ayahku, guruku


Warning: Illegal string offset 'single_featured_image' in /home/hardiviz/public_html/wp-content/themes/confidence/content-single.php on line 69

Blogger Bicara Ayah #9

 

Hery Azwan adalah sahabatku sedari kami masih sama-sama nyantri di Gontor dahulu. Dulu itu, kami tidaklah terlalu akrab, barangkali karena kegemaran kami yang berbeda. Tapi, setelah jadi alumni, dia adalah salah satu sahabat terdekatku sesama alumni Gontor. Banyak kegiatan yang kami gagas bersama, termasuk juga sama-sama ngeblog :)

Aku sangat kagum dengan sosok sahabatku ini. Prestasinya sebagai santri dahulu itu, sulit rasanya kulampaui. Kemampuan akademiknya di atas rata-rata. Dia selalu jadi rujukan kami ketika kesulitan memahami sebuah pelajaran. Dan yang lebih mencengangkanku adalah kelebihannya di bidang olah raga dan seni.

Setelah membaca tulisan yang dia kirimkan kepadaku, yang sebentar lagi akan sahabat semua baca, barulah kutahu mengapa dia begitu berbakat. Ternyata, semuanya dia peroleh dari sang ayah. Motivasi dari ayahnya-lah yang membuat dia menguasai banyak hal. Ayahnya telah menjadi guru terhebatnya sepanjang masa.


Hery Azwan dan istri tercinta

Penasaran dengan kisah sahabatku, si pemilik blog http://heryazwan.wordpress.com ini? Yuk mari kita simak bersama…

================================================

Ayahku, Guruku
Oleh: Hery Azwan

 

Ayahku lulusan sebuah SMA Negeri di Medan. Berhubung di kota Medan sulit mendapatkan pekerjaan, ayahku mencoba peruntungan di sebuah perkebunan milik negara yang terletak sekitar 70 km dari Medan. Berbekal info dari seorang tetangga, berangkatlah ayah ke perkebunan untuk melamar kerja.

Untuk ukuran saat itu, lulusan SMA sebenarnya sudah lumayan karena rata-rata karyawan saat itu lulusan SD dan SMP. Meskipun demikian, lulusan SMA tidak bisa langsung menjadi asisten. Jabatan asisten hanya diperuntukkan bagi sarjana. Lulusan SMA bisa menjadi asisten setelah mengabdi sekian lama dengan tes yang berat. Itupun jika direkomendasikan oleh atasannya ke kantor pusat. Asisten inilah yang tinggal di rumah gedong, sehingga anak-anak asisten ini dipanggil oleh anak-anak non asisten sebagai anak gedong. Feodalisme yang diwarisi dari zaman kolonial sesekali masih terlihat dipraktekkan.

Di kebun yang bernama Tanjung Keliling inilah akhirnya ayah menemukan tambatan hatinya, seorang gadis anak seorang sopir truk tangki pengangkut getah atau latex. Di kebun ini juga akhirnya aku lahir. Saat itu posisi ayah kalau tidak salah sebagai krani gudang.

Ayah bukanlah orang yang relijius pada saat itu, meskipun dia sering bergaul dengan ustad top di Medan. Bukan apa-apa, sebagai anak Medan yang hafal seluk beluk kota, ayah dipercaya panitia untuk menjemput ustadz atau mubaligh setiap kali ada perayaan hari besar Islam di perkebunan. Bergaul dengan ustadz ternyata bukanlah jaminan ayah akan kembali. Butuh bertahun-tahun rupanya untuk berproses dan pengendapan.

Titik balik ayah terjadi saat beliau bertugas di kebun Prafi, Manokwari, Papua. Saat itu aku sudah kuliah. Suasana jauh dari anak-anak dan tanah asal membuatnya menemukan kembali Tuhan yang hilang. Aku sangat mensyukuri hal ini dan sangat lega.

 

Motivator

Tidak banyak masa pra-SD yang kuingat, tapi rasanya ayah sering membawaku ke Taman Ria, pusat hiburan anak terhebat kala itu di Medan. Arena ketangkasan menjadi favorit ayah, sementara aku sangat senang dengan bom bom car, atau aku menyebutnya mobil listrik karena dari atasnya terlihat kilatan arus listrik. Dari kebun, biasanya kami menumpang truk tangki yang menuju Medan atau menumpang mobil colt yang sedang mengurus keperluan ke kantor pusat di Tanjung Morawa, sekitar 10 km setelah Medan ke arah Tebing Tinggi.

Sebelum masuk usia sekolah waktuku banyak dihabiskan dengan bermain kartu. Biasanya aku bermain bersama anak-anak yang lebih besar. Yang aku masih ingat nama permainannya “main molor”. Permainan ini menggunakan kartu domino. Setiap orang memperoleh 5 kartu. Awalnya akan dibagi 2 kartu dulu. Siapa yang memperoleh angka tertinggi dan lebih tinggi dari bandar, maka dia yang menang. Kalau angkanya sembilan, maka akan dibayar dua kali lipat oleh bandar. Kalau angka bandar sama dengan pemasang, maka bandarlah yang menang.

Setelah itu baru ditambah 3 kartu lagi dan taruhan pun dipasang lagi. Sementara molor terjadi jika kelima kartu dijumlahkan akan mencapai kelipatan sepuluh. Yang aku lupa apakah molor ini berarti kalah atau malah otomatis menang mutlak. Mungkin ada teman-temanku dulu yang masih ingat.

Taruhan permainan molor ini karet, guli (kelereng) atau gambaran (gambar wayang). Aku lebih sering menang daripada kalah karena aku bisa menghitung dengan baik. Aku sangat bangga karena bisa mengalahkan anak-anak yang lebih besar dariku dan sudah sekolah pula.

Pada satu waktu, aku sangat tergila-gila dengan kartu remi. Untungnya kali ini tidak menggunakan taruhan. Adapaun jenis permainannya ceki dan cangkul. Kapan dan di mana saja, aku selalu bersemangat untuk bermain kartu, terutama ceki karena ada unsur berpikir yang kuat dan problem solving di sini. Kartu besar atau kecil tidak masalah. Siapapun bisa menang. Prediksi atas kartu orang lain pun menjadi sebuah keharusan. Mirip dalam dunia nyata atau dunia bisnis.

Ini berbeda dengan permainan cangkul yang kemenangan pada umumnya dipegang oleh pemegang kartu yang nilainya besar. Karena itu, aku tidak menyukai permainan ini sebagaimana aku menyukai main ceki.

Karena mungkin sudah terlalu parah dan tidak bisa dilarang, ayah memutuskan membakar kartu remi yang biasa aku mainkan. Melihat hal ini tentu saja aku sangat kecewa dan sedih. Dalam perspektif saat ini, sudah selayaknya aku bersyukur. Kalau dulu ayah tak membakarnya, barangkali aku sudah menjadi God of Gambler. Ha ha ha…

Banci Tampil

Ayah selalu mendorongku untuk tampil di depan umum. Padahal, pada dasarnya aku orang yang penakut dan introvert. Aku lebih nyaman menyembunyikan diri, menjadi penonton dan kritikus bagi teman yang tampil.

Penampilan pertamaku yang dihadiri oleh audiens yang relatif banyak (sekitar 200 orang) adalah saat aku bernyanyi bersama 5 orang teman pada acara perpisahan kelas enam. Ayah sangat men-support-ku dan ikut memilihkan baju terbaik yang aku miliki. Kami dari kelas satu menyumbang lagu, kalau nggak salah judulnya “Sederhana”, yang dipopulerkan oleh Adi Bing Slamet. Begini lagunya.

Reff:

Ikan asin yang pedes-des sambelnya

Sayur mayur yang banyak vitaminnya

Sederhanalah hidupmu kawan

Sederhana slama-lamanya

 

Kalau dipikir-pikir lagi, jangan-jangan lagu tersebut yang membuat bawah sadarku menuntunku untuk selalu hidup sederhana. Ha ha ha….

Pengalaman pertama kali aku harus berbicara di depan umum adalah pada saat acara Maulid Nabi Muhammad di mushola tempat kami mengaji. Oleh Pak Guru, kami diminta untuk berpidato memeriahkan acara maulid. Saat itu sekitar kelas 1 SD, aku belum paham mengapa kami harus pidato dan bagaimana pidato yang baik. Namanya anak-anak, ya manut saja kepada Pak Guru.

Sesampai di rumah, aku meminta ayah membuat teks pidato. Ayah dengan tulisan sambungnya ala zaman bahela yang sulit kubaca, menuliskan pidato sambutan mengenai Maulid. Aku menghapalkan saja pidato yang ditulis ayah sebisaku. Pada hari H, aku menumpahkan semua kata yang kuhapal di depan teman-teman mengaji yang jumlahnya sekitar 30 orang. Datar saja sih, tapi setidaknya aku sudah berani tampil ke depan.

Kini, setelah dewasa aku sering menjadi penulis pidato sekaligus juga sering berbicara di depan umum. Pengalaman melihat ayah menuliskan pidato pertamaku barangkali sangat meresap dan masuk jauh ke alam bawah sadarku.

Ayah juga yang menyemangatiku untuk mengikuti kuis Gita Remaja. Setiap aku menonton kuis apapun seperti Cepat Tepat, Berpacu dalam Melody, dsb, ayah selalu menyemangatiku untuk ikut. “Kau bisa, Wan. Kalau ikut, kau pasti menang”, demikian biasanya ayah menyemangatiku. Akhirnya, kesempatan itu memang datang pada tahun 1992. Impianku sebagai anak kebun bisa masuk tv terkabul. Motivasi ayah membesarkan mental anaknya tidaklah sia-sia. (simak cerita selengkapnya mengenai Hery Azwan tampil di Gita Remaja, di sini, HV).

Olah Raga

Dalam olahraga, ayah sangat aktif di cabang badminton. Sebelumnya beliau juga pernah menjadi pemain sepak bola dengan posisi pemain belakang. Biasanya pemain belakang berpostur besar, padahal ayahku berpostur kecil. Namun ini tidak menjadi masalah karena ayah bisa menyiasatinya. Saat rebutan bola atas dengan pemain depan lawan, ayah sengaja melompat terlambat sehingga ketika di udara dia dapat melakukan body charge yang membuat pemain lawan yang lebih besar terjatuh. Cerita ini selalu diulang oleh ayah dengan bangganya.

Sedari sebelum sekolah aku sudah dibelikan ayah raket badminton yang terbuat dari kayu. Jadi, aku lebih dulu mengenal badminton daripada sepakbola, tidak seperti anak-anak pada umumnya di perkebunan dan di kampung. Rumah kami di kebun, terletak di samping lapangan badminton. Jadi, hampir tiap hari aku melihat orang dewasa bermain dan sekaligu aku juga ikut bermain.

Olah raga menjadikanku anak yang aktif dan bersemangat mengerjakan apapun di sekolah. Gesit dan selalu disayang oleh semua guru.

Shopper

Ayah selalu membelikan baju baru untuk anak-anaknya, termasuk aku sebagai anak sulung. Bahkan hingga aku kuliah tingkat satu ayahku masih bersemangat membelikan baju lebaran untukku, padahal aku sudah bisa memutuskan sendiri. Tapi ayah punya alasan. Dia melihat aku tidak terlalu tertarik dengan pakaian, sehingga kalau dibiarkan, pasti aku tidak akan melakukan keputusan membeli. Bisa, terjadi, aku sudah putar-putar beberapa jam di beberapa toko, tetapi tak satupun pakaian kubeli.

Waktu muda, ayah hidup susah. Beliau pernah menjadi tukang batu saat liburan SMA untuk sekadar menambah uang saku. Sehingga, saat dewasa dan sudah punya uang sendiri beliau sangat gemar belanja. Waktu kami masih kecil, baju lebaran sudah dibeli ayah sebelum puasa tiba. Katanya biar lebih murah. Biasanya kami mendapat jatah 3 pasang baju baru. Ayah biasanya membeli di Medan, sehingga kualitas baju kami tidak kalah dari baju anak “gedong” di perkebunan.

Musisi

Ayah mantan pemain gitar di masa mudanya. Di perkebunan ayah mengkoordinir pembentukan band. Dibelinya alat2 dan disimpan di rumah kami. Seminggu sekali mereka latihan. Karena itu, darah seni ayah menurun juga kepadaku meski bukan ke gitar tapi ke keyboard atau organ. Hanya saja, syukur alhamdulillah, kebiasaan anak band yang tidak baik seperti meminum khamr tidak sampai aku ikuti.

Tanpa aku minta, ayah membelikanku keyboard di Glodok saat aku duduk di tingkat 2 kuliah. Saat itu ayah pulang dari tugas di Manokwari Irian Jaya ke Medan (rapat tahunan biasanya dilakukan setahun sekali di akhir tahun). Kami mampir ke Harco Glodok dan membeli keyboard PSR Yamaha seharga kurang lebih satu juta. Dulu jumlah yang cukup mahal. Dari sinilah aku belajar otodidak bermain organ lewat buku “Indonesia Hit Song” yang sedang ngetop kala itu. Kebetulan di buku tersebut ada petunjuk kunci.

Sampai kini, kalau aku pulang ke Medan, kami selalu menikmati jam session. Ayah bermain gitar listriknya, aku bermain keyboard. Aku mengikuti lagu2 nostalgia yang Ayah bisa mainkan. Lagu “Semalam di Cianjur” yang dulu sering aku dengar dari kaset yang disetel ayah ternyata kini bukan semalam lagi. Aku bisa bermalam-malam di Cianjur karena istriku orang Cianjur. Tak terbayang dulu saat mendengarkan lagu ini di Medan aku bakal mendapatkan orang Cianjur.

Smoker

Yang paling tidak aku sukai dari ayah sampai saat ini adalah kebiasaan merokoknya. Kebiasaan ini sudah berlangsung lama sejak aku kecil dan belum pernah berhenti saat ini. Pernah suatu malam, ba’da Isya, aku disuruh ayah membeli rokok ke warung Acun dengan berjalan kaki (kira-kira 500 meter).

Pas pulangnya aku melihat ular sedang melintas di tengah jalan yang menanjak. Aku melompat di atas ular tadi dan terus berlari ketakutan. Aku menceritakan hal ini kepada Ayah dengan menghiba-hiba. Sejak saat itu, aku punya alibi untuk menolak kalau disuruh ayah membeli rokok. Mudah-mudahan ayah bisa menghentikan kebiasaan ini untuk selama-lamanya. Kasian sekali kalau ayah sudah batuk. Suaranya terdengar berbeda dibanding saat aku atau orang yang tidak merokok batuk.

Ayah tidak mau konflik langsung denganku ketika aku sudah dewasa. Begitu juga sebaliknya. Setiap ada masalah yang ingin disampaikannya, dia selalu menyampaikannya lewat jalur mami atau adikku. Akhirnya hingga kini kami hanya membicarakan masalah yang sedang aktual: politik, peristiwa, olah raga, bahkan infotainment. Bagi kami, tidak ada curhat, dan pengungkapan rasa kasih seperti di film-film. Berat bagi kami untuk saling mengungkapkan kata cinta. Sepertinya dari bahasa tubuh kami sudah sama-sama tahu kalau kami saling menyayangi.

Demikianlah, ayah telah menjadi motivator sejatiku sejak dulu. Dari mengajariku memancing, badminton, naik motor, naik sepeda, berhitung, memasak, dan keahlian lain yang tidak bisa aku sebutkan satu persatu. Semoga ayah sehat selalu dan berhenti merokok. Tetaplah menjadi pemberi manfaat bagi lingkungan.

================================================

Motivasi dari ayah, terlihat sekali berpengaruh besar dalam hidup Hery Azwan, bagaimana dengan Anda? :)

.

Tulisan kesembilan dari acara “Baralek Gadang”, klik di sini untuk melihat daftar tulisan dalam acara ini


Warning: Illegal string offset 'author_box' in /home/hardiviz/public_html/wp-content/themes/confidence/content-single.php on line 93

36 comments on “ayahku, guruku

  1. Thanks udabro udah tayang di sini. Rasanya proyek ente mengumpulkan blogger jadul di blog ente telah menuai sukses. Blog ente rame lagi. Semua blogger jadul berbondong2 datang ke sini. Mudah2an bermanfaat untuk kembali bersilaturahmi. Btw, untuk teman2 pembaca, sorry banget foto jadulnya setelah saya cari2 gak ada. Semua foto kenangan bersama ayah saat masih kecil ada di Medan.

    • setuju… proyek baralek gadang ini sungguh aseek dan berhasil menampilkan tulisan-tulisan inspiratif

      saya banyak belajar dari tulisan-tulisan di sini ;)

    • Terima kasih kembali Bangbro Hery…
      Maafkan aku sudah mengganggumu di tengah kesibukan yang luar biasa itu. Tulisanmu ini sungguh sangat menginspirasi banyak orang.

      Alhamdulillah, kita semua merasakan manfaat dari “reuni” ini. Rasanya semangat ngeblog jadi terdongkrak lagi :)

  2. waaah aku baru tahu bang Hery tukang main kartu remi hihihi. Di keluargaku kartu remi itu wajib sejak kecil (tapi tidak pakai taruhan). Kami diajak berpikir dan menjumlah. Tapi main kartu itu kadang membosankan, kalau lagi mengantuk aku bisa tertidur sambil menunggu giliran. Dan dibangunkan waktu tiba giliranku….. tapi meskipun begitu aku sering menang (justru kalau tidur hihihi). Jadi biasanya kalau aku sudah mulai merem melek, semua berhati-hati kalau aku yang menyelesaikan game saat itu :D

    Ternyata benar yah, kehebatan seseorang dipengaruhi oleh ayahnya! Tapi aku paling tidak bisa lupa cerita ayahnya bang hery yang ini : http://heryazwan.wordpress.com/2009/09/28/bendahara-muhola/
    Bagaimana ayahnya menyeterika uang! Cerita itu tetap melekat di benakku loh bang.

    Salamku untuk mbak Yuli

    EM

    • Ha ha…..kartu remi berarti emang bagus ya untuk merangsang otak anak2. Asalkan jangan pake taruhan. Buktinya Ime-chan juga main waktu kecil. Tentang setrika uang kertas emang unik ya….aku juga ikut takjub. He he….

      • Saya setuju dgn komen EM….

        Saya masih ingat Postingan tersebut … Terutama saat beliau menyetrika uang …

  3. Ayah dan rokok sepertinya selalu identik.. generasi sekarang harus menjadi breakthrou mematahkan persepsi ini… :)

    Tulisan yang menarik, terutama karena ada kesamaan dengan ayahku dulu yang sama2 main gitar hehehe

  4. semoga bagian baiknya diturunkan ke anak-anak yang mas..dan bagian buruknya jangan :)..setelah jadi dosen, saya baru benar-benar memahami fungsi dari kata-kata yang baik itu untuk perkembangan seseorang..meskipun tidak selalu berhasil, tetapi cukup banyak yang terpengaruh..boleh pinjam ayahnya barang sehari dua hari mas ?

    • Kekuatan kata2 itu dahsyat lho. Apalagi kalau yang mengatakan orang yang otoritatif seperti ayah atau ibu. Kata2 tsb akan mengendap ke bawah sadar anak. Karena itu, hati2 jika memarahi anak dengan kata2 tidak baik. Selalu fokus untuk mengeluarkan kata2 yang baik saja.
      Salam…

  5. Wah si abang ini memang luar biasa …
    All rounder .. Bisa menguasi banyak social and personal skill …

    Dan itu berkat dri ayahnya pula …

    Salam saya bang
    Salam saya uda

  6. Wah … Bang Herry pernah masuk kuis Gita Remaja? Waktu itu hostnya kalau nggak salah Tantowi Yahya ya? Hebat dong … :)

    Sama seoerti Mbak Imel, saya terkesan membaca tulisan Bang Herry “Ayahku Bendahara Mushola”. Sangat menyentuh …

  7. Yup, host nya Tantowi yang sekarang mau nyalonin dari Gubernur DKI. He he….
    Terima kasih apresiasi thd Bendahara Mushola, Bu Tuti…

    • Keahlian beliau yang saya nggak bisa antara lain: menjahit, instalasi listrik, membuat gitar, dan membuat pembukuan. Tapi keahlian saya yang ayah nggak bisa juga banyak. He he….

  8. salam kenal dulu..

    wah abang bisa main ceki yach… ajarin dong…
    denger2 lebih aseek dr kartu remi.
    sayang dulu nenekku tdk sempat mengajarkan ceki kepadaku

    salam,

  9. Ayahkulah yang membuat aq seperti sekarang ini, selain ibu yang merawat aq. Tapi ayah juga yang mempunyai peran besar untuk memnuhi semua keinginanku.Thx for my father

  10. salam kenal dulu dengan Bang Herry

    Alhamdulillah, dgn selalu hadir di baralek gadang nya Inyiak, aku banyak sekali membaca tulisan2 hebat dr para blogger2 senior, juga bisa mengambil hikmah dr setiap tulisan yg disajikan disini.
    Tentunya tulisan Bang Herry ini, sangat mengasikkan dibaca, benar2 Ayah Bang Herry sosok seorang ayah yg luar biasa, tak heran anaknya pun menjadi sosok yang hebat.
    salam

    • Salam kenal, Bunda….Terima kasih sudi berkunjung ke blogku. Saat kunjungan balasan ke blog bunda, kok aku nggak nemu tempat komennya. Maklumlah, sudah lama nggak blogwalking. Jadi bingung nih….

  11. wow…ayahnya hebat mas :)
    motivator ulung dan bisa membuat anaknya sukses seperti sekarang :)

    btw aku senyum2 sendiri membaca yang bagian “semalam di cianjur” hihihihi

    • Lagu2 yang kita nyanyikan berpengaruh lho pada pribadi kita. Memori dari lagu akan lebih kuat daripada sekadar kata2….Ingat nggak yang nyayiin “Buku dulu topengmu”. eh, benar2 terbuka tuh topengnya….

  12. Haha.. jangan2 bang Hery waktu itu gak takut2 banget sama ular, sampai harus dijadiin alasan.

    Tapi ayahmu memang motivator yang ulung untuk anak-anaknya, buktinya ia mengajarkan segala yang baik buatmu. :D

  13. wow, multitalent banget ayahnya, hampir sama dengan ayahku mas, :)
    kecuali yang merokok itu, alhamdulillah, ayah nggak merokok sejak saya dilahirkan, sebelumnya, almarhumah mama bilang beliau perokok beratttt.
    tapi begitulah harusnya seorang ayah, menjadi contoh dan teladan baik bagi anak-anak mereka dan mas patut bersyukur punya ayah seperti beliau.

    salam kenal mas,

    • Justru itu tantangannya. Ayahku merokok, sementara aku tidak terpengaruh. Biasanya kan kalau ayahnya merokok, anaknya akan meneladani. He he….

  14. Jadi semakin mengenal bang Hery….yang dulunya kurasa berasal dari Minang….ternyata orang Medan ya.
    Dan punya ayah seperti itu, memang membuat putranya jadi punya semangat yang hebat…..

    • Ha ha….
      Saya mirip orang Minang ya Bu….
      Memang dekat kok, antara sumatera utara dan sumatera barat. Cuma beda 12 jam perjalanan bus. He he….Salam saya Bu Enny

  15. God of Gambler sepertinya menarik juga, Bang Hery. Hehehe.

    Rasa-rasanya, kita pernah tinggal satu zaman di satu kota. Sepertinya lho ya. Apalagi soal Taman Ria Medan itu. Masih kuingat betul permainan-permainannya. Tulisan ini jadi melemparkan aku ke masa kecil di Sumatera Utara.

    • Lucu juga ya kalo jadi God of Gamblers….Astaghfirullah….
      Yup, tampaknya kita tinggal di zaman yang tidak terlalu jauh lah…
      Sekarang taman ria sudah tak ada….

  16. Wah ayahanda dan saya berarti sesama anggota Majelis Asbakul Karimah ya mas.

    Tiap ayah punya cara untuk mendidk anak2nya, tap tujuan tentu sama agar anaknya menjadi orang baik dan berguna.

    Salam hangat dari Surabaya

  17. Pingback: SURAU INYIAK » Blog Archive » 7 dads

Komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jawab dulu ya pertanyaan di bawah ini sebelum kirim komentar, biar tidak dianggap spam.. :) *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>