Ketika kesenangan berubah jadi malapetaka


Warning: Illegal string offset 'single_featured_image' in /home/hardiviz/public_html/wp-content/themes/confidence/content-single.php on line 69

Minggu, 15 Mei 2011, dengan niat merayakan ulangtahun anak ketigaku, Ajib, aku mengajak anak-anak berenang ke Grand Puri Water Park, sebuah kolam renang baru yang tidak jauh dari rumah. Kolam renang ini terletak di depan Pasar Seni Gabusan, Jl. Parangtritis, Bantul. Kolam renang ini benar-benar baru, karena grand lauchingnya baru pada tanggal 2 Mei 2011 yang lalu.

Sebagaimana waterpark lainnya, wahana yang tersedia tidak terlalu berbeda. Ada kolam batita sedalam 0,4 meter lengkap dengan air tumpahnya, ada kolam anak dengan kedalaman 1 meter, ada juga kolam arus dan kolam dewasa dengan kedalaman 1,5 meter. Salah satu pelengkap yang tidak bisa ketinggalan adalah seluncuran setinggi 12 meter. Karena masih baru, maka semua fasilitas masih sangat baik, semoga tetap bisa dipertahankan.

Ternyata, di sana aku bertemu dengan sahabat-sahabatku beserta keluarga mereka, sebut saja namanya Arif dan Ahmad. Kamipun bergabung, sehingga acara bermain air kala itu jadi semakin seru. Anak-anak kami berbaur satu sama lain. Mereka memang sudah saling kenal, karena kami kerap bertemu dalam berbagai kesempatan.

Jelang zuhur, aku menghentikan kegiatan bermain air tersebut dan mengajak anak-anak untuk istirahat sambil makan di kantin yang tersedia. Oya, di sini pengunjung dilarang membawa makanan dari luar, bahkan air putih pun tidak boleh. Sebuah monopoli yang eileykhan tentunya, hahaha… :D

Tengah asyik menikmati makan siang kami tersebut, istriku melihat Ahmad berlari-lari kecil, terbersit sedikit kecurigaan, ada apa gerangan? Sejurus kemudian terdengar teriakan dari kolam dewasa dan tanpa dikomando, orang-orang berkerumun pada satu titik. Sudah dapat ditebak, telah terjadi kecelakaan di sana. Aku yang tengah melahap makan siangku, hanya melongok sebentar dan balik lagi melanjutkan makan. Pikirku, tidak mungkin itu anakku, karena mereka semua sedang menikmati makan bersama, lagian pasti sekarang si korban sudah berada di tangan yang tepat. Bukankah di arena bermain air ini sudah dipersiapkan tenaga-tenaga ahli yang selalu bersedia dengan kondisi gawat kapanpun?

Tak lama kemudian, Mbak Ira, istri sahabatku Arif lewat di dekat kami dan berkata: “Da, anaknya Mas Ahmad kelelep”

“Astaghfirullah”, aku kaget luar biasa. Ternyata, yang menjadi korban adalah anak sahabatku sendiri. Rupanya, dia berlarian tadi itu adalah karena mengejar anaknya sendiri. Aku benar-benar merasa bersalah. Sepertinya aku tidak punya rasa empati sedikitpun.

Tanpa perlu bertanya lebih lanjut, segera kususul ke tempat kejadian tadi. Sesampai di sana, aku tidak menemukan apapun, karena si korban sudah dilarikan ke rumah sakit terdekat, dengan ditemani kedua orangtuanya.

Segera kuminta anak-anak untuk menyelesaikan makan siang mereka dan mengantar mereka pulang. Setelah semua beres, kukontak sahabatku Arif untuk bersama berangkat ke rumah sakit melihat keadaan anak sahabat kami tadi. Sesampai di rumah sakit, kulihat si anak sudah ditangani dengan baik oleh dokter. Meski belum sepenuhnya sadar, tapi sebagian besar air yang terminum olehnya telah keluar.

Dari cerita sang Ayah, kuketahui bahwa ternyata si anak tercebur ke kolam dewasa dan ditemukan sudah mengapung dan membiru. Barangkali karena ramainya pengunjung, anak yang tercebur tidak diketahui secara langsung. Untung ada yang memiliki kemampuan penanganan awal, sehingga si anak segera bisa sadar dari pingsannya.

Lantas, kemana orangtuanya ketika kejadian? Di sinilah letak kecerobohannya. Karena si anak dianggap sudah bisa berenang, maka orangtuanya membiarkannya bermain sendiri tanpa pengawasan. Tapi mereka lupa, kalau si anak masih berumur 7 tahun dan baru hanya bisa berenang di kolam anak, bukan di kolam dewasa. Dan, karena lemahnya pengawasan dari orangtua inilah, malapetaka tadi terjadi.

Kejadian ini memberiku pelajaran, bahwa ketika bermain di ruang publik bersama anak, pengawasan haruslah ketat, terutama bagi anak usia 10 tahun ke bawah. Karena kapan saja bahaya bisa mengancam mereka. Jangan sampai, kesenangan yang ingin kita berikan kepada anak berubah menjadi malapetaka.

Dan satu lagi pelajarannya, kalau ada kejadian di tempat keramaian yang kita ada di dalamnya, segeralah lihat. Bisa saja kita sangat yakin kalau yang jadi korban bukan anggota keluarga kita, tapi kita tidak pernah tahu kalau yang menimpa itu adalah anggota keluarga dari kenalan kita…

 


Warning: Illegal string offset 'author_box' in /home/hardiviz/public_html/wp-content/themes/confidence/content-single.php on line 93

17 comments on “Ketika kesenangan berubah jadi malapetaka

  1. Deuh, aku kaget mbaca tweetmu tadi pagi dan sekarang jelas di postingan ini.

    Orang tua yang lalai seperti itu, kalau di Australia bisa dihukum berat, Uda… dan anaknya langsung diambil alih negara karena terbukti ortunya tak bisa mengasuh anaknya dengan baik.

    Untung itu terjadi di Indonesia :)

  2. duh, benar2 harus ekstra hati ya Nyiak, ketika membawa anak2 ke tempat rekreasi, kita memang hrs tetap waspada, krn anak2 kalau sudah bermain, lupa pada bahaya yg mengancam.
    duh, semoga anaknya temen Inyiak segera sehat segar kembali ,amin
    salam

  3. Ini bisa menjadi pembelajaran bagi kita semua …
    untuk meningkatkan pengawasan pada anak-anak kita terutama di ruang publik …

    Terima kasih Uda …
    Ini mengingatkan kita semua

    Salam saya

  4. wah Uda, saya baru mau mencoba ke Gabusan lho. :p

    Setelah membaca artikel Uda ini, saya akan lebih mawas dan waspada kalau misalnya sedang berenang di kolam dewasa dan ada anak-anak yang juga berenang disana, entah sudah mahir atau pakai pelampung.

    Sebetulnya tidak hanya anak-anak saja, namun orang dewasa juga bisa kena, misalnya kalau tiba-tiba kram kaki saat berenang. Duh…

  5. Oh Uda… itu aku selalu tanamkan pada diriku, karena kecelakaan sebetulnya masih bisa dihindari. Makanya aku jarang pergi bermain ke luar kalau aku tidak yakin aku bisa menjaga anak-anakku. Apalagi aku tidak bisa berenang.

    Kalau kita sudah awasi dan masih terjadi kecelakaan itu mungkin sudah takdir. Seperti kejadian di Jepang, sang anak berlari di kolam renang, terpeleset dan kepalanya kena pinggiran kolam… mati. :(

    Bermain air di manapun (kolam, sungai atau pantai) memang menyenangkan, tapi resiko kecelakaan amat tinggi :)

    Semoga anaknya Mas Ahmad bisa pulih, dan tidak trauma dgn air.

    EM

  6. waduh, acara bersenang-senang jadi tidak mengenakkan ya Uda.

    aku kadang lihat ada anak2 yg dibiarkan bermain sendiri oleh orang tuanya. entah itu di kolam renang, di mall, dll. orang tuanya kadang tak terlihat. jadi bingung deh, ini orang tuanya pada ke mana sih?

    semoga anak bung ahmad itu cepat baik ya. dan ini bisa jadi pelajaran siapa saja..

  7. Terlepas dari luputnya pengawasan orangtua yang ceroboh, di mana pengawas kolam renang? Biasanya di water park sekalipun tetap ada pengawasnya yang matanya nyaris tak pernah lepas memperhatikan kegiatan di kolam dan sekitar.

    Sebagai tempat baru, ini bisa jadi semacam preseden buruk dalam segi keamanan. Apalagi launching-nya masih di awal Mei lalu. Belum sebulan sudah ada kejadian yang mengkhawatirkan. Untunglah si anak masih bisa diselamatkan.

    Dan Uda, sedang makan apa ketika kejadian itu terjadi? Kok kayaknya nikmat sekali :D

    (ini bukan usaha untuk membuatmu tambah bersalah lho. Cuma nanya :p )

  8. waduh… ceritanya sangat memberikan pelajaran bagi kita selaku orang tua. karena anak adalah investasi kita di masa akan datang…pengawasan orang tua memang harus diberikan ketika mereka bermain baik di lingkungan yang kita anggap aman sekalipun… anak2 seusia itu belum memiliki self protective yang cukup. terima kasih pengalamannya semoga bisa menjadikan pelajaran bagi orang tua… maksud ingin memberikan kesenangan malah menjadi kesedihan….

  9. Pelajaran untuk diri sendiri agar tidak terlalu asyik dengan kita tanpa terus mengamati dan memperhatikan anak2 kita yang sedang bermain. Mengelus dada karena saya pun sering terlalu asyik dengan diri sendiri. Terima kasih, Uda, sudah mengingatkan.

  10. sungguh mengasyikkan bisa jalan2 bersama dengan keluarga di waktu liburan, apalagi ditemani anak2. memang benar, kok, mas vizon, maksud berekreasi bisa jadi berubah buruk kalau tdk disertai dengan kewaspaan terhadap perilaku anak2 yang masih butuh pengawasan dan pendampingan.

  11. jadi inget ama berita yang aku tonton beberapa hari yang lalu.. banyak terjadi kecelakaan saat anak tidak diawasi oleh orang tua nya..terkadang org tua lengah, dengan menganggap si anak udah mampu dan tidak perlu di awasi lagi….

    semoga ini bisa menjadi pelajaran buat kita ya uda.. :)

  12. Anak-anak seringkali sukar ditebak tingkah lakunya.. kadang mereka tergoda untuk berbuat lebih jauh tanpa memikirkan akibatnya.. sepertinya pengawasan dan perhatian orangtua mutlak diperlukan ya Uda… jadi ngeri sendiri ngebayangin jaman sekarang di mana banyak orang lebih fokus pada HP canggih di tangannya daripada pada anak-anak/keluarga dan waktu berharga bersama mereka..

    Semoga anaknya Mas Ahmad segera pulih dari traumanya… dan Mas Ahmad dan istri semakin waspada..

  13. kalau menurut aku ya mau anak umurnya dibawah 10 tahun ataupun keatas harus juga diawasi meskipun mereka dah mengerti bahaya atau tidak,dan yg paling penting harus ada kontak batin antara orang tua dan anak dan sebelum masuk ketempat yg kita tuju anak jg semestinya diberi penjelasan dan pengertian.ini adalah pelajaran buat kita orang tua dan anak2 kita makasih….

  14. ..
    jadi ceritanya gak hanya bisa bersenang-senang saja, tapi juga dapet pelajaran yang berharga ya Uda..
    ..
    sebenarnya setiap keluar rumah pasti ada resiko bahaya yang mengancam, tapi itu lebih baik daripada terus-terusan di dalam rumah..
    menurut orang2 tua, kita musti eling lan waspodo..
    ..

  15. Sedih…semoga anak sahabatnya Uda tertolong ya…
    Kita memang tak bisa mengandalkan bahwa keamanan pasti beres, karena orangtua tetap bertanggung jawab pada anak-anaknya sendiri, selain pada anak yang lain.

    Uda tak bersalah, karena pasti membayangkan sistim keamanan lingkungan tsb terjamin. Namun ini jadi pembelajaran agar kita tetap hati-hati.

Komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jawab dulu ya pertanyaan di bawah ini sebelum kirim komentar, biar tidak dianggap spam.. :) *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>