ranah3warna: buah kesabaran


Warning: Illegal string offset 'single_featured_image' in /home/hardiviz/public_html/wp-content/themes/confidence/content-single.php on line 69

Dengan tidak sabar kupacu sepeda motorku menuju rumah sahabatku, Nashran. Barang selundupan itu sangat menggoda keingintahuanku. Sudah cukup lama ia kunantikan. Tanpa basa basi, begitu sampai di depan rumahnya, langsung kutagih, “Mana barangnya?”. Nashran menjawab dengan tawa renyah, “Sabarlah… ayo masuk dulu“.

Sejurus kemudian, kami sudah berada di ruang kerja sahabatku itu. Tanpa menunggu lebih lama, Nashran pun melungsurkan “barang selundupan” yang kutanyakan tadi. “Nih, silahkan dinikmati“. Secepat kilat kuraih barang itu. Kutatap dalam-dalam bentuk depannya. Senyumanku mengembang seketika. “Pas betul“, bisikku. Tapi, begitu kubuka lebih lanjut, aku terdiam seribu bahasa. Pesan dari pengirimnya memang singkat, tapi makna yang ditinggalkan di hatiku, tidaklah sesingkat itu.

An, sepertinya Fuadi terlalu berlebihan“, ujarku kepada Nashran yang duduk di hadapanku. “Rasanya, tak banyak yang kuperbuat untuknya“. Dengan senyuman khasnya, Nashran menjawab, “Begitulah sahabat kita itu, pandai betul dia menghargai orang lain. Pantaslah kalau dia berada pada posisi seperti sekarang ini“. Akupun mengangguk, mengiyakan sepenuhnya.

Tak ingin berlama-lama di rumah Nashran, akupun segera pamit pulang. Aku ingin segera melahap novel terbaru sahabatku, Ahmad Fuadi, yang diberi judul “Ranah 3 Warna”, yang merupakan seri kedua dari trilogi Negeri 5 Menara. Meski aku sudah pernah membaca draft awalnya, tapi membaca dalam bentuk novel utuh tentu akan menghadirkan sensasi berbeda. Kali ini, aku akan menikmati hasil pergulatan panjang kawanku itu dalam menyusun novelnya tersebut.

Novel ini dibuka dengan apik. Persahabatan antara Alif dan Randai yang unik menjadi pembangkit emosi cerita. Mereka bersahabat baik, saling sokong dan sekaligus saling saing. “Dendam” Alif untuk mampu mengalahkan Randai disajikan secara baik. Fuadi pandai betul menggambarkan suasana, baik suasana hati si Alif maupun suasana kampung yang menjadi lokasinya. Aku hanyut dalam imajinasi Danau Maninjau nan sejuk dan teduh. Ah… benar-benar sebuah penggambaran yang kontras, antara keteduhan Danau Maninjau dan kemarahan Alif untuk memenangkan cita-citanya.

Sebagaimana kelok 44 yang turun-naik yang menjadi jalan penghubung Maninjau-Bukittinggi, emosi yang dibangun di sinipun turun naik. Suatu saat Alif berada pada puncak kebahagiaan tiara tara, lantaran keberhasilannya lulus UMPTN, tapi di saat yang tidak berselang lama, ia pun terjatuh ke dalam kesedihan yang luar biasa. Kehilangan ayahanda tercintanya untuk selama-lamanya merupakan salah satu plot cerita yang dahsyat. Fuadi merawikannya dengan cara yang tak biasa. Aku pun larut dalam kesedihannya. Aku meneteskan airmata.

Kesangsianku akan terpisahnya cerita di Negeri 5 Menara (N5M) dengan Ranah 3 Warna (R3W) ternyata tidak terbukti. Meski kehidupan di Pondok Madani (PM) yang menjadi latar utama cerita di N5M tidak dimuat secara eksplisit dalam R3W, namun aura PM tetap menjadi ruh utama novel ini. Perjalanan hidup Alif, seluruhnya diinspirasi dari pengalaman hidupnya selama di PM. Setiap persoalan yang dia hadapi, terjawab melalui ingatan-ingatannya akan petuah ajaib dari guru-guru dan kiainya di PM. Fuadi telah menjawab kesangsianku itu dengan sangat sempurna.

R3W secara keseluruhan bercerita tentang kehidupan Alif selama merantau menjadi mahasiswa di Bandung, kemudian mendapat kesempatan belajar ke Kanada dan singgah di Yordania. Ketiga ranah yang berbeda warna inilah yang menjadi inspirasinya.

Filosofi utama yang ingin disampaikan di sini adalah tentang kesabaran. Dari pengalaman hidupnya, Alif mengetahui bahwa ternyata mantra “Man Jadda Wajada“, barangsiapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil, tidaklah cukup. Ada mantra kedua yang mengiringinya, yaitu “Man Shabara Zhafira“, barang siapa yang bersabar akan sukses. Buah kesabaran inilah yang diceritakan secara baik oleh Fuadi di sini.

Keberhasilan yang diperoleh Alif sebagai buah dari kesabarannya menghadapi cobaan demi cobaan tersaji dengan utuh pada pertiga akhir novel. Dalam dua pertiga awal novel ini, Fuadi menceritakan bagaimana Alif jatuh bangun, bersusah payah, dan nyaris putus asa menghadapi kerumitan hidupnya. Namun mantra “man shabara zhafira” telah mampu menjawab itu semua.

Seharian kubaca novel itu, nyaris tanpa jeda. 

Kututup dengan senyum bangga dan bahagia. Kutatap dalam-dalam gambar sepatu hitam di sampul depannya. Sekarang aku benar-benar paham maksud dari peletakkan gambar itu.

Cerdas sekali kau, Sanak… :)


Warning: Illegal string offset 'author_box' in /home/hardiviz/public_html/wp-content/themes/confidence/content-single.php on line 93

22 comments on “ranah3warna: buah kesabaran

  1. yah ketinggalan, tidak bisa yang pertamax.

    tapi senang ternyata selundupannya bukan yang negatif, malah yang positif pangkat 3 deh. Yang ditunggu-tunggu ya Uda.
    Selamat untuk R3W

    EM

  2. “man shabara zhafira” aku akan bersabar sampai ke toko buku untuk membeli buku ini, atau sampai AF membuka penjualan OL (lagi) supaya bisa mendapat tanda tangan penulisnya…

    Sukses R3N! :)

  3. “Man Jadda Wajada“,
    “Man Shabara Zhafira“,

    Wah sepertinya akan ada mantra yang ke Tiga ya Uda … kan ini novel trilogi …

    waktunya hunting …
    sudah ada di TB belum ya …
    mudah-mudahan “barang selundupan” ini sudah ada disana :)

    salam saya Uda

  4. Aaahhh…!!! Tulisanmu ini secara sengaja dan cerdasnya membuat orang yang membaca jadi penasaran dan ingin cepat-cepat membaca R3W. Hiiihhh!!!

    Eh tapi, rasanya si Uda Fuadi itu tak berlebihan tentang sahabatnya. See? ;)

  5. aku mau ikutan hunting barang selundupan ini juga akh :)
    barang selundupan yang kuyakin, nantinya akan membuatku tak beranjak membaca nya hingga tuntas …….. :)
    salam

  6. Setelah membaca uraian ini,,
    Makin penasaran dengan trilogi ini,,
    Saya baru dengar kehebohannya diantara kasak-kusuk teman2 saya,, harus segera hunting :)

  7. btw ado anak payakumbuah, kelas 1 smp da, hebat dan unik anak tuh, tergila gila jo buku negeri lima menara dan sangat mengidam idamkan dapek ranah 3 warna, mkn akan surprise kalau nyo dapek dan ado tanda tangan penulisnyo hehehe.

    Anak ko selera membacanyo luar biasa, patang ko juara 1, imoe ajak ke gramedia untuk di kasih hadiah, nyo beli 5 novel dan 3 hari salasai wkwkwkwkw.

  8. ooo… ternyata barang selundupannya buku to? hehe. alinea pembukanya bikin penasaran. trus, aku jadi penasaran juga dengan buku selundupan itu. hehe.

  9. ada beberapa yang posting tentang novel ini tapi tak membuat hatiku untuk berniat membaca tapi setelah uda menulis ada kata-kata danau maninjau dan kelok 44 , kok saya jadi punya niat untuk membacanya.. Saya seperti tersihir membaca postingan ini. HMm coba nanti saya cari penulisnya, alias saya ingin bertemu penulisnya.

  10. rawian uda pun tak kalah piawai. jadi tak sabar untuk memiliki dan membaca bukunya. padahal saat-saat sekarang ini waktu untuk menikmati buku sudah jadi barang langka bagi saya.

    tak hanya pintar bercerita, dari sisi advertising dan pemasaran, si uda fuadi juga hebat. belum saja bukunya rilis, orang sudah tak sabar menanti. beruntung sekali orang yang berhasil memperoleh “selundupannya”.

    hmm… saya mengerti pesan gambar pertama dan kedua, uda. tapi apa maksud gambar yang ketiga, ya? hihi.

  11. Uda…tak sabar ingin beli bukunya…
    Tapi membaca ulasan Uda…betul nihh Uda Vizon nggak ada keinginan menulis buku? Saya yakin tulisan Uda sangat layak jual…
    Hayoo uda…ngomporin.com

  12. Pingback: negeri 5 menara, the movie | SURAU INYIAK

Komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jawab dulu ya pertanyaan di bawah ini sebelum kirim komentar, biar tidak dianggap spam.. :) *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>