Empat orang remaja berjalan mengendap-endap. Rasa ingintahu dan keraguan seolah bertarung di diri mereka. Sementara, dari kejauhan sana, terdengar sayup-sayup nada-nada indah yang keluar dari gesekan sebuah biola. Nada-nada indah itu semakin terdengar jelas tatkala keempat pemuda itu semakin dekat dengan sebuah surau.
“Assalamu’alaikum, Pak Kyai”, sapa salah seorang dari mereka kepada seorang Kyai yang tengah duduk dalam surau itu yang ditemani oleh seorang remaja seusia dengan mereka.
“Wa’alaikumussalam, mari masuk”, jawab sang Kyai.
“Itu apa Pak Kyai?” tanya salah seorang remaja tersebut sambil menunjuk sesuatu yang ada di tangan sang Kyai.
“Ini biola”
Sejenak, terjadilah pembicaraan antara mereka tentang alat musik tersebut yang berakhir dengan pernyataan keempat remaja itu untuk belajar ngaji bersama sang Kyai.
“Baiklah, sekarang kalian mau belajar apa?”, respon sang Kyai tentang keinginan mereka untuk ngaji.
“Lho, seharusnya kami menerima pelajaran dari Kyai, bukankah seperti itu biasanya yang dilakukan oleh para Kyai?”
“Sekarang, cara itu kita rubah. Kita belajar dengan dimulai dari pertanyaan dari kalian. Ayo silahkan”, sang Kyai menawarkan.
Untuk beberapa saat, suasana hening. Salah seorang dari remaja itu memecahkan kesunyian dengan pertanyaannya.
“Agama itu apa Pak Kyai?”
Sang Kyai terdiam, tak ada kalimat yang meluncur dari mulutnya untuk menjawab pertanyaan itu. Beliau malah memainkan biolanya. Sejurus kemudian, keluarlah nada-nada indah dari biola tersebut. Para remaja itu terheran-heran. Namun, keheranan mereka perlahan-lahan menghilang, berganti dengan kesyahduan. Seluruh yang mendengarkan alunan melodi biola itu terhanyut, mereka menikmati merdunya suara biola itu sampai akhirnya sang Kyai menghentikan permainannya.
“Apa yang kalian rasakan setelah mendengarkan suara biola tadi?”, sang Kyai bertanya.
“Damai”, remaja I menjawab.
“Tenang”, remaja II menimpali.
“Bahagia”, remaja III menambahkan.
“Seakan semua persoalan terselesaikan”, remaja IV melengkapi.
“Itulah agama”, sang Kyai menjelaskan. “Agama itu mendamaikan, memberi ketenangan dan kebahagiaan, serta mampu memberi penyelesaian akan berbagai persoalan kita”
“Sekarang, coba kamu mainkan”, sang kyai berkata sambil menyodorkan biola tersebut kepada salah seorang dari keempat remaja itu. Dengan penuh keraguan, remaja itu menerimanya dan mencoba memainkannya. Karena tidak bisa memainkannya, maka yang keluar adalah nada-nada yang jelek dari biola tersebut. Dan orang-orang yang berada di situ, sontak merasa terganggu dan tidak menyukainya.
“Nah, sekarang, apa yang kalian rasakan”, sang Kyai bertanya.
“Memekakkan, Kyai”, jawab remaja I
“Mengganggu”, jawab remaja II
“Tidak menyenangkan”, jawab remaja III
“Bingung, Pak Kyai”, jawab remaja IV yang memainkan biola tadi.
“Itulah agama. Jika tidak mengetahui ilmunya dengan baik, maka agama akan dijalankan dengan tidak benar. Akibatnya, orang-orang yang ada di sekitarnya akan terganggu, tidak merasa tenteram dan bahkan bisa menjadi ancaman”, sang Kyai menjelaskan.
—————————————————
Dialog di atas adalah sepenggal adegan dalam film Sang Pencerah, karya terbaru Hanung Bramantyo. Sang Pencerah merupakan biopic KH. Ahmad Dahlan, yang membawa pembaharuan terhadap keislaman masyarakat Yogyakarta sekitar satu abad yang lalu. Film ini menceritakan perjalanan hidup beliau hingga akhirnya mendirikan sebuah perkumpulan bernama Muhammadiyah.
Tulisan ini bukanlah review, apalagi kritik terhadap film tersebut. Bagiku yang awam, film itu sangatlah bagus dan layak untuk ditonton. Jika ingin mengetahui kritik terhadap film ini, silahkan baca di sini, di sana, dan di situ.
Aku hanya ingin menyatakan kesukaanku terhadap salah satu adegan di film itu, yakni adegan di atas. Analogi Kyai Dahlan tentang hakikat agama dengan biola (musik) adalah sebuah analogi yang tepat dan cerdas. Adegan itu mencoba menjelaskan bahwa menjalankan agama itu harus dengan ilmu, bukan sekedar ikut-ikutan. Hal ini, sesuai dengan hadis Nabi Muhammad SAW yang berbunyi: “Barangsiapa inginkan kebahagiaan di dunia, hendaklah dengan ilmu. Barangsiapa inginkan kebahagiaan di akhirat, hendaklah dengan ilmu. Dan barangsiapa inginkan kebahagiaan dunia akhirat, hendaklah dengan ilmu“.
Pemahaman yang baik akan agama yang kita anut bukan sekedar membuat penghayatan kita semakin baik, tapi juga membuat kita semakin arif dan bijak menjalankannya. Kearifan dan kebijakan itu akan menjadi benteng buat kita, sehingga kita tidak mudah tergoda untuk melakukan penistaan terhadap agama kita sendiri.
Di negara kita yang plural ini, agama adalah isu paling sentral untuk memicu perpecahan antara kita. Demi kepentingan tertentu, orang akan dengan teganya memanfaatkan agama sebagai sarana mengadu domba. Keminiman pemahaman kita terhadap agama, membuat kita mudah terjebak oleh isu-isu tersebut.
Oleh karenanya, beragama dengan ilmu seperti yang disampaikan Kyai Dahlan dalam adegan di atas, menurutku adalah sebuah keniscayaan dan tak dapat ditawar lagi.
Dengan segala kekurangannya, film ini patut diapresiasi dan ditonton oleh semua kita…
.



Yes Indeed Uda …
Analogi tersebut saya pikir juga merupakan analogi yang sangat dalam …
saya belum menonton Filmnya …
sepertinya ini Film yang sangat layak untuk ditonton
Oleh siapa saja …
salam saya Uda
nh18´s last post ..QS 20 25-28
[Reply]
Vizon
Reply:
September 19th, 2010 at 9:37 am
Yes indeed Om…
ini adalah film yang layak tonton
OLEH SIAPA PUN…
[Reply]
Belum nonton film-nyaaaa….
Pengen nonton.. Pengen banget nonton..
[Reply]
Vizon
Reply:
September 19th, 2010 at 9:37 am
Buruan Cekgu, sebelum direcokin sama anak-anakmu nan aduhai itu, hehe…
[Reply]
pemisalan yang mudah dipahami,
Bundo nonton entar dari DVDnya aja.. masih lama pastinya dan biasanya itu juga gak nyampe bukit.
nakjaDimande´s last post ..Lost In Your Eyes
[Reply]
Vizon
Reply:
September 19th, 2010 at 9:34 am
Kalau di bukit memang gak bakal diputar, Bundo… emangnya ada bioskop di bukit? hehe…
[Reply]
Saya belum nonton filmnya Da, mudah-mudahan minggu depan. Yang jelas, memang harus nonton film ini, apalagi saya adalah warga Muhammadiyah
Ohya, tadi sore saya beli novelisasi skenario film “Sang Pencerah”, yang ditulis oleh Akmal Nasery Basral, terbitan Mizan.
Tuti Nonka´s last post ..Hari-hari Yang Indah …
[Reply]
Vizon
Reply:
September 19th, 2010 at 9:31 am
Ini bukan tontonan wajib bagi warga Muhammadiyah saja Bu Tuti, tapi bagi semua masyarakat Indonesia. Sebab, pesannya sangat universal, meski isu utamanya adalah keislaman dan kemuhammadiyahan…
Akmal Nasery Basral juga memberi tanggapan pada salah satu resensi yang saya berikan link-nya di atas. Ada baiknya dibaca juga, biar lengkap informasinya Bu Tuti…
[Reply]
analogi yang bagus banget,
ingin sekali nonton film ini, mudah2an bisa segera
monda´s last post ..Lebaran 2010
[Reply]
Vizon
Reply:
September 19th, 2010 at 9:28 am
iya Kak… segeralah menonton, sebelum habis masa edarnya…
[Reply]
andai saja setiap pemeluk agama memiliki sikap dan dasar hidup keagamaan seperti pak kyai itu, alangkah damainya negeri yang majemuk dalam keberagamaan ini, ya, mas vizon. tak ada lagi orang berteriak-teriak mencari pembenaran yang mengatasnamakan agama.
sawali tuhusetya´s last post ..Ternyata Kerja Data Entry di wwwgogonaiinfo Beneran Dibayar
[Reply]
Vizon
Reply:
September 19th, 2010 at 9:28 am
itu adalah harapan kita semua pak sawali…
semoga banyak pihak yang mau menonton film ini dan mengambil pesan utama darinya…
[Reply]
Agama seharusnya memang membuat hati damai, tenang…..
Jadi tak mungkin kalau ada yang mengaku bergama, dan menjadi teladan mengajak berbuat yang tidak baik, karena agama mengajarkan kedamaian.
Catt: Saya belum sempat nonton filmnya padahal si bungsu nitip untuk nulis resensinya….kalau begitu, ijin ya Uda, biar tulisan Uda ini yang saya kirim kesana.
edratna´s last post ..Membangun “Percaya Diri”
[Reply]
Vizon
Reply:
September 19th, 2010 at 9:25 am
Itulah Bu Enny… agama seringkali dijadikan kambinghitam untuk membenarkan tindakan barbarisme…
Semoga banyak pihak yang tercerahkan dengan film ini.
Oya, jika ingin mengetahui resensi lengkapnya, silahkan rujuk ke beberapa link yang saya berikan di atas..
[Reply]
edratna
Reply:
September 20th, 2010 at 1:09 pm
Udaaa….
Saya udah nonton filmnya…
Akhirnya..dan nontonnya ngajak si mbak…
Filmnya asyik…sedih saat langgar dirusak bersamaan dengan lagu Ilir-ilir…..
Membuat pembaharuan memang tak mudah ya..syukurlah KH Ahmad Dahlan pantang mundur dan didukung oleh isteri dan murid-muridnya….
edratna´s last post ..Membangun “Percaya Diri”
[Reply]
Riris E
Reply:
October 1st, 2010 at 11:15 am
Jadi pengen nonton.

Suka sekali dengan pengamsalan KH Dahlan.
Suka sekali dengan tulisannya
Riris E´s last post ..Kau Tak Sendiri
wah.. dapet link dari nyokap
terima kasih resensinya uda.. ^^
analogi yang cerdas.
film ini masuk list teratas yg mau saya tonton, uda..
saya terkesima waktu liat trailernya (apik dan cantik), sayang untuk sementara waktu belum bisa menonton… :’(
ngomong2.. happy ending ga, uda?
[Reply]
Vizon
Reply:
September 19th, 2010 at 11:29 am
Endingnya adalah ketika Muhammadiyah resmi didirikan…
Jadi, apakah itu sebuah akhir atau sebuah awal yang baru…? hehe…
Baca resensi dari link yang lain deh Narpen, insya Allah akan semakin meluaskan wawasan kita soal film ini..
[Reply]
edratna
Reply:
September 20th, 2010 at 1:11 pm
Pertama aya cerita sudah nonton…pertanyaannya Narp adalah “happy ending” nggak? Filmnya sedih nggak?
Hehehe…..ntar kalau ada CD nya akan saya kirim ke Jepang biar ditontong teman yang lain beserta sensei
edratna´s last post ..Membangun “Percaya Diri”
[Reply]
edratna
Reply:
September 20th, 2010 at 1:12 pm
Pertama aya cerita sudah nonton…pertanyaannya Narp adalah “happy ending” nggak? Filmnya sedih nggak?
Hehehe…..ntar kalau ada CD nya akan saya kirim ke Jepang biar ditonton teman yang lain beserta sensei
edratna´s last post ..Membangun “Percaya Diri”
[Reply]
Wah iya ya… beragamalah dengan benar, supaya memberi ketenangan dan kebahagiaan, serta mampu memberi penyelesaian akan berbagai persoalan.

Asop´s last post ..Liverpool- Jadilah Juara Musim Ini!!
[Reply]
Vizon
Reply:
September 19th, 2010 at 11:48 am
ya, begitulah seharusnya Kang Asop…
[Reply]
Jadi bertambah penasaran dengan film ini, harus bisa nonton kalau ada kesempatan di kotaku

Salam hangat serat jabat erat selalu dari Tabanan
Sugeng´s last post ..Usahaku Untuk Belajar Linux
[Reply]
Banyak tokoh yang memberikan pujian buat film yang baru dirilis itu. Salah satu karya anak negeri yang mencerahkan ditengah banjirnya film naudzubillah yang menganjurkan semangat hedonisme.
Salamaik ari rayo idul fitri 1431 H, maaf lahir dan batin.
Alris´s last post ..Daripada Gak di-Update
[Reply]
..
Saya belum nonton Uda, tapi InsyaAllah bakal nonton..
Luman Sardi idola saya jhe..
Ditambah reviem Uda diatas, tambah kepengen lg..
..
Bangsa ini krisis cinta dan selalu mengedepankan kekerasan, sepertinya film ini wajib ditonton semua kalangan..
..
Salam saya Uda..
..
[Reply]
Aku smakin penasaran dengan Sang Pencerah. Semoga DVD nya cepat keluar dan aku bisa nitip teman untuk dikirimkan kemari, Uda.
Aku setuju bahwa dialog itu bagus sekali. Agama punya dua sisi, mendamaikan dan meng-onar-kan tergantung siapa yang ‘memainkannya’.
Tulisanmu ini sejuk… sangat sejuk!
DV´s last post ..Mengajarkan doa
[Reply]
Setelah membaca ini, jadi semakin ingin menonton film nya Da..
penjabaran tentang agama yang dipaparkan di film ini sangat bagus, mudah dimengerti dan benar2 mencerahkan…
salute untuk mengangkat cerita ini ke dalam film, semoga semakin mencerahkan saudara2 kita sesama muslim juga semua pemeluk agama di negeri ini…
trims dah nulis ini Uda..
[Reply]
Kalau Kyai Dahlan itu bisa main piano seperti Om Nh18 pasti yang akan dia dan muridnya mainkan ya piano, bukan biola.
Aku juga udah nonton bro.
Film yang sangat bagus, terutama untuk mereka yang suka mengkafirkan orang lain. He he…
Hery Azwan´s last post ..Mengapa Rama Harus Bohong
[Reply]
Afdhal
Reply:
September 21st, 2010 at 1:25 pm
tapi sayang yah..
ada triller film sebelum film ini mulai yang gak cocok buat anak2 ya bang
heheheheh
aku jg belum nonton lho
[Reply]
Waaaaa di padang belum datang uh pilem hehehehehe sedihhh
[Reply]
wah..jadi pengen nonton
katanya emang bagus …
walaupun pasti ada kurangnnya kan..
tapi bukan kah..
semua hal apapun itu pasti ada sisi hitam dan putih kan..(^_^)
usagi´s last post ..Satu KomandoSatu Perjuangan
[Reply]
kalau aku kok nonton film ini, malah banyak nangisnya (* dasar cengeng*) melihat begitu beratnya perjuangan KH Ahmad Dahlan seorang diri, demi menyatakan kebenaran yg susah sekali utk ditembus …..
salam
bundadontworry´s last post ..10 Rahasia Terbesar Pramugari Udara
[Reply]
film itu sangat mencerahkan Uda, apalagi nontonnya di kota di mana Kyai Dahlan mulai berjuang.
Konon, lebaran tahun depan Hanung akan memberikan Sang Pencerah II.
Saya tertarik kepada filmnya, dan skenario yg dinovelkan. sayangnya, belum sempat saya baca
[Reply]
sepertinya film yg mencerahkan ya…
[Reply]
Agama Biola?…
agama baru lagi yach?… :p hehehe
Bukan Teroris´s last post ..Treatment With Adult Dyslexia
[Reply]
klo yang mainin biolanya ga becus bisa lain ceritanya!
[Reply]
setuju sekali bagaimanapun kita tetap harus menggunakan akal , fikiran serta perasaan untuk menjalankan agama agar tidak mengganggu serta bisa di nikmati dengan baik dan berfungsi sebagai pemelihara keindahan dalam kehidupan
genthokelir´s last post ..Hasil Pilkada Purworejo Putaran 2
[Reply]
nanti klo ulang indo akan saya cari filmnya..salam kenal..
boyin´s last post ..Liburan ke Singapore
[Reply]
Rasanya semua orang setuju, kalanuFilm ini keren, Uda. Adegan bermain biola itu juga patut di acungi jempol. Best Scene, ever!
yessy muchtar´s last post ..Edisi Lebaran Liburan
[Reply]
haih!komenku kok ilang uda????
yessy muchtar´s last post ..Edisi Lebaran Liburan
[Reply]
Wah, aku belum nonton filmnya, Uda… kapan2 cari DVD-nya deh..

nanaharmanto´s last post ..Alam Permai Tana Toraja
[Reply]
Ya, sahabatku. Analogi yg sangat cerdas. Sejalan dgn bagaimana sejatinya pandangan Islam ttg ilmu sangat eksplisit tertuang dalam Al Quran.
Sayangnya budaya ingin tau (menuntut ilmu) bangsa kita sering yg dikalahkan budaya malas (dan ingin cepat/jalan pintas) yg kemudian membuatnya lebih sennag menerima saja apa kata orang2 yang dianggap pintar (dalam bidang agama), dan menerima sepotong-septong serta bukan sedapat mungkin belajar dan berusaha mengerti hakekat agama itu secara keseluruhan. Dan ini membuat banyak anak bangsa terdorong dan mudah menjadi objek bebagai gerakan terorismes berbasis agama. Hm..
Nug´s last post ..Selamat Datang di Lampung
[Reply]
Like post here mas……..,
hudaesce´s last post ..7 Kelebihan Setan yang Perlu ditiru oleh manusia
[Reply]
contoh yang baik, mudah dicerna. bener bener adegan yang mencerahkan.
Oh, itu film sang pencerah itu. saya belum nonton, Om. masih di hutan
[Reply]
Nice post, Uda.

Love it.
Yang begini ini yang daku maksud.
Puak Cullen´s last post ..Kenapa harus China
[Reply]