pulkam3: Magek


Warning: Illegal string offset 'single_featured_image' in /home/hardiviz/public_html/wp-content/themes/confidence/content-single.php on line 69

Keduaorangtuaku berasal dari Nagari Magek yang terletak di Kecamatan Tilatang Kamang, Kabupaten Agam, Propinsi Sumatera Barat, sekitar 15 menit dari Kota Bukittinggi. Aku dan adik-adik tidak terlalu akrab dengan desa ini. Sebab, kami dilahirkan dan dibesarkan di perantauan keduaorangtuaku, kota Duri, Propinsi Riau. Kami hanya sesekali pulang ke desa itu, seperti masa liburan sekolah atau ada hajatan keluarga.

Aku baru mulai sedikit akrab dengan desa itu ketika kuliah di Padang dulu. Setiap dua minggu sekali aku pulang ke sana untuk menengok kakek dan nenek, sekalian mengambil bekal beras dan bahan-bahan masakan lainnya seperti kelapa, telur, ikan, dll. Selama kuliah dulu, aku masak sendiri, jarang makan di warung ataupun katering.

Selama masa empat tahun itulah mulai terbuka wawasanku tentang kampung leluhurku ini, beserta adat istiadatnya. Rasanya, jika aku tidak kuliah di Padang, kemungkinan sampai sekarang aku buta sama sekali dengan adat istiadat Minangkabau.

Setelah tujuh hari berada di Payakumbuh, akupun memboyong keluargaku ke Magek. Jarak antara kedua daerah ini tidaklah terlalu jauh. Hanya sekitar satu jam perjalan saja. Kebetulan keduaorangtuaku dan adik perempuanku beserta keluarganya sedang berada di sana juga. Maka, jadilah kami berkumpul ramai-ramai di sana.

Akibat dari budaya merantau, kampungku yang satu ini sangat sepi dari penduduknya. Hanya beberapa keluarga yang menetap. Tapi, jangan bayangkan kampungku itu seperti kota mati. Justru ia terlihat sangat terawat dan rapi. Kebanyakan dari perantau itu, secara berkala akan pulang, sekedar melepas kepenatan hidup di perantauan. Oleh karenanya, mereka terus memperbaiki dan merawat rumah-rumah mereka tersebut.

Kami benar-benar menikmati alam pedesaan yang sejuk dan tenang selama di sini. Anak-anak dan keponakan-keponakanku terlihat sangat menikmati berpetualang ala Si Bolang. Mereka bermain di sawah, memetik coklat di kebun, memancing ikan di kolam, serta panen singkong dan alpukat. Ah… asyik betul rasanya…


Berpetualang ala Si Bolang… :)

Bersebelahan dengan Magek adalah Kamang. Kampung ini terkenal dengan duriannya yang sangat enak, berdaging tebal dan beraroma aduhai. Penduduk setempat menyebutnya dengan nama durian mentega. Kepulangan kami kali ini sangat pas waktunya. Durian Kamang sedang musim. Sepanjang jalan, terlihat banyak penduduk yang menjajakan hasil panenan durian mereka.

Keluarga besarku memang penggemar berat durian. Kesempatan ini tentu tidak disia-siakan. Kamipun pesta durian selama berada di kampung. Kami tidak membelinya di jalan, tapi langsung menunggu yang jatuh dari pohonnya di kebun penduduk. Rasanya benar-benar maknyoosss… (Sepertinya, Om Nh gak suka nih dengan sesi ini, hahaha…:D)


Pesta duren…. maknyoooosss :)

Puas juga rasanya kami berada di kampung itu, meski hanya tiga hari. Namun, ada sedikit sesalku. Aku tidak sempat mengunjungi Surau peninggalan salah seorang leluhurku. Beliau bernama Inyiak H. Yunus. Sepeninggalan beliau, surau tersebut tidak lagi terurus. Kitab-kitab kuno yang beliau miliki dulu, tergeletak begitu saja di perpustakaan kecil di surau itu, penuh debu dan kusam. Kepulanganku yang mendadak, membuatku tak bisa berkunjung ke sana, karena pamanku yang memegang kuncinya sedang pergi pula mengunjungi anaknya di rantau.

Semoga lain kali aku benar-benar bisa pulang lagi ke sini dan mengkhususkan diri untuk ke Surau Inyiakku tersebut, karena dari situlah inspirasi penamaan blogku ini terambil…

Bersambung…


Warning: Illegal string offset 'author_box' in /home/hardiviz/public_html/wp-content/themes/confidence/content-single.php on line 93

38 comments on “pulkam3: Magek

  1. Waaa…..pulang kampung yg menyenangkan…
    Itu si bolangnya narsis juga ya Uda…hihhi….
    Durennya……waaaaa….kok banyak gitu Uda? Langsung dari pohonnya pula… Gk usah pake pilih2 udah pasti dapat duren bagus…. Uuuu….. Uda mingin2i sy…
    Di Jogja duren mahal karna gk banyak yg berbuah. Di penjual2 itu ada gk ya duren mentega ky yg Uda nikmati itu?
    Nah, karena Uda belum mengunjungi Surau Inyiak’nya Uda, berarti Uda bakal ke sana lagi kan? Tt dioleh2i duren ya Uda… :D

    *inti komen ini adalah: duren :D*

  2. Coklatnya udah manggil2 minta dipetik tuh uda. Apalagi duren mentega, waw..waw..sesi ini juga takkan mungkin kulewatkan kalau pulkam. Anak2 pasti senang banget ya..

  3. Duriaaaan….sedaap, cuma sekarang mesti di jaga, kolesterol bisa naik nggak tanggung-tanggung. Temanku di bawa ke UGD gara-gara pesta durian.

    Uda, yang saya perhatikan, saat saya ke Minangkabau sekitar 4 tahun yang lalu bersama kedua anakku, banyak rumah kosong ditinggal penghuninya merantau. Kita bercanda, coba ini terjadi di Jakarta, pasti sudah di okupasi oleh pemulung dan teman-temannya.

    Hal lain yang menarik, jalan-jalan alternatif di antara Solok-Padangpanjang-Batusangkar-Bukittingi (baru 4 kota itu yang sempat saya singgahi), jalannya sempit, berkelak-kelok, hijau di kanan kirinya….indah sekali.
    Berharap suatu ketika bisa ke sana lagi.

    • Saya juga sudah harus waspada dengan duren nih Bu Enny. Entah kenapa, kalau sudah makan duren agak banyak, kepala jadi nyut-nyutan. Kayaknya, udah mulai tuwir nih, hehehe…

      Budaya merantau di Minang berkonsekwensi seperti itu Bu Enny. Sebuah kontradiksi yang tak patut diteruskan sebenarnya. Banyak dari para perantau itu yang kesusahan hidup di rantau. Tinggal di kontrakan yang sempit dan nyaris tak layak huni. Sementara, di kampung mereka memiliki rumah yang sangat layak huni. Kalau disuruh pulang kampung saja, gengsi katanya.. duh… :(

  4. Dimana-mana …
    Yang nama pulang kampung itu …
    Selalu membahagiakan …

    Saya bisa merasakan betapa bahagianya anak-anak bisa menengok (salah satu) kampung halamannya …

    Sempat lanjut ke Duri nggak Uda ?

    Salam saya Uda

    • Benar Pak Sawali, kampung kita adalah kebanggaan kita. Musti dirawat dan dijaga, untuk kehidupan yang lebih baik ke depannya :)

  5. pulkam memang selalu menyenangkan dan tentunya mengenalkan anak2 pd kampung halaman juga merupakan keistimewaan ya Nyiak :)

    masih menunggu dgn setia disini, utk kelanjutan petualangan the fantastic fournya Inyiak pulkam………. :)
    salam

  6. senengnya pulang kampung
    saya yang kini kangen pulang kampung

    seandainya di tempat baru ada liburnya, pengen deh nyamperin si om kesitu. kan sumatera utara (sibolga) sama sumatera barat gak begitu jauh :D

    sayang, disini kerja 12 jam perhari dan 7 hari perminggu

    *loh, kok mendadak curhat yah. maaf, om* :)

    • Nah, mumpung dirimu lagi di Sumatera, gunakanlah kesempatan itu untuk menjelajahinya. Aku yakin, itu akan jadi pengalaman yang luar biasa, Zul…

      Selamat berjuang ya…
      Semoga sukses :)

    • Maka, penuhilah rasa kepenasaramu itu dengan jalan-jalan ke sana, Wijna. Jangan hanya pulau Jawa saja yang dijelajahi. Indonesia ini sangat luas… *provokator mode: ON*

  7. Kayaknya asik bener ya mas acara pulang kampungnya.
    Kalo bicara kampung, jadi kangen sama persawahan.
    Hijau banget…
    Di kota sini udah gak ada lagi tuh yang namanya sawah…

    • Sesekali orang kota patut berkunjung ke desa, untuk sekedar mengendorkan urat syaraf yang terlalu tegang akibat kehidupan di sana.. :)

  8. Berbahagialah ia yang memiliki kampung halaman. Kurasa aku tak memiliki itu. Kakek dan nenek dari pihak Ibu di Semarang tinggal di kota. Satu-satunya yang bisa disebut kampung adalah tempat kakek dan nenek dari pihak bapak, di Pendopo, Palembang sana.

    Untuk ke sana mesti naik bis dari Palembang, menyeberang sungai dengan rakit (Mungkin sekarang sudah ada jembatan. Mungkin), lalu disambung dengan colt hingga ke mulut desa. Listrik hanya ada pada malam hari, itu pun tenaga diesel, dan kita bisa bermain sepuasnya di danau setiap menjelang senja. Betul-betul kampung dalam arti sebenarnya.

    Tapi sudah tak ada siapa-siapa lagi di sana. Kakek nenek sudah tiada. Anak-anaknya pun sudah habis semua. Yang tersisa tinggal rumah kakek yang itu pun diberikan pada penduduk di sana untuk dijadikan kantor desa. Habis sudah.

    • Ouw… jadi dirimu “wong kito galo” ya…? haha.. :D

      Kampung dalam artian “desa”, barangkali aku tak punya. Tapi, kampung dalam artian “rumah” di mana kau bisa “pulang” dari perjalanan panjang, kurasa sangatlah kau miliki. Maka, peliharalah itu, jangan biarkan ia punah sebagaimana punahnya kampung kakekmu.

      Btw, suatu kala nanti, bolehlah juga kita berkunjung ke Pendopo itu. Dari Curup tidaklah terlalu jauh kayaknya. Ada beberapa mahasiswaku yang berasal dari sana :)

  9. Magek, kota perantau ya Uda..
    Tapi bukannya semua orang Minang itu seringnya merantau ya uda? :D

    Penasaran sama kitab2 kuno di surau leluhur uda itu.. moga uda bisa kesana and berbagi cerita ya uda :)

    *ngeces liat duriannyaaaaaa*

  10. betul kata Uda, saya melihat daerah di sana itu bersiiiih sekali, padahal katanya banyak yang merantau. Tapi ngga tahu juga karena perjalananku itu sudah 20-th lebih yang lalu.

    Senangnya bermain di desa ya Uda. Aku juga senang waktu berlibur ke makassar sekitar usia 15 th dan berjalan ke desa-desa tempat sawahnya opa. Pengalaman itu sekarang sudah sulit sekali, karena kami sendiri tidak tahu letak persisnya. Semestinya nanti aku dan Ria pulkam bersama dan mencatat segala sejarah keluarga kami.

    EM

    • Nambah: sayang aku alergi duren, padahal ingin tahu tuh duren menteganya….
      Dan ternyata benar ya, orang yang tidka bisa makan duren juga tidak tahan baunya. Padahal dulu aku suka duren tuh…skr cium baunya pengen munmun deh

      EM

  11. Nah, kalau Magek saya tidak tahu Da, nggak sampai kesana …

    Sayang sekali ya Uda nggak sempat mengunjungi surau Inyiak. Mungkin ini pertanda suatu saat Uda harus balik lagi ke Magek. Semoga …

  12. Ass..magek dimana satu Om
    kebelutulan saya juga orang MAGEK.
    Kampuang Manau
    wassalaman

    • Kalau kampung ibu saya di Ujuang Tanjuang, Koto Marapak.
      Kalau papa saya di simpang tigo
      Kampuang Manau itu adalah kampung kakek saya dari papa :)

  13. assalamu’alaikum da, numpang lewat bolehkan. ? buat yuliawati, klo pingin ke Magek hati2 aja. soalnya guyonan orang disana terkenal akan “Orang Magek Penjual Anak”. Tapi jangan kwatir deh, yang di jual itu adalah anak ikan air tawar.

Komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jawab dulu ya pertanyaan di bawah ini sebelum kirim komentar, biar tidak dianggap spam.. :) *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>