ayah adi dan dika

Dari banyak iklan yang tayang di televisi, hanya sedikit yang  meninggalkan kesan baik di benakku. Kesan yang bernilai positif tentunya. Yakni, kesan yang mampu memberi inspirasi. Salah satu iklan itu adalah iklan sebuah pasta gigi yang menampilkan sosok ayah dan anak, Ayah Adi dan Dika namanya.

Iklan ini memang sederhana. Hanya menunjukkan taktik seorang ayah dalam membiasakan putranya menyikat gigi dua kali sehari. Tapi, bagiku ini tidaklah sesederhana itu. Disadari atau tidak oleh pihak pengiklan, pemilihan tokoh ayah dan anak lelakinya itu sangatlah besar maknanya. Sesungguhnya, jika mereka mengambil sosok ibu dan anak pun, pesan iklan itu aku yakin tetap akan sampai. Pengambilan tokoh ayah dan anak lelakinya disini, sangat menarik menurutku.

Mengapa?

Begini:

Dalam masyarakat bermazhab patriarkis seperti kita, sosok ayah selalu digambarkan sebagai sosok yang disegani, berwibawa dan seringkali ditakuti oleh anaknya. Adalah sebuah aib, jikalau seorang ayah mengerjakan pekerjaan ibu bersama anaknya. Di banyak etnis, seorang ayah harus ditampilkan sebagai sosok yang “dilayani”, tidak boleh berada pada posisi “melayani”, meski sekedar membasuh kaki anaknya yang kotor setelah bermain.

Paradigma ini, meski sudah berkurang, tapi di masyarakat kita masih cukup kental dan lestari. Barangkali, hal inipun masih kita (para ayah) modern, lakukan. Sebagai contoh: ketika sedang asyik online di jagat maya, tiba-tiba anak kita meminta sesuatu, apa yang kita lakukan? Tanpa berniat untuk menuduh, tapi barangkali kebanyakan kita akan bilang: “Sana, minta sama Mama“.

Sosok ayah Adi yang “terjun ke lapangan” mengajarkan perihal sikat gigi kepada putranya, Dika, menurutku sebuah iklan yang mampu mengedukasi kita semua. Seorang anak laki-laki sangat membutuhkan ayahnya dalam pertumbuhannya. Anak laki-laki yang dirawat dan mendapat sentuhan fisik ayah, dapat menerima diri secara positif dan merasa aman dengan maskulinitasnya. Suatu penelitian mengungkap bahwa para ayah perlu berinteraksi dengan anak sedikitnya dua jam sehari dan enam setengah jam di akhir minggu. Dengan bertambahnya usia anak, jumlah waktu bisa saja berkurang. Namun kebutuhan anak laki-laki untuk berinteraksi dengan ayah, dua kali melebihi kebutuhan anak perempuan.

Kalau begitu, apa sesungguhnya yang dibutuhkan seorang anak lelaki dari ayahnya?

Ada banyak sesungguhnya yang dibutuhkan seorang anak lelaki dari ayahnya. Setidaknya ada tiga hal yang dapat aku simpulkan dari berbagai bacaan:

1. Kasih sayang dan ketegasan

Anak laki-laki butuh melihat ayah. Kondisi minimalnya, anak laki-laki butuh sering melihat sosok ayah. Namun ayah yang baik tentu tidak puas bila hanya ditonton oleh anak. Anak laki-laki butuh ayah yang menunjukkan kasih sayang. Ayah yang selalu mengambil jarak dengan anak, tampak dingin dan kaku saat berbicara dengan anak, adalah ayah yang ketinggalan jaman.

Anak laki-laki butuh ayah yang memberi batasan pada perilakunya. Kontradiksi? Tentu tidak. Memberi batasan perilaku tidak bertentangan dengan menunjukkan kasih sayang. Malah, kemampuan ayah memberi batasan perilaku pada anak, dipertinggi bila ia punya kedekatan dengan anak. Tanpa batasan perilaku dari luar, anak laki-laki tidak akan punya kemampuan mengendalikan diri.

Saat mengalami perubahan fisik menjadi remaja laki-laki atau pria dewasa sekali pun, anak laki-laki masih butuh bantuan ayah. Dari ayahnya, anak laki-laki ingin belajar menjadi pria dewasa yang bertanggung jawab, dan menerima maskulinitasnya dengan gembira.

2. Saling belajar

Anak laki-laki belajar dari ayah, dan para ayah pun belajar dari anak laki-lakinya melalu interaksi mereka. Menjadi model bagi anak laki-laki merupakan cara ayah memberi pengaruh, baik emosi, sosial maupun fisik.

Saat Anda merasa kesal dan marah sepulang bekerja, komunikasikan perasaan Anda kepada keluarga. Sebab, anak kerap salah memahami mood jelek orang tuanya. Anak biasanya menganggap dirinya penyebab kemarahan orang tuanya. Para ayah perlu mengekspresikan perasaan-perasaannya. Tidak hanya ekspresi marah, tetapi juga sedih dan frustrasi. Laki-laki yang mencari dan mendapat dukungan emosi dari keluarga akan mengalami kehidupan keluarga yang harmonis.

Sikap ayah dalam mengekspresikan emosinya di tengah keluarga, akan menjadi model utama bagi anak lelakinya.

3. Model anti kekerasan

Anak laki-laki belajar memperlakukan perempuan dengan mengamati ayah. Seorang ayah yang menghormati dan memperlakukan istri dengan baik, akan ditiru anak laki-lakinya. Begitu pula bila ayah memperlakukan istri dengan kasar dan sering mencaci, anak laki-laki akan memperlakukan perempuan dengan cara sama.

.

Nah…. apakah masih penting untuk “jaga imej” di depan anak-anak kita wahai para ayah…? :D

Sumber bacaan: Jawaban dot kom

25 comments on “ayah adi dan dika

  1. waaaah..bener juga ya uda….eno akan siap membantu para calon ayah (sperti soni) untuk menjadi lebih baik uda…..mohon doanya….^_^

  2. Jaga Imej ? … itu perlu sekali Uda …
    Tetapi Jaga Image dalam pengertian yang benar dan semestinya tentu saja …
    Bukan Jaga Image semu … yang hanya berbau arogan dan semena-mena …

    Seorang Ayah harus menjaga citra dirinya sendiri … karena dia adalah role model bagi anak-anaknya …

    Ini tulisan khas Uda …
    Saya tau pasti sikap konsisten uda mengenai hal ini … Dan saya sangat mendukungnya …
    (Ingat postingan ambil Raport kan Da ?) :)

    Terima Kasih Uda …

    salam saya

  3. Pokoknya aku setuju semua dengan tulisan Uda!

    Kalau di Jepang biasanya Ayah mandi duluan dengan anak laki-laki, wkatu malam (orang Jepang hanya mandi malam hari) dan baru Ibu mandi dengan anak perempuannya. Atau kadang Ayah mandi dengan semua anaknya. Tapi untuk keluarga d’miyashita tidak bisa karena keburu anak-anaknya tidur baru bisa mandi bersama. Demikian pula dengan sikat gigi.

    Tapi kalau weekend dan libur maka itu adalah waktu utk anak2ku mengenal dunia laki2 dengan bermain di sungai, menangkap kumbang, hiking dll

    Yang penting kita gunakan interaksi ortu-anak-anak sebaik mungkin dalam wkt yang mungkin minim sekali. Aku percaya bukan kwantitas yang menentukan tapi kwalitas.

    EM

  4. Satu hal yang sampai saat ini Eka pelajari dari bapak adalah… Bapak gak pernah segan minta maaf ketika beliau salah. Itu justru membuat saya makin deket dan respek sama bapak lho Uda…
    Karena saya tahu, bapak menghormati keberadaan saya sebagai individu :)
    Suka tulisan ini uda… Banyak manfaat bisa dipetik.

  5. yiiihaaa….!!! ngunjungin blog da hardi pasti selalu nambah ilmu…mksh byk ats pembelajarannya da…mo di print utk misua trsyg ne yg atu ne…:D

  6. Alhamdulillah, suami dirumah juga tdk berkebaratan utk membantu urusan domestik, seperti mencuci piring ataupun mengepel, begitu juga anak lelakiku, ok saja utk membuatkan nasi goreng utk sarapan.

    Walaupun suami asli berasal dari minangkabau, yg konon prianya terbiasa dilayani, tdk terjadi dirumah, kami terbiasa bekerja sama antara ayah, ibu dan anak2.

    bahkan anak2 kami, baik yg laki2 maupun yg perempuan yg mengajari setir mobil juga adalah ayahnya .
    salam

  7. artikelnya keren bgt pak…. berguna sekali buat kami yang sebagai calon ayah… I like that…..

  8. Uda…benar sekali…
    Temanku, yang putra sulungnya bermasalah, dikasih tahu psikolog….jika anak laki-laki telah berusia 10 tahun, hendaknya lebih dekat ke ayahnya, agar ayahnya bisa mengajarkan hal-hal sesuai dengan gendernya.

    Iklan itu memang bagus Uda…untuk menunjukkan bahwa sosok anak juga dipengaruhi hubungi dengan ayah ibunya, tak sekedar akrab dengan ibu saja..bahkan karena anak laki-laki ya harus dekat dengan ayah.

  9. Pingback: SMS « The Ordinary Trainer writes …

  10. Setujuh, Uda Ustadz. Sama ayah saya belajar naik sepeda, nyetir mobil, mancing dan masak hehe (ayah saya hobi masak soalnya..)

    Iklan itu bagus, saya selalu nunggu yang terbarunya.. :)

  11. Bicara tentang bapak. Papa Yessy dan bapak mertua adalah tipikal bapak jaman dahulu. Dimana diamnya adalah bahasa sehari-hari. Bukan tipikal orang yang suka bercanda, walaupun tetap terbukan untuk komunikasi.

    Tapi untunglah, Yessy dan suami sepakat untuk membesarkan Tangguh dengan cara yang berbeda. Jadi Yessy sih bisa aja gantian dengan si ayah untuk ngurusin Tangguh. Dari mulai mandiin, nyebokin kalau dia buang air. Kecuali nyuapin, kalo ini, si ayah gak bisa…hehe…

    Selain iklan ayah Adi dan Dika, Yessy juga suka sama iklan yang seorang ayah ikut kuis, dan dia menelpon anaknya untuk mendapatkan jawabannya itu, uda. (taukan?)

    Pesan moralnya si gampang aja.

    Si ayah Percaya sama jawaban si anak, keren :)

  12. waktu pertama kali lihat iklan itu, aku berpikir, iklan ini bagus juga ya. beda sama iklan2 yg lainnya. ada unsur pendidikannya… dan kocak hehe. jadi berpikir, siapa ya yg punya ide? :)

  13. Sepertinya dulu, adat dan kebiasaan memang membuat sosok laki-laki menjadi sosok yg bukan ‘rumahan’ dalam artian rumah bener2 urusan ibu. Jadi tugas rumah tangga dilakukan ibu, anak-anak juga ibu.
    Urusan ayah tuh ngantor, pulang rumah dah rapi, makan pake lauk paling enak dan gelas teh paling gede, gamau denger keributan di rumah sepulangnya dari kantor, anak2 harus tertib.
    Beruntunglah era modern sekarang ini, sudah banyak ayah2 yg lebih peduli :) n mau ngebantu urusan RT n anak2.

    Sungguh beruntung saya bersuamikan orang yg mau berbagi pekerjaan RT dan mengurus anak2.
    Alhamdulillah….

  14. iya..
    iklan itu bagus banget.
    setelah baca postingan Uda.. jadi semakin suka dengan iklan itu. Sepakat lah Uda.. :)

    emang, dalam membesarkan anak, tidak bisa hanya satu sisi saja (kebanyakan hanya ibu saja yang dominan). padahal anak juga harus belajar banyak dari ayah.

    dan saya yakin Uda pun ayah yang ‘terjun ke lapangan’ kan? :)

  15. betul sekali uda, sosok ayah memang model yang paling baik bagi anak laki2nya.

    wah, tulisan uda rapi, terperinci dan enak sekali dibaca uda,, pengetahuannya lengkap (pokoknya saya jatuh cintrong deh) sama tulisan uda ini,,, hehehhe

    salam kenal.. :)

  16. Iklan mengandung gimmick yang pas

    juga memenuhi syarat :

    1. Mudah diingat
    2. Kuat menancap di pikiran orang.
    3. Tak mengumbar kebohongan

    Mantaf mas artikelnya
    salam hangat dari Surabaya

  17. ngomong soal iklan tv.. saya jd ingat satu iklan yg begitu saya lihat, saya langsung ga suka… iklan mie instan.. ceritanya : ada tamu ngajak bapaknya kerja bakti, lalu si anak bilang..’saya ga punya papa..’ padahal bapaknya ngumpet.. ( tau ngga Uda…? ) waduh.. saya kok sebal ya.. ngajarin anaknya bohong bahkan mengatakan ‘ga punya papa..’ …

    tanpa disadari iklan2 tv juga seharusnya memberikan pesan moral / edukasi yg baik buat pemirsa.. seperti iklan pasta gigi itu… saya sepakat ma Uda…

  18. Aku juga suka iklan ini keren!
    Papaku bukan tipikal bapak jaman dulu bahkan kami dahulu sering banget becanda sama papaku…

    yang paling aku ingat adalah waktu temen2 main kerumahku dan dengan bangganya dia kucek2 kepala dan mencium pipi anaknya ini…hahahaha…jangan tanya aku sempet ngambek rasanya malu banget di manjain gitu depan temen2 smp ku waktu itu, tapi sekarang aku tau bahwa itu adalah ungkapan sayang uda, dan jarang sekali seorang ayah jaman dulu bisa mengungkapkan sayang keanaknya seperti papaku ke kami semua. apalagi ayah orang bugis atau makassar jaman dulu…beuhhhh hehehehehe

Komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jawab dulu ya pertanyaan di bawah ini sebelum kirim komentar, biar tidak dianggap spam.. :) *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>