lelaki perkasa


Warning: Illegal string offset 'single_featured_image' in /home/hardiviz/public_html/wp-content/themes/confidence/content-single.php on line 69

Secara umum kita akan mengatakan bahwa lelaki perkasa itu adalah yang memiliki otot-otot menonjol, six packs, atau tanda-tanda jasmaniah lainnya. Namun menurutku, lelaki perkasa itu adalah yang berani bertanggungjawab atas segala perbuatannya. Kesimpulanku itu kuhasilkan dari obrolan bersama seorang kawan tempo hari. Dia yang secara fisik terlihat sangat kekar, ditambah wajah yang lumayan sangar, ternyata memiliki sebuah “keperkasaan” yang sesungguhnya, yakni TANGGUNGJAWAB.

Sebut saja namanya Wawan, seorang pria beristri satu dengan dua orang anak. Pekerjaannya sebagai supir membuatnya jarang berada di rumah. Kondisi itu ternyata menjadi awal malapetaka di rumah tangganya. Pertengkaran yang acap kali terjadi antara dirinya dan istri, membuatnya menghalalkan perselingkuhan. Singkat cerita, dia pun punya anak dari perempuan lain yang bukan istrinya.

Kesalahan yang dia lakukan ini, berbuah kemarahan di keluarga besarnya. Keduaorangtuanya dan saudara-saudaranya lantas mengucilkannya. Kemaran terbesar tentu datang dari sang istri. Perceraian pun tak terelakkan lagi.

Lantas, di mana letak ceritanya sampai aku bisa menyimpulkan bahwa Wawan adalah lelaki perkasa yang sesungguhnya?

Begini:

Beberapa malam kemarin, dia mendatangiku, memintaku untuk mengantarkannya pada pernikahannya dengan perempuan tadi, yang akan diselenggarakan tidak lama lagi. Dia bercerita panjang lebar mengenai kesalahan yang dia perbuat. Salah satu yang membuatku tergetar adalah bahwa ternyata keluarga besarnya tidak mau tau dengan urusannya tersebut, dan tidak satupun dari mereka yang sudi mengantarkannya ke acara pernikahan itu. Bahkan, jauh-jauh hari mereka sudah memaksa Wawan untuk meninggalkan saja perempuan itu. Toh tidak ada yang memaksanya untuk menikahi perempuan tersebut, meskipun ada anak yang lahir dari rahimnya.

Mana mungkin aku mengingkari anak itu, Mas. Lha wong jelas itu anakku“, Wawan berkata dengan nada penuh emosi.

Ya, kan Mas bisa tetap menafkahi anak itu, dan tidak mesti menikahi ibunya?“, aku mencoba memancingnya.

Kebutuhan anak itu kan bukan sekedar nafkah, Mas. Tapi dia juga butuh status yang jelas secara hukum“.

Tapi, dengan Mas menikahi ibunya, sampeyan juga sudah mengorbankan keluarga yang di sini

Ya, gak apa-apa, toh anakku yang di sini sudah jelas statusnya secara hukum. Biar saja aku pisah dengan ibu mereka. Lha wong ibu mereka tidak mau memaafkanku, mau gimana lagi?

Berarti Mas tidak sayang dong sama anak yang di sini?

Siapa bilang tidak? Saya justru sangat menyayangi dan bertanggung jawab terhadap semua anak saya, baik yang di sini maupun yang di sana. Yang di sini adalah anak saya, dan yang di sana juga anak saya. Mereka semua harus mendapatkan perlakuan yang sama dari saya“.

Lha, kan sampeyan mendapatkan anak yang di sana dengan cara salah“.

Makanya, saya tidak mau menambah kesalahan dengan menelantarkannya, baik secara nafkah maupun status. Saya harus bertanggungjawab, Mas“.

Luar biasa… aku tidak menyangka, orang seperti Wawan bisa memiliki pemikiran yang seperti itu. Sementara banyak lelaki yang tidak mau bertanggungjawab atas perbuatan asusilanya, dia tetap kukuh dengan pendiriannya. Baginya, anak yang terlahir dari rahim perempuan yang dia gauli secara tidak halal itu, adalah tetap anak kandungnya dan dia bertanggungjawab atas hidup sang anak. Ini yang hebat dan aku patut mengacungi dua jempol untuknya. Dia telah melakukan hal yang benar dalam kesalahannya.

Maka, wajar kan jika aku mengatakan bahwa keperkasaan lelaki itu sesungguhnya terletak di tanggung jawabnya. Dengan kata lain, lelaki yang menyia-nyiakan anaknya dan bahkan tidak mau bertanggung jawab, adalah lelaki yang LEMAH SYAHWAT, hahaha.. :D

.

.

Update, 22/05/2011:

Image source:

1. shohibul233.blogspot.com
2. asicafe.wordpress.com


Warning: Illegal string offset 'author_box' in /home/hardiviz/public_html/wp-content/themes/confidence/content-single.php on line 93

43 comments on “lelaki perkasa

  1. Benar Uda :D, kita mungkin tidak bisa menutup mata bahwa tindakan asusilanya tetaplah sebuah KESALAHAN. Tapi caranya menyikapi masalah ini dengan adil dan arif, cukup membuat saya terharu dan salut.

    • Selalu saja ada sisi baik dari seseorang, seburuk apapun dia, ya Ris…
      Maka, pelajarannya adalah; jangan pernah memandang rendah orang lain, apapun keadaannya :)

  2. Aku setuju. Dan barangkali memang di situlah letak tanggung jawab. Bukankah sudah sangat lama telah terjadi pergeseran paradigma soal perkasa atau jantan.

    Tetapi, tulisan yang seru sekaligus menggetarkan ini kenapa juga mesti ditutup dengan kalimat: “Dengan kata lain, lelaki yang menyia-nyiakan anaknya dan bahkan tidak mau bertanggung jawab, adalah lelaki yang LEMAH SYAHWAT, hahaha..”

    Mimikku yang terlanjur serius membaca tulisan ini dari awal langsung buyar karena si penulis mengakhirinya dengan kelakar :D

    • Aku sungguh tak ingin membuatmu bermimik serius terus, kawan…
      Kasian sekali dengan jidatmu yang sudah berlipat-lipat itu.
      Jadi, perlulah kita sudahi sebuah keseriusan dengan sedikit candaan.
      Bukankah begitu duhai petualang sejati…? :)

  3. Mungkin akan (jauh) lebih perkasa lagi …
    jika semuanya itu dia lakukan dengan cara yang baik … dan tidak membohongi orang lain ataupun pihak lain …

    dan kalaupun sudah ada bibit-bibit untuk tidak setia …
    segera putuskan … apa yang akan dilakukan …

    sebelum semuanya runyam

    salam saya

    • Benar Om…
      Kesadaran akan konsekwensi dari sebuah perbuatan, itu jauh lebih penting. Hanya saja, jika sudah terlanjur salah, maka jangan dibuat lagi kesalahan-kesalahan berikutnya :)

  4. seandainya semua laki2 punya pemikiran seperti yang dipikirkan Wawan, pasti tidak ber taburan anak tanpa ayah di muka bumi ini :)

  5. Betul, Uda…
    Lelaki dilihat dari tanggung jawabnya….
    Kalau dia lari, sesering apapun dia ke fitness center dalam seminggunya tetap percuma hahaha :)

  6. bicara soal tanggung jawab, dan soal anak atau hamil di luar nikah, jadi inget film “Satu Jam Saja”…besutan Karnos Film, yg dibintangi Vino G. Bastiaon, Revalina S. Temat, n Andhika Pratama..

    Owh, begitu yua Mas buat nyantumin referensi gambar cukup dengan : gambar dipinjam dari “sini” dan “situ” ato dari “tetangga sebelah” gitu ya Mas..?

    • Saya malah belum tahu soal film itu, Mas Pyan. Coba deh nanti dicari DVD-nya.. :)

      Oiya, maaf jika tidak berkenan saya “meminjam” gambar dari blognya Mas. Tapi, dari yang saya ikuti selama ini dari blog kawan-kawan, gambar atau artikel yang bukan milik kita, disebutkan asal pengambilannya. Dan tentu ditautkan langsung ke sana. Coba klik di gambar dan di kata “disitu”, akan langsung menuju ke blognya Mas Pyan. Kalau hanya sekedar menuliskan “disini” atau “disitu” tanpa menautkannya, tentulah salah.

      Sekali lagi saya mohon maaf jika tidak berkenan. Dan saya siap menghapus gambar tersebut. :)

  7. Salut sama laki-laki yang berani mengakui kesalahannya dan berani pula bertanggungjawab atas perbuatannya.

    Senada dengan Mas DM, awal baca sampai seisinya udah serius… endingnya ternyata guyon…
    penasaran deh dengan ending-yang-sebenernya-ingin-kubaca- = Uda jadi nganterin Wawan ke pernikahannya? :)

  8. Secara biologis, Wawan bisa jadi ayah sang bocah, tapi secara hukum Islam, Wawan bukanlah ayah sang bocah karna ia terlahir diluar pernikahan yang sah, ini berarti secara hukum Islam keduanya ‘bukan siapa-siapa’ tidak saling mewarisi dan tidak ada perwalian. Sungguh mengerikan dampak dari sebuah perzinahan.

    Maaf ustadz, barangkali pendapat saya keliru atau kurang lengkap. Semoga keputusan Wawan disertai dengan taubat yang sungguh-sungguh, hingga dia benar-benar menjadi lelaki perkasa.

    • Betul sekali Abi… secara hukum Islam memang begitu adanya. Tapi, ini lebih kepada bagaimana memberi kenyamanan secara psikologi kepada sang anak. Toh, dia tidak salah apa-apa, maka jangan dibebani sepanjang hidupnya dengan “hukuman” yang bukan karena kesalahannya. Soal warisan dan perwalian, itu tidaklah terlalu berat dibanding dengan pengakuan dan status sosialnya yang berdampak besar kepada perkembangan kejiwaannya..

      Insya Allah dan mohon doanya agar Wawan benar-benar bertaubat dan sepertinya saya melihat arah itu… :)

  9. mas wawan bener2 lelaki perkasa ya uda..
    yang penting dia sadar atas kesalahan yg dia perbuat..dan tidak mau menambah kesalahan yg lain lagi

    • iya fit… kesadarannya akan kesalahan yang dia lakukan, patut untuk diteladani.. :)

      eh iya, selamat ulangtahun ya fit, semoga jaya selalu :)

  10. selain itu mungkin keperkasaan seorang lelaki itu juga ditandai dgn kejujurannya pd istri dan keluarga besarnya, kalau memang sudah tdk cocok lagi, kenapa tdk berpisah, barulah menikah dan mempunyai anak dr perempuan lain.
    namun krn semuanya terlanjur terjadi, tanggung jawab Wawan demi anaknya patut pula diacungkan jempol, ini menunjukkan kasih sayangnya pd sang anak .
    ini hanya pendapat bunda saja, dan bisa saja salah, Nyiak :)
    salam

    • kehampaan hati dari sentuhan spiritual membuat seseorang menjadi buta mata hatinya terhadap norma-norma yang berlaku. dia akan lakukan apa saja tanpa pertimbangan apapun. oleh karenanya, kita tidak boleh membiarkan diri kita ini kosong dari sentuhan ilahi, sehingga tidak terjerumus ke dalam kesalahan berkepanjangan :)

  11. kesalahan kedua orang tuanya tidak patut dipikul anak ya da,

    tapi pernikahan semacam itu di saat istri sudah mengandung, apa memang harus diulangi lagi setelah si anak lahir?

    • tidak mesti diulang, kak…
      ulama memang berbeda pendapat tentang ini, tapi mayoritas mereka sepakat bahwa wanita yang hamil karena zina boleh dinikahi oleh lelaki yang menghamilinya meski si perempuan itu masih lagi hamil..

    • manusia adalah tempatnya kesalahan, dan sebaik-baiknya orang yang berbuat salah adalah bertobat…
      maka, mari kita perlakukan orang lain secara arif dan bijak
      salam kenal kembali :)

  12. Saya tertarik pada komentar dari Abi dan jawaban Uda.
    Saya baru tahu hukum Islam tetap tidak mengakui hubungan ayah dengan anaknya sendiri dan mereka “bukan siapa-siapa” meskipun sudah menikah. Kalau seandainya anak Wawan itu belum lahir (masih di perut) apakah juga dianggap “bukan siapa-siapa” waktu dia lahir?
    Meskipun mungkin anak Wawan secara hukum dan status menjadi anak sah nya, tapi dalam hidup beragamanya bagaimana? Apakah ada pengucilan dalam masjid/komunitas ataukah hanya bermasalah pada warisan saja?

    Sedikit sekali orang yang “perkasa” seperti Wawan. Semoga dia mendapat keringanan rohani.

    EM

    • Mungkin yang perlu digarisbawahi adalah kata “bukan siapa-siapa“. Sebetulnya aku juga kurang setuju dengan kalimat dari Abi Sabila itu. Karena kesannya, si anak yang menanggung segala dosa yang diperbuat oleh orangtuanya. Tapi kurasa, yang dimaksud Abi Sabila tidak seekstrim itu… :)

      Setiap anak yang baru lahir itu adalah suci, tidak membawa dosa apapun. Dan ini tegas disebutkan dalam Al-Qur’an. Sehingga, tidak ada yang namanya dosa turunan. Dengan kata lain, anak yang terlahir karena perzinahan, sama sekali tidak mewarisi dosa orangtuanya. Status anak zina adalah sama saja dengan anak lainnya. Tidak ada pengucilan dimanapun dan kapanpun. Kalaupun terjadi, itu aku pikir semata karena faktor sosial.

      Yang dipersoalkan hanyalah masalah nasab (keturunan). Anak zina, tidak dinasabkan kepada ayahnya. Akibatnya, si anak tidak berhak atas warisan dan perwalian dari ayahnya. Jika ia perempuan, maka ketika menikah, ayahnya tidak berhak menjadi walinya. Yang menjadi walinya adalah wali hakim (qadhi). Namun, dalam Kompilasi Hukum Islam Indonesia, ada pengecualian. Yakni: anak yang lahir di atas enam bulan setelah pernikahan, dinasabkan kepada ayah biologisnya. Dan yang lahir sebelum 6 bulan pernikahan, tidak dinasabkan kepada ayahnya.

      Hanya itu yang menjadi konsekwensi hukum bagi anak yang lahir karena perzinahan. Selebihnya, posisinya sama saja dengan anak-anak yang lainnya. Tidak ada perbedaan apapun.

      Adapun kepastian hukum yang kumaksud dalam tulisan di atas adalah kepastian hukum dalam negara.

      Demikian, semoga bisa menjawab ya Nechan… :)

  13. speechless pak, bingung mau komentar apa, jujur kejadian diatas itu menarik karena dirinya tetap mau bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya, tapi sebaiknya sebelum bertindak harus dipikirkan dulu ya, kasihan juga anaknya yang sekarang kalau ditinggal untuk anak dan istrinya yang lain, karena nafkah, dan status hak saja tidak cukup, setiap orang termasuk anak butuh kasih sayang dan keberadaan orang tuanya disisinya.

  14. artikelnya bagus banget, sebuah inspirasi untuk calon bapak yang nantinya akan menjadi pemimpin dalam keluarganya, semoga dapat bermanfaat untuk orang lain juga…
    maaf, pertamax mz,, salam kenal, salam blogger indonesia..

  15. Segala perbuatan pasti mendatangkan akibat, baik itu akibat baik maupun buruk. Kejadian menghamili perempuan lain itu merupakan perbuatan yang akhirnya yang berakibat pada lahirnya seoang anak. Apapun konskwensinya, ya mau nggak mau harus tanggung jawab.

  16. Berharap, sebelumnya dia berpikir baik-baik sebelum melakukan perselingkuhan. Perkasa di satu sisi, namun menyebabkan luka psikis anak yang lain juga tidak benar. …karena luka psikis ini berakibat panjang. Ada teman saya yang anaknya berubah setelah ayahnya selingkuh, dan proses penyembuhannya berat sekali.

    Apakah nanti jika dia berselingkuh lagi, juga dikatakan perkasa karena bertangung jawab? Dan apakah keluarga harus ikut mendampingi melamar isteri kedua tadi? Rasanya tidak benar…..karena jika saya keluarganya, ibunya atau saudaranya, juga tak mau ikut menambah dosa…soal dia menikahi perempuan yang diselingkuhi itu urusan dia sendiri. Bagi perempuan sendiri, sebaik-baiknya perempuan, jika kita bisa menjaga martabat….dan tidak melakukan hal yang terlarang sebelum menikah resmi.
    (Maaf Uda jika saya agak keras, karena saya berbeda pendapat disini)

  17. kl lelaki pemanjat tebing dsebut lelaki perkasa g da? heheheee
    wawan memang lelaki yg hebat, tp mah bukan contoh lelaki yg baik.,-

Komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jawab dulu ya pertanyaan di bawah ini sebelum kirim komentar, biar tidak dianggap spam.. :) *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>