pulkam5: Duri


Warning: Illegal string offset 'single_featured_image' in /home/hardiviz/public_html/wp-content/themes/confidence/content-single.php on line 69

Setelah puas berpetualang di Sumatera Barat, kami pun beranjak menuju Riau. Tujuan utama apalagi kalau bukan Duri, kota perantauan keduaorangtuaku sejak lebih kurang 45 tahun yang lalu, yang tentunya kota kelahiranku.

Perjalanan dari Bukittinggi menuju Duri bukanlah perjalanan yang singkat. Lebih kurang dibutuhkan 12 jam perjalanan darat. Karena kami berangkat pada malam hari, maka pemandangan indah sepanjang perjalanan Sumbar-Riau itu tak dapat kami nikmati. Padahal, ada banyak obyek-obyek indah yang ingin kukenalkan kepada anak-anak. Salah satunya adalah Kelok Sembilan.

Kelok Sembilan adalah ruas jalan sempit (bottleneck) menuju Riau di dekat Lubuk Bangku, Kabupaten 50 Kota Sumatera Barat. Selain sempit, juga berliku-liku tajam. Setiap kendaraan yang menempuh rute Pekanbaru – Padang, pasti akan melewati Kelok Sembilan. Jalur ini merupakan yang paling dekat untuk menghubungkan kedua kota yang berjarak lebih kurang 350 km ini. Sedangkan Kelok Sembilan sendiri berada pada jarak 180 km dari arah Pekanbaru. Setiap harinya tidak kurang 6.800 unit kendaraan melewatinya. Bahkan pada hari libur jumlahnya bisa menjadi dua kali lipat atau sekitar 11.350 per hari. Oleh karenanya, sering terjadi kemacetan di ruas jalan ini.


Kelok Sembilan. Gambar diambil dari sini

Untuk mengatasi hal ini, Pemerintah saat ini sedang membangun jembatan layang di atas Kelok Sembilan. Proyek ini sungguh dahsyat. Kabarnya, dana yang dibutuhkan untuk proyek itu saat ini adalah Rp 256 miliar! (setara dengan uang Gayus kayaknya ;)). Jalan Layang Kelok Sembilan dalam pembangunannya terdiri dari enam jembatan dengan panjang jembatan secara keseluruhan 711 meter. Sedangkan jalan penghubung panjangnya mencapai 1.350 meter, jembatan layang yang dirancang itu keloknya juga sembilan.

Mega proyek ini diharapkan dapat diselesaikan pada tahun 2011 ini. Kelak, jika sudah jadi, tentu akan menjadi obyek wisata yang sangat menarik. Menjadi semakin menarik, karena semuanya merupakan karya anak bangsa, mulai dari perencanaan hingga pelaksanaannya. Ternyata, karya anak bangsa bisa sedahsyat itu ya. Hebat!


Rencana pembangunan jembatan kelok sembilan. Gambar diambil dari sini

Kami sampai di Duri sekitar pukul 7 pagi. Lega dan senang sekali rasanya. Sejak kepindahanku ke Jogja, baru kali ini kami pulang ke Duri secara lengkap. Dan secara kebetulan sekali, semua adikku beserta keluarga mereka, sedang berada di Duri secara lengkap. Sebuah momen yang sangat jarang terjadi di keluarga kami belakangan ini.

Dibandingkan dengan adik-adikku, agaknya akulah yang paling tidak mengenal kota ini. Sejak 1985, praktis aku tidak tinggal lagi di sana; mondok di Gontor, Kuliah di Padang, memulai karir di Pekanbaru, bekerja di Curup dan berpetualang di Jogja hingga sekarang. Oleh karenanya, aku tidak begitu mengenal sudut-sudut kota ini. Yang kutahu hanya rumah orangtuaku dan beberapa rumah saudara, selebihnya aku boleh dibilang “orang asing” di kota kelahiranku tersebut.

Justru sahabat narablog, Jumria Rahman a.k.a Ria yang mengenal kota itu di masa sekarang. Coba simak penjelasannya di postingannya yang ini dan itu. Dibaca ya… :)

Di masa kecil, yang kukenal Duri hanyalah sebuah kota kecamatan yang kaya akan minyak bumi. Waktu itu kami mengenal istilah “anak komplek” dan “anak simpang”. Anak komplek diperuntukkan bagi anak-anak pegawai PT. Caltex (sekarang Chevron) yang tinggal di kompleks perumahan karyawan milik perusahaan tersebut. Sementara anak simpang, diistilahkan bagi kami, anak-anak yang tinggal di luar komplek atau bukan anak pegawai Caltex. Kami sering merasa bahwa anak komplek adalah anak metropolis yang tak mungkin bisa bergabung bersama kami. Cara berbahasa dan bargaul mereka pun sangat jauh berbeda dengan kami. Sehingganya, kami tidak pernah klop, padahal yang membatasi kami hanyalah pagar besi komplek itu saja.

Barangkali, karena pengalaman masa kecil itulah yang membuatku sampai sekarang rada “alergi” memiliki rumah di sebuah kompleks. Aku justru suka mencari rumah di perkampungan. Agaknya aku salah, tapi memang begitulah yang kurasakan. Bukankah hidup kita sekarang ini merupakan akumulasi dari pengalaman masa lalu?

Duri nyaris tidak punya tempat plesiran. Kalaupun ada, itupun hanyalah mal ataupun kolam renang. Oleh karenanya, aku tidak mengajak anak-anak kemana-mana, hanya berkunjung ke rumah adik-adikku. Masa sih jauh-jauh ke Duri cuma buat ke mal? Lagian, terlalu mahal momen itu untuk dihabiskan sekedar ke mal. Anak-anakku perlu didekatkan dengan sepupu-sepupu mereka.

Jadilah selama tiga hari yang lalu itu, rumah orangtuaku sangat ramai oleh ocehan dan gurauan kami. Rumah yang biasanya lapang, kini terasa sempit. Ah, bahagia sekali rasanya melihat pemandangan itu.

Karena itu adalah momen langka, maka patut diabadikan. Dan inilah formasi lengkap kami. Rame ya, hehehe… ;)


Keluarga besarku… :)

Masih bersambung lho…


Warning: Illegal string offset 'author_box' in /home/hardiviz/public_html/wp-content/themes/confidence/content-single.php on line 93

28 comments on “pulkam5: Duri

  1. Ahhhhaaaa …
    Akhirnya pertanyaan saya di komentar sebelumnya terjawab sudah …
    Uda sekeluarga langsung ke Duri …
    Mumpung pas di Sumatera ya Uda … sayang-sayang kalau tidak langsung di lanjut ke Duri …

    Mantap …

    Dan saya tersenyum lebar …
    Melihat foto terakhir itu
    Itu formasi komplit yo Da ?
    komplit kakak beradik plus keluarga ?

    Very Nice
    Betapa bahagianya Ayah dan Ibunda Uda …

    Salam saya

    • Iya Om, ini formasi lengkap, bahkan yang masih di “alam rahim” pun ikutan di situ, hehe… :)

      Dan Om benar sekali, keduaorangtua saya sangat bahagia. Bahkan, Mama saya berusaha memanjakan cucu-cucunya dengan memenuhi apapun permintaan mereka dan memasak yang enak-enak..

      Semoga momen itu bisa terulang kembali :)

  2. nice to look the last picture uda
    busyet! itu kumpul semua…
    ada evan sama gossy juga huhehehehehe…

    sayang banget aku sedang tidak di duri saat uda dan uni disini :( ayooo kapan ke duri lagi?

    • Iya ya, sayang sekali kita tidak bisa bertemu.
      Insya Allah suatu saat ada masanya, Ri, gak usah direncakan, biarkan saja datang secara tiba-tiba, hehehe… :)

      Btw, gimana nih rencana mau bikin duri dot info?

  3. Udaa…..indah sekali jalan-jalan nya.
    Sumatra memang sungguh indah pemandangannya.

    Saya ke Pekanbaru naik pesawat, jadi tak menikmati perjalanan yang indah ini. Terimakasih Uda telah menyuguhkannya pada tulisan disini. Betapa senangnya anak-anak, berkunjung ke saudara, bertamasya….

    • Perjalanan yang saya lalui kemarin memang cukup panjang, banyak daerah yang disinggahi. Makanya, ceritanyapun jadi panjang banget, hehehe… Tapi, gak bosan kan? ;)

  4. Nyiak, foto maket utk kelok sembilan itu keren banget, apalagi anak bangsa yg membuatnya ….

    tapi……..
    aku paling suka foto paling bawah itu Nyiak….
    kok aku rasanya jadi ikut terharu biru…….. :)
    membayangkan semua anggota keluarga berkumpul bersama..
    tak terbayangkan bahagianya Ibu dan ayah nya Inyiak…..
    bertemu dgn anak cucu komplit sak komplit2nya ……..
    indah dan bahagia pastinya ………. :)

    salam

    masih kecanduan nunggu cerita Inyiak disini :)

    • Ternyata, anak bangsa kita hebat juga ya Bunda? Patut diapresiasi tuh… :)

      Semoga kesempatan berkumpul secara komplit itu dapat terulang dan terulang lagi..

      Kecanduan? waduh… perlu segera dicarikan obatnya tuh bunda. Nanti gak bisa pulih lho, hahaha…

  5. Tak cukup sekali …
    Aku datang lagi …
    hahaha …

    Cuma mau berkomentar mengenai istilah …
    Anak Kompleks dan Anak Simpang …

    Ini bisa jadi satu tulisan menarik nih Uda …

    Diangkek yo Da …

    Salam saya

  6. maketnya keren!!
    Sumatera Barat termasuk salah satu kota yang dari dulu pengen dikunjungi, hanya saja setiap ada rencana selalu saja ada halangan, bisa jadi emang nunggu jembatan layang di Kelok Sembilan itu selesai kali ya hehehe

    Saya pun pernah ke Duri,cuma beberapa hari, jadi tak banyak yang diingat. Dan melihat foto Uda sekeluarga tu, bikin saya ingat klo saya sekeluarga blom pernah bikin foto seperti itu hehehe .. *jadi pengen*

  7. Bukankah hidup kita sekarang ini merupakan akumulasi dari pengalaman masa lalu?

    Suka ini uda! :)

    Btw, bapak sama mamakku suka ajak tour naik mobil keliling2 jawa, sumatera bahkan bali dan lombok. Tujuannya selain senang2 liburan ya karena sepanjang perjalanan itu, bapak n mamak selalu mampir ke rumah kerabat supaya kami gak lupa sama akar :)

    Nice! Suka postingan ini, secara pribadi terasa gimana gituh…

  8. Assalamu’alaikum uda. Maaf kalo ambo indak pernah lagi berkomunikasi dengan uda via blog iko.

    Habis sudah semua tulisan uda ttg pulkam. Sayang yo da, sekitar tanggal 23 desember 2010 – 4 januari kemaren ambo sedang berada di Bukittinggi. Kalo tau, kita bakal bisa kopdar di bukittinggi

    Ambo sedikit iri dengan last picture in this page. Because i can’t do it anymore.

    oh ya da, makasih atas balasan message dari uda di FB.

    Wassalam

  9. senangnya melihat foto keluarga lengkap yang terakhir Uda…. ahhh aku kapan bisa lagi membuat foto lengkap gitu ya? skr saja kalau mudik mesti salah satu tinggal di Tokyo. Belum lagi Gen ngga pernah bisa ikut mudik. Semoga th ini Gen bisa ikut deh, meskipun kemungkinannya tipis sekali.

    EM

  10. Semakin kaya saja pengetahuanku tentang kota Duri (yang baru kuketahui setelah nge-blog: bahwa ada kota bernama Duri di Indonesia ini), baik dari Ria maupun Uda. Namun kekayaanku tersebut tak ada apa-apanya dibanding dengan orang yang memang pernah berkunjung, tinggal apalagi lahir di sana.

    Informatif banget tulisan ini. Suka! :)

    “Bukankah hidup kita sekarang ini merupakan akumulasi dari pengalaman masa lalu?” Mantap! ;)

  11. Astaga…12 jam dari Bukittinggi ke Duri itu lebih lama dari waktu tempuh Jakarta – Jogja (doh!) >.<

    Serta harus melewati kelok 9 pula? benar-benar harus tabah ya kalau mau lewat jalan ini ya Uda?

  12. Nah …. kalau Duri saya belum pernah injak, Da. Takut tertusuk … hehehe …
    Saya sempat menikmati perjalanan darat dari Pekanbaru ke Bukittinggi, melewati kelok sembilan itu. Pemandangannya elok sekali, dan karena perjalanannya pada siang hari, saya bisa menikmati semuanya …

    Senangnya bisa berkumpul bersama seluruh keluarga besar.

  13. Subhanallah keluarga besar Uda lengkap ya dalam foto ini, jadi ngiri ;)
    Hmmm, jadi ingin juga kumpul dan foto bersama, ada banyak wajah yang mirip ya Uda?

Komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jawab dulu ya pertanyaan di bawah ini sebelum kirim komentar, biar tidak dianggap spam.. :) *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>