nyarap yuk…!

Anda sedang berkunjung ke Jogja? Bingung cari sarapan? Atau bosan dengan sarapan di hotel? Barangkali, tiga di antara banyak tempat sarapan yang sering kukunjungi saban pagi, bisa menjadi alternatif bagi Anda. Ok, cekidot! :)

1. Lontong Sayur Uda Uni, Mandala Krida

Ketika awal kepindahanku ke Jogja, aku cukup bingung untuk mengadaptasikan lidah yang sudah terbiasa dengan santan kental dan pedas menyengat. Rumah makan Padang tentu menjadi sasaran awalku. Tapi, mohon maaf, hampir semuanya tidak sesuai dengan lidahku. Kebanyakan masakan Padang di warung-warung Padang itu telah men-Jawa, hehehe… :)

Sampai suatu ketika, tanpa sengaja aku melewati Stadion Mandala Krida ketika hendak bertolak menuju kampusku, dan melihat sebuah warung lontong sayur dengan judul: “Lontong Sayur Sumatera Uda-Uni”. Tanpa menunggu lebih lanjut, kucobalah menikmati sepiring lontong sayur tersebut. Ternyata… rasanya cucok markucok, hahaha… :D Sejak saat itu, akupun sering berkunjung ke sana.

Warung lontong sayur ini terletak di pelataran Stadion Mandala Krida, lebih kurang 10 menit dari Malioboro. Menu yang tersedia adalah lontong sayur, lontong pecel dan soto Padang. Bagi urang awak yang kebetulan sedang di Jogja dan lidahnya belum bersahabat dengan gudeg, lontong ini bolehlah jadi alternatif. Cukup dengan Rp. 4.000,- sepiring lontong sayur sudah dapat Anda nikmati.


Lontong Sayur Sumatera: Uda-Uni, Mandala Krida

2. Kupat Tahu Pak Budi, Kidul SGM

Setelah beberapa lama tinggal di Jogja, lidahku sudah bisa beradaptasi dengan masakan setempat. Maka, akupun semakin punya “keberanian” untuk mencoba beberapa masakan Jawa. Salah satunya adalah kupat tahu Pak Budi.

Warung ini terletak di perempatan Jl. Veteran-Kusumanegara, persis di selatan PT. Sari Husada, produsen susu SGM. Karena lokasinya tersebut, maka warung ini sering juga disebut dengan kupat tahu SGM. Untuk mencapai lokasi ini, dibutuhkan lebih kurang 20 menit dari Malioboro.

Isi dari kupat tahu tersebut adalah: ketupat (kupat), tahu putih goreng, irisan tempe bacem, tauge, irisan kol, dan taburan daun seledri serta kerupuk. Dan bahan khasnya adalah siraman kuah encer berwarna hitam dengan rasa pedas, asam, manis. Nano-nano ya? Tapi, dijamin maknyus deh, apalagi harganya juga cukup terjangkau, 5 ribu perak saja… :)


Kupat Tahu Pak Budi, kidul SGM

3. SGPC Bu Wiryo, Bulaksumur

SGPC adalah singkatan dari sego pecel a.k.a nasi pecel. Warung ini cukup terkenal di seantero Jogja. Letaknya di utara kampus Fakultas Peternakan UGM, di pinggir selokan Mataram. Warung ini sudah sangat melegenda. Makanan khasnya tentu saja nasi pecel yang tak kalah maknyus dibanding salad sayur di restoran siap saji yang diimport dari negaranya Obama… ;)

Karena letaknya di pinggir kampus UGM, tentu sangat mudah untuk menjangkaunya, lebih kurang 20 menit dari Malioboro. Di samping makanannya yang khas, warung ini juga memberikan sajian live musik yang sangat apik. Gubahan musik yang mantap dipadu dengan suara bening vokalisnya, menambah nikmat sajian makanan di warung ini.


SGPC Bu Wiryo dengan sajian khas dan live musiknya. (Gambar dipinjam dari sini)

Anda tertarik untuk mencobanya? Ayo, mari berkunjung ke Jogja dan nikmati sajian khas tersebut. Bingung mencari lokasinya? Anda tahu kemana harus bertanya… hahaha… :D

25 comments on “nyarap yuk…!

  1. Tiga Hal Uda …

    1. Landmark
    Uda ini jeli sekali menangkap kebutuhan pembacanya ..
    Mengapa saya katakan demikian … karena Uda selalu menyebut Malioboro sebagai tolok ukurnya … Asumsinya … turis domestik dari luar kota … pasti njujugnya ke Malioboro dulu … baru beredar kemana-mana.

    2. Selatan
    Aaahhhaaaa …
    Uda sudah mendarah daging di Yogya … sampai petunjuk arah pun memakai cara Yogya … menyebut mata angin … (hehehe)

    3. Kupat Tahu …
    Aaaarrrrggghhhh …

    Salam saya Uda

  2. tentu saja aku akan bertanya pada yg empunya Yogya… Kapan tapi ya bisa ke yogya lagi :D
    Semoga

    aku pengen coba lontong sayur dan kupat tahunya tuh…

    EM

  3. aq jd senyum2 bahagia pas baca SGPC Bu Wiryo ini coz waktu nge-lab berbulan2 di UGM daku plg srg makan di sana berdua diiringi live musiknya. makasih uda dah bkin ku sdikit bernostalgila :)

  4. yang suka dari djogdja itu ya harganya yang nggak nguras kantong. Untuk lontong sayur, kupat tahu dan nasi pecel seharga beberapa ribu rupiah saja sudah bikin perut kenyang, pasti menarik buat dicobain, apalagi kalau enak…

  5. Hmm… Kalau ke Jogja biasanya makan gudeg, atau masakan rumah ala bulik saya, ternyata ada banyak makanan lain rupanya. Yang menarik kayaknya kupat tahu ya, soalnya gak terlalu suka ketupat sayur Sumatera (lebih suka yg ala Jakarta), dan pecelnya masih kalah rame dgn yg ada di Purwokerto. Kira2 sama gak sih kupat tahunya dgn yg ada di Magelang?

  6. kangen sgpc bu wiryo so much…..
    bagi saya uda sgpc bu wiryo ga ada lawan..
    kalo yang lebih murah mah banyak..tapi yang lebih enak sedikit :)

  7. waduh, netes air liur lihat semua rekomendasi kuliner dari Inyiak…….. :)
    jadi, ……………. supaya gak nyasar ke tempat2 ini, bisa hubungi Inyak dan Uni Icha sebagai guide ya?
    *ngarep* :P
    salam

  8. Ehm….kalau orang Jakarta ke Yogya pasti nyari yang khas sini bro. Kalau ketupat tahu ya nyarinya ke Bandung. Terus, kalau lontong sayur ya di Jakarta, Padang atau Medan juga banyak. Jadi, ehm…..kalau ke Yogya mau makan apa ya? Sepertinya sambal belut yang dipenyet itu mantap deh. Kalo gak salah di daerah Bantul gitu atau Sleman.
    Btw, dikau mulai menjadi food reviewer juga rupanya. Selamat ya bro. Moga2 sakinah. He he…

  9. hohoho…tersenyum – senyum baca paragraf awal tulisan uda ini..kenapa??
    karena apa yang uda lakukan sama persis dengan apa yang sil lakukan ketika baru nyampe dibandung….

    setuju da, kalau sudah di pulau jawa rumah makan minang sudah kehilangan aslinya…
    rasanya sudah menyesuaikan…
    hehe….

  10. Ketiga jenis sarapan yang diceritakan Uda, saya belum pernah mencoba semuanya … :(
    Lontong sayur yang juga pernah diceritakan Uda, yang di halaman Puro Pakualaman, saya sudah nyoba, dan memang enak :)

    Btw, Uda kok nyarap di luar, memang Uni Icha nggak masak? *usil* :D

  11. mestinya di awal tulisan ada warning begini:

    “dilarang membaca tulisan ini dalam keadaan lapar!”

    karena akibatnya bisa fatal seperti yang saya alami saat ini. sudah kedinginan, mata mengantuk, perut kriuk2, ngeliatin foto makanan yang bikin semakin sengsara apalagi makanan itu adalah favorit semua huhuhu … *nelenairliur*

  12. Uda…bikin kangen…..
    Tulisan yang menarik Uda…tak kirim buat ponakanku ya, selama 5 bulan ini dia job training di Kantor Wilayah Yogya.

  13. setuju banget sama om nh, uda udah menjogja. haha.

    ulasannya lengkap deh, saking lengkapnya (disertai foto-foto yang molek menggoda pula), saya pun jadi lapar. litak mato sebenarnya, karena sesungguhnya perut saya sudah kenyang. kan baru maksi. dan apa yang lebih berbahaya selain litak mato? hm…

  14. baru pernah nyobain satu: SGPC. kalau saya sih lebih suka pecel Madiun hihihi… tapi pasti jauh ya, wong mau nyarapnya di Jogja kok mesti ke Madiun dulu :p keburu pingsan di jalan. :))

Komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


− 4 = 1

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>