kera ngalam


Warning: Illegal string offset 'single_featured_image' in /home/hardiviz/public_html/wp-content/themes/confidence/content-single.php on line 69

Kera Ngalam…? Hewan jenis apa pulak itu? Apakah itu salah satu anggota keluarga primata yang sedang dilestarikan? Bukan, bukan… itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan jenis hewan tertentu. Itu adalah cara lain untuk menyebutkan kalimat “Arek Malang”. Ya, itu adalah cara baca terbalik khas anak muda Kota Malang, yang disebut sebagai Osob Kiwalan (Boso Walikan; bahasa kebalikan; Jawa).

Osob Kiwalan memang menjadi bahasa gaul Kota Malang. Sebagai contoh: ‘kawan’ menjadi ‘nawak’; ‘makan’ menjadi ‘nakam’; ‘siapa’ menjadi ‘apais’; ‘piro’ (berapa) menjadi ‘orip’; ‘wedok’ (perempuan) menjadi ‘kodew’; dan ‘melok’ (ikut) menjadi ‘kolem’. Selain itu, ada kosa kata yang fleksibel, tidak terpatok pada penulisan, sehingga mudah dalam pengucapan dan enak didengar, contohnya adalah ‘Malang’ menjadi ‘Ngalam’; ‘sepeda’ menjadi ‘adapes’; ‘monyet’ menjadi ‘tenyom’; dan ‘walikan’ menjadi ‘kiwalan’. Disamping itu, ada kosa kata yang khas istilah Malang, contohnya ‘ojir’ (uang); ‘ebes’ (bapak); dan ‘idrek’ (kerja). Hal ini juga berlaku pada nama makanan seperti ‘lecep’, ‘oges’, dan ‘kajur’.

Boso Walikan ini sesungguhnya bukanlah sekedar bahasa gaul. Ternyata, ia memiliki nilai historis yang sangat lekat dengan perjuangan rakyat Malang di zaman penjajahan dahulu. Pada tahun 1949, seorang tokoh bernama Bapak Suyudi Raharno dan Wasito yang mempunyai ide untuk menciptakan bahasa baru yang berfungsi juga sebagai identitas kawan atau lawan pada masa perjuangan akhir tahun 40-an. Pada masa itu Belanda menyusupkan mata-mata dalam kelompok pejuang yang mahir berkomunikasi dengan bahasa pribumi untuk mendapatkan informasi dari kalangan pejuang Gerilya Rakyat Kota (GKR). Bahasa baru tersebut tidak terikat pada aturan tata bahasa baik nasional maupun daerah, pengucapan dan penulisannya secara terbalik dari belakang dibaca kedepan. Ternyata dengan siasat tersebut, keberadaan para penyusup dapat diketahui karena mereka tidak fasih menggunakan bahasa terbalik, sedangkan para pejuang dan pendukungnya yang setiap hari berkomunikasi dengan bahasa ini menjadi sangat fasih.

Karena bahasa terbalik itu cukup efektif ketika itu dan sangat menarik untuk bahasa pergaulan, maka sampai sekarang bahasa itupun tetap lestari di Kota Malang. Bahkan, anak-anak muda Malang semakin kreatif dengan bahasa gaul yang dibolak-balik itu.

Aku baru mengetahui tentang fenomena bahasa terbalik ini ketika berkunjung ke Malang pada Sabtu, 25 September 2010 kemarin. Keberadaanku di sana dalam rangka persiapan sebuah acara yang akan kami gelar pada November mendatang di kota tersebut. Untuk tagline acara tersebut, ada beberapa usulan. Salah satu usulan yang sangat menarik dan langsung diterima adalah sebuah kalimat sederhana namun ditulis secara terbalik ala boso walikan itu, yaitu “Ngalam Von 0102″ (Malang, Nov 2010).

Malang memang mengandung banyak sekali kekhasan, mulai dari alamnya yang indah, sampai kepada budayanya yang sangat menarik. Dan salah satu hal yang berkesan bagiku ketika berkunjung ke kota itu adalah ditemuinya aku oleh salah seorang sahabat narablog yang selalu menebar senyum bernama Septarius E. Lestiant a.k.a Ata Chan.

Yups… sahabat semua tentu kenal dengan chef muda ini bukan? Dia yang cukup aktif wara-wiri di jagad maya kemarin menyempatkan diri menemuiku di sela-sela pertemuanku dengan teman-teman di Malang. Sebenarnya aku sedikit kurang enak hati dengan Ata. Sebab, kami bertemu tidak secara khusus di sebuah tempat, melainkan ikut hadir dalam acara akikahan anak salah seorang temanku. Jadi, kami kopdar sambil akikahan… Ya… lumayanlah, dapat sate dan gule kambing gratisan, hahaha… ups!

Sate dan gule kambingnya enak lho…. ada yang mau…? ;)

Aku salut dengan Ata… Di usianya yang relatif masih muda, tapi dengan mudah bisa mencair dengan teman-temanku yang usianya sudah tidak muda lagi itu. Bahkan, salah seorang temanku tertarik dengan usaha tanaman cabe milik Ata. Sepertinya mereka sudah mulai saling menjajagi kerjasama… (hmmm… kalau jadi, jangan lupa komisinya ya Ta… hahaha… :D ).

Sayangnya, waktu kami sangat terbatas, sehingga tidak bisa berbincang-bincang lebih lama. Namun, pertemuan singkat itu sudah cukup membuatku bahagia dan berkesan. Aku bahagia sekali. Yes indeed, seperti kata Om Nh; “this is the beauty of blogging“.

.

Sumber tulisan, diambil dari sini, sana dan situ.


Warning: Illegal string offset 'author_box' in /home/hardiviz/public_html/wp-content/themes/confidence/content-single.php on line 93

18 comments on “kera ngalam

  1. waaaaaaaaaahhh senangnya bisa bertemu dengan Ata chan. Satenya kelihatannya enak hihihi

    soal bahasa dibolak-balik dulu kami di jkt juga sempat memakainya, juga semacam kode di kepramukaan. Tapi karena jarang dipakai yah hilang begitu saja. Hebat juga ya orang Malang bisa bicara tebulak-balik begitu hihihi. Asalnya jangan orangnya ikut malang-melintang saja.

    TBoB ya Uda

    EM

  2. Uda ke Malang ?
    wah kisa tuh … (asik mangsude …)

    Atta itu juga kebetulan lahir bulan september beda dua hari dengan saya …

    hahaha

    Yes Indeed …
    Walaupun ini di acara akikahan …
    tapi tetap sama …
    This is the beauty of Blogging …

    salam saya Uda
    salam saya Atta Smile

  3. Pingback: reportase: Museum Satwa, Secret zoo, lalu kopdar singkat dengan penunggu surau inyiak.. « senyum Septa

  4. ..
    satu lagi yg sering orang pake’..
    -Sam/ Mas-
    ..
    aih..
    Uda Vizon terlalu memuji nih..
    saya jadi malu.. :)

    iya Uda, insya Allah november nanti disambung lagi obrolan yang terputus.. ;)
    ..

    ..

  5. Uda, saya kemarin bener-bener bingung, lalu bengong, lalu uring-uringan *pukul-pukul lantai*

    Waktu telpon masuk ke hp dan gak sempat saya angkat, yang muncul adalah nama Ata. Langsung saya telpon balik di nomor itu. Lhoo … kok suaranya bukan Ata. Lhoo … kok malah Uda yang bicara?? Padahal nggak mungkinlah salah pencet nomor Uda …

    Ternyata oh ternyata, Uda ketemuan dengan Ata tanpa bilang-bilang saya (yeeiy … emangnya saya siapa, shg harus dikasih tahu rencana kopdar kalian berdua? :( ). Tapi jujur, seratus persen saya cemburu … hik hik … :cry:

    Tunggu pembalasan saya, Uda dan Ata … *ngancam.com*

  6. Uda…
    Asyiknya….ketemu Ata
    Apakah Ata juga serame dalam blognya…
    Atau malah lebih rame lagi….

    Betapa senangnya…
    Iya, anak Malang sangat bangga dengan Ngalam nya..
    Dan bangga dengan Arema nya…
    Uda nggak beli kaos Arema?

  7. Boso walikan dulu sering dipake Papa ke Mama karena Papaku orang mBlitar yang ter-influence juga bahasa walikan.

    Tapi karena lama-lama aku yang masi kecil tau maksudnya, mereka berhenti memakainya hahaha…

  8. Hahaha, kera ngalam… saya tahu istilah itu pertama kali dari temen saya yang asalnya dari Malang… :D

    Nikmat, kopdar sekalian karena ada acara lain.. :)

  9. Adu Noziv… *hayah angel banget rek….
    senengnya bisa ketemu Ata…
    satenya kayaknya enak tuh… wah, di rumah itu anak-anak ya, grafiti di dindingnya khas karya kana-kana hehehe…

  10. dulu ketika saya masih kos di Klebengan Yk, ada 2 teman kos kera ngalam yg sering bicara dng osob kiwalan. klo ada anak kos (putri) blok sebelah lewat dpn kosan.. komentarnya sekitar : “nayamul dan kewut” :D

  11. Wah senang sekali bisa bertemu dengan komunitas blogger. Saya baru tahu ternyata di malang ada bahasa di bolak balik gitu ya? mungkin yang sudah biasa tidak akan sulit menyampaikannya, tapi bagi yang tidak terbiasa bisa-bisa lidah kita kusut,he..

  12. Salam persohiblogan

    Lama tak bersua. Maaf karena kesibukan membuat saya sulit BW.
    Baru sempet nih, itu pun sekedar sapaan sembari lewat. :)

    Mohon Maaf Lahir & Bathin

  13. Pingback: SURAU INYIAK » Blog Archive » beruntung di malang

Komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jawab dulu ya pertanyaan di bawah ini sebelum kirim komentar, biar tidak dianggap spam.. :) *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>