tuntutan pelukan


Warning: Illegal string offset 'single_featured_image' in /home/hardiviz/public_html/wp-content/themes/confidence/content-single.php on line 69

Blogger Bicara Ayah #5

 

Adalah jamak diketahui bahwa seorang ayah tidak banyak melakukan sentuhan fisik kepada anaknya, seperti memegang tangan, mencium pipi dan bahkan memeluk. Kalaupun ada, itu tidak seintens seorang ibu. Wajar saja sebetulnya. Karena, si anak sedari janin sudah bersentuhan fisik dengan sang ibu.

Sentuhan fisik ayah terhadap anaknya sebetulnya juga sangat dibutuhkan. Karena, melalui sentuhan fisik tersebut, si anak akan merasakan aliran cinta dan kasih dari ayahnya. Menurut teori, seorang anak yang sering mendapatkan sentuhan fisik ayahnya, memiliki rasa percaya diri yang lebih tinggi dari anak yang jarang mendapatkannya. Masuk akal memang. Sebab, kehadiran ayah sesungguhnya adalah untuk memberikan rasa aman kepada anak. Dengan sentuhan fisik, rasa aman itu terekspresikan dengan sangat jelas.

Lantas, bagaimana jika sang ayah memang tidak bisa dan tidak terbiasa melakukannya?

Sahabatku Yessy Muchtar punya solusinya. Ibu satu anak, pemilik blog http://yessymuchtar.wordpress.com, adalah seorang perempuan tangguh yang punya kelebihan bicara secara blak-blakan. Ciri khasnya ini, terlihat jelas dalam tulisannya mengenai sentuhan fisik yang dia butuhkan dari Papa tercintanya.


Yessy Muchtar

Mari kita simak tulisannya berikut ini….

================================================================

Tuntutan Pelukan
Oleh: Yessy Muchtar

 

Dalam hidup saya, saya tidak banyak mengenal lelaki hebat.

Ada banyak lelaki tentu saja.

Sebut dia teman, pacar, mantan pacar, lantas suami saya.

Sebelum saya mengenal mereka semua. Mari saya kenalkan kalian dengan seorang lelaki istimewa. Lelaki yang tidak banyak bicara, cenderung dingin, tapi dia menyayangi keluarganya dengan caranya sendiri.

Sewaktu saya kecil, saya hanya ingat bahwa papa tidak begitu hangat. Dia tidak banyak menegur saya, tidak banyak mengajak saya bermain. Dan yang paling saya ingat adalah, papa tidak sering memeluk dan mencium saya.

Tidak seperti mama, yang bisa setiap saat memeluk, setiap saat mencium. Saya rasakan betul cinta dan kasih beliau.

Sementara banyak teman saya yang diantar jemput papanya. Saat berangkat sekolah, dan saat pulang sekolah. Begitu mereka bertemu, sang papa lantas langsung memeluknya.

Saya terpana melihat itu.

Saya ingin mendapatkan hal yang sama. Tapi saya tetap diam, karena saya percaya, papa, suatu waktu, akan memeluk saya.

Lantas ketika saya beranjak remaja, saya ingat betul. Saya mulai mendekati papa untuk meminta hal-hal yang tidak saya dapatkan dari mama.

Sebut itu gaun baru, sepatu baru, atau yang paling saya suka dan selera kami bersama adalah. CD music.

Saat itu , harga CD tidak murah, dan papa tidak pernah membelikan kami musik bajakan. Sebegitu tinggi apresiasi papa untuk musik Indonesia.

Jelang saya dewasa saya ingat akan tuntutan pelukan yang saya inginkan dulu, maka saya datang pada papa dengan sebuah pertanyaan bodoh. Kenapa bodoh? Yah, begini pertanyaannya…

“Pa, papa sayang kakak, gak?”

Kakak, adalah sebutan dan panggilan saya di rumah.

Papa tidak langsung menjawab tentunya. Dia hisap sebatang rokok dalam-dalam. Papaku memang perokok berat, dia habiskan dua bungkus rokok seharinya. Susah sekali saya menyuruhnya berhenti.

Lantas papa mengembalikan pertanyaan saya.

“Kenapa kakak bisa bertanya begitu, seolah-olah, papa tidak sayang kakak?”

Papa tidak menatap mata saya saat menjawab pertanyaan iitu. Sementara saya, tiba-tiba merasa bersalah dan merasa tidak sopan mengajukan pertanyaan itu.

“Cuma mau tahu aja, pa…Papa jarang peluk dan cium Yessy…”

Lantas papa terdiam.

Dia tidak menjawab juga pertanyaan itu.

Karena sungkan, dan merasa rikuh. Saya tinggalkan papa yang sedang merokok itu.

Berhari-hari saya tidak datang dan menyapa papa. Saya hanya merasa tidak enak, dan saya malah merasa yakin, kalau papa sesungguhnya tidak betul-betul sayang sama saya.

Lantas suatu hari, seorang tante datang ke Jakarta. Beliau menginap di rumah kami. Dan tidur di kamar saya.

Entah angin apa, tante saya tiba-tiba bercerita.

“Papa tuh sayang banget sama Yessy. Sayaaaaaaang, banget.”

Spontan saya bertanya.

“Tante tahu dari mana?”

“Dulu, waktu kalian masih hidup susah. Waktu uang untuk makan enak saja masih jauh dari cukup. Yessy pernah demam tinggi. Dan Papa Mama hidup jauh dari keluarga. Uang untuk beli obat waktu itu tidak ada. Untuk meredakan demam Yessy, papa memeluk Yessy dengan tubuh telanjang. Sehingga panas dari tubuh Yessy, pindah ke tubuh papa. Papa memeluk Yessy yang menangis sepanjang malam. Dan alhamdulilah, besoknya, tubuh Yessy tidak demam lagi.”

“O ya?”

Tante saya mengangguk.

Esoknya. Ketika saya mencium punggung tangan papa saya. Saya lantas mencium pipinya. Lalu berlari keluar rumah.

Mungkin papa kaget.

Mungkin papa bingung.

Tapi saat itu yang saya pikirkan hanyalah.

Papa tidak mungkin tidak sayang pada kami anak-anaknya. Papa tidak mungkin tidak sayang pada kami, keluarganya. Papa bekerja untuk menghidupi kami. Papa menghabiskan banyak waktunya di luar sana untuk kami, agar kami bisa hidup lebih makmur.

Kalau papa bukan termasuk orang yang hangat. Mungkin papa orang yang tidak bisa menunjukkan rasa sayangnya. Kenapa tidak saya yang menunjukkannya?

Kalau papa tidak memeluk saya, kenapa bukan saya yang datang padanya dan memeluknya?

Kalau papa tidak mencium pipi saya, kenapa tidak saya yang datang padanya untuk mencium pipinya.

Papa tidak mungkin menolaknya, lebih dari itu, beliau akan memeluk kita lebih erat, dan mencium kita lebih mesra. Sesayang itu, papa.


Tips dari Yessy: “Jika Papa tidak mau memeluk, saya saja yang memeluknya” :)

Iya, ini cerita beberapa tahun lalu.

Saya menuntut sebuah pelukan, sebuah ciuman dari papa saya. Hanya untuk memastikan beliau sayang pada saya.

Sekarang, ketika saya sudah dewasa, saya masih bermanja dengan papa.

Saya masih melakukan kebiasaan itu. Ketika saya berangkat ke kantor melewati rumah, dan saya dapati papa ada di depannya.

Saya akan hampiri papa, cium punggung tangannya, cium pipinya. Lantas berkata.

“Yessy sayang papa…”

Dan papa hanya akan menjawab dengan senyuman.

Ini cuma masalah kebiasaan.

Jika papamu tidak sering memeluk dan menciummu, percayalah, dia punya cara lain yang hebat hanya untuk memastikan, dia menyayangimu, penuh.

Atau kalau mau lebih gampang. Peluk saja papamu, duluan. Seperti yang saya lakukan. Mudah, kan? :)

==================================================================

Bagaimana dengan Anda? Seberapa sering mendapat sentuhan fisik dari Ayah?

.

Tulisan kelima dari acara “Baralek Gadang”, klik di sini untuk melihat daftar tulisan dalam acara ini

 


Warning: Illegal string offset 'author_box' in /home/hardiviz/public_html/wp-content/themes/confidence/content-single.php on line 93

75 comments on “tuntutan pelukan

  1. yesssssssssssssssssyyyy….
    ah kamu membuat aku menangis.

    Memang banyak bapak yang jarang melakukan sentuhan fisik pada putrinya. Karena juga tidak terbiasa. Papaku juga begitu kok.
    Dan memang benar kalau papa tidak memeluk kita, semestinya kita sebagai anak perempuannya yang bisa menunjukkan kemanjaan pada papa dengan memeluk dan menciumnya. Sayangnya, aku juga dingin, sehingga tidak bisa melakukan itu.(sekarang sih sudah tidak dingin lagi hehehe)

    Meskipun kami selalu mencium pipi 3 kali setiap bertemu/berpisah seperti kebiasaan orang Belanda. Tapi jarang memang memeluk.

    Tapi satu kali aku benar-benar tahu bahwa papa sayang padaku. Seperti yang kutulis di page TE yang 13tahun. Yaitu waktu papa menggenggam tanganku waktu aku sedang “sekarat” sesudah operasi usus buntu, dan menangis sambil berbisik padaku, “papa harus kuat untuk mama”. Dengan menunjukkan kelemahannya, dia menunjukkan cintanya padaku.

    Ah, aku mau cepat pulang dan memeluk papaku.
    Terima kasih untuk tulisan yang bagus ini yessy.

    EM

  2. yang dilakukan seorang Ayah mungkin tindakan benar menurutnya, tak memeluk dengan suatu alasan. Tapi memeluk lebih dulu merupakan ungkapan langsung bahwa keluarga itu penuh cinta :D

  3. Mbak Em. Aku tau gak mudah untuk bisa jauh dari papa dan mama. Jangankan yang beda negara kayak dirimu, yg cuma satu kota tapi jaraknya jauh aja kadang gak enak. Tapi aku aku cuma mau mengulang satu kalimat yg diucapkan papanya mbak Imel di FB. Bahwa rumah Mbak Imel udah banyak sekarang.Dan rumah adalah tempat hati mbak berada.bicara rindu. Papa dan mama mbak Em pasti lebih rindu. Tapi mungkin mereka pasti lebih bijak bersikap.Aku cuma mau ngomong. Sebuah pelukan, entah dari tulisan di wall FB. Atau email, atau bentuk suara dalam telepon. Tetaplah sebuah pelukan. Hangatnya, pasti sama :). Nah, sekarang ijinkan aku memelukmu ya, mbak :) *peluk erat*

    • Terima kasih banyak yess. Pelukan hangat kamu terasa sampai di sini, di tengah malam pukul 2:34 (angka cantik ya ;) )

      Beruntung aku ini blogger, sehingga bisa bertemu sahabat-sahabat tanpa dibatasi jarak, meskipun virtual tetap terasa dekat dan akrab.

      >:D< :*
      EM

      • Aku jangan dipeluk ya, salaman aja lah… hahaha… :D

        Jadi blogger memang banyak manfaatnya ya Nechan. Aku sangat merasakan itu, dan ini adalah salah satunya…

        Terima kasih Tuhan, sudah mempertemukan aku dengan orang-orang hebat ini :)

  4. Bapakku punya kebiasaan mengantar anak-anaknya ke sekolah baru (SMP, SMA, dan perguruan tinggi). Selalu Bapak yang mengantarkan kami, anak-anaknya pada hari pertama masuk sekolah/kuliah, tapi nggak pernah meluk anaknya :D
    Sampai sekarang, aku dan Bapak jarang berpelukan, kecuali saat hari ulang tahunnya, hari lebaran dan natalan. Aku tipe yang agak susah menyampaikan perasaan.

  5. Cuma masalah kebiasaan, mbak. Lain tidak. Aku kebetulan tipe ekspresif. Sementara papa dingin banget. Kalo ngomong cuma “Mmm” atau “ya” jieeee. Pelit bener :p

  6. “Jika Papa tidak mau memeluk, saya saja yang memeluknya”

    Ini Yessy banget !!!
    Straight to the point …
    Dan jika saya pikirkan kembali … betul juga … Seorang Papa … seorang Ayah … pasti akan sayang dengan anak-anaknya … dengan cara mereka sendiri-sendiri …

    You know what Yess ?
    Saya sering berfikir dalam hati …
    Bagaimana ya rasanya punya anak perempuan … ?
    Bagaimana ya cara saya mengejawantahkan rasa sayang saya padanya ?
    Berbedakah rasanya dengan punya anak Laki-laki ?

    I like this Yess !

    Salam saya Yess
    Terima kasih Uda
    (Jadi pengen cepet punya mantu niiihhh …)(hahaha)

    • And by the way …
      Setelah aku perhatikan foto papamu …
      Kok kayaknya … sekilas …
      Tangguh itu mirip Kakeknya ya ?

      • Ehh omm, betulllll.

        Tangguh itu emang mirip papa banget! Apalagi waktu baru lahir! :) hehehe

        Ah, Yessy percaya, kelak dengan menantu perempuan, om akan memperlakukannya selayak anak sendiri. Bahkan lebih sayang! :)

        Tapi masih lama kan ya omm..masih lamaaaa, dehhhhhh :))

        • Itulah yang aku suka dari Yessy, Om… Ngomongnya tanpa ragu-ragu, langsung ke titik persoalan. Mantap bener deh…

          Mmmm… kira-kira ada gak ya anak-anak para blogger ini yang kelak berjodoh? hahaha… :D

  7. Sentuhan fisik? Tak pernah.. jarang..:)
    Tapi melalui sorot mata Papa ku dulu, aku tau itu lebih berarti dari sentuhan fisik :)

    Hidup Yessy!

    • Sekali lagi, Don…ini memang cuma masalah kebiasaan. Yang pasti seaorang ayah punya cara yang hebat untuk menunjukkan kasih dan sayangnya.

      • Akupun boleh dikata tidak pernah mendapat sentuhan fisik dari Papa. Yang paling kuingat hanya sekali, yakni setelah aku diwisuda. Begitu keluar dari arena upacara, dan ketika itu aku diumumkan sebagai wisudawan terbaik, Papaku datang dan langsung memelukku… Aih… bermilyar rasanya…

        Hanya itu, dan setelah itu tidak pernah lagi. Paling hanya salaman dan cium tangan.

  8. Hihihi… keren yes.
    Karena papa yang kaku untuk bisa melakukan pelukan pada anak perempuannya, dan kita duluan yang memulainya, papa tentu tidak akan menolaknya.

    Gw lupa waktu kecil dulu kapan papa peluk cium gw gitu ya?? …
    Terlalu pecicilan kali gw, ya. Ehm. (Baca: badung) :D

    Tapi sekarang sejak gw merantau, kalau ketemu, pasti peluk cium kok. (Baca: udah gak badung) :-P

  9. huaaaaaaaaaa…lu bikin gw nangis pagi2 :(
    berbeda dengan Papa ku adalah papa yang hangat dan selalu siap memberikan ciuman yang bertubi2 sama anak perempuannya…bedanya adalah papaku jarang dirumah :(

    Gw suka tulisan ini…suka bgt!!! excellent!

    notes : Papamu mirip Tangguh ya??? atau aku salah liat? ada foto tangguh di FB yang mirip sekali yang foto yang di Postingan ini :D

    • Ah ria…

      *pelukkkkk*

      Nah, dulu banget. Gue punya temen SD yang bapaknya kayak gituh. Jangankan sama anaknya. Sama temen anaknya juga dia akrab. Bikin ngiri deh…

    • Berarti tadi pagi Ria sarapan air mata dong, hehehe…

      Barangkali karena Papanya Ria yang jarang ada di rumah itulah yang membuat beliau begitu ingin mencurahkan secara maksimal kasih sayangnya kepada anak-anaknya. :)

  10. ntar menone akan memeluk terus si kecil n makin sering memeluk…… makasih sobat buat pengetahuannya yang berharga ini

    salam persahabatan selalu dr MENONE

  11. mb…aku berkaca-kaca di warnet pagi ini…
    aku juga melakukan hal yang sama..terutama sejak merantau. setiap kali pulang dari jogja dan sekarang di Pekanbaru, aku selalu mencium tangan dan mencium pipi papa..beliau memang rikuh..tapi aku tahu beliau bahagia dan aku jauh lebih bahagia:)

  12. wah aku sampai nangis baca postingan ini, terutama waktu Tante cerita masa lalu Mbak Yessy ketika sakit panas…..begitu besar cinta dan pengorbanan Papa utk anak2nya….bahagianya punya papa seperti itu…..

    Kalo aku ngga pernah merasakan pelukan seorang papa, karena aku sudah yatim dari umur 1 tahun hiks….

  13. Kalau saya dulu risih dipeluk sama bapak. Tapi, setelah dewasa saya justru langsung memeluk hangat bapak (dan ibu tentunya) yang hanya sekali dalam beberapa bulan bisa saya kunjungi.

    Setelah jadi ayah, saya senang memeluk kedua anak saya yang dua-duanya masih balita. Entah kalau mereka sudah tumbuh besar, apa saya masih memeluk mereka untuk menunjukkan betapa saya sangat menyayangi dan ingin selalu melindungi mereka (dan ibu mereka, tentunya :-D).

    Tulisa yang bagus, Mbak…

    • Terimakasih. Bang :)

      Anyway, sesama lelaki memang lebih ricuh. suamiku juga kaku sama bapaknya, begitu juga adekku dengan papaku.

      Again, ini cuma masalah cara…:)

    • Ketika anak kita masih kecl-kecil memang tidak sungkan untuk kita peluk-peluk Son. Tapi kalau sudah agak besar, kita agak sungkan dia pun begitu. Aku juga merasakan terhadap si sulung.

      So, selagi masih kecil, peluklah sepuas-puasnya :D

  14. Salam kenal vizon dan mbak yessy muchtar..nice posting. Terharu saya membacanya dan langsung terbayang bapak saya yang nun jauh dikampung halaman…Ya Allah semoga saya termasuk anak yang berbakti dan sayang dengan kedua orangtua saya…
    terimakasih telah menginspirasi :)
    salam

  15. Astaga luar biasa tulisanmu mbak…aku sangat tersentuh….

    Memang jarang sekali kita mendapatkan pelukan dari sang ayah, tapi bener juga, gak ada salahnya jika kita yang memulainya..sangat pantas dan bahkan harus dilakukan…apalah yang bisa kita berikan kepada ayah tercinta kita, selain pelukan hangat dari anaknya….

    Trima kasih atas tulisan yang menggugah ini mbak…bekal buat saya kalau nanti jadi ayah hehehe

  16. Owh, Yessy, ini sangat mengharukan. Dulu ketika kecil papaku sering memeluk dan mencium. Tapi kini cuma cium gak pernah peluk. Hari Sabtu nanti aku akan berkunjung dan memeluknya. Thanks, yaa :)

  17. salam kenal dulu dgn Mbak Yessy
    alhamdulillah, dgn ikut menghadiri baralek gadangnya Inyiak, aku bisa membaca tulisan2 yang hebat dr blogger2 yang juga hebat :)

    sedari kecil, ayahku terbiasa memeluk dan mencium kami anak2 perempuannya, Mbak Yessy
    mungkin krn ayahku adalah anak tunggal, walaupun Beiau pendiam, bicara hanya seperlunya saja, namun memeluk dan mencium kami adalah kebiasaan bagi Beliau.

    Jadi, sekarangpun, aku dan suami selalu tak pernah lupa memeluk anak2, paling gak sekali dlm sehari, pelukan itu pasti ada. :)
    Semoga ayah2 kita semua selalu dlm keberkahanNYA dan selalu sehat2 , amin
    salam

    • hai bunda.

      Aku sudah sering baca postingan dan jadi silent readernya blog bunda, kali ini kita betul-betul bersenggolan, ya? :)

      Aku dan suamiku juga menerapkan hal yang sama bun, sering-sering meemluk putra semata wayang kami :)

  18. Salam kenal, Mbak Yessy…

    Sampek SMA, papa masih sering menciumku tapi tidak pernah memeluk. Nampaknya beliau satu golongan dengan Papanya Mbak Yessy. Dingin dan nggak banyak omong, seolah perbendaharaan katanya cuman sedikiiiiiiit sekali…. :)

    Tapi aku tidak pernah berani memeluknya duluan (meski ingin), hingga tiba saatnya beliau dipanggil Tuhan dan aku menyesal berkepanjangan. Aku selalu berlinangan air mata setiap berkunjung ke arena Baralek Gadang Uda Vizon. Kangen berat dengan papaku… *nyari tissue*

  19. Yes,

    Gue nangis, bukan karena gue langsung keinget sama Papi. Gue nangis, pas baca ini, karena tulisan ini dalem banget.
    Apalagi kalimat kalau Papa nggak meluk, biar elo aja yang meluk. Damn, that’s good!

    Now, go hugging him as much as you can, Yes… :)

  20. Aku pikir aku akan membaca tulisan khas Yessy yang blak-blakan, adegan buka-bukaan, dan muncratnya sejuta sumpah serapah akan suatu hal seperti biasa. Tetapi ternyata pikiranku meleset sama sekali.

    Caramu bercerita, Yes, menggunakan hati dan mampu melesak hati pembacanya. Banyak hal-hal yang ketika kubaca ceritamu, ternyata terjadi pada diriku. Terutama soal kesungkanan dan kerikuhan yang jika itu terjadi, biasanya bakal pura-pura tidak tahu lebih baik tidak perlu melajutkan membahasnya. Rupanya tulisanmu berhasil menularkan relasi nilai (paling tidak terhadapku).

    Bersyukurlah engkau yang masih bisa merasakan hal-hal seperti itu.

    Tapi Kakak, satu hal nih ya Kak… Jangan memaksakan diri meluk papa sehabis naik P20 ya. Please ya, Kak… Apek!! (hihihi, teuteup, nyela! :p )

  21. kalo aku lupa seberapa sering terjadi ‘kontak fisik’ antara aku dan Bapak, yang jelas makin besar makin jarang…

    kalo Bapak dulu seringnya merangkul saja.. jarang memeluk :)

    Kalo ibu… kayaknya lebih banyak deh pelukan ibu :)

    salam,

  22. Yessy …. nampaknya ayah kita adalah tipe yang sama, jarang (bahkan hampir tidak pernah) memperlihatkan ekspresi rasa sayang. Padahal kita selalu menginginkannya, bukan?

    Beruntunglah Yessy masih bisa memeluk ayah sesudah Yessy dewasa. Aku tidak bisa, sebab ayahku sudah berpulang sejak aku masih kecil …

    Maka bagi teman-teman yang saat ini masih punya ayah, peluklah ayah kalian …

  23. Papaku juga lebih jarang memeluk dan mencium pipi setelah aku mulai besar..

    Tapi setelah SMA, aku harus tinggal di asrama, lalu kuliah dan kerja di lain kota, jadi sewaktu pulang, aku pasti peluk papa dan cium pipi kiri kanan…. ah, aku jadi kangen papaku deh, Yess…

    Pengen memeluknya..

  24. begitu memelas ya, kebiasaan kadang bikin kita melakukan hal yang diluar kebiasaan. Ini dia, bagaimana seorang perempuan mampu menaklukkan “kebiasaan” itu menjadi sesuatu yang luar biasa. Saluuut.

  25. Saya juga jarang memeluk atau mencium pipi anak2 saya. Entah mengapa yaa, karena saya juga gak pernah dicium oleh ayah saya sih.

    Anak2 saya setelah besar juga gak ada yang suka memeluk atau nglendot2 saya.

    Ya gak apa2 sih, yg penting kami saling menyayangi.

    Salam hangat dai Surabaya

  26. kisah Yessy mengingatkanku pada kisahku sendiri,,maka aku mendadak cengeng baca tulisannya….hiks..(bentar mengusap air mata yang menetes dipipi).Bapakku kurang lebih setype dgn papa Yessy…dingin sih enggak,cuma mungkin pemalu utk melakukan sentuhan fisik pada anak2nya,aku bahkan jarang dibelanya bila aku dinakali teman2ku,mungkin beliau berharap aku belajar mandiri dan menyelesaikan masalahku sendiri yaa..?aku pernah beranggapan bapak nggak sayang padaku…(astaghfirullah),ternyata dugaanku salah besar.Beliau sangat sayang dan kini mungkin bangga padaku,stlh menikah aku semakin mengerti betapa beliau menyayangiku dgn caranya sendiri…(entah sudah berapa juta kali beliau memeluk dan menciumku,diwaktu aku balita,tapi stlh aku dewasa kurasakan jarang sekali),tapi akhirnya aku yg berinisiatif memeluk dan menciumnya..spt Yessy!Karena aku yakin Bapak menyayangiku,teramat sangat,meski dgn cara yg unik…..Salam kenal buat Yessy dan tengkyu buat tuan rumah Surau Inyiak…..

  27. met kenal mba Yessi :D
    senang bisa baca tulisan keren2 di surau ini.
    dulu, saya juga pernah berpikir malah ingin sekali menanyakan (walau tak jadi dan dipenda,) bahwa apa ayah benar2 menyayangi saya, hanya karena tak pernah mendapatkan ciuman dan pelukan sayang seperti yang didapatkan teman sebaya saya dari ayah mereka, hehe
    lamat saya mengerti, dari segala yang beliau lakukan, tiap helain napas ada kasih sayang yang tak terkatakan.
    luv u ayah

  28. ini sih bapa-ku banget :(
    sempat protes sih dengan kekakuannya
    tapi mau bagaimana lagi :(
    saya juga tidak bisa seperti mba Yessi yang bisa dengan spontan peluk-peluk papanya,
    sepertinya ini karakter bukan yah?

    saya masih ingat ketika masih kecil, yang antar-jemput ke sekolah itu ya Bapa, yang kalau ke sekolah pas ujan2an, pasti digendong belakang, itu agar tidak kena becek sepatunya. tapiii … setelah mulai besar sedikit, sekitar kelas 4 SD gitu, Bapa mulai menjaga jarak dengan anak-anak gadisnya, bahkan menasehati langsung pun jarang banget, pasti semua disampaikan lewat Mamak. Tak jarang jadi kesal, kenapa sih Bapa ga mau ngomong langsung aja, kayak kami bukan anaknya aja. Tapi ada istilah ‘mehangke’ (kurleb artinya sungkanan) di suku kami, jadi yah terima aja deh nasib tanpa pelukan hangat.

    Tapi saya taulah klo Bapa sayang sama anak2 perempuannya, terbukti pernah sakit tipus, di saat lemah tak berdaya begitu, ya Bapa turun tangan njagain, keliatan kuatir banget anaknya kenapa2 :)

    Bapa saya memang beda, tapi saya tetap saya padanya :)

  29. Saya sepakat Yessy, mari kita peluk beliau…
    Ayahku juga jarang memeluk, mungkin sebagian besar ayah zaman dulu ya….tapi setelah saya mengerti, saya sering memeluk beliau.

    Suami sayapun awalnya canggung, tapi akhirnya terbiasa memeluk dan mencium anaknya….bagaimanapun anak butuh pelukan. Saya suka gaya tulisanmu Yess…..betapa bangganya ayah memiliki putri sepertimu.

  30. met kenal mba Yessi :D
    senang bisa baca tulisan keren2 di surau ini.
    dulu, saya juga pernah berpikir malah ingin sekali menanyakan (walau tak jadi dan dipendam,) bahwa apa ayah benar2 menyayangi saya, hanya karena tak pernah mendapatkan ciuman dan pelukan sayang seperti yang didapatkan teman sebaya saya dari ayah mereka, hehe
    lamat saya mengerti, dari segala yang beliau lakukan, tiap helain napas ada kasih sayang dan doa yang tak terkatakan sama seperti mama
    luv u ayah

  31. Pengaruh pelukan kepada anak memang dahsyat ya…Semoga semua orangtua saat ini semakin sadar untuk selalu memeluk anak. Aku juga termasuk jarang dipeluk waktu kecil.

  32. Pingback: SURAU INYIAK » Blog Archive » ayahku (bukan) pembohong

Komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jawab dulu ya pertanyaan di bawah ini sebelum kirim komentar, biar tidak dianggap spam.. :) *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>