lima tahun lalu

Lima tahun sudah peristiwa itu berlalu. Cukup lama memang. Tapi, bagi warga Yogyakarta, terutama Bantul, tentu saja peristiwa lima tahun itu tidak bisa dilupakan begitu saja. Gempa yang meluluhlantakkan kampung halaman mereka tersebut, terlalu besar dihilangkan dari ingatan.

Bagiku sendiri, peristiwa itu justru menjadi titik awal kehidupan yang memesonakan di Yogyakarta, sehingga sangat sulit bagiku untuk meninggalkannya. Aku pernah berkisah mengenai pengalaman gempa ini dalam tiga tulisan berturut-turut, yakni: Untuk Dikenang, Dia Mengemis dan Pintu itu Terbuka. Betapa dengan peristiwa itu, banyak perubahan dahsyat dalam kehidupanku dan keluarga.

Sekarang, setelah lima tahun berlalu, bagaimanakah kehidupan warga di sekitarku? Apakah mereka masih saling membahu dalam setiap kegiatan seperti ketika membersihkan puing-puing? Aku akan dengan tegas menjawa, “IYA”. Sebab, kebersamaan di Kweni terjalin bukanlah karena gempa itu, melainkan karena memang sudah menjadi budaya mereka sedari lama lagi. Dengan atau tanpa adanya gempa itu, mereka akan tetap saling bergotong royong dalam kehidupan bermasyarakat mereka. Dan inilah yang membuatku bangga ada di sini.

Kalaupun ada yang berubah, aku bisa katakan kehidupan spiritual-lah yang mengalami penurunan. Setidaknya, dari pengamatanku dari beberapa kegiatan. Kalau di masa-masa awal pasca gempa, warga sangat antusias untuk mengikuti berbagai kegiatan keagamaan. Nyaris setiap kegiatan keagamaan yang digelar, selalu dipenuhi oleh warga yang menghadirinya. Tapi belakangan ini, kegiatan-kegiatan itu nyaris sepi dari hadirin. Entahlah, apakah itu terjadi karena kesibukan ataukah karena mereka sedang berada dalam posisi “aman”.

Menurutku, sikap seperti itu, lazim terjadi. Secara alamiah, manusia akan lari ke kehidupan spiritualnya ketika ada hal berat yang menimpa pikiran dan perasaannya. Sebaliknya, ketika semuanya aman-aman saja, kehidupan spiritual harus sedikit tersingkirkan. Pertanyaannya, apakah memang harus seperti itu? Apakah harus ada kesusahan dulu baru kita berlari kepada Sang Pemilik Hidup, Tuhan Yang Maha Kuasa? Tentu saja tidak bukan?

So, mari bersahabat dengan Sang Maha Segala, dalam susah maupun senang… :)

Selamat hari Jumat sahabat semua, tunggu kejutan dariku hari Senin besok ya… ;)

40 comments on “lima tahun lalu

  1. Ya idealnya memang tidak di saat susah saja, Da. Tetapi justru karena itulah kita disebut manusia. Bukankah Uda pun mengatakan: sikap seperti itu, lazim terjadi.

    Jadi ingat salah sebuah kalimat Pramoedya Ananta Toer dalam roman Anak Semua Banga: “Kalau hati dan pikiran manusia sudah tak mampu mencapai lagi, bukankah hanya pada Tuhan juga orang berseru?”

    Selamat berhari Jumat. Selamat berakhir pekan. Tak sabar menunggu Senin esok. Cerah harimu bersama keluarga di Kweni, Da ;)

    • Tapi tidak lantas kita berpasrah diri pada “kemanusiaan” kita bukan? Melakukan hal terbaik dalam hidup tentu sebuah keniscayaan, dan berdekat dengan Tuhan dalam segala situasi, menurutku adalah salah satu dari keniscayaan itu :)

      Eh, bukankah ini sudah Senin? ;)

    • Iya Don.. tak terasa, sudah lima tahun. Sebentar sekali ya rasanya… :) Anak-anakku pun sampai sekarang masih memendam rasa trauma itu, meski tidak separah di masa-masa awal dahulu…

  2. Semoga kita semua bisa selalu mengingat Yang Maha Penyayang …
    Di saat susah … maupun di saat senang …
    Di saat sempit … mapun di saat lapang

    Salam saya Uda

    (saya tunggu kejutan hari senin …)
    (dan juga mungkin ada kejutan lagi disekitar tanggal-tanggal awal Juni ??? )(hahahaha)
    nh18 recently posted..THE POSTS OF MAYMy Profile

    • Insya Allah, Om…
      Dengan keikhlasan dan kesabaran atas apa yang Tuhan berikan kepada kita, kedekatan itu akan bisa terwujud, kapanpun dan dalam situasi apapun…

      Eh, ini sudah Senin bukan…? hahaha… :D

  3. Salam kenal Kang Vizon :)
    Makasih udah mampir ke blog ku yaaaa :)

    Kurang lebih sama dengan Om…
    Mudah2an saja kita selalu diingatkan kepad Allah swt disaat susah…dan juga senang…
    karena cobaan terberat itu biasanya datang dikala kita sedng menikmati kesenangan lho…

    Makasih sudah diingatkan ya Kang :)

    • Salam kenal juga Bibi…
      Kita sebetulnya sudah sering “bertatap muka” di blognya si Om, tapi kayaknya baru kali ini kita saling kunjung ya, hahaha… Makasih ya Om sang makelar blog :D
      Oya, panggil saya Uda Vizon aja ya, biar cihuy.. :)

      Iya benar Bi…
      Kesenangan dan kesusahan adalah anugerah sekaligus cobaan. Itu semua berujung pada cara kita menyikapinya :)

    • Nah… itu dia persoalan yang paling utama di negara kita, Gie. Pemerintah kita belum memiliki sistem manajemen bencana yang sangat baik. Padahal, dengan kondisi negara kita yang sering terjadi bencana, hal tersebut tentu sangata penting. Semoga ke depan, negara kita bisa lebih baik dalam masalah ini :)
      vizon recently posted..aku mau ayahMy Profile

  4. iya mas , saya terkadang juga sperti itu .. ketika kesusahan selalu ingat sama Allah , Alhamdulillah sekarang saya sudah gak ..
    semenjak ayah saya meninggal shalad saya jadi jarang tinggal :)
    mungkin ini tegurannya mas ..
    seperti gempa yg juga terjadi di jogja !
    mas, mau gak tukeran link (blogroll) dengan saya ? di tunggu yah mas balasannya ..
    massalama, salam kenal :)

    • Salam kenal kembali Mas Ichsan…
      Ok, segera pasang link di blogroll kita masing-masing ya :)

      Saya doakan, semoga ayah mas Ichsan mendapat tempat yang layak di sisiNya. Amin…

  5. memang namanya manusia sih ya Uda.
    Sekarang saja di Tokyo orang sudah mengendurkan kewaspadaannya terhadap kemungkinan gempa. Aku yang dulu selalu bawa radio, skr sudah ditinggal di rumah. Padahal dalam injil pun ada: “Mereka datang bagai pencuri di malam hari….”

    Semoga kita bisa terus waspada, terus mendekatkan diri pada Tuhan, dan terus menggalang kebersamaan dgn sekeliling kita.

    EM
    Ikkyu_san recently posted..Masa sihMy Profile

    • Alamiah saja sih sebetulnya sikap yang seperti itu ya Nechan… Tapi, dengan selalu memperingati peristiwa-peristiwa penting, termasuk bencana, semoga mampu menjadi pengingat kita untuk selalu waspada dan ingat kepadaNya.. :)

  6. pak vizon jg di jogja toh pas gempa saat itu?
    wahh benar2 memilukan ya pak.. apalagi saya jg menjadi relawan saat itu

    • Wah, parah deh kalau sudah kayak begitu… :)

      Hmm… ada apa ya di hari Senin…?
      Hei, bukannya sekarang sudah Senin? hehehe…

  7. Tak terasa sudah lima tahun yang lalu….
    Saya kesana setelah gempa…menyedihkan melihat bangunan retak-retak.
    Sangat manusiawi Uda…jika dalam kondisi sulit, orang kembali mendekat pada Allah…mudah2an mereka tetap dekat, walau tak berduyun-duyun ke masjid atau pada acara keagamaan yang terlihat dari luar, namun tetap menunaikan sholat 5 waktu.
    edratna recently posted..Setelah libur panjangMy Profile

    • Semoga sisi kemanusiaan kita bisa lebih baik dengan tetap mengingat peristiwa yang pernah menerpa hidup kita, sehingga selalu menjadi cerminan dalam hidup..

  8. Lima tahun berjalan tanpa terasa ya Uda. Rasanya baru kemarin saja. Saya ingat dulu waktu gempa saya sedang sakit perut. Eh, waktu tiduran di ranjang, tiba2 geruduk2 gempa datang. Untung rumah kami tidak apa2. Hanya sedikit yg retak… Dan yang perlu kami syukuri, di sekitar kami tak ada korban jiwa.
    krismariana recently posted..Karena Tak Ada KenekMy Profile

    • Semoga yang pernah kita rasakan dulu itu, dapat selalu menjadi pengingat bagi kita untuk selalu mawas diri ya Kris… :)

  9. Ada apakah di hari Senin uda? ;)
    Anw, biasanya memang kalau ada masalah berat lari ke yang mencipta hidup, habis itu lupa.. Ah semoga kita dijauhkan dari hal2 begitu ya uda

    • Sudah tahu kan ada apa di hari Senin? ;)

      Iya Ka, semoga kita tetap konsisten dengan kepasrahan dan kedekatan kita dengan Sang Pencipta

  10. hiks….ternyata aku masih seperti itu Nyiak,
    rajin mendekatkan diri padaNYA, saat susah, dan mulai ” melupakan” saat senang .. :cry:
    terimakasih Nyiak telah mengingatkan.
    Semoga Allah swt memberkahi kita semua dgn ke istiqomahan dlm beribadah pada NYA, amin
    salam
    bundadontworry recently posted..Is this TrueMy Profile

    • Kita memang tidak pernah sempurna Bunda.
      Selalu berusaha untuk menjadi lebih baik, itulah yang diharapkan. Insya Allah kita semua selalu berproses menjadi lebih tunduk dan patuh pada aturanNya :)

    • Amin….
      Semoga juga mereka yang saat ini masih bersentuhan dengan dampak bencana alam, dapat tetap bertahan dan bersabar menghadapi itu semua ya Na.. :)

  11. Barangkali orang masih terpaku pada anggapan bahwa syukur di waktu senang dan sabar di waktu susah, padahal di waktu senangpun kita harus bersabar karena ujian datang bukan hanya berupa kemalangan, tapi juga kebahagiaan, demikian juga di waktu susah semestinya kita harus bersyukur karena itu bukan tidak mungkin kesusahan yang sedang kita hadapi adalah bentuk lain dari kasih sayang Allah.

    So, benar kita tiada luput dari salah dan lupa, tapi berusahalah untuk tidak pernah lupa pada Sang Maha. Insya Allah.
    Abi Sabila recently posted..Antara Lilin Dan Kunang-KunangMy Profile

Komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*


4 + = 7

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CommentLuv badge