pulkam6: Pekanbaru


Warning: Illegal string offset 'single_featured_image' in /home/hardiviz/public_html/wp-content/themes/confidence/content-single.php on line 69

Sebelum pindah ke Jogja sekitar lima tahun yang lalu, kami tinggal di Pekanbaru, tepatnya di Kecamatan Rumbai. Hampir 6 tahun kami tinggal di situ. Dua dari anak-anakku, Afif dan Satira melewati sebagian masa kecil mereka di sini. Sejak kepindahan kami ke Jogja, belum sekalipun kami kembali lagi ke kampung yang memiliki tempat tersendiri di hati kami ini. Maka, kesempatan pulang kampung kali ini, kami manfaatkan untuk mampir barang sehari ke sana.

Rumbai adalah salah satu kecamatan di Kotamadya Pekanbaru. Terletak di sebelah Utara. Jika kita berangkat dari Duri, pastilah melewati daerah ini sebelum memasuki kota Pekanbaru. Rumbai juga merupakan salah satu area PT. Chevron selain Duri dan Minas. Oleh karenanya, kebanyakan penduduk Rumbai adalah karyawan perusahaan minyak tersebut atau yang berkaitan dengannya.

Aku mulai menetap di Pekanbaru pada tahun 1997. Ketika itu aku mendapatkan beasiswa S2 di sana. Selang setahun kemudian, istriku mendapatkan pekerjaan sebagai guru di sebuah sekolah Islam di kompleks PT. Chevron tersebut. Agar memudahkan, maka kamipun pindah ke Rumbai setelah sebelumnya tinggal di kota Pekanbaru.


Kompleks Masjid Al-Ittihad PT. CPI-Rumbai, tempat istriku pernah mengabdikan ilmunya

Gang Bersama, itulah nama gang tempat tinggal kami dulu itu, terletak di Kelurahan Limbungan. Unik juga nama gangnya bukan? Karena unik itulah, makanya aku berketatapan hati untuk bertempat tinggal di sana. Menurutku, penamaan gang seperti itu, tentulah tidak sembarangan. Pastilah ada maksud tertentu di balik penamaannya.

Setelah tinggal di sana, barulah kupahami sepenuhnya, bahwa nama gang itu memang bermakna. Penduduk di wilayah itu ternyata berasal dari berbagai daerah dan etnis; ada Minang, Melayu, Jawa dan Batak. Profesi merekapun sangat beragam. Perbedaan itu justru membuat mereka saling isi dan berbaur dengan baik. Kekompakannya sangat kusaluti. Mereka bahu membahu mengatasi berbagai hal. Salah satunya adalah pembangunan mushalla kecil yang menjadi tonggak sejarah luar biasa dalam hidupku.

Sebagai warga terbaru dan termuda ketika itu, aku berusaha untuk beradaptasi dengan mereka. Awalnya kukira mereka akan “mengecilkan” keberadaanku. Ternyata dugaanku salah. Mereka justru “membesarkanku” dengan memintaku untuk membuat kegiatan pengajian rutin dari rumah ke rumah setiap minggunya. Tentulah dengan senang hati kupenuhi permintaan itu. Toh, hanya itu kemampuan yang kumiliki.

Pengajian itu awalnya hanyalah bagi beberapa tetanggaku yang rumahnya bersebelahan dengan rumahku. Tapi entah mengapa, tidak lama berselang, anggota pengajian itu semakin banyak dan areanya pun semakin luas. Aku baru sadar, rupanya mereka sangat butuh akan kegiatan semacam itu. Masjid yang ada, letaknya lumayan jauh dari sana, sehingga untuk sekedar shalat berjamaah pun mereka sulit.

Dari pengajian itu, akhirnya tercetus ide untuk membuat mushalla kecil di lingkungan kami. Sesuai dengan nama gangnya, maka ide itupun diwujudkan secara “bersama-sama”. Dimulai dari membeli sepetak tanah untuk itu, para warga urunan secara bersama-sama, semua ikut menyumbang, tak peduli berapapun jumlahnya. Dalam waktu singkat, uang pembeli tanah terkumpul, dan tanah itupun bisa dibeli. Untuk pembelian bahan bangunanpun, semuanya berpartisipasi.

Setiap minggu kami bergotong royong membangun mushalla itu. Sama sekali kami tidak menyewa tenaga tukang. Karena, beberapa dari warga di situ berprofesi sebagai tukang. Merekalah yang mengerjakannya secara bergantian. Target kami ketika itu, mushalla tersebut akan dipakai untuk shalat Tarawih di bulan Ramadhan tahun 1999 yang akan datang sekitar beberapa minggu lagi. Target itu memicu semangat kami. Dan sungguh sebuah keajaiban kurasa, tepat pada hari pertama bulan Ramadhan kala itu, mushalla tersebut benar-benar bisa digunakan, meski baru beratapkan terpal.

Ketika adzan pertama di bulan suci itu berkumandang untuk pertama kalinya dari mushalla kecil tersebut, ada aliran hangat di hati kami. Terharu dan bahagia, itulah yang kami rasakan. Maka, setelah selesai memimpin shalat maghrib berjamaah, kuminta seluruh jamaah untuk sujud syukur atas nikmat tersebut. Jujur, air mataku tak kuasa kubendung dalam sujud itu. Aku bersyukur yang tiada tara. Mushalla kecil itu adalah wujud kebersamaan kami. Hati kami menyatu di sana. Dan, karena dia dibangun atas kebersamaan, maka kami namakan ia “Mushalla Al-Jama’ah”.


Mushalla Al-Jama’ah; wujud kebersamaan warga Gang Bersama, Rumbai-Pekanbaru

Ketika kami datang kembali pada Sabtu 8 Januari 2011 yang lalu ke Gang Bersama itu, sontak membuat warga di sana terkejut. Mereka tidak menyangka kami akan datang. Salam hangat dan peluk haru dari mereka sangat kami rasakan. Satu persatu rumah mereka kami datangi. Seketika, kenangan beberapa tahun silam itu menyeruak kembali. Ada tawa, ada haru, dan yang pasti ada bahagia dalam diri kami.


Kebersamaan itu masih tetap hangat di Gang Bersama :)

Ketika Maghrib menjelang, mereka memintaku untuk kembali ke mushalla kebanggaan kami dan shalat berjamaah di sana. Entah kenapa, melihat kembali mushalla itu dan memimpin shalat bersama orang-orang itu, membuat emosiku membuncah. Aku sangat terharu. Nyaris, aku terbata-bata di awal rakaat. Suaraku bergetar hebat ketika membacakan ayat-ayat dalam shalat di senja itu. Sungguh, aku tak bisa menyembunyikannya.

Sebelum malam menjadi larut, dengan berat hati, kamipun meninggalkan kampung itu… :(

Minggu, 9 Januari 2011, kamipun mengakhiri perjalanan pulang kampung yang penuh dengan emosi itu. Dari balik jendela pesawat, kutatap tajam-tajam ke tanah Sumatera. Perjalanan panjang selama dua minggu ini telah memberi banyak hal bagi kami sekeluarga. Semoga kami bisa kembali pulang dalam suasana yang jauh lebih menggembirakan… Tapi tunggu, bukankah kami juga akan pulang ke Jogja? Hahaha… kata “pulang” sudah semakin rancu dalam hidup kami.. :)

Selesai… Terima kasih sudah mengikuti dari awal…


Warning: Illegal string offset 'author_box' in /home/hardiviz/public_html/wp-content/themes/confidence/content-single.php on line 93

24 comments on “pulkam6: Pekanbaru

  1. Denuzz yang hanya sebagai pembaca dalam kisah perjalanan ini juga meneteskan air mata haru… Indahnya persahabatan, kebersamaan, kerja sama, gotong royong, kasih, cinta, dan berkah Allah… :D

    Salam sayang dari BURUNG HANTU… Cuit… Cuit… Cuit…

  2. Uda …
    Jangankan Uda …
    Saya pun yang hanya membaca …
    Tidak menyaksikan secara langsung suasana dan pengalaman tersebut secara nyata …
    Bisa sangat merasakan …
    Betapa Musholla Al Jamaah itu menjadi bagian yang tak terpisahkan dari ikhtiar syiar yang Uda lakukan …

    Ini memang mungkin hanya terlihat sederhana saja …
    Namun saya yakin … Warga Gang Bersama mencatatnya dalam sejarah kehidupan mereka …

    Dan satu lagi …
    Gusti ALLAH pun juga mencatatnya …
    Gusti ALLAH tidak tidur

    Salam saya Uda …

    (this is very nice)
    (kandidat best post from the gentlemen 2011 ) :)

  3. Saya sudah membaca dari awal berulang-ulang, namun saya masih bingung merangkai kata yang tepat untuk menuliskan komentar di bagian bawahnya.

    rasa haru dan takjub atas perjalanan yang telah Anda lalui bersama warga gang bersama untuk membangun musholla.

    Semoga semua warga Gang Musholla dan seluruh warga yang berpartisipasi mendapatkan pahala dari Allah Swt

  4. He, aku pernah dipusingkan kata “pulang’ Juga, Uda.
    Waktu desember kemarin, aku pamit ke teman2 kantor aku mau “Holiday” tapi ketika ditanya ortu, “Kapan pulang?” aku bilang “Aku PULANG desember (ke Indonesia)”

    Intinya bagiku, dimana langit dijunjung, disitu bumi dipijak :)

    Liburan yang menyenangkan, Uda…. aku menikmati betul rangkaian tulisan2mu ttg liburanmu…

  5. ah Uda, airmataku pun menggenang membaca kebersamaan membangun mushalla. Seharusnyalah lingkungan tinggal seperti ini, dimana toleransi dan gotong royong menjadi dasarnya. Aku bisa bayangkan suana penyambutan keluarga Uda waktu itu, pasti ada pelukan, dan air mata….. ahhh senang sekali. Meskipun sudah lama pergi masih disambut dengan hangat! Apalagi yang kita cari di dunia ini ya Uda, selain daripada rasa kebersamaan dan penerimaan yang hangat waktu kita pulang/bertandang. Senang sekali membaca catatan perjalanan ini Uda. Perjalanan tapak tilas yang tidak disengaja bukan? Tadinya Uda masih bingung mau mengajak kemana anak-anak dalam liburan. Ternyata Tuhan mempunyai rencana yang tidak kita ketahui, dan sadari.

    Mbak Icha “kehilangan” bunda tercinta, tapi mendapatkan kasih sayang yang tak terhingga dari semua keluarga, saudara dan perjalanan ini. Aku ikut bersyukur Uda… sungguh. Allah Maha Baik…..

    EM

  6. Agaknya inilah mushalla yang pernah engkau ceritakan padaku ketika di Jogja dulu itu, Da? Tak syak lagi, emosiku ikut larut ketika membaca ini, karena secara lisan pernah kau ceritakan proses awal hingga berdirinya. Membuncah!

    Orang mengenalmu dengan segala kebaikanmu, Da.

  7. subhanalllah, rasanya aku ikut merasakan segala rasa campur aduk di dalam hati ini .

    Allah swt akan menghitungnya sebagai pahala bagimu, Inyiak , Amin .
    ( sambil masih merinding mengetik komen ini)
    salam

  8. sebuah perjalanan napak tilas, yg telah mengharu biru hatiku membacanya Nyiak..
    betapa kebersamaan ini, masih terasakan pd semua orang yg ikut membangun mushalla ini.
    Semoga Allah swt selalu memberkahi Inyiak dan keluarga dengan segala kebaikan dunia dan akhirat ,amin
    salam

  9. Pulang kampung,, menjemput kembali kenangan dan kebersamaan yang sempat ditinggalkan tetapi masih bertahan dalam ingatan,, sungguh tak bisa menggambarkannya dengan koment pendek ini Uda,,

  10. Pekanbaru sama sekali tidak asing bagi saya, Da. Belasan kali saya ke sana. Meskipun demikian, sempat jalan-jalan puas baru pada tahun 2007 (maklum, biasanya datang ke sana cuma untuk ngajar, selesai ngajar langsung pulang ke Yogya … :) ).

    Biasanya saya menginap di Hotel Mutiara, dekat Rumbai. Kemarin nggak berkunjung ke Masjid An Nur dan perpustakaan baru yang sangat megah itu ya Da? Oh ya, rumah-rumah adat di Bandar Serai juga patut dikunjungi loh … :)

  11. Pingback: THE POST OF JANUARY | The Ordinary Trainer writes …

  12. Cerita yang indah, ditulis dengan sangat indah….

    Terimakasih mas.. gak salah om NH rekomendasikan kisah ini… sangat menyentuh…
    saya terkadang juga sangat sentimental pada suatu hal… masa lalu menjadi indah saat kita mengenang perjuangan-perjuangannya… :)

    salam kenal…

  13. nggak bermaksud lebay, tapi waktu baca indahnya kebersamaan itu air mataku ikut menetes, terasa sekali keharuannya bagaimana kita membangun sebuah mushala dgn kebersamaan :)

  14. saya tidak ( belum ) sempat membaca lima postingan edisi mudik ini, tapi sudah selayaknya saya menghaturkan terima kasih kepada Om NH yang telah mengantarkan saya ( kembali ) silaturahmi di sini. Semoga, kedepannya akan banyak kesempatan untuk mempererat silaturahmi, saling mengingatkan, saling menguatkan, juga saling mendoakan. Salam hangat untuk keluarga.

  15. Salam Takzim
    Kunjungan perdana di tahun2011, terseret oleh oom NH, ternyata sungguh benar dan mengingatkan saya saat membangun musholla di citayam pak, haru biru hingga kini musholla itu masih berdiri kokoh ya pak
    Salam Takzim Batavusqu

  16. Sebagai warga Pekanbaru…
    Put jadi penasaran dengan mushola ini…
    soale
    Pernah beberapa kali berkunjung ke Rumbai…. :D

    Nilai kebersamaan…selalu indah dan mengharu biru…
    subhanaallah

  17. Sangat bertolak belakang dengan mushola di samping rumah kakak saya. Mushola itu dibangun oleh bapak mertua kakak saya (almarhum). Warga sekitar tak ada yang peduli dengan mushola itu, boro2 mengisinya selama 5 waktu :(
    Untung ada seorang guru ngaji dari gang sebelah yang mau menjadi iman di mushola itu.
    Yang miris lagi, saat tarawih di bulan Ramadhan, yang jadi imam adalah guru ngaji itu dan para makmumnya adalah kakak saya, ibu mertua, dua orang keponakan saya yang masih SD dan beberapa anak kecil :(
    Sampai2 keluarga kami meminta beberapa siswa pesantren, buat nambah2in jama’ah di bulan ramadhan…

  18. Selamat pagi, Pak. Menarik sekali membaca postingan ini. Tidak salah jika Om Trainer menobatkan tulisan ini menjadi yg paling berkesan.

    Saya masih di Pekanbaru saat ini. Salam untuk keluarga.

  19. Nice post bro….Wah, betapa harunya bisa membangun mushola bersama warga.
    Sorry telat nih komennya.
    Btw, aku pernah nonton bola tuh di stadion Rumbai antara PSMS dan PSPS. Ayahku dulu pernah kerja di PTPN V Riau. Kantor pusatnya ada Pekanbaru. Sementara tinggalnya di perkebunan 100 km dari PKU.

  20. Kisah yang menyentuh, Da..

    Saya ga punya kesempatan pergi ke Duri seperti teman lain yang kebetulan pernah ke sana. Hanya pernah ke Perawang 4 hari, itu pun karena ada pekerjaan

Komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jawab dulu ya pertanyaan di bawah ini sebelum kirim komentar, biar tidak dianggap spam.. :) *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>