pak, aku ingin bernyanyi


Warning: Illegal string offset 'single_featured_image' in /home/hardiviz/public_html/wp-content/themes/confidence/content-single.php on line 69

Blogger Bicara Ayah #7

 

Setiap ayah pastilah memiliki pengharapan terhadap anaknya. Segala usaha yang beliau lakukan, sesungguhnya diperuntukkan bagi anak-anaknya. Ada yang berhasil memetiknya, tapi tidak sedikit yang lantas berpulang ke haribaan Sang Khaliq sebelum bisa menikmati apa yang ia tanam terhadap anak-anaknya. Tapi, apa memang untuk menuai itukah seorang ayah berada?

Sahabat baikku Daniel Mahendra alias si Penganyamkata, pemilik blog http://penganyamkata.net, memiliki cerita soal itu. Si penulis beken yang sudah banyak menerbitkan buku ini, di antaranya novel trilogi Epitaph, punya pengalaman berharga berkaitan dengan ayahnya. Mari kita simak…


Daniel Mahendra, si penganyamkata yang suka mengembara

Duhai pengembara, silahkan…. :)

==================================================================

Pak, Aku Ingin Bernyanyi
Oleh Daniel Mahendra

 

No fight is for nothing. As life is not merely about harvesting;it’s about the process of planting.

Stasiun Bandung pagi hari tampak semarak. Orang-orang keluar dari gerbong kereta seperti semut yang bubar dari makanan yang dirubungnya. Berhamburan dan berjalan kesana kemari. Setelah menempuh ratusan kilometer perjalanan, kereta menghembuskan napas terakhirnya.

Hup! Aku meloncat turun dari gerbong kereta. Setelah menghabiskan beberapa minggu menyusuri pulau Jawa, akhirnya aku pulang juga.Tetapi tidak langsung menuju rumah. Ya, sebelum berangkat traveling hubunganku dengan bapak sedang tidak baik. Aku sedang tidak bicara dengan bapak. Aku lebih banyak tinggal di kampus ketimbang di rumah, lantas pergi keliling pulau Jawa.

Aku menuju tempat kost seorang teman. Aku masih malas pulang. Aku menginap semalam di sana dan bercerita tentang kisahperjalananku. Lalu malam harinya ia menutup ceritaku dengan kalimat: “Pulanglah. Sudah lama nggak pulang ke rumah kan?”Maka keesokan paginya aku memutuskan pulang.

Ketika masih berjalan di depan komplek rumah sembari menggendong ransel, kulihat dua buah mobil tetangga melitas di depanku. Aku berusaha tersenyum dan menganggukkan kepala kepada mereka. Tetapi mereka tak melihat. Entahlah. Mungkin sedang buru-buru. Sesampai di rumah, pintu terkunci. Rupanya tak ada orang sama sekali.Mungkin bapak sedang mengantar mama ke pasar seperti biasa. Aku memutuskan menunggu mereka di teras rumah.

Cukup lama akududuk menunggu di teras, tiba-tiba dua mobil tetangga yang tadi berpas-pasan denganku di depan komplek berhenti persis di depan rumah. Banyak orang turun dari mobil itu. Aku kaget. Ada mamaku di sana. Aku bertambah kaget. Semua orang memandangku dengan tatapan lega namun sendu. Ada apa?

Aku berdiri menyongsong mereka sembari memicingkan mata. Mereka mendekatiku dengan sikap yang sangat hati-hati. Sesuatu telah terjadi, batinku. Lalu tiba-tiba mama memegang lenganku dan berkata,

“Untung kamu sudah pulang…”

“Kenapa?”

“Bapak…” isak mama. “Bapak, Niel…”

“Kenapa dengan Bapak?!”

Mama langsung memelukku. “Bapak sudah nggak ada…”

Sontak aku lemas mendengar penjelasan mama.

Rupanya saat aku melihat dua mobil tetangga di depan komplek tadi, saat itulah mereka sedang membawa bapak ke rumah sakit. Padahal aku berpas-pasan dengan mereka. Ya, bapak telah tiada.

Pagi tadi bapak dan mama memang sedang duduk-duduk di ruang tamu. Mama memotongi sayur di pangkuannya dan bapak duduk menghadap jendela menemani mama. Setelah pensiun bapak memang masih bekerja di Jakarta. Tetapi ketika ia tertabrak motor di Jalan Bendungan Hilir dan kakinya patah, akhirnya bapak memutuskan istirahat di Bandung dan lebih banyak mengurus masjid di komplek bersama bapak-bapak lain yang sama-sama sudah pensiun.

Ketika mereka sedang berbicang, tiba-tiba telepon berdering. Mama beranjak ke ruang tengah untuk mengangkat telepon. Beberapa saat berbicara dengan si penelpon yang rupanya salah seorang teman almarhum kakakku. Setelah telepon ditutup mama kembali ke ruang tamu sembari berkata, “Salam dari Haikal, Pak.”

Tetapi bapak diam saja. Mama heran: ada salam kok diam saja? Mama melihat bapak, kok sudahtertidur?Cepat sekali. Padahal tadi masih ngobrol santai. Mama menyentuh lengan bapak, “Pak?” tetapi bapak tetap diam saja di kursi. Mama mulai penasaran. Ia mengguncang-guncang tubuh bapak. Bapak tak bergeming. Karena kalut, mama memanggil tetangga,dan mereka memutuskan membawa bapak ke rumah sakit.

Akhirnya setelah pihak rumah sakit memastikan bahwa sejatinya bapak telah tiada sejak dari rumah, mereka kembali pulang hingga mendapatiku sedang duduk di teras rumah. Ya, bapak telah tiada ketika masih duduk dan berbincang dengan mama di ruang tamu.

Seorang tetangga mendekatiku,“Niel, sebaiknya kita ke rumah sakit sekarang. Bapak akan dimandikan. Ada baiknya kamu ikut memandikan.”

Tiba-tiba aku teringat adikku. “Gimana dengan Dian?” tanyaku pada mama.

“Masih di kampus. Nanti biar kita yang jemput.” seorang tetangga menenangkan hatiku.“Yang penting kamu sudah pulang.”

Akhirnya aku nurut saja dibawa ke rumah sakit yang jaraknya memang dekat dengan rumah.

Para tetangga menuntunku masuk ke rumah sakit. Padahal aku bisa jalan sendiri. Akhirnya aku ikut memandikan bapak. Setelah dikafani, bapak kami bawa ke rumah dengan ambulan. Hanya aku seorang diri yang menemani bapak di bagian belakang ambulan. Tetangga lain kembali dengan mobil mereka.

Aku menangis sendirian di ambulan. Bapak sudah terbujur kaku di depanku. Aku menyesali diriku sendiri. Bapak meninggal di saat hubunganku sedang tidak baik dan kami sedang tidak saling bicara. Aku pergi traveling dan ketika pulang bapak sudah tiada. Aku tak akan pernah bisa memaafkan diriku atas kejadian ini untuk sepanjang hidupku. Aku takkan pernah bisa menggantinya dengan apa pun juga. Tiba-tiba aku merasa menjadi anak durhaka.

Bapak dimakamkan persis bersebelahan dengan makam almarhum kakakku. Mama dan adikku tak ikut ke pemakaman. Ketika tanah pekuburan sudah menutupi makam bapak, aku menoleh ke makam kakakku. Aku bersimpuh dan menangis di sana. Sembari terisak aku mengadu pada kakakku: “Bapak sudah nggak ada… Bapak sudah nggak ada… Bapak sudah menyusul kamu…” Teman-temanku sontak menarik tubuhku untuk berdiri. Akhirnya aku dituntun untuk meninggalkan pemakaman.

* * *

Sudah belasan tahun kejadian itu. Tetapi setiap aku mendengar lagu “Ayah” yang dipopulerkan oleh The Mercy’s, aku bisa sontak sentimentil dan sendu.Ya, kematian adalah hal biasa. Setiap yang hidup, pasti mati. Setiap yang bermula, pasti berakhir. Banyak orang pernah mengalami ditinggal oleh orang-orang yang mereka cintai. Tetapi bahwa bapak meninggal ketika hubungan kami sedang tidak baik, hingga saat ini pun aku masih belum bisa memaafkan diriku atas kejadian itu. Barangkali untuk sepanjang hidupku.

Aku memang tak pernah mengidolakan bapak. Tetapi ketika beranjak dewasa aku mulai menyadari: sikap, cara pandang, dan bagaimana aku menilai sesuatu, rupanya banyak dipengaruhi oleh bapak. Ia orang yang sangat sederhana. Tanpa langsung berbicara, ia selalu menyiratkan pada anak-anaknya:bahwa tak ada sesuatu yang jatuh dari langit dengan cuma-cuma. Setiap  keinginan mutlak diusahakanmelalui perjuangan.

Bisa jadi ia benar. Ketika semua kakak-kakaknya asyik menetap di Palembang, ia nekat merantau ke Jawa seorang diri. Sekolah dan kuliah di Semarang. Ia tinggal di sebuah pondokan murah di mana ibu pemilik pondokan selalu menghidangkan sayur pepaya setiap hari, yang buahnya diambil dari pohon halaman rumah. Hingga saking bosannya, ia tak mau kalah dengan ibu kost. Kalau ibu kost bisa masak sayur pepaya tiap hari, ia pun bisa menusuki pohon pepaya itu dengan paku tiap hari. Sampai mati. Dan ibu kost pun berhenti menghidangkan sayur pepaya di meja makan.

Sebatang sabun mandi selalu ia potong menjadi empat. Biar hemat.Begitu ia selalu bercerita tentang masa-masa merantaunya di Jawa. “Semua konsep miskin dan susah pernah Bapak alami. Kita sekarang tidak miskin toh? Berarti kamu bisa melampaui apa yang sudah bapak capai.” Kalau sudah begitu aku hanya bisa nyengir.

Ya, nyatanya kalau sekadar soal makan, kami memang tak pernah kesusahan. Tetapi bapak tetap menyodorkan konsep sederhana dalam hidup. Ketika teman-teman SD-ku sudah main Game & Watch atau Attari, bapak tak pernah mau membelikan kami mainan semacam itu. “Kalau mau, harus beli sendiri.” kata bapak. Pada akhirnya ketika lebaran tiba, ketika kami kerap mendapat uang dari sana-sini,dan juga kalau mencuci mobil bapak ia kerap memberiku uang lelah,akhirnya aku bisa mengumpulkan uang sebanyak Rp15 ribu untuk membeli Game & Watch jenisMario Bros di tahun 80-an.

Begitu pun ketika SMA,bapak tidak lantas sekonyong-konyong membelikan motor untuk anak-anaknya. “Naik angkot atau bis kota! Sekolah kalian kan dekat. Bapak dulu harus jalan berkilo-kilo jauhnya.”

“Itu kan dulu, Paakk…” kami selalu membalasnya dengan kelakar seperti itu setiap bapak berkata begitu.

Tetapi ternyata semua itu membuat kami terbiasa memperjuangkan sesuatu. Tidak mudah iri dengan teman sebaya yang memiliki sesuatu di mana kami tak memilikinya. Meski kami tahu: bapak pasti bisa membelikan apa yang kami inginkan.

Setelah kami mulai dewasa, bapak pun menginginkan anak-anaknya jadi Pegawai Negeri Sipil seperti dirinya. Tapi tak seorang pun anaknya yang tergiur oleh rayuannya. Kakakku yang kuliah di sekolah film ia sarankan untuk bekerja di Departemen Kebudayaan dan Parawisata, misalnya. Tentu saja kakakku hanya ngakak dibuatnya. Kakakku lebih suka kerja kreatif di bidang film ketimbang menghamba pada negara. Aku sendiri sudah sejak kecil lebih suka bergelut di ranah seni dan penulisan. Sementara adikku bercita-cita jadi arsitek. Maka tak ada yang mengamini keinginan bapak agar anak-anaknya jadi PNS.

Masih kuingat betul ketika suatu malam tiba-tiba ia mendatangiku di ruang studi.

“Kamu belajar bahasa Perancis,suatu saat akan ke Perancis?” tanyanya.

Aku hanya nyengir sembari mengangkat bahu.

Lalu ia berkata, “Bapak nggak pernah belajar bahasa Perancis, tapi Bapak sudah naik menara Eiffel dan keliling Eropa. Tau artinya?” Lagi-lagi aku hanya menggeleng. “Tetapkan tujuanmu, namun selami prosesnya mati-matian. Kamu nggak akan pernah mengira bahwa apa yang kamu jalani sekarang ini akan mengantarkanmu melebihi cita-cita yang pernah kamu inginkan.” tukasnya serius.

Mendengar itu aku hanya termenung. Hingga kini pun aku masih lagi termenung demi mengetahui bahwa sampai saat ini pun: aku belum berhasil naik menara Eiffel.

Ya, bagaimana pun ada masa-masa yang tak terlupakan tentang gambaran bapak bagi diriku. Sejak kecil bapak selalu mengajak traveling setiap hari Minggu tiba. Nyaris setiap hari Minggu kami pergi ke suatu tempat. Entah naik kereta api, naik bus, atau meminjam mobil kantor. Ketika kami masih tinggal cukup lama di kota Medan, hampir semua tempat wisata di propinsi Sumatera Utara pernah kami datangi.

Kami pun pernah diajak naik bus dari Bandung menuju Merak,menyeberangi selat Sunda dengan kapal,naik kereta keliling Lampung, dan tiba di Sumatera Selatan melihat tempat kelahirannya. Dari Palembang kami naik bus kecil menuju Pendopo, menyeberangi sungai dengan rakit, dan berakhir di sebuah desa tempat kakek tinggal di sana. Alangkah jauh jaraknya.

Ketika di Pendopo orang-orang kampung berlebaran mengenakan baju dan sepatu baru, setelah sholat Ied, dengan kaus dan celana pendek kami justru pergi ke telaga. Bersampan di danau, berenang, dan mancing di sana. Orang-orang kampung itu memandangi kami dengan tatapan aneh atau barangkali menganggap kami gila. Lebaran kok malah bermain di telaga. Tetapi bagiku pribadi, itulah liburan paling hebat yang pernah kurasakan dalam sepanjang hidupku.

Tetapi tidak semua kegiatanku bapak setujui. Ketika SD aku pernah dilarang ikut Pramuka oleh bapak. Bagaimana tidak dilarang, kegiatan pramukaku melebihi waktu sekolah itu sendiri. Sabtu-Minggu pramuka. Tiap hari berurusan dengan pramuka. Camping, trekking, menyeberang sungai dan keluar masuk hutan, karena Pramuka. Menurut bapak itu sudah berlebih-lebihan. Tetapi aku menantang bapak: ketimbang aku diam saja di rumah atau malah bergaul dengan anak-anak kurang baik, bapak lebih suka yang mana? Akhirnya bapak membiarkan aku tetap aktif pramuka.

Begitu pun saat kuliah, bapak sempat protes karena aku lebih banyak menginap di kantor pers mahasiswa dan jarang tinggal di rumah. Lagi-lagi aku berkata pada bapak: “Lha, katanya bapak waktu kuliah lebih banyak tinggal di kampus ketimbang di kost. Berhari-hari ngurus radio kampus dan organisasi.” tukasku nyengir. Bapak hanya menatapku dengan masygul, karena apa yang kulakukan persis dengan apa yang ia lakukan dulu.

Namun satu-satunya momen yang tak pernah terlupakan adalah ketika SMA bapak sudi menontonku bermain teater. Barangkali itulah pertama dan terakhir kali bapak melihat aku pentas teater.

Tembang “Ayah” yang kuputar masih terus bergema di ruang perpustakaanku. Bukan hanya dari The Mercy’s, tapi juga lewat suara Rinto Harahap, Broery Marantika, Indra Lesmana, termasuk Ariel Peterpan dan Candil Seurieus. Semua melantunkan tembang “Ayah”. Aku masih melangut seorang diri menyelesaikan tulisan ini.Ya, aku jadi teringat segala hal tentang bapak.

Andai ia masih hidup dan ada, pasti aku akan bercerita tentang kisah traveling-ku serta rencana perjalanan berikutnya menuju negara-negara lain di dunia. Andai ia masih hidup dan ada, pasti ia akan berkata: “Pergilah anakku, pergilah melihat dunia. Kenakan sepatu dan gendonglah ransel. Tuliskan segala pengalamanmu selama di sana.”

Tetapi aku tahu, ia sudah tiada.

Karena ia tak pernah menyaksikan seorang pun dari anak-anaknya lulus sarjana. Ia pun tak pernah menyaksikan satu dari mereka melangsungkan pernikahan. Ia bahkan tak pernah sempat menonton film karya anak sulungnya, tak pernah juga membaca buku rawian anak tengahnya, atau menyaksikan bangunan rancangan anak bungsunya.

Memang, ia baru sempat menanam tanpa pernah menuai buahnya. Karena nyatanya usia jauh lebih berkuasa ketimbang hidup manusia. Namun demikian tetap ia jua yang membuat semua itu menjadi nyata. Karena hidup toh bukan semata memanen, melainkan proses menanam itu sendiri.

Andai ia bisa mendengar, ingin sekali kukatakan padanya, “Pak, aku ingin bernyanyi.”

* * *

 

lihatlah hari berganti

namun tiada seindah dulu

datanglah aku ingin bertemu

untukmu aku bernyanyi

untuk ayah tercinta

aku ingin bernyanyi

walau air mata di pipiku

ayah dengarkanlah

aku ingin berjumpa

walau hanya dalam mimpi

==================================================================

Bagaimana dengan sahabat semua? Apakah ayah sudah menuai hasil dari yang beliau tanam selama ini pada diri Anda?

.

Tulisan ketujuh dari acara “Baralek Gadang”, klik di sini untuk melihat daftar tulisan dalam acara ini

 


Warning: Illegal string offset 'author_box' in /home/hardiviz/public_html/wp-content/themes/confidence/content-single.php on line 93

56 comments on “pak, aku ingin bernyanyi

  1. Aku tercekat membaca sajian DM ini. Ttg kepandaiannya menulis, kita semua juga tau, tapi lebih dari itu, esensi sajian ini kuat sekali.
    Entah knapa, setiap membaca pengalaman bersama ‘ayah’ trutama mreka yg sudah ‘ditinggal’ ayah, slalu dan semakin mrnguatkanku, Uda…

    DM dan Uda, terima kasih…

    • Barangkali itu juga gunanya berseru-seru, Don. Aku bisa terbiasa dengan hal kematian, karena berkaca dari kisah orang lain juga. Dan, betul katamu: itu menguatkan.

    • Tulisan DM selalu bernyawa, Don…
      Itulah yang membuat kita merindukan goresan-goresannya…
      Melalui tulisannya DM selalu mampu menghidupkan semangat para pembacanya…

      Thanks juga Don

  2. Dalam halaman 25- 33 sebuah buku yang kubaca, terdapat cerita yang hampir sama. Dan aku tahu itu tidak mungkin fiksi :)
    Yang ingin kutanyakan apakah surat itu benar ada? Sebuah surat dari seorang bapak kepada anaknya yang begitu penuh petuah.
    Seorang bapak adalah bandara, dan anaknya adalah pesawat terbang…. aku selalu suka perumpamaan ini.

    Jadi, kapan akan kamu gelar konser untuk ayah? Bernyanyi, bermain piano, membacakan puisi, mengeluarkan semua bakatmu untuk ayah? Kalau sudah tahu tanggalnya, kasih tau ya? Mungkin bagus jika dijadikan satu dengan upacara pernikahanmu :D Atau mungkin sudah kamu nyanyikan lagu itu di negara atas atap?

    EM

    • Taukah engkau, Imelda, aku senang karena engkau selalu ingat dengan apa yang telah kau baca. Betul, cerita fiksi di buku kumpulan cerpen tersebut memang berangkat dari kisah nyata. Kisah di atas. Kisahku sendiri. Seperti itulah kejadiannya.

      Sementara soal surat, kalau tulisan di atas merupakan kesempatan yang diberikan Uda padaku untuk menuliskan kisah aslinya, barangkali di suatu hari nanti, akan datang pula kesempatan bagiku untuk menuliskan soal surat itu. Dengan cara yang aku sendiri belum lagi tahu.

      Jika ide ‘konser untuk ayah’ itu mesti digelar bersamaan dengan hari pernikahanku, praktis konser tersebut tak pernah ada…

      • hei aku tidak bilang “mesti”, hanya “mungkin bagus bila” hehehe

        Well, aku selalu ingat apa yang kubaca, yang kulihat dan yang kudengar (juga lolongan anjing itu :P) kecuali dari awal aku sudah bertekad tidak mengingatnya :) (Jadi jangan coba membohongiku gitu loh hihihi)

        EM

    • Perumpamaan yang pas sekali itu ya Nechan…

      Aku penasaran dengan cerita soal surat itu. Apakah perlu diadakan hajatan berikutnya untuk bisa mendapatkan versi asli dari cerita surat itu? :D

      • Ah! Surat dari Ayah! sepertinya bagus tuh.

        Aku ada satu surat dari papaku…. yang ditulis wkt dia TIDAK BISA TIDUR :(
        Isinya BERAT! tapi sangat indah buatku

        EM

  3. Hai Dan…

    tulisan ini, keren, sekali.
    SEKALI. Dan…

    Terimakasih, ya…

    Aku gak tau mau komentar apa lagi. Tapi aku menikmati tulisanmu, dan apapun yang kamu tuliskan di sana…Amat sangat Menyentuh.

    Tapi, Dan…
    Seandainya bapak masih hidup. dan kamu bilang…
    “Pak, aku ingin bernyanyi.”

    Mungkin bapakmu akan bilang…

    “Boleh gak, yang nyanyi si Rinto Harahap aja, kamu yang main gitar?”

  4. setiap kali membaca tulisan2 sejenis, selalu ada rasa sesak di dada.
    walaupun papa dan mama masih ada, tapi saya belum bisa membalas jasa2 beliau.
    semoga Allah memberi saya kesempatan untuk membalas jasa mereka…….

      • Insya Allah.
        Walaupun terpisah ruang dan waktu serta terkendala oleh kesibukan sehari-hari, saya selalu berusaha meluangkan waktu menemui mereka.

    • Membalas jasa kedua orangtua tidak mesti dengan harta benda kan Ryo? Menjadi manusia berguna dan selalu mendoakan beliau, adalah balas jasa yang paling berharga, I’m sure :)

      • Walau hanya dengan cara sesederhana itu tetap saja rasanya sampai sekarang masih belum bisa membalas jasa mereka.
        Apalagi kalau diukur dengan harta benda, sepertinya tak akan pernah bisa membalas apa yang telah mereka perbuat sampai saat ini.

  5. Lagu Ayah itu …
    By nature … memang lagu yang sangat indah …
    ini Masterpice dari Rinto Harahap dan The Mercys …
    Kata-katanya indah …

    Salam Saya

    • Alangkah betul, Om. Lagu tersebut, meski melangut, tetapi juga indah. Tak bisa kubayangkan jika aku tak menuliskan lagu itu pada tulisan di atas…

    • Ayah, lagu yang dulu sering disenandungkan oleh almarhumah. Setiap dengar lagu ini, almarhumah berkaca-kaca, mengenang almarhum bapaknya yang meninggal sebelum kami menikah. Kini, setiap mendengar lagu Ayah ini, aku teringat dua sosok sekaligus, almarhum ayah dan tentunya almarhumah.

  6. huh! tiba2 jadi keinget sama papaku….
    tulisanmu tetap menawan sedari dulu Mas!

    Aku setuju sekali bahwa hidup itu punya tujuan tetapi yang terpenting adalah bagaimana menikmati prosesnya karena kita gak akan pernah tau ketika kita menikmati proses tersebut mungkin apa yang kita capai lebih dari tujuan yang diinginkan.

    Mas Dan, kapan jalan2 lagi? hihihihihi pengen liat dirimu ganti ban lagi hahahahaha ^^

    • Kenapa kalau tiba-tiba jadi ingat papamu, Ria? Bukankah tak apa? Bukankah justru menyenangkan toh?

    • Yang menawan tulisannya kan Ri? bukan orangnya kan? kan? kan? :D

      Benar kata DM, tidak salah bukan jika teringat Papa? Bagus malah. Kalau tidak bisa bersamanya, doakan saja :)

  7. Mas Dan…saya terkesan sekali dengan tulisan mas yang ini, betapa hidup dan saya yakin sekali bahwa apa yang telah diwariskan oleh BAPAK selama ini, terutama mengenai KONSEP HIDUP jauh lebihj berharga darai segalanya dan bukankah itu yang paling penting AGAR semua anaknya bisa menuai hasi yang maksimal…

    • Aku ini masih lagi memupuk bawang di ladang yang pernah bapak semai, duhai Imoe kawanku. Belum ada apa-apanya. Belum tumbuh tunas sama sekali.

  8. Indah sekali bung DM,

    tergetar aku membacanya

    dan aku sangat terkesan dengan kalimat pertama itu:
    No fight is for nothing. As life is not merely about harvesting;it’s about the process of planting

    hidup bukan tentang memanen, tapi menanam

    Salam,

    • Keindahan bukan milikku, Bro. Keindahan adalah milik mereka yang justru karena jalan hidupnya kita bisa merawikan kisahnya. Ayah-ayah kita. Tanpa itu, apa yang hendak kita ceritakan? Bukankah begitu?

      Aku sendiri masih terkelu ketika membaca kisah ayahmu. Betul-betul terkelu. Perjuangannya, ah sudahlah. Tak perlu kukomentari lagi di sini. Tak cukup satu bundel Kamus Besar Bahasa Indonesia untuk mengurai apa yang sudah ayahmu perjuangkan.

      • Setuju DM, keindahan milik dia yg kita ceritakan…

        dan keindahan pula yang menyediakan cawan tempat kita bisa menikmati kisah kisah itu…

        Barelek gadang-nya Uda Vizon ini sungguh luar biasa :)

  9. salam kenal dulu denganmu, Mas Daniel
    aku ternyata cengeng sangat, membaca tulisanmu ini, sambil bersimbah airmata :(
    apalagi pd paragraf ‘ Ayah telah pergi pd saat kami tak saling bicara’.
    sosok ayah adalah sosok laki2 yang pertama kali kita kenal dlm dunia kanak2 kita, dan bisa jadi panutan atau malah saling megkritisi satu sama lain, ketika kita telah dewasa.
    ah, tulisanmu benar2 indah sekali Mas Daniel :)
    Semoga Beliau mendapat tempat yang mulia disisiNYA,amin
    salam

    • Salam kenal kembali, duhai Bunda.

      Sungguh maaf beribu maaf, ketika merawi kisah di atas, tak ada secuil pun niatan padaku untuk menggerimisi pipi pembacanya dengan air mata. Sungguh. Aku hanya berusaha menulis dengan jujur. Dan usaha yang tak seberapa itu siapa nyana ada manfaatnya bagi pembaca. Bahkan meski secuil, tak apa.

      Amin. Terima kasih, Bunda. Betapa senang berkenalan denganmu.

  10. membaca postingan ini, tiba2 pikiran saya melayang pada bulan mei 2009 pak.. di sanalah ayah saya juga menghembuskan nafas terakhir…

    lebih baik saya segera mengganti halaman daripada kembali bersedih pak :(

    • Barangkali sesekali mengenang, tak apa. Asal jangan terlalu lama saja kan. Bukankah hidup tak pernah mundur ke belakang. Bukankah begitu?

  11. Sungguh cerita “anak laki-laki” dengan “sosok laki-laki” yang membuatnya seperti sekarang ini,
    saya anak perempuan yang lebih dekat dengan sosok Ayah daripada ibu :).

    • Selagi gunung-gunung masih sudi menampung air. Selagi hutan Kalimantan belum tumpas tandas. Selagi nelayan masih setia pada lautan. Selagi masih ada konsep tentang matahari terbit dan tenggelam. Selagi masih percaya bahwa Tongkat kayu dan batu jadi tanaman. Selagi masih ada waktu…

  12. Pingback: Relatively Importan News: I’m Gonna Back… | Eastern Sky Area

  13. sebuah penuturan khas versi penganyam kata. mas dan memang piawai merawi kata menjadi tuturan kisah yang indah dan menyentuh. sayangnya, saya belum sempat bernyanyi utk ayah tercinta karena harus lebih dulu menghadap sang Khalik sebelum menyaksikan cucu2nya yang lahir dari rahim menantunya.

    • Jika beliau masih lagi ada, oh, alangkah bangganya beliau karena memiliki anak seperti Njenengan, Pak Sawali. Tapi, kalau beliau masih ada, kira-kira lagu apa ya yang bakal Pak Sawali bawakan…

  14. Aku memang tak pernah mengidolakan bapak. …dst.

    Daniel, jangan karena tidak mengidolakan bapak ya, jadi lama untuk menjelma menjadi bapak yang sesungguhnya, ayo cepet gek ndang direalisasikan hihi… ;)

    Wah! tulisan ini menghanyutkan dan bikin aku ingat kejadian masa kecilku, ayah-bapak-papa-papi, apapun sebutannya, adalah sosok yang aku kagumi, sayang saat aku turun ke masyarakat justru sosok ayah tidak menemani dan membimbingku, tapi ajarannya yg aku ingat, ikuti yang baik jauhi yang jahat, hanya itu yg jadi pedomanku dalam hidup sampai detik ini (http://id.wordpress.com/tag/cerita-masa-kecilku/)

    • Apanya yang ndak direalisasikan, Ke? :D
      Wah, kamu pernah menulis soal cerita masa kecil rupanya… Baiklah.

  15. Saya bercucuran air mata membaca ceritamu ini Niel…
    Pagi ini saya bw ke beberapa teman, setelah seminggu menunggu suami yang sedang sakit di RS PGI Cikini, Jakarta.

    Saya percaya, ayahmu memaafkanmu Niel, beliau bangga sama Daniel. Kadang ayah dan anak lelakinya memang hubungannya agak tegang, ayah menginginkan yang terbaik bagi anak lelakinya, sedang anaknya punya keinginan sendiri. Anak sulungku beberapa kali bersitegang dengan ayahnya di masa remajanya, syukurlah akhirnya mereka sedikit sedikit saling memahmi.

    Saya berduka untukmu Niel….tak terbayangkan perasaanmu saat itu…jangan lupa berdoa untuk beliau Niel, doamu akan diterima di alam baka.

    • Ibu, terima kasih. Semoga aku tak pernah luput mendoakan.

      Bagaimana kondisi Bapak? Aku baru tahu kalau Bapak masuk rumah sakit. Semoga tak ada sesuatu yang mengkhawatirkan ya, Bu…

  16. lagi…
    saya harus menangis membaca kalimat demi kalimat dari seorang penganyam kata yang hebat ini.

    percayalah mas, orang tua kita, entah ayah atau ibu, akan selalu memaafkan setiap kesalahan anak2nya jauh sebelum kita meminta maaf dari mereka.

    saya justru mengalami hal yang sama, tapi dengan almarhumah ibu. bersitegang saat ajal hampir menjemputnya. namun masih bersyukur diberi kesempatan “berbaikan” sebelum beliau benar-benar pergi.

    dan semua cerita dan lagu tentang orang tua, selalu membuat saya menitikkan air mata.

    salam hangat

    • Ah, bersyukurlah. Bersyukurlah masih lagi memiliki kesempatan “berbaikan” di saat-saat seperti itu. Dalam kasusku, aku sudah terlanjur. Tak mungkin diulang, apalagi diperbaiki. Tak mungkin tergantikan dengan apa pun juga.

  17. Lagu rindu yang mas dm hidangkan di tulisan ini adalah lagu rindu akan sosok yang lepas. Dirindui ketika tiada, dilupakan saat masih ada. Tulisan jujur, ah, ada nada-nada dalam tulisan ini dalam novel mas DM: epitaph

    • Uda Zul, aku suka sekali kalimat di atas: “Lagu rindu akan sosok yang lepas”. Ih, suka sekali dengan istilahnya. “Lagu rindu akan sosok yang lepas”, terdengar tepat! Makasih, Uda Zul.

  18. Ikut sedih membacanya. DM emang piawai sangat merawikan kisah ayahnya….Untung bacanya pake speed reading, nggak jadi tumpah air mataku….

    • Untunglah tak sampai tumpah ruah air matanya, Bang Hery. Karena aku sama sekali tak berniat membuat pembaca bersedih. Hanya mencoba bercerita apa adanya :)

  19. Sejenak aku termenung, jd teringat masa kecil di mana aku tinggal bersama nenek setiap ayah datang setiap itu pula aku menagis ingin ikut. Yang ada aku hanya menangis sampai tertidur dan tante2ku meledek dengan menyanyikan lg “Ayah”.

    Dan beruntunglah aku dimana setahun belakang ayahku sakit selama 4 bulan, dari bisa jalan sampai ga bisa apa-apa terkapar sama sekali bulak balik ke RS, rawat inap rawat jalan berjuang antara hidup dan mati, ya…ada aku yang selalu cerewet (sampai sekarang), hanya satu keinginanku bahwa ayah bisa sembuh walaupun waktuku habis selalu bersamanya, selalu bersitegang dengannya karena aku terlalu cerewet berani melarang ini dan itu, ya aku melakukannya karena sayang.

    Akhirnya dengan izinNya juga, berkat doa semua sekarang ayahku bisa sehat kembali dan berjalan seperti biasa, bukan berarti sembuh total karena setiap hari masih harus mengkonsumsi obat dan cek lab setidaknya sebulan sekali. Aku bersyukur, sekarang aku jauh darinya, ya jauh dari orangtuaku tapi aku selalu mengingatkannya walaupun lewat telp ataupun lewat pembicaraan dengan mamah dan adik-adikku, ya..ternyata aku memang masih cerewet untuk selalu mengingatkan ayahku. karena aku sayang orangtuaku.

    *membaca cerita di atas tentang ayahnya mas Daniel tak terasa ada sesuatu yang berat tertahan dikelopak mata T_T

    • Bersyukurlah. Karena waktu yang ada sungguh-sungguh tak terbeli dengan apa pun juga. Masih begitu banyak kesempatan untuk meluangkan waktu bersama toh? Jangan sampai apa yang kualami terjadi pada dirimu ya.

  20. mas, aku seperti baca cerita balada si roy..versi yang lain..tapi yang ini lebih berat dan lebih mengharukan hingga tak mampu berkata apa-apa lagi

    • Barangkali cara menulisku yang terpengaruh oleh gaya Gola Gong, Mas Hesty. Hanya mencoba bercerita apa adanya.

  21. Mas DM, ayah saya wafat ketika saya baru berumur 7 tahun, dan ketika beliau masih hidup, beliau selalu sibuk bekerja dan belajar, sehingga tak banyak waktu yang kami lewatkan bersama. Saya sungguh iri membaca kisah perjalanan Mas DM dengan ayahanda setiap hari Minggu, sampai bermain di danau di Pendopo pada saat Idul Fitri.

    Kalau ada lomba merindukan ayah, mungkin saya juaranya …

  22. Dear Mas Daniel,

    Aku beruntung sempat membukukan tulisanku, beberapa tahun sebelum papi meninggal. Menepati janjiku untuk menuliskan nama belakangnya di nama penaku. Sungguh, kesempatan itu baru kusadari begitu berharga setelah kubaca ulang dan ulang tulisanmu ini…

    I miss my Dad.
    Dont you miss yours?

  23. Salam kenal, Mas Daniel…

    Duh, membacanya membuatku sedih. Betapa aku sering sekali mengabaikan keinginan Papaku untuk bertemu. Tapi mbaca ini jadi sadar, selagi masih bisa bertemu, selagi masih bisa bermanja, lakukanlah. Karena pada usia senja, segalanya bisa terjadi :(

    Thanks pencerahnnya, Mas :)

Komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jawab dulu ya pertanyaan di bawah ini sebelum kirim komentar, biar tidak dianggap spam.. :) *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>