aku ingin jadi ayah


Warning: Illegal string offset 'single_featured_image' in /home/hardiviz/public_html/wp-content/themes/confidence/content-single.php on line 69

Blogger Bicara Ayah #2

 

Bagi seorang anak laki-laki, sosok ayah sangat dibutuhkannya sebagai tauladan utama dalam memperkuat maskulinitasnya. Dari ayahnya, anak laki-laki akan belajar tentang tanggungjawab, kerja keras, dan sikap terhadap perempuan. Tidak jarang kita melihat seorang anak lelaki menjadikan ayahnya sebagai “musuh” utamanya, lantaran perlakuan sang ayah yang tidak baik terhadapnya dan terhadap ibunya. Sikap semacam ini tentu telah membuat rancu hakikat maskulinitas dalam dirinya.

Semestinya, seorang anak laki-laki menjadikan ayahnya sebagai idola utamanya, bukan sebaliknya. Ayah yang berperan dengan baik akan menjadi inspirasi luar biasa bagi anak lelakinya. Sehingga, sang anak akan berkata pada dirinya: “aku ingin seperti ayahku, bahkan lebih baik darinya“.

Sahabat baikku Muharman atau yang lebih dikenal dengan panggilan IMOE, pemilik blog http://imoe.wordpress.com, memiliki cita-cita seperti itu. Dia yang sehari-harinya bergiat sebagai Ketua Lembaga Perlindungan Anak Sumatera Barat, memiliki pandangan yang luar biasa terhadap sang ayah. Baginya, ayah adalah tauladan utamanya.


Muharman “Imoe” yang selalu dekat dengan dunia anak…
Karena itukah wajahnya masih terlihat imut? :D

Di sini, Imoe berbicara mengenai betapa paradigma masyarakat terhadap peran ayah dan ibu telah membuat keduanya terkotak dan tak bersinergi. Padahal, bukankah urusan keluarga adalah urusan berdua? Lantas, kenapa jika terjadi sesuatu terhadap sang anak, ada kecenderungan untuk menyalahkan ibu saja atau ayah saja.

Baiklah, mari kita simak tulisannya berikut ini. Selamat membaca…

===================================================

Aku Ingin Jadi Ayah
oleh: Imoe


Banyak yang bilang.. “kamu mirip sekali dengan ayahmu“. Bahkan Ibu sayapun seringkali berujar..”kamu niy, kayak ayahmu saja..”. Kalimat itu selalu muncul kalau saya melakukan kesalahan. Awalnya saya tidak ambil pusing dengan itu, barangkali karena memang Ibu lagi kesal melihat saya dan mencari kambing hitam atas kekesalan itu. Tapi belakangan saya terpesona dibuatnya. Kalimat itu memang benar dan nyata adanya. Saya benar-benar mirip dengan ayah, terutama sikap dan perilaku. Jika mengingat itu, saya jadi ketawa, bertanya dalam hati, “jadi kemana saja saya selama ini, hingga tak menyadari semua itu?”. Ah… memikirkannya benar-benar misteri.

Jujur saja, memang saya terbilang lebih dekat dengan Ibu daripada dengan Ayah. Orang bilang memang anak laki-laki punya kecenderungan lebih dekat dengan Ibu. Entah kenapa. Kalau dengan Ibu sepertinya gampang ’berurusan’, tapi kalau dengan Ayah, rasanya bakal sulit.

Saya ingat betul waktu masih kecil, kalau tidak mendapatkan sesuatu, bisa langsung merengek ke Ibu, lalu semuanya terpenuhi. Tapi jangan coba-coba dengan ayah. Setinggi langitpun merengek, sekali tidak, tetap tidak. Barangkali itu juga sebab kenapa kedekatan dengan Ibu jadi lebih besar. Tak lain dan tak bukan ’azas kepentingan” wkwkwkwkwkw.

Coba simak yang ini, “Tanya ayahmu dulu, Ibu gak ijin kalau ayahmu gak bolehin“. Lalu saya melakukannya. Jika tak diijinkan, lalu Ibu bilang “Nah, apa Ibu bilang, ayahmu siy selalu begitu, kayak gak tau aja…”. Pasti semua pernah mengalami hal yang begini.

Kalau yang begini…”Nah, itu berkat ayahmu…”. Kayaknya kalimat yang ini jarang banget keluar ya (heheheheh).

Lama-lama saya mulai berfikir…”apa menjadi ayah itu selalu jadi tumpuan terakhir?“. Kalau lagi tak berkenan di kambinghitamkan. Kalau lagi baik, jarang sekali dapat pujian. Wah……. Ribet. :(

Saya memang tidak bisa menyalahkan siapa-siapa atas sistuasi itu. Bagi saya, Ibu dan Ayah bisa menjalankan keluarga ini sampai lebih 50 tahun adalah sebuah mukjizat luar biasa dari Tuhan.

Itu semua menurut saya, berkat ayah yang mampu bertahan dengan segala keterbatasan dan begitu banyak tantangan. Memenuhi kebutuhan keluarga, baik secara fisik ataupun emosional. Terkadang, harus sendiri, karena Ibu sedang tidak sanggup mengemban tugas mulia itu. Terkadang mesti berdebat dengan Ibu untuk sebuah keputusan keluarga. Harus mampu memahami maunya Ibu dan maunya anak-anak. Semua dijalankan ayah saya dengan senag hati dan Ibu saya juga dengan senang hati menerima segala konsekwensi hidup bersama ayah.

Mungkin itulah kenapa, jadi ayah di ibaratkan menjadi seorang Imam, ibarat nahkoda, ibarat pilot, ibarat sopir dan segala macamnya. Menentukan kemana arah untuk membawa keluarga yang dipimpinnya. Tentunya berdua bersama Ibu. Jadi ayah adalah amanah. Syorga, jikalau amanah itu bisa di emban dengan baik.

Eitttt jangan salah, saya hampir lupa. Coba renungkan sejenak kalimat ini.. “Hayo… siapa dulu bapaknya…” Kalau di pikir-pikir, kalimat ini sepertinya jadi monopoli sang Bapak ya…hehehehe.

Ya… jadi ayah kalau dipikir-pikir memang hebat. Mungkinkah aku bisa sehabat ayahku?. Kapan ya, bisa mencobanya?…. Hehehehehe. (IMOE)

===================================================

Anda setuju dengan pendapat Imoe? Atau punya pendapat lain? :)

.

Tulisan kedua dari acara “Baralek Gadang”, klik di sini untuk melihat daftar tulisan dalam acara ini :)

 


Warning: Illegal string offset 'author_box' in /home/hardiviz/public_html/wp-content/themes/confidence/content-single.php on line 93

51 comments on “aku ingin jadi ayah

  1. “urusan keluarga adalah urusan berdua ?”

    Saya setuju dengan statement Uda Vizon yang satu itu

    “Barangkali itu juga sebab kenapa kedekatan dengan Ibu jadi lebih besar. Tak lain dan tak bukan ’azas kepentingan …”

    Dan saya tersenyum dengan statement Imoe yang satu itu …

    Saya membaca dua tiga kali postingan ini

    Thanks Imoe
    Salam saya Uda

    • Thanks Pak,

      Penglaman saya siy begitu, kalau merengek ke ibu, maka urusan bisa selesi, kalau ke ayah, jngan coba coba, sekali tidak tetap tidak. Sekalipun begitu, saya memang bngga dengan ayah yang hingga hari ini tetap semangat menjalani hidup, bangga saya bertambah tatkala menyadari kalau saya itu adalah copy paste beliau hehehe

      Salam pak, saya sering berkunjung ke blog bapak lho hehehe

  2. Berbahagialah sahabat Imoe yang di antara kedua orangtuanya ia bisa memiliki kedekatan. Sehingga kalau tidak bisa “merengek” ke ayah, ia masih bisa “merengek” ke ibu. Aku pribadi tak bisa “merengek” pada keduanya (ya iyalah, masa’ aku “merengek” pada kedua orangtua Imoe :D ).

    Kalau bapakku bilang tidak, itu berarti tidak. Kalau ibuku bilang tidak, ya tetep tidak. Sehingga tak ada di antara keduanya yang betul-betul dekat denganku secara personal. Alangkah beruntungnya engkau, wahai Uda Imoe.

    Tampaknya kalimat “Hayo… siapa dulu bapaknya…” semata diciptakan oleh seorang lelaki yang kebetulan berstatus ayah. Barangkali itu bentuk eksistensi dirinya demi melihat pada umumnya anak lelaki lebih dekat dengan ibu. Padahal tak ada parameternya kan siapa akan lebih dekat dengan siapa. Toh bagaimana pun semua punya kontribusi dengan segala porsinya.

    Jadi, kapan jadi ayah, Moe? Sudah 2011 lho… (lantas kenapa kalo sudah 2011? :p )

    • Bener mas DM, sebetulnya tidak ada yang dianggap lebih penting, hanya saja peran yang membedakan. Kalau tidak ada ayah, maka tidk ada ibu.

      Ini, ibu saya sering bilang…”Sepi ya…kalau ayahmu dinas luar kota” nah tuh….itu sering kali diucapkan kalau beliu lagi gak dirumah untuk beberapa hari. Masih segr dlam ingatan saya.

      Insyaallah, November ini klau tidak ada halangan, saya akan mengakhiri masa lajang. Perempuan itu telah meluluh lantak kan hatiku (wkwkwkwk). nggap ini undangan ya…doakan lancar.

      Sttttttt ada satu sohib blog yg udah aku kenalin lho…..(walaupun cuma lwt FB)…ayo tebakkkk

      • Hohoho, November rupanya. Mantap! Selamat… Selamat… Senang mendengarnya! ;)

        Dan luluh lantak? Luluh lantak? Wadaw! Jatuh cinta kok malah luluh lantak ini gimana? Sudah jatuh, luluh lantak pula. Berantakan semua jadinya. Butuh waktu untuk memugar hati kembali :D

        Pokoknya selamat!!!

        • Ikut menyimak …
          Dan ikut memberi selamat

          Semoga lancar …
          Semoga sehat dan berbahagia selalu

          Doa saya Imoe …

  3. Sama, aku lebih dekat dan merasa semua lebih ‘mudah’ ketika berurusan dengan Mama.

    Papa dulu seperti cukup memberi garis pembatas antara ini “boleh” dan itu “tidak boleh”, tapi Mama menerjemahkan garis pembatas itu lebih enak, fleksibel dan ‘mudah dimengerti’ :)

    • Mas DV,

      Kalo begitu ibu kita hmpir mirip….pokokny ibu bagi saya adalah senjata terakhir buat melancarkan serangan ke ayah (hahahahah). Dan ayahku tahu itu….

      Apakah karena ibu ku adalah perempuan satu satunya yang mampu mendinginkan kerasnya hati ayahku kali ya hehehe

  4. Harusnya bisa Da Imoe. Karena sekian tahun lamanya tinggal bersama ayah, pastinya jiwa yang di punya ayah bisa meresap ke dalam dirimu.
    Tinggal menyikapinya saja. Pastinya banyak kebaikan beliau yang bisa Da Imoe ambil.

    • Bener Pak…tidak ada satu celapn bagiku ayah, karena beliau selalu menginspirasi apapun yang saya lakukan, bahkan hingga hari ini. Walalupun kadang kadang kita berbeda pendapat, itu hanya karena kita beda cara menenpatkan sesuatu.

      Salam pakk…

  5. Wah, kebalikan dengan saya yang keputusan akhir selalu pada ibu. Walaupun pada anak lelakinya. Soalnya menurut Ayahku, masalah perkembangan anak itu hak istimewanya ibu. Jadi kalopun ngadu ke Ayah, palingan juga disuruh nurut sama ibu. Ayah bagian politik luar negeri, lobi, transportasi, dan nyari duit..:) Pembagian kekuasaan.

    Ibu dekat dengan anak laki-laki, pandangan berlaku umum. Cakep seperti ibunya dan pintar seperti bapaknya juga kata-kata yang umum. Lalu kemudian, anak laki-laki akan menjadi bapaknya. Akan dibanding bandingkan pula dengan bapaknya. Walaupun kenyataannya gak semua juga begitu.

    • Wah Al, ternyata gak ada rumus ya untuk urusan yang satu ini. Artinya jadi dan berlakulah sesuai pera demi kebaikan keturunan…(bukan begitu ?)

  6. Selalu suka sama cerita-cerita baralek gadangnnya,,

    Kalau Ayahku adalah pembela sejati,,
    Papa gak pernah marah,,kata papa “anak perempuan gak boleh diomelin”
    Haa haa haa haaa

    Kalau diomelin mama pasti kaburnya ke papa,,dan mama selalu bilang
    “Kamu tuch kaya papa :d”
    Aku suka nyahut
    Ya iyalah anaknya,, kalau mirip bapak tetangga,, baru tuch aneh

    • HEheheh bener ya mbak, berbalik 180 derajat…pasti senjata terakhir mbak yesy untuk meloloskan keinginan adalah Bapak hehehe

  7. InsyaAllah dalam waktu kurang dari 4 bulan, saya akan menjadi seorang ayah.
    Mudah-mudahan bisa meniru perangai baik mendiang ayahku.

    Dan satu lagu yang pernah kuciptakan untuk Mendiang Ayah,

    “AYAH

    Ingin kulukiskan rasa yang
    membuatku terpesona akan kesetiannmu, padaku..
    Kau beri s’gala yang terbaik
    yang engkau miliki untuk mebuatku bahagia, kau curahkan..

    Begitu banyak cobaan.. (menjali hidup..)
    Tak kudapati dirimu.. (melupakanku..)
    Tak sebersit pun kulihat.. (engkau mengeluh..)
    Ayah..

    Reff. Aku bangga sebagai anakmu (Ho..ho..ho..)
    Tak akan kusakiti dirimu (Ho..ho..ho..)
    Segenap rasa di hati ingin..
    ‘kan kubahagiakan dirimu, ayah..

    Dengarkan laguku ini (Ho..ho..ho..)
    Yang kucipta untuk dirimu (Ho..ho..ho..)
    Sebagai rasa terimakasihku padamu..”

    Mau download lagunya di >> http://bit.ly/mUBj9s

    • Saya sudah dengar lagunya, Richi…
      Waw… keren…
      Terima kasih sudah memberikannya kepada kami di sini

      Oya, semoga kehadiran sang buah hati ke muka bumi ini dimudahkan oleh Allah SWT ya. Dan saya sangat yakin, si buah hati kelak juga akan menyanyikan lagu itu untuk Richi.. :)

      • Amin ya Rabb,,
        Terimakasih atas doanya.

        Dan hari ini pun, saya telah buat catatan sederhana tentang mendiang ayah.
        Jika ia masih ada, hari ini adalah tepat di usianya yg ke-64.

    • Aminnnn mudah mudahan selamat dan diberikan anak yang shaleh mas…salam dari saya untuk anaknya kalau sudah hadir di muka bumi ya…

      Lagunya kerennnnnnnnn

  8. karena nak perempuan mungkin ya, saya sangat dekat dengan papaku, sama seperti ayahnya utri, papaku alm juga membela
    “anak baru bangun tidur jangan diomelin”

  9. Saat anak lelaki saya umur 10 tahun, dan mulai buat pusing kepala (bukan berarti nakal, tapi keingintahuannya sangat besar sehingga saya sebagai ibu sulit menjawab pertanyaan nya), saya mulai rutin berkunjung ke psikolog. Bukan apa-apa, sekedar diskusi bagaimana saya bisa memahami anakanak yang sebentar lagi mau ABG, karena suami kerja di Bandung, dan saya di Jakarta. Suami mencoba untuk pulang setiap week end agar bisa mengobrol dengan anak lelakinya.

    Apa kata psikolog tsb, yang selalu saya ingat….”Bu, setelah anak laki-laki umurnya lebih dari 10 tahun, hendaknya lebih dekat dengan ayahnya, agar dia bisa belajar dan punya panutan.”

    Iya Imoe, bersyukurlah punya ayah yang bisa sebagai panutan, karena tak semua anak punya keberuntungan seperti itu.

    Bagi saya, ayah dan ibu sama-sama disiplin, sehingga jika ayah mengatakan tak boleh, ibu juga akan sama. Dan hal ini yang saya sepakati bersama suami, agar anak bisa membedakan mana yang boleh dan tidak. Namun, jika kira-kira ada perbedaan pandangan antara ayah ibu, diskusi harus dilakukan di ruang tertutup, bukan di depan anak…dan nanti ayah yang akan mengatakan..”Setelah diskusi dengan ibumu, ayah memutuskan..bla…bla..,” tentu diberikan pemahaman dulu mengapa dan apa latar belakangnya ortu memutus seperti itu.

    • aduh bun…thanks bgt ya pengalamannya, saya selalu belajar dari apa saja yang saya temui, termasuk hal yang satu ini bun, KONSISTENSI, mudah mudahan saya nanti bisa jadi ayah yang juga KONSISTEN…

      Salam ya bun buat anaknya….

  10. Aku selalu berlinangan air mata bila membaca tulisan tentang “Ayah” Karena beliau sudah tidak lagi bersamaku kini.

    Papaku sangat tegas, kadang terlalu keras. Bila dia berkata tidak, selamanya akan tidak. Mama pun tak sanggup membantahnya.

    “Tanyalah papamu, kalau papa nggak bolehin mama juga enggak” itu juga berlaku dirumah kami. Papa pemegang tampuk pimpinan tertinggi yang tidak terbantahkan :D

    Ayolah Da Imoe, cepatlah jadi Ayah. Jadilah Ayah yang hebat! Seperti Ayahmu dan Ayahku! :)

  11. dirumah..papa adalah orang yang paling menentukan..
    kalo papa udah bilang tidak itu berarti tidak..ga ada tawar menawar lagi.. :)
    lebih enakan ama si mama, lebih mudah kompromi..

    • Kalau aku mbak, untuk beberapa hal ibu lebih galak….contohnya dulu, kalau telat pulang malam ibbu yang paling marah, tapi ayah bilang…

      “biar aja, ntar kalau dia macam-macam pasti nyesel sendiri, dia udah besar kok”

      Mendengar itu sebetulnya aku ngeri, membayangkan jika terjadi apa apa hehehe

  12. Dear All,

    Sobat blogger, pertma saya mau ngucapin trima kasih ke Uda Vizon, karena tulisan saya yang singkat ini ternyata dimuat, saya hanyalah menuliskan sedikit tentang apa yang saya alami saja bersama saya, ibu dan ayah. Beliau adalah sumber inspirasi utama saya, hingga saat ini. Jadi sekecil apapun itu yang terjadi, pasti saya tahu dan saya merasakan.

    Ternyata kita benar benar bisa memahami siapa ibu dan ayah kita ketika beliau telah menyerahkan HIDUP kepada kita. Saya baru menyadari itu kita harus benar benar ertanggung jawab terhadap apa yang saya lakukan.

    Kedua…mohon maaf kementaranya baru bisa saya balas, karena sejak tanggal 2 juni pukul 10.00 WIB saya dan teman teman menikmati liburan ke GUNUNG MERAPI di Padang Panjang Sumatera Barat. Tentu saja tidak bisa mengakses internet. Dan baru kembali ke dunia MAYA ini 3 Juni pukul 20.00 WIB dan saya bahagia sekali melihat komentar teman-teman semua.

    Salam untuk semua…..kita tunggu edisi UDA VIZON selanjutnya hehehe

      • Wahhhh SIAP GRAK, aku tunggu mas. Tingginya kurang dikit 3000, kalau lagi cerah kita bisa liat kota bukitinggi dari ketinggiannya dan bisa lihat gunung singgalang juga dihadapannya yang menjulang sama tingginya.

        Kapan….ayo……………….

  13. salam kenal, Imoe.
    beruntung bunda bisa ikutan membaca tulisan mu di baralek gadangnya Inyiak :)
    alhamdulillah, kebetulan bunda dekat dgn kedua ortu, baik ayah maupun ibu, walaupun memang sebagai anak perempuan ada sedikit rasa lebih dekat dgn ayah, sampai dulu pernah berfikiran ingin mendapatkan seorang suami seperti ayah :)
    salam

    • Salam kenal bunda, senang mengenal bunda.
      Pasti sekarang bunda telah jadi ibu sehebat ibunya bunda kan…btw boleh dong di link jadi friend blog Imoe kan bun ?

  14. aaaaaaaaaaaaaahhh rupanya November ya?
    Sama SY (bukan saya loh) kan? hihihi…
    pastilah bisa jadi sehebat ayahmu moe… dan lebih hebat lagi ;)

    EM

    • Sttttttttttttttt jgb bilang bilang…yg itu, tuhhh uda vizoin penasaran wkwkwkwkwkw

      AMinnn mudah mudahan bisa jadi ayah yg hebat…

  15. Salam kenal Imoe…

    Smoga jalannya di lancarkan, dan ‘aku ingin jadi ayah’ nya segera terwujud juga

    btw sama nih kita, saya jg “aku ingin jadi ayah”

    salam,

  16. selamat kenal imoe, meskipun lewat suraunya uda vizon. Bagi saya, ayah dan ibu merupakan sebuah tim yang harus solid. Meskipun aturan main (baca: peran) sebagai ayah dan ibu sudah jelas namun perlu banyak improvisasi dalam menangani beragam masalah. Ada kalanya ayah merupakan sebagai pimpinan tertinggi dalam menentukan sebuah keputusan tapi ibu sebagai partner semestinya kita dengarkan pendapatnya…pokoknya tim harus selalu solid

  17. Jika diibaratkan dalam satuan mliter maka ayah adalah seorang Komandan sedangkan ibu adalah Wakil Komandan atau Kepala Staf.

    Seorang Komandan memegang komando dan bertanggung jawab penuh atas tercapainya tugas pokok satuan.
    Sementara Wadan atau Kepala Staf lebih banyak bertugas mengkordinasikan kegiatan staf antara lain bidang personil, logistik,dll.

    Demikian pula dalam rumah tangga. Ayah berfungsi sbg komandan yang bertanggung jawab penuh atas apa yang dilakukan dan tidak dlakukan oleh isi rumah tangga itu. Emak ya ngopeni anak, ngurus logistik,perawatan, dll.

    Makanya emak agak sedikit pelit dibidang logistik. Ibarat asisten logistik atau ASLOG semboyan emak adalah ” ASal LOGis ” ya dikasih. Jika anak umur 9 tahun sudah minta dibelikan sepeda motor ya gak dikasih karena tidak logis.

    Jika ayah ngasih uang maka uang itu bukan diambil dari anggaran satuan tetapi merupakan uang cadangan komando ha ha ha ha..Biasanya ada dislempitan kopiah, sarung, sepatu, ha ha ha ha ( bukan pengalaman pribadi lho..)

    Mantep artikelnya mas.

    Salam hangat dari Surabaya

  18. tulisan mas imoe makin menyadarkan saya betapa figur seorang ayah memang demikian penting di mata anak, sama mulianya dengan seorang ibu yang secara bilogis menjalankan fitrahnya. semoga kelak mas imoe benar2 menjadi seorang ayah yang benar2 diidolakan anak2nya.

  19. Menjadi ayah kok coba-coba! ( protes untuk bang Imoe, hehehe…). Siapapun ( laki-laki tentunya ) bisa menjadi ayah yang hebat, tergantung niat dan kesungguhan usahanya.

  20. met kenal mas imoe :)
    InsyaAllah, setiap laki-laki bisa menjadi seorang ayah yang hebat, apalagi sudah ada panutan langsung sedari kecil yaitu ayah sendiri.

    Tapi urusan siapa yang menentukan berbagai urusan sang anak, kalo saya pribadi ayah lebih mudah diajak kompromi #mungkin karena saya satu2nya anak perempuannya, jadi dimanjain dan selalu diturutin.

    justru sama almarhumah mama yang agak susah, juga karena alasan yang sama, satu2nya anak perempuan jadi harus dijaga baik2, hehe :)

    salam ^_^

  21. Dulu dekat banget sama Ayah, tapi gara-gara satu kejadian jadi sedikit jauh dengan Ayah. Terkadang kalau ingat jadi sakiiit banget but after all he has done and still doing “being father” isn’t easy. Kesalahan sedetik apa iya akan menghapus pengorbananbeliau bertahun-tahumn.

    Saat anak perempuan masih kecil, sampai dia menginjak remaja akan dekat banget dengan ayahnya karena merasa Bundanya bukan sosok yang mengerti. Tapi saat usia menginjak 19 up sosok ibu yang lebih dibutuhkan :)

  22. Pingback: SURAU INYIAK » Blog Archive » ayahku (bukan) pembohong

Komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jawab dulu ya pertanyaan di bawah ini sebelum kirim komentar, biar tidak dianggap spam.. :) *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>