sinar jaya


Warning: Illegal string offset 'single_featured_image' in /home/hardiviz/public_html/wp-content/themes/confidence/content-single.php on line 69

Tulisan ini awalnya adalah komentarku di blognya Om Nh dengan judul “Catering“. Tapi, karena terlalu panjang, kupikir tak ada salahnya dijadikan postingan tersendiri saja.

Bagi anda yang tinggal di pulau Jawa, tentu sudah sering melihat bus antar-kota bernama “Sinar Jaya” bukan? Nah, postingan ini, sama sekali tidak membahas itu, tapi tentang “Sinar Jaya” yang lainnya. Yaitu, sebuah rumah makan di kota Duri yang telah menjadi bagian penting dalam hidupku. Ya, itu adalah nama rumah makan milik keluargaku… :)

Barangkali karena jenuh, rumah makan yang sudah berdiri sejak aku balita itu akhirnya ditutup beberapa tahun yang lalu. Keduaorangtuaku mungkin sudah lelah dan ingin “pensiun”, hanya sayangnya, tak satupun dari kami anak-anaknya yang dapat menggantikan beliau. Mungkin, dunia yang tengah kami tekuni tidak sejalan dengan dunia rumah makan. Semoga suatu saat rumah makan itu kembali “bersinar dan berjaya”.

Namun, sampai saat ini, kegiatan atas nama Sinar Jaya masih tetap berlangsung. Jasa katering untuk kegiatan pesta pernikahan, akikahan dan sebagainya masih tetap kami layani. Dapur tempat pengolahan masakan yang sekaligus menjadi tempat tinggal juru masak, masih lagi berfungsi. Sang juru masak, tetap setia berada di situ dan berjanji tak akan meninggalkan kami, karena dia sudah sangat menganggap kami bagian penting dari dirinya. Hal itu sangatlah wajar, karena sesungguhnya dia bisa memasak dengan mahir lantaran dididik oleh keduaorangtuaku.

Orang bijak pernah mengatakan, “Kita akan merasakan arti sesuatu ketika ia sudah tidak bersama kita lagi“. Hal itupun terjadi padaku. Sekarang ini, aku kerap rindu dengan kehebohan kegiatan di rumah makan kami, meski dulu aku sering jengkel jika disuruh membantu, hanya gara-gara waktu bermainku yang tersita olehnya.

Biasanya, pada bulan Juni-Juli atau antara lebaran Idul Fitri dan Idul Adha, kegiatan rumah makan kami sangat sibuk. Karena, biasanya pada bulan-bulan itu banyak sekali yang menggelar pesta pernikahan. Di kota Duri, pesta seringnya digelar pada hari Sabtu dan Minggu dengan durasi yang sangat panjang, yakni mulai pukul 11 pagi dan berakhir pada pukul 10 malam. Seringkali kami mendapat rezeki pesanan katering 2 sampai 3 kegiatan pesta dalam hari yang sama.

Jika kondisi sudah sangat sibuk seperti itu, maka seluruh tenaga dikerahkan oleh keduaorangtuaku, termasuk memberdayakan beberapa tenaga freelance yang sudah jadi langganan dan juga kami anak-anaknya. Barangkali ini juga keuntungannya aku bersaudara laki-laki  yang banyak, sehingga tenaga kerja katering jadi lebih mudah didapat, dan tentu saja murah, hahaha… :D

Untuk urusan dekorasi meja prasmanan, kami bekerjasama dengan salon milik tanteku yang bertindak sebagai juru rias pengantin dan penyedia pelaminan. Sehingga, dengan demikian kami hanya berkonsentrasi pada penyediaan makanan dan peralatannya.

Kebiasaan pesta di Duri adalah, tamu sering tidak terprediksi jumlahnya, dan ramainya setelah Magrib. Maka, setiap kali ada yang berencana memesan katering kepada kami, Papaku selalu menyarankan untuk melipatgandakan hitungan jumlah tamu. Jika yang diundang 1000 orang, maka makanan yang harus dipersiapkan adalah untuk 2000 porsi.

Ada yang mengiyakan dan tidak sedikit yang tetap bersikukuh dengan hitungannya sendiri. Namun, pada kenyataannya dapat dipastikan bahwa perhitungan Papaku selalu benar. Hal itu, tentu saja berkat pengalaman beliau bertahun-tahun mengelola katering. Maka, jika ada pemesan yang tetap “ngeyel” dengan hitungannya, Papaku tetap menyuruh juru masak mempersiapkan lebih, jaga-jaga jika mendadak si pemilih hajat kehabisan stok makanan. Toh, jika tak dipakai pun, masih bisa dijual di rumah makan kami.

Tradisi pesta di Duri tidak mengharuskan pemilik katering melayani para tamu. Biasanya sudah ada petugas khusus yang ditunjuk si pemilik hajat untuk berdiri di dekat meja prasmanan. Lantas, tugas kami apa? Ya, di balik layar; mempersiapkan makanan dan bersih-bersih alias cuci piring, hahaha… :)

Aku dan adik-adik memang sering ngedumel jika sudah ketiban tugas mengurus katering sebuah pesta. Tapi, jangan khawatir, hal itu akan berakhir dengan keceriaan dan senyum 20 senti. Yakni, ketika pada keesokan harinya kami mendapat “honor” dari Papa yang jumlahnya lumayan buat beli baju baru atau nonton bioskop. Hahaha… dasar mata duitan… :)

Seperti yang aku katakan di atas tadi, bahwa saat ini aku merindukan kembali saat-saat seperti itu. Namun, tentu saja hal itu tak mungkin lagi. Di samping rumah makan kami sudah tutup, kamipun sudah punya kehidupan sendiri-sendiri. Meski kegiatan katering itu masih berlangsung sampai saat ini, namun itu hanya sebatas memasakkan saja, tidak sampai ke urusan pelayanan di tempat pesta.

Dari pengalaman mengurus katering itu, aku sangat memahami betapa beratnya pekerjaan para petugas katering. Sehingga, aku selalu tidak tega jika meninggalkan piring kotor di atas meja atau bawah kursi. Sedapat mungkin aku mencari tempat yang mudah dijangkau si petugas atau bahkan langsung meletakkannya di dekat keranjang kumpulan piring kotor. Sering aku sebal melihat tamu yang memperlakukan petugas katering dengan tidak baik, seolah si petugas itu adalah pembantunya.  Meski keberadaannya di sana adalah untuk melayani, tapi bukan berarti harus dipandang rendah. Huh… jadi emosi jiwa nih…

Oleh karenanya, jika suatu saat anda berada dalam sebuah pesta, saranku: manusiakanlah para petugas katering itu, karena mereka adalah manusia yang sama dengan kita… :)


Warning: Illegal string offset 'author_box' in /home/hardiviz/public_html/wp-content/themes/confidence/content-single.php on line 93

20 comments on “sinar jaya

  1. Baru Komentar …
    Uda …
    Ini cerita yang asik …
    karena didasar oleh pengalaman pribadi …
    Memang sungguh tidak mudah mengelola Catering … namun dengan pengalaman hal itu bisa teratasi dengan sendirinya …

    Saya ngakak koprol ketika membaca …
    Honor yang bisa buat beli baju baru …
    Sesungguhnya Papanya Uda Vizon telah berlaku profesional … hahaha … walaupun itu kepada anak sendiri … honor tetap diberi …

    Last but not least …
    Saya setuju dengan statement Uda di bagian akhir … Tidak ada salahnya kita tidak memandang rendah mas-mas petugas Catering … Karena saya sering melihat gurat-gurat lelah diwajah mereka … karena kerja keras yang tidak putus-putus … apalagi di saat bulan Baik …

    Salam saya Uda …

  2. Saya berusaha tidak memandang rendah petugas catering itu kadang dengan membantu menumpukkan piring yang bisa ditumpuk, spy mereka tinggal membawa ke belakang.

    Saya sendiri “berpengalaman” sebagai tukang cuci piring untuk acara-acara gereja yang tamunya 400-an org hehehe.

    Aku juga merindukan kegiatan seperti itu Uda… meskipun aku tidak sampai usaha catering.

    EM

  3. Uda, wajah baru. Cakep gini… hihi. Lama gak kesini jadi rada pangling..

    Iya, Uda. Emang kita yang nikmatin makanan suka gak ngeh dengan beratnya kerja orang lain. Di sekolah saya, makan siang disediakan oleh katering langganan. Dan urusannya adalah seluruh makan siang penghuni sekolah. Tiap hari! Bayangin itu. Bukan cuma beberes aja, termasuk pula membawakan makanan buat anak-anak TK dan kelas kecil yang masih gemeteran bawa piring ke mejanya. Berat banget bukan? Tapi kita gak nyadar. Gitu aja naro piring kotor diatas meja. Sampe suatu hari bapak ketua yayasan yang udah berkali-kali ingetin para guru nampaknya sudah ehabisan kesabaran. Tapi beliau marahnya keren. gomel teteup, sambil ngeberesin piring-piring dan gelas yang ditinggalin guru seenak udelnya. Kita jadi gak enak, hehe… Akhirnya, prilaku jelek itu kita ubah.. :)

  4. jadi inget acara membuat kue pesanan dari langganan mamaku hohohohoho…kalau udah lebaran tiba atau musim kawin, 4 anak ceweknya ketiban di kerahkan untuk mengurusin pesanan itu :D

    well…coba sinar jaya yg uda ceritain masih berdiri, aku kan bisa makan gratis setiap kesana :p

  5. Belum lagi piring dan gelas yang pecah. Biasanya di acara nikah yang diselenggarakan di ruangan yang besar, anak-anak kecil senang berlari kesana-kemari dan… pyar!

  6. Wah, harus berguru sama uda nih.. Ketring istri saya masih melayani makan siang rantangan untuk perkantoran/ pertokoan. Kalau dapat proyek ketring untuk nikahan gitu pasti fulusnya lumayan ya, Da… Tapi capeknya juga pasti lebih berganda :-(

    Ayo berSINAR dan berJAYA lagi da…

  7. betul uda…manusiakan petugas katering
    kadang agak ‘iba’ juga melihat mereka mondar-mandir angkat piring n gelas kotor, belum tiba2 ada yang main lempar tissue saja ke dalam piring or gelasnya..
    sama dengan mbak EM, manusiakan dengan minimal meletakkan piring kotor pada tempatnya

  8. Senyum 20 senti itu kayak apa ya? coba praktekkan…

    Ah, iya ya… kadang kasihan juga dengan petugas katering yang angkat-angkat piring kotor tapi diremehin sama tamu2…
    aku berusaha unutk mengucapkan terima kasih pada petugas katering pesta yang telah mengangkat piringku. Kadang aku mengantarkannya pada si petugas dan tetep bilang terima kasih, meski pernah juga dicuekin… :(

  9. Uda,
    Saya pernah menjadi komisaris sebuah hotel selama 6 tahun (anak perusahaan Dana Pensiun), jadi bisa membayangkan sulitnya melayani tamu. Hotel tsb juga melayani jasa catering untuk sebuah pelatihan, acara2 lain…

    Namun, disadari, katering adalah usaha yang mengasyikkan, memanjakan lidah para pelanggannya, dan harus kreatif menemukan resep yang diperbarui..agar terlihat lebih modern.

    Di satu sisi, perusahaan keluarga, sering tak bisa berjalan terus jika keturunannya (generasi kedua)tak ada yang meneruskan. Tak ada keinginan untuk membuat sebuah Perusahaan Terbatas,atau CV, Uda?…..nanti ayah ibu sebagai Komisaris, yang mengawasi, namun ada Direktur atau manager yang mengelolanya secara hari per hari.

  10. Yah..kalo saya sih biasanya naruh piring bekas makan di bawah kursi.
    Kayaknya bakal mudah dijangkau :D
    Tapi emang deh, pekerjaan tukan katering ribet.
    Ya..tapi kayaknya sebanding sama bayaran, hihihi… :D

  11. uda, aku dulu juga sempat buka usaha katering kecil-kecilan, jadi aku tau persis betapa kompleksnya pekerjaan untuk menghasilkan sepiring makanan..makanya aku berusaha selalu menghabiskan makanan yang aku makan, baik dibuat sendiri ataupun dibeli…kalo untuk pekerja katering, dengan menghargai mereka ( melalui contoh yang uda berikan) sudah membantu mereka menjalani hari itu dengan lebih ringan :)TFS ya uda

  12. Wah, kak…saya dari Jawa tp tidak pernah ketemu bis “Sinar Jaya ” :D

    Sebenarnya, kalau masalah letak meletakkan piring kotor itu tergantung kebiasaan aja, kalau kita terbiasa tidak “sak enak e dw ” alias se mau gw ya gak bakal dech sembarangan, telepas dari harga menghargai :)

  13. Uda,

    Dalam satu hal kita punya persamaan. Orang tua kita sama-sama meiliki bisnis yang bergerak di bidang makanan.

    papa dan mama memiliki toko kue. Masing-masing awalnya menjaga toko kue di tempat yang berbeda. Lantas mama mulai jenuh dan letih, sampai akhirnya hanya fokus kepada pengawasan saja. Sementara, papa, masih memantau belanja, pesanan, penjualan, sampai tutup toko.

    Nah, Di mulai dari jaman SMA dan kuliah dulu, setiap minggu yessy pasti ikut ke pasar. Toko kue yang papa miliki salah satunya bertempat di pasar. Maka jam 5 subuh Yessy sudah harus ikut papa ke toko kue itu. Membantu membereskan dan merapihkan etalase, sampai menjual. Pas jam 12 siang, biasanya Yessy baru bisa pulang setelah mendapat uang untuk makan bakso enak yang letaknya juga di pasar itu.

    Yessy ingat betapa sebalnya Yessy ketika hari Minggu, saat teman-teman Yessy bangun siang seenaknya karena itu hari libur. Yessy malah di haruskan bangun lebih pagi, karena harus membantu papa.

    Apalagi lebaran. Beugh…

    Panas dan kecerewetan ibu-ibu pembeli itu bener-bener nguji kesabaran puasa banget deh!

    Namanya juga pasar, semua ibu-ibu nawar. Ada yang nawarnya pake perasaan, ada yang enggak. Dan betul kata Uda. Dia beanr-benar kurang menghargai kita.
    Sampe-sampe pernah Yessy ngomong sama papa.

    Yessy gak suka bantu papa di Toko kue itu. Ketika papa tanya kenapa, Yessy jawab karena Yessy ngerasa gak di hargai. Padahal status Yessy mahasiswa Trisakti! Itukan bukan tempat kuliah yang murah! (setidaknya pada saat itu)
    “Please deh Pa…Kita kan gak miskinnnn, kita mungkin malah lebih kaya dari ibu-ibu cerewet yang nawar kue kayak nawar sampah itu!”

    Di situ papa tersenyum. Yessy ingat papa cuma bilang begini.

    Itu makanya Papa sekolahkan Yessy, supaya pintar, supaya cari duit gak perlu susah begini. Ya kan?

    There…

    Saat itu cuma satu yang ada di benak Yessy. Gue gak mau kerja kayak papa, gak mau kerja kayak mama. Gue mesti keren. Pake baju bagus, kerja di kantor ber AC dan lingkungan orang berdasi.

    Saat ini cita-cita yessy tercapai, uda.

    Hanya saja sekarang mikirnya gini.

    sialan…
    Gaji sebulan gue itu pendapatan seharinya Toko Kue bokap gue! GERRRRRR!

    Ah, Uda…
    Yessy aja yang sok mengkait-kaitkan, atau emang komentar Yessy dan tulisan uda itu ada hubungannya?

    Maaf ya uda, panjang banget komennya.

    Permisi.

    • Ah Yess… cerita kita memang nyaris mirip. Liburan kuliahku nyaris tidak diisi dengan jalan-jalan. Aku selalu mengisinya dengan menggantikan Papa dan Mamaku di rumah makan. Letih dan mengesalkan terkadang. Tapi, nyatanya, hal itu telah banyak membentuk karakterku. Dari situ, aku belajar soal tanggungjawab, aku belajar soal menghargai oranglain, dsb…

      Mengapa aku memilih menjadi dosen, salah satunya adalah karena memang aku tidak ingin seperti keduaorangtuaku yang harus susah payah berdagang di pasar.

      Tapi, ketika cita-citaku itu terpenuhi, nyatanya akupun tetap masih jualan. Alasannya simpel; karena gajiku tidak lebih dari pendapatan rumah makan kami dalam sehari… hahaha… :D

      Pertanyaannya sekarang: bekerja untuk cari uang atau gengsi? ;)

  14. Menarik melihat persamaan profesi orangtua Uda dan Yessy. Di Cianjur, aku pernah dengar cerita dari mertuaku kalau para pengusaha toko manisan banyak yang menyekolahkan anaknya di luar negeri. Setelah tamat, tentu saja mereka tidak mau bekerja meneruskan bisnis manisan tadi. Mereka lebih memilih bekerja di kota besar. Tapi yang menarik, gaji mereka sebagai karyawan pasti tidak lebih besar dari penghasilan sebagai pengusaha toko manisan. Pertanyaannya? Bekerja cari uang atau gengsi? Halah….Kok mengulang pertanyaan ente….
    Yah, masing2 orang punya cita2 dan kepuasan sendiri. Orangtua pedagang biasanya juga bercita2 anaknya tidak lagi berdagang dengan berpanas2 di pasar.

  15. RM. Sinar Jaya, menjadi kenangan tersendiri bagi saya saat saya baru pertama kalinya menginjakkan kaki di kota kelahiran uda Hardi pada tahun 91 lalu.

    setelah saya turun dari bus, lalu berganti dg kendaraan lain (oplet), saya cukup mengatakan kepada sopir dan kondektur tolong antarkan ke RM. Sinar Jaya.

    Sesampainya di RM. Sinar Jaya, saya langsung duduk di salah satu kursi, tidak lama kemudian sebagian karyawan langsung menyajikan beberapa lauk pauk dan nasi lengkap.

    Setelah selesai makan, lalu saya berikan bon yang telah ditulis oleh karyawan RM tersebut kepada kasir, -yang menjaga kasir ketika itu mama nya uda hardi.

    setelah kuberikan nota bon tadi entah tiba-tiba saya menanyakan seorang nama “HardiVizon”, yang terjadi akhirnya notanya diambil uang yang sebelumnya telah saya berikan dikembalikan oleh mama uda. akhirnya GRATIS lah saya makan di RM. Sinar Jaya.

    Kapan ya makan Gratis lagi seperti dulu??

Komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jawab dulu ya pertanyaan di bawah ini sebelum kirim komentar, biar tidak dianggap spam.. :) *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>