lelaki yang pandai bernyanyi

Blogger Bicara Ayah #6

 

Anda kenal dengan Lala Purwono? Kalau sudah, syukurlah. Tapi kalau belum, mari kukenalkan…

Dia adalah seorang perempuan dengan multi talenta. Kepiawaiannya menulis tak diragukan lagi. Entah sudah berapa ratus tulisan yang ia hasilkan dan tersebar di mana-mana. Di antara sekian banyak tulisannya itu, terangkum dalam blognya http://jeunglala.wordpress.com, dan di dalam beberapa novel. Novel teranyarnya berjudul “A Million Dollar Question” yang dia tulis bersama blogger asal Jogja, Ryudeka. Dia jugalah yang memprakarsai penulisan buku “Dear Papa” yang aku ikut di dalamnya.

Aku beruntung pernah bertemu dengan perempuan asal Surabaya ini. Yang lebih beruntungnya lagi, aku pernah mendengarnya bernyanyi. Suaranya benar-benar empuk, dan dia sangat menikmati setiap lagu yang ia nyanyikan. Saking menikmatinya, sehingga cukup sulit untuk menghentikannya, hahaha.. :D

Ternyata, kedua bakat hebatnya itu; menulis dan menyanyi, diwariskan oleh sang Ayah. Berikut ini, Lala akan bercerita tentang bagaimana sang ayah menularkan virus bernyanyi itu kepadanya. Kemampuan sang ayah yang dipertontonkan di depan Lala, ternyata telah menumbuhkan rasa bangga di hatinya dan kemudian membuahkan hasil yang dahsyat. Lala pun bisa tampil seperti sang ayah dan bahkan lebih baik.

Yuk kita simak cerita Lala tentang papinya, cekidot….

============================================================

Lelaki Yang Pandai Bernyanyi
Oleh. Lala Purwono


Semasa kecil, aku biasa memandangnya, di sebuah restoran, berdiri di tepi meja, memegang mikropon, memandang layar yang terbentang beberapa meter jauh di depan, dengan suasana yang temaram, diiringi musik yang mengalun kencang namun merdu.

Lelaki itu dengan gagah dan tegas memegang mikropon itu, dengan penuh percaya diri bernyanyi mengikuti lirik-lirik yang terpampang di layar. Dengan suaranya yang merdu, keras, artikulasi yang jelas, lagu itu pun mengalun, menggedor hati setiap pendengarnya, dan mengundang tepukan ketika lagu itu berakhir.

Standing ovation.

Orang-orang seisi restoran berdiri dari duduknya dan mereka bertepuk tangan dengan sangat kencang. Aku menoleh mengamati seluruh ruangan, mengamati seluruh orang-orang di seantero restoran itu memandang kagum ke arah lelaki yang berdiri di dekatku itu. Sementara gemuruh tepuk tangan belum berhenti, lelaki itu tersenyum dan mengucapkan terimakasih, lalu meletakkan mikroponnya sekalipun banyak yang menginginkannya bernyanyi kembali.

Saat itu usiaku memang belum lagi sembilan tahun, tapi aku tahu apa itu rasa bangga. Rasa yang menyelinap masuk ke dalam hatiku dan membuatku semakin menyayangi lelaki yang kemudian mengusap rambutku dengan lembut lalu menyuruhku untuk menyendokkan nasi kembali.

Aku bangga padanya.

Sangat.

*

Rasa bangga itu terus ada ketika dia bernyanyi kembali di sebuah ajang menyanyi kecil-kecilan di tingkat RW. Sungguh, lelaki ini memang pandai bernyanyi. Aku ditularinya pula sehingga banyak yang mengatakan bahwa bakat bernyanyiku ini adalah memang sudah mengalir dalam darahku.

Aku bangga melihatnya bernyanyi di kontes tersebut. Bangga pula ketika aku akhirnya disuruhnya ikut berkompetisi melawan bapak-bapak juga ibu-ibu karena dianggapnya suaraku tak pantas disandingkan dengan anak-anak kecil. Bangga sekali ketika akhirnya aku menjuarai kontes itu sebagai juara ketiga, sementara lelaki itu menjadi bintang di sebuah malam tujuh belasan di kampungku.

Dan kamu tahu, apa yang membuatku semakin bangga di malam tujuhbelasan, 19 tahun yang lalu itu? Apa yang membuat seorang anak usia 12 tahun begitu bangga di malam itu?

Yang membuatku sangat bangga adalah ketika lelaki itu kemudian mengajakku untuk naik ke panggung dan bernyanyi berdua! Iya. Di depan banyak orang, aku bernyanyi berdua dengannya. Duet dengannya. Dengan lagu andalan yang selalu mengantarkan tepukan di akhir nyanyiannya.

Dan memang betul.

Malam itu, dunia seolah milikku seorang saja.

Bersanding dengan seorang lelaki yang kubanggakan, berbagi panggung dengan seorang lelaki yang sangat kukagumi, juga berbagi gempita rasa bahagia karena semua orang menatap kami berdua dengan sangat kagum.

Saat itu, umurku masih dua belas tahun, tapi aku tahu apa itu yang disebut dengan kebanggaan.

Siapa yang tidak bangga kalau sekecil itu aku bisa bernyanyi berdua dengannya dan disebut-sebut sebagai pewaris kepandaian bernyanyinya?

Jelas, aku bangga sekali!

**

Dia memang pandai bernyanyi.

Tadinya aku biasa mengamatinya bernyanyi; berdiri di tepi meja sebuah restoran, memegang mikropon, sembari sepasang matanya memandang ke layar yang memampangkan lirik-lirik lagu favoritnya sepanjang masa berjudul Gubahanku.

Tadinya aku biasa mengamatinya bernyanyi; berdiri di atas panggung, berkelakar dulu dengan penontonnya, lalu kemudian mulai menyanyikan lagu favoritnya sepanjang masa, Gubahanku, dan menuai tepukan setelah selesai.

Tadinya aku biasa mengamatinya bernyanyi; di sisi seorang pemain electone di sebuah acara pernikahan, menyanyikan, lagi-lagi, lagu favoritnya berjudul Gubahanku, lalu seperti biasa, tepukan tangan bergemuruh setelahnya.

Sampai akhirnya aku yang ketiban sampur untuk meneruskan kebiasaannya itu. Dia memaksaku untuk bernyanyi, kapanpun ada kesempatan. Saat makan di restoran, saat aku menghadiri acara pernikahan, saat ada perayaan tujuhbelasan di kampung. Dimanapun itu, asal ada tawaran untuk menyanyi, lelaki itu tak pernah bosan-bosan untuk menyuruhku bernyanyi.

Dan sejak saat itu, mikropon yang tadinya selalu digenggamnya itu, kemudian berpindah ke tanganku.

Dia tak lagi bernyanyi.

Tapi aku tetap mendengarnya bernyanyi di kamar mandi, tetap mendengarnya bernyanyi sambil mencukur jenggot, tetap mendengarnya bernyanyi perlahan ketika mengetik sesuatu di komputer, tetap mendengarnya bernyanyi ketika menyiram tanaman.

Dia memang tak lagi mengundang tepukan yang menggemuruh, tapi dia tetap bernyanyi. Lagunya tetap, Gubahanku. Lagu yang selalu menjadi favoritnya sejak dulu, sampai mungkin ketika ia menutup usia, 28 Januari, tahun lalu…

***

Papi memang pandai bernyanyi.

Papi memang penyanyi yang luar biasa.

Papi memang memiliki suara yang dahsyat, hebat, dan membuat rambut-rambut tanganku meremang ketika mendengar suaranya.

Memang, kini aku tak lagi bisa mendengar suaranya, tak lagi bisa menikmati nyanyiannya.

Tapi aku tahu, aku beruntung, karena dulu, aku pernah berkesempatan untuk melihat sosok hebat itu bernyanyi dari jarak yang sangat dekat, bahkan pernah bernyanyi dengannya dalam satu pelukan.

Aku juga beruntung karena di dalam darahku, mengalir bakat menyanyi Papi yang kusyukuri sampai hari ini.

Aku sangat beruntung telah menjadi puteri bungsunya.

Puteri bungsu seorang lelaki yang kini kehadirannya sangat kurindui dan membuat aku menangis hebat hanya karena aku mendengar Koes Hendratmo menyanyikan lagu Gubahanku di acara Zona Memori.

Lagu itu mengalun seiring dengan air mata yang membanjiri permukaan pipiku.

Pipi seorang puteri,

Puteri seseorang lelaki yang pandai bernyanyi,

bernama Edi Purwono.

============================================================

Rasa bangga…! Itulah yang ditanamkan Papinya kepada Lala sedari kecil. Rasa bangga terhadap prestasi sang ayah, secara perlahan tapi pasti, telah membentuk dan mengarahkan karakter Lala. Akhirnya, sekarang ia pun bisa melampaui prestasi Papinya itu.

Sesungguhnya, rasa bangga inilah yang harus dimiliki setiap anak terhadap ayahnya. Karena, yang paling dekat untuk diteladani adalah sang ayah sendiri. Bagaimana jadinya, jika sang anak merasa malu terhadap ayahnya? Sulit dibayangkan, tapi itu memang benar-benar terjadi di masyarakat kita.

So, anda tentu sangat bangga dengan ayah Anda bukan?

.

Tulisan keenam dari acara “Baralek Gadang”, klik di sini untuk melihat daftar tulisan dalam acara ini

37 comments on “lelaki yang pandai bernyanyi

  1. Wow, Lala, apa kabar?
    Yang bikin tulisan di sini, blogger jadul ya :D
    Jadi semakin mengenal bakat Lala turun dari siapa.
    Salam kangen, Lala.

    • Hai, Mbak Indah!
      He eh, nih. Uda Vizon ngumpulin blogger2 jadul. Aku sendiri entah masih boleh disebut blogger atau enggak, lha wong ngeblog-nya bisa sebulan sekali… hihihi…

      Kabarku baik, Mbak Indah. Dirimu gimana?
      Kangen ya, sama temen2 lama… Next month sepertinya aku ke Jakarta. So, insyaAllah kita bisa ketemu, ya…

      • Kok jadul sih? kesannya kuno-kuno gimana gitu, haha..
        Ini reunian Mbak…
        Biar sahabat-sahabat lama itu tidak terlupakan begitu saja :)

        • jadul??? hehe iya sih saya belum mengenal semuanya tapi lebih seneng mengatakan blogger Senior :)

          makasih yah uda, dah memberi kesempatan mengenal lebih banyak lagi blogger/penulis hebat, :)

  2. Saya sudah mendengar Lala bernyanyi, dan memang benar … Lala penyanyi jempolan. Suaranya penuh power, ekspresif, dan ia tak ragu mengeluarkannya dengan lepas bebas …
    Kapan rekaman, La? Pasti bakal laris manis dan menghentak dunia musik Indonesia. Bravo! :)

    • Dear Bunda,

      Makasih banget, yaa… Ini pasti keinget sama acara di Jogja, tahun 2009 kemaren. Pas aku nyanyi2 nggak berenti2 padahal sudah waktunya pulang… hahaha…

      Sebentar lagi aku rekaman, Bunda. Rekam sendiri pake hp.. hihihi… Nggak berani aku, Bun. Isin.. *ternyata punya malu juga ya aku ini. hihihi*

      peluk kangen!

      • Peristiwa di Balai Melayu itu gak bakal terlupakan deh La… Mantap tenan…
        Eh La, rekaman beneran dong. Setidaknya bikin yang kayak Bu Tuti dulu itu. Kan bisa jadi semacam souvenir :)

        • Hihihi…
          Nanti kalo nikah aja, aku tak kasih suvenir CD. Kalo Uda nggak sabar menanti, mendingan aku segera dikenalin sama calon suami dulu… Jodohin, kek.. hihihi

  3. Dear Uda,

    Aku sangat bangga dengan Papi. Khilaf dan salah memang pernah dilakukannya, tapi beliau tetap seorang Ayah yang terhebat untuk bisa dimiliki seorang anak perempuan seperti aku.

    Satu kalimat yang pernah Papi bilang, dan sampai hari ini menjadi penguat aku adalah ini, Da: “Papi yang matanya buta aja nggak mau nyerah, kenapa kamu yang masih sehat gampang nyerah?” Duh, setiap inget kata2 Papi yang ini, aku jadi malu kalau dikit-dikit nyerah sama keadaan… He was a fighter. Aku percaya, dia pun menginginkan putri bungsunya menjadi seorang pejuang tangguh pula, sepertinya.. :)

    Thanks Uda, untuk kesempatannyaaa..
    Good morning!

    • Aku tahu, papimu adalah orang hebat, La…
      Meski aku baru kenal sedikit dengan beliau dan hanya berinteraksi sebentar lewat blognya, tapi aku sudah menemukan kekaguman yang luar biasa.

      Dan begitu tahu bahwa Lala sangat bangga dengan beliau, akupun menjadi bertambah salut… Sayang, aku belum sempat bertemu muka dengan beliau. Insya Allah beliau sudah menemukan kebahagiaannya bersama Penciptanya…

      Lala… terima kasih juga ya…
      Aku senang sekali Lala bersedia ikutan dalam acaraku ini :)

  4. La, sama seperti papa.
    Dia juga suka bernyanyi.
    Cuma, gak sePD papimu. Papa cuma bernyanyi lewat karaoke di rumah, atau di pernikahan saudara kandungnya, itupun majunya beramai-ramai.

    Gue rasa, bakat nyanyi gue juga nurun dari beliau, cuma, balik lagih…bakat nyanyi gue gak didukung sama bokap nyokap…jadilah gue cuma bernyanyi dan ngeband gak jelas. So…tetep gak senarsis dirimu yang kalo ada mikropon langsung nyamber :p

  5. Ah sudah lama rasanya saya tidak membaca rangkaian kata seperti ini …
    rangkaian kata dengan tekhnik repetisi manis …
    rangkaian kata milik Lala Purwono …

    Dan seperti biasa …
    Postingan Lala jenis seperti ini … selalu saja dapat menglangutkan suasana hati saya …

    Semoga saya bisa menjadi kebanggaan anak-anak saya …
    Mungkin tidak sempurna … namun saya rasa kita semua … para Ayah … selalu harus berusaha untuk selalu menjadi lebih baik

    Salam saya

  6. Tulisan yang kuat terlahir dari kepekatan ingatan akan kedekatan sebuah pribadi yang kuat. Sungguh, saya bisa membayangkan menjadi seorang lala kecil, karena alur deskripsi tulisan ini kental sekali.

    I like it

  7. Papi mu pasti sangat bangga punya seorang gadis bungsu seperti mu , Jeung
    seorang Papi yang hebat yang juga menghasilkan seorang anak yang hebat
    salam

  8. Saya jadi tahu kalo jeung lala gak cuma bakat bikin tulisan tapi juga punya kemampuan vokal yang bagus.
    Sepertinya menyanyi dan menulis lagu memang sama-sama membutuhkan cita rasa seni tingkat tinggi… dan itu pasti dari sang ayah…

  9. ehhhh akhirnya lala nongol juga :D
    dan gw akuin memang suara lu dan suara yessy jempolan…semoga kalau kita bis akaraokean ber 3 lagi gw sudah bisa sepadan dengan kalian *maksain anak2 karaoke tiap minggu latihan maksudnya* hahahahahaha…

    Btw…papimu hebat ya, tidak hanya suka menulis tetapi juga pandai menyanyi…jempol! ;)

  10. sebuah bakat yang sudah ada dan di asah oleh sang ayah, aku tak pandai bernyanyi tapi aku juga sangat bangga bapak :)

  11. Lagu Gubahanku ? Lagu itu pula yang suka saya nyanyikan, seolah menjadi Lagu wajib jika saya kena tembak untuk menyanyi di kantor atau dalam acara reuni2 keluarga. Lagu Gubahanku adalah lagu utama saya dengan cadangan lagu Mulanya Biasa Saja.

    Kalau dua lagu itu sudah dinyanyikan oleh orang lain maka saya masih punya lagi ketiga yang orang jarang mau menyanyikannya yaitu Sawan Kamahina ( lagu India) yang syairnya saya rubah sak enak udel saya karena gak hafal syairnya ha ha ha ha.

    Ayah memang seharusnya menjadi idola bagi anak2nya wuk.

    Salam hangat dari Surabaya

  12. Dan apakah kamu sudah bernyanyi untuk papi dan mami pagi ini La? Lagu cinta atau rindu mewakili perasaanmu pada mereka yang sudah berada di surga?

    EM

  13. Kamu percaya nggak, La, sejak 28 Januari dan nanti, setiap engkau bernyanyi: papamu selalu hadir untuk melihat dan mendengarmu.

  14. Lala, ayahmu alumni IPB ya? Sayang saya tak sempat mengenalnya….dari foto terlihat mirip Lala.

    Sayangnya pula, saya belum pernah mendengar Lala menyanyi….setelah pertemuan kita di Surabaya dulu, kita belum ketemu lagi ya….

    Semoga ayahmu bisa ikut membaca tulisan-tulisanmu Lala….

  15. met kenal yah mba lala,
    ayahku juga punya suara yang bagus dan bakatnya itu sedikit banyak menurun pada saya dan 2 saudara laki2 saya.

    ayahnya pasti bangga juga punya anak seperti mba
    salam

  16. Pingback: Twilight Express » Blog Archive » Gubahanku

  17. Pingback: Twilight Express » Blog Archive » Gubahanku 2

Komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


− 3 = 2

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>