my quiet guardian


Warning: Illegal string offset 'single_featured_image' in /home/hardiviz/public_html/wp-content/themes/confidence/content-single.php on line 69

Blogger Bicara Ayah #4

 

Apa yang dibutuhkan seorang anak dari ayahnya? Simpel; rasa aman!

Sering kita dengar kalimat yang berbunyi: “rumahku surgaku”. Di rumahlah seorang anak tumbuh, dididik dan dilindungi. Rumah yang penuh dengan cinta kasih, akan membuat penghuninya merasa aman dan damai berada di dalamnya. Kedamaian rumah itu, bisa tercipta berkat kerjasama yang baik antara ayah dan ibu. Kearifan seorang ayah dipadu dengan kelembutan seorang ibu, tak syak lagi akan membuat rumah itu bagaikan surga.

Ayah yang arif dan bijak, akan memiliki wibawa di mata keluarganya. Sehingga, disiplin apapun yang dia terapkan, dengan mudah dijalani. Teladan yang baik itu, tentunya melekat erat dalam ingatan sang anak dan menjadi pedoman dalam hidupnya. Sebuah disiplin akan percuma, jika diterapkan dengan keras tanpa basa-basi. 

Sahabatku Alberto Wibawa atau yang lebih dikenal sebagai Broneo, pemilk blog http://albertobroneo.wordpress.com, memiliki kesan yang luar biasa terhadap ayahnya. Lelaki yang bekerja di sebuah perusahaan multinasional yang membuatnya harus berpindah-pindah dari satu pulau ke pulau yang lainnya di Indonesia, saat ini tinggal bersama istri tercintanya, Nana Harmanto, di Pare-pare. Ia mengakui bahwa disiplin yang diterapkan ayahnya sedari kecil telah membentuknya menjadi seperti sekarang ini.


Kebahagiaan luar biasa Broneo terekspresikan dengan sempurna ketika ia mampu mempersembahkan kesarjanaannya untuk kedua orangtuanya :)

Mau tahu seperti apa disiplin yang diterapkan sang ayah kepada Broneo? Mari kita simak penuturannya berikut ini:

=======================================================

My Quiet Guardian
Oleh: Broneo


Roda waktu bergulir demikian cepat. Hari datang dan berlalu, musim berganti, dan tak terasa sudah hampir sepuluh tahun Bapak berpulang. Suka duka silih berganti, teman datang dan pergi, namun kenangan akan Bapak tetap melekat. Pengalaman sehari-hari yang semakin dikenang dan direnungkan semakin berharga, dan membentukku menjadi seperti apa adanya aku saat ini. Pengalaman sehari-hari yang dulu seakan tanpa makna, kini makin hari semakin mengkilap dan menjelma menjadi permata yang menghiasi hidupku, bahkan bukan sekedar menghiasi, namun menentukan arah hidupku saat ini.

“Sudah siap?” tanya Bapak segera setelah aku duduk di jok sepeda motor, tepat dibelakangnya.

“Jangan lupa pegangan yang kuat” pesannya sambil mengarahkan tanganku untuk memegang erat pinggangnya. Lebih tepatnya, memeluk pinggang Bapak. Setelah itu baru tangan kanannya memutar gas sepeda motor, dan mulai bergerak perlahan. Sesekali tangan kiri Bapak menarik tanganku untuk memeluknya lebih erat lagi tatkala dirasakannya tanganku mulai kendor memeluk pinggang Bapak.

Sore itu kami berdua, aku dan ayahku, pergi ke shopping center untuk mencari buku buku pelajaran sekolah. Buku pelajaran Bahasa Jawa untuk kelas 2 SD. Waktu SD, terutama sebelum kelas 5, Bapak selalu mengantarku untuk membeli buku buku sekolah yang aku butuhkan.

Pada waktu SMP, Bapak tidak lagi mengantarku membeli buku pelajaran. Aku cukup minta uang ke beliau. Hanya saja sebelum menyerahkan uang, Bapak selalu memastikan lebih dahulu bahwa buku yang akan aku beli berbeda dengan buku-buku peninggalan kakakku. Bapak juga selalu menyempatkan diri untuk melihat-lihat buku yang telah aku beli. Dibaca-bacanya sekilas, seolah mengenang kembali apa yang pernah dipelajarinya dulu, dan dibandingkan dengan apa yang aku pelajari saat itu. Dengan demikian Bapak secara tidak langsung memastikan bahwa yang aku beli memang benar-benar sesuai dengan kebutuhanku.

Saat SMA lain lagi kebiasaan Bapak dalam membelikan buku pelajaranku. Aku cukup meminta uang dan memberitahu buku apa yang akan aku beli. Bapak tidak lagi memeriksa buku apa yang telah aku beli. Bapak percaya saja.

“Foto copy        Rp 138.000,-“

“Lab Fisika        Rp    10.000,-“

“Bensin               Rp    5.000,-“

Cukup coretan-coretan seperti itu yang aku tuliskan pada selembar kertas untuk meminta uang kepada Bapak pada saat aku kuliah. “Nota” itu cukup aku masukkan dalam tas ransel Bapak, dan sekaligus aku boleh mengambil uang sebesar kebutuhanku itu dari dalam ransel. Se-simple dan semudah itu aku minta uang untuk kebutuhan kuliahku.

Bapak tidak pernah “kekurangan” uang untuk buku buku pelajaran, diktat, biaya lab atau kebutuhan kuliahku yang lain. Hal itu bukan karena Bapak mempunyai banyak uang. Kami bukan keluarga kaya raya, namun puji Tuhan, bukan pula keluarga yang pas-pasan. Cukup lah. Sebagai kompensasi “kemewahan” biaya sekolah atau kuliah, aku harus rela untuk setiap malam tidur diatas kantong gandum yang telah dijahit Ibu sebagai seprei. Pakaian pun jarang beli, belum tentu setahun sekali.

Aku tahu persis, sebagai penjual barang loak, pendapatan tidak pasti setiap harinya. Beberapa kali aku mengunjungi Bapak di pasar, di tempatnya menjual barang barang bekas. Sering juga kios dagangan Bapak sepi pembeli. Sering juga ada orang datang, menawar barang Bapak, namun akhirnya tidak jadi membelinya. Rupiah demi rupiah penjualan barang-barang bekas ditabungnya.

Bapak memang sangat disiplin menabung. Untuk jaga-jaga jika ada kebutuhan mendadak dan yang utama untuk biaya pendidikan aku dan kakakku. Aku dan kakakku harus bisa menyelesaikan kuliahnya. Itulah salah satu cita-cita besar Bapak. Sejak Bapak terpaksa putus kuliah karena biaya, Bapak bertekad bahwa anak-anaknya kelak harus bisa lulus kuliah. Semua biaya, berapa pun besarnya harus ada.

Berkat jerih payah Bapak, aku dapat kuliah dan lulus tanpa harus khawatir akan biaya kuliah. Aku sungguh merasa aman dan terjamin dalam menjalani pendidikan.

Oh ya, bicara soal Bapak, Bapak sebenarnya orangnya tidak terlalu banyak bicara. Bapak mendidikku dengan teladan dan hidupnya sehari-hari. Bapak sangat jarang menasehati, apalagi memarahi aku tentang kejujuran dan tanggung jawab. Namun dibalik “diam”nya itu, dengan sangat telaten Bapak membiasakan aku dengan hal hal tersebut.

Mulai dari mengantar aku membeli buku waktu SD, mulai mempercayai aku untuk membeli sendiri ketika SMP namun masih dengan pengawasan yang cukup ketat, hingga cukup dengan “nota” setelah aku kuliah. Sungguh aku dilatih untuk jujur dan bertanggung jawab atas apa yang aku tulis dalam “nota-nota” itu.

Akh.. sungguh hal-hal biasa di masa mudaku, namun tertancap sangat dalam dalam pribadiku, dan membuatku menjadi seperti sekarang ini.

Sungguh saat ini, saat menuliskan ini, aku kangen banget pada Bapak. My Quiet Guardian. Dia yang memberiku rasa aman. Dia yang meneladani aku dengan hidupnya, bukan dengan tutur katanya, apalagi marahnya.

Dalam penat dan letih ku ingin aku kembali merasakan teduh naunganmu, dan melihat dengan lebih teliti teladan hidupmu.

Bapak, aku kangen.

=======================================================

Sahabat… apakah disiplin yang diterapkan ayah semasa kecil yang berpengaruh besar dalam hidup Anda saat ini? Boleh berbagi? :)

.

Tulisan keempat dari acara “Baralek Gadang”, klik di sini untuk melihat daftar tulisan dalam acara ini

 


Warning: Illegal string offset 'author_box' in /home/hardiviz/public_html/wp-content/themes/confidence/content-single.php on line 93

60 comments on “my quiet guardian

  1. “Dalam penat dan letih ku ingin aku kembali merasakan teduh naunganmu, dan melihat dengan lebih teliti teladan hidupmu.”

    Aih, berkaca-kaca baca kalimat ini, bang…

    • *sodorin tissue buat yessy*

      Sungguh Yessy, di saat aku letih, aku sering “menyemangati” diriku sendiri dg mengingat Bapak. Betapa apa yg aku lalui saat ini tidak ada apa-apanya jika dibanding dengan perjuangan Bapak. Tidak ada alasan bagiku utk “merasa penat”. Dan itu sungguh menggugah semangatku ;)

    • Aku saja yang sudah berkali-kali membacanya, tetap merinding pada paragraf yang itu Yes…
      Cinta Broneo terhadap bapaknya sungguh luar biasa

  2. Ah aku terharu membaca tulisan broneo. Sesuai dengan namanya, Bpk. Wibawa benar-benar telah mendidik broneo menjadi seperti sekarang. Cocok sekali dengan judulnya Quiet Guardian. Aku yakin bapaknya broneo tersenyum di atas sana membaca posting ini.

    EM

    • Makasih mbak EM, judul itu cukup lama aku cari-cari. Tulisannya sdh jadi, tapi judulnya belum.

      Trus aku sempet ngegame, dan ada cupid dalam game itu… langsung deh dapat ide utk judulnya ;)

      Amien mbak EM, Bapak bahagia di sana ;)

  3. Bro …
    Setiap kali kamu menceritakan mengenai Swargi Bapak …

    Saya selalu merenung …
    Saya bisa membayangkan betapa beliau adalah Lelaki yang luar biasa …
    Ketika Bro bercerita bahwa Bapak itu berdagang “klitikan” (remember ?) saya tambah kagum pada beliau …

    Saya hanya bisa berdoa …
    Semoga Beliau Bahagia disana

    I love this post …

    Salam saya Bro

    Dan Thanks Uda … telah memfasilitasi kita semua untuk membaca kisah nyata penuh hikmah ini

    • Menjawab pertanyaan Uda …
      Jujur saja …
      Saya belajar disiplin dari Ibu …
      sementara … saya belajar “survival” dari Bapak …
      Survival dalam tanda kutip … dan survival dalam arti yang sebenarnya

      Salam Saya Uda

      • Dan satu lagi yang kalau boleh saya menyebut …

        Saya bersyukur sekali … Bapak membelikan alat musik Piano untuk kami … anak-anaknya …
        Sedikit banyak hal ini … mengenalkan Musik pada saya … dan juga ini ternyata mempunya “side effect” yang melebar kemana-mana … ada cita rasa sini … pula percaya diri …

    • Wah, ternyata Om sudah cukup lama dapat cerita soal Bapak dari Broneo ya? Dahsyat ya Om..

      Ketika Bro mengirimkan foto-foto di atas ke email, dia cerita tentang bagaimana bangganya ia mempersembahkan kesarjanaannya kepada Bapak dan Ibu, hal mana yang tidak pernah mereka berdua raih, saya merasakan gemuruh di dada. Betapa besar bakti Bro kepada beliau. Dan saya yakin, itu tidak muncul dengan tiba-tiba. Itu pastilah sebagai buah dari didikan Bapak dan Ibu untuknya.. Sungguh, saya salut sekali :)

      Makasih Bro
      Makasih juga Om

  4. ”Dalam penat dan letih ku ingin aku kembali merasakan teduh naunganmu, dan melihat dengan lebih teliti teladan hidupmu……..”
    aku jadi terharu dan berkaca2 membaca tulisan terakhir ini ,Bro .

    Bro, betapa bahagianya Beliau telah berhasil mendidik sekaligus menjadi teladan bagi anak2nya.
    dan, bunda yakin Beliau tersenyum bahagia diatas sana :)
    kalau dulu dirumah kedisiplinan justru datang dari Ibu, dan Ayah yg jarang bicara , selalu mengajarkan kami utk berbagi .
    salam

    • Amien Bunda, saya juga percaya Bapak sekarang sudah bahagia di sana :)

      Ibu juga banyak perannya Bunda, kapan-kapan aku tulis khusus untuk Ibu

      Salam,

  5. Pingback: Kenangan Juni « the broneo

    • Sama-sama, Bro….
      Aku juga tidak menyangka, ternyata bulan Juni ini merupakan bulan berpulangnya alm, Bapak.
      Ternyata, Tuhan telah mengatur ini semua dengan indahnya. Bahagia sekali rasanya… :)

  6. sosok Ayah yang memberikan tauladan dengan tindakan nyata dan kepercayaan yang luar biasa,
    prinsip yang sangat luarbiasa yang beliau punya, anak-anakku harus lebih baik pendidikannya (saya harus belajar banyak dari orangtua-orangtua dulu).

    • ya… saya sangat beruntung bahwa kedua orang tua saya, bapak & ibu punya cita-cita agar anak-anaknya mendapatkan pendidikan lebih baik dari mereka.

      Mereka percaya, bekal ilmulah yang akan sangat besar perannya utk kehidupan kita di masa datang.

      salam,

  7. mmmm…salut buat papa-nya Bro…
    tegas, disiplin, terlihat penyayang dan tentunya sangat patut dicontoh…
    aku mau punya suami seperti itu nanti untuk jadi ayah anak2ku :D

  8. Mbaca tulisan ini aku jadi ingat Papaku yang juga telah berada di surga…

    Bro Neo, tulisanmu bernyawa double pagi ini, mengalahkan double shots espresso yang kusesap sembari menyesap intisari tulisanmu!

  9. Segitu dalamnya perasaanmu pada bapak, bro.
    Baca tulisan ini membuatku terharu dan ingin selalu membahagiakan papaku.

    Baralek gadang uda ini emang dalem dan penuh warna..

  10. Saya percaya, di alam sana Bapak Mas Bro bangga dan bahagia dengan kesuksesan Mas Bro sekarang, sebab itulah yang dulu beliau perjuangkan. Terus ikuti tauladan beliau dan jangan lupa berdoa, semoga beliau damai di sisi Nya.

  11. Tadi kakakku nelpun sambil nangis, kangen bapak, katanya (Bapak kami udah almarhum). Aku lom nangis, tuh. Selesai ditelpon kakak, aku baca postingan ini daaaannnn… You make me cry, Bang Bro..hikss….

    Beliau memberi teladan dengan tindakan nyata yah, Bang. Nggak perlu banyak cang cing cong, tapi yang ini lebih efektif.

    *Aku jadi rindu bapakku juga…*

  12. Mendidik anak itu katanya seperti memegang burung, seperti yang pernah saya tulis di blog.
    Jika memegangnya terlalu kenceng, si burung akan sulit bernafas. Tetapi jika memegangnya kendor si burungn bakalan kabur. Jadi ya sedang-sedang saja.

    Orangtua seyogyanya juga tidak membekali anaknya dengan uang tetapi dengan pendidikan agar dengan pendidikan yang baik itu si anak kelak bisa mencari uang sendiri. Tinggalan berupa uang akan mudah ludes tetapi tinggalan berupa pendidikan akan langgeng-lestar.

    Disiplin memang memang penting dalam kehidupan manusia. Disiplin dibidang apa saja.Untuk membentuk dan membina disiplin anak maka diperlukan keteladanan dari si pembina disiplin.

    Mantap bang artikelnya dan salut untuk ayahanda tercinta.

    Salam hangat dari Surabaya

    • Terima kasih Pakdhe sdh mau berbagi di sini. Saya suka dengan perumpamaan memegang burung itu Pakdhe

      Semoga saya kelak bia memegang burung dengan baik

      Salam,

  13. Saya juga terharu membaca tulisan ini. Dalam sekali rasa yang tertinggal di hati penulisnya.

    Beberapa hari yang lalu saya pulang kampung, sengaja pulang setelah membaca komentar komentar di BARALEK GADANG ini. Saya pulang menemui ayah.

    Tahukan yang saya lakukan, hanya memandangi ayah yang sedang duduk di beranda, agak lama memang. Dan tiba-tiba ayah bilang….

    “Sudah..ayo temui Ibu mu di kamar…”

    Sampai hari ini saya tak tahu, makna apa dibalik kalimat itu. YAng saya yakin, ayah selalu ada untuk saya.

    • wah indah sekali Imoe untuk
      “yang saya yakin, aah selalu ada untuk saya”

      sungguh rasa aman yang membuat kita nyaman dalam menjalani kehidupan kita

      salam,

  14. Kadang saya juga malu pada sosok bapak saya. Sekilas info saja, kami dari keluarga besar 6 bersaudara. Dan ke 6 saudara kami tersebut semua bisa sekolah sampai tamat meskipun hanya sampai SMA.
    Kalau di bandingkan dulu dan sekarang, saya yang cuma mempunyai anak 2 merasa malu dnegan bapak ku.

    Salam hormat untuk para bapak yang telah membuktikan kasih sayangnya pada keluarga.

    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

    • Benar sekali, kalo kita mendengar bagaimana perjuangan orang tua kita, kadang kita malu dengan kondisi kita sekarang ya…

      salam,

  15. Cerita hebat! Tentang ayah yang hebat! Diceritakan dengan hebat! Oleh anaknya yang tak kalah hebat!

    Terkelu, Bro. Sungguh!

    • wah jadi besar kepala neh dipuji oleh penulis spt bang DM… sungguh suatu kehormatan besar bagi saya yang baru belajar menulis ini

      salam,

  16. Membaca posting ini pertama kali, aku nangis…
    yang kedua kali, aku masih nangis juga..

    yang ketiga, karena baca di cafe.. banyak orang, malu untuk mewek, cepet-cepet nulis komen ah…

    Tulisan ini benar-benar bagus banget… I like it very much.. so touching…

  17. ditengah malam, membaca dalam keheningan seperti ini, tak terasa air mataku mengalir nggak bisa berhenti.

    makasih yah, sudah menuliskannya. saya benar-benar merindukan ayah saya.

    • bukan maksud saya untuk membuat pembaca berlinang air mata…

      jika masih ada kesempatan, peluklah ayah ibu kita…

      sungguh

      salam,

  18. Saya terharu membaca cerita Broneo ini….mirip seperti ayahku, jarang bicara, bekerja keras….walau kalau sudah diskusi banyak sekali pengalaman hidupnya yang sangat bermanfaat.

    Saya membayangkan seperti apa hubungan Broneo dan ayah, pasti sangat menyenangkan, saling menghargai..dan saya yakin, ayah pasti bangga di alam sana, serta tersenyum mendoakan Broneo.

  19. Seorang ayah yang pendiam, pekerja keras, menanamkan disiplin dan menjadikan pendidikan sebagai hal yang paling penting. Rasanya dalam hal ini ayah kita sama, Bro.

    Satu hal saja yang beda : BroNeo tak pernah perlu mengkhawatirkan soal biaya pendidikan, sementara saya, yang sudah ditinggal ayah sejak kelas 1 SD, harus selalu berhemat mati-matian agar bisa trus sekolah :)

  20. Pingback: SURAU INYIAK » Blog Archive » ayahku (bukan) pembohong

Komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jawab dulu ya pertanyaan di bawah ini sebelum kirim komentar, biar tidak dianggap spam.. :) *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>