pulkam2: Danau Maninjau


Warning: Illegal string offset 'single_featured_image' in /home/hardiviz/public_html/wp-content/themes/confidence/content-single.php on line 69

Istriku memiliki saudara seayah yang sudah cukup lama tidak saling bertemu. Ketika mendengar wafatnya Ibu, saudara-saudara istriku itupun berdatangan. Kakak-beradik yang sudah lama tak saling berjumpa tersebut, akhirnya berkumpul kembali di rumah ibu. Kesempatan ini tentu sangat besar manfaatnya bagi anak-anak kami. Mereka bisa saling kenal dengan saudara-saudara sepupu mereka. Sebelum berpisah, salah seorang kakak istriku itu meminta kami untuk datang ke rumahnya di pinggir Danau Maninjau.

Demi memenuhi undangan kakak tersebut dan dengan niatan mengenalkan Danau Maninjau kepada anak-anakku, jadilah kami berangkat ke sana pada Sabtu, 1 Januari 2011 yang lalu.

Danau Maninjau adalah sebuah danau vulkanik yang terletak di Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Provinsi Sumatra Barat, Indonesia. Danau dengan luas sekitar 99,5 km2 dengan kedalaman mencapai 495 meter ini merupakan danau terluas kesebelas di Indonesia, dan terluas kedua di Sumatra Barat. Menurut cerita, Danau Maninjau pada awalnya merupakan gunung berapi bernama Sitinjau yang di puncaknya terdapat sebuah kawah yang luas. Akibat letusan gunung tersebut, terbentuklah cekungan besar yang kemudian menjadi danau.


Danau Maninjau nan indah dan tenang

Aku belum menemukan sumber ilmiah yang menyebutkan asal usul terbentuknya danau tersebut selain dongeng/legenda rakyat yang diceritakan dari mulut ke mulut. Legendanya adalah mengenai sembilan laki-laki bersaudara yang dikenal sebagai Bujang Sembilan yang tidak merestui pernikahan adik bungsu mereka bernama Sani.

Konon, Sani difitnah oleh masyarakat setempat melakukan perbuatan tak senonoh dengan tunangannya Giran. Karena tak terima dengan tuduhan itu, keduanya menerjunkan diri ke kawah gunung Sitinjau dan mengutuk kampung itu menjadi danau dengan meletusnya gunung tersebut, serta Bujang Sembilan menjadi ikan yang menghuni danau itu kelak. Ternyata, kutukan mereka berlaku, dan terjadilah danau itu. Mau tau selengkapnya dongeng tersebut? Baca di sini ya… J

Untuk mencapai lokasi, kami membutuhkan lebih kurang 2 jam perjalanan dari Payakumbuh dengan melewati kota Bukittinggi. Perjalanan ke sana adalah sebuah petualangan yang takkan terlupakan. Ada jalan berkelok-kelok sepanjang 10 km jelang danau tersebut. Tingkungan ini dikenal dengan sebutan Kelok 44 (kelok ampek puluah ampek). Bagi Anda yang ingin menguji kehebatan menyetir, bolehlah dicoba melewati Kelok 44 ini.


Salah satu tikungan kelok 44. Setiap kelok diberi nomor penanda.

Kelok 44 ini juga ajang menguji kekuatan perut kita. Bagi yang tidak kuat, siap-siap dengan kantong kresek untuk menampung isi perut yang keluar, hahaha.. Alhamdulillah, kami semua mampu melewati jalanan itu dengan baik tanpa ada yang mual-mual. Barangkali, selama perjalanan, perhatian kami teralihkan oleh kegembiraan yang tercipta di dalam mobil.

Danau ini terkenal dengan rinuak, ikan kecil-kecil yang sangat enak dan pensi, kerang kecil-kecil yang dimasak dengan cara disop. Pada kunjungan kemarin itu, kami mencoba menikmati pensi. Seru juga. Karena, untuk bisa menikmati kerang kecil itu, perlu keterampilan dan kesabaran untuk membukanya.


Pensi, makanan khas Danau Maninjau

Danau ini multifungsi, yaitu sebagai pembangkit listrik (PLTA), kegiatan perikanan (usaha keramba jaring apung/KJA dan penangkapan), kegiatan wisata, irigasi, dan lain-lain. Sehingga secara ekonomi, masyarakat sekitar sangat tergantung pada danau baik langsung maupun tidak langsung. Dalam perkembangannya, berbagai aktifitas ini menyebabkan terjadinya penurunan fungsi danau, seperti berkurangnya ikan rinuak sebagai akibat dari PLTA. Perlu kajian yang lebih mendalam mengenai hal ini agar diperoleh solusi terbaik bagi perkembangan perekonomian masyarakat setempat.


Keramba ikan milik penduduk, juga konon memberi kontribusi pencemaran danau dengan tumbuhnya gulma di sekitarnya

Kunjungan kami ke Danau Maninjau itu telah memberi kebahagiaan dan kedamaian tersendiri di hati, terutama kebahagiaan melihat berkumpulnya kembali keluarga besar istriku. Ah… indahnya.. rasanya ingin segera berkumpul juga dengan adik-adikku beserta keluarga mereka.

Danau Maninjau menyajikan ketenangan dan keteduhan yang luar biasa. Bagi Anda yang ingin sejenak lepas dari hiruk pikuk kehidupan kota, cobalah untuk meregangkan otak dan otot di sini. Mari nikmati karya cipta nan indah dari Sang Maha ini dengan damai… J

Semoga suatu saat, kami bisa kembali lagi ke sana :)

Bersambung….


Warning: Illegal string offset 'author_box' in /home/hardiviz/public_html/wp-content/themes/confidence/content-single.php on line 93

47 comments on “pulkam2: Danau Maninjau

  1. *duduk manis nunggu cerita jalan2 ke Duri :P*

    Uda…tidak ada yang mengalahkan kedamainan ketika berkumpul dengan keluarga.

    Sekali lagi turut berduka cita untuk Ibunda Uni ya…semoga beliau tenang disana.

    btw…aku blom sampe ke kelok 44 itu loh…baru sampe danau singkarak aja :D

    • Amin… terima kasih Ri…

      Kalau ke Maninjau sebetulnya bisa juga dari Pariaman, tapi tidak melewati kelok 44 ini. Jadinya kurang seru.
      Cobain deh, pasti punya sensasi tersendiri… :)

      Cerita di Duri? Tungguin ya, hehehe….

  2. Ide untuk memberi nomer pada setiap tikungan itu adalah ide yang bagus, Uda…
    Saya membayangkan misal jalan Jogja-Wonosari juga dibikin begitu barangkali akan lebih mudah mendeteksi andai misalnya ada kecelakaan atau misal ada sesuatu yang perlu diidentifikasi ya…

    Melihat danau maninjau kok aku jadi kangen ‘danau’ Njimbung/Jombor Klaten ya…

    • Tikungan di kelok 44 itu sangat tajam dan pendek-pendek, Don..
      Jadi, butuh kehati-hatian dalam menelusurinya.
      Penomeran itu ide bagus juga kayaknya. Tidak hanya KM saja sebagai penanda ya…

      Danau Njimbung/Jombor? Walah, aku malah baru denger…
      Perlu berburu informasi nih.. :)

      • uda..
        bukan danau dalam arti sesungguhnya.. tapi rawa sih tepatnya.

        di atas Rawa Jombor banyak tempat makan (mengapung).. semacam pemancingan gitu uda.. tempatnya asyik buat makan.. nggak terlalu jauh dari Jogja.. bisa tuh kapan2 ajakin keluarga makan di sana :)

  3. Kelok 44
    Waaaaahhhh ada lagu nya tuh Uda …

    Maaaaa lereang … dst dst …
    Kelok Ampek Puluh Ampek …

    Ah sudah lama saya tidak ke Sumatera Barat

    Salam saya

  4. Sahabat tercinta,
    Dengan hormat saya mengundang sahabat untuk mengikuti Kontes Unggulan Cermin Berhikmah (K.U.C.B).
    Sahabat hanya diminta untuk menulis sebuah cerita fiksi mini dan menuliskan hikmah atau pelajaran yang dapat dipetik dari cerita yang telah anda tulis. Setelah itu daftarkan artikel tersebut diblog saya – New BlogCamp –

    Hadiahnya sih tidak seberapa tetapi begitu selesai mendaftarkan artikel, anda akan merasakan suatu sensasi yang membahagiakan karena telah mampu menulis suatu artikel yang lain dari biasanya.
    Jika berminat silahkan klik :
    http://newblogcamp.com/kontes/kontes-unggulan-cermin-berhikmah

    Terima kasih
    salam hangat dari Surabaya

  5. Uda datang pada saat yang tepat. Soalnya beberapa waktu yg lalu, seluruh ikan keramba mati, karena kadar amoniak yang tinggi dari pelet makanan ikan. Waktu itu danau bau sekali.

    O ya…nginap di homstay sana enak lho…

    • Benar Moe… kata kakak yang tinggal di sana juga gitu, baru beberapa waktu yang lalu ikan-ikan di sana banyak yang mati. Beruntung ketika kami ke sana kemarin semuanya sudah membaik.

      Beberapa tahun yang lalu, kami pernah nginap di sana bersama rombongan sekolah. Asyik sangat memang.. :)

  6. tambah mupeng ngeliat indahnya danau maninjau hi..hi..pemandangan t4 wisata di indonesia mmg bagus-bagus, smg ke depannya penanganannya juga bagus.

  7. Pingback: Di rumah, ngapain aja? | my home sweet home

  8. Uda..
    barusan aja selesai baca buku Negeri 5 Menara (telatttttt).. baca tulisan Uda yang ini, makin lengkap lah imajinasi saya tentang Danau Maninjau.

    bagus banget Uda…

    :)

  9. Yah, nyesel nggak nyobain pensi, rinuaknya udah. Maninjau masih tetap cantik ya. Jalan kami berlawanan dgn uda Maninjau dulu baru ke Bukit lewat kelok 44 itu, deg2an abis ….

    • Saya selalu bilang kepada diri sendiri setiap setelah berkunjung ke suatu tempat; “biarlah ada satu hal penting yang tak terpenuhi sekarang, karena itu nanti akan jadi pemanggil kita untuk kembali ke sana”.

      Nah, karena dulu itu Kak Monda tidak sempat mencoba pensi, maka itu akan jadi semacam “pemanggil” untuk kembali ke sana suatu saat nanti :)

  10. Yah, nyesel nggak nyobain pensi, rinuaknya udah. Maninjau masih tetap cantik ya. Jalan kami berlawanan dgn uda, ke Embun Pagi Maninjau dulu baru ke Bukit lewat kelok 44 itu, deg2an abis ….

  11. Aaaaargh….danau Maninjau, dan kelok 44 nya.
    Masih adakah monyet-monyet kecil yang sering menghadang, dan menari di dekat mobil jika dikasih kacang?

    Anak-anak saya senang sekali diajak ke Danau Maninjau ini…..indah sekali. Saya sempat menginap di hotel…Maninjau (lupa namanya), yang dari atas terlihat danau Maninjau di kejauhan. Dan ikannya…sedaaap

    • Monyet-monyet itu masih setia berdiri di pinggir jalan, Bu. Kemarinpun kami sempat berhenti sebentar untuk sekedar memberi kacang kepada mereka… :)

  12. danau maninjau yang indah dan bikin kangen, meskipun untuk bisa sampai ke sana harus membutuhkan pengorbanan ekstra keras –> mabok perjalanan karena melewati jalan berliuk seperti ular…
    *sick*

  13. Kelok ampek puluah ampek. Haha! Seru juga namanya. Boleh juga untuk menguji nyali dengan menyetir di kelok ampek puluah ampek ini :D

    Tampak menyenangkan, Da, menyimak ceritamu. Tapi, apakah pulangnya tetap harus melewati kelok ampek puluah ampek lagi? Jadi totalnya delapan puluah ampek kelokan? Alamak!

    Ya iyalaaahhh….

    • Iya, pulangnya tetap melewati kelok ampek puluah ampek itu. Kecuali kalau mau meneruskan ke Pariaman, kita tidak mesti melewati kelok itu. Hanya, kalau ke Pariaman, jarak tempuh untuk kembali ke Payakumbuh semakin panjang.

      Hmmm… aku tak percaya kalau dirimu memiliki kemampuan menyetir yang mumpuni sebelum kau coba melewati kelok ini, hihihi…

  14. saya udah lama banget gak ke maninjau, uda.
    liburan kemarin pengen ke sana tapi waktunya gak cukup, harus buru2 balik ke jogja. :D

    posting ini ngobatin rindu saya sama maninjau. :D

  15. ..
    hmmm ..kelok 44 kayaknya menarik tuh..
    bisa memacu adrenalin.. hehe..
    kalau lagi penat memang paling cocok berwisata kedanau, bikin otak fresh.. ^^
    ..

  16. Uda…. aku pernah lewat kelok 44 itu, memang “melelahkan” tapiiiiii begitu sampai bisa melihat Danau yang begitu damai, rasanya…. “aaaaaaaaaaaaaahhh…..” senang sekali. Perjalanan ke Sumbar dan Sumut lewat darat ini kami lakukan kebanyakan dengan mobil, sekeluarga, sebagai acara pamita bapakku utk unit-unit pertamina di sana, sebelum ditempatkan di London. Jadi perjalanan sekeluarga yang terakhir dengan lengkap dan menyedihkan krn kami harus berpisah dengan papa/mama yang pergi tanpa kami.

    Danau ini benar-benar memberikan kenangan indah untukku. Suatu kali aku ingin mengajak keluargaku ke sana.

    EM

  17. Uhuy …. saya juga sudah sampai ke danau Maninjau, Uda. Memang indah sangat. Permukaannya yang biru seperti cermin, memantulkan tebing-tebing di sekelilingnya.

    Kelok 44? Nah, saya terpaksa pindah duduk di samping sopir, soalnya takut mabok … hahaha :D

  18. inyiakkkk (^_^)
    he…he..he..disana memang keren sekali..pemandangannya,,udaranya..
    semuanya indah… :) :)
    rasanya Nagari kita adalah tempat terindah di dunia,,,

    si emak di kelok 44 gak muntah2..saking bahagianya,, (^_^) atau pening denger suara cemprenk anaknya..

  19. Maninjau padilah masak, batang kapeh batimba jalan, ko hati risau dibawo galak bak paneh mengandung hujan..
    Kampungku tempat aku menimba ilmu, memang Indah seindah orang2nya dan basa basinya. Kelok 44 tiada duanya di dunia.. sobatku..

  20. Pingback: ranah3warna: buah kesabaran | SURAU INYIAK

  21. Informasi yang sangat bermanfaat, jika semua orang bisa mempromosikan objek wisata di negeri ini, tentu akan membuat perekonomian yang baik untuk penduduk di sekitar lokasi wisata..sukses gan…terus menulis artikel yang bermanfaat ya..salam kenal..

Komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jawab dulu ya pertanyaan di bawah ini sebelum kirim komentar, biar tidak dianggap spam.. :) *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>