sang pembelajar


Warning: Illegal string offset 'single_featured_image' in /home/hardiviz/public_html/wp-content/themes/confidence/content-single.php on line 69

Blogger Bicara Ayah #10

 

Tuntutlah ilmu, sejak dari buayan hingga ke liang lahat“, agaknya adalah kalimat kuno yang sudah sangat sering kita dengar. Namun, dalam kenyataannya, tidaklah banyak orang yang memiliki semangat belajar hingga sedemikian lama. Barangkali motivasi menuntut ilmu sudah berubah makna, dari “ilmu untuk ilmu” menjadi “ilmu untuk uang”. Sehingga, ketika uang sudah diperoleh berkat ilmu yang ditimba di bangku sekolah, maka proses belajar itupun terhenti.

Seorang blogger yang di masa mudanya sangat terkenal sebagai cerpenis di majalah-majalah remaja, memiliki cerita tentang sebuah sosok yang dia sangat kagumi lantaran kesungguhannya menuntut ilmu. Yak… kali ini, Bu Tuti, alias Tutinonka, pemilik blog http://tutinonka. wordpress.com akan menceritakan kepada kita tentang sosok alm. ayah beliau yang memiliki semangat belajar luar biasa besarnya. Dalam tulisan berikut ini, Bu Tuti menggambarkan betapa semangat sang ayah tersebut telah memotivasinya juga untuk tetap terus belajar meski usia sudah tidak lagi muda.

Tidak usahlah kuperpanjang mukaddimahnya, karena untaian kalimat-kalimat berikut ini sangat indah untuk dilewatkan.

Selamat menikmati…. :)

=======================================================

SANG PEMBELAJAR
Oleh: Tutinonka

 

Kegemarannya belajar dan membaca buku memang luar biasa. Pada zaman kolonial, ketika sekolah masih menjadi hal yang sulit dan buku adalah barang langka, dia istiqomah untuk menempuh hidupnya di jalur pendidikan. Dia memang tidak sampai belajar ke negeri Cina seperti hadits Rasulullah, tetapi dia belajar sejak mulai bisa berjalan hingga dibaringkan di dalam liang lahat …

Dia adalah ayahku.

 


 

Ayahku lahir pada tahun 1914. Kakekku, ayah dari ayahku, bukanlah orang kaya meskipun cukup terpandang di desanya. Berbeda dengan orang-orang desa pada waktu itu, yang terus berusaha memperluas sawahnya, menambah jumlah sapinya, dan mewariskan raja brana (kekayaan) kepada anak turunnya, kakek lebih memilih menyekolahkan anak-anaknya. Pada waktu itu belum banyak pilihan profesi, dan sekolah yang paling umum adalah sekolah untuk menjadi guru. Dua anak laki-lakinya (ayahku dan kakak ayahku) menjadi guru, sementara adik laki-laki ayah menjadi TNI AL. Sayangnya, dua adik perempuan ayah tidak bersekolah. Rupanya gaung gerakan Ibu Kartini untuk memajukan pendidikan bagi perempuan belum sampai ke telinga kakek. Perempuan masih dianggap tidak perlu sekolah, karena toh akhirnya hanya akan masuk dapur …

Aku bersyukur bahwa kakek dari pihak ibu lebih maju pemikirannya. Ibuku dan semua saudaranya disekolahkan, laki-laki maupun perempuan, dan dari 9 anaknya hanya 2 orang yang tidak menjadi guru. Begitulah, ayahku yang seorang guru bertemu dengan ibuku yang juga seorang guru, hingga lahir aku yang ternyata memiliki jalan hidup sebagai guru pula J

Ketika kami – aku dan kakak-kakakku – masih kecil, boleh dikata ayah tak pernah membelikan mainan untuk kami. Selain karena ayah tidak punya cukup banyak uang, pada zaman dulu tidak banyak jenis mainan yang ditawarkan. Kami lebih banyak bermain di alam, dan membuat sendiri mainan-mainan kami dari berbagai bahan yang kami temukan di sekitar kami. Batang pisang, kulit jeruk Bali, daun nangka, tanah liat, glagah (tangkai bunga tebu), adalah beberapa yang bisa dibuat macam-macam mainan. Tak heran, pada zaman itu, anak perempuan pun banyak yang pandai memanjat pohon, termasuk aku … hahaha.

Ayah memang tak pernah membelikan mainan, tapi selalu ada buku bacaan untuk anak-anaknya. Aku ingat sekali, suatu hari ayah membawa buku berjudul “Raja Minyak” karangan Karl May, yang berisi kisah petualangan orang Jerman bernama Old Shatterhand di kawasan Indian Amerika. Ia bersahabat dengan Winnetou, seorang kepala suku Indian Apache. Pada waktu itu aku belum bisa membaca (umurku baru 5 tahun), dan aku merengek kepada kakak-kakakku untuk menceritakan isi buku tersebut. Tetapi kakak-kakakku tidak telaten, apalagi novel “Raja Minyak” memang cukup tebal. Kekecewaan dan kejengkelan karena tidak bisa menikmati isi buku tersebut membuat aku terpacu untuk bisa membaca dengan lancar, supaya tidak cuma membik-membik (hampir menangis) melihat keasyikan kakak-kakakku dengan buku-buku yang dibawa ayah. Di kemudian hari, novel-novel Karl May dengan tokoh Old Shatterhand dan Winnetou menjadi salah satu kisah-kisah yang paling kugemari, hingga rasanya aku akrab betul dengan kehidupan masyarakat Indian Amerika.

 


Buku lain yang dikenalkan ayah adalah karya Mark Twain, berjudul “Petualangan Tom Sawyer” dan “Petualangan Huckleberry Finn”. Kedua buku ini sangat mengasyikkan, mengisahkan petualangan dua sahabat, Tom Sawyer dan si pengemis Huck di sekitar sungai Mississippi, New Orleans. Mark Twain adalah salah satu pengarang besar Amerika yang dilahirkan pada 1835 dan meninggal pada 1910.


Satu lagi yang dikenalkan ayah kepada kami, adalah komik bergambar “Johnny Hazard” yang dimuat bersambung di koran. Johnny Hazard ditulis oleh Frank Robbins, dan dipublikasikan antara tahun 1944 – 1977. Komik strip ini sudah digunting dari koran dan dijilid menjadi satu bundel, sehingga kami bisa membacanya dengan nyaman, tidak perlu menunggu-nunggu sambungannya setiap hari.

 


Begitulah ayahku, menanamkan kecintaan membaca semenjak kami masih kecil. Membaca merupakan cara untuk mengetahui dunia yang tak terbatas. Membaca bukan hanya untuk mencari hiburan, tetapi yang lebih penting lagi adalah untuk mendapatkan ilmu. Pada waktu itu belum ada televisi, radiopun masih langka, sehingga buku menjadi sarana belajar dan sumber informasi yang paling utama.

Sebagai guru, setiap pagi ayah berangkat ke sekolah tempat beliau mengajar dengan naik sepeda. Baju dan celana drill-nya selalu dikanji dan disetrika dengan lipatan yang rapi. Supaya bajunya awet, dan bagian leher tidak cepat kotor oleh keringat, ayah selalu mengenakan saputangan yang dilipat dua menjadi bentuk segitiga untuk melapisi tengkuknya. Ujung-ujung saputangan itu kemudian diikat di leher bagian depan. Gaya sekali, seperti koboi. Properti kerja beliau adalah topi laken warna putih, dan tas kulit besar yang digantungkan di ‘planthang’ sepeda. Ohya, supaya irit, beliau juga selalu membawa makan siang dari rumah, biasanya hanya dengan lauk tempe atau tahu dan sayuran saja. Selain karena tidak punya cukup uang, dan di jaman itu rakyat Indonesia belum semakmur sekarang, orang Jawa memang tidak menganggap penting makan enak. Tempe dan tahu adalah lauk paling populer … :-D

Ayahku pendiam, teliti, rapi, pekerja keras, dan sangat suka membaca. Di dalam kamar tidur ayah dan ibu terdapat dua lemari untuk menyimpan pakaian dan satu lemari penuh berisi buku. Lemari buku itu menyekat tempat tidur dengan ruang kerja ayah. Di meja kerjanya itulah, ayahku setiap malam membaca sampai larut malam. Ketika aku pergi tidur, ayahku sedang membaca. Tengah malam ketika aku bangun untuk pipis, ayahku masih duduk di meja, menekuri buku di bawah cahaya lampu meja, sering juga sambil menulis.

 


Ayah dan ibuku (ke-2 dari kiri) bersama saudara-saudara ibu. Foto diambil tahun 1951 di Magelang.

Ketika ayah wafat pada tahun 1967, beliau sedang menyiapkan skripsi di IKIP. Pada waktu itu beliau sudah berumur 53 tahun, namun masih bersemangat untuk memperoleh gelar kesarjanaan. Ketika beliau meninggal, yang diwariskan kepada kami hanya buku. Satu lemari besar penuh berisi buku. Buku-bukunya sendiri sebagian besar disumbangkan ke PGA (Pendidikan Guru Agama) Bantul, sekolah setingkat SMA, tempat terakhir ayahku menjadi kepala sekolah.

Ayah pergi dalam usia yang masih cukup muda, belum lagi pensiun. Beliau menderita sakit tumor darah, semacam leukemia. Pada waktu itu fasilitas pengobatan masih sangat kurang, sehingga penyakitnya tidak bisa diobati. Tetapi yang membuat ayah sangat sedih dan tertekan batinnya adalah penyakit katarak yang menyerang mata beliau. Bisa dibayangkan. Ayahku yang sangat suka membaca, dan sedang berusaha menyelesaikan skripsinya, perlahan-lahan kehilangan penglihatannya. Pada waktu itu operasi katarak masih sulit dilakukan. Berbagai upaya sudah dicoba, namun penyakit katarak itu tak berhasil dikalahkan ayah.

Sekarang, jika mengenang ayah, yang kuingat adalah ketekunan beliau bekerja, serta semangat belajar beliau yang tak pernah padam hingga ke akhir hayatnya. Kegemaran beliau akan buku menurun padaku sepenuhnya. Ayah tidak pernah mengajariku menulis, tapi aku yakin, jika ada kesempatan ayah pasti bisa menulis dengan sangat baik. Dan dari hobi membaca yang diturunkan ayah, muncul kegemaranku untuk menulis apa yang ada di hati dan kepalaku.

Kini, pada saat aku sedang berjuang untuk menyelesaikan studi lanjutku, di usiaku yang tidak muda lagi, semangat belajar ayah hingga ke akhir hayatnya menjadi pendorongku untuk bisa menyelesaikan studiku, bagaimanapun caranya.

Aku pasti bisa Ayah. Aku kan anakmu …

=======================================================

Syahdu bukan? Pantaslah jika Bu Tuti disandingkan dengan penulis-penulis perempuan yang sudah sangat terkenal di negara ini dalam sebuah novel berjudul 24 Sauh. Bangganya kita….

Nah… bagi Anda sendiri, teladan apa yang diperoleh dari sang Ayah sehingga membuat Anda menjadi seperti sekarang ini? Sudilah dibagi ceritanya di sini ya… :)

.

Tulisan kesepuluh dari acara “Baralek Gadang”, klik di sini untuk melihat daftar tulisan dalam acara ini



Warning: Illegal string offset 'author_box' in /home/hardiviz/public_html/wp-content/themes/confidence/content-single.php on line 93

51 comments on “sang pembelajar

  1. huaaaaaaaa….tulisannya sangat inspiratif Bunda…
    Bayangkan ayahnya bunda sangat suka sekali membaca dan itu menurun ke Bunda sepenuhnya both of Membaca dan menulis.

    Ketika bertemu dengan bunda pertama kali aku kagum dengan sosok sirimu yang sangat tenang, lembut tetpai ceria…wahhhh ternyata itu diwariskan dari ayah dan ibunya seorang Guru.

    Bunda…tulisan ini mengingatkan aku tesisku yg gak selesai itu hihihihihi :D

    • Ria … terimakasih :)
      Kegemaran membaca sebenarnya menurun ke semua anak-anak ayah, tetapi kegemaran menulis ternyata hanya aku sendiri yang punya … :(

      Aku tenang, lembut, tetapi ceria? Uhuyy …. sekali lagi terimakasih, Ria *korek-korek dompet cari uang ribuan* :D

      Nah, soal thesis Ria itu, ayo doooong ….. segera diselesaikan. Ria pasti bisa. Putri seorang pelaut yang pantang menyerah gitu loh …

  2. Mbaca tulisannya Bu Tuti makin percaya bahwa orang hebat lahir dari orang tua yang tak kalah hebatnya.. :)

  3. mudah2an koleksi buku’ku yang sudah setengah lemari kecil ini kelak bisa menjadi kenangan dan inspirasi buat anak2ku..
    makasihhh mbokde sayang :)

    • Koleksi bukumu buku baik-baik to Dhal? Bukan jenis yang ‘itu’? Hihihi …

      Waah …. senengnya disayang keponakan (meski kalau pulang ke Yogya nggak pernah mampir :( )

      • Jenis yang “itu” maksudnya apa Bu Tuti? *sok polos* ;)

        Kayaknya dia bakal jarang ke Jogja sekarang Bu Tuti. Lha wong istrinya dah pindah ke Jakarta jhe, ditambah pulak ada Queensha yang menghabiskan seluruh perhatiannya… :)

  4. Hanya ada beberapa orang saja …
    yang sanggup memaku saya … membaca postingan yang panjang sampai habis …
    Dan Ibu Tuti adalah salah satu diantaranya …

    Postingan Ibu Tuti itu panjang … namun entah mengapa … saya selalu membacanya sampai habis …

    Dan dari Postingan ini …
    Saya baru mengerti … betapa cinta buku ibu Tuti itu adalah dari almarhum Ayahnya …
    Dan saya pun semakin kagum ketika membaca kisah bahwa Sang Ayah menulis skripsinya saat beliau sudah berusia 53 tahun … sebuah semangat yang patut ditiru oleh kita semua …
    Belajar sampai kapan pun … !!!

    Salam saya Bu Tuti
    Salam saya Uda Vizon

    • Kalau buku yang paling berkesan … yang dibelikan Bapak saya ketika saya masih kecil adalah …

      “Wiro Anak Rimba”
      Saya lupa pengarangnya siapa …
      namun ini adalah komik serial …
      berjumlah 10 buku …

      Salam saya

      • Om Nh & Mbak Monda, saya juga pernah membaca “Wiro Anak Rimba”, tapi rasanya nggak sampai 10 buku (berarti nggak lengkap ya?).

        Selain ketiga judul yang saya sebutkan di atas, Saya juga mengenal banyak cerita-cerita karya penulis Indonesia seperti SH Mintardja (“Nogososro & Sabuk Inten”), Ganes Th. (“Gundala Putra Petir”), komik wayang karya RA Koesasih, dan banyak lagi …

    • Ehm … Om, komen Om ini membuka rahasia bahwa Om tidak selalu membaca tuntas posting teman-teman :D. Dan saya bangga luar biasa bahwa Om selalu membaca tulisan saya sampai habis. Terimakasih … :)

      Iya Om, mohon dima’afkan, saya tidak bisa menulis pendek. Itupun saya sudah berusaha keras membatasi diri, tapi tetep saja masih terlalu panjang :)

      Saya memang bangga dengan semangat belajar ayah saya Om, dan selalu berharap bisa menirunya …

      salam saya,

      • Yang membuat tulisan panjang Bu tuti itu menarik adalah adanya informasi penting di setiap paragrafnya, serta foto-foto yang mantap tenan :)

  5. Semangat membaca dan belajar yang di tanamkan ayah Bu Tuti memang luar biasa. Aku salut bu.

    Aku tidak begitu sejak kecil. Aku terlalu asyik bermain dan.. ehm.., terlalu badung untuk duduk manis dan membaca.
    Tapi aku berpikir lain untuk anakku. Dia sudah mulai ku kenalkan dengan buku2 sekarang.

    Nice sharing, bu. :)

    • Hehehe … sisa-sisa kebadungan itu rasanya masih bisa saya lihat, Mbak Puak :) *ampun, jangan diinjak kaki saya … *

      Baguslah kalau Mbak Puak sudah insaf *hihihi …* dan mengenalkan buku sejak dini pada putri kecil yang manis.

      Terimakasih, Mbak Puak … :)

  6. kisahnya sungguh indah bu tuti…pembelajaran yang baik bagi kami (yg masih hijau) dalam mendidik anak-anak. mencintai membaca dan menulis dan mencintai ilmu itu sendiri…^^

    • Terimakasih, Puteri :)
      Kegemaran membaca itu membuat saya tak pernah merasa kesepian, meskipun melewatkan waktu sendirian. Kalau pergi ke suatu tempat yang kira-kira bakal menunggu, saya pasti membawa buku atau bahan bacaan lain. Dengan membaca, menunggu jadi tak membosankan :)

  7. Ayah yang luar biasa. sudah 53 tahun masih kuliah juga. Mirip dengan mertuaku yang sudah 75 tahun masih ngotot ngambil S2. Padahal anak2nya menentang semua. Akhirnya sekarang beliau sudah berhasil menggondol S2.
    Buat Bu Tuti saya berdoa agar segera menyelesaikan doktornya….

    Salam saya

    • Lebih luar biasa mertua Bang Hery, kalau begitu. Usia 75 masih bisa berfikir dengan jernih dan menulis dengan runtut untuk menyelesaikan thesis S2. hebat sekali!

      Terimakasih do’anya Bang Hery. Amin ya robbal alamiin … :)

  8. mbak Tuti, alm papa juga mengenalkan kedua buku itu padaku, dan kok ya penyebab wafatnya juga sama, di usia 55

  9. Belu pernah maen ke blognya bunda Tuti Nonka, tapi sering membaca komen2 di blog sahabat2, dah keliatan kalo bunda pasti blooger hebat, penulis hebat.
    ternyata iya.
    semua penulis pasti cinta buku dan membaca. dan bersyukurnya bunda punya ayah yang telah menularkan rasa kecintaan itu pada anak2nya.
    Semoga rasa cinta kita pada dunia bacaan dan kepenulisan menular pada genrasi2 kita, amin.
    salam kenal bunda, :)

    • Wah, belum kenal kok sudah menuduh saya sebagai blogger hebat … :-o
      Terimakasih, sungguh suatu pujian yang terlalu tinggi buat saya :)

      Betul sekali, saya sangat berharap kecintaan membaca dan menulis itu akan menular juga pada generasi anak-anak kita. Meskipun sekarang ini dengan kemajuan teknologi segala informasi bisa disampaikan dalam bentuk lain (misalnya gambar), membaca dan menulis adalah cara terbaik untuk melatih otak kita berpikir secara struktural.

      Salam kenal juga, Bangau (waduh … ma’af, manggilnya gimana ya? :D )

  10. Sesuatu yang kadang membuat risau adalah saat melihat anak tak punya kemampuan kreatif seperti anak-anak dahulu. Segala mainan sudah tersedia, mereka tak lagi mampu merancang untuk sekedar membuat mainan sederhana.

    • Zaman memang sudah berubah. Kapitalisme membuat para pemilik modal besar menjadikan setiap orang sebagai konsumen produk mereka. Harus pandai-pandai memilih janis permainan anak yang masih memberikan ruang bagi kreativitas anak …

  11. Wah Bu Tuti, ada beberapa persamaan dong Bapak kita:
    1. waktu meninggal dlm usia 62 th, Bapak masih tercatat sebagai mahasiswa UT
    2. Bapak jg pernah menderita katarak, dan sempat mengganggu proses kuliahnya di UT, tapi syukurlah bisa teratasi dengan operasi.
    3. Bapak juga sangat senang membaca, langganan koran 2 buah, koran natioanal dan koran lokal. masih berlangganan juga intisari dan tabloit senior

    lah.. ini kok comment panjang bener…

    salam saya saja Bu Tuti..

    • BroNeo, apa kabar? Lamo indak basuo (halah, sok ngomong Minang, padahal gak bisa, padahal yang punya blog orang Minang … :D )

      Iya ya …. ayah kita banyak memiliki persamaan. Senang sekali mengetahui bahwa kita memiliki ayah yang hebat dan memberi kita teladan yang baik.

      Salam Bro … maaf sudah agak lama belum mampir lagi ke blog BroNeo …

  12. Mbak… aku bisa membayangkan sebuah keluarga guru… dan sepertinya aku dan suamiku kelak hanya bisa meninggalkan warisan buku pada Riku dan Kai. Sampai aku malu kalau orang bertandang ke rumahku, hiasan dindingnya hanyalah buku dan buku. Yang mungkin barang agak mahal yang bisa kami tinggalkan hanya komputer masing-masing satu :D hehehe

    Gelar kesarjanaan juga ingin diraih papa, tapi akhirnya dia menyerah pada tugas dan waktu yang tak ada. Katarak juga mengganggu papa, dan sempat di operasi. Untunglah sampai usia 73 ini dia masih diberi kesehatan, padahal sudah pernah operasi by pass jantung 30 th yal.

    Membaca tulisan mbak aku kok ingin sekali membayangkan keluarga pendidik yang seperti itu ya… yang benar-benar mengabdi pada pendidikan Indonesia sehingga bisa lebih maju. Semoga masih ada orang-orang yang seperti bapaknya mbak ya. Tetap bersemangat di bidang pendidikan.

    Semoga mbak bisa cepat menuntaskan disertasinya sehingga bisa menyumbangkan ilmu baru bagi mahasiswa-mahasiswa mbak dan almamater.

    EM

    • Mbak Imel, hiasan buku di seluruh dinding dan sudut rumah sama sekali tidak memalukan, bahkan membanggakan. Wow, saya pengin sekali berkunjung ke rumah mbak, dan melahap buku-buku koleksi mbak Imel (wew, tapi kalau bukunya pakai huruf kanji, pasti rambut saya langsung keriting … hihihi … :D)

      Gelar kesarjanaan bukan satu-satunya ukuran kepandaian seseorang ya mbak. Saya pernah mengobrol dengan papa Mbak Imel, dan saya melihat beliau adalah sosok dengan intelektualitas yang tinggi. Kesarjanaan hanya bukti formal saja, yang tidak selalu perlu. Alhamdulillah papa Mbak Imel masih sehat di usia 73, suatu hal yang patut disyukuri, mengingat ayah saya sudah mulai sakit sejak usia 51 tahun.

      Terimakasih do’a dan dukungan semangatnya Mbak, ini saya sedang siap-siap untuk mulai berjuang lagi :)

  13. Belajar memang tak kenal umur ya mbak..memang ada rasa kecanduan untuk terus belajar walau umur tak muda lagi.

    Ayahku sarjana saat saya mahasiswa tingkat 1…sayang ayahku juga tak berumur panjang, beliau wafat umur 56 tahun setelah terkena tekanan darah tinggi yang kemudian ke jantung.

    Kangen deh sama mbak Tuti, tapi rasanya kok waktu makin sempit ya….

    • Betul Mbak, belajar itu tak kenal umur. Orang yang biasa belajar akan terus ingin belajar, karena semakin belajar justru semakin tahu kalau ilmu itu sangat luas. Tapi dengan semakin bertambahnya usia, mau tak mau, diakui atau tidak, kemampuan otak kita juga semakin berkurang, terutama daya ingat. Jadi ya tidak perlu terlalu ngotot. menyesuaikan diri dengan kemampuan :)

      Mbak Enny pasti juga sangat bangga pada ayahanda. Beliau mempelajari bidang apa Mbak?

      Iya, say juga kangen mendengarkan obrolan Mbak Enny yang kaya pengalaman. Kapan-kapan kalau ke Jakarta insya’allah saya akan kontak Mbak Enny. Terakhir saya ke Jakarta ya waktu promosi doktor Pak Eko itu :)

  14. Wow! Luar biasa sekali bacaan yang disodorkan ayah Bu Tuti di waktu kecil. Karl May, Mark Twain, Frank Robbins. Wih, itu bacaan luar biasa bagi usia kanak ya, Bu.

    Waktu aku kecil, aku harus mencari sendiri bacaan-bacaan seperti itu. Bapakku hanya bisa mengantar ke pasar buku tanpa tau harus merekomendasikan bacaan apa :D

    • Hehehe … iya Mas DM. Mungkin kebetulan saja buku-buku itu yang ditemukan ayah saya :). Tapi selain cerita-cerita impor itu, ayah juga memperkenalkan kami pada karya-karya pengarang Indonesia seperti SH Mintardja dan RA Koesasih.

      Mas DM beruntung lho, ayahanda mengajak ke pasar buku, bukan ke pasar sayur … hihihi … :)

      • Kalau Danny diajak ke pasar sayur sih dia pasti sudah jadi chef sekarang mbak. Ngalahin chef terkenal di Indonesia…. sapa ya namanya? saya tidak ikutin hihii.

        EM

  15. aku selalu suka membaca tulisan Mbak Tuti, walaupun selalu panjang, namun memikat dan sangat sayang kalau dilewatkan, krn tiap kalimatnya yg luar biasa mengikatku utk tetap membaca dr awal hingga tuntas :)

    Aku gumun sangat begitu tau bahwa Ayahnya Mbak Tuti dlm usia 53thn masih terus berusaha meraih gelar nya.,dan ternyata hanya katarak yg mampu mengurangi kesenangan Beliau utk membaca dan belajar.

    Benar2 Ayah Mbak Tuti, seorang Ayah yg luar biasa yg menghasilkan anak yg juga tak kalah hebat nya melebihi sang Ayah :)
    Winnetou itu juga termasuk bacaanku selain Huckleberry Finn, dulu sempat juga baca buku Api di Bukit Menoreh dan Nagasara Sabuk Inten :)
    selain Kho Ping Hoo yg berseri2 ituh Mbak :D
    salam

    • Terimakasih Bunda Lily … wah, jadi melambung nih :D

      Betul Bunda, ayah saya sangat suka membaca dan belajar. Pada waktu itu teknologi kedokteran untuk mengoperasi katarak memang belum maju. Dokter baru bisa mengoperasi kalau pandangan ayah sudah benar-benar gelap total. Nah, masa menunggu hingga penglihatan ayah hilang total itu membuat ayah sangat menderita. Kesedihan itu pula yang nampaknya membuat kesehatan ayah semakin menurun …

      Wah, Bunda suka baca SH Mintarja juga? Api Di Bukit Menoreh sudah pasti saya baca juga, dengan tokoh-tokohnya Agung Sedayu, Sumirah, Swandaru, dll :). Kho Ping Hoo? Hwaa …. sampai puluhan jilid bukunya saya lahap :D

      salam hangat, Bunda …

      • Dari buku/cerita di atas saya cuma tidak tahu Jonny Hazard (tahunya Garth hihihi).

        wah mbak soal winnetou itu aku baca kelas 5 SD, sampai cari semua serinya. Tapi cuma bisa minjam saja. Karena kami beli buku hanya kalau ada pameran buku IKAPI. Nah saat itu kami sekeluarga akan ke Senayan dan borong buku. Saya ingat pernah ke pameran itu dan dibelikan papa Album Cerita Ternama dan berkenalan dgn tokoh dunia dan sastra dunia. 20 buku yang papa belikan khusus untukku itu dilahap dalam 2 hari hihihi (dan aku dimarahin mama krn baca cepat “Mbok yo kalau baca dieman-eman” dan dijawab papa “Biar saja, nanti kan bisa baca ulang” :D )
        Kho Ping Ho baru baca sesudah dewasa dan bisa pinjam (dan beli) dari teman-teman dewasa. Aku juga berkenalan dengan novel bahasa Inggris di saat SMA kelas 1 dan itu amat membantu vocabulary bahasa Inggrisku. Sayang sekarang bisa beli buku banyak tapi waktu untuk membacanya yang tidak ada ;(

        EM

  16. ..
    beruntung Banget Bu Tuti punya Ayah yang pintar dan sangat peduli dengan pendidikan..
    karena itu mempengaruhi cara mendidik anak2nya juga..
    sejak kecil Bu Tuti di perkenalkan Buku2 bagus dari pengarang terkenal, pantas kalau akhirnya si ragil jadi jago menulis..
    lha kalo saya dari kecil ngumpulin uang jajan buat beli komik..^^
    yah memang saya akhirnya gak jago nulis, tapi kalo gambar bisa lah.. ;)
    ..
    semoga tulisan ini bisa menginspirasi banyak orang untuk terus belajar..
    mumpung masih diberi kesempatan, jadi jangan sampai di sia-siakan..
    iya kan Bu Tuti..?
    setuju gak Uda..?
    ..

    *ternyata bisa juga saya komen serius..*
    ..

    • Hehehe …. aku dulu juga penggemar komik lho, dari komik-komik cinta, komik silat, sampai komik pahlawan fiktif seperti Gundala Putra Petir, Godam, dll. Aku juga pernah bikin komik bergambar, tapi cuma untuk dibaca sendiri :)

      Hmm … komentar yang terakhir ini kayaknya rada-rada menyindir nih. Atau memberi support ya (harus berpikir positif dong :D ).
      Betul Ata, orang harus belajar dengan serius selagi ada kesempatan …

      Kayaknya, aslinya Ata memang serius kok

  17. Bepergian untuk menuntut ilmu dicatat sebaga jihat dan besar pahalanya.
    Jka anak ditinggali uang atau harta maka dia akan cepat habis. tetapi jika diberi pendidikan maka kelak dia akan bisa menghasilkan uang. Jika ilmunya bermanfaat itu juga akan berguna baginya dan bagi orang lain sehingga bernlai ibadah.

    Selamat

    Salam hangt dari Surabaya

  18. Pingback: SURAU INYIAK » Blog Archive » ayahku (bukan) pembohong

Komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jawab dulu ya pertanyaan di bawah ini sebelum kirim komentar, biar tidak dianggap spam.. :) *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>