pulkam4: Bukittinggi


Warning: Illegal string offset 'single_featured_image' in /home/hardiviz/public_html/wp-content/themes/confidence/content-single.php on line 69

Sebelum mengakhiri kunjungan kami ke Sumatra Barat, tentu tidak afdhol jika tak bermain ke Kota Bukittinggi. Berkunjung ke Sumbar tapi tak ke Bukittinggi, apa kata dunia? Hahaha… :D

Dari namanya, sudah bisa ditebak bahwa kota ini terletak di ketinggian; bukit nan tinggi. Ya.. kota ini terletak di ketinggian 904-941 meter di atas permukaan laut. Oleh karenanya udara di sini terasa sangatlah sejuk. Suhunya mencapai sekitar 16-23 drajat celcius. Kontur tanah di kota ini berbukit-bukit, ada sekitar 27 bukit yang terdapat dalam wilayah kota Bukittinggi, Apabila perjalanan menggunakan mobil maka tak akan terasa bosan. Kota Bukittinggi memiliki nama lain yaitu Tri Arga yang artinya tiga pegunungan agung yang memberikan keberuntungan.

Bukittinggi sangat terkenal dengan wisata alam dan sejarah. Kota kelahiran Bung Hatta, sang proklamator kemerdekaan RI ini, memiliki banyak tempat-tempat wisata nan eksotis. Sebagian besar terkonsentrasi pada sebuah titik yang sangat mudah dijangkau, yakni Pasar Atas. Di lokasi ini, kita bisa menemukan obyek-obyek wisata yang terhubung satu sama lain.

Nah, pada kunjungan tempo hari, kami sekeluarga berkunjung ke obyek-obyek berikut:

Kebun Binatang Kinantan

Kebun Binatang ini dibangun pada pada masa penjajahan Belanda pada tahun 1900 dengan nama Stormpark di atas Bukit Cubadak Bungkuak. Pembangunan tersebut dirancang oleh Conteleur Gravenzande yang  bertugas di Bukittinggi. Pada awal pembangunannya, taman tersebut belum mempunyai koleksi binatang. Baru pada tahun 1929 dijadikan kebun binatang dengan memasukkan beberapa koleksi hewan ke dalam taman tersebut.

Kebun  binatang  tersebut pada awalnya bernama Kebun Bungo setelah itu terjadi perubahan nama dari Kebun Bungo menjadi Taman Puti Bungsu. Pada tahun 1995 melalui peraturan daerah (perda) No. 2 tahun 1995 kembali terjadi perubahan nama dari Taman Puti Bungsu menjadi Taman Marga Satwa dan Budaya Kinantan.

Kalau kuamati, koleksi hewan di sini dari tahun ke tahun tidak ada perubahan yang signifikan. Bahkan, seekor orangutan yang sudah sangat tua masih ada di sana. Perasaan, dari aku kecil hingga seusia ini, si orangutan masih saja “terpenjara” di sana. Kapan bebasnya dia ya? Dihukum seumur hidupkah? :D

Di sini, terdapat sebuah Rumah Gadang (rumah adat Minangkabau) yang menjadi semacam museum kebudayaan Minang, bernama Museum Rumah Adat Baanjuang. Di dalamnya dipajang berbagai koleksi yang menggambarkan tentang kebudayaan Minangkabau dan beberapa benda bersejarah.


Museum Rumah Gadang Baanjuang

Satu keistimewaan di sini, kita dapat berfoto dengan mengenakan pakaian pengantin Minangkabau dengan membayar Rp. 35.000 per pakaian dan mendapatkan satu buah foto hasil jepretan fotografer. Sisanya, kita bebas bernarsis ria menggunakan kamera sendiri. Inilah hasil penyaluran bakat narsis keluargaku…


Bundo Kanduang bersama putra-putrinya… Hehehe… Narsis sejenak di Rumah Gadang ;)

Jembatan Limpapeh

Jembatan ini melintas di atas Jalan Ahmad Yani, salah satu jalan yang paling padat dan banyak hotel di Bukittinggi. Jembatan ini menghubungkan Kebun Binatang Kinantan dan Benteng Fort De Kock. Karena ia berada di kedua taman ini, maka hanya pengunjung taman inilah yang bisa melintasinya.

Dari jembatan ini, kita dapat melihat sebagian kota Bukittinggi, gunung Singgalang dan Merapi dan Jam Gadang tentunya. Jembatan ini dibangun menggunakan konstruksi baja dan berasitektur atap gonjong khas Minangkabau.


Jembatan Limpapeh

Benteng Fort De Kock

Benteng ini dibangun semasa Perang Paderi pada tahun 1825 oleh Kapt.Bauer di atas Bukit Jirek dan awalnya dinamai Sterrenschans. Kemudian, namanya diubah menjadi Fort de Kock, diambilkan dari nama Hendrik Merkus de Kock, tokoh militer Belanda.

Hingga saat ini, Benteng Fort de Kock masih ada sebagai bangunan setinggi 20 m. Benteng Fort de Kock dilengkapi dengan meriam kecil di keempat sudutnya. Kawasan sekitar benteng sudah dipugar oleh pemerintah daerah menjadi sebuah taman dengan banyak pepohonan rindang dan mainan anak-anak.

Suasananya teduh dan nyaman, sangat cocok untuk menggelar tikar sambil menikmati makan siang. Saking nyamannya, semua bekal yang dibawa dari rumahpun ludes tanpa bersisa. Haha… bilang saja laper… :D


Menikmati makan siang bersama di taman Benteng Fort de Kock… Lamak banaaa… :D


Prasasti di depan benteng Fort de Kock

Jam Gadang

Bukittinggi juga merupakan kota belanja. Maka, sambil menunggu istriku dan adik perempuanku memenuhi hasrat belanjanya di pasar atas, akupun mengajak anak-anak bermain di pelataran Jam Gadang.

Jam Gadang adalah landmark kota Bukittinggi dan provinsi Sumatra Barat di Indonesia. Simbol khas Sumatera Barat ini pun memiliki cerita dan keunikan karena usianya yang sudah puluhan tahun. Jam Gadang dibangun pada tahun 1926 oleh arsitek Yazin dan Sutan Gigi Ameh. Peletakan batu pertama jam ini dilakukan putra pertama Rook Maker yang saat itu masih berumur 6 tahun. Jam ini merupakan hadiah dari Ratu Belanda kepada Controleur (Sekretaris Kota).

Simbol khas Bukittinggi dan Sumatera Barat ini  memiliki cerita dan keunikan dalam perjalanan sejarahnya. Hal tersebut dapat  ditelusuri dari ornamen pada Jam Gadang. Pada masa penjajahan Belanda, ornamen jam ini berbentuk bulat dan di atasnya berdiri patung ayam jantan.

Pada masa penjajahan Jepang ,  ornamen jam berubah menjadi klenteng. Sedangkan pada masa setelah kemerdekaan,  bentuknya ornamennya kembali berubah dengan bentuk gonjong rumah adat Minangkabau .

Berikut gambar perkembangan Jam Gadang dari masa ke masa


Gambar 1. Jam Gadang pada masa awal didirikan, 1926. | 2. Pada masa penjajahan Jepang, 1942. | 3. Pada masa kemerdekaan, 1970. (Gambar diambil dari sini)

Beginilah bentuknya sekarang

Taman Panorama Bukittinggi

Sebelum pulang, kami pun mampir sejenak ke Taman Panorama Bukittinggi. Dari sini, kita akan dapat melihat keelokan Ngarai Sianok dari ketinggian. Di sini, terdapat sebuah saksi sejarah peninggalan penjajah Jepang bernama Lobang Jepang.

Terowongan atau bungker ini dibangun dari tahun 1942-1945 oleh penduduk-penduduk sekitar yang dipekerjakan secara paksa oleh serdadu Jepang. Di dalam lorong bawah tanah sepanjang 1,47 km ini, terdapat 21 lorong kecil yang sebelumnya menjadi lorong-lorong untuk keperluan benteng pertahanan, seperti lorong penyimpanan amunisi, bilik serdadu militer Jepang, ruang rapat, ruang makan romusa, dapur, penjara, ruang sidang, ruang penyiksaan, tempat pengintaian, tempat penyergapan, dan pintu pelarian.

Lubang Jepang ini ditemukan oleh masyarakat setempat pada tahun 1946 dengan kondisi yang mencekam. Banyak tulang belulang manusia yang berserakan di lantai sepanjang lorong terowongan. Pada tahun tersebut pemerintah Kota Bukittinggi mengubur tulang belulang yang berserakan itu dan membersihkan terowongan. Kemudian pemerintah kota menata terowongan itu untuk dipersiapkan menjadi obyek wisata sejarah di kota Bukittinggi dengan menambah beberapa sarana pendukung. Secara resmi, obyek wisata ini digunakan pada 11 Maret 1986. Pada Tahun 2004, pemerintah memperkokoh dinding terowongan dengan semen.

Karena sudah terlalu sore, kami tidak sempat menelusuri terowongan itu. Cukup berfoto-foto saja di depan pintu masuknya.


Lobang Jepang dan Ngarai Sianok yang terlihat jelas dari taman Panorama Bukittinggi

Wuih… ternyata panjang juga tulisanku kali ini… Capek ya membacanya? Hehehe… kami juga capek jalan-jalannya… ;)

Bersambung lagi…


Warning: Illegal string offset 'author_box' in /home/hardiviz/public_html/wp-content/themes/confidence/content-single.php on line 93

29 comments on “pulkam4: Bukittinggi

  1. Beruntung sekali ambo bisa membaca tulisan ini, karena jujur sebagai orang Minang sebetulnya ambo malu, tidak tahu dengan sejarah tentang kebun binatang kinantan, jembatan limpapeh, dll
    Alhamdulillah dengan tulisan di Surau Inyiak ini, ambo mendapat pencerahan.
    Sukses…..

    • Terima kasih, Uded…
      Sebetulnya saya juga tidak terlalu tahu tentang obyek-obyek wisata tersebut. Tapi, berkat keinginan menuliskan reportase perjalanan kemarin itu, mengharuskan saya untuk sedikit mempelajarinya, sehingga tersajilah seperti ini. So, ada manfaatnya juga ngeblog bukan? :)

  2. Addduuuhhh …
    Tempat-tempat ini …

    Saya jadi kangen Sumbar nih …
    Dulu jaman masih bujangan sering ke Bukit tinggi …

    Dan betul sekali kata Uda .,..
    Tempat-tempat tersebut merupakan agenda kunjungan wajib jika ke Bukit Tinggi ..

    (cuma … saya belum pernah ke Kebun Binatangnya nih, kelewatan waktu itu …)

    Salam saya Uda

    • Kebun binatang itu tidaklah kan membuat kita capek setengah mampus mengelilinginya, Om. Tidak seperti Ragunan yang luasnya luar biasa. Namun, sangat disayangkan, koleksi hewannya tidak banyak, bahkan menurut pengamatan saya cendrung berkurang dan stagnan. Agaknya proses regenerasi tidak berjalan di sini, hehehe…

      Nah, kapan kita kopdaran di Bukittinggi, Om? :)

  3. Ke bukit dulu itu nggak ke kebun binatang dan jembatan, tapi sempat mampir di Pande Sikek dlm perjalanan balik ke Padang. Di suatu desa lupa namanya berenti di pinggir jalan, ngapain kalau bukan pesta duren. Sedapnya. O ya selagi di perjalanan di ranah Minang pantang tidur, pemandangan lembah, bukit diselingi dgn banyaknya rumah gadang cantik.

    • Besok-besok kalau ke Bukittinggi lagi, jangan lupa mampir ke kebun binatang itu ya Kak. Dan kalau mau pesta duren, cukup datang ke Kamang, insya Allah tidak akan mengecewakan :)

  4. Terima kasih, Da. Aku suka membaca tulisan-tulisan yang bersifat catatan perjalanan seperti ini. Karena tidak sekadar mengikuti kegiatan si penulis semata, melainkan tulisan-tulisan yang sarat informasi.

    Tapi soal romantisme jalan-jalan keluarganya, kok bikin iri ya… :)

    • Baguslah kalau iri, berarti ada keinginan untuk melakukan hal yang sama tho? Ya sudah, segeralah lakukan…

      Terima kasih kembali atas apresiasinya, Dan…
      Insya Allah di episode terakhir reportase perjalanan ini, ada kejutan yang kami dapatkan, dan itu terinspirasi dari dirimu. Tungguin ya, hahaha… :D

  5. Saya pengen foto pake pakaian adat SumBar kayak yang ada di postingan ini, Uda..

    Lha kok kamu malah ngga ada di foto itu? :)

    • Di studio foto langgananku di Jogja, bisa kok Don foto pakai pakaian adat. Tapi, kalau mau berfoto di Bukittinggi, jauh lebih baik. Sensasinya pasti beda… :)

      Aku? hmmm… ngumpet di mana ya? ;)

  6. jadi pengen ke sana. kayaknya kok menyenangkan sekali ya :) pengen lihat jam gadang secara langsung.

    btw, kalau binatang di kebun binatang itu tidak pernah berganti, itu rasanya sama dg kebun binatang di kampung halamannya Oni. di sana, kura-kuranya sampai lumutan… bener-bener berlumut hijau gitu. sedih deh lihatnya.

    • Ayo Kris, nanti kalau pulang ke kampungnya Oni, sempatkan main ke Bukittinggi, udah gak jauh kok, hehehe…

      Saya sempat berpikir, bagaimana kalau kebun binatang itu diganti saja dengan museum binatang seperti yang di Jatim Park II yang isinya adalah binatang-binatang yang sudah diawetkan. Sehingga, mereka tak terlihat tersiksa seperti sekarang ini…

  7. bukittinggi, kota ini mengingatkan saya akan nama2 besar dalam dunia kesusatraan Indonesia, mas vizon. ternyata bukan hanya menjadi gudang sastrawan, alamnya pun memesona, nilai2 kearifan lokalnya juga sangat kaya.

    • Benar sekali Pak Sawali, ada banyak tokoh yang lahir dari kota ini. Tapi sekarang, nyaris tak terdengar kiprah para tokoh dari kota ini lagi. Entahlah, apakah mereka sudah tenggelam oleh hiruk pikuk kehidupan di Republik ini atau malah tak mampu menggantikan tokoh tokoh lama itu…

  8. Kangeeen…kapan ya ke Bukittinggi lagi…
    Saya juga punya foto di Rumah Gadang…bukankah itu istana Pagaruyung di Batusangkar, Uda?
    Pernah tersambar petir, apakah pembangunan kembali udah selesai seluruhnya…soalnya foto 1 dan 2 itu mirip foto istana Pagaruyung.

    Jam gadang….indah sekali.
    Uda, nggak cerita tentang pasar di bawah dan pasar di atas? Tempat kaum hawa tergila-gila beli berbagai sulaman khas Minang?

    • Bukan, itu bukan di Istano Pagaruyuang Bu Enny. Itu di museum Rumah Gadang Baanjuang di area Kebun Binatang Kinantan. Saya sendiri sudah sangat lama tidak ke Pagaruyuang. Tidak tahu bagaimana kabarnya sekarang setelah kebakaran beberapa tahun silam itu.

      Saya tidak sempat menjelajah ke pasar atas, lereng maupun bawah, Bu. Waktunya sangat sempit. Oleh karenanya, saya tidak bisa cerita di sini. Insya Allah, jika ada kesempatan pulang lagi, saya akan ke lokasi-lokasi itu. Ada makanan khas yang sangat saya kangeni di sana..

  9. dicatat…
    ini harus dicatat Inyiak…….

    krn nanti insyaallah tgl 2 feb, aku mau ke bukik,
    dan akan ” memaksa ” Bundo NakJadiMande utk membawaku ketempat2 yang Inyiak tulis disini………

    terimakasih banyak Inyiak sudah berbagi cerita liburan disini:)

    bisa utk referensi aku nanti pastinya……. :D
    Pasar lambuang di pasar atas kayaknya masuk agenda wajib kunjung nanti tuh Nyiak…… :D :D
    ( utk malapeh salero…. ) :P

    salam

    • Wah…. asyik bunda mau pulang ke bukik.
      Itu si bundo harus “dibajak” dari sekarang bunda.
      Soalnya beliau banyak fans, sehingga agendanya padet sekali.
      Tapi, kayaknya untuk bunda, beliau selalu ada waktu deh, hehehe… :)

  10. Satu hari nanti, aku pasti akan kesini lagiiii :D
    Baru tau kalo nama lainnya adalah tiga gunung.. Ma kasih infonya uda! :)

    Apakah Bukit Tinggi msh sedingin dulu waktu aku ke sana yah?

  11. aduuuh kangen Uda. Kecuali kebun binatangnya, aku pernah ke tempat-tempat yang Uda sebutkan. Jaman itu belum ada kamera digital sih.
    Yang aku ingat kami sempat ke pasarnya, dan cari makan resto minang, tapi kok ngga seenaknya yg di Jawa ya? Lalu dijawab, krn yang pintar masak merantau semua! hahahaa

    EM

  12. saya dulu pernah ke Bukittinggi Uda pas SMP, tapi saya lupa tempat-tempat yang dulu pernah saya kunjungi seperti Ngarai Sianok dan Istana Pagaruyung apakah juga di Bukittinggi?

  13. Bukittinggi memang tak terlupakan. Saya punya juga foto dengan pakaian pengantin di Rumah Gadang Baanjuang itu, Da. Sayangnya waktu itu saya pergi sendirian, jadi nggak ada pengantin prianya … hahaha …

    Jam Gadang, so pastilah. Nyaman sekali duduk-duduk di taman di belakang Jam Gadang pada sore hari. Banyak orang bersantai menikmati suasana …

  14. wahhh aku mengunjungi semuanya..
    kecuali panorama dan benteng..
    karena padat banget acaranya..
    yang paling keren..foto..foto di rumah bagonjong..ditambah sama model yang rada..rada gila.. (^_^)

    nagari kita benar..benar keren ya.

Komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jawab dulu ya pertanyaan di bawah ini sebelum kirim komentar, biar tidak dianggap spam.. :) *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>