lampu colok


Warning: Illegal string offset 'single_featured_image' in /home/hardiviz/public_html/wp-content/themes/confidence/content-single.php on line 69

Anda tahu dengan lampu colok? Mungkin sebagian kita cukup akrab dengan istilah ini, tapi bagi sebagian lagi, istilah ini sangat asing. Wajar memang, karena lampu colok adalah semacam lentera berbahan bakar minyak tanah, berwadahkan kaleng atau botol bekas dan bersumbukan tali tambang. Yang tentu saja sudah tak ditemukan lagi.

Ya, ini adalah sebuah lampu tradisional yang dulu banyak dipakai oleh masyarakat kita. Namun, karena kemajuan zaman, lampu itupun tergeserkan dan diganti dengan lampu listrik yang jauh lebih praktis dan bersih. Istilah lampu colok banyak digunakan di Sumatera, terutama Riau dan sekitarnya. Kalau di Jawa, istilah ini barangkali sama dengan lampu senthir.

Aku tiba-tiba ingat dengan lampu ini, karena membaca status di FB seorang teman yang berbunyi: “rapat persiapan festival lampu colok“.

Di Riau, khususnya Pekanbaru dan Bengkalis, setiap Ramadhan digelar festival lampu colok. Para peserta festival beradu kreativitas. Mereka membuat aneka bentuk bangunan atau lainnya yang kemudian digantungkan di sana lampu colok yang banyak. Pada malam hari, lampu colok itu akan dinyalakan yang tentunya akan menyuguhkan pemandangan yang indah. Coba perhatikan gambar berikut ini yang kuambil dari berbagai sumber:


Aneka kreativitas lampu colok yang mencolok di malam hari

Indah sekali bukan?

Postingan ini sesungguhnya untuk menyatakan kerinduanku akan kampung halaman. Sudah lama sekali aku tidak ber-Ramadhan di sana. Jujur, aku rindu akan tradisi dan suasana khas kampungku, meski Jogja tidak kalah khasnya.

Memanglah benar kata orang, ketika kita sudah berjauhan, baru terasa makna sesuatu itu bagi diri kita. Mungkin kali ini bagiku tradisi Ramadhan di Jogja sudah menjadi rutinitas, namun jika aku sudah meninggalkan kota ini nanti, tentu saja kerinduan akan tradisi khas itu menyeruak dan menyesakkan dadaku. Seperti itu jugalah yang terjadi dengan kerinduanku akan festival lampu colok ini. Dulu, bagiku itu sudah menjadi kebiasaan dan seringkali malah kulewati begitu saja. Namun sekarang, aku rindu setengah mati (halah, lebay).

Itulah kita, yang gampang meremehkan apa yang sedang kita miliki, tapi akan bergulat dengan emosi ketika sesuatu itu hilang atau tidak kita miliki lagi. Maka, patutlah kita menjaga dan mensyukuri dengan sebaik-baiknya apa yang tengah kita genggam dan miliki, karena suatu saat bisa jadi ia terenggut atau terpaksa kita tinggalkan.

Nah kawan-kawan semua, apakah ada tradisi khas Ramadhan di tempat Anda? Boleh berbagi cerita?

.

gambar diambil dari sini, sana, dan situ.


Warning: Illegal string offset 'author_box' in /home/hardiviz/public_html/wp-content/themes/confidence/content-single.php on line 93

22 comments on “lampu colok

  1. malam hari di alun2 karawang, saya masih suka menemui lampu senthir pada pedagang tradisional (kacang/ubi/ketela/tales rebus).
    ia meletakkan pikulannya, lalu menaruh lampu senthir di tengah2 tumpukan kacang rebusnya.

    ohya, tradisi ramadhan yg berhubungan dng lampu colok di daerah saya nggak ada, paling pawai obor saat malam takbiran.

    btw, menyaksikan gambar di festival lampu colok di atas mmg sangat indah Uda. :D

  2. Masa kecilku, karena belum ada listrik, kalau bulan Ramadhan di kiri kanan jalan dipasang lampu buatan sendiri dari kaleng kecil yang diisi minyak tanah yang berjejer…indah sekali…..

    Awal bulan Puasa kemarin saya mengunjungi rumah adikku di Semarang…betapa menyenangkannya, saat Sahur, masih ada orang kotekan (kayu yang dipukul dengan berirama) membangunkan orang dari rumah ke rumah untuk sahur…saya jadi terkenang masa-masa kehidupan di kota kecil.
    Dilingkungan rumah di Jakarta suasana ini sudah hilang….

  3. Wuih..keren yah.
    Tapi saya baru denger mas yang namanya lampu colok, di Jayapura gak ada soalnya, heheheh.. :D
    Tapi asli deh, keren banget…

  4. Wah… keren itu lampu coloknya….

    awalnya kukira lampu colok itu harus dicolokin ke listrik… :)

    Tradisi Ramadhan di kampungku dulu ada klothekan sahur, orang2 berkeliling sambil klothekan kentongan, ember atau panci. Sekarang udah digantikan sirine :(

    di tempat tinggalku sekarang, kayaknya nggak ada deh tradisi khusus selama Ramadhan… atau aku belum tau ya?

  5. Festival lampu coloknya indah banget da…
    jadi pengen lihat langsung.

    di jawa masih ada kok dha, tapi memang harus di pelosok sekali.. :)

    salam uda,
    moga rindu kampung halamannya bisa segera terobati, hehehe….

  6. saya masih ingat saat masa kecil dulu di kampung saya, PARIS (pariaman dan sekitarnya. hehe..) nenek saya selalu mempersiapkan lampu colok untuk antisipasi jika mati lampu. lampu colok yang di kampung saya ini lebih dikenal dengan sebutan ‘dama’, tepatnya lagi ‘dama togok’.

    kalo soal tradisi ramadhan. anak-anak kampuang jagoannya…!! soalnya menjelang masuknya ramadhan, persiapan udah dimulai dengan mencari buluh ukuran besar yang disebut ‘batuang’. jadilah beberapa hari menjelang ramadhan bahkan di dalam bulan ramadhan, permainan ini akan terdengar di pelosok kampuang.

    bagaimana tidak. suaranya yang keras berdentang memecah kesunyian kampuang. kadang-kadang ada juga anak-anak yang iseng memainkannya saat shalat tarawih di surau. jadilah akhirnya orang-orang di surau memburu dan memarahi tu anak-anak yang udah kabur duluan.

    nama permainannya “Badia Batuang”

    hehe.. saya singgah. salam kenal ya pak.

    *sekarang, permainan ini sudah berangsur hilang”

  7. woh itu namanya lampu colok ya kang saya awalnya agak bingung setelah membaca dan melihati sama hanya beda istilah saja di sini namanya oncor hehehe
    bagaimana perjalanan puasanya semoga kita saling mendapat berkah
    salam hangat dari keluarga gunungkelir

  8. Saya masih beberapa kali melihat lampu sentir itu …
    biasanya tukang jagung bakar atau kacang rebus kadang masih sering mempunyainya …

    Mengenai tradisi Ramadhan …
    Terus terang ditempat saya tidak ada Uda …
    Hanya mungkin dulu …
    Petasan ! … hehehe
    Tapi itu duluuuuuu …

    Salam saya Uda …

  9. lihat lampu colok itu jadi ingat dulu pas saya SD, menjelang 17-an sih, warga beramai-ramai bikin deretan lampu colok berwarna-warni; merah, kuning, biru, hijau, dsb dan dipasang di depan rumah.

    Tapi tradisi itu hanya berjalan sekitar 2 tahun. Entah siapa yang memulai dan kenapa hanya sesaat saja.

  10. tradisi ramadahn di tempat tingalku sekarang udah nggak ada, sepi
    tahun lalu di hari2 pertama masih ada anak2 keliling bawa galon air mineral bangunin sahur,
    tahun ini paling2 satpam doang, kontrol sambil teriak2 sahur

  11. setelah membaca tulisan mas vizon ini, kerinduan saya terhadap kampung halaman, makin tak bisa dibendung, hehe …. tiba2 saja kok kenangan masa lalu waktu di kampung halaman terpampang jelas di depan mata. hmm …. selamat menunaikan ibadah puasa, mas vizon.

  12. ..
    wah.. bagus banget Da..
    kalo di tempat saya juga ada Lampu colok seperti itu, tapi cuman pas malam takbiran..
    di bikin berjajar sepanjang jalan..
    ..

  13. Indah banget Uda Ustadz. Di tempatku tradisinya, ya, kegiatan-kegiatan masjid. Sama malem-malem keliling bangunin orang saur rame-rame. Sekarang, banguninnya gak boleh berisik alias, ngetuk pintu satu-satu dari rumah ke rumah.

  14. kalau di tempat saya lampu seperti itu namanya “culuk”, tapi adanya cuma waktu saya masih kecil. Sekarang tak ada lagi. Tergantikan oleh modernisasi.

  15. lampu colok kalau di Jepang jadinya lampion ya hehehe.

    Tapi bentuk illuminasi yang tercipta memang indah ya, menerangi malam yang gelap. Di Jepang illuminasi cuma ada pada musim dingin, menjelang Natal/Tahun Baru.

    EM

    • Wehhh, aku baru mau komen seperti mbak Em :)

      Maksudnya lampion, dan aku pernah lihat di google, festifal lampion di Jepang cantik-cantik :)

      Pernah ada festival lampion di Jakarta dengan tema tokoh kartun Disney. Cuma rasanya tidak semeriah seperti di tulisan uda sekarang :)

      • Kameriahan acara ini juga baru terjadi beberapa tahun belakangan kok Yes..
        Sebelumnya, hanya dilaksanakan oleh masing-masing keluarga dengan skala kecil

  16. gini nih kalo gak punya kampung
    kalo ditanya tradisi ramadhan jadi bingung deh
    hmm, mungkin cerita2 ttg ramadhan kali ya
    *jadi bahan postingan nih*

  17. Itu bangunan yang dipasangi lampu colok bangunan beneran ya Da? Wah, gimana caranya masang lampu di atap yang tinggi dan di bagian pinggir-pinggir bangunan? Bagus banget ….

    Kalau dulu, waktu saya masih kecil dan perkampungan tempat tinggal saya masih banyak tanah kosong yang gelap, setiap memasuki 10 hari terakhir puasa, jalanan terang benderang dengan deretan lampu minyak yang dipasang warga. Maksudnya adalah untuk menerangi jalan orang-orang yang mau i’tikaf di masjid. Sekarang, karena rumah sudah padat dan masing-masing memasang lampu listrik di depan rumah, lampu minyak nggak ada lagi …

Komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jawab dulu ya pertanyaan di bawah ini sebelum kirim komentar, biar tidak dianggap spam.. :) *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>