pulkam1: Payakumbuh


Warning: Illegal string offset 'single_featured_image' in /home/hardiviz/public_html/wp-content/themes/confidence/content-single.php on line 69

Sesungguhnya sudah sejak lama kami berharap dapat pulang kampung ke Sumatera secara bersama-sama, komplit satu keluarga. Namun, karena berbagai alasan, keinginan itu tak kunjung terwujudkan. Tapi akhirnya, keinginan itupun kesampaian juga, meski dengan sedikit “pemaksaan”.

Ya, sahabat semua tentu tahu, bahwa kami sekeluarga pulang kampung lantaran ibu mertuaku dipanggil Yang Maha Kuasa pada 26 Desember 2010 yang lalu. Mengingat peristiwa ini sangat penting bagi keluarga kami, dan kebetulan anak-anak tengah liburan semester, maka kami putuskan untuk pulang kampung. Satira, putriku, sempat berucap: “Dalam hati Tira ada dua perasaan sekarang, sedih dan senang. Sedih karena nenek meninggal, dan senang karena akhirnya kita liburan di kampung“.

Dalam postingan kali ini dan beberapa postingan ke depan, aku akan ceritakan bagaimana perjalanan dua minggu yang mengharubiru sekaligus menyenangkan. Semoga sahabat semua berkenan…

~oOo~

Payakumbuh adalah salah satu kota di Propinsi Sumatera Barat, yang merupakan kota tempat di mana istriku lahir dan dibesarkan. Kota ini berdampingan dengan Kabupaten Lima Puluh Kota. Nyaris tidak terpisahkan antara dua daerah ini. Bagi kebanyakan orang, Payakumbuh adalah 50 Kota, dan sebaliknya 50 Kota adalah Payakumbuh.

Kampung kecil tempat asal keluarga besar istriku adalah Koto Tuo yang terletak di Kecamatan Harau, Kab. 50 Kota. Desa ini sangat subur, sehingga sebagian besar penduduknya hidup dari pertanian. Aku punya kepentingan untuk mengajak putriku Satira ke desa ini. Sebab, sebagai orang Minangkabau, anak perempuan adalah pemilik sah warisan tanah pusaka dari leluhur. Aku ingin agar dia mengetahui apa saja yang menjadi haknya sebagai padusi Minang.

Setelah beberapa hari masa berkabung, akupun mengajak Satira berkeliling kampung. Selama perjalanan, kuceritakan kepadanya bahwa dalam adat Minangkabau, harta pusaka yang diwariskan secara turun temurun, seluruhnya diberikan kepada anak perempuan. Oleh karenanya, perempuan memiliki posisi penting dalam peradatan Minangkabau. Harkat dan martabat perempuan sangat dijaga, demi kemuliaan sukubangsa.

Panjang lebar kujelaskan kepadanya. Entah apa dia paham atau tidak, yang penting informasi itu masuk ke memorinya. Aku yakin, suatu saat dia akan ingat apa yang kusampaikan tersebut.

Kami mampir di salah satu kebun yang sedang digarap adik iparku. Senang sekali putriku itu melihat hamparan kebun dan sawah dengan udara yang sejuk dan segar. Rasanya ingin berlama-lama di sana, tapi karena waktu kami tidak banyak, kamipun pulang dengan sebuah harapan semoga semua ini diberi keberkahan yang luar biasa dari Yang Maha Kuasa.

Beberapa hari kemudian, aku ajak seluruh keluargaku untuk bersantai sejenak dengan mengunjungi dua tempat wisata terkenal di Payakumbuh; Ngalau Indah dan Lembah Harau.

Ngalau Indah adalah sebuah gua yang terletak tidak jauh dari Kota Payakumbuh. Di dalam gua ini, kita bisa melihat stalagmit dan stalagtit yang terbentuk dari proses endapan kapur yang berlangsung ratusan tahun. Namun, kedua hal tersebut mempunyai ukiran beraneka macam bentuk, dengan ornamen-ornamen yang menakjubkan, seperti ruang kamar tidur, kursi, kelambu dan lain sebagainya.


Sebagian pemandangan di dalam Gua Ngalau Indah

Lembah Harau merupakan salah satu obyek wisata yang terdapat di provinsi Sumatera Barat tepatnya di Kab.50 Kota. Dari kota Payakumbuh cukup 1/2 jam saja. Obyek Wisata di lembah Harau ini berupa tebing-tebing terjal yang kemiringannya hampir 90 derjat dg permukaan tanan atau mungkin ada yg 90 derjat.

Lembah Harau ini juga terbagi 2 daerah wisatanya yaitu Sarasah Bunta dan Aka Barayun. Di Sarasah Bunta terdapat 5 buah air terjun, dan di Aka Barayun hanya ada 1 air terjun. Air Terjun di Lembah Harau ini sangat jernih dan dingin, dan juga ada ikan-ikan kecil. Untuk air terjun di Aka Barayun sudah berupa kolam sehingga berenang jadi lebih enak. Sedangkan yang di Sarasah Bunta penampungan air terjunnya masih alami sehingga bermain di air terjunnya jadi lebih asyik.


Air terjun yang dingin dan tebing yang curam, sebagian pemandangan di Lembah Harau

Yah… meski dalam suasana berkabung, tapi aku tak ingin membiarkan anak-anakku larut dan membiarkan kesempatan itu lewat dengan sia-sia. Kesempatan ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya, agar mereka pun mengenal kampung asal mereka.



Warning: Illegal string offset 'author_box' in /home/hardiviz/public_html/wp-content/themes/confidence/content-single.php on line 93

40 comments on “pulkam1: Payakumbuh

  1. Sekali lagi turut berduka cita ya Uda.

    Saya sependapat dengan Satira, sedih dan senang atas kesempatan pergi ke kampung halaman kali ini. Tapi memang manusia harus mengalami keduanya, ntah itu berbarengan, ntah berdiri sendiri.

    Gua Ngalau Indahnya kayaknya cukup besar ya Uda? Aku suka ngeri sih kalau masuk gua-gua kalau sempit dan gelap ….hiiiii….

    EM

    • Terima kasih Nechan… :)

      Benar sekali, senang dan sedih adalah dua hal yang pasti ada dalam diri kita. Sikap kita dalam menghadapinya sangat menentukan kualitas diri kita; berlebihan kah atau sewajarnya saja..

      Ngalau Indah itu cukup luas Nechan. Tapi yang kami tempuh cuma sedikit saja. Gak kuat jalan jauh-jauh. Gua itu sekarang sudah dilengkapi dengan penerangan yang cukup, sehingga tak perlu khawatir dengan kegelapan. Cuma baunya saja yang kurang sedap, yaitu bau kotoran saudara-saudaranya Batman, hehehe… :)

  2. Sepakat bulat dengan Imel…
    Aku juga takut masuk gua lama-lama. bisa sesak nafas karena mikir yang nggak-nggak, Uda…

    Selamat tahun baru, Uda…

    • Selamat tahun baru juga Donny…
      Sayang ya, kemarin kita tidak bisa ketemuan. Ternyata kita sama-sama pulang kampung, hehehe… :)

  3. Uda, sekali lagi ikut berdukacita ya. Pasti rasanya campur aduk ya waktu pulkam kemarin?

    Tampaknya Lembah Harau menarik ya? Tebing2 yg tinggi plus air terjun, hmmm… pasti hawanya segar sekali :)

    Saya senang kalau ada blogger yg menuliskan ttg wisata di Indonesia, jadi membukakan wawasan bahwa Indonesia juga punya banyak tempat yg indah :)

    • Terima kasih, Kris..
      Iya benar, rasanya campur aduk. Tapi, memang harus dijalani dengan penuh kesabaran dan keikhlasan..

      Lembah Harau itu adalah salah satu tempat paling favorit bagi pemanjat tebing.
      Pemandangan yang indah, ditambah udara nan sejuk dan menyegarkan.
      Kalau liburan ke sumatera, bolehlah disempatkan ke sana… :)

  4. kami ikut berduka cita yg sedalam2nya Iniyak, atas kepulangan Ibu mertua.
    Semoga Allah swt menempatkan Beliau pd tempat yg indah ,amin
    bunda mengirimkan al-fathihah utk Beliau.

    duuuuh, Inyiak……….jadi pingin ikutan pulkam juga ke Bukittinggi.
    tiap kali melihat foto2 ttg kampung halaman, selalu ada rasa rindu.
    Lembah Harau dan Ngalau ini memang cantik sekali ya Nyiak.
    terakhir bunda kesana pada thn 2003
    lama banget ya…… :(
    salam

    • Terima kasih Bunda atas doanya…

      Insya Allah kunjungan kami ke beberapa daerah di Sumbar dan Riau akan saya ceritakan setelah ini bunda.
      Sabar ya…. hahaha… :)

  5. Memang Betul kata Satira …
    Perjalanan Ini Sedih sekaligus juga Senang.

    Tetapi saya yakin … seharusnya adalah Bahagia semuanya … Ibunda sudah bahagia di alam sana …

    Mengenai Liburan …
    Betapa senangnya Anak-anak bisa mengenal kampung halaman mereka kalau tidak salah beberapa diantara mereka memang kelahiran Sumatera kan Uda ? (atau bahkan semuanya ya ?)(hehehe)

    Yang jelas …
    Ya … Satira harus mengetahui adat istiadat … khususnya mengenai Padusi Minang

    Very Nice Uda
    Ditunggu reportase selanjutnya …

    Salam saya

    • Hanya Fatih yang lahir di Jawa, Om. Lainnya, lahir di Sumbar dan Riau.
      Semoga kepulangan yang hanya sebentar itu, mampu membuka sedikit wawasan mereka tentang kampung halaman dan akar budaya mereka.

      Terima kasih atas doanya, Om…
      Ya, saya yakin, Ibu sudah bahagia di sana :)

  6. Menunggu, apakah uda membawa keluarga ke MEsjid Yang sangat tua di dekat rumah uni yeni. Kalau ke Payakumbuh, sangat rugi kalau tak kesana. Melihat arsitektur mesjid ratusan tahunlalu.

    • Kami hanya ke rumah gadang saja, Moe. Ke surau itu tak sempat, hanya melihat dari rumah saja.
      Insya Allah lain waktu ya…

  7. anak gadis yang dibesarkan jauh dari ranah minang memang perlu diajari tentang kedudukannya dalam adat, uda.. karena adat minang memang sangat berbeda dengan adat suku bangsa lain di nusantara. :D

    anyway, waktu kecil saya sempat beberapa kali ke Lembah Harau. terakhir kali waktu darmawisata SMP kelas 1. :D sejak +18 tahun paling hanya melihat-lihat dari jauh. bikin kangen.. nanti kalau pulang akan saya sempatkan ke sana.. sekalian mencari rumah kelahiran Tan Malaka. :D

    • Nah… berburu rumah kelahiran Tan Malaka itu jauh lebih seru tu Shige…
      Maka, segeralah meluncur ke sana dan beritahukan kepada khalayak hasil perburuanmu, hehehe… :)

  8. Saya ikut berduka cita Uda, semoga arwah beliau diterima oleh Allah swt dan diampuni segala dosanya. Amien.

    Senang dan terharu membaca cerita Uda…
    Saat saya ke Padang-Bukittinggi-Solok bersama anak-anakku, teman yang sedang jadi Pemimpin Wilayah di sana cerita…seharusnya saya juga mengajak ke Lembah Harau ini. Melihat fotonya aja, sudah terbayang betapa indahnya, konon katanya jauh lebih indah dari Ngarai Sihanok ya.

    • Terima kasih Bu Enny…

      Lembah Harau dan Ngarai Sianok memiliki keindahan dan keunikannya sendiri-sendiri.
      Lembah Harau memiliki air terjun yang cukup banyak dan dapat digunakan untuk berenang, ini barangkali yang membuatnya sedikit lebih istimewa dari Ngarai Sianok :)

  9. Uda, ikut berduka ya. Kenapa ya pas artikel ini muncul, lewat kompi nggak bisa kasih komentar dan liat gambar di sini, dari hp kok malah jelas. Lembah Harau indah nian uda, dulu sempat berlama2 main air di sini, yg di Sarasah Bunta, yg air terjunnya banyak berjejer. Kl di Ngalau cuma mejeng di mulut gua aja krn buru2 mau ke Pagaruyung.

    • Terima kasih, Kak…
      Tapi, sekarang sudah bisa muncul di kompinya kan, Kak? :)
      Yang penting, sudah ke sana, kapan-kapan lagi, sempatkan untuk menjelajah lebih dalam, Kak… :)

  10. ow…saya baru tahu kepulangan Uda ke SumBar karena meninggalnya Ibunda Uni Icha. Saya turut berbelasungkawa Uda. :(

    Saya membaca artikel ini sambil membuka Wikipedia tentang Sumatera Barat. Soalnya, nama-nama tempatnya asing di telinga, sekaligus pingin tahu ada apa saja di tempat-tempat yang Uda sebutkan di atas.

    Ternyata Lembah Harau menarik juga, ada air terjunnya pula :D

    • Terima kasih, Wijna….

      Biar tidak terasa asing, sering-seringlah baca informasi mengenai daerah-daerah di luar Jawa, Wijna. Biar semakin kaya pengetahuanmu tentang wisata tanah air :)

  11. Ini seperti catatan perjalanan yang terperinci. Sebetulnya lebih asyik lagi kalau disertakan transportasi apa saja yang bisa digunakan untuk ke sana.

    Jadi, foto paling atas itu, si pewaris tahta kerajaan alam raya tersebut? :D

    Ah ya, aku suka sekali kalimat ini: “…perempuan memiliki posisi penting dalam peradatan Minangkabau. Harkat dan martabat perempuan sangat dijaga, demi kemuliaan sukubangsa.”

  12. ..
    enak ya Da , nikah sama gadis Minang..
    warisannya banyak jhe..
    ..
    tentang keindahan tempat wisata di tanah air, gak perlu disangsikan lagi..
    wisata kuliner di payakumbuhnya mana nih..?
    ..

  13. Uda… :(
    Saya minta maaf, sungguuuuh minta maaf. Eka gak tau jikalau ibunda uda telah berpulang ke rumah Tuhan. Maaf ya uda..

    Eka & Adrian turut berduka cita.. Semoga arwah beliau diterima disisi Tuhan. Gak nyangka tulisan uda di hari Ibu kmrn… ah.. :( sedih..

    • Ah ralat.. ternyata ibundanya mbak Icha yah..
      Skali lagi turut berduka cita..
      Mohon sampaikan salam khusus bela sungkawa dari kami ke mbak Icha ya Uda..

  14. Uda, sekali lagi saya mengucapkan ikut berduka atas berpulangnya ibunda Uni Icha. Semoga beliau khusnul khatimah. Amiin …

    Nah, tentang jalan-jalannya …
    Saya sempat ke goa Ngalau juga, tapi tidak masuk. Jujur, agak kurang nyaman, karena waktu itu pengunjung sepi, dan guanya kelihatan gelap (meskipun ada pemandu yang menawarkan jasa untuk mengawal). Sayangnya juga, waktu itu gua kelihatan agak kurang terawat …

    Nah, tentang lembah Harau, memang fenomena alam yang mengagumkan. Saya membayangkan, peristiwa geologis seperti apa yang membuat terbentuknya tebing curam setinggi puluhan meter dan panjangnya ribuan meter itu, apa legenda yang menyertainya. Ohya, saya sempat membeli tanaman yang aneh sekali, seperti ekor monyet, tapi akhirnya saya tinggalkan di hotel (ya iyalah … repot amat bawa tanaman jauh-jauh ke Yogya … :D )

    • buat buk tuti nonka:
      kami kan brusaha se,baik mungkin untuk perwatan goa kami.,.,
      saya dan teman2 yg lain nya minta ma,af atas ke tidak puas nya ibuk di tempat kami.,.,
      skali lg kami minta ma,af.,.,

      datang lg ya buk ke ngalau indah.,.,

Komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jawab dulu ya pertanyaan di bawah ini sebelum kirim komentar, biar tidak dianggap spam.. :) *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>