aku dan mesin tik

Untuk yang kesekian kalinya, tulisanku terinspirasi dari postingan Om Nh di blognya. Gara-gara beliau menuliskan tentang mesin tik, akupun tergerak ingin menceritakan pengalamanku yang cukup panjang dengan mesin yang memiliki bunyi khas itu.

Perkenalanku untuk pertama kali dengan mesin ini sekitar tahun 1982, ketika aku duduk di kelas IV SD. Aku tidak tahu, alasan apa yang membuat Papaku membeli mesin tersebut. Ketika itu, beliau baru pulang dari Kota Dumai. Beliau membawa beberapa barang yang salah satunya mesin tersebut. Dumai adalah kota pelabuhan yang berjarak sekitar satu jam perjalanan dari Duri. Kami kerap pergi ke kota tersebut untuk berbelanja aneka barang import yang kebanyakannya dari Singapura, dengan harga yang lumayan murah. Boleh dikatakan, alat-alat elektronik di rumah kami ketika itu, dibeli di Dumai.

Kedatangan Papa dengan mesin tik itu cukup mengherankanku. Apa sebetulnya tujuan beliau membelinya. Secara membabibuta aku bertanya kepada beliau tentang mesin tersebut. Beliau hanya mengatakan bahwa mesin tersebut berfungsi sebagai alat untuk menulis tanpa pulpen. Akupun bertanya selanjutnya tentang bagaimana cara menggunakan alat itu. Ternyata, beliaupun tidak tahu cara menggunakannya. Oalah… :D

Secara kebetulan, keesokan harinya, kami kedatangan kakak sepupuku dari Bukittinggi. Dia berencana akan mencari kerja di kota Duri. Ternyata, kakak sepupuku itu bisa menggunakan mesin tik, meski tidak begitu mahir. Jadilah akhirnya aku ditunjukkan oleh beliau dasar-dasar mengetik.

Sejak itu, aku keasyikan dengan alat baru tersebut. Bagiku, itu adalah mainan baru. Setiap hari, sepulang sekolah, aku berlatih terus menggunakan mesin itu, hingga kedua jari telunjukku kapalan. Maklumlah, aku menggunakan sistem mengetik 11 jari, hehehe…

Hampir dua bulan lamanya, aku menekuni latihan mengetik tersebut. Nyaris aku tidak keluar rumah untuk bermain bersama teman-teman. Aku benar-benar menikmatinya dan jatuh cinta dengan mesin tersebut. Kecintaanku itu semakin bertambah, ketika aku bisa membantu Papaku menuliskan surat undangan rapat kepada anggota Persatuan Olah Raga Berburu Babi yang beliau pimpin. (Oya, di Sumatra Barat dan Riau, sampai saat ini masih lestari olahraga berburu babi ini. Lebih detail tentang olahraga ini, silahkan baca di sini ya… :) ). Anda tentu dapat merasakan betapa senang dan gembiranya aku kala itu.

Namun, semuanya itu secara mendadak hilang dariku.

Seperti biasa, sepulang sekolah aku langsung berganti pakaian, shalat zuhur dan makan siang. Setelah itu, aku bergegas menuju lemari tempat menyimpanan mesin tik kesayanganku. Tapi, apa yang kulihat..? Aku terkejut alang kepalang. Mesin tik-ku tidak ada di tempatnya! Aku cari ke berbagai tempat, juga tidak ada. Dengan perasaan cemas, aku tanyakan kepada Mamaku.

Mama sepertinya berusaha mengalihkan perhatianku, dan agak enggan menjawab pertanyaan tersebut. Tapi, setelah aku desak, akhirnya beliau cerita, bahwa sesungguhnya mesin tik itu dibeli Papa tempo hari untuk kakak sepupuku yang baru saja kuliah di Padang. Ketika aku sekolah tadi, Maktuo-ku (Budhe) datang untuk mengambil mesin tersebut dan langsung membawanya ke Padang.

Serta merta aku teriak, dan menangis sejadi-jadinya. Aku kesal. Aku marah. Entah apalagi yang bergemuruh di dadaku. Yang pasti, aku tidak terima kalau mesin tik kesayanganku itu diambil. Tiga hari aku tidak bertegursapa dengan orangtuaku. Tiga hari pula aku tidak melakukan apa-apa, selain makan dan tidur. Aku tidak berangkat sekolah, tidak keluar rumah sama sekali. Aku protes!

Aksiku itu berhenti, ketika secara tiba-tiba Papaku muncul di hadapanku. Yang mengagetkanku bukan kemunculan beliau, tapi sesuatu yang beliau jinjing. Sebuah mesin tik..! Ya, sebuah mesin tik…! Aku hampir tak percaya dengan penglihatanku.

Papa mengambil posisi duduk di sampingku. Beliau mengatakan kalau baru saja pulang dari Dumai untuk membelikanku mesin tik tersebut dan meminta maaf karena tidak mengatakan yang sesungguhnya soal mesin tik yang pertama dulu. Beliau bertindak begitu karena tidak tega melihat keasyikanku berlatih mengetik.

Seketika sirna sudah segala gemuruh di dadaku, berganti dengan kegembiraan yang tak terkatakan. Aku bersorai senang. Kupeluk kedua orangtuaku, meminta maaf dan berterima kasih.

Sejak itu, aku seolah tak terpisahkan dengan mesin tik tersebut. Bagiku, itu adalah mainan terhebat yang pernah dibelikan keduaorangtuaku.

Keterampilan mengetikku semakin terasah ketika nyantri di Gontor. Seringkali aku ditunjuk sebagai sekretaris di berbagai kegiatan. Puncaknya adalah ketika aku duduk di kelas IV (1 SMA). Aku dipercaya untuk menjadi mentor kursus mengetik, bersama beberapa orang temanku.  Ketika itu, aku sudah mampu mengetik cepat dengan sepuluh jari dan mengetik buta. Kemampuan itulah yang aku tularkan kepada para peserta kursus saat itu.

Selama nyantri, mesin tik tersebut memang tidak kubawa. Tapi, ketika menjadi mahasiswa, mesin itu kembali menemani hari-hariku. Tapi sayang, riwayat mesin itu harus berhenti gara-gara banjir yang melanda kamar kos yang kutinggalkan ketika aku liburan ke Duri. Selama berhari-hari mesin itu terendam air dan rusak parah, sehingga tak bisa lagi dipergunakan, padahal aku sudah mulai menulis skripsi. Dengan berat hati, mesin itupun aku museumkan. Dan sejak saat itu, akupun berkenalan dengan komputer, hingga saat ini keseharianku tak terlepas dari mesin elektronik tersebut.

Itulah pengalamanku bersama mesin tik tersebut yang saat ini tergeletak tak berdaya di gudang rumah orangtuaku di Duri. Aih… jadi kangen dengan mesin itu, hehehe… :)

.

Foto di atas adalah sahabatku Akbar Zainudin yang menjadi saingan terkuatku dalam lomba mengetik cepat di Gontor dahulu. Tulisannya tentang mesintik, dapat dibaca di sini

17 comments on “aku dan mesin tik

  1. perkenalan saya dengan mesin tik itu juga terjadi pas saat saya SD Uda. Dua hal yang bikin saya tertarik dengan mesin tik. Pertama, bunyi “TING” saat mesin mencapai ujung kertas. Kedua, pita ketik yang ndak pernah habis dan keluar airnya. :D

  2. saya bersentuhan scr aktif dng mesin ketik saat kuliah dulu. ia jd temen pas bikin laporan/makalah dan sebagian skripsi.
    klo di kantor masih suka memakai mesin ketik tp bukan yg mekanik, tetapi yg elektrik.
    **tetap saja sy nggak pinter2 ngetik, selalu sebelas jari :D

  3. Pingback: Padeblogan Kyaine

  4. HHHmmm
    Ini sebuah cerita yang lain Uda …

    Bagaimana Uda begitu terbius oleh mainan yang satu ini …
    dan bagaimana Uda sangat mencintai Mesin Tik itu …
    dan sekaligus bagaimana kerennya mengetik cepat dengan mata tertutup.

    Ternyata banyak yang menulis tentang mesin tik iuga ya Uda …
    Termasuk Bang Akbar

  5. Waktu kelas VI saya sempat lho membawa mesin ketik ke ma’had. Juga sempat sebentar bawa tuh mesin waktu ngustadz di Kediri. sayangnya mesin tik itu punya tanteku, jadi pas pulang saya balikkin lagi. kondisinya lumayan bagus, tapi sempat sekali saya servis karena ada yang ngadat.

    BTW, salah satu keuntungan mengetik dengan mesin ketik adalah melatih kekuatan jari tangan. Makanya, waktu pindah dari tuts tuts ketik yang keras ke mesin yang digital, jadi terasa empuk, apalagi pas sepenuhnya pindah ke keyboard komputer yang pada awalnya terasa empuk tapi lama-lama jadi berubah keras. :)

  6. Mesin ketik itu mainan saya sejak kecil, Da. Saya lupa kapan persisnya mulai mengenal mesin tik. Yang jelas, sejak kelas 2 SMP saya sudah memakai mesin tik untuk menulis cerpen … :)

    Karena cerpen di majalah harus dikirim rangkap, maka saya biasanya mengetik dengan menggunakan karbon. Kertasnya bukan kertas hvs, tapi kertas tik yang lebih tipis, supaya lembar kedua dan ketiga yang dikarbon masih bisa terbaca jelas.

    Saya membeli mesin ketik saya sendiri tahun 79, dari honor cerpen yang saya terima. Waktu itu harganya Rp. 82.000,- merk Brother. Wow, bangga sekali loh bisa beli mesin tik sendiri.

    Sekarang? Yah, nggak mungkin lagilah pakai mesin tik manual. Sudah ada komputer gitu loh … :)

  7. Dulu aku juga terkagum-kagum dengan mesin tik…
    apalagi nenek dan papaku kalau ngetik cepeeettt….banget… wah, kok bisa ya? aku sampai heran sendiri. aku suka memperhatikan kalau papa memasukkan kertas pada gulungan mesin tik. lama kelamaan aku mulai iseng memasukkan dan mengeluarkan kertas. lalu mulai menekan-nekan tuts nya :)
    jadi ingat waktu SMA, untuk tugas bikin karangan harus diketik, untuk ngetik judul yang harus tepat di tengah-tengah, mesti dihitung ada berapa karakter judulnya termasuk spasi, lalu bagi dua, hitung mundur (backspace) sejumlah hasilnya, baru deh mulai ngetik. kalau salah….yaaahh…mesti pake tip ex deh…
    Sekarang udah dimanjakan komputer dan laptop ya Uda… bisa langsung nyimpen file/dokumennya lagi :)

  8. UDA …
    OOT nih …

    Saya hanya ingin menyampaikan …
    Mohon Maaf Lahir Bathin …
    Kepada Uda Vizon – Uni Icha dan the Fantastic Four

    Salam kami sekeluarga

  9. Oh, pantes jago nulis… dari dulu dah akrab sama mesin tik, hehehe…

    Kalau saya sampai sekarang enggak pernah bisa mengetik 10 jari. Paling banyak cuma 4 jari. Soal kecepatan, boleh diadu..tapi soal hasil, jadi banyak Typo..hehehe

    Uda, Selamat berpuasa dan mohon maaf lahir dan bathin. Semoga Ibadahnya bisa makin pol di bulan suci ini..dan dibulan-bulan selanjutnya tetap pol :-)

  10. mesin ketik….pengalaman yang tidak terlupakan adalah ketika kuliah dulu, kami diwajibkan membawa laporan akhir dan laporan awal…coba tebak uda…laporan akhirnya harus di ketik!!! iya di ketik hahahahaha…dan itu berlangsung selama 4 thn, jangan heran kalo di seputar depok dan kelapa dua masih ada rental mesik ketik karena masih dibutuhin…hihihihi lucu ya…

    ohya uda…selamat berpuasa besok…maaf jika diriku ada kesalahan ya…semoga ramadhan ini Allah melimpahkan banyak pahala nya kepada kita semua…AMIN

  11. Astaga Uda, kenapa ya kita dapat banyak sekali kesamaan :)

    Banyak hal yang orang tua Yessy ajarkan sama dengan cara orang tua Uda mengajarkan.

    papa juga pernah membelikan Yessy mesin Tik. Beugh keren banget! Yessy jadi kecanduan ngetik sampe jari tangan cantengan! hihihi….Tapi dari mesin tik itu Yessy jadi belajar bikin cerpen, bikin proposal, yang intinya, kalo gak ada mesin ketik itu, mungkin nemu komputer pertama kali lebih katrok banget banget dari pada gak pegang mesin tik sama sekali :P

    Mesin tik itu kemana ya sekarang?

  12. Tentu mesin tik jua tang ada dalam memoriku, ketika pertama kali mulai mencintai tulis-menulis (sajak). Ketika itu di masa sekolah dasar kelas V, saya mulai mencoba ketak-ketik di secarik kertas mesin tik milik kantor paman yang dibawa ke rumah…
    Kala itu (1970-an), rasanya mesin tik merupakan “barang 1/2 mewah” bagi remaja nun jauh di sana, di ujung timur Indonesia, di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Menggunakan mesin kala itu bukanlah karena ingin menulis sajak atau puisi, tetapi lebih pada ‘kekaguman’ pada benda impor bernama “mesin ketik”. Kini tentu telah tergantikan oleh perangkar computer. Tetapi, nilai humanis di balik kotak besi “mesin tik” ini tentu punya kenangan yang tak terlupakan.

Komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jawab dulu ya pertanyaan di bawah ini sebelum kirim komentar, biar tidak dianggap spam.. :) *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>