aku mau ayah


Warning: Illegal string offset 'single_featured_image' in /home/hardiviz/public_html/wp-content/themes/confidence/content-single.php on line 69

aku mau ayahBeberapa hari ini, perhatianku tertuju pada sebuah buku kecil yang baru saja kubeli. Buku itu berjudul “Aku Mau Ayah!”, karya Irwan Rinaldi, yang berisi 45 kisah nyata anak-anak yang terabaikan, terutama oleh ayah mereka. Kisah-kisah tersebut terjalin dari pengalaman penulisnya sendiri dalam beraktifitas di dunia perlindungan anak. Terus terang, setiap kali membaca kisah-kisah yang ada di situ, sesosok wajah melintas di pikiranku. Aku terbayang wajah seorang sahabat narablog bernama Muharman alias Imoe. Jika anda pernah membaca cerita-cerita Imoe tentang adik-adik asuhnya, maka seperti itu pulalah lebih kurang isi cerita buku ini.

Sebagian besar isi buku ini adalah tentang kekecewaan anak-anak terhadap ayah mereka yang nyaris tidak menganggap mereka ada. Ada banyak alasan atas itu, namun jika ditarik garis merahnya, kesemuanya dikarenakan ketidaktahuan para ayah tersebut akan pentingnya peran mereka dalam kehidupan seorang anak.

Persoalan keayahan adalah persoalan penting yang nyaris terlupakan, tidak hanya pada ranah kehidupan, tapi juga dalam ranah keilmuan. Agaknya, hal ini terjadi dikarenakan persoalan keibuan begitu kuat menyedot perhatian berbagai kalangan. Bahkan, teks-teks keagamaanpun sangat banyak mengangkat isu seputar ibu, tapi sangat sedikit berbicara mengenai ayah.

Agaknya, sudah saatnya bagi kita untuk sedikit memberi perhatian akan isu keayahan ini, karena ada satu yang pasti, yaitu anak sangat membutuhkan keberadaan ayah di sampingnya secara jasad dan maknawi. Bila seorang ayah benar-benar hadir di tengah keluarganya, kehadirannya ini bisa memberikan ketenangan jiwa bagi anak dan mampu memberikan kekuatan, nilai-nilai, pengarahan, dan keinginan kuat untuk pembentukan jati dirinya sampai ia beranjak dewasa, khususnya bagi anak laki-laki.

Menurut ilmu pendidikan anak, bulan-bulan pertama usianya membentuk dua lingkungan yang berbeda. Pertama, lingkungan yang terdiri atas orang-orang yang memiliki hubungan kasih sayang, yang memberikan perasaan tenang dan cinta. Kedua, lingkungan yang terdiri atas orang-orang yang memberikan kekuatan, keamanan dan kekuasaan. Dengan kedua lingkungan itu, anak akan tumbuh normal dan sehat kejiwaannya.

Kehadiran ayah di tengah anak-anaknya dapat melambangkan adanya wewenang, tanggung jawab, keamanan dan ketenangan keluarga. Tentunya semua ini melengkapi peranan ibu yang penuh kasih sebagai pendidik, pengasuh dan penasihat.

Anak membutuhkan seorang ayah sebagaimana ia membutuhkan seorang ibu, tetapi kebutuhan dalam bentuk yang lain, yaitu kebutuhan moril dan kejiwaan lebih dominan daripada kebutuhan kelemah lembutan dan kasih sayang. Seorang anak pada masa perkembangan jiwa dan emosinya membutuhkan contoh teladan dari ayah dan ibunya, sebagaimana seekor burung membutuhkan kedua sayapnya ketika terbang. Bila salah satu sayapnya melemah atau cacat atau benar-benar terputus, seekor burung akan mengalami ketidakseimbangan dan kecepatan terbangnya berkurang. Ia bahkan tidak mampu melakukan beberapa kegiatan. Begitu juga seorang anak, ia membutuhkan seorang ayah dan ibu dalam frekuensi yang seimbang, tetapi dalam metode dan kapasitas yang berbeda. Sedikit-banyaknya, di dalam buku ini kita akan menemukan jawaban akan hal tersebut.

Buku ini sangat layak dibaca oleh setiap kita, terutama bagi seorang ayah dan calon ayah. Dari sini akan ada banyak pelajaran yang bisa diperoleh sebagai bekal kita menghadapi anak-anak kita. Dan juga, buku ini sangat pantas dibaca oleh para ibu, terutama sekali bagi para calon ibu (baca: perawan), karena memilih calon ayah yang baik bagi calon anak anda kelak, juga merupakan salah satu hak mereka.

Selamat membaca! :)

.

sumber bacaan: Ensiklopedi Pendidikan Anak Muslim.


Warning: Illegal string offset 'author_box' in /home/hardiviz/public_html/wp-content/themes/confidence/content-single.php on line 93

74 comments on “aku mau ayah

  1. wew… sepertinya kesan ayah memang seakan di”marginalisasikan” dari kehidupan anak. namun sebenarnya peran ayah tak kalah penting(saya membela ayah, karena saya calon ayah).
    semoga udah vizon bukanlah termasuk golongan ayah yang menjadi topik dalam buku tersebut…
    .-= aurora´s last blog ..Untuk senandung, kita beda, kawan… =-.

    • begitulah kenyataannya, rif. di kampung kita, kenyataan itu sangat terlihat bukan? betapa para ayah lebih senang menghabiskan waktunya bermain domino di lapau ketimbang menemani anaknya belajar. semoga arif suatu saat kelak dapat menjadi ayah yang baik… :)

  2. Terbukti sudah …
    Tiga kata kunci yang merepresentasikan seorang Uda Vizon …

    Kweni Yogya – Gontor – dan PERAN AYAH … !!!

    Uda ini adalah seorang yang sangat concern sekali dengan pemberdayaan peran Ayah …

    Uda sangat konsisten menggaungkan hal ini …
    Dan ini salah satu hal yang membuat saya jatuh cinta dengan Blog ini …

    Salam saya Uda …
    .-= nh18´s last blog ..OJEK AT UBUD =-.

    • Apa yang saya lakukan ini bukan karena saya seorang ayah, Om. Tapi, saya justru melihat dari persfektif anak. Bahwa kebutuhan anak akan kehadiran ayah dan ibu secara seimbang di dirinya adalah mutlak. Ayah janganlah lagi semata menjadi “mesin pencetak uang”, tapi juga menjadi “mesin penggerak kehidupan sang anak”.

      Terima kasih atas pujiannya Om, eikeh jadi malyuuuu… hahahaha… :D

  3. Banyak yang merindukan ayahnya
    Tak hanya fisik, tapi juga hati mereka

    Ketika ayah telah terenggut di pelukan dunia
    Kadang mereka menjadi lupa bahwa anak pun butuh aupan kasih sayang
    Bukan hanya butuh disuapi harta dan kekayaan

    Terlebih mereka yang dipinggirkan
    Semacam anak-anak jalanan
    .-= achoey´s last blog ..Tips Memantafkan Hati untuk Menikah =-.

    • Sebuah fenomena yang membuncahkan emosi juga Kang, adalah seorang ayah yang tega menghamili anak kandungnya sendiri? Dunia ini benar-benar telah membunuh nurani para ayah, dari yang seharusnya menjadi pelindung, justru menjadi pemangsa… :(

  4. buku bagus sepertinya… :D
    makasi infonya Uda…
    saya juga udah baca buku tentang ayah yg ditulis ayah edy: jadi ayah baru ternyata asik juga ya

    • Sama-sama Mang…
      Ada juga buku yang senada dan diterbitkan oleh penerbit yang sama, yaitu karangan Neno Warisman berjudul: “Semua Ayah adalah Bintang”. Ketiga buku ini sudah saya baca dan sangat menarik :)

  5. Syukurlah semua yang sudah menulis di sini, baik posting dan komentar adalah ayah dan calon ayah yang (pasti) baik. Kesadaran itu perlu dari dalam manusia-manusia yang akan menjadi ayah.

    Saya sebagai pengamat sosial di sini, juga memperhatikan peran dan tugas ayah di masyarakat Jepang. Ada beberapa tulisan tentang ayah. Misalnya curhat ke ayah atau ibu? dan Ujian Kemampuan menjadi papa yang baik Saya rasa kalau orang Indonesia mengikuti ujian kemampuan tersebut akan lebih banyak yang lulus drpd orang Jepang hehehe.

    EM
    .-= Ikkyu_san´s last blog ..Oh Dewi Sri =-.

    • Wah nechan… aku baru baca kedua tulisan itu. Mantap sekali usaha pemerintah Jepang untuk mempersiapkan seorang lelaki menjadi ayah ya? Kayaknya di Indonesia kudu dilakukan deh. Paling tidak secara individu, setiap ayah yang akan melepas anak perawannya menjadi istri seseorang, kudu ngetes dulu tuh calon mantu, bisa jadi ayah yang baik ataukah tidak? hehehe… :)

    • Makanya bunda, biar itu tidak terjadi, seorang ayah harus benar-benar memahami perannya, dan kesan positif soal ayahpun harus semakin digelorakan di masyarakat kita… :)

  6. ..
    wah bisa jadi tambahan bahan disertasi itu ya Da..
    hi..hi..hi…
    seorang Anak memang sangat membutuhkan sosok seorang ayah, sebagaimana ia membutuhkan seorang ibu..
    harus seimbang ya Da.. :)

    • Saya menemukan buku ini juga karena lagi mencari referensi untuk disertasi saya Ta. Meski buku ini tidak bisa dijadikan referensi utama, setidaknya ini bisa memperkaya wacana :)

  7. Thank’s.. sedikit untuk recomendasi: kita memang membutuhkan sosok orang tua yang baik, akan tetapi anak zaman sekarang sudah mulai untuk pandai berfikir, agar tidak selalu kita dikoordinir oleh orang tua, BELAJARLAH DARI ALAM karena alam yang membawa kalian baik dan buruk.

    • Anak itu bagaikan kertas putih, orangtuanyalah yang akan menorehkan tulisan di atasnya. Mau pakai tinta emas atau tinta hitam, itu tergantung dari kecakapan dan kemampuan si orangtua. Mendidik anak bukan perkara mudah, tapi sayangnya tidak ada sekolah khusus untuk itu. Kita umumnya belajar dari pengalaman kita bersama orangtua kita dulu. Dan itulah yang kita terapkan kepada anak-anak kita. Padahal, belum tentu apa yang kita peroleh dari ortu kita dahulu itu benar. Oleh karenanya, adalah mutlak bagi kita yang sudah menjadi orangtua untuk memperluas wawasan soal keorangtuaan dengan belajar dari berbagai sumber, termasuk membaca buku… Butuh buku ini, Om? Nanti dikirim deh ke Duri, hehehe… :D

  8. hhmm… menarik sekali…. mungkin ini berkaitan dengan pola asuh orang tua terhadap anak2 ya Uda?

    saya jadi teringat sesuatu… beberapa tahun lalu saya pernah membaca judul sebuah tulisan pada sebuah surat kabar….’anak yatim cenderung nakal’… saya tidak membaca isinya waktu itu namun hingga kini saya berusaha mencerna judul tersebut apalagi anak2 saya memang yatim sekarang… jika dihubungkan dengan tulisan Uda di atas, apakah kenakalan anak yatim dikarenakan tidak adanya sosok yg mereka ‘turuti’/’takuti’ ya? yang notabene sosok itu biasanya ditemukan pada seorang ayah ? atau bagaimana ya Uda ?
    .-= ceuceu´s last blog ..Kadang Aku Masih (ingat) Sebal Padanya…. =-.

    • Ceu… kebutuhan akan hadirnya sosok laki-laki dalam diri anak adalah mutlak. Jika ada anak yang kehilangan sosok ayahnya, karena perceraian atau kematian, maka sosok lelaki dewasa terdekat dirinya harus mampu menggantikannya. Seperti yang pernah dialami Nabi Muhammad, beliau adalah yatim sejak lahir, lantas sosok kakek beliau, Abdul Muthallib menjadi pengganti ayah, ketika sang kakek juga akhirnya meninggal, sang pamanlah, Abu Thalib, yang menjadi pengganti.

  9. Uda, sudah waktunya ayah menyadari betapa pentingnya peran dalam keluarga. Karena masih banyak ayah yang mendelegasikan seluruh urusan rumah tangga (termasuk anak-anak) kepada isterinya.

    Saya ingat gurauan teman-teman sesama karyawati…”Nggak apa2 kok diaku anak ayahnya, yang penting anak saya baik dan prestasi sekolah bagus.” Kenapa ada ucapan atau komentar itu, karena sudah jadi rahasia umum, jika anak berhasil maka anak ayahnya, dan jika anak bandel, yang salah ibunya, apalagi jika ibu bekerja di luar rumah, jadi tumpuan kesalahan deh…..hehehe…
    Tapi saya dan teman2ku tetap menghargai peran suami, dan mencoba mengajak ayah untuk berperan serta. Tanpa diajak berperan serta, banyak ayah yang masih kikuk, tak tahu apa yang mesti diperbuatnya, padahal dekat dengan anak-anak sangat menyenangkan, kita belajar banyak dari mereka.
    .-= edratna´s last blog ..Kondangan =-.

    • Menurut saya, kecilnya ayah berperan dalam pendidikan anak, juga lantaran konstruksi sosial kita Bu Enny. Pembagian ayah cari uang-ibu mendidik anak, sesungguhnya telah membuat peran ayah semakin tidak diperhatikan. Dengan semakin meningkatnya pendidikan, semestinya seorang lelaki akan lebih mampu menghayati perannya sebagai ayah dengan jauh lebih baik :)

  10. Pingback: Tweets that mention Surau Inyiak » Blog Archive » aku mau ayah -- Topsy.com

  11. bUku ini menarik sekali uda Vizon, saya mesti cari sebab banyak figur ayah yang hilang pada masyarakat kita akibat berbagai tekanan yang efeknya buruk bagi anak

  12. Uda memang sangat concern soal peran yg satu ini…

    saya juga peduli dengan terus mengupgrade diri agar kelak mampu menjadi ayah yg baik. karena saya juga setuju ,peran itu seimbang antara ayah dan ibu :)
    .-= didot´s last blog ..wanita muslim dan auratnya =-.

    • Memiliki pengetahuan yang cukup soal keayahan sebelum memutuskan untuk menikah adalah sangat baik, Dot. Karena, pernikahan bukan sekedar menyatukan dua orang manusia, tapi juga menciptakan manusia-manusia baru, dan itu bukan hal yang sepele… :)

  13. sebuah review yang menarik, bang vizon. dunia anak2 pada dekade terakhir ini sering terabaikan akibat sikap ortu yang melakukan pembiaran terhadap perilaku anak2nya, jarang komunikasi, bahkan tak sedikit ortu yang memaksakan kehendak pada anaknya. padahal, anak2 memiliki dunianya sendiri. sebuah buku yang layak utk dijadikan sbg referensi.
    .-= sawali tuhusetya´s last blog ..Pendidikan Karakter dan Hardiknas 2010 =-.

    • Kemajuan zaman memang telah menggerus nilai-nilai kekeluargaan pada masyarakat kita Pak Sawali. Seharusnya, dengan meningkatnya taraf pendidikan, meningkat pulalah penghayatan terhadap fungsi-fungsi keluarga. Namun, kenyataannya memang tidak semudah yang dibayangkan. Mesti ada gerakan penyadaran untuk itu, karena keluarga adalah tiang utama sebuah negara.

    • Oleh karenanya, nurani harus selalu ditempatkan pada tempatnya, karena fungsinya memang untuk membisikkan kepada kita apa yang sebaiknya kita lakukan…

    • Sebuah kenyataan yang sangat menyedihkan memang Mb Lely. Hubungan ayah-anak sepatutnyalah dibuat lebih baik, agar si anak dapat tumbuh secara paripurna

  14. Hai Uda,
    Kalau saya pribadi, jelas saya percaya bahwa kehadiran ayah sangat penting dalam kehidupan ayah. Seorang ibu single parent tetap tidak akan pernah bisa jadi sosok ayah, karena dia bukan laki2. Hanya seorang laki2 yang bisa punya “sentuhan” khas ayah. Dan saya sendiri bisa melihat kok betapa anak saya juga selalu rindu akan kehadiran ayahnya, biarpun dia juga tak bisa berpisah dengan saya… :)

    • Hai Mb Zee…

      Beruntunglah anak-anak kita yang memiliki keseimbangan pengasuhan ayah-ibu dalam kehidupannya. Secara kodrati ayah dan ibu memang tidak bisa menggantikan satu sama lain. Masing-masing memiliki kaplingannya, dan seharusnya mampu mengisi kaplingannya itu dengan baik…

      Salam saya buat si bidadari kecil dan papanya :)

  15. Sosok ayah memang dibutuhkan oleh anak-anak, bukan hanya bayangannya tetapi benar-benar kehadiran secara fisik dan hatinya.
    Akibat kemajuan jaman dan ketatnya persaingan menjadikan banyak ayah yang harus berjuang mati-matian untuk mempertahankan dan meningkatkan kariernya sehingga mengarah ke workaholik.

    Semoga setiap ayah memberikan waktu yang cukup bagi anak-anaknya.
    Salam hangat dari BlogCamp
    .-= BlogCamp´s last blog ..Kopdar Hari Minggu =-.

    • Dan saya menemukan sosok ayah ideal dalam diri Pakde. Betapa Pakde menyapa kami para narablog dengan sentuhan keayahan yang luar biasa. Sungguh, saya terinspirasi dari Pakde. Terima kasih Pakde :)

  16. Sebagai orang tua saya mulai mempersiapkan moral dan akhlak anak saya sejak mulai dari janin hingga umur 2 tahun 5 bulan, dengan memperdengarkan ayat-ayat suci Al-Qur’an, memberikan kasih sayang, memberikan gizi yang cukup serta hal-hal yang bisa membangun karakter anak saya.
    Terima kasih atas referensinya. Saya berusaha mencari buku tersebut namun apakah di Gorontalo sudah ada?
    .-= Dahrun Marada´s last blog ..Sudahkah Anda Menunaikan Hak-Hak Istri? =-.

    • Alhamdulillah jika Bang Dahrun sudah melakukannya. Hal tersebut patut ditiru. Semoga si buah hati dapat tumbuh dengan baik dan menjadi manusia berguna ya Bang… :)

    • Justru karena belum beristri dan memiliki anak itulah, kesempatan Bang Tomi untuk membekali diri dengan pengetahuan akan itu. Karena, seorang lelaki yang memiliki pengetahuan cukup tentang kerumahtanggaan dan keayahan, akan mampu memimpin rumahtangganya dengan baik…

  17. Tak mudah menjadi ayah yang baik. Di kampung saya, pernah ada seorang ayah yang mengajak anaknya yang baru berusia 4 tahun untuk mabuk bareng. Sang ayah memang preman yang sehari-hari hidup di jalanan. Untung saja kini sang anak sudah tak diasuhagi oleh sang ayah yang payah itu.

    • Ada banyak cerita memang soal itu Mas Rashed. Kelakuan buruk para ayah itu semakin memperparah paradigma keayahan di tengah masyarakat kita. Ayah semakin dianggap sebagai pembawa keburukan bagi anaknya. Ini patut disuarakan secara lantang…

    • Mb Linda… maafkan saya jika tak sempat membalas komentar-komentar terdahulu. Kondisi saya sedang tidak bisa berlama-lama ngeblog. Ada prioritas yang harus didahulukan saat ini… :) Tapi, walaupun demikian, tidak membuat Mb Linda kapok memberi komentar di sini bukan? hehehe… :D

  18. Sewaktu Aceh kena tsunami, 7 anak anak dari keluarga saya kehilangan Ayah mereka yang hilang lenyap terbawa air … sejak itu ada sebuah yayasan yang memberikan kasih sayang ibu dan ayah bagi mereka, setiap mereka punya keluhan, curhatan, kesedihan bahkan hal hal sepele mereka boleh datang kepada orang tua angkat mereka, dan subhanallah … indahnya berbagi

    • Beruntung sekali anak-anak tersebut yang mendapat penangan tepat di saat yang tepat. Semoga kegiatan ini terus berjalan dengan baik, dan semoga ada banyak anak lain yang memperoleh kesempatan seperti itu…

  19. terbayang olehku saat di toko buku itu, inyiak langsung sambar itu buku tanpa berpikir panjang lagi :D

    Aku masih optimis bahwa aku adalah seorang ibu, dan Allah telah berikan ayah terbaik buat anak-anakku kelak.. doakan ya inyiak, meski bukan anak dari rahimku, mungkin.
    .-= nakjaDimande´s last blog ..Cermin =-.

    • Hahaha… si bundo kok tauuuu aja… :)

      Bundo… ada banyak cara Allah memberi kita amanah anak. Tidak melulu harus dari rahim kita sendiri. Yang terpenting adalah bagaimana menjaga amanah itu dengan sebaik-baiknya, dan aku yakin bundo dan KD adalah orang-orang yang mampu menunaikan amanah itu dengan baik.

  20. membaca buku itu spt merefleksi diri saya terutama peran sbg ayah bagi anak2 saya.
    saya sll berusaha menjadi ayah, sahabat dan guru bagi mereka

    • Saya yakin, Guskar sudah menjadi ayah, sahabat dan guru yang baik bagi anak-anaknya. Ada buku yang sama berjudul “Setiap ayah adalah bintang” karya Neno Warisman, sepertinya juga layak dipersembahkan bagi para ayah juara di negeri ini… :)

  21. Hmmm…. aku jadi ingat papaku, Uda..
    kehangatan, ketulusan dan wibawanya yang terekam semasa kanak-kanakku banyak menginspirasi kisah yang kutulis di blogku…

    Semoga anak-anakku kelak juga punya kenangan yang indah dengan ayah mereka… :)
    .-= nanaharmanto´s last blog ..Langkah di Bukit Kembang Tebu =-.

    • Terus terang Na… aku banyak terinspirasi dari cerita-ceritamu soal Papa di blog. Dan akupun ingin meninggalkan kesan positif itu di benak anak-anakku… Kita sama-sama berdoa ya Na… :)

  22. Kayaknya perlu kuincer nih buku karna aku telah menjadi ayah..

    Eh, Uda.. bentar… kok kamu membahasakan wanita yang belum menikah sebagai perawan? ;) Yakin smua masi perawan? hahahaha :)

  23. Ayah dan Ibu…Keseimbangan jika diibaratkan sebuah sayap… :)
    Dari seorang Ayah, bukan hanya Sifat Biologis yang diturunkan…kadang Sikap Ideologis juga lebih mendominasi thp Anak…
    Salah satu Cita2 saya sejak kecil…”Menjadi Ayah yang Baik…”
    .-= atmakusumah´s last blog ..Hati-hati dengan KeBencian… =-.

  24. Uda, ambo baru saja bisa membuka blog ini setelah seseorang mengobrak abriknya sehingga password diganti. Beruntung ada seorang sahabat yang baik hati membantu. Akhirnya bisa kembali masuk.

    Uda, bagaimana hubungan anak laki laki dengan ayah sangat jarang bisa kita lihat atau kita baca dalam berbagai buku. Seolah-olah hub anak laki dan ayah kalah dibanding anak laki dan ibu.

    Ingatkah uda FILM SANG PEMIMPI, betapa adegan hubungan ayah anak diperlihatkan dengan baik….begitulah hendaknya seluruh ayah di negeri ini bersikap.

  25. Searching tentang peran ayah ternyata malah nyasar ke tempat Ayah Satira. Blog yang keren, Pak. Makin kagum dengan semangat Ayah-Bunda yang memberikan pendampingan terbaik bagi tumbuh kembang buah hatinya. Kangen rasanya bercengkrama lagi dengan adik2 di AJI JOGJA dan Ayah-Bunda Jenius di AJISAKA. Moga senantiasa diberikan kemudahan untuk menjadi ayah yang selalu dibanggakan oleh Afif dan Satira :)

  26. Sepertinya sangat menarik sekali nih bukunya. Btw, yang menarik pengulasnya atau pengarangnya ya? hehe… moga2 keduanya… salam kenal Bung

  27. Pingback: aku mau ayah | SURAUPUSAKA

Komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jawab dulu ya pertanyaan di bawah ini sebelum kirim komentar, biar tidak dianggap spam.. :) *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>