naik-turun? siap dong..!


Warning: Illegal string offset 'single_featured_image' in /home/hardiviz/public_html/wp-content/themes/confidence/content-single.php on line 69

Siap memimpin, dan siap dipimpin“, adalah kalimat yang sering aku dengar ketika nyantri dulu. Hampir di setiap kesempatan, Pak Kyai mengembuskan kalimat itu ke alam pikiran kami. Dan bahkan, hampir di setiap sudut pondok, kami temukan hiasan-hiasan bertuliskan kalimat seperti itu. Dulu, kalimat itu tidak terlalu membekas di benakku, tapi seiring dengan bertambahnya usia dan pengalaman, kalimat itu terasa sekali manfaat dan kebenarannya.

Secara lebih luas, kalimat itu bermakna bahwa kita harus selalu siap berada dalam situasi dan kondisi apapun. Jika hari ini kita sebagai pemuncak, maka sediakan diri jika besok harus berada pada posisi terbawah. Jika sekarang kita mampu makan di restoran mewah, maka siapkan diri jika nanti hanya sanggup makan di angkringan. Dan jika saat ini bisa naik pesawat, maka persiapkan diri jika sebentar lagi hanya bisa beli tiket kereta api kelas ekonomi.

Hidup bagai roda pedati, kadang di atas kadang di bawah“, begitu kira-kira petuah nenek moyang kita. Hal ini mengisyaratkan bahwa apapun yang kita miliki di dunia ini, tidak ada yang abadi. Jiwa yang senantiasa ikhlas dan bersyukur lah yang mampu melewati segala kenyataan hidup ini dengan baik dan sukses. Caranya? Tidak merasa pongah ketika berada di atas, dan tidak merasa terpuruk ketika harus turun ke peringkat terbawah.

Prinsip semacam ini seharusnya disadari dan dianut oleh para pemimpin negeri ini. Ketika roda kehidupan mengharuskannya untuk turun ke bawah dan menjadi yang dipimpin, maka ketundukan dan keikhlasan mengikuti segala aturan main sangat dibutuhkan. Sayangnya, sering kita temukan kenyataan bahwa para mantan pemimpin itu justru menjadi pihak yang merongrong dan berusaha untuk merebut kembali tampuk kekuasaan. Kasihan sekali mereka, hidup harus berletih-letih hanya demi pemenuhan ambisi semata.

Ini ada apa, kok aku tiba-tiba jadi sok serius begini? Hehehe… :)

Ini hanya karena pada hari Minggu, 24 April 2011 kemarin aku mengalami peristiwa yang menurutku sedikit lucu dan norak.

Karena kebaikan seorang kawan, aku bisa menumpang maskapai terbesar negeri ini dari Jogja menuju Jakarta dengan kelas bisnis. Aku duduk di deretan kursi nomer 1 bersama 12 orang lainnya dengan lebel “eksekutif”. Mulai dari ruang chek-in, sampai mendarat di Jakarta, aku mendapat perlakuan yang sangat istimewa dan mewah. Bagiku yang biasanya hanya bisa naik maskapai swasta dengan kelas promo, tentu saja hal ini sangat luar biasa. Rasanya, aku sudah menjadi orang yang sangat penting kala itu. Norak bukan? :D

Namun, tidak lama berselang, hanya sekitar dua jam berikutnya, akupun “turun kelas” secara drastis. Untuk perjalanan Jakarta-Bengkulu, aku menumpang salah satu maskapai swasta dengan kelas promo dan mendapat tempat duduk paling belakang, dekat toilet pulak, hahaha… sungguh mengenaskan. Layanan super ramah dari awak kabin di kelas eksekutif tadi, sekarang berganti dengan layanan ala kadarnya..

Sepanjang perjalanan Bengkulu-Curup aku merenung, ternyata, naik-turun dalam hidup ini sangat mudah, semudah kita membalikan telapak tangan.. :)

Sebagai penutup, aku kutipkan kalimat dari Imam Ghazali, lebih kurang begini: “Tersenyumlah ketika kamu tengah mendaki, karena sebentar lagi akan kau temui jalan menurun. Tapi, waspadalah ketika kamu tengah menurun, karena tak lama lagi akan kau lewati jalan mendaki


Warning: Illegal string offset 'author_box' in /home/hardiviz/public_html/wp-content/themes/confidence/content-single.php on line 93

10 comments on “naik-turun? siap dong..!

  1. dan seharusnya pelayanan itu tidak berubah
    baik di kelas eksekutif maupun ekonomi ataupun kelas kambing
    itulah hospitality sebenarnya
    dan itu hanya bisa didapat di Jepang ;)

    EM

    • saya kira untuk hal ini wajar kalau pelayanannya berbeda ….

      misalnya …
      yang satu pilihannya cuma air mineral dalam gelas
      yang lain pilihannya lebih banyak …
      kan bayarnya juga berbeda …
      kelasnya pun juga berbeda …
      so wajar saja bukan …

      kalau senyum yang berkurang … ?
      naaahhh ini yang ndak boleh dibedakan …
      hahahaha …

      salam saya

      • oh, kalau pilihan itu kan semua sudah tahu.

        Mana mungkin beli karcis ekonomi mengharapkan dapat kursi yang bisa tidur, wine, makan lengkap dengan piring kaca (bukan plastik kayak di ekonomi).
        Ada harga ada barang/mutu.

        Tapi pelayanan BAHASA dan TINDAKAN itulah dasar dari hospitality.

        Satu-satunya negara yang menyambut semua tamu dengan bahasa “kromo inggil”nya hanya di Jepang. Dan dibungkukin terus sampai tamunya pergi :)
        Bukan mau pamer, tapi itu kenyataan.

  2. Yang jelas …
    Kalau menurut saya …
    Biarlah ini menjadi santapan rohani kita …
    kita pernah merasakan santap di Istana
    kita pun pernah merasakan santap di warung merana

    dan ini (saya kira) menperkaya bathin kita Uda …

    Salam saya

  3. Aha pembelajaran yang menakjubkan cuma dari strata kursi pesawat ya, Uda? :)

    Sip2.. aku juga pernah dapet upgrade ke Business class.. wah rasanya sumringah… :)

  4. Itulah hidup, kadang ada diatas, kadang ada pula dibawah :D
    Itu gimana mas rasanya duduk dekat toilet?
    Wadow..gak kebayang deh baunya kayak apa, hahahaha… :D

  5. dari hal2 sehari2 yg kita temui setiap hari, ada banyak pelajaran yg bisa dipetik, ya uda. tapi kalau mendapat kesempatan untuk duduk di kelas bisnis, itu sih asyik banget :)

  6. Uda,
    Renungan yang sungguh indah
    Semakin kesini, saya semakin paham bahwa naik turun itu begitu mudahnya, juga orang yang sehat walafiat, tiba-tiba jatuh sakit.
    Hmm..kita memang harus belajar menerima kondisi apapun ..

  7. bener da, hidup ini bak roda pedati kadang dia ada di atas dan kadang di bawah.. kalo kita pernah di atas kita harus siap juga menghadapin Hidup di bawah dengan Tawakal..amiiin

Komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jawab dulu ya pertanyaan di bawah ini sebelum kirim komentar, biar tidak dianggap spam.. :) *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>