syarat menjadi ayah yang baik

Blogger Bicara Ayah #3

 

Orang bijak bilang: “Lain ladang lain ilalang, lain lubuk lain ikannya”, setiap bangsa memiliki adat dan budayanya masing-masing. Adat budaya ini yang lantas membangun berbagai paradigma dalam masyarakat, termasuk masalah keayahan. Meski secara khusus setiap bangsa memiliki paradigmanya sendiri-sendiri tentang keayahan, namun sesungguhnya ada nilai universal yang dimiliki oleh masing-masing budaya tersebut, yakni peran ayah sama pentingnya dengan peran ibu dalam kehidupan seorang anak.

Sahabat baikku, yang aku panggil sebagai “nechan” (kakak perempuan, Jpg) kali ini akan hadir di Surau Inyiak ini dengan cerita tentang ayah di Jepang. Tentu sahabat semua sudah sangat mengenal blogger yang satu ini. Pemilik blog bertajuk Twilight Express dengan alamat: http://imelda.coutrier.com ini bernama lengkap Imelda Emma Veronica Coutrier, bermukim di Tokyo dan bersuamikan orang Jepang, dengan dua orang putra yang pintar dan sangat baik. 

Sebelum dilanjut, coba perhatikan foto-foto berikut ini:


Entah mengapa, ketika melihat foto-foto ini, aku terpekur dan berdecak kagum. Terlihat sekali betapa sang Papa tidak sekedar “ada” di sampingnya, tapi selalu “berada” bersamanya, dalam kondisi apapun, hal yang mana pada masyarakat modern adalah sesuatu yang boleh dibilang langka. Menurutku, Papanya nechan Imelda adalah seorang ayah yang sangat baik. (simak dua tulisan menarik Nechan Imelda tentang ayah di sini dan di sini).

Nah, berbicara tentang bagaimana menjadi ayah yang baik, tentu kita bertanya-tanya; apa sih syaratnya? :)

Ok, sebelum kita diskusikan lebih lanjut, mari kita simak tulisan Nechan Imelda tentang “ayah” dari pengamatannya dalam kehidupan masyarakat Jepang.

Cekidot…

========================================================

Syarat Menjadi Ayah yang Baik

Oleh: Imelda

 

Berkali-kali aku menghapus kalimat yang sudah kutulis dalam draft. Aku tahu aku bukan penulis fiksi, tapi untuk menjawab ajakan Uda Vizon, tadinya aku ingin mencoba menulis fiksi. Dan ternyata …. tetap tidak bisa. “Keayahan” adalah tema yang sebetulnya mudah, tapi ternyata cukup sulit bagiku. Mungkin akan lain jika temanya adalah “Ibu”, karena aku merasa aku bisa menulis banyak tentang ibuku, aspek-aspek yang kupelajari dari ibuku sejak kecil sampai aku pun sekarang menjadi seorang ibu. Tapi menulis tentang ayah? ;)

Ayah disebut sebagai otousan お父さん dalam bahasa Jepang. Tapi ternyata sebutan ini baru-baru saja dipakai, yaitu sejak 1903 karena tercantum dalam buku pelajaran sekolah dasar waktu itu. Sebelumnya dipakai kata Oyaji 親父dan juga masih dipakai sampai sekarang. Yang menarik, kata oyaji ini terdapat dalam sebuah kalimat “Jishin Kaminari Kaji Oyaji” Gempa – Petir – Kebakaran – Ayah.Ayah di Jepang digambarkan sebagai sosok yang menakutkan setara dengan gempa, petir dan kebakaran. Tapi itu kan dulu.

Sekarang? Sejak tahun 1960, karena ayah mulai jarang berada di rumah maka kedudukannya mulai menyurut, apalagi sejak  tahun 1980 mulai dikenal perkataan domestic violence KDRT, sosok ayah tidak lagi bagus di mata masyarakat. Padahal keberadaan ayah mutlak dalam keluarga bukan?

Bisa dimengerti jika dalam keluarga modern kedudukan ayah seakan lenyap dalam keluarga. Sang ayah berangkat bekerja pagi hari kala anak-anak masih lelap tertidur, dan pulang kantor kala anak-anak sudah tidur. Kapan ada waktu untuk bercengkerama dengan anak-anak?  Maka pada hari Sabtu atau Minggu atau kedua hari itu, atau pada hari libur beruntun, Ayah melaksanakan “tugas” nya sebagai ayah dengan melewatkan waktu dengan anak-anaknya, sampai-sampai timbul kata baru “Family Service“. Pelayanan Keluarga.

Tapi apakah Family Service di akhir pekan itu saja cukup?

Aku menemukan sebuah “keluh kesah” dari seorang ayah Jepang seperti ini:

Tolong beritahukan pada saya apa syaratnya menjadi seorang Ayah yang baik?

Saya dicap oleh istriku sendiri bahwa saya bukan ayah yang baik.
Karena saya tidak bermain bersama anak-anak. Tidak tahu apa-apa tentang anak-anak. Tidak ada perhatian terhadap kondisi keluarga. Hanya mementingkan diri sendiri! Katanya, “Anak kita tidak suka bermain baseball, melempar bola dll itu karena kamu tidak mengajarkannya”.

Memang saya akui saya sibuk. Saya pulang sudah waktu tidur anak-anak dan karena liburnya tidak tetap, justru lebih banyak libur di hari biasa, bukan akhir pekan. Karena itu saya akui saya tidak mengajak mereka bermain karena tidak ada waktunya. Tapi saya bukannya tidak berusaha.

Setiap pagi saya bangun bersama anak-anak dan pergi ke taman sekitar 1 jam. Sepulang kerja saya selalu menunda makan dan mandi untuk menemani anak-anak sampai mereka tertidur. Saya juga selalu mengikuti upacara masuk TK/SD, upacara kelulusan TK/SD, Presentasi anak-anak bidang kesenian, Open School dan Hari Olahraga. Tidak pernah terlewati. Saya pikir saya sudah melakukan family service tapi ternyata yang saya lakukan itu BUKAN family service. Seakan itu sudah wajar dilakukan semua ayah tanpa ada tambahan sebutan “baik”.

“Bapaknya si Anu begini loh… ”
Wah kalau saya harus seperti Bapaknya si Anu juga, satu-satunya jalan hanya pindah kerja. Kerja yang sudah pasti hari Sabtu dan Minggu libur, tanggal merah juga libur, tanpa lembur, tapi gaji bagus. Apakah hanya Bapak yang bekerja seperti itu yang bisa menjadi ayah yang baik?

Apa sih syaratnya menjadi Ayah yang baik?
Saya harus melakukan apa lagi supaya bisa dianggap sebagai Ayah yang baik?

Aku yakin sebetulya banyak ayah Jepang yang merasakan kekhawatiran seperti itu meskipun mungkin tidak timbul di permukaan. Banyak yang merasa “Saya bukan ayah yang baik!”.

Tapi yang menarik, semua jawaban/komentar justru memuji si penanya itu, dan mengatakan bahwa mengajak anak-anak ke taman 1 jam di pagi hari saja sudah bagus sekali, apalagi bisa menghadiri semua upacara dan kegiatan sekolah. Dan semua bahkan menanyakan hubungan dengan istrinya, mengapa istrinya sampai menyalahkan dia dan mengatakan bahwa dia bukan ayah yang baik?

Banyak usaha yang dilakukan untuk semakin melibatkan ayah melaksanakan perannya sebagai seorang ayah sejati baik dari pihak pemerintah maupun sang ayah sendiri. Pemerintah Jepang sendiri melalui “Kebijakan Cuti Membesarkan Bayi” memperbolehkan suami mengambil cuti (dengan tunjangan khusus) sampai sang bayi berusia 1 tahun. Para ayah ini secara aktif mengasuh dan membesarkan bayi mereka, selama istrinya bekerja maupun tidak bekerja. Meskipun ayah yang memanfaatkan kesempatan ini sampai dengan tahun 2008 persentasenya hanya 1,23%, diharapkan dengan adanya revisi “Peraturan Cuti untuk Merawat Orang Sakit dan Membesarkan Bayi” pada tahun 2010 akan lebih banyak lagi ayah yang mengambil cuti. Bahkan saat ini ada kata baru yang cukup populer yaitu bercita-cita menjadi “Ikumen” (Lelaki yang mengasuh bayi). (FYI: ikemen = pria tampan)

Para ayah pun berusaha keras untuk menjadi ayah yang baik. Tak terbilang kegiatan di sekolah atau di masyarakat sekitar yang melibatkan ayah dan anak, jika mau mengikutinya. Membeli buku-buku parenting atau bahkan mengikuti “Ujian Kemampuan Menjadi Papa yang Baik” serta kursus-kursus yang banyak diadakan di Jepang. Mentang-mentang orang Jepang suka sekali “sertifikasi”.

Padahal sebetulnya sama sekali tidak ada STANDAR apakah seseorang itu sudah menjadi ayah yang baik atau belum.

Ada ayah yang menunjukkan cintanya pada anak-anaknya dengan mengikuti semua kegiatan anaknya, tapi lebih banyak yang tidak bisa karena keterbatasan waktu. Ada ayah yang memperlihatkan cintanya dengan akrab dan mencium anaknya bahkan di depan umum, tapi lebih banyak yang tidak bisa. Ada ayah yang diam dan jarang berada bersama anaknya, tapi sebetulnya dia memahami betul perilaku dan sifat anak-anaknya.

Setiap ayah memang berbeda cara menghadapi anak-anaknya, tapi inti dari semuanya sebenarnya adalah perhatian dan ketulusan seorang ayah terhadap anaknya. Hubungan ayah-anak bisa dibina dengan mempergunakan kesempatan interaksi antara ayah dan anak-anak sebaik mungkin, dalam waktu yang mungkin sangat minim. Bukan kwantitas yang menentukan tetapi kwalitas. Dengan perhatian dan ketulusan itu aku percaya semua anak akan menganggap ayahnya adalah ayah yang baik. Bukan hanya baik, tapi ayahnyalah yang nomor satu sedunia. Pasti!

==================================================

So… menurut Anda, apakah syarat menjadi ayah yang baik itu? Dan bagi para bapak-bapak sekalian, apa sajakah yang sudah Anda lakukan untuk bisa menjadi ayah yang baik? Yuk, kita obrolkan bersama-sama… :)

.

Tulisan ketiga dari acara “Baralek Gadang”, klik di sini untuk melihat daftar tulisan dalam acara ini :)

 

94 comments on “syarat menjadi ayah yang baik

  1. Menarik sekali menyimak soal pemerintah Jepang yang menerapkan peraturan “Kebijakan Cuti Membesarkan Bayi”. Sesuatu yang janggal di telinga Indonesia-ku. Tetapi barangkali merupakan suatu keharusan demi melihat mentalitet kerja di Jepang. Dan barangkali di kota-kota besar di Indonesia, pola seperti itu sudah sangat kentara: orangtua yang jarang bertemu anak-anaknya.

    Aku pribadi tak pernah mengalami hal seperti itu. Ketika kecil kedua orangtuaku, terutama bapak, cukup mudah digapai kesehariannya. Sering main bersama, ke toko buku bersama, traveling bersama, dan makan-makan di restoran bersama.

    Lalu seperti apakah syarat menjadi ayah yang baik? Adakah parameternya? Aku belum lagi menjadi seorang ayah ;)

    • waktu itu tak terbeli dan tak tergantikan. Aku sendiri jarang sekali menghabiskan waktu dengan ayahku, tapi cukup untuk pikiran dewasaku waktu itu :)

      Di Jepang “Single Mother” (tidak menikah tapi punya anak bukan karena “kecelakaan” tapi lewat inseminasi buatan) juga populer loh. Maukan kamu jadi “Single Father?” ;)

      EM

    • Riris dan Imoe….
      itu sudah menjadi harapan penghuni kampung blagu sejak lama sebetulnya…. tapi yang ditunggu mungkin lebih tertarik jadi bhiksu di Rongbuk Monastery :D

      we’ll wait and see ;)

      EM

  2. I like this …

    Ini tulisan khas Imelda … indeed …
    Imelda selalu berusaha menyajikan tulisan dengan disertai beberapa fakta atau atau referensi …

    Menjawab pertanyaan EM … (demikian saya memanggilnya ) … mengenai apa syarat Ayah yang Baik ?

    Saya jadi terdiam sendiri … apa ya ?
    Menurut saya … Ayah yang baik adalah Ayah yang “dekat” dengan anak-anaknya …
    Dia ada setiap dibutuhkan oleh anaknya … walaupun itu … bisa berarti … hanya sekedar diam tidak melakukan sesuatu … hanya menampakkan dirinya …

    Ayah yang bisa membuat si anak senantiasa berfikir … “That He is around them” … literally as well as illiteraly … makna tersirat maupun makna tersurat …

    Salam saya EM

    Uda …
    Saya pujikan bagaimana Uda memberikan pengantar pada tulisan ini … You’ve done your homework with elegant … (dengan eiylekhan)
    hahaha …

    I also like that

    (hehehe)

    • hahaha, fakta dan referensi ya? Memang kebanyakan tulisanku begitu, dan aku tahu mungkin banyak yang tidak nyaman juga membacanya :)
      Semoga tidak ada yang berpikir aku sok tahu saja, karena bukan itu maksudku, aku hanya berpikir untuk memberikan info (yang berdasar) setiap menulis ;)
      Makanya tidak akan bisa menulis fiksi hihihi.

      Well, “ayah yang dekat anak-anak” memang merupakan cita-cita semua keluarga. Dan aku tahu mas NH pun berusaha membuat waktu khusus untuk the 3boys kan? Just to be there :)

      EM

    • Terima kasih Om…
      Tulisan kawan-kawan memang sudah sangat khas. Saya ketika menerima tulisan-tulisan itu, sangat takjub, ternyata kekhasan itu sudah sangat melekat dan tak hilang meski ada beberapa yang sudah agak lama tidak menulis lagi..

      Sstt… Om, pertanyaan yang terakhir itu, sebetulnya hasil obrolan kami, dan Om Nh sebagai salah seorang yang kami bincangkan, hahaha… Sorry ya Om… gak kedutan kan? :D

  3. Tulisan yang menggugah. Sepakat dengan om NH soal beberapa hal yang bisa jadi indikator apakah fungsi ayah udah dijalankan secara memadai oleh seorang bapak…

    • Sepanjang seorang ayah “berpikir” apa yang sudah dibuat untuk keluarga, itu sudah menunjukkan usahanya untuk menjadi ayah yang baik. Karena itu aku juga setuju jika Indonesia merayakan hari Ayah, seperti yang dicetuskan Uda Vizon. Hari khusus juga untuk seorang ayah memikirkan apa yang masih bisa dia lakukan untuk keluarganya.

      EM

  4. Dalam beberapa hal saya bukanlah ayah yang baik. Salah satu penyebabnya adalah ” saya adalah anak tunggal”.
    Anak tunggal tidak pernah momong adik dan ada sedikit (atau banyak) punya sifat manja karena merasa menjadi ” raja kecil”. Ini masih ada pengaruhnya terhadap kehidupan saya walau sudah menjabat sebagai ayah.

    Akibat Kehidupan saya yang relatif “sunyi” karena tak punya kakak adik maka ketika anak-anak ribut, lari kesana-kemari sambil teriak-terak bersama teman-temannya saya agak sedikit kurang nyaman.

    Kembali ke syarat sebagai ayah yang baik.

    Penuhi saja 3 hal yang sangat populer.

    1. Ing Ngarso sung tulodo.

    Ayah harus menjadi panutan.
    Jika seorang ayah menyuruh anak-anaknya ” Hei, dengar suara adzan enggak. Segera ke surau sana !! “.
    Ketika anak-anak bertanya : ” Ayah juga berangkat ?”.
    Jika si ayah menjawab sambil muka berak : ” Sik, sik…lagi nanggung nonton Insert , Si Dewi Persik Operasi Plastik nich..nanggung…duluan aja sana”
    Hua…hua…hua…. ayah kayak gitu enaknya di cemplungkan got sebelum disodorkan ke Trio Macan.

    2. Ing Madyo Mangun Karso, memberikan dan membangun semangat di tengah anak-anak. Ketika anak-anak sedang belajar mau ujian, dekati sambil tepuk pundaknya ” Kau rajin banget, saya bangga. Ayah doakan kamu mendapat nilai yang bagus dan lulus ujian, Nak ”
    Woo..selangit dampaknya bho.

    Ketika anak-anak nilainya anjlog jangan muntap marahmu. Dekati dan katakan ” Tak usah kecewa wong sudah terjadi. Jadikan nilai ini sebagai cambuk, tingkatkan belajarmu . Ayah yakin semester berikutnya nilaimu akan yahhud. ”
    Insya Allah dengan suntikan itu anak-anak akan bangkit lagi.
    Jika anda mengatakan : ” Kamu niru siapa sih kok nilaimu kayak kembang api kayak gitu. Ike juga bilang apa, jangan ngebloooooooog dan cengengesan di pisbuk aja..belajar…belajar..belajar…. ” Brax…gedubrakx….blug…
    Wah….anak-anak bakal lari deh.

    3. Tut Wuri Handayani. Mendorong anak-anak dari belakang.
    Ketika anak ingin melanjutkan kuliahnya ke fakultas pertanian dukunglah walau anda sebenarnya ingin dia melanjutkan ke fakultas kedokteran.
    ” Ayah sebenarnya ingin kau jadi dokter, tetapi jka kau ingin menjadi Insinyur Pertanian ayah mendukungmu, nak. Kau meniru bakat dan minat kakekmu rupanya. Semoga kelak engkau jadi petani yang profesional dan bermoral… “.

    Jangan katakan : ” Kamu harus jadi dokter tauuuuu…lihat itu dokter Bundit..nyabuti gigi saja duitnya banyak….!!!”.
    —-

    Saya rasa 3 hal itu cukup menjadi syarat untuk menjadi ayah yang baik.

    Bu Imelda, saya bukan hanya sering berlama-lama menatap fotomu tetap juga menyukai tulisanmu yang enak dibaca dan perlu.

    Arigato gozaimazu

    aisatsu

    • wah pakdhe senang sekali membaca komentar pakdhe yang begitu panjang dan kena! Kadang ketiga pepatah bahasa Jawa itu terlupakan dalam kehidupan sehari-hari. Ingatnya itu pepatah untuk menjadi GURU yang baik :D, padahal maknanya dalam sekali.

      Baca contoh nomor 1, saya jadi ingat tulisan Uda Vizon di http://hardivizon.com/2009/07/19/hanya-satu/ mengenai temannya Iwan tidak ikut menonton bersama anaknya :)

      Terima kasih banyak juga sudah mau membaca tulisan saya pakdhe.

      EM

      • 3 itu bukan pepatah Jawa nak.

        Ini Contoh pepatah /paribasan Jawa

        1. Bapak burik anake rintik , artinya kalau bapaknya jelek anaknya ya gak jauh dari situ.
        Padahal belum tentu yaaa.

        2. Kebo nusu gudel – artinya orang tua berguru kepada yang lebih muda.

        3. Legan golek momongan – artinya orang yang cari2 kerjaan.

        salam

        • OK kalau bukan pepatah berarti semboyan deh :D

          Semboyan dalam sistem pendidikan yang dipakai oleh Ki Hajar Dewantara kini sangat dikenal di kalangan pendidikan Indonesia. Secara utuh, semboyan itu dalam bahasa Jawa berbunyi ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani. (“di depan menjadi teladan, di tengah membangkitkan semangat, dari belakang mendukung”). Semboyan ini masih tetap dipakai dalam dunia pendidikan rakyat Indonesia, terlebih di sekolah-sekolah Perguruan Tamansiswa.(sumber wikipedia)

          EM

      • Lho, disini kan sedang membahas ayah. Mosok saya berkomentar “Menjadi Ibu yang baik “. Entar dikira gak mbaca soal.

        Lapar2 jangan ngajak gelut lho say

    • Setuju sekali dengan semboyan itu Pakde..
      Memang begitulah seharusnya seorang ayah ya… dan ibu tentunya juga seperti itu kan Pakde? :)

      Eh, Bundit itu siapa ya? Rasa-rasanya tidak asing, hehehe… *berharap beliau segera nongol di sini*

      • Bundit asli ada yang punya alumongga.wordpress.com mas.

        Bundit yang ini singkatan dari bunda dari bukit alias nak Adel ha ha ha ha ha.

  5. Di sini, barangkali agak sedikit lebih ‘mild’ ketimbang di Jepang, para ayah tetap berpartisipasi terhadap keseharian pengasuhan anak.

    Aku slalu membantu istriku mengasuh Odi dan mengurus rumah dalam arti sebenar-benarnya ya ganti popok, ya nyuapin, ya ngepel, ya nyuci dlsb…

    Kupikir itu sesuai dengan bagaimana menghilangkan kesan ayah yang ‘mengerikan’ yang dalam bahasa Jepang, terelasi dengan gempa dan hal yang seram-seram..?

    Ouw, mengerikan! :)

    • hehehe YOU ARE INDONESIAN ;) Don… jangan lupakan itu. Lelaki Indonesia tidak “anti” bersentuhan dengan anak-anak, lain dengan Jepang yang kadang malah tidak tahu bagaimana caranya.

      Kalau mau menunggu suami Jepang membantu istri-istri mencuci, ngepel, nyuapin dsb kasian deh anaknya mati kelaparan, rumah berantakan dan baju habis hehehe. Karena itulah ada kebijakan cuti untuk membesarkan bayi, tanpa cuti MUSTAHIL.

      (hei, aku iri loh pada istrimu :D )

      EM

      • Secara langsung aku sudah mendengar dari DV tentang aktifitasnya mengasuh Odi. Seru sekali. Dia yang tidak pernah bersentuhan di masa mudanya dengan urusan rumah, sekarang malah mau tidak mau harus bersentuhan dengan itu semua. Salutnya, DV menikmati semuanya itu :)

  6. emang gak ada rumus bagaimana menjadi ayah yang baik itu, yang jelas bagi aku, jika kemudian anak-anak mampu mengenak sosok ayahnya sebagai sesuatu yang tak terlupakan, maka itulah salah satunya ayah yang baik.

    Aku belum mencoba jadi ayah, jadi agak sulit menterjemahkannya sosok ayah yang baik itu.

  7. Agak terbengong pas ‘ayah’ disandingkan dengan yang seram-seram itu. Terasa kayak di dunia mitologi Yunani.. Dewa bukanlah sosok pengasih dan penyayang, tapi wujud kekuasaan yang terkadang mengerikan.

    Kedua, cuti membesarkan bayi itu. Kalo ada di Indonesia mungkin bisa keteteran juga apalagi sekarang mulai trend lagi punya anak lebih dari dua! Apa mungkin itu usaha pemerintah Jepang juga untuk menyuport kelahiran generasi baru? Pernah baca di blognya Bu Murni kalau generasi muda Jepang turun dari segi kuantitas dan disinyalir secara kualitas juga.

    • Ya dulu memang begitu, ayah adalah sosok yang menakutkan, tapi sekarang tidak :D

      Jepang sedang “krisis” anak, grafik demografis mereka adalah kerucut terbalik, dengan rata-rata anak yang dilahirkan dalam satu keluarga hanya 1,5 anak (ada keluarga yang 2 anak, ada yang hanya 1). Kebijakan cuti membesarkan bayi juga salah satu usaha untuk meningkatkan kelahiran bayi, selain pemberian tunjangan-tunjangan lain jika mau melahirkan bayi. BUT tetap saja membesarkan anak di Jepang SANGAT MAHAL. Tapi aku sendiri lebih setuju keluarga Jepang “membuang” uang untuk anak-anak, daripada memelihara pet (anjing/kucing) spt trend sekarang. Selain kelahiran anak sedikit, jumlah pernikahan juga menurun (lebih banyak orang /wanita yang tidak mau menikah).

      Segi kwalitas anak menurun akibat kebijakan pendidikan “Yutori Kyouiku – pendidikan santai” yang sempat dijalankan karena merasa kasihan pada beban anak Jepang untuk belajar. Karena mengalami penurunan kualitas di bidang science, maka mulai tahun ini (2011) Yutori Kyouiku dihapus, dan kembali ke pendidikan ketat lagi. Moga-moga mutu akan kembali seperti semula.

      EM

      • Waw…! Ternyata Jepang harus membayar mahal kemajuannya dengan penurunan makna keluarga di masyarakatnya ya… Semoga Indonesia tidak seperti itu. Tapi, kok aku melihat akan terjadi hal yang sama ya? Semoga aku salah :)

  8. Eh aku beruntung pernah bertemu dengan sosok ayahnya Mbak Imel :))

    Usianya memang tidak muda lagi, tapi sosoknya sungguh masih tegap dan gagah.

    beliau suka ajak bercanda Riku, apalagi yang soal kacamata itu…hihihi….

    • aduh yess, aku lupa episode kacamata…tentang apa ya? kok aku blank gitu.
      Nanti kalau aku mudik ketemuin kami dengan Tangguh ya…

      EM

      • Dan sampaikan terimakasih pada papamu ya Imel…beliau yang menasehati Narpen saat mau berangkat kuliah di Jepang….benar-benar memberikan motivasi pada anakku untuk bekerja keras mencapai tujuannya.

        Betapa membanggakan menjadi putra papamu…..

        • Dari penuturuan Yessy dan Bu Enny, aku jadi sangat ingin bertemu dengan Papanya nechan… Pastilah beliau seorang yang menyenangkan ya?

  9. sama denganmu mbak, aku kadang susah menulis tentang ayah. mungkin karena papa ku jarang dirumah kali ya :D

    walaupun begitu aku dapat melihat bahwa kamu dan aku punya kesamaan karena sama2 sama anak pertama, perempuan dan dekat dengan papa :D

    mengomentari tentang ayah yg baik, menurutku sih gak neko2 yaitu cukup selalu ada untuk keluarganya baik dalam keadaan susah atau senang :)

    • harapan anak memang tidak neko-neko, tapi mungkin yang berharap lebih adalah ibu (istri) dan masyarakat sekitar?

      Dulu waktu Kai lahir, Gen sedang sibuk-sibuknya sehingga Kai hampir tidak mengenali papanya. Untunglah waktu Kai sudah mulai berjalan, dia yang paling gembira menyambut waktu papanya pulang (sampai sekarang)! Dan itu membuat papanya menangis (dan merasa bersalah krn sebelumnya tidak bisa meluangkan waktu untuk Kai). Itulah yang aku katakan its not the quantity but the quality of being together.

      EM

      • Ada banyak juga lho ayah yang selalu ada di dekat anaknya, tapi ternyata hati mereka berjauhan. Itu dikarenakan si ayah sekedar “ada”, bukan “berada” bersama anaknya…

        • THis is what I call …

          “That He is around them” … literally as well as illiteraly …

          Hahhaha
          nebeng komen …aaahhhh

          (topik ke-Ayah-an ini demikian membius saya …
          sehingga Empat tulisan dari Empat penulis yang sudah tayang disini … saya baca berkali-kali …)

  10. Hhhmmm… memang menjadi ayah yang baik tentunya relatif, dan berbeda antara satu pendapat dan pendapat yang lain.. tp aku setuju dg Uda juga bahwa diantara perbedaan-perbedaan itu tentu ada hal-hal universal yg berlaku umum

    dan tentu sharing temen2 semua dalam acara yg digelar Uda ini bisa semakin memperkaya kita semua… termasuk diriku yg terus berharap agar bisa menjadi ayah

    Salam,

  11. Sepakat dengan Om NH, tulisan Mbak Imel khas banget, informatif. Aku tak bisa menjawab pertanyaan tentang kriteria ayah yang baik karena atributnya pasti banyak sekali. Namun Pakde Cholik sudah menyampaikan 3 profil dasar yang ngindonesia banget tapi sekaligus juga universal.

    Mungkin banyak orang akan sama sepertiku, bahwa teladan ayah yang baik dirujuk pada ayahnya sendiri. Bagiku ayahku, dengan segala kesederhanaan dan keterbatasannya, adalah ayah yang patut kubanggakan.

    • Saya berharap semua orang seperti bu dokter…bangga akan ayahnya sendiri. Karena masih banyak anak-anak yang ditinggalkan ayahnya dan tidak kenal ayahnya sama sekali :) Belum lagi yang tidak tinggal bersama ayahnya karena orangtuanya bercerai.

      EM

      • Hallo uni……apa kabar…mbak imel…tuh yang lama di nanti dah muncul lagi hehehe agaknya mau pulang kampung tuh ke kampung blagu

        • Dan tidak lama lagi, kita akan membaca cerita dari Uni Dokter tentang inspirasi hebat dari ayahnya… Stay chun ya chiin…. *Om Nh mode: ON*

  12. Membaca tentang ayah jadi kangen sama si Bapak di rumah. Bapak nggak pernah ngeluh, yang masih suka naik motor padahal sudah dilarang karena pernah jatuh dan usianya tak muda lagi :D

    • Sama Injul…. aku kangen terus :( Papaku masih nyetir kemana-mana antar jemput cucu hihihi.

      Kalau kamu perhatikan foto yang tengah, itu foto waktu aku kembali ke Jkt, sedangkan papa terus bekerja di London. Dia baru selesai operasi by-pass jantung (th 1989), dan sering bercanda bahwa dia punya ristluiting abadi di dadanya :D

      Semoga tahun ini aku bisa merayakan ultah papa bersama (tgl 29 juli). Bagi tugas selalu, adikku Tina yg tinggal di sini juga, selalu pulang untuk ulang tahun Mama, sedangkan aku waktu ulang tahun papa (karena sudah masuk liburan musim panas)

      Please enjoy (y)our time with (y)our father, for as long as he live.

      EM

  13. tiap kali membaca ttg ayah, perasaanku selalu campur aduk, Mbak Em.
    ayahku bukanlah ayah yg banyak bicara,tdk pernah bercanda dgn anak2nya , namun beliau adalah ayah yg selalu ada disaat kami, anak2nya , membutuhkannya.
    dan, believe it or not, saat pertama kali haid,ayahku lah yg mengajarkan bagaimana memakai pembalut dan memberikan pengertian arti kedewasaan seorang wanita ………… saat2 seperti inilah yg takkan pernah terlupakan seumur hidupku :)
    Kriteria tiap orang ttg syarat menjadi ayah yg baik, pastinya berbeda2 ya Mbak EM :)
    seorang ayah pastilah ingin sekali jadi panutan bagi anak2nya seperti juga seorang ibu :)

    Tulisan ini mencerminkan, bagaimana seorang ayah, siapapun dia, apapun pekerjaannya, tetap ingin jd ayah yg baik bagi anak2nya .
    Terimakasih Mbak EM utk tulisan yg sangat indah dan sangat kusuka ini
    salam

    • Bunda…
      aku terharu sekali membaca bahwa ayahnya yang mengajarkan bagaimana memakai pembalut waktu haid pertama. Pasti tidak akan terlupakan. Kadang seorang ayah menghindari pembicaraan mengenai alat reproduksi or s*x dengan anak perempuannya. Pasti akan menyuruh ibu untuk menjelaskannya. Banyak ayah akan kewalahan (setahuku).

      Betul bunda,
      seorang ayah pasti akan berusaha yang terbaik, dan jangan lupa mereka juga manusia yang kerap ragu dan bimbang, juga penasaran apakah dia sudah menuntaskan tugas dan kewajibannya sebagai seorang ayah. Seperti manusia tidak ada yang sempurna, tentu “ayah” atau “ibu” tidak ada yang sempurna. Tapi yang penting usaha mereka untuk menjadi yang baik.

      EM

    • Luar biasa sekali Bunda… ayah yang mengajarkan cara pasang pembalut itu luar biasa.. Kira-kira aku bisa gak ya melakukan hal itu kepada Satira kelak? :)

        • membaca komen bunda lily, saya jadi ingat pengalaman yang sama. Begitu tahu anak perempuan satu2nya ini telah baligh, dia yang berlari ke warung beliin pembalut dan mengajari bagaimana memakainya karena waktu itu mama lagi nggak ada, kakak laki2 yang baru sma malah melarikan diri, menghindar takut disuruh dan malu karena hars bli pembalut. miss u ayah

  14. assalamualaikum uda,
    wah menarik sekali tulisan mbak imelda tentang ayah di jepang
    tapi sebenarnya semua ayah seperti halnya ibu memiliki naluri keayahan dari dalam diri mereka masing2

    *jadi cengeng inget alm ayah

    • Wa’alaikumussalam Julie…

      Naluri itu pasti dimiliki oleh setiap ayah, namun dalam mewujudkannya, berbeda-beda caranya.

    • Binatang pun memiliki naluri, jadi jangan sampai seorang ayah atau ibu membunuh anaknya sendiri, karena aku pun belum pernah mendengar binatang membunuh anaknya sendiri :)

      EM

  15. Jangan-jangan di Indonesia nanti ada cuti untuk ayah juga. Minggu kemarin saya membaca rubrik psikologi di Kompas, membahas tentang “Cintaku berat di ongkos” menggambarkan suami isteri yang sama-sama bekerja, dan terpisah 10 jam perjalanan naik KA atau 1 jam naik pesawat…Alhamdulillah selama ini jarak saya dan suami hanya terpisah 180 km, 4-5 jam perjalanan lewat Puncak, dan sekarang 2 jam lewat Cipularang.

    Dan kondisi saat ini makin banyak yang membuat suami isteri harus bekerja seperti itu. Si sulung berkata…”Ibu, biaya sekolah mahal ya, katanya masuk SD Rp.10 juta?” Saya kaget, Rp.10 juta? Anaknya baru berumur 4 bulan, tapi dia sudah mulai pusing…bagiku pusing nya ayah muda pertanda baik, artinya dia mulai memikirkan bagaimana kehidupan anaknya nanti.

    Kondisi Jakarta yang makin macet, membuat pertemuan ayah dan anak juga makin terbatas….jadi ingat, sebelum pensiun, saya berangkat jam 6.30 pagi dan pulang paling cepat jam 9 malam….itu namanya bukan lembur…kalau lembur artinya pulang jam 11 malam. Jadi ketemu anak-anak hanya pagi hari saat sarapan..malamnya kadang hanya sempat mencium pipinya saat mereka sudah mau tidur.

    Seperti yang pernah dikatakan oleh psikolog pada saya, kebutuhan seorang ayah tetap penting untuk perkembangan anak….jadi kita memang perlu memikirkan bagaimana peran ayah dimasa depan, dalam situasi yang makin berat ini.

    • Tinggal di Jakarta memang sulit ya bu. Aku juga panik kalau mendengar 10 juta untuk masuk SD. hiiiii
      Untung kami di sini baru bayar untuk SMA saja, selama mau di sekolah negeri…. Dan… untuk masuk SMA serta perguruan tinggi, kami sudah harus menabung sejak si anak lahir :(

      EM

      • 10 juta masih belum terlalu mahal mbak EM. Malah banyak yang dia atas 10 juta uang masuknya. Kalau dulu bilangnya uang pangkal. (tapi ini untuk sekolah swasta lho). Beruntungnya kalau sudah bisa menabung untuk SMA dan kuliahnya, karena sebagian besar orang tua di Indonesia hanya pasrah ….*wong sehari2nya aja udah gali lubang tutup lubang*

        izin sama uda vizon yah….:-)

  16. waduuh.. saya gak bisa berkomentar banyak nih pak..
    masih muda dan bujang… ayah saya juga sudah tiada :(

    tp menurut saya ayah yang baik adalah ayah yang selalu ada disaat anak dan istrinya membutuhkan :D

    • tentu saja tapi ada banyak kendala yang membuat sorang ayah sering kali tidak bisa berada pada saat anak dan istrinya membutuhkan. Semoga saja kelak Tomi bisa terus mendampingi anak dan istri ya.

      EM

  17. hmmm … menjadi ayah yang baik ternyata memang bukan hal yang mudah. banyak ungkapan bernada filosofis dan mendasar banget bahwa ayah mesti begini, mesti begitu, hehe … ternyata realitasnya seringkali jauh berbeda. faktor kultur bisa jadi menjadi salah satu kriteria bagaimana masyarakat sekeliling memosisikan ayah karena predikat ayah sama sekali tidak bisa dipisahkan perannya sebagai ayah yang hidup di tengah2 kehidupan masyarakat. makin menarik nih “pesta”-nya, mas vizon, hehehe …

    • kadang masyarakat (dan kondisi) sendiri yang membuat jauhnya posisi ayah dalam keluarga. Dan ini juga harus diantisipasi warga Jakarta dan kota besar lainnya.

      EM

  18. Uda Vizon,

    Terima kasih atas kepercayaan Uda memuat tulisanku tentang Ayah. Senang sekali bisa berpartisipasi dan membaca postingan/kenangan ttg ayah teman-teman ex kampung blagu, yang tentunya akan memperkaya kehidupan kita masing-masing.

    EM

    • Nechan…

      Aku juga sangat berterima kasih Nechan sudah bersedia menyumbangkan tulisan luar biasa ini. Aku yakin, ini akan menjadi salah satu periode tak terlupakan dalam aktifitas blogging kita ya… :)

  19. Mbok orang-orang Jepang sana menciptakan Doraemon yang punya Pintu ke Mana Saja gitu.. Jadi ayah bisa menengok anaknya sejam sekali dari tempat kerja.

    • sudah ada Doraemonnya kok. Sayangnya dia cuma bisa buat Pintu Kemana Sajanya di komik dan film, jadi ngga bisa di dunia nyata :D

      EM

  20. Benar mbak, nggak ada syarat untuk menjadi ayah yang baik. Karena setiap ayah mempunyai cara tersendiri dalam mengungkapkan kasih sayangnya.
    dan aku suka kalimat ini:

    “tapi inti dari semuanya sebenarnya adalah perhatian dan ketulusan seorang ayah terhadap anaknya.” :)

    • Ada sih sebetulnya syarat minimum dari seorang ayah yang diharapkan dari masyarakat, yaitu menjadi kepala keluarga yang menghidupi keluarganya lahir batin. Tapi karena keluarga terdiri dari suami dan istri, mestinya jika si suami tidak sempurna, istri bisa menyempurnakannya.

      EM

  21. Sepertinya saya harus bertanya pada putri saya, sudahkah saya menjadi seorang ayah yang baik, setidaknya baik menurut anggapan dan keinginan dia tentang sosok seorang ayah. Dari sekian persyaratan yang sudah disebutkan diatas, saya hanya ingin menambahkan dan menegaskan bahwa seorang ayah yang baik akan berusaha sebisa memastikan anak-anaknya selamat dunia hingga akhirat.

    • “Sepertinya saya harus bertanya pada putri saya, …” Wah Abi… kalau bisa bertanya pada putrinya kenapa tidak? Bahkan ini bisa menjadi salah satu topik komunikasi dua arah. Kalau saya menjadi putri pasti akan senang sekali mempunyai ayah yang terbuka.

      “seorang ayah yang baik akan berusaha sebisa memastikan anak-anaknya selamat dunia hingga akhirat.” Amin….

      EM

  22. ..
    syarat ayah yg baik…? *mikir nih*
    mungkin anaknya juga harus ditanya, kepengen ayahnya bagaimana..
    soalnya dulu saya pengen punya Ayah pinter ngocol kayak jim carey.. hahahaha…
    ..

    • yup, bisa tanya kan pada anaknya? Dengan bertanya tidak menjadikan wibawa seorang ayah itu runtuh kok ;)

      Catet ya Ata… tanya pada anakmu nanti maunya papa Ata jadi seperti apa :D

      EM

  23. Ya, aku pun sepakat kalau tulisan2mu selalu informatif, Sis Imel. Ini yang sejujurnya sangat sangat aku cemburui dari tulisan-tulisanmu.

    Soal Ayah yang baik… Hum, aku tak tahu apa definisi orang lain tentang itu, tapi yang aku tahu, Papi adalah Ayah terbaik yang bisa dimiliki oleh seorang anak perempuan seperti aku. Tidak kurang, tidak lebih. Takaran yang sangat pas.

    …dan ya, aku sangat beruntung menjadi puterinya. Sungguh beruntung!

    • yup beruntunglah kita yang mempunyai papa yang terbaik (menurut kita masing-masing). Meskipun biasanya kita menyadarinya terlambat sesudah beliau tidak ada. dan itu manusiawi sekali.

      To all great fathers on earth! Cheers…

      EM

  24. Mbak EM…syarat untuk menjadi ayah yang baik menurut saya adalah mampu membuat keluarganya nyaman, tidak takut menghadapi apapun, ‘ada’ ketika dibutuhkan, serta bertanggung jawab.
    Suatu saat saya pernah bekerja dari pagi hingga malam, hingga anak saya yang masihbayi sampai tidak mau di gendong oleh saya. Saat itu saya langsung merenung, kalau mencari nafkah tapi anak tidak mengenalnya terus buat apa saya banting tulang yah?? Sejak itu, saya tidak mau kehilangan waktu membesarkan mereka, sebisa mungkin ikut menemani mereka di kala belajar, bermain, dan beribadah.

    • benar mas Necky, cuma kata nyaman itu standarnya berbeda menurut masing-masing. Nyaman sebagai ayah belum tentu nyaman sebagai anak, dan sebaliknya. Tentu amat sulit untuk mencari titik temunya. Saya percaya mas Necky adalah papa yang baik bagi “the three N” ;)

      EM

  25. tulisannya kerennn mba :)
    emm, benarkan sosok ayah di masa lalu (di Jepang) tergambar mengerikan seperti itu mba???
    waduh, saya sama sekali tidak bisa membayangan, karena sedari lahir sosok ayah yang menemani segala proses kehidupan saya adalah lelaki yang baik, cool, tenang, ramah, sederhana, bersahaja, bertanggungjawab dan yang terpenting selalu ada buat istri dan anank-anaknya. menjadi partner sejati mama dalam setiap tahap tumbuh kembang kami, anak-anaknya sedari lahir hingga dewasa.
    saya begitu mengidolakan ayah sejak kecil, hingga berambisi agar kelak menikah dengan lelaki minimal seperti ayah, #hihi
    dan alhamdulillah, berkat doa ayah pulalah keinginan itu tercapai juga.

    • memang hubungan keluarga di Jepang itu “dingin”, jarang ada “skinship (sentuhan-pelukan)” karena memang budayanya ya begitu itu. Berbahagialah kita yang lahir sebagai orang Indonesia :)
      Semoga kita bisa menularkan kehangatan orang Indonesia kepada orang Jepang :)

      EM

  26. Sorry, aku telat. Membaca semua tulisan tentang ayah di blog udabro Vizon memang mengasyikkan. Tiap blogger punya ciri khas sendiri dan pengalaman yang sangat unik dengan ayahnya.
    Senang juga melihat banyaknya komen di blog uda ini. Wow fantastis….Seolah tak terpengaruh FB dan Twitter. Mudah2an terus berlanjut. Btw, berapa total blogger yang mengirim tulisan, udabro?

  27. Kebijakan memberikan cuti selama satu tahun kepada para ayah untuk mengasuh anaknya yang diterapkan pemerintah Jepang ini menurut saya hebat sekali Mbak. Ini menunjukkan kepedulian pemerintah Jepang yang sangat tinggi pada kesejahteraan mental bangsanya. Di indonesia, cuti untuk ibu yang melahirkan saja hanya 3 bulan :(

    • Ya pemerintah Jepang kan memikirkan masa depan dan selalu berencana. Tanpa ada kebijakan-kebijakan untuk menambah anak, maka diperkirakan tahun 2025 akan timbul masalah demografi yang parah :D (Pajak harus naik sampai 50% (hiperbola) karena jumlah pekerja sedikit sekali, padahal manulanya bejibun)

      EM

  28. Barangkali kalo dibuat sertifikasinya… akan muncul ayah-ayah dengan karakteristik unik..

    karena saia yakin setiap keluarga mempunyai komposisi ayah-ibu-anak yang unik dan menarik…

    omong2… rasanya penasaran banget dengan ikumen ini… di Indonesia sepertinya tidak ada, ya… ? he. he..

Komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jawab dulu ya pertanyaan di bawah ini sebelum kirim komentar, biar tidak dianggap spam.. :) *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>