agama dan biola


Warning: Illegal string offset 'single_featured_image' in /home/hardiviz/public_html/wp-content/themes/confidence/content-single.php on line 69

Empat orang remaja berjalan mengendap-endap. Rasa ingintahu dan keraguan seolah bertarung di diri mereka. Sementara, dari kejauhan sana, terdengar sayup-sayup nada-nada indah yang keluar dari gesekan sebuah biola. Nada-nada indah itu semakin terdengar jelas tatkala keempat pemuda itu semakin dekat dengan sebuah surau.

“Assalamu’alaikum, Pak Kyai”, sapa salah seorang dari mereka kepada seorang Kyai yang tengah duduk dalam surau itu yang ditemani oleh seorang remaja seusia dengan mereka.

“Wa’alaikumussalam, mari masuk”, jawab sang Kyai.

“Itu apa Pak Kyai?” tanya salah seorang remaja tersebut sambil menunjuk sesuatu yang ada di tangan sang Kyai.

“Ini biola”

Sejenak, terjadilah pembicaraan antara mereka tentang alat musik tersebut yang berakhir dengan pernyataan keempat remaja itu untuk belajar ngaji bersama sang Kyai.

“Baiklah, sekarang kalian mau belajar apa?”, respon sang Kyai tentang keinginan mereka untuk ngaji.

“Lho, seharusnya kami menerima pelajaran dari Kyai, bukankah seperti itu biasanya yang dilakukan oleh para Kyai?”

“Sekarang, cara itu kita rubah. Kita belajar dengan dimulai dari pertanyaan dari kalian. Ayo silahkan”, sang Kyai menawarkan.

Untuk beberapa saat, suasana hening. Salah seorang dari remaja itu memecahkan kesunyian dengan pertanyaannya.

“Agama itu apa Pak Kyai?”

Sang Kyai terdiam, tak ada kalimat yang meluncur dari mulutnya untuk menjawab pertanyaan itu. Beliau malah memainkan biolanya. Sejurus kemudian, keluarlah nada-nada indah dari biola tersebut. Para remaja itu terheran-heran. Namun, keheranan mereka perlahan-lahan menghilang, berganti dengan kesyahduan. Seluruh yang mendengarkan alunan melodi biola itu terhanyut, mereka menikmati merdunya suara biola itu sampai akhirnya sang Kyai menghentikan permainannya.

“Apa yang kalian rasakan setelah mendengarkan suara biola tadi?”, sang Kyai bertanya.

“Damai”, remaja I menjawab.

“Tenang”, remaja II menimpali.

“Bahagia”, remaja III menambahkan.

“Seakan semua persoalan terselesaikan”, remaja IV melengkapi.

“Itulah agama”, sang Kyai menjelaskan. “Agama itu mendamaikan, memberi ketenangan dan kebahagiaan, serta mampu memberi penyelesaian akan berbagai persoalan kita”

“Sekarang, coba kamu mainkan”, sang kyai berkata sambil menyodorkan biola tersebut kepada salah seorang dari keempat remaja itu. Dengan penuh keraguan, remaja itu menerimanya dan mencoba memainkannya. Karena tidak bisa memainkannya, maka yang keluar adalah nada-nada yang jelek dari biola tersebut. Dan orang-orang yang berada di situ, sontak merasa terganggu dan tidak menyukainya.

“Nah, sekarang, apa yang kalian rasakan”, sang Kyai bertanya.

“Memekakkan, Kyai”, jawab remaja I

“Mengganggu”, jawab remaja II

“Tidak menyenangkan”, jawab remaja III

“Bingung, Pak Kyai”, jawab remaja IV yang memainkan biola tadi.

“Itulah agama. Jika tidak mengetahui ilmunya dengan baik, maka agama akan dijalankan dengan tidak benar. Akibatnya, orang-orang yang ada di sekitarnya akan terganggu, tidak merasa tenteram dan bahkan bisa menjadi ancaman”, sang Kyai menjelaskan.

—————————————————

Dialog di atas adalah sepenggal adegan dalam film Sang Pencerah, karya terbaru Hanung Bramantyo. Sang Pencerah merupakan biopic KH. Ahmad Dahlan, yang membawa pembaharuan terhadap keislaman masyarakat Yogyakarta sekitar satu abad yang lalu. Film ini menceritakan perjalanan hidup beliau hingga akhirnya mendirikan sebuah perkumpulan bernama Muhammadiyah.

Tulisan ini bukanlah review, apalagi kritik terhadap film tersebut. Bagiku yang awam, film itu sangatlah bagus dan layak untuk ditonton. Jika ingin mengetahui kritik terhadap film ini, silahkan baca di sini, di sana, dan di situ.

Aku hanya ingin menyatakan kesukaanku terhadap salah satu adegan di film itu, yakni adegan di atas. Analogi Kyai Dahlan tentang hakikat agama dengan biola (musik) adalah sebuah analogi yang tepat dan cerdas. Adegan itu mencoba menjelaskan bahwa menjalankan agama itu harus dengan ilmu, bukan sekedar ikut-ikutan. Hal ini, sesuai dengan hadis Nabi Muhammad SAW yang berbunyi: “Barangsiapa inginkan kebahagiaan di dunia, hendaklah dengan ilmu. Barangsiapa inginkan kebahagiaan di akhirat, hendaklah dengan ilmu. Dan barangsiapa inginkan kebahagiaan dunia akhirat, hendaklah dengan ilmu“.

Pemahaman yang baik akan agama yang kita anut bukan sekedar membuat penghayatan kita semakin baik, tapi juga membuat kita semakin arif dan bijak menjalankannya. Kearifan dan kebijakan itu akan menjadi benteng buat kita, sehingga kita tidak mudah tergoda untuk melakukan penistaan terhadap agama kita sendiri.

Di negara kita yang plural ini, agama adalah isu paling sentral untuk memicu perpecahan antara kita. Demi kepentingan tertentu, orang akan dengan teganya memanfaatkan  agama sebagai sarana mengadu domba. Keminiman pemahaman kita terhadap agama, membuat kita mudah terjebak oleh isu-isu tersebut.

Oleh karenanya, beragama dengan ilmu seperti yang disampaikan Kyai Dahlan dalam adegan di atas, menurutku adalah sebuah keniscayaan dan tak dapat ditawar lagi.

Dengan segala kekurangannya, film ini patut diapresiasi dan ditonton oleh semua kita… :)

.


Warning: Illegal string offset 'author_box' in /home/hardiviz/public_html/wp-content/themes/confidence/content-single.php on line 93

46 comments on “agama dan biola

  1. Yes Indeed Uda …
    Analogi tersebut saya pikir juga merupakan analogi yang sangat dalam …

    saya belum menonton Filmnya …
    sepertinya ini Film yang sangat layak untuk ditonton
    Oleh siapa saja …

    salam saya Uda

  2. Saya belum nonton filmnya Da, mudah-mudahan minggu depan. Yang jelas, memang harus nonton film ini, apalagi saya adalah warga Muhammadiyah :)

    Ohya, tadi sore saya beli novelisasi skenario film “Sang Pencerah”, yang ditulis oleh Akmal Nasery Basral, terbitan Mizan.

    • Ini bukan tontonan wajib bagi warga Muhammadiyah saja Bu Tuti, tapi bagi semua masyarakat Indonesia. Sebab, pesannya sangat universal, meski isu utamanya adalah keislaman dan kemuhammadiyahan…
      Akmal Nasery Basral juga memberi tanggapan pada salah satu resensi yang saya berikan link-nya di atas. Ada baiknya dibaca juga, biar lengkap informasinya Bu Tuti… :)

  3. andai saja setiap pemeluk agama memiliki sikap dan dasar hidup keagamaan seperti pak kyai itu, alangkah damainya negeri yang majemuk dalam keberagamaan ini, ya, mas vizon. tak ada lagi orang berteriak-teriak mencari pembenaran yang mengatasnamakan agama.

  4. Agama seharusnya memang membuat hati damai, tenang…..
    Jadi tak mungkin kalau ada yang mengaku bergama, dan menjadi teladan mengajak berbuat yang tidak baik, karena agama mengajarkan kedamaian.

    Catt: Saya belum sempat nonton filmnya padahal si bungsu nitip untuk nulis resensinya….kalau begitu, ijin ya Uda, biar tulisan Uda ini yang saya kirim kesana.

    • Itulah Bu Enny… agama seringkali dijadikan kambinghitam untuk membenarkan tindakan barbarisme…
      Semoga banyak pihak yang tercerahkan dengan film ini.

      Oya, jika ingin mengetahui resensi lengkapnya, silahkan rujuk ke beberapa link yang saya berikan di atas.. :)

      • Udaaa….
        Saya udah nonton filmnya…
        Akhirnya..dan nontonnya ngajak si mbak…
        Filmnya asyik…sedih saat langgar dirusak bersamaan dengan lagu Ilir-ilir…..
        Membuat pembaharuan memang tak mudah ya..syukurlah KH Ahmad Dahlan pantang mundur dan didukung oleh isteri dan murid-muridnya….

  5. wah.. dapet link dari nyokap :D
    terima kasih resensinya uda.. ^^
    analogi yang cerdas.

    film ini masuk list teratas yg mau saya tonton, uda..
    saya terkesima waktu liat trailernya (apik dan cantik), sayang untuk sementara waktu belum bisa menonton… :'(

    ngomong2.. happy ending ga, uda? :D

    • Endingnya adalah ketika Muhammadiyah resmi didirikan…
      Jadi, apakah itu sebuah akhir atau sebuah awal yang baru…? hehe… :)
      Baca resensi dari link yang lain deh Narpen, insya Allah akan semakin meluaskan wawasan kita soal film ini..

      • Pertama aya cerita sudah nonton…pertanyaannya Narp adalah “happy ending” nggak? Filmnya sedih nggak?
        Hehehe…..ntar kalau ada CD nya akan saya kirim ke Jepang biar ditontong teman yang lain beserta sensei

      • Pertama aya cerita sudah nonton…pertanyaannya Narp adalah “happy ending” nggak? Filmnya sedih nggak?
        Hehehe…..ntar kalau ada CD nya akan saya kirim ke Jepang biar ditonton teman yang lain beserta sensei

  6. Wah iya ya… beragamalah dengan benar, supaya memberi ketenangan dan kebahagiaan, serta mampu memberi penyelesaian akan berbagai persoalan. :)

  7. Jadi bertambah penasaran dengan film ini, harus bisa nonton kalau ada kesempatan di kotaku :roll:
    Salam hangat serat jabat erat selalu dari Tabanan

  8. Banyak tokoh yang memberikan pujian buat film yang baru dirilis itu. Salah satu karya anak negeri yang mencerahkan ditengah banjirnya film naudzubillah yang menganjurkan semangat hedonisme.
    Salamaik ari rayo idul fitri 1431 H, maaf lahir dan batin.

  9. ..
    Saya belum nonton Uda, tapi InsyaAllah bakal nonton..
    Luman Sardi idola saya jhe..
    Ditambah reviem Uda diatas, tambah kepengen lg.. :-)
    ..
    Bangsa ini krisis cinta dan selalu mengedepankan kekerasan, sepertinya film ini wajib ditonton semua kalangan..
    ..
    Salam saya Uda..
    ..

  10. Aku smakin penasaran dengan Sang Pencerah. Semoga DVD nya cepat keluar dan aku bisa nitip teman untuk dikirimkan kemari, Uda.

    Aku setuju bahwa dialog itu bagus sekali. Agama punya dua sisi, mendamaikan dan meng-onar-kan tergantung siapa yang ‘memainkannya’.

    Tulisanmu ini sejuk… sangat sejuk!

  11. Setelah membaca ini, jadi semakin ingin menonton film nya Da.. :)
    penjabaran tentang agama yang dipaparkan di film ini sangat bagus, mudah dimengerti dan benar2 mencerahkan…
    salute untuk mengangkat cerita ini ke dalam film, semoga semakin mencerahkan saudara2 kita sesama muslim juga semua pemeluk agama di negeri ini… :)

    trims dah nulis ini Uda.. :)

  12. Kalau Kyai Dahlan itu bisa main piano seperti Om Nh18 pasti yang akan dia dan muridnya mainkan ya piano, bukan biola.
    Aku juga udah nonton bro.
    Film yang sangat bagus, terutama untuk mereka yang suka mengkafirkan orang lain. He he…

  13. wah..jadi pengen nonton
    katanya emang bagus …
    walaupun pasti ada kurangnnya kan..
    tapi bukan kah..
    semua hal apapun itu pasti ada sisi hitam dan putih kan..(^_^)

  14. kalau aku kok nonton film ini, malah banyak nangisnya (* dasar cengeng*) melihat begitu beratnya perjuangan KH Ahmad Dahlan seorang diri, demi menyatakan kebenaran yg susah sekali utk ditembus …..
    salam

  15. film itu sangat mencerahkan Uda, apalagi nontonnya di kota di mana Kyai Dahlan mulai berjuang.
    Konon, lebaran tahun depan Hanung akan memberikan Sang Pencerah II.
    Saya tertarik kepada filmnya, dan skenario yg dinovelkan. sayangnya, belum sempat saya baca :)

  16. Pingback: Jalan-jalan bersama si mbak «

  17. setuju sekali bagaimanapun kita tetap harus menggunakan akal , fikiran serta perasaan untuk menjalankan agama agar tidak mengganggu serta bisa di nikmati dengan baik dan berfungsi sebagai pemelihara keindahan dalam kehidupan

  18. Ya, sahabatku. Analogi yg sangat cerdas. Sejalan dgn bagaimana sejatinya pandangan Islam ttg ilmu sangat eksplisit tertuang dalam Al Quran.

    Sayangnya budaya ingin tau (menuntut ilmu) bangsa kita sering yg dikalahkan budaya malas (dan ingin cepat/jalan pintas) yg kemudian membuatnya lebih sennag menerima saja apa kata orang2 yang dianggap pintar (dalam bidang agama), dan menerima sepotong-septong serta bukan sedapat mungkin belajar dan berusaha mengerti hakekat agama itu secara keseluruhan. Dan ini membuat banyak anak bangsa terdorong dan mudah menjadi objek bebagai gerakan terorismes berbasis agama. Hm..

  19. contoh yang baik, mudah dicerna. bener bener adegan yang mencerahkan.

    Oh, itu film sang pencerah itu. saya belum nonton, Om. masih di hutan :D

Komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jawab dulu ya pertanyaan di bawah ini sebelum kirim komentar, biar tidak dianggap spam.. :) *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>