surat untuk papa

“Hidup tidak datang dengan buku panduan—itulah mengapa kita mempunyai seorang ayah” (Vijay Batra)

Pa, apa kabar? Sulit rasanya bagiku menguntai kata-kata untukmu. Bukan karena aku tak mampu. Tapi, karena kita tak pernah melakukannya. Sebagai sesama lelaki, sepertinya janggal bagi kita untuk bermanis-manis dalam jalinan kalimat mendayu-dayu. Bukankah hubungan kita selama ini juga berjalan seperti itu? Kita sedikit bicara, banyak kerja.

Tapi Pa, kali ini aku ingin menuliskan apa yang kurasakan dalam hubungan kita. Aku ingin, ini menjadi dokumentasi abadi dalam hidup kita.

Pa…

Aku sangat tahu kalau Papa bukanlah seorang akademisi yang mampu menelurkan aneka teori soal mendidik anak. Aku sangat tahu, kalau dirimu tidak pernah merekayasa apapun dalam hidupku. Dan aku sangat tahu, bahwa semua yang Papa lakukan untukku, keluar dari lubuk hatimu yang paling dalam. Bagiku, itulah teori yang paling murni, yang lahir dari keluhuran budi dan ketulusan hati.

Pa… kata para ahli, anak laki-laki akan menjadikan ayahnya sebagai model utama dalam hidupnya. Dari ayahnya, seorang anak laki-laki akan belajar banyak hal tentang bagaimana menjadi lelaki. Anak laki-laki yang dirawat dan mendapat sentuhan fisik ayah, dapat menerima diri secara positif dan merasa aman dengan maskulinitasnya. Dan itulah yang kudapatkan darimu.

Ok, beberapa hal akan aku urai di sini, agar Papa semakin jelas dengan apa yang kumaksud. Biar lebih asyik, mintalah Mama untuk membuatkan secangkir kopi kesukaanmu dan nyalakanlah rokok kretek favoritmu itu. Tapi, jangan banyak-banyak merokoknya ya, kasian tuh paru-paru…

*********************

Lho, lho, lho… ada apa ini? Kok ujug-ujug aku nulis surat seperti itu? Jangan bilang ya kalau aku tengah membuat sebuah tulisan fiksi. Kalimat-kalimat di atas memang bagian awal dari suratku untuk Papaku tercinta.

Lantas, mengapa tiba-tiba aku menuliskan surat itu?

Semua ini gara-gara si Lala Purwono a.k.a Jeunglala. Dialah yang telah memprovokasi diriku untuk menuliskannya. Lala di akun twitternya meminta kepada sahabat-sahabatnya untuk menuliskan surat untuk ayah mereka masing-masing dan menerbitkannya dalam sebuah buku yang diberi tajuk “Dear Papa: Kumpulan surat cinta untuk Ayah dari anak-anaknya

Sampai batas waktu yang ditentukan, ternyata banyak sekali naskah yang masuk. Sehingga akhirnya, buku itu pun dibagi dalam 6 seri. Suratku di atas, masuk dalam seri ke 6 bersama beberapa sahabat narablog lainnya. Di antara mereka adalah, Daniel Mahendra, Yessy Muchtar, Donny Verdian dan Lala Purwono sendiri tentunya. Totalnya, ada 22 tulisan yang termuat di buku ke 6 tersebut.

Ini dia kover depan buku tersebut:

Dear Papa buku 6 

Penasaran dengan kelanjutan suratku untuk Papa di atas? Beli ya bukunya. Gampang kok caranya. Silahkan klik tautan berikut ini: http://nulisbuku.com/books/view/dearpapa-buku-6

Buku ini sepenuhnya adalah proyek amal. Keuntungan dari penjualannya, seluruhnya akan disumbangkan ke salah satu Panti Jompo di Surabaya. Jadi, belanja sambil beramal, gitu ceritanya, hahaha… :D

Ok, kami tunggu ya kehadiran sahabat semua di www.nulisbuku.com. It’s just a nother way to do well

Buat Lala… terima kasih sudah membuat proyek ini. That means alot for me…

36 comments on “surat untuk papa

  1. K.E.R.E.E.E.E.N.N.N..!!!

    tulisan inyiak ada di buku bersama penulis hebat lainnya, Alhamdulillah.

  2. waktu di Gontor dulu, sering juga menulis surat ke rumah. Meski hanya basa-basi ingin dikirimkan uang saku, tapi kadang bisa sampai 5 lembar juga nulisnya. :)

  3. Dear Uda,

    Asal Uda tahu, pertamaa kali mencetuskan ide menulis surat cinta buat Ayah lalu mengkompilasinya dalam buku adalah terinspirasi darimu. Aku ingat betul dengan kata2mu ktentang fungsi Ayah yg hampir terlupakan dari tulisan2 kita selama ini. Yes, itu kenapa aku membuat #dearPapa ini. Karena sudah waktunya Ayah tahu seberapa besar cinta anak2nya untuknya :)

    Jadi, Uda. Makanya aku memaksa dirimu untuk ikut. Karena aku tahu, tulisanmu pasti sangat bernyawa. Dan aku benar! :) tulisanmu emang ciamik :)

    Ah, terimakasih, Uda..

  4. Ini sebuah inisiatif yang sangat saya pujikan …

    Dan Lala benar …
    Uda yang saya kenal … adalah Uda yang dari dulu mengobarkan semangat untuk juga mengedepankan peran ayah dalam membina keluarga …

    Ambil Raport di sekolah … aktif di kegiatan Komite Sekolah … menjadi pendamping ketika ada kegiatan anak-anak …

    Sudah selayaknya para Ayah untuk ikut serta dalam pendidikan putra putrinya …

    Jangan bilang … ” lho saya kan urusannya cari duit …” masalah pendidikan dan ngurus anak-anak itukan urusannya Ibu …”

    Ini salah besar …
    Ayah juga harus ikut berperan dalam hal ini …

    Once again …
    Ini sebuah inisiatif yang sangat saya Pujikan

    Bravo Lala
    Bravo Uda …

  5. hebat dan keren, Nyiak.
    tulisan Inyiak dibukukan, terlebih lagi ini utk kegiatan amal.
    benar2 suatu contoh yang patut ditiru.
    sukses selalu ya Nyiak :)
    salam

  6. wow…selamat ya uda…!!
    nanti coba tak liat2 deh hehehehehe…

    habis baca email dari uda langsung melesat kesini :D

  7. Tiada kata yang paling indah selain mengucapkan…
    SUBHANALLOHU…
    Tulisan Mas, memberikan sebuah inspirasi kepada saya, Inspirasi sebuah pendekatan hati kepada AYAH.
    Ayah sekaligus Orang Tua kita, harus kita hormati, harus kita santun kepada nya. Dan tetap kita doakan setiap hari agar kita mejadi anak yang berbakti. Seperti yang sudah diajarkan Agama kita. Silahka berkunjung ke blogs yang saya miliki, berikan kritik maupun saran yang membangun demi perbaikan blogs tersebut. Terima kasih

  8. Sama seperti HP di atas, aku waktu di pondok juga sering menulis surat setiap bulan ke ayah. Biasanya sih setiap abis menerima wesel. Tapi nggak banyak2, cuma 2-3 halaman saja. Sepertinya anak2 pondok yang luar Jawa melakukan ini semua.

  9. aku tinggal paling lama dengan papaku,karena orang tua bercerai sejak aku masih umur 1 tahun.

    tapi kayaknya paling jarang ngobrol juga sama beliau,karena beliau jarang menyempatkan ngobrol dengan kami anak2nya…

    btw uda,minta doanya ya,lagi persiapan nih,kalau bisa datang dong di bukittinggi ,undangannya ada di blogku :)

  10. Wah … saya tidak tahu ada ajakan nulis surat untuk papa oleh Lala (makanya, bikin akun twitter dong … :D ).

    Saya setuju dengan komentar Om Nh, Uda adalah contoh seorang ayah yang sangat peduli pada anak-anak dan keluarga, dan selalu menyuarakan pentingnya peran ayah. Selamat ya Da, saya mau pesen bukunya ah … :)

  11. aku jadi ingin menyuruh anak2 sesekali menuliskan surat untukku… membayangkan apa yg akan ditulisnya ya.. ?

    anyway…

    Uda dan penulis lainnya…… KERENNNN…. !!!

  12. barusan mampir dr tempat mas doni trus ke tempat uda vison ni..wah ternyata banyak blogger yang jadi penulis hebat ya! sukses buat projectnya…

  13. Hebat Uda….

    Jadi ingat ayahku, yang setiap minggu menunggu kiriman surat dari pak Pos, karena itu satu2nya penghubung dengan anak-anaknya yang kuliah jauh.
    Adik bungsuku, laki-laki, karena melihat kondisi ayahnya seperti ini, setiap sore menunggu pak pos, saat dia juga sudah kuliah di luar kota, berusaha untuk menulis surat setiap minggu.

    Suatu hari, saat libur kuliah, saya kaget mendengar ayah terbahak-bahak, rupanya membaca surat dari adikku. Cerita adikku sederhana, merupakan cerita sehari-hari, pengalaman seminggu, namun dia pandai bercerita.

    Ahh Uda, saya jadi kangen almarhum ayahku.

  14. wuaaaa….karya yang sangat luar biasa, Om.

    Melihat sampulnya saja udah sangat berkesan, bagaimana dengan isi didalamnya.

  15. Salam persohiblogan
    Daku kembali menyapamu kawan
    Kembali ke dunia yang penuh persahabatan ini
    Rindu rasanya
    Ada puisi anget untukmu :)

    Baru saja ayahku pulang, setelah berkunjung sejak kemarin siang :)

  16. Bener da, yang kita dapat dari seorang Ayah adalah Jiwa Maskulin dan ketegasan nya, dan anak laki memang nggak bisa bermanis2an dengan Ayah..itu adalah Hukum Alam…wkwk..salam balik ya da

  17. uda.. jadi terharu baca ini.. pasti cari bukunya, walau uda tau gimana susahnya cari buku bagus disini.. hiks.. but, now we can do it by online shop, right!!!

    banyak belajar dari uda dan icha..

    kami juga sangat.. sangat.. sangat mencintai ayah..
    mudah2an anak2 ku nanti bisa tetap merasakan kasih sayang ayah mereka.. whatever.. wherever..
    *wink2.. mohon do’a da..

  18. Pingback: SURAU INYIAK » Blog Archive » ayahku (bukan) pembohong

  19. Pingback: surat untuk mama | SURAU INYIAK

  20. Pingback: baralek gadang…! | SURAU INYIAK

Komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jawab dulu ya pertanyaan di bawah ini sebelum kirim komentar, biar tidak dianggap spam.. :) *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>