telpon tipu-tipu


Warning: Illegal string offset 'single_featured_image' in /home/hardiviz/public_html/wp-content/themes/confidence/content-single.php on line 69

Cerita mengenai telpon atau sms penipuan menurutku sudah lazim kita dengar sehari-hari. Namun, meski sudah banyak berita soal itu, tetap saja ada yang termakan tipu muslihat tersebut. Entahlah, apa penipunya yang lihai ataukah korbannya yang terlalu lemah.

Beberapa hari yang lalu, akupun menjadi “korban” telpon tipu-tipu ini. Tapi, korban yang kumaksud di sini bukan korban yang dikuras uangnya. Aku adalah korban pencatutan nama oleh sang penipu.

Aku dipercaya oleh teman-teman untuk menjadi tim pendirian sebuah BMT (Baitulmal wa Tamwil), bekerjasama dengan salah satu BMT terbesar di Yogyakarta. Karena urusan inilah, maka aku cukup dekat dengan jajaran direksi BMT ini, termasuk Direktur Utama-nya, sebut saja namanya Bu Rahmi.

Pagi itu, Bu Rahmi mendapat telpon dari seseorang ke telpon selularnya. Di layar ponsel hanya muncul nomor, yang menunjukkan bahwa nomor itu belum tersimpan di ponselnya, alias nomor baru.

“Assalamu’alaikum….”, si penelpon menyapa.
“Wa’alaikumussalam…”, bu Rahmi menjawab.
“Apa kabar Ibu? Sehat?”
“Alhamdulillah, sehat… Ini dengan siapa ya? Kok nomornya tidak tersimpan di HP saya?”
“Iya Bu, ini nomor baru. Saya menelpon karena ingin memberitahukannya. Ayo, coba tebak, dari suara saya Ibu pasti bisa mengenalinya bukan?”
“Pak Vizon ya?”
“Yup, betul sekali…! Sekarang, selain nomor yang ini, saya tidak pakai lagi. Tolong diganti ya Bu”
“Ok Pak Vizon”

Klik, hubungan telpon pun terputus. Dan sejak saat itu, Bu Rahmi beberapa kali dihubungi oleh “Pak Vizon” dengan obrolan yang bermacam-macam. Dari situ, si Pak Vizon tadi mulai dapat membaca bagaimana hubungan antara Bu Rahmi dengan aku, Vizon yang asli.

Bu Rahmi sama sekali tidak menyadari kalau dia sudah masuk perangkap si penipu, sampai akhirnya si Pak Vizon itu berbicara mengenai transfer mentransfer uang. Dari situ barulah Bu Rahmi tersadar kalau ini ada yang tidak beres. Spontan Bu Rahmi pun mengumpulkan stafnya yang sering berhubungan denganku dan meminta mereka untuk menelpon ke nomor ponselku yang biasanya.

“Assalamu’alaikum Pak Vizon”, salah seorang staf menyapaku lewat ponsel.
“Wa’alaikumussalam, apa kabar Mbak,?” aku langsung mengenali suara si penelpon dan nomor telpon kantor BMT tersebut
“Maaf Pak, Bapak ganti nomor hp ya?”
“Tidak… saya tetap pakai nomor ini, dan belum berniat untuk menggantinya. Emangnya ada apa mbak?”
“Oalah… tadi ada yang nelpon Bu Rahmi, mengaku sebagai Bapak dan bilang kalau nomornya ganti”
“Astaghfirullah…!”
Dan, mengalirlah kronologis ceritanya dari mulut si Mbak itu kepadaku.

Kejadian itu benar-benar telah mengorbankanku, terutama nama baik. Sejenak muncul ketidakpercayaan Bu Rahmi kepadaku lantaran permintaan transferan uang dari si Pak Vizon gadungan itu. Dan bahkan, sebelum menelponku, si Mbak Staf tadi sempat menkroscek ke beberapa temanku soal penggantian nomor tersebut. Meski tidak menyebutkan cerita yang sebenarnya, namun tentu saja hal itu menimbulkan pertanyaan dan persepsi yang macam-macam dari teman-teman terhadapku.

Tapi syukurlah, akhirnya semuanya menjadi jelas dan kerugian secara materi dapat dihindari.

Dari kejadian ini, ada pelajaran yang dapat diambil:

Pertama, jangan cepat percaya dengan nomor telpon baru yang tidak kita kenal. Jawab saja seperlunya dan jangan mau terjebak dengan tebak-tebakan nama yang dilontarkan oleh si penelpon. Katakan saja kalau kita sama sekali tidak kenal dengan suara itu dan minta dia untuk menyebutkan namanya sendiri. Sebab, jika kita sempat menyebutkan nama seseorang yang kita kenal, si penipu itu akan berusaha mengorek keterangan tentang nama tersebut dari kita sebanyak-banyaknya.

Kedua, jangan buru-buru menghapus nomor lama kawan kita, meski ada yang mengaku kalau dia ganti nomor.  Pastikan betul kalau itu memang kawan kita yang dimaksud.

Ketiga, segeralah kroscek ke nomor lama yang bersangkutan dengan menelponnya. Dari situ kita akan tahu, apakah itu sebuah penipuan atau bukan.

Begitulah, semoga sahabat-sahabat semua tidak mengalami hal sama atau lebih buruk dari ini. Kita memang tidak boleh berpikiran negatif, tapi waspada adalah sebuah keniscayaan.

Terima kasih buat Kak Monda, karena postingannya soal SMS SPAM telah menggugahku untuk menceritakan ini kepada anda semua.. :)

Apakah kawan-kawan pernah punya pengalaman soal telpon tipu-tipu ini?


Warning: Illegal string offset 'author_box' in /home/hardiviz/public_html/wp-content/themes/confidence/content-single.php on line 93

40 comments on “telpon tipu-tipu

  1. waaah kalau begini sudah menyangkut nama baik. Aku memang paling tidak suka jika ada temen yang berkelakar dengan menanyakan siapa namanya dgn hanya menebak suara. Meskipun lucu kadang mrk tidak tahu bahwa kita sedang “tidak ada waktu utk becanda”.

    ya, soal ganti no HP musti hati-hati juga ya. lebih baik kalau bertemu dicek lagi, dan miss call…

    EM

    • Ada juga teman yang memberitahukan soal penggantian nomor hp-nya lewat sms. Biasanya dia menulis seperti ini:
      Mulai hari ini saya ganti nomor dengan yang ini. Yang lama tidak dipakai lagi. Salam (Fulan)
      Ini juga membuka peluang penipuan. Jadi memang patut berhati-hati untuk yang satu ini ya Nechan… :)

      • Sama EM, saya juga males jika teman suka mengganggu sengan meminta kita menebak-nebak begitu….Atau mungkin karena saya terbiasa bekerja dibidang yang agak ketat. Baiasanya teman SMA…dan mereka kalau diikuti suka ngobrol ngalor ngidul….padahal saya dikejar waktu.

  2. Saya setuju dengan EM …
    Suka sebal sekali … jika ada teman yang sok-sok tengil berkata … Hayoo tebak dari siapa ini … dst dst dst … Sungguh buang-buang waktu dan menyebalkan …

    Dan juga yang lebih penting … kita juga menghindari hal-hal seperti ini … seperti yang uda ceritakan ini …

    Dan saya pikir akan lebih baik kalau mau ganti No HP … kita lakukan hadap-hadapan … supaya tidak ada penipuan lagi

    Syukurlah Nama Baik Uda tetap terjaga …

    Salam saya Uda …

    • iya mas, aku kalau sudah sebal, biasanya aku putusin teleponnya. Biar aja, kalau perlu kan pasti telepon lagi hahaha.

      tapi, mas masih ingat suaraku kan? hehehe

      EM

    • Untuk kasus pertemanan memang menjadi menyebalkan telpon tebak-tebakan itu, Om. Tapi, seperti yang saya ceritakan, itu bisa menjadi cara orang untuk menipu…

      Iya Om, alhamdulillah semuanya selesai dengan baik tanpa ada yang dirugikan. Thanks Om… :)

  3. Pingback: TENGIL | The Ordinary Trainer writes …

  4. Untung bu Rahmi hati-hati ya Uda.
    ————————————————-

    Saya dua hari lalu memutuskan sambungan telepon uda, habis orang yang menelepon bersikap kasar.
    Saya mengangkat nomor hape, karena kawatir itu merupakan telepon dari klien.

    “Halo?” kata saya
    “Apa kabar, baik-baik aja?” jawab suara diseberang sana, yang saya yakin tak mengenalinya.
    “Siapa ini,” tanya saya
    Disana masih menyerocos ngomong hal-hal yang diluar kebiasaan teman-temanku, dan kalaupun dari klien biasanya mereka akan sopan, memberi tahu dia siapa dan menjelaskan maksudnya.
    Terus akhirnya saya tanya lagi, karena merasa omongannya nggak nyambung.
    “Maaf pak, ini dari siapa, dan mau bicara dengan siapa?” menurut saya wajar kan…kalau dari teman pasti dia akan mengatakan siapa namanya.
    Tahu nggak uda, dia menjawab..”Sombong ya kamu sekarang..terus bla..bla..bla…” Waduhh …langsung aja saya matikan. Saya masih menunggu, siapa tahu dia akan mengirim lewat sms….seharian itu saya sempat merenung…tapi rasanya jawabanku tetap sopan, dan saya yakin semua temanku nggak ada yang seperti itu.

    Lagipula dia tak sekalipun menyebut namaku, jangan2 juga salah sambung. Repot juga, sekarang saya hati2 kalau terima telepon dengan nomor tak dikenal..

    • Keputusan yang tepat itu Bu. Putuskan saja hubungan telpon yang tidak penting itu. Buang-buang waktu dan menguras energi serta emosi…

      Setuju soal kehati-hatian, tapi tidak mesti justru menjadi paranoid kan Bu? hehe… :)

    • Ya, untung beliau tidak terperangkap lebih jauh. Bisa saja, si penipu akan melakukan hipnotisme melalui telpon itu. Gak kebayang, jika itu sempat terjadi dan uang kas BMT yang lumayan banyak itu bisa-bisa terkuras…

  5. kalo sms tipu2 baru saja saya dapat uda
    nah kalo telpon tipuu-tipu justru saya pernah ngerjain
    ceritanya si broneo yang dapat telpon tipu2, nah diberikanlah telponnya kepada saya, dengan senang hati kami ngerjain si penelepon itu selama hampir se’jam hihihihih (habis deh pulsanya)

    • Hai Puak…

      Nah, itu baru sebuah ketegasan yang paten dari seorang Puak dan patut ditiru… Oya, dirimu bisa berani begitu bukan karena dapat sokongan kekuatan dari si Edward bukan? hehehe…
      (senang deh, dirimu mau komen lagi di blogku ini)

  6. klo saya memang tidak pernah menerima telpon yang nomernya tidak tercatut di kontak saya, selain nomer telepon tetap (fix-line).

    Tapi memang kita mesti hati-hati ya Uda. Celah untuk berbuat jahat ternyata masih sangat terbuka lebar.

    • Saya juga mencoba untuk seperti itu mulai sekarang Wij. Tapi, takutnya, yang nelpon memang benar-benar kawan lama yang baru mendapatkan no hp kita dari kawan yang lain. Nanti, dikira sombong lagi… :(

      Barangkali, cara yang paling baik adalah bersikap waspada saja…

  7. Para penipu itu cerdas2 ya, Da…
    Saya juga pernah hampir ketipu, salah saya juga karena langsung menyebutkan hal2 tentang om saya.
    Mrs. X :”hallo, ini benar rumah pak Budi?”
    Akin: “Iya”
    Mrs. X :”Pak Budi-nya ada?”
    Akin: “Nggak ada, bapaknya lagi kerja”
    Mrs. X :”kerja dimana ya?”
    Akin : “di Kota XXXX” (spertinya salah saya disini nih)
    Mrs. X :”Benar sekali ya… sekarang saya sedang berada di UGD RSU kota XXXX, Pak Budi sedang mengalami kecelakaan yang sangat parah, harus segera ditangani. Saya petugas disini”
    Saya berdebar2, beneran nggak ya?? Setelah beberapa pembicaraan, saya curiga lalu saya tanya apa istilah medisnya “patah tulang” dan dia nggak bisa menjawab. Hehe…. dasar penipu…
    *curcol* :)

    • Iya, mereka cerdas dan tidak memanfaatkan kecerdasannya untuk hal-hal yang baik. Di film-film sering tuh kita lihat para perampok dengan teknologi yang sangat canggih dan sangat menguasainya. Jadi, kecerdasan otak tidak ada gunanya jika tidak dibarengi dengan kecerdasan moral dan spiritual… :)

  8. Hehehe …. saya jadi ingat waktu Uda pertama telepon saya dengan nomor yang baru. Kebetulan waktu itu saya dalam perjalanan dari Semarang, dan ketiduran di mobil. Ada telepon masuk, saya nggak kenal nomornya, tapi saya angkat karena siapa tahu dari mahasiswa saya. Ternyata Uda, lha … saya nggak segera ngeh. Baru bangun tidur, bingung juga kok suara yang muncul Uda. Alhamdulillah, itu benar-benar Uda … :)

  9. Waaaah…. sebelumnya terima kasih banyak atas ceritanya…

    Beberapa tahun yg lalu sebenarnya saya sudah pernah mendengar modus penipuan seperti itu… Tapi ternyata sekarang masih muncul, ya… Semoga teman-teman semua, dan tentu saja saya juga, lebih berhati-hati kalau ada penelepon semacam itu….

  10. Wah, penipuan modus baru ini da, untunglah kerugian materi bisa dihindari..
    dan nama baik uda sudah kembali baik lagi,, hehehe

    trims tips menghindari penipuannya ya da…

    oiya, saya ijin link blognya.. :)

  11. Waduh, semakin lama semakin kreatif para penipu untuk menjalankan aksinya. Untung saja Uda dan kolega bisa segera menyadari aksi tipu-tipu itu. Bisa jadi pelajaran kita semua.

    Salam hangat. Maaf lama tidak bersilaturahmi.

  12. Weh Uda, beberapa waktu yang aku aku dapat sms dari MAMA, yang minta di isiin pulsa 50 ribu itu.

    Aku langsung balas, dengan isi kalimat.
    “Mama miskin!”
    hihihihih

Komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jawab dulu ya pertanyaan di bawah ini sebelum kirim komentar, biar tidak dianggap spam.. :) *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>