serupa tapi tak sama

Blogger bicara ayah #1

 

Halo semua… Perhelatan di Surau Inyiak kita mulai hari ini. Yang pertama kali akan memberikan suguhan kepada kita adalah seorang ibu muda yang berdomisili di Jakarta. Agak sulit untuk mendefinisikan asal perempuan satu ini. Karena, dia memiliki seorang Papa asli Jogja dan Mama asli Nias, sementara dirinya lahir dan besar di Kota Padang. Oleh karenanya, dia sangat pasih berbahasa Minang dan lancar berbahasa Jawa. Daripada ribet, kita sebut sajalah dia JAMIN alias Jawa Minang, halah!

Dia adalah Christina Paska atau yang lebih ngetop dengan panggilan Puak, pemilik blog http://mbakpuak.wordpress.com. Dulu, dia sangat aktif ngeblog, dan bahkan punya cerita bersambung tentang tokoh imajinatif bernama Lou. Entah kenapa, intensitasnya ngeblog menurun drastis dalam beberapa waktu belakangan ini. Dan cerita Lou yang selalu kunanti, hilang begitu saja. Namun, kali ini, dengan segala cintanya, ia hadir di surauku ini, menyuguhkan sajian terbaiknya buat kita semua, sebuah cerita tentang papa tercintanya.


Ada yang tahu, yang manakah Puak? :)

So, mari kita simak kisah Puak bersama sang ayah. Di sini, kita akan disuguhkan sajian menarik mengenai identifikasi seorang anak perempuan akan karakternya dari hubungannya bersama ayah. Kita akan melihat, betapa cinta sang ayah yang entah dengan cara apapun diekspresikan, telah membekas sangat dalam di hati seorang anak perempuan. Kisah Puak, menjelaskan tentang itu semua.

Selamat membaca…. :)

==================================================

Serupa Tapi Tak Sama
Oleh: Puak

Lelaki yang sudah lewat 60 tahun itu sudah menjadi idolaku sejak aku menyadari bahwa ia adalah seorang papa kandung buatku, yang selalu kutangisi jika terlambat bangun pagi, karena tidak mendapatkan ciumannya sebelum beliau berangkat ke sekolahan untuk mengajar. Maklum, di zamanku balita, masih pengangguran, jadi tidak ada alasan untuk bangun lebih pagi.

Aku menyadari banyak kemiripan yang kudapat dari idolaku yang satu ini. Oh, tapi tunggu dulu, sebelum aku lanjutkan, sepertinya papa itu tidak sadar kalau aku adalah ‘secret admire’ nya sejak dulu, kecuali kemudian dia membaca tulisan ini.

Ya, aku mirip dengan papa. Bicara fisik orang tidak akan menyangkal aku adalah anaknya, kecuali rambutnya yang ikal dan bibirnya yang tebal yang jatuh pas pada adik perempuanku (syukurlah). Dan dengan anugrah kemiripan yang kudapat, aku bangga luar biasa dengan bentuk fisikku, termasuk betis yang kokoh ini. Mungkin itu yang menyamakan kami berdua untuk menyukai olah raga dan mempunyai fisik yang termasuk kuat. Atau kekar?.. haha.. :D

Nah, kesamaan berikutnya bisa dilihat dari beberapa kisah tak terlupakan yang kualami bersama papaku.

Papa suaranya besar dan kalau tertawa apalagi ketika menonton pertandingan sepak bola yang seru di TV, orang satu gang bisa tahu kalau itu suara papaku. Komentarnya jago sekali, mulai dari masukan, arahan, penghakiman sampai makian melebihi pemain, wasit bahkan pelatih di lapangan. Bersyukur, dia tidak punya pluit yang terselip di bibirnya. Liga Eropa ditayangkan tengah malam hingga dini hari, bukan?.. Nah.

Dari kecil aku tidak bisa berlaku sebagai anak perempuan yang manis. Nakal sekali sih nggak juga.. hanya nakal (titik) dan suka lupa bahwa mempunyai kelamin perempuan itu tidak boleh memanjat pohon, pagar dan atap sekolahan. Jadi, pulang sekolah jangan harap mama melihatku seperti anak yang dilepasnya berangkat sekolah tadi pagi. Kalau tidak seragam yang robek dan kumal, pastinya bagian tubuh yang lebam atau luka yang masih berdarah.

Baju kotor dan perlu rendaman berhari-hari mungkin masih dianggap rutinitas, tapi terluka dan berdarah ketika pulang ke rumah?? Jangan harap bisa luput dari amuk papa. Dengan suaranya yang besar itu, ia mampu membuatku bergeser dengan kecepatan sepersekian detik ke pojok rumah seperti diseret angin puting beliung yang kemudian terselamatkan karena dinding rumah yang kokoh untuk ukuran tubuh anak SD. Setelah puas menyampaikan segala beban dihatinya karena sedih melihatku hampir setiap hari membawa ‘tanda mata’, ia akan mendudukanku di kursi dan mengobati luka-lukaku. Sambil terus mengomel dengan bahasa jawa yang kemudian baru kuketahui artinya setelah sempat sekolah di Jogja. Bahasa lugas yang dipakai preman pasar Godean!

Kenakalan lain selain jatuh karena memanjat tidak cukup diperingatkan hanya karena luka dan omelan puting beliung tadi, tapi juga dengan cubitan. Aku cukup mengenal cubitan papa dan mama. Mama sangat sering menyubitku, jenis cubitannya, kecil-kecil tapi meninggalkan bekas hingga esok hari. Sementara papa, jarang dan jenis cubitannya besar-besar, tidak meninggalkan bekas tapi cukup membuatku susah payah menelan ludah karena walau sakitnya tidak separah mama, papa pakai melotot dengan matanya yang sudah belok itu. Mengerikan untuk ukuran anak SD yang masih imut dan menggemaskan sepertiku.

Tapi itu kenakalan semasa kecil. Ajaran papa dan mama atas kenakalanku di masa kecil dulu tidak membuatku menyesalinya. Aku berterima kasih dalam hati sampai sekarang, karena ajaran mereka membuatku semakin lebih baik di usia remaja hingga aku dewasa.

Papa yang taat pada ajaran agama, mampu menjadi teladan buat mama dan juga aku hingga kami semua rajin dalam aktifitas gereja. Soal agama dan sekolah aku bisa berdialog dengan papaku. Tapi soal teman-teman atau pacar aku lebih banyak bicara dengan mama. Tadinya kupikir, papa tidak ingin tahu masalah pribadiku, tetapi rasa ingin tahunya melebihi tukang rumpi dan suka menanyakan pada mama di tempat terpisah lantas memberikan nasehatnya lewat mama. Untunglah aku sadar, mereka berdua adalah pasangan suami istri yang saling mencintai. Kalau tidak, sudah kuputuskan hubungan ‘persahabatan’ku dengan mama. Alias tidak ada lagi curhat-curhatan.

Papaku tidak bisa juga dibilang galak. Sikapnya yang galak akan naik ke ubun-ubun karena efek kenakalan yang ditimbulkan anak-anaknya, dimana berikutnya diteruskan dengan kenakalan yang berbeda dari kedua adikku. Galak, tapi bukan membuat kami (aku dan adik-adikku) bubar dari ruang keluarga ketika merasakan auranya akan masuk ke ruang keluarga, seperti yang dialami beberapa teman-temanku. Ada rasa takut, segan dan mungkin juga hormat terhadap sosok papa di dalam keluarga mereka.

Papa tidak membuat kami seperti itu. Ia membuat dirinya dekat dengan kami semua dengan leluconnya dan dengan gaya bahasanya yang medok itu kadang membuat kami terhibur.

Aku tidak lupa ketika suatu hari menggodanya yang sedang duduk di lantai dan mama duduk di sofa mencari ubannya yang mulai bermunculan. Aku melihat muka papa yang terlihat banyak kerutan dimana-mana. Aku hanya bertanya, “Itu muka papa kok kerutan semua?”. Papa yang sedang memegang cermin ditangannya menjawab dengan santai di atas kaca mata plusnya. “Rencana mau saya tarik semua kok kulit muka ini ke belakang trus dikucir, jadi bisa mulus lagi dan terlihat muda. Ganteng”. Iya deh, karena aku mirip papa juga (kelak) maka aku hanya mengikuti aura segar dan tawa di ruangan itu.

Lagi, aku ingin lebih seperti perempuan di masa kuliahku. Aku mengenakan long dress buatan mama dan kukenakan untuk berangkat ke gereja. Papa mencuri-curi lihat ke arahku tanpa berucap sepatah kata. Aku dengan percaya diri berkata, “Cantik, kan?”. Kudengar ia sedikit mendengus sebelum benar-benar melihatku dari atas ke bawah dan menjawab, “Bencong mau ke pasar”. Hening sesaat menunggu reaksi bensin yang disulut dan ternyata aku hanya mencibir lalu balik kanan sambil berkata dalam hati.. “maaf, komen anda tidak berpengaruh sama sekali, anda hanya tidak tahu mana baju perempuan dan mana baju lelaki sepertinya”. Beres. Bencong pun berangkat ke gereja. *glek.

Aku suka mendengar ceritanya di masa lalu dan dari situlah aku tahu tentang buah yang tidak pernah jatuh jauh dari pohonnya. Papa ternyata dulu juga anak kecil yang nakal dan sering dimarahi juga oleh mbah kakung tapi sangat dimanja oleh mbah putri yang memanggil papa kecil dengan sebutan ‘lup’.

Aku dan mungkin, papaku, tidak ada masalah mengenai makanan. Kami suka makan, tapi tidak dengan adik bungsuku. Yang setiap akan diberi makan pakai nangis seperti akan disiksa, membuat papa mengenang masa kecilnya dengan dramatis dan berkata, “Saya dulu nangis karena nggak ada makanan yang bisa dimakan, tapi kamu malah nangis dikasih makan..”. (Makanya makannya jadi banyak ya sekarang pa?.. hihihi)

Masih banyak hal yang tidak akan aku lupakan saat masih tinggal bersama orangtua dan adik-adikku khususnya dengan papa. Karena papa buatku adalah pria yang bertanggung jawab, bekerja dari pagi sampai sore demi menghidupi keluarganya, meneladani arti kebaikan dan murah hati bagi kami anak-anaknya dan menyayangi anak-anaknya yang nakal dengan caranya sendiri.

Hingga saat ini aku selalu dekat dengan Papa dan kerap membahas masalah keluarga atau masalah apapun bersama-sama. Aku senang, tatkala Papa menyerahkan tanggungjawabnya untuk kedua adikku yang kini sama-sama berada jauh dari orang tua. Bertindak sebagai wali mereka untuk urusan pribadi maupun kuliah.

Untuk Papa, mungkin ini saat yang tepat aku menulis sesuatu tentangmu. Salah satu bentuk terima kasihku atas cintamu untuk keluarga kita. Dari semua kesederhaan dalam keluarga ini, papa telah berusaha banyak membuat kami bahagia dan juga orang lain disekitarmu. Kekuranganmu menjadi buram dimata kami ketika kasih sayang itu melimpah tidak hanya buat kami tapi juga buat orang lain yang menyentuh belas kasih di dalam hatimu.

Aku menyayangimu dan aku akan selalu mirip denganmu. :)

==================================================

Menarik bukan…? So, apa pendapat anda? :)

.

Tulisan pertama dari acara “Baralek Gadang”, klik di sini untuk melihat daftar tulisan dalam acara ini :)

 

81 comments on “serupa tapi tak sama

  1. 1. Mau tebak foto dulu.. Kok sama semua hitamnya ya? **kucek-kucek mata**

    2. Manis! sweet… cerita keakraban dan kemiripan dengan papa. Dan semakin tahu ternyata Puak begitu sejak kecil (begitu itu apa sih ya? :D )

    3. Ingin lihat foto bencong waktu ke pasar seperti apa sih hehehe.

    menunggu manis kelanjutan pesta alek gadang!

    EM
    Ikkyu_san recently posted..Keluar dari Predikat BurukMy Profile

  2. Buah memang tak akan jauh dari pohonnya, apalagi anak perempuan yang katanya memang secara psikologis akan lebih dekat dengan papanya.

    Baca cerita mba Puak jadi melangut, jadi pengen nulis lagi. Kadang dengan menuliskan, banyak hal kias yang tersadarkan arti riilnya.

    Makasih Uda, sudah diundang ke pestanya

  3. orangtua walau segalak apapun, pasti tetep sayang sama anaknya..
    dan rasanya lebih homy ya, kalau antara anak & papanya bisa saling becanda (dg toleransi batas sopan)

    • Sebenarnya tidak ada aturan yang membatasi kedekatan anak dan ayahnya. Kehidupan sosial kitalah yang kemudian mengkonstruksi paradigma semacam itu. :)

  4. Itu fotonya Puak? Seriously? Kok cantik? Hahahaha!

    Damn, aku tersentak baca tulisannya (dan kangen dengan gaya tulisnya yang ternyata masih sama dengan saat dia menulis soal Lou)..

    Tapi soal bencong itu? Fotomu membuktikan bahwa kau lain, Puak ;)

    Bravo, Uda!
    DV recently posted..Pencuri kemuliaanMy Profile

  5. hua…hua…hu..
    sedih…

    katanya anak perempuan itu memang lebih sayang papa nya dari mamanya…

    Papa adalah laki-laki pertama yang kita temui,,dan semua anak perempuan selalu mengidolakan papanya…

    papaku juga sama kaya papa nya mbak puak,,
    dari luar keliatan gak peduli tapi diem.diem interview mama tentang semua hal yang terjadi sama anaknya… :D

    *ambil telepon trus telepon papa*
    usagi recently posted..Melangkah Menuju MATAHARI ItuMy Profile

    • Soal mana yang lebih disayang, itu kasuistik kayaknya Put. Yang terpenting adalah, seorang anak harus mendapatkan porsi perhatian dan kasih sayang yang seimbang dari ayah dan ibunya. Karena, anak laki-laki ataupun perempuan memiliki kepentingannya sendiri-sendiri atas peran ayah dan ibunya… :)
      vizon recently posted..aku mau ayahMy Profile

  6. Gaya bahasa Puak ini memang khas sekali …
    tak salah jika Uda menyebut ini sebuah reunian Nara Blog …

    Kangen juga membaca gaya bahasa Puak yang khas ini …

    I like this Puak

    dan saya ngakak membaca penggalan kalimat : … Bahasa lugas yang dipakai preman pasar Godean ! …

    hahaha

    Salam saya
    nh18 recently posted..A WHOLE NEW WORLDMy Profile

  7. Hahaha… kasih tahu kek uda, kalau aku yang duluan tampil. Kan bisa lipstikan dolo.

    Jadi berasa blogger lagi dah.
    Thanks ya, udah buat saya menjadi yang pertama menghibur para hadirin, meski lutut bergetar gini.. :D
    Puak Cullen recently posted..Kopi Kuping KetombeMy Profile

  8. Tebak Poto : Puak yg sebelah kanan kali ya wkwkwkw

    Jadi puak itu kloningnya papa ya…makanya aku nebak poto yang kanan wkwkwk *peace…

    Puak…ini dahulu tetangga ku kayaknya di Padang, kalau gak salah di Siteba…..kapan ke padang lagi ?

    Salam buat papa…
    imoe recently posted..…32 besi penyangga tulang…My Profile

  9. Jika mama adalah tempat kita bersandar untuk kasih sayangnya, papa tempat bersandar ketika kita butuh perlindungannya dan sekaligus butuh dompet atau sakunya. Maklum, papa biasanya nyah-nyoh soal duit dibandingkan dengan mama yang menggenggam air saja tak bisa netes, apalagi menggenggam duit.

    Dari tulisan diatas saya bisa menggambarkan bahwa papanya mbak kluwak..eh..mbak Puak adalah papa bertype Semar ( bukan “mesam-mesem nok njero kamar” lho). Ngemong, humoris dan bisa menjadi panutan ( maklum, Semar kan sebenarnya Dewa yang ngejowantah).

    Kalau beliau umurnya 60 tahu, berarti adik saya yaaa, soalnya saya 61 he he he he ( gak takooooooooon)

    Mantap tulisannya semantep betisnya.

    Jika beliau seorang reporter olahraga-saya menduga beliau adalah Sambas-tapi kok bukan.

    Salam hangat dari Surabaya

  10. Puak, ceritamu manis sekali. Bisa membayangkan kenakalanmu masa kecil, dan membayangkan betapa gemasnya papamu…antara sayang, kawatir dan takut….

    Papamu mestinya ikut membaca ceritamu ini Puak, saya ingin tahu, apakah dihati kecil papamu pernah ada keinginan melihat Puak menjadi seorang putri yang anggun?

    Bahasamu memang khas, mengingatkanku pada adik perempuanku, yang setiap kali babak belur dan ada tanda mata….dan ayah yang juga gemas, tapi sayang.
    edratna recently posted..BELAJAR DARI PENGALAMANMy Profile

  11. Awww… acara baralek sudah dimulai ruponyo. Hidangan pembukanya maknyoss bener, Da.

    Aku jadi kangen papaku nih… Papaku nggak se-friendly papanya Mba Puak. Dalam setahun becandanya cuman 3 kali *hiperbolis*
    Tapi aku cinta dia setengah mati karena sampai kapanpun aku akan selalu mirip dia (juga).
    dewifatma recently posted..Kunonya Rusia ditengah Jawa dan MinangMy Profile

    • Hidangan pembukanya rendang rasa gudeg, Wi…
      Maknyos kan? hahaha… :D

      Ekspresi kedekatan seorang ayah kepada anaknya banyak macamnya ya. Ada yang terbiasa dengan sentuhan fisik, tapi ada juga yang hanya sanggup dengan satu dua kalimat sapaan. Tapi, tentu itu tidak mengurangi hakekat peran beliau pada diri kita bukan?

  12. Wah asyik yach pada punya cerita seru dengan papanya….kalo aku ngga punya cerita apa-apa tentang papa, karena beliau sudah meninggal waktu aku umur 1 tahun……..

    Dulu waktu aku kecil sering mengkhayal kalo punya papa kayak teman2 pasti asyik yachh…minta uang sama mama ngga dikasih bisa minta sama papa….kalo cuma punya orangtua 1, ngga dikasih uang yah udah ngga bakalan punya uang…..

    Berbahagialah sahabat yang masih diberikan kesempatan mendapat kasih sayang dari seorang papa, bagaimanapun kerasnya beliau mendidik…pasti maksudnya adalah demi kebaikan anaknya…..

    salam kenal utk Mbak Puak, kalo dilihat fotonya…ngga nyangka loch mbak Puak waktu kecil nakal dan tomboy hehehe….
    nia/mama ina recently posted..Pancake Kentang Toping CoklatMy Profile

    • Saya sangat merasakan apa yang Mama Ina rasakan. Saya punya ponakan yang ditinggal papanya ketika dia berumur 3 bulan. Sekarang umurnya sudah 8 tahun. Meski dia bahagia bersama kakek dan pamannya, tapi tetap ada rasa yang hilang dari rona wajahnya… Menyedihkan memang, tapi kondisi seperti itu mestilah disikapi dengan bijak oleh para lelaki yang ada di sekitarnya..

  13. salam kenal dulu dgn Mbak Puak :)
    banyak sekali yg bisa didapat dr Papa tersayang ya Mbak .
    Luar biasa hubungan antara anak perempuan dan Papanya , akupun mengalami hal yg sama dgn Ayahku, yg kebetulan mirip secara fisik dgnku :)

    Papa adalah laki2 pertama yg langsung ada dihati kita ya Mbak, sampai kapanpun.
    hiks…jadi ingat dgn Ayahku :(
    salam
    bundadontworry recently posted..Grooming Anda Adalah SegalanyaMy Profile

    • Ternyata, ada banyak anak perempuan yang mengaku memiliki kemiripan fisik dengan ayahnya ya.. :)

      Silahkan Bunda, bertandang ke rumahnya Puak, hehe..

  14. Pertama, salam kenal untuk mbak Puak.

    Kedua, membaca tulisan ini jujur saya menikmati sekali, bahasanya lugas, tidak terlihat kalau dibuat-buat, mengalir apa adanya dan yang terpenting humornya masih dalam koridor yang aman.

    Saya juga punya kesamaan dengan putriku, Sabila. Diantaranya, kami sama-sama lahir di hari Sabtu, sama hobby membaca dan selalu ‘friend’ soal makanan. Dulu, ( waktu umminya masih ada ) kalau Sabila punya makanan termasuk jajanan, dia akan memakannya setelah saya pulang kerja ( hal ini sering membuat almarhumah ngiri ).

    Tapi kalau soal idola, sepertinya saya belum menjadi idolanya. Ini terbukti kalau saya berdiri di samping poster Justin Bieber, Sabila tak pernah rela. Hahahaha…

    Ketiga, terima kasih untuk Uda Vizon yang telah memperkenalkan mbak Puak. Jujur ini pertama kali saya membaca tulisan beliau. Semoga bisa mengambil pelajaran dari cara menulisnya. Sukses untuk Baralek Gadangnya.

    Terakhir, meski asli Padang dan tinggal di Yogyakarta, sepertinya Uda Vizon menguasai bahasa Sunda juga, setidaknya saya menemukan satu alasan untuk mengatakan demikian. Hanya orang Sunda yang mengatakan ‘pasih’ ( llihat aliena pertama, baris kelima ). Hanya mereka ( sebagian besar orang Sunda ) yang tidak mengenal huruf ‘f’. Hahaha….Maaf, sekedar canda.
    Abi Sabila recently posted..Antara Lilin Dan Kunang-KunangMy Profile

    • What? Abi dijejerin dengan si Bibier? hahaha… Sabila emang anak jaman sekarang banget ya.. :D

      Terima kasih kembali Abi, semoga ini semua memberi manfaat buat kita… Dan maap saya tidak bisa bahasa Sunda… ;)

  15. Wow, ada tulisan Puak di sini :)
    Apa kabar? lama nggak bertemu sejak kopdaran dengan kak Imel di Rumah Sendok ya, hihihi
    Tulisan Puak keren, jadi kangen sama si bapak.
    indahjuli recently posted..BekamMy Profile

  16. huaaaaaaaaaaa…mbak puak! cantik sekali fotonya *tuh kan beneran kurusan…ngiri!!!*

    tulisannya juga lebih cantik lagi…huhehehehe kangen dengan lelucon2 lu kalau nulis. Btw…hubunganlu sama Papa lucu ya mbak, manis, romantis tapi tegas…

    Tepuk tangan buat mbak puak…*terus kabur sama edward* hahahahaha ^^

    • hahaha… gw tunggu tulisan lo Ya.
      kita kan sama2 dikumpulin uda karena jarang ngeblog..
      Dan.. emang lu liat itu foto gw???.. itu Sophia Latjuba, lagi.. :lol:

      Heh!.. Edward disini lagi gw pangku! asal dah!.
      Puak Cullen recently posted..SiteStatsMy Profile

  17. Buah memang jatuh tak jauh dari pohonnya, ya, Chris. Untung sekali pohonnya termasuk jenis unggul, sehingga buahnya pun unggul pula :)

    Baca tulisanmu, sedikit banyak ngingetin aku ttg Papi. Gimana aku dulu dianggap fotokopi Papi; baik perilaku, hobby, maupun fisik. Yes, aku juga spt buah yg jatuhnya tak jauh dari pohonnya. Dan, ya.. Aku bangga sekali, Chris.

    Kamu pun pasti juga merasakan hal yang sama :)

  18. Wih!!! Aku kok suka sekali dengan cara Puak alias si supir taksi teladan ibukota ini. Lincah dan ngalir. Aku sampai baca berkali-kali. Habis cara Puak cerita seolah seperti sedang mendongeng di depanku. Bentuk teks betul-betul muncul dalam bentuk lisan.

    Dan menyimak hubunganmu dengan papamu itu, cair banget ya. Sedap polanya. Bahkan aku nggak nyangka bahwa keduanya sama-sama perman. Bukankah begitu, Cong? (Maksudnya bencong. Huihihi).

    Salam kempol selalu!
    DM recently posted..PotalaMy Profile

  19. INI KOMEN BUAT UDA VIZON:

    Da, idemu ini sungguh gila dan brilliant! Tadinya aku masih menduga-duga sambil lalu saja: tujuan dari semua ini. Dan ternyata, luar biasa! Mengumpulkan tulisan dari teman-teman blogger, menyajikannya di sini, lalu teman-teman membaca dan mengomentari. Tetapi bukan mengomentari tulisan Uda (karena ini blog Uda), melainkan tulisan dari teman yang rawiannya dimuat. Keren!

    Ini betul-betul reuni, Da. Malah lebih dari itu. Aku merasakan atmosfer yang sungguh menyenangkan dengan semua ini.

    Great! Idemu orisinil, brilliant, hebat, dan tak ada alasan padaku untuk tidak salut! :)

    Tapi, tapi, tapi, mana rendangnyaaaaaaa…………?!!!
    DM recently posted..PotalaMy Profile

  20. aku sih kata org mirip banget ama papa.. :D
    tapi aku ga terlalu dekat dengan papa ku..lebih dekat ama mama sih..
    sama ama kaya papanya mbak, papaku biasanya nanyain ttg aku ke mamaku.. :)
    fitri melinda recently posted..Sebuah SMSMy Profile

  21. Huwow! Tulisan ini keren sekali, Lou. Aku ikutan ngakak membayangkan tiap adegannya. Kau buat aku rindu ayahku. (Ya ayahku, masak ayahmu?)

    Tapi walaupun katanya mirip banget, taruhan ayahmu tidak doyan vampir, apalagi ngaku-ngaku jadi keluarga Cullen!
    marshmallow recently posted..DoorsmeerMy Profile

  22. Pingback: Site.Stats. « me thought

  23. “Itu muka papa kok kerutan semua?”. Papa yang sedang memegang cermin ditangannya menjawab dengan santai di atas kaca mata plusnya. “Rencana mau saya tarik semua kok kulit muka ini ke belakang trus dikucir, jadi bisa mulus lagi dan terlihat muda. Ganteng”
    ……
    wuih jawaban yang cerdas sekali ya…. Kenakalan dan pertanyaan yang dijawab dengan sangat cerdas dan khas
    Zulmasri recently posted..Jadwal PLPG dan Peserta Sertifikasi Guru Tahap I Rayon 12 UNNESMy Profile

  24. pertama-tama, mau bilang met kenal buat si mba penulis artikel yang cantik ini.

    ceritanya sangat menarik diikuti ampe habis, mengingatkan saya pada ayah nun jauh di sana. sejak kecil, saya juga selalu mengidolakan ayah, merasa bangga menjadi anaknya meskipun sebal setengah mati karena wajah saya lebih mirip dengan ibu sementara kakak dan adik saya yang dua-duanya lelaki, miiiripp banget sama ayah, :(

    menjadi satu-satunya anak perempuan ayah membuat beliau begitu memanjakan saya, bahkan semenjak saya bisa mengingat, seingat saya tak pernah sekali pun ayah memarahi apalagi sampai melakukan kekerasan fisik (karena kenakalan saya sekalipun).
    kalau saya nakal, yang menghukum biasanya mama, itupun akan mendapat teguran dari ayah meskipun saya pantas mendapatkannya #kasian mama,

    apalagi sejak mama dipanggil lebih dulu, saat saya masih duduk di bangku sma. saya semakin akrab dan menjadi sahabat ayah, menggantikan posisi ibu sebagai satu2nya anak perempuannya.

    Alhamdulillah, sampai sekarang, meski telah memiliki keluarga baru, suami dan tiga buah hati, saya dan ayah tetap bersahabat seperti dulu. :)

  25. Ah.
    Kangen deh sama Puak.
    Makanya tadi saya langsung buka postingan yg ini begitu baca penulisnya si Mbak Puak.
    Seperti biasa tulisannya pun bagus, Udo…
    Ayah memang punya tempat tersendiri di hati anaknya.
    @zizydmk recently posted..Dongeng Favorit VayMy Profile

  26. Pingback: SURAU INYIAK » Blog Archive » ayahku (bukan) pembohong

Komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*


+ 2 = 3

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CommentLuv badge