kepalang. Ada tiga ikat uang yang terdiri dari lembaran seratus ribu, berjumlah 30 juta rupiah. Di dalamnya juga terdapat sepucuk surat. Segera dibacanya surat itu:

Mbak Tantri yang saya hormati…

Maafkan jika tindakan saya telah melukai perasaan mbak dan keluarga. Saya benar-benar dihadapkan pada sebuah pilihan yang sangat sulit. Antara jujur dengan kebenaran yang saya ketahui atau melindungi sahabat baik saya, Mas Dedi, suami mbak.

Sesungguhnya, saya sudah lama mengetahui kalau Mas Dedi korupsi di kantor kami. Bukannya saya tidak mengingatkan. Sudah sangat sering saya katakan kepada beliau untuk tidak meneruskan kelakuannya itu. Namun, sepertinya uang telah menggelapkan matanya. Dia sudah tak peduli lagi dengan nasehat sahabatnya. Dia sudah menganggap uang adalah Tuhannya.

Maka, ketika kasus itu kemudian mengemuka dan Mas Dedi akhirnya harus menjadi tersangka, saya pun harus dihadapkan pada pilihan berat. Sebagai saksi kunci, tentulah kesaksian saya menjadi hal yang utama. Sungguh berat bagi saya ketika itu. Kalau saya berkata jujur, maka Mas Dedi akan dipenjara. Tapi, jika saya bohong, saya telah menodai diri saya sendiri.

Akhirnya, seperti yang mbak ketahui, sayapun memilih untuk berkata jujur, meski itu berat.

Mbak, kebenaran itu sungguh pahit, tapi saya harus menelannya. Bagi saya, sahabat tidak selalu harus membenarkan apa yang dilakukan oleh sahabatnya, iapun harus berani menyalahkan perbuatannya. “Sahabat sejati adalah yang mau menangis bersamamu, bukan yang hanya ingin tertawa bersamamu”. Karena saya tak ingin Mas Dedi larut dalam kesalahannya, maka saya harus menegurnya dengan cara ini. Maafkan jika pilihan saya ini membuat Mbak terluka.

Mbak… saya akan pergi meninggalkan kota ini. Mencari kehidupan baru yang lebih menenangkan hati. Terimalah uang hasil tabungan saya selama bertahun-tahun. Barangkali dapat meringankan beban Mbak, selama ditinggal Mas Dedi di penjara.

Salam saya,

ANDI

Tantri terduduk lemas di ujung ranjangnya. Tulang-tulangnya seolah lepas dari tubuhnya. Ia tak sanggup lagi berkata-kata. Hanya tetesan air hangat yang mengalir deras dari kedua matanya. Dengan lirih ia berbisik: “Tuhan, ampuni kami. Izinkan kami untuk tetap berlaku benar dan berani berkata benar

~oOo~

Kisah di atas terinspirasi dari obrolanku dengan dua narablog muda, Atmakusumah dan Didot. Kami bertemu pada hari Sabtu, 3 April 2010 yang lalu di pelataran Masjid Al-Azhar, Jakarta. Kedua sahabatku itu memiliki gairah yang luar biasa dalam belajar agama. Aku salut atas kegiatan mereka tersebut. Jika dilihat tulisan-tulisan mereka di blog, sangat menunjukkan betapa gairah itu sungguh besar.. :)

vizon atma didotBersama Atmakusumah dan Didot di pelataran Masjid Al-Azhar Jakarta.
“Kebenaran itu pahit, tapi harus tetap ditelan”


Warning: Illegal string offset 'author_box' in /home/hardiviz/public_html/wp-content/themes/confidence/content-single.php on line 93

65 comments on “kebenaran itu pahit!

    • benar sekali, ada banyak manfaat yang kita peroleh dari bersilahturrahmi.
      makanya, rasulullah menganjurkan kita untuk terus bersilaturrahmi, seperti ungkapan beliau: “barangsiapa yang ingin dipanjangkan umurnya dan diluaskan rizkinya, maka bersilaturrahmilah”

  1. AAhhaaa …
    Akhirnya keluar juga reportasenya …
    Saya jadi menerka-nerka apa sebetulnya isi pembicaraan waktu itu …

    BTW …
    Itu posisinya kok sama dengan waktu kita foto di Bekesong itu yak … anglenya pun (hampir) sama hehehehe …

    Yang jelas …
    This is the beauty of blogging …
    senang aja ngeliat tiga orang ini kopdaran … saya yakin kopdar itu seru pasti …

    Salam saya Uda …
    Salam saya Didot …
    Salam saya Atma …
    .-= nh18´s last blog ..ELEGANT NARCISM =-.

    • mau tau om? kita ngomongin tentang KEBENARAN kalo om sebenarnya memang makelar blog dan masih sangat muda usianya seperti di foto avatarnya hehehehehe :mrgreen: *ngarang bebas :D
      .-= didot´s last blog ..Prioritas hidup =-.

    • Ada banyak yang kami obrolkan, Om…
      Salah satunya adalah mengenai pengungkapan kebenaran, yang menjadi inspirasi cerita di atas…

      Aih… posisi foto itu memang gak berubah ya? gak di mana-mana selalu begitu aja posisinya. Benar-benar gak kreatif, hahaha… :D

      Yes, indeed Om…
      This is the beauty of blogging
      Bertemu dengan dua pemuda yang hatinya lekat dengan masjid, sungguh membuat saya bahagia sekali :)

    • afif… kebenaran yang disembunyikan tidak sekedar pahit, tapi juga bisa menjadi racun yang akan membunuh penyembunyinya

  2. mmm…ini toh yg dari Bekasi lalu menuju ke Al-Azhar :D
    aku setuju sekali uda…bahwa sahabat sejati adalah sahabat yang mampu menangis bersamamu tidak hanya membenarkan semua tindakan yang ternyata itu salah.

    • ternyata tempat ketemuan mempengaruhi isi pembicaraan Ri, hehehe… :D
      yes… “sahabat bukanlah yang selalu membenarkan, tapi juga mampu menyalahkan

  3. kejujuran, kejujuran yang dianggap salah tanpa mereka mau mengetahui kenapa semua itu harus dikatakan.

    disadari setelah adanya surat itu, tapi apa yang mau ditangisi, orangnya telah memutuskan tuk keluar kota. wewwww…

    disamping om, memang beliau beliau itu adalah blogger dengan sejuta dakwahnya :)
    .-= zulhaq´s last blog ..Usil Sinting (Tuan Makan Senjata) =-.

    • intinya zul… persoalan itu harus dilihat secara keseluruhan, latar belakangnya dan motivnya. melihat persoalan dari permukaan dengan persfektif penonton semata, akan membuat penilaian kita menjadi tidak adil…

  4. bertambah banyaklah sahabat sejati Uda ya.. (sepertinya sangat menyenangkan…)..

    *apa kisah di atas benar2 pernah terjadi ya ? sungguh luar biasa sosok seorang Andi….

    *saya pernah berkunjung ke blognya mas didot, dan sungguh blog nya sangat religius, banyak pencerahan yang saya dapat di sana.. luar biasa memang…. ( mas atma, salam kenal… )

    *btw, wajah mas didot mirip sekali dengan sahabat saya di cirebon, namanya Mas Arif, sekarang anggota dewan dr PKS di Kab. Crb… ( bersaudarakah..? )
    .-= ceuceu´s last blog ..Mereka yang Kucintai =-.

    • mbak ceuceu jarang mampir lagi ketempatku? apa bosen sama suguhannya ya?? hihihi

      nanti tak ganti deh menunya :D

      wajahku mirip sama arif? wah yg namanya arif itu ya aslinya mas atma mbak,tapi kita gak mirip kan? :mrgreen:

      aku gak punya saudara yg mirip,tapi sering dibilang mirip si anu dan si itu ,gak tau kenapa kok punya muka pasaran banget ya?? hehehehe :D

      padahal dipasar gak ada yg jual nih muka :P
      .-= didot´s last blog ..Prioritas hidup =-.

    • benar ceu… kisah di atas benar-benar terjadi, tapi dengan bentuk yang sedikit berbeda. maka, setelah mendengar cerita tersebut, saya semakin kagum dengan sosok “andi”

      kedua blogger itu adalah dua pemuda yang hatinya lekat dengan masjid. insya Allah adem rasanya kalau berteduh di psanggrahan mereka..

      soal kemiripan didot, biarlah dia yang jawab ya ceu, saya juga gak tahu, hehehe… :)

  5. Hari itu saya juga shalat dzuhur di Al Azhar loh Uda, sms ke mas Arief [Atma] tapi gak dibales :( jadi yah pulang setelah menyaksikan sahabat perempuan yang baru saja meng-islamkan dirinya.
    .-= Rindu´s last blog ..Bergegaslah … =-.

    • hihi.. kalo saja kamu dibales smsnya berarti fotonya tetep bertiga de…

      tau kan kenapa? kamu yg ambil fotonya ahahaha :mrgreen:

      ini juga kan manggil tukang jualan minumannya buat minta fotoin soalnya :D

      sang mualaf baru itu namanya martha saudara2 sekalian,dan langsung masuk kelas kita lho ,subhanallah merinding saya kalo mengingat peristiwa itu,jadi inget saya dulu :)
      .-= didot´s last blog ..Prioritas hidup =-.

  6. bagus banget cerita yang ditulis Uda..
    memang kadang ketika berteman, kita jadi sulit untuk mengatakan ‘tidak’ dan ‘salah’ kepada teman.

    ada perasaan nggak enak.
    tapi justru sikap itu menunjukkan bahwa kita bukanlah teman yang baik. teman yang tidak mengingatkan ketika seorang teman melakukan kesalahan.

    hm, mungkin saya juga seperti itu Uda..
    susah bilang tidak dengan teman…

    btw, Uda bener2 seneng kopdar yaa… hebat euy..
    kalo diitung udah berapa blogger yang ditemui Uda?
    .-= anna´s last blog ..10 atau 20 tahun kemudian =-.

    • semoga kita tetap dapat berbuat benar dan mengatakan yang benar, ya mbak anna… :)

      wah, udah gak kehitung nih berapa kali saya kopdar bersama sahabat narablog. yang pasti, setiap kali kopdar, selalu ada hikmah yang saya dapatkan

      btw, kapan nih giliran kita kopdar? :D

  7. wah2… benar2. kebenaran adalah segalanya. Jika atas menamakan HAM, kebenaran akan sulit meuncul ke permukaan. Setidaknya kisah diatas menginspirasi, bagaimanapun keadaannya, pertemanannya, kebenaran tetap lah nomer 1.
    .-= hanif IM´s last blog ..Konsep dan Design Kantor? Telur? =-.

    • saya suka dengan kalimat mas hanif: “bagaimanapun pertemanannya, kebenaran tetaplah nomer 1

      semoga “pengungkapan kebenaran” yang sedang dipertontonkan elit politik kita saat ini, benar-benar BENAR adanya… ;)

  8. Tak Cukup Sekali …
    Saya datang lagi uda …
    Saya kok kepikiran kopdar uda dengan dua anak muda ini …

    Saya yakin se yakin-yakinnya …
    Mereka pasti cocok sekali berbincang dengan Uda … Mereka anak-anak muda muslim yang gaul tetapi sangat getol berdakwah melalui tulisannya …

    Uda pasti bisa jadi tempat rujukan yang tepat dan menarik bagi mereka

    Salam saya Da …

    BTW …
    Ini oknum-oknumnya pada kemana nih …
    kok belum sowan kesini …
    waahhhh anak-anak muda itu … bandel sekali deh weiceh …
    .-= nh18´s last blog ..ELEGANT NARCISM =-.

    • Om… melihat aktifitas yang mereka lakukan di al-Azhar tempo hari itu, justru membuat saya malu hati. Betapa bergairahnya mereka menggali ilmu agama sebanyak-banyaknya. Justru saya belajar banyak dari Atma, Didot dan kawan-kawan yang saya temui di sana… :)

      Oknum-oknum itu masih sibuk berdakwah Om, bentar lagi juga muncul, hehehe… :D

  9. Nilai sebuah persahabatan gak akan pernah diukur dari uang,uang bisa dicari lagi jika hilang,tapi persahabatan??

    saya sungguh senang bisa bersahabat dengan blogger seperti uda vizon dan mas atma,alhamdulillah ilmu saya juga bertambah dari mereka2 ini,semoga saja Allah merahmati ilmu bermanfaat yg mereka berikan kepada saya ini.

    kebenaran tidak memandang pahit atau manis,kebenaran tidak mengambil rasa apapun,kebenaran itu netral dan tidak memihak.

    Dan sebaik2 perkataan adalah yg jujur dari hati nurani.

    om nh : iya om saya hadir nih hehehehehe,sori telat datangnya, maklum abis posting tulisan dulu dan menjawab komen2 teman yg lain :D

    ada yg mau kopdar lagi yg dijakarta?? hyuuuukkk mareee :mrgreen:
    .-= didot´s last blog ..Prioritas hidup =-.

    • benar sekali, Dot… persahabatan tidak dapat dinilai dengan apapun. salah satu dari tujuh golongan yang akan dilindungi di padang mahsyar nanti, seperti yang disebutkan Nabi SAW dalam hadis beliau adalah dua orang pemuda yang bersahabat karena Allah dan berpisah karena Allah…

      Dot… saya juga sangat senang bisa bertemu dirimu dan kawan-kawan yang kemarin itu. Gairah relijiusitas kalian patut diteladani… :)

      • terimakasih uda,semoga kita kelak termasuk dari golongan yg bertemu dan berpisah karena Allah dihadapanNYA,yg mendapatkan curahan rahmatNYA

        saya dan mas atma senang bisa belajar dari senior seperti uda,semoga ilmu2 kita berguna buat sesama ya uda ,insya Allah,amin :)
        .-= didot´s last blog ..Prioritas hidup =-.

  10. Hikmah dari cerita di atas dalem banget Uda…dan masing2 pihak pasti mendapatakan pembelajaran hidup yang cukup berharga, untuk tidak mengulangi kesalahan, karena pengalaman adalah guru yang terbaik…
    Terharu baca tulisannya Uda…
    .-= atmakusumah´s last blog ..Mengejar Impian (Abadi) =-.

  11. lama tak berkunjung ke surau nya Uda, ketika mampir ke sini.. tetap saja sama, banyak sekali pelajaran yang bisa di ambil

    terima kasih uda atas sharing-sharingnya :-)

    *lanjut ke tulisa-tulisan sebelum ini*
    .-= Bro Neo´s last blog ..Garuklah Punggungmu Sendiri =-.

  12. Seandainya kondisi itu benar nyata adanya dan kita sedang di posisi Andi… pasti berat sekali Uda.. Naudzubillahi min dzallik…
    .-= anderson´s last blog ..Kapok (1) =-.


  13. ceritanya sangat mengena..
    pas sama situasi bangsa ini.. :)

    salut sama blogger yang rajin berdakwah..
    saya belajar aja dari mereka..
    maklum ilmu agama saya masih cekak.. :)

    sama bro didot udah kenal, sama mas atma belum kenal nih..
    kenalan dulu dong mas.. :)
    *salaman*

    .-= AtA´s last blog ..Pantaskah… =-.


  14. ceritanya sangat mengena..
    pas sama situasi bangsa ini.. :)

    salut sama blogger yang rajin berdakwah..
    saya belajar aja dari mereka..
    maklum ilmu agama saya masih cekak.. :)

    sama bro didot udah kenal, sama mas atma belum kenal nih..
    kenalan dulu dong mas.. :)
    *salaman*

  15. Menyatakan persetujuan kepada seorang sahabat adalah hal yang mudah, karena itu pasti akan menyenangkan hatinya, dan ‘mengamankan’ persahabatan. Tapi menunjukkan kesalahannya? Butuh keberanian dan keteguhan hati. Ada kemungkinan sahabat itu berterimakasih, tetapi tak tertutup kemungkinan ia akan marah dan persahabatan putus.

    Meskipun demikian, kebenaran tetaplah harus dikatakan, betapa pun pahitnya.

    Nice story, Uda …
    .-= Tuti Nonka´s last blog ..30 Jam Untuk 3 Menit =-.

  16. Memang ya, kalo sudah terbawa arus, untuk melawannya itu susah… :(
    Memang harus punya pendirian teguh dan keyakinan bahwa Allah akan melindungi hamba-Nya untuk melakukan kebenaran itu. :)

  17. Wow, ceritanya bagus Uda :)

    Tapi sayangnya kenyataanya dlm kehidupan nyata sa’at ini mungkin hanya segelintir orang yang melakukan perbuatan spt Andi.

    Thank atas ceritanya yang menginspirasi :)

    best regard,

    Bintang
    .-= elindasari´s last blog ..CINTA DALAM SKETSA =-.

  18. Wah, ceritanya sangat menyentuh, Uda. Salut dengan gaya penulisan yang mengena dan cerdas. Saya pun jadi terkenang dengan Pak Inu Kencana yang membongkar kejahatan IPDN. “Justru saya PNS, saya harus bongkar! Justru saya dosen, saya harus bongkar!” Luar biasa! Sangat jarang orang2 seperti itu di negeri ini.
    .-= Bang Aswi´s last blog ..Bersepeda Sambil Donor Darah =-.

  19. Akh.. kopdar yang luar biasa. Sederhana tapi dalam makna.. Suka sekali.. :)

    Kembali ke laptop.. (sambil pasang gaya Tukul), kebenaran sering kali punya lebih dari satu dimesi, sahabat. Dan juga sering ada dimensi pahit menghadapi realita itu. Pilihan sulit yg kadang harus dijalani. Pada saat seorang sahabat berkata tentang kebenaran pada sahabatnya, lalu sahabatnya itu memilih sisi2 kenikmatan lain dibalik kebenaran yang dikatakan sahabatnya itu, sesungguhnya itu adalah titik terpahit karena disanalah jembatan persahabatan itu sesungguhnya telah diputuskan. Masing2 telah memilih jalannya sendiri. Dan pertanyaannya adalah masihkan ada persahabatan disana? Persahabatan bukan sebuah kesepakatan kejahatan, karena itu adalah geng atau sindikat kejahatan. Persahabatan adalah kesepakatan nilai2 luhur kehidupan. Persahabatan menyentuh esensi, bukan sekedar memoles casing luarnya saja.

    Postingan ini SANGAT BAGUS Uda. Makasih banyak untuk pencerahannya…
    .-= Nug´s last blog ..Tonggak Sejarah =-.

  20. Pingback: kebenaran itu pahit! « SURAUPUSAKA

Komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jawab dulu ya pertanyaan di bawah ini sebelum kirim komentar, biar tidak dianggap spam.. :) *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>